Anda di halaman 1dari 12

Fibromyalgia dan Depresi

1. Pendahuluan
Gejala utama dan melemahkan pada fibromyalgia (FM) adalah nyeri spontan yangluas.
Kriteria ACR 1990 kriteria juga termasuk simptom kelemahan.Kriteria diagnostik yang
direvisi baru-baru ini menyatakan gejala kelemahan termasuk kelelahan, kurangnya tidur
yang menyegarkan, gangguan kognitif, ketidaknyamanan perut, dan sakit kepala. Daftar
ini juga termasuk depresi, yang menonjol pada fibromyalgia dengan prevalensi seumur
hidup sekitar 90% untuk gejala depresi dan 62-86% untuk gangguan depresi mayor
(MDD). Pada setiap titik waktu, estimasi gejala depresi berulang pada FM adalah 40%.
Kejadian depresi yang tinggi pada FM telah menyebabkan dipertimbangkan mekanisme
patofisiologis umum dan klasifikasi yang mungkin dari fibromyalgia sebagai salah satu
bagian dari gangguan spektrum afektif yang mencakup banyak kondisi kejiwaan seperti
MDD, gangguan kecemasan umum dan gangguan stres pasca trauma, serta kondisi
somatik seperti IBS dan migrain.
Ada bukti yang kuat untuk menghubungkan fibromyalgia dan depresi.Kelainan ini
memiliki patofisiologi yang serupa dan terapi farmakologi dari masing-masing termasuk
(namun tidak terbatas pada) dual serotoninergikyang sama dan agonis noradrenergik
seperti amitriptilin, duloxetine, dan milnacipran. Kesamaan ini mendukung konsep bahwa
depresi dan FM adalah "presentasi gejala diferensial dari kondisi dasar yang tunggal".
2. Patofisiologi Fibromyalgia dan Depresi: Predisposisi, Faktor Pendukung dan
Pengekalan
Proses yang mendasari depresi dan FM dapat ditandai dengan perjalanan seumur hidup
seorang individu. Proses ini dapat diamati dengan tiga "P" yaitu predisposisi, pendukung,
dan pengekalan. Bukti menunjukkan bahwa faktor mental genetik dan lingkungan
mempengaruhi individu dalam pengembangan depresi atau FM. Memang, sifat dasar dari
asosiasi genetik dengan depresi tidak menyatakan bahwa gen ini menyebabkan depresi
melainkan meningkatkan risiko pengembangan depresi terhadap peristiwa pencetus.Bukti
yang cukup untuk meningkatkan kerentanan terhadap depresi termasuk gen yang terlibat
dalam fungsi serotonin, katekolamin, monoamin, CRF, glutamat, dan faktor neurotropik

otak.Bukti menunjukkan bahwa gen ini menghasilkan sebuah fenotipe menengah yang
meningkatkan risiko umum gangguan kejiwaan oleh stressor lingkungan atau peristiwa
yang memicu lainnya.Konsep serupa telah diusulkan untuk FM yang mana kedua faktor
genetik dan lingkungan mempengaruhi individu untuk mengembangkan FM dalam
menanggapi peristiwa pencetus berikutnya.Faktor genetik pada FM berkaitan dengan
prevalensi dalam keluarga.Bukti menunjukkan juga bahwa polimorfisme pada gen
transport serotonin (5-HTT), keterlibatan MDD, mungkin juga berkaitan dengan FM [19,
20].Pengaruh genetik, keadaan lingkungan, dan interaksi gen / lingkungan dapat
mempengaruhi individu untuk mengembangkan FM dan depresi.Banyak peristiwa
pencetus yang dijelaskan di bawah, seperti trauma fisik atau pelecehan seksual, juga
berkemungkinan memberikan kontribusi.
Raphael et al. telah memberikan bukti bahwa faktor predisposisi untuk
mengembangkan FM dan MDD. Dalam sampel berbasis masyarakat, mereka merekrut
individu baik dengan atau tanpa MDD dan FM, yang mengisi 4 sel dari tabel 2 2
adanya FM (y / n) untuk satu dimensi dan kehadiran MDD (y / n) untuk dimensi lainnya.
Keempat sel didefinisikan sebagai kategori subjek, dan data yang menarik dikumpulkan
dari seluruh kerabat dewasa tingkat pertama pada studi ini.Tidak seperti studi sebelumnya
yang hanya menggunakan laporan tentang keluarga, pada penelitian kali ini telah
dilakukan wawancara dengan ahli keluarga.Hasilnya mendukung agregasi familial dari
FM dan MDD. Dibandingkan dengan tingkat dasar dari MDD yaitu 28,7% pada keluarga
tanpa MDD atau FM, tingkat MDD pada keluarga adalah 39,0% pada subyek dengan
MDD dan 37,3% pada subyek dengan FM. Kedua-dua FM dan MDD meningkatkan
angka kejadian MDD pada keluarga sebanyak 45,5%. Dinyatakan sebagai odds ratio
(OR) kelompok yang tidak memiliki MDD atau FM, adalah serupa dengan OR 1,47 dan
1,56, dan kombinasi dari kedua-dua FM dan MDD meningkatkan OR dari MDD keluarga
menjadi 2.02.
Hasil Raphael et al. diinterpretasikan sebagai bukti bahwa FM sebagai gangguan
spektrum depresi.Menariknya, hubungan FM dan MDD tidak ditemukan untuk FM dan
semua gangguan mood kecuali MDD.Hasil ini menunjukkan pada sebuah keluarga,
kemungkinan genetik, terdapat hubungan faktor predisposisi untuk memperoleh FM dan

MDD dan juga terdapat gejala depresi tanpa MDD yang dapat terjadi dengan kehadiran
FM dan hal ini bukan karena mekanisme umum terkait.
Salah satupengaruhberkembangnya FM atau depresi, sindrom ini dapat dipicu
oleh peristiwa seperti stres psikososial.Cedera fisik termasuk trauma fisik, penyakit,
infeksi seperti HIV, operasi, dan penyakit autoimun dan kecelakaan bermotor. Stressor
psikososial berkisar dari peristiwa bencana seperti perang, pelecehan seksual dan bentuk
lain dari stres emosional dan trauma. Peristiwa stres fisik dan psikososial di tempat kerja
juga dapat memicu sindrom ini.Harkness et al. mendokumentasikan faktor memperberat
seperti kerja fisik, contohnyamengangkat berat dan gerakan berulang, dan faktor
psikososial seperti pekerjaan monoton dan dukungan sosial yang rendah.
Setelah dipicu, depresi dan FM melibatkan sejumlah mekanisme fisiologis serupa
yang mungkin menyebabkan gangguan ini berkepanjangan.Hal ini juga diketahui bahwa
respon akut terhadap stres, memobilisasi organisme untuk menghadapi kejadian yang
berpotensi mengancam jiwa, adalah menguntungkan jika tetap akut. Jika terjadi
berkepanjangan, gangguan proses tubuh normal dapat menyebabkan sejumlah penyakit.
Respon stres akut, dirinci dalam banyak laporan, melibatkan aktivasi aksis hipotalamuspituitari-adrenal (HPA) yang bergabung dengan sistem otonom dan limbik.Aktivasi
sistem HPA melibatkan beberapa rantai peristiwa.Corticotrophin-releasing hormone
(CRH) disekresikan oleh hipotalamus, yang menyebabkan sekresi ACTH.Efek CRH ini
bertindak secara sinergis ditambah dengan sekresi hipotalamus dari argininevasopressin
(AVP).Peningkatan ACTH merangsang sekresi kortisol oleh adrenal. Kortisol adalah
glukokortikoid ampuh yang mengaktifkan reseptor sitoplasma seluruh tubuh untuk
akhirnya memobilisasi aksi dan menghambat proses vegetatif seperti reproduksi dan
pertumbuhan. Glukokortikoid juga menghasilkan regulasi umpan balik negatif dari aksis
HPA melalui beberapa jalur yang bekerja pada hipotalamus dan pituitari.Hal ini memberi
efek kepada aksis HPA yang terintegrasi dengan sistem lokus ceruleus-norepinefrine
(LCNE) yang mengaktifkan sistem otak yang terlibat dalam mempengaruhi dan
antisipasi, presipitasi, propagasi dan penghentian aktivitas terkait stres dan aktivasi nyeri.
Patofisiologi depresi terinduksi stres dan fibromyalgia telah dijelaskan dalam hal
konsekuensi respon stres akut yang berlangsung melampaui durasi normal, gagal "reset"
setelah stressor hilang. Hasilnya ditandai oleh efek pada sekresi kortisol, yang

berinteraksi dengan sistem neurotransmitter dan regulasi kelelahan, afek, dan nyeri, yang
menghubungkan fibromyalgia sebagai bagian dari depresi seperti dijelaskan dibawah.
3. Reaktif, Melankolik, danDepresi Atipikal
Istilah "depresi" digunakan secara nonspesifik dalam literatur tentang fibromyalgia mirip
dengan penggunaan nonspesifik dari nyeri dalam literatur depresi.Literatur membedakan
antara gejala depresi, yang dapat dievaluasi dengan kuesioner depresi, dan MDD, sebuah
diagnosis yang ditentukan oleh dokter.Depresi pada fibromyalgia bukanlah suatu
fenomena kesatuan.Depresi bisa menjadi reaksi terhadap nyeri,diperparah oleh beberapa
komorbiditas fibromyalgia.Dalam arti yang lebih luas, menderitabeberapa jenis nyeri atau
hanya memiliki kondisi medis dapat menyebabkan depresi reaktif. Depresi juga dapat
mengambil bentuk MDD yang fisiologis terkait dengan mekanisme yang mengabadikan
FM. Dalam hal ini depresi dan FM mungkin dianggap proses paralel yang berbagi satu
atau lebih predisposisi, presipitasi, dan fitur pengekalan. Skenario ini tidak perlu saling
eksklusif; depresi dan FM dapat dikaitkan pada berbagai tingkat fisiologis dan psikologis
yang bervariasi dari segi perkembangan gangguan.
Kompleksitas ini diperparah oleh heterogenitas pada FM dan depresi.Beberapa
studi telah mengidentifikasi subkelompok FM, menemukan kelompok besar tanpa
keterlibatan psikologis dan kelompok dengan tekanan psikologis yang cukup besar.
Subkelompok ini merespon secara berbeda terhadap pengobatan farmakologis, misalnya,
5-HT3 antagonis reseptor telah terbukti efektif pada pasien tanpa tekanan psikologis dan
tidak efektif pada pasien dengan tekanan psikologis. Fitur dari sub-kelompok dan respon
pengobatan menunjukkan bahwa setidaknya subset dari pasien fibromyalgia dapat
berbagi fitur dari gangguan spektrum afektif.
Mirip dengan fibromyalgia, kriteria diagnostik membedakan tiga subtipe dari
MDD. Subtipe depresi melankolis dan atipikal didapatkan 60% dari semua MDD dan
dianggap sebagai jenis yang lazim dari FM. Subtipe ketiga MDD dengan gangguan
psikotik. Sebuah studi baru-baru dibedakan antara depresi melankolis dan atipikal pada
76 pasien fibromyalgia dan diamati bahwa 40 memenuhi kriteria untuk depresi atipikal
dan 27 memenuhi kriteria untuk depresi melankolis. Perbedaan ini tidak dikaitkan dengan

perbedaan karakteristik FM untuk keparahan yang lebih besar dari depresi pada
kelompok depresi melankolis.
4. Kematangan FM dan Depresi:Dari Hiperkortikolisme dan Depresi Melankolis
hingga Hipokortikolisme dan Depresi Atipikal
Kehadiran depresi melankolis dan atipikal pada FM mungkin merupakan perkembangan
penyakit yang menjelaskan mengenai temuan variabel fungsi aksis HPA pada FM.
Subtipe ini pada MDD berhubungan dengan perubahan yang berbeda dari fungsi aksis
HPA; depresi melankolis berhubungan dengan peningkatan kortisol (hiperkortisolisme)
dan respon sementara depresi atipikal dikaitkan dengan sekresi yang kurang dari kortisol
(hipokortikolisme). Gold et al. telah mengusulkan progresifitas fibromyalgia di mana
tahap awal dikaitkan dengan hiperkortisolisme digabung dengan respon stres yang
normal tapi berkepanjangan menyebabkan semakin besar derajat keparahan depresi
melankolis.Seiring waktu, respon kortisol menurundi bawah tingkat normal, yang
mengarah ke hipokortisolismemenunjukkan ciri-ciri depresi atipikal.Perkembangan ini
berakhir sebagai depresi atipikal dan dominan pada perempuan di kedua-kedua FM serta
depresi atipikal dapat menyebabkan peningkatan frekuensi depresi atipikal pada FM dan
implikasi untuk perawatan yang ditargetkan pada tahap perkembangan ini.
5. Skenario Hubungan FM dan Depresi
Perkembangan fisiologis FM dan transisi dari melankolis ke depresi atipikal merupakan
salah satu dari beberapa kemungkinan kaitan antara FM dan depresi.Aguglia et al.
mempertimbangkan tiga kemungkinan.Yang pertama adalah kasus reaktif dimana adanya
gangguan yang menyakitkan kronis dan merupakan peristiwa menyedihkan.Para penulis
menolak hipotesis ini karena kejadian depresi pada FM jauh lebih tinggi daripada pada
kondisi sakit atau penyakit lainnya.Kami mempunyai argumen yang kontra.
Kemungkinan kedua mengikut Aguglia et al. [2] adalah bahwa FM mencerminkan
depresi subthreshold, suatu ide yang mereka tolak karena banyak pasien FM tidak
tertekan dan tidak menjadi depresi.
Kemungkinan ketiga menurut Aguglia et al. adalah bahwa FM dan depresi dapat
mungkin miliki spektrum afektif yang sama [8]. Yang diusulkan mekanisme yang

mempertahankan spektrum ini mencakup mekanisme dibahas di atas: perubahan dalam


fungsi aksis HPA, perubahan serotoninergik dan fungsi noradrenergik, dan fungsi
perubahan dari sistem yang melibatkan substansi P, neurosteroids, dan sitokin.
6. Bukti Laboratorium sebagai Peran Depresi pada FM
Sebuah studi oleh Bartley et al. [35] mengeksplorasi asosiasi mood dan fibromyalgia
dengan memeriksa efek FM pada pengolahan afektif.Kedua pasien FM dan kontrol yang
sehat, 17 per kelompok, terlihat menyenangkan, netral, dan dinilai tingkat kesenangan
dan tidak kesenangan yang ditimbulkan oleh gambar. Sejumlah variabel fisiologis dicatat,
dan dua pertiga dari foto-foto itu disertai oleh rangsangan white noise untuk menginduksi
kedipan mata. Dibandingkan dengan kontrol, pasien FM menunjukkan peringkat yang
lebih negatif, terhadap gairah, dan tanggapan EMG untuk gambar tidak menyenangkan
tetapi tidak ada perbedaan dalam tanggapan terhadap gambar yang menyenangkan. Hasil
ini, ditemukan juga untuk rangsangan penciuman [36], menunjukkan bahwa mekanisme
yang memodulasi suasana di FM tidak mengakibatkan anhedonia, yaitu, kemampuan
berkurang untuk mengalami kesenangan, melainkan meningkatkan ketidaknyamanan
terhadap hal menyenangkan.
Sejumlah laboratorium telah meneliti interaksi depresi dan membangkitkan
sensitivitas nyeri pada fibromyalgia.Beberapa telah meneliti kepekaan terhadap
rangsangan listrik pada tingkat spinal. Dalam temuan sebelumnya ditingkat nociceptif
reflek fleksi (NFR) pada fibromyalgia [37, 38], Ang et al. [39] mengeksplorasi peran
depresi terhadapNFR pada 32 wanita dengan FM. Pasien Health Questionnaire 8-item
Depression Scale (PHQ-8) digunakan untuk membagi subjek menjadi tertekan (skor> 9)
dan kelompok tidak tertekan. Hubungan terbalik antara ambang dan peringkat nyeri saat
NFR diamati padakelompok non depresi (-3,9 mA perubahan ambang batas NFR per unit
nyeri) tetapi tidak pada kelompok depresi (0.07mA perubahan ambang batas NFR per
unit nyeri). Hasil ini menunjukkan bahwa kehadiran depresi mengganggu hubungan
positif antara penilaian nyeri dan sensitivitas NFR pada FM.
Studi neuroimaging telah meneliti pengaruh depresi pada respon supraspinal
terhadap rangsangan tekanan yang menyakitkan. Giesecke et al. [40] menggunakan
metode BOLD fMRI untuk mengevaluasi respon otak yang ditimbulkan oleh tekanan

yang menyakitkan diterapkan ibu jari pada 30 pasien dengan FM. Depresi dinilai oleh
Pusat Studi oleh Centre for Epidemiological Studies Depression Scale (CES-D) dan
Composite International Diagnostic Interview (CIDI). Dua analisis dilakukan pada
data.Dalam analisis korelasional pertama, aktivitas otak yang ditimbulkan oleh stimulus
tekanan subyektif serupa dihitung untuk setiap subyek oleh setiap voxel otak.Untuk
masing-masing dari 30 skor subjek pada setiap voxel, regresi linier dilakukan antara nyeri
yang membangkitkan aktivitas fMRI dan skor depresi setiap pasien pada CES-D. Hal ini
mengakibatkan plot terpencar di mana setiap titik adalah satu individu, ditentukan oleh
skor depresi dan skala nyeri yang membangkitkan aktivitas pada otak. Mengoreksi secar
tepat beberapa perbandingan, ada asosiasi pada amigdala bilateral dan insula
kontralateral. Kedua, kelompok intra, analisis, 7 pasien FM didiagnosis dengan MDD
dicocokkan dengan 7 pasien FM tanpa MDD dan 7 subjek kontrol yang sehat.
Rangsangan sama menyakitkan, menimbulkan tekanan sedikit pada kelompok FM,
mengungkapkan aktivasi dalam matriks pada alisis kelompok lengkap di atas dan pada
studi sebelumnya dengan tekanan menyakitkan pada jempol. Selain itu, pada kelompok
MDD, rangsangan ini menimbulkan aktivasi di amigdala bilateral dan insula
kontralateral, daerah terlibat dalam pengolahan afektif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kehadiran depresi tidak berpengaruh pada pengolahan stimulasi nyeri pada
sensorik-diskriminatif dan memiliki efek selektif pada daerah otak yang memproses
dimensi afektif-motivasi nyeri.
Sebuah studi tambahan di laboratorium menggunakan analisis korelasi untuk
menilai pengaruh katastrofi, sebuah dorongan depresi gaya kognitif melampirkan
interpretasi terlalu negatif terhadap peristiwa [41, 42]. Beberapa berpendapat bahwa gaya
ini merupakan varian dari depresi [43, 44], analisis dikontrol untuk depresi,
mengidentifikasi daerah otak yang menimbulkan aktivitas nyeri terkait dengan ukuran
katastrofi (Coping Strategy Questionnaire). [43] Menerapkan strategi analisis yang
dijelaskan di atas untuk Giesecke et al. [40], analisis baik diidentifikasi pada daerah otak,
di mana aktivasi oleh tekanan menyakitkan pada jempoldikaitkan dengan katasrofi, dan
daerah di mana aktivasi dalam menanggapi tekanan yang menyakitkan berbeda secara
signifikan pada kelompok dengan skor katasrofi rendah atau tinggi dibagi dengan split
median. Hasil didapatkan beberapa daerah otak yang sakit ditimbulkan oleh tekanan

untuk jempol dikaitkan dengan membuat katastrofi pada sampel 29 pasien FM. Daerah
ini termasuk korteks anterior cingulate kontralateral, medial frontal girus, lentiform dan
ipsilateral frontal tengah girus, somatosensori korteks sekunder, claustrum, dan
serebellum. Daerah ini tidak tumpang tindih dengan daerah otak (amigdala dan
insula) terkait dengan depresi dalam studi oleh Giesecke et al. [40], mungkin karena
analisis dikontrol untuk efek depresi [41]. Aktivasi signifikan lebih besar dibandingkan
kelompok katastrofi rendah diamati pada medial frontal girus kontralateral dan inferior
parietal lobulus, dan di gyrus frontal medial ipsilateral, frontal gyrus superior,
somatosensori korteks sekunder, dan cingulate cortex anterior. Satu wilayah, lobulus
parietal inferior ipsilateral, menunjukkan aktivasi secara signifikan lebih besar pada
kelompok dengan katastrofi rendah.Kedua analisis menemukan efek di medial girus
frontal kontralateral dan di somatosensory cortex sekunder ipsilateral. Hasil gabunganini
menunjukkan bahwa katastrofi berkaitan dengan daerah otak yang terlibat dalam
memperhatikan rasa sakit dan pengolahan nyeri afektif.
Dalam studi fMRI lain dengan pasien FM, depresi dan katastrofi yang tidak
terkait dengan efek stimulasi tekanan di setiap wilayah otak. [45]. Namun, penelitian ini
digunakan secara acak terhadap rangsangan dari durasi yang lebih pendek, yang mungkin
telah memaksimalkan rangsangan sensorik, dan meminimalkan ketidaknyamanan, dari
perangsangan yang membangkitkan sensasi.
7. Pengobatan dari Uji Klinis
Depresi dan FM juga tampak dikaitkan karena obat dengan serotoninergik ganda dan
tindakan noradrenergik digunakan untuk mengobati kedua kondisi. Dua contoh utama
adalah noradrenergik, inhibitor reuptake serotoninergic (NSRIs) duloxetine dan
milnacipran, antidepresan yang disetujui baru-baru ini di Amerika Serikat untuk
pengobatan FM. Agen ini meniru aksi ganda dari amitriptyline, antidepresan trisiklik
yang telah lama digunakan untuk mengobati nyeri kronis, termasuk FM. Salah satu
keuntungan yang signifikan adalah bahwa agen-agen baru ini memiliki profil efek
samping superior karena mereka tidak memiliki efek antikolinergik seperti amitriptyline.
Studi analgesik klasik pada amitriptyline menunjukkan bahwa mekanisme
penghilang nyeri independen dengan efek antidepresan.Nyeri dicapai pada dosis yang

lebih kecil (25 mg) dari yang digunakan untuk depresi (100-150 mg), dan efek analgesik
yang diamati setelah satu minggu pengobatan sementara efek antidepresan biasanya
diamati setelah tiga minggu pengobatan.Selain itu, efek penghilang rasa sakit yang
independen dari efek pada depresi dan diamati pada pasien dengan depresi dan tanpa
depresi [46, 47].Uji coba duloxetine dan milnacipran juga memberikan bukti untuk
tindakan penghilang rasa sakit dari serotoninergik ganda dan agonis noradrenergik, yaitu,
independen dengan depresi [48-51].Sebuah analisis sekunder terbaru dari 4 uji klinis
duloxetine pada fibromyalgia mengeksplorasi efek pengobatan pada pasien dengan
komorbiditas MDD. Analisis ini menunjukkan independensi relatif dari MDD dan
fibromyalgia di tingkat baseline dan tidak mempengaruhi kemanjuran pengobatan yang
lain [4]. Sebuah analisis juga menemukan efek langsung dominan pengobatan suasana
hati dan rasa sakit.Hasil ini menunjukkan bahwa efek dari NSRI duloxetine pada nyeri
dan MDD yang dimediasi oleh mekanisme independen.Namun, analisis juga
menunjukkan efek tidak langsung yang meningkatkan suasana hati mengakibatkan
peningkatan rasa sakit dan meningkatkan nyeri mengakibatkan suasana hati
membaik.Dalam kasusnyeri dengan ketidaknyamanan dan dimensi afektif, efek tidak
langsung dari suasana hati yang wajar dan praktis diharapkan.Demikian pula, nyeri lega
dapat diharapkan untuk meningkatkan mood.
Efek tidak langsung ini mungkin mencerminkan pengaruh unsur depresi reaktif
pada FM. Aguglia et al. [2] menolak skenario ini karena FM memiliki insiden yang lebih
tinggi dari depresi dibandingkan kondisi sakit parah atau penyakit. Namun, kami merasa
bahwa masalah ini patut dicermati lebih dalam. Meskipun penyakit komparatif (seperti
rheumatoid arthritis) mungkin sebanding pada keparahan, mereka tidak dapat
dibandingkan dengan penyakit lain yang lebih kuat mendorong depresi reaktif. Ada
beberapa aspek FM yang menjadi bahan bakar depresi reaktif dibandingkan dengan rasa
sakit lain atau sindroma medis. Rasa sakit tersebar luas, termasuk dengan definisi
keempat kuadran tubuh dan kerangka aksial.Penyebaran nyeri mungkin terkait dengan
kejadian dan keparahan depresi. Manchikanti et al. [52] telah menunjukkan bahwa
kejadian MDD adalah 4% pada kelompok kontrol, 20% dalam kelompok dengan nyeri
kronis di wilayah tubuh, dan 32% pada pasien yang mengalami nyeri pada lebih dari satu
wilayah tubuh. Efek jenis ini mungkin dianggap tertinggi pada FM, di mana seluruh

tubuh sakit meliputi 5 wilayah utama akan menempatkan tinggi pada fungsi yang
berkaitan MDD ke sejumlah situs tubuh.
Selain itu, FM ditandai dengan nyeri spontan yang signifikan.Sebaliknya, banyak
kondisi nyeri ditandai kurang dengan nyeri spontan dan lebih dengan nyeri akibat
gerakan.Ketidakmampuan untuk mengurangi rasa sakit dengan ketenangan atau
penyesuaian postural dapat menyebabkan depresi.Demikian pula, rasa sakit spontan pada
FM disertai dengan sejumlah besar gejala dan penyakit penyerta yang mungkin
berkontribusi terhadap probabilitas depresi reaktif.
Selanjutnya, tidak seperti kondisi lain seperti artritis reumatoid atau kondisi nyeri
yang berkorelasi dengan fisik, pasien dengan fibromyalgia menderita gejala dengan
tanda-tanda obyektif minimal. Banyak di bidang medis masih menyangkal keberadaan
FM, berhubungan dengan somatisasi umum atau proses kejiwaan lainnya. Pasien merasa
bahwa mereka tidak percaya dan harus berjuang untuk penerimaan. Kurangnya bukti
objektif untuk diagnosis atau mekanisme yang mendasari mungkin menjelaskan antusias
dari temuan terbaru seperti konsentrasi diubah dari substansi P di CSF [53- 56] dan bukti
pengolahan CNS diubah pada spinal [37, 38] dan supraspinal [37 , 38, 40, 48, 53-77]. Ini
juga adalah penjelasan yang sangat masuk akal untuk meningkatkan frekuensi dan
keparahan depresi reaktif pada FM.
Akhirnya, kurangnya tanda-tanda obyektif, pasien dengan fibromyalgia hidup
dengan ketidakpastian apa yang mereka miliki dan prospek mereka untuk masa depan.
Karena banyak fitur depresi yang berorientasi masa depan (putus asa, putus asa),
ketidakpastian ini kemungkinan terkait dengan depresi.
8. Ringkasan
Singkatnya, depresi dan FM keduanya memiliki gambaran umum dan perbedaan di
berbagai tingkat fisiologis dan psikologis. Bukti yang nyatamenunjukkan faktor
predisposisi; sebagai contoh, berdasarkan biologis MDD diperkirakanhampir sama
dengan adanya PDK dalam keluarga atau FM. Faktor predisposisi ini disebabkan oleh
kombinasi faktor genetik dan lingkungan [12, 19, 78-82]. Individu ini cenderung sangat
rentan terhadap faktorpencetus yang memicu FM atau MDD. Cedera, kecelakaan
kendaraan bermotor, penyakit, atau stressor psikososial dapat mengaktivasi rentetan

kejadian ini.Ada hipotesis yang cukup mendukung bahwa peristiwa pemicu yang memicu
respon stres akut yang tepat, termasuk peningkatan CRH, AVP, ACTH, dan
kortisol.Peningkatan awal kortisol berhubungan dengan depresi melankolis, dan
pergeseran gradual ke tingkat hipokortisol bertepatan dengan pergeseran dari gangguan
depresi melankolis untuk gangguan depresi atipikal. FM ditandai dengan penurunan dan
peningkatan kadar kortisol pagi hariterkait dengan depresi melankolis dan atipikal [81,
83, 84]. Sistem aksis HPA adalah sistem yang kompleks yang mengatur mekanisme
umpan balik.Meskipun dicetuskan oleh mekanisme yang serupa, FM dan MDD dapat
dimediasi oleh perubahan yang jelas berbeda dari fungsi HPA.Misalnya, perasaan depresi
disebabkan disregulasi internal sistem HPA sementara rasa sakit terus-menerus dari FM
mungkin karena aktivasi sitokin yang diperantarai HPA [85-87]. Demikian pula,
keterlibatan sistem yang dimediasi oleh serotonin dan norepinefrin mungkin umum untuk
FM dan depresi, namun efek diferensial dari NSRI dan perawatan trisiklik menyarankan
setidaknya terdapat perbedaan dalam fungsi kedua gangguan ini.
FM dan depresi jelas terkait pada percobaan dan tingkat pengukuran.Penilaian
terhadap kuesioner depresi mengungkapkan berbagai item somatik pada pasien yang
menderita nyeri kronis.Depresi setidaknya membangkitkan tanggapan misalnya, "Saya
tidak merasa seperti halnya aku dulu," "seluruh tubuhku sakit".Sebaliknya, memiliki rasa
sakit menimbulkan depresi, dan konsekuensi perilaku aktivitas berkurang dan senyawa
isolasi sosial suasana hati yang negatif.FM tidak sepenuhnya didukung oleh semua dokter
dan memiliki mekanisme yang tidak diketahui dengan prognosis yang tidak
diketahui.Keadaan pasien tidak diketahui dan tidak pasti.Rasa sakit yang persisten,
sindrom ketidakberdayaan dan keputusasaan.Interaksi bisa menjadi suatu siklus dan
menetap.Ketika pengobatan seperti olahraga atau metode perilaku kognitif yang terbukti
efektif, depresi dapat menghilangkan inisiatif dan kemampuan untuk mematuhi
pengobatan tersebut.
FM telah dimasukkan dalam bagian gangguan spektrum afektif (ASD) yang
mencakup kondisi fisik lainnya seperti migrain dan sindrom iritasi usus besar dan banyak
gangguan kejiwaan seperti defisit perhatian / kelainan hiperaktif, bulimia nervosa,
gangguan dysthymic, gangguan kecemasan umum, gangguan depresi mayor (MDD),
gangguan obsesif kompulsif, gangguan panik, gangguan stres pasca trauma, gangguan

premenstruasi disforik, dan fobia sosial [3, 7, 8]. Sementara berbagai fitur seperti
predisposisi untuk mengembangkan kondisi kejiwaan seperti MDD, FM juga
diasosiasikan dengan sejumlah kondisi komorbiditas somatik. Dengan gejala dominan
nyeri yang luas, FM dapat dikelompokkan juga dengan gangguan nyeri fungsional
lainnya seperti gangguan nyeri temporomandibular, sindroma Gulf War, dan vulvodynia
serta sindrom iritasi usus dan migrain. Semua ini diharapkan dapat memiliki beberapa
efek pada sistem fisiologis umum seperti disregulasi aksis HPA, fungsi otonom, dan
sistem yang mengatur serotonin dan norepinefrin.Kesamaan ini mungkin mencerminkan
baik peran luas dari sistem ini dalam kesehatan dan penyakit serta repertoar terbatas
terhadap respon fisiologis untuk beberapa sumber patofisiologi. Mekanisme yang berbeda
dapat mengakibatkan gejala yang sama, mewakili komponen dari respon stereotip stres
seperti yang dijelaskan oleh Selye [88]. Kemandirian efek pengobatan menunjukkan
bahwa depresi dan FM dimediasi oleh mekanisme sebagian besar mekanisme independen
dengan saling memodulasi gejala tertentu.Penyebaran rasa nyeri yang menunjukkan
karakteristik FM memberikan sugesti yang berhubungan dengan gangguan somatik,
secara psikologi pada subkelompok distres, yang memerlukan metode pengobatan yang
berbeda, yang bisa juga berhubungan dengan kelainan spektrum afektif.