Anda di halaman 1dari 3

Penatalaksanaa Amenorhoe

Pengertian
Tujuan
Kebijakan
Prosedur

Adalah
tatacara
penatalaksanaan
amenorhoe
penentuan
Diagnosis dan penatalaksanaan amenorhoe primer dan sekunder
Penentuan penyebab,diagnosis dan penatalaksanaan amenorhoe primer
dan sekunder
Dilakukan oleh
PPDS senior patol A di Poli OBG
- Amenorhoe yang cermat tentang riwayat pubertas haid, hamil dan
laktasi, pasca menopause
- Pemeriksaan fisik, ginekologi untuk menentukan kelainan organic
terutama payudara(P), uterus(U),rambut pubis(RP) dan rambut ketika(RK)
- Tentukan klasifikasi Brenner Paul F (Atlas of clinical Gynecology vol.III
Reproductive
Endocrinology)
Group
P
U
I
+
II
+
III
IV
+
+
A.Group I
Group I periksa serum FSH, kemudian tentukan hasilnya bila FSH
rendah normal disebut hipogonadotropic hypogonadism (hipoghipog), bila FSH meningkat disebut hypergonadotropic
hipogonadism (hyper-hipog).
Keluhan kromosom pada amenorhoe primer sekitar 30% untuk
langkah berikutnya adalah pemeriksaan sitogenetik.
Bila hiper-hipog dengan 45 (turner syndrome), 46xx, 46xy
(puregonadal dysgenesis).
Bila hiper-hipog dengan hipertensi maka kemungkinannya adalah
defisiensi hizyes 17 hydroxylose.
Penanganan syndrome turner tujuannya adalah memaksimalkan
tinggi badan (TB), pertumbuhan P dan mencegah uterus dengan
terapi sulih hormone.
Bila serum FSH rendah normal (hipog-hipog) periksa CT scand
atau MRI sela turcica.
Bila tidak ada keluhan organic lakukan GnRH stimulsis test
caranya : penderita diinjeksi 9IM) dengan 100 g GnRH setiap hari
selama satu minggu, pada hari ke 8 setelahnya diperiksa darah
bosah FSH, LH diambil setiap 2x 15 menit, 30 menit berikutnya
diinjeksikan 100 g GnRH (bolus IV), setelah 30 menit diperiksa
kadar LH dan 60 menit kadar FSH. Ada kelainan di hipotalamus
bila kadar LH (30) meningkat dan FSH (60) meningkat (ini berarti
pituitary normal). Bila tidak ada respon (LH dan FSH tetap) berarti
kelainan di pituitary.
B. Group II

Payudara tumbuh berarti ada produksi estrogen endogen namun


terdapat gangguan pertumbuhan organ reproduksi. Ada dua

peny

kemungkinan yaitu Mayer Rokitansky Kuster Houster Syndrome


(MRKH) atau Testiculer Feminisasi Syndrome / Androgen
Insensitivity Syndrome (TFS).
MRKH dasarnya genotype wanita agenesis duktus muler ovarium
normal (ovulasi pantive).
Perbedaan
MRKH
TFS
Karyotiping
46
46
Herediter
?
maternal x hisked
recessive 25% anak
terkena 25% carier
Rambut sed N
-/ sedikit
Testosteron N
N/ l
Keluhan lain sering
jarang
Gangguan
N
5% ganas
Gonad
Tindakan untuk menentukan apakah MRKH atau TFS adalah
pemeriksaan serum testosteron dengan klurivis dengan melihat
pertumbuhan bulu ketiak & pubis. Bila kadar testosteron N dan
bulu ketiak dan pubis tumbuh normal dan BBT normal maka
diagnosisnya adalah MRKH. Bila kadar testosteron normal laki-laki
dan bulu ketiak, pubis sedikit atau tak tumbuh maka diagnosisnya
TFS
Tindakan pada MRKH vaginoplasty atas indikasi dan syarat serta
kontraindikasi yang ada
Tindakan pada TFS adalah konseling yang baik,perlu tindakan bila
terdapat testis intra abdominal perlu dioperasi ok 10% akan
menjadi ganas .

C. Group III

Kemungkinan adalah gangguan enzyme seperti 17.20 desmolese

dan 17 hydrokoilase atau agonadism


Tindakan selanjutnya adalah karyotyping

D. Group IV

Evolusinya sama dengan amenorhoe sekunder, harap di A


diperhatikan olahraga berlebihan , perubahan BB, stress berat,

hipotiroid, hamil, laktasi.


Setelah selesai A, pemeriksaan px dengan ginekologik dilakukan
uji

progesterone

(uji

P).

Diberikan

progesterone

(MPA,

noretisteron, didrogesteron) dosis 2x5 mg/hr selama 7 hari.


Perdarahan akan terjadi 3-4 hari kemudian (uji P(+)). Dapat
ditunggu sampai 10 hr ok setiap wanita berbeda. Setelah 10 hr

tidak terjadi perdarahan disebut uji P


Wanita dengan uji P (+) pasti uji Estrogen (E)/Progesteron (P)

positif, kadar FSH, LH, PRL normal, tidak ada keluhan organic
pada pituitary maka diagnosisnya adalah disregulasi hipotalamus

pituitary, penyebab situasi umpan balik.


Bila FSH=N, PRL=N tapi LH tinggi maka diagnosis adalah

sindroma ovarium polikistik (SPOK).


Penanganan pasien dengan uji (P)+ : O yang tidak ingin hamil
cukup diberikan P dari hari ke 16 sampai hari ke 25 siklus haid
( selama 3 siklus berurutan).

Bagi O yg ingin anak diberikan

induksi ovulasi dengan clomipen citrate (cc) lihat SOP induksi

ovulasi.
Penanganan pasioen dengan uji P(-) : Dilakukan uji E + P,
diberikan E selama 21 hari dan hari ke 12 sampai hari ke 21 diberi
P 5-10 mg/hr. Jenis E seperti EE 50g, EK 0,625j mg atau pil
kombinasi. Ditunggu 2-3 hari, bila terjadi perdarahan disebut uji

E/P (+), bila tidak terjadi perdarahan disebut uji E/P (-)
Uji E/P (+) artinya wanita itu hipoestrogen dilanjutkan mencari
penyebabnya dengan analisa hormon FSH dan LH.
1. Bila hasil FSH, LH rendah/normal dan PRL normal maka
diagnosisnya adalah amenorhoe hipogonadotropin, penyebabnya
adalah insufisiensi hipotalamus hipofisis.
2.Bila hasil FSH, LH tinggi maka penyebabnya adalah ovarium
(insufiensi ovarium) disebut amenorhoe hipergonadotropin.

3. Bila FSH, LH normal, PRL normal (amenorhoe normoprolaktin).


4. Bila FSH, LH normal, PRL tinggi ( amenorhoe hiperprolaktin).

Pada amenorhoe hipogonadotropin bila tidak ada keluhan organic

dapat dilakukan uji GnRH sama seperti penanya Group I.


Penanganan dengan normoprolaktin cukup diberikan E/P secara
siklik. Bila kelainan di hipofisis dapat diberikan hMG + hCG,

sedangkan kelainan di hipotalamus dapat diberikan GnRH.


Bila uji E/P negative (-), periksa FSH, LH, PRL serumnya, bila
semua

normal

normogonadotropin

maka

diagnosisnya

dengan

penyebab

Penanganan disesuaikan dengan penyebab

Unit terkait

Poli OBG

adalah
pada

amenorhoe
endometrium.