Anda di halaman 1dari 4

Pasca Pemberlakuan UU 32 Tahun 2009 ; Deadline

Pemenuhan Kewajiban AMDAL dan UKL-UPL


Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 22 ayat (1) bahwa
setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap
lingkungan hidup wajib memiliki Amdal dan Pasal 34 ayat (1) bahwa
setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib
Amdal, wajib memiliki UKL-UPL. Dokumen lingkungan ini digunakan
sebagai instrumen pencegahan pencemaran dan untuk meminimasi
dampak yang dihasilkan dari usaha, maka setiap pemrakarsa yang
usahanya menghasilkan dampak negatif ke lingkungan baik fisik maupun
non fisik diwajibkan untuk membuat dokumen kelayakan lingkungan
sebelum usaha tersebut berjalan.
Pasca Pemerintah mengeluarkan UU 32 Tahun 2009 Tentang Pengelolaan
dan Perlindungan Lingkungan Hidup Pemerintah mengeluarkan Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2010 Tentang
Dokumen Lingkungan Hidup Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Telah
Memiliki Izin Usaha Dan/Atau Kegiatan Tetapi Belum Memiliki Dokumen
Lingkungan Hidup. Regulasi ini tampaknya menjadi semacam kesempatan
pemutihan bagi Usaha/kegiatan yang sudah berjalan namun belum
memenuhi kewajibannya untukmemiliki AMDAL atau UKL-UPL.
DELH atau DPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) PerMen tsb wajib
disusun paling lama tanggal 3 Oktober 2011 (diperpanjang lagi melalui
Surat
Edaran
Menteri
Negara
Lingkungan
Hidup
No.
B14134/MENLH/KP/12/2013 tanggal 27 Desember 2013 perihal Arahan
Pelaksanaan Pasal 121 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup). Dan setelah Tanggal tsb rupa-rupanya
pemerintah akan mulai melakukan penegakan hukum terhadap para
pelanggar. Terbukti pada bulan Februari 2011 ini pemerintah pusat dalam
hal ini Kementerian Negara Lingkungan Hidup telah bersurat kepada
seluruh pemerintah provinsi dan Kabupaten/kota se Indonesia untuk
memantau pelaksanaan regulasi tsb. Dan bahkan dalam surat tsb juga
kembali diingatkan ttg batas waktu 3 Oktober 2011 sebagai deadline
disahkannya AMDAL/UKL-UPLbagi usaha yang belum memilikinya dan
setelah tanggal tersebut, kepada para pelanggar akan dikenakan sanksi
sebagaimana tertuang dalam UU 32 yang antara lain:
Pasal 109
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin
lingkungan ..dst dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
tahun dan paling lama 3 tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000
dan paling banyak Rp3.000.000.000

Pasal 110
Setiap orang yang menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun
dan denda paling banyak Rp3.000.000.000.
Pasal 111
1. Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan
tanpa dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
2. Pejabat pemberi izin usaha yang menerbitkan izin usaha tanpa
dilengkapi dengan izin lingkungan dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000.
Nah, pasal-pasal sangsi di atas semoga dapat menjadi peringatan bagi
para pihak yang terkait. Tidak hanya bagi pelaku usaha yang belum
melakukan

kewajibannya,

akan

tetapi

juga

instansi

terkait

yang

melaksanakan Pengelolaan lingkungan juga Aparat Penegak hukum.

Penjelasan

Lebih

Lanjut

Tentang

Surat

Edaran

Menteri

Lingkungan Hidup
Kementerian Lingkungan Hidup menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor : B14134/MENLH/KP/12/2013 tanggal 27 Desember 2013 perihal Arahan
Pelaksanaan Pasal 121 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal tersebut menegaskan bahwa dalam
waktu paling lama dua tahun sejak UU No. 32 Tahun 2009 disahkan, setiap
usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan
tetapi belum memiliki dokumen AMDAL wajib menyelesaikan audit
lingkungan hidup. Sementara itu, untuk usaha dan/atau kegiatan yang
telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki UKLUPL wajib membuat dokumen pengelolaan lingkungan hidup. yang
kemudian diperkuat dengan surat Deputi Menteri Lingkungan Hidup
Bidang Tata Lingkungan Nomor : B-096/Dep.I/LH/PDAL/01/2014 tertanggal
7 Januari 2014. SE tersebut intinya menjelaskan program pemutihan
untuk penyusunan dokumen lingkungan hidup bagi setiap usaha dan
kegiatan yang belum memilikinya.

Dokumen lingkungan hidup yang dimaksud adalah dokumen AMDAL


(Analisis

Mengenai

Dampak

Lingkungan)

atau

Upaya

Pengelolaan

Lingkungan Hidup- Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) yang


wajib dimiliki setiap usaha dan kegiatan. Ini sebagaimana diamanatkan
dalam UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
Pelaku usaha diberi kesempatan untuk melengkapi izin usahanya dengan
menyusun dokumen pengganti berupa Dokumen Evaluasi Lingkungan
Hidup (DELH) bagi usaha dan kegiatan yang wajib memiliki AMDAL atau
Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) bagi usaha dan kegiatan
yang wajib memiliki UKL-UPL.
Kesempatan ini berlaku selama 18 bulan sejak SE dokumen lingkungan
hidup

tersebut

diterbitkan,

27

Desember

2013.

Kelalaian

dalam

melengkapi dokumen lingkungan diancam dalam UU 32/2009 bakal


diganjar penjara maksimal tiga tahun dan denda maksimal Rp 3 miliar.
Tata cara penyusunan dan penilaian dokumen DELH-DPLH sesuai dengan
format

dan

mekanisme

tersebut

diatur

dalam

Peraturan

Menteri

Lingkungan Hidup Nomor 14/2010.


Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disingkat DELH,
adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup yang merupakan bagian dari proses audit lingkungan hidup yang
dikenakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang sudah memiliki izin usaha
dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki dokumen AMDAL (Contoh : usaha
/ kegiatan tersebut sudah berjalan / berproduksi

dan masuk dalam

kategori wajib AMDAL tetapi tidak mempunyai dokumen AMDAL).


Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disingkat
DPLH, adalah dokumen yang memuat pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup yang dikenakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang
sudah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki UKLUPL. (Contoh usaha / kegiatan tersebut sudah berjalan / berproduksi dan

masuk dalam kategori wajib UKL/UPLtetapi tidak mempunyai dokumen


UKL / UPL).
DELH atau DPLH wajib disusun oleh penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria :
1) Telah

memiliki

izin

usaha

dan/atau

kegiatan

sebelum

diundangkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2) Telah

melakukan

kegiatan

tahap

konstruksi

sebelum

diundangkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3) Lokasi usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan; dan
4) Tidak memiliki dokumen lingkungan hidup atau memiliki dokumen

lingkungan hidup tetapi tidak sesuai dengan peraturan perundangundangan.