Anda di halaman 1dari 18

Daftar isi

BAB I
pendahuluan
a. Latar belakang.............................................................................................3
b.Rumusan masalah.........................................................................................3
c.Tujuan masalah.............................................................................................4
d. Manfaat........................................................................................................4
e. Metode penulisan.........................................................................................4
BAB II
Pembahasan
a.Pengertian kloning........................................................................................5
b. Tehnik kloning ...........................................................................................6
c. Jenis-jenis kloning.......................................................................................7
d.Macam kloning...........................................................................................10
e. Manfaat kloning.........................................................................................11
f . Kloning manusia dipandang dari segi agama, sosial budaya, dan hukum di
indonesia........................................................................................................13
BAB III
Penutupan
a. kesimpulan.................................................................................................17
b. saran...........................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Kloning merupakan salah satu bioteknologi mutakhir yang sangat bermanfaat untuk
memultiplikasi genotip hewan yang memiliki keunggulan tertentu dan preservasi hewan yang
hampir punah. Walaupun keberhasilan produksi hewan kloning lewat transfer inti sel somatik
telah dicapai pada berbagai spesies, seperti domba, sapi, mencit, kambing babi, kucing, dan
kelinci, efisiensinya sampai sekarang masih sangat rendah yakni kurang dari 1 persen, dengan
sekitar 10 persen yang lahir hidup.
Sejarah tentang hewan kloning telah muncul sejak awal tahun 1900, tetapi contoh
hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat penelitian Ian Wilmut, dan untuk pertama kali
membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa. Hewan kloning
tersebut dihasilkan dari inti sel epitel kambing domba dewasa yang dikultur dalam suatu
medium, kemudian ditransfer ke dalam ovum domba yang kromosomnya telah dikeluarkan,
yang pada akhirnya menghasilkan anak domba kloning yang diberi nama Domba Dolly.
Penelitian-penelitian yang melibatkan spesies-spesies lain terus dilakukan, seperti
pada mencit, sapi, kambing, domba, dan babi dan dari informasi yang dihimpun
menunjukkan bahwa berbagai spesies hewan dapat dikloning lewat transplantasi inti.
Walaupun hewan kloning yang dihasilkan lewat transplantasi inti sangat tidak efisien, akan
tetapi fakta bahwa perkembangan kloning akan besar sekali dampaknya terhadap kehidupan
manusia menyebabkan percobaan-percobaan terkait kloning masih dilakukan. Terlepas dari
pro dan kontra terhadap proses kloning, pada dasarnya kloning tetap memiliki beberapa
manfaat yang dapat diperoleh manusia misalnya dalam melestarikan keanekaragaman hayati
yang terancam punah. Untuk itu, perkembangan pengetahuan tentang kloning seperti proses
kloning, tehnik kloning, serta manfaat kloning harus dipahami secara benar.
II.
Rumusan Masalah
a. Apakah pengertian kloning?
b. Apa saja tehnik dalam kloning?
c. Apa saja jenis-jenis kloning?
d. Apa manfaat dari kloning?
e. Bagaimana pandangan agama islam,sosial-budaya dan hukum mengenai kloning ?

III. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai
berikut.
1. Menjelaskan definisi kloning
2. Menjelaskan bagaimana tehnik-tehnik kloning yang pernah dilakukan
3. Menjelaskan manfaat dan keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan kloning
IV. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah bagi penulis dan pembaca dapat
memperoleh pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan kloning, bagaimana tehniktehnik kloning yang pernah dilakukan, manfaat dan keuntungan yang dapat diperoleh dari
penerapan kloning.
V. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kajian pustaka, yaitu
penulis mengumpulkan berbagai sumber atau referensi yang relevan dengan materi yang
disajikan dan kemudian dilakukan pengkajian terhadap materi tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
a. Pengertian Kloning
Kloning berasal dari kata dasar Klon yang berasal dari bahasa Yunani kln yang
artinya tunas. Kloning adalah tindakan menggandakan atau mendapatkan keturunan jasad
hidup tanpa fertilisasi, yaitu dengan cara mengambil sel gamet dari induk sehingga didapat
keturunan yang mempunyai susunan (jumlah dan gen) yang sama dan kemungkinan besar
mempunyai fenotipe yang sama.
Kata klon memiliki dua pengertian:
1. Klon sel adalah sekelompok sel yang identik sifat-sifat genetiknya, semua berasal dari satu
sel.
2. Klon gen atau molekuler, yaitu sekelompok salinan gen yang bersifat identik yang
direplikasi dari satu gen yang dimasukkan dalam sel inang Sehingga bisa kita simpulkan
bahwa kloning adalah proses reproduksi aseksual.
Kloning bisa dilakukan pada berbagai jenis makhluk hidup seperti bakteri, serangga,
dan tumbuhan, termasuk manusia. Kloning manusia adalah teknik membuat keturunan
dengan cara menggunakan sel tubuh sehingga hasil keturunanya mempunyai kode genetik
yang sama dengan induknya yang berupa manusia.
Kloning pada tanaman dalam arti melalui kultur sel mula-mula dilakukan pada
tanaman wortel. Dalam hal ini sel akar wortel dikultur, dan tiap selnya dapat tumbuh menjadi
tanaman lengkap. Teknik ini digunakan untuk membuat klon tanaman dalam perkebunan.
Dari sebuah sel yang mempunyai sifat unggul, kemudian dipacu untuk membelah dalam
kultur, sampai ribuan atau bahkan sampai jutaan sel. Tiap sel mempunyai susunan gen yang
sama, sehingga tiap sel merupakan klon dari tanaman tersebut.
Kloning pada hewan dilakukan mula-mula pada hewan amfibi (kodok), dengan
mengadakan transplantasi nukleus ke dalam telur kodok yang dienukleasi atau dihilangkan
inti selnya. Sebagai donor, digunakan nukleus sel somatik dari berbagai stadium
perkembangan. Ternyata donor nukleus dari sel somatik yang diambil dari sel epitel usus
kecebong pun masih dapat membentuk embrio normal.

b. Tehnik Kloning
Sebelum masuk ke tehnik dalam proses kloning, lebih dahulu akan saya paparkan
mengenai proses kloning secara garis besar, proses kloning dapat dijelaskan melalui beberapa
tahapan sebagai berikut:
5

1. Mempersiapkan sel stem, yaitu sel awal yang diambil dari sel tubuh seorang manusia yang
hendak dikloning
2. Sel stem diambil inti sel yang mengandung informasi genetik kemudian dipisahkan dari
sel.
3. Mempersiapkan sel telur, yaitu suatu sel yang diambil dari sukarelawan perempuan
kemudian intinya dipisahkan.
4. Inti sel dari sel stem diimplantasikan ke sel telur. Sel telur dipicu dengan kejutan listrik
supaya terjadi pembelahan dan pertumbuhan. Setelah membelah (hari kedua) menjadi sel
embrio.
5. Sel embrio yang terus membelah (blastosis) mulai memisahkan diri (hari ke lima) dan siap
diimplantasikan ke dalam rahim.
6. Embrio tumbuh dalam rahim menjadi bayi dengan kode genetik persis sama dengan sel
stem donor.
Dari penjabaran diatas, ada 2 macam tehnik telah dilakukan oleh para ilmuwan
sebagai pembanding keberhasilan, mulai dari merubah inti sel yang didonorkan, hewan yang
dikloning, dan juga persentase keberhasilan. Kedua tehnik itu dikenal dengan nama tehnik
kloning Roslin dan tehnik kloning Honolulu.
a) Tehnik Roslin
Tehnik ini diperkenalkan oleh Ian Wilmut dan Keith Campbell. Keduanya
memperkenalkan suatu metodeyang mampu melakukan singkronisasi siklus sel dari kedua
sel, yakni sel donor dan sel telur. Tanpa singkronosasi siklus sel, maka inti tidak akan berada
pada suatu keadaan yang optimum untuk dapat diterima oleh embrio. Mereka berdua
melakukan percobaan ini pada seekor domba. Sel donor diambil dari seekor domba berwarna
putih (Finn dorset). Sel ini diambil dari kelenjar mammae domba tersebut. Sedang sel
penerima diambil dari sel telur yang sudah dihilangkan intinya dari domba yang berwajah
hitam (Scottish blackface). Setelah itu, diberi kejutan listrik pada kedua sel yang telah
digabungkan tadi dan ditanam di uterus domba pemilik sel telur. Ketika domba hasil kloning
ini lahir, domba ini memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan domba Finn dorset sebagai
pendonor. Domba inilah yang kita kenal dengan nama Domba Dolly. Hanya saja, Domba
Dolly mengidap penyakit kanker paru-paru dan arthritis, sehingga dia dibunuh dengan
suntikan mematikan pada 14 Februari 2003. Umur Domba Dolly juga tidak sepanjang umur
domba Finn dorset yang mencapai sebelas hingga dua belas tahun
b) Teknik Honolulu
Tehnik ini diperkenalkan oleh Teruhiko Wakayama dan Ryuzo Yanagimachi, dua
orang dari kelompok ilmuwan di Universitas Hawai. Jika tehnik dorset menggunakan media
domba, maka tehnik Honolulu ini menggunakan media tikus sebagai bahan percobaan.
Wakayama dan Yanagimachi menggunakan pendekatan singkronisasi sel yang berbeda
6

dengan seperti yang dilakukan Ian Wilmut. Wilmut menggunakan sel mammae sebagai sel
pendonor, sedangkan Yanagimachi dan Wakayama menggunakan sel otak dan sel kumulus
sebagai pendonor.Wakayama juga tidak menambahkan kejutan listrik untuk menggabungkan
sel pendonor dan sel penerima. Setelah terbukti bahwa tehniknya dapat menghasilkan kloning
yang hidup, Wakayama juga membuat kloning dari kloning, dan membiarkan makhluk klon
yang asli untuk melahirkan secara alamiah untuk membuktikan bahwa mereka memiliki
kemampuan reproduksi secara sempurna. Pada saat dia mengumumkan keberhasilannya,
Wakayama telah menciptakan lima puluh kloning. Persentase keberhasilan tehnik Wakayama
juga jauh lebih besar dari tehnik roslin, yaitu berhasil menghasilkan 3 klon dari seratus
percobaan, bandingkan dengan tehnik roslin yang menghasilkan 1 klon dari 277 percobaan.
Perbedaan antara kedua tehnik di atas dapat dijabarkan dalam tabel berikut:

c. Jenis-Jenis Kloning
1. Kloning DNA
Rekombinan Kloning ini merupakan pemindahan sebagian rantai DNA yang
diinginkan dari suatu organisme pada satu element replikasi genetik, contohnya penyisipan
DNA dalam plasmid bakteri untuk mengklon satu gen. Kloning ini meliputi serangkaian
proses isolasi fragmen DNA spesifik dari genom suatu organisme, dimulai dari penentuan
sekuen DNA serta pembentukan molekul DNA rekombinan, dan ekspresi gen target dalam sel
inang. Penentuan sekuen DNA yang melalui sekuensing memiliki tujuan untuk memastikan
fragmen DNA yang kita isolasi adalah gen target sesuai dengan kehendak kita. Gen target
yang kita peroleh selanjutnya kita klon dalam sebuah vektor (plasmid, phage atau cosmid)
melalui teknologi DNA rekombinan yang selanjutnya akan membentuk molekul DNA
rekombinan. DNA rekombinan yang dihasilkan kemudian ditransformasi ke dalam sel inang
(biasanya sel bakteri, misalnya strain E. coli) untuk diproduksi lebih banyak. Gen-Gen target
yang ada di dalam sel inang jika diekspresikan akan mengahasilkan produk gen yang kita
inginkan. Aplikasi kloning DNA rekombinan yang sudah pernah ada yaitu produksi insulin
dengan pendekatan kloning gen. Dimulai dari fragmen DNA spesifik penyandi insulin
diisolasikan dan diklon dalam suatu vektor hingga membentuk DNA rekombinan, yang
selanjutnya produksi insulin dilakukan di dalam sel inang bakteri E. coli.
2. Kloning Reproduktif
Kloning ini merupakan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan hewan yang
sama, contohnya Dolly dengan suatu proses yang disebut SCNT (Somatic Cell Nuclear
Transfer). Pada tipe reproduktif, DNA yang berasal dari sel telur manusia atau hewan
dihilangkan dan diganti dengan DNA yang berasal dari sel somatik (kulit, rambut, dan lain-

lain) hewan atau menusia dewasa yang lain. Dengan suatu loncatan listrik, inti sel hewan atau
manusia yang telah diinjeksikan pada sel somatik tersebut selanjutnya akan berkembang dan
membelah. Selanjutnya, embrio hasil teknik ini dimasukkan (diimplantasikan) dalam rahim
hewan atau manusia yang memungkinkan embrio berkembang menjadi hewan ataupun
menjadi manusia baru. Meskipun teknik kloning ini berpotesi menghasilkan individu hewan
atau manusia yang identik dengan hewan atau manusia pendonor DNA, teknik kloning ini
juga berpotensi besar dalam menghasilkan kelainan genetik yang berat pada individu hasil
kloning.
3. Kloning Terapeutik
Kloning ini merupakan suatu kloning untuk memproduksi embrio manusia sebagai
bahan penelitian. Tujuan utama dari proses ini bukan untuk menciptakan manusia baru, tetapi
untuk mendapatkan sel batang yang dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan
manusia dan penyembuhan penyakit. Tujuan lain dari kloning ini ialah menghasilkan suatu
stem cell (sel yang belum terdiferensiasi) yang memiliki potensi besar untuk berkembang
menjadi organ-organ tubuh atau jaringan untuk kepentingan penggantian organ atau jaringan
yang rusak pada manusia akibat suatu penyakit tertentu (penyakit degeneratif) tanpa adanya
penolakan respon kekebalan tubuh penerima. Secara umum prosedur yang dilakukan pada
teknologi transfer inti sel somatik (kloning terapeutik) terbagi atas tiga bagian, yaitu: dimulai
dari pembentukan embronik stem cells, pengkulturan sel tipe spesifik yang murni, dan uji
fisiolagis (uji efikasi dan uji keamanan).
a.) Pembentukan Sel Stem Embrionik
Pada pembentukkan sel stem embrionik, langkah pertama yang dilakukan ialah
pengambilan inti sel dari sel telur. Hal yang sama juga dilakukan pada sel somatik. DNA
yang berasal dari sel somatik selanjutnya ditransfer ke dalam sel telur yang sudah tidak
memiliki inti sel. Melalui kejutan arus listrik, sel ini dirangsang untuk membentuk praembrio. Dalam suatu persentase yang kecil, pra-embrio ini akan terbentuk. Selanjutnya, zona
pelusida (lapisan tebal yang mengelilingi blastosit) di hilangkan dengan menambahkan suatu
zat kimia tertentu. Massa sel bagian dalam dari blastosit selanjutnya di letakkan pada medium
khusus yang selanjutnya akan berkembang dan menghasilkan banyak sel stem.
b.) Pengkulturan Sel Tipe Spesifik
Setelah diperoleh sel stem embrionik, setiap stem sel yang tumbuh dalam cawan petri
yang mengandung medium tertentu diambil dan di letakkan pada cawan petri yang baru yang
mengandung medium spesifik. Medium spesifik ini mengandung suatu zat tertentu yang
dapat merangsang sel stem tumbuh menjadi jaringan atau organ tertentu. Teknologi transfer
inti sel somatis (kloning terapeutik), sangat erat kaitannya dengan permasalahan stem cell.

Karena pada hakikatnya tujuan dari teknologi transfer inti sel ini atau yang dikenal sebagai
therapeutic cloning ialah mendapatkan sekumpulan sel yang dapat berkembang selanjutnya
menjadi jaringan atau organ yang diinginkan (stem cell).

d. Macam-macam Kloning
Macam-macam kloning antara lain sebagai berikut:
Kloning pada tumbuhan
Kloning pada tumbuhan yaitu mencangkok atau menstek tanaman untuk mendapatkan
tanaman yang memiliki sifat persis sama dengan induknya.
Kloning pada hewan
Kloning pada hewan pertama kali dicoba pada tahun 1950-an pada hewan katak,
tikus, kera dan bison juga pada domba, dan dalam kelanjutannya proses yang berhasil
hanyalah percobaan Kloning pada domba. Awal mula proses pengkloningan domba adalah
dengan mengambil inti sel dari tubuh domba, yaitu dari payudara atau ambingnya lalu sifat
khusus yang berhubungan dengan fungsi ambing ini dihilangkan, kemudian inti sel tersebut
dimasukkan kedalam lapisan sel telur domba, setelah inti selnya dibuang kemudian
ditanamkan kedalan rahim domba agar memperbanyak diri, berkembang berubah menjadi
janin dan akhirnya di hasilkan bayi domba. Pada akhirnya domba ini mempunyai kode
genetic yang sama dengan domba pertama yang menjadi sumber pengambilan sel ambing.
Kloning pada embrio
Kloning embrio tejadi pada sel embrio yang berasal dari rahim istri yang terbentuk
dari pertemuan antara sel sperma suaminya dengan sel telurnya lalu sel embrio itu dibagi
dengan satu teknik perbanyakan menjadi beberapa sel embrio yang berpotensi untuk
membelah dan berkembang. Kemudian sel-sel embrio itu dipisahkan agar masing-masing
9

menjadi embrio tersendiri yang persis sama dengan sel embrio pertama yang menjadi sumber
pengambilan sel. Selanjutnya sel-sel embrio itu dapat ditanamkan dalam rahim perempuan
asing (bukan isteri), atau dalam rahim isteri kedua dari suami bagi isteri pertama pemilik sel
telur yang telah dibuahi tadi. Yang selanjutnya akan menghasilkan lebih dari satu sel embrio
yang sama dengan embrio yang sudah ada. Lalu akan terlahir anak kembar yang terjadi
melalui proses Kloning embrio ini dengan kode genetik yang sama dengan embrio pertama
yang menjadi sumber Kloning.
Kloning pada manusia
Kloning pada manusia terdapat dua cara. Petama, Kloning manusia dapat berlangsung
dengan adanya laki-laki dan perempuan dalam prosesnya. Proses ini dilaksanakan dengan
mengambil sel dari tubuh laki-laki, lalu inti selnya diambil dan kemudian digabungkan
dengan sel telur perempuan yang telah dibuang inti selnya. Sel telur ini setelah bergabung
dengan inti sel tubuh laki-laki lalu ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan agar dapat
memeperbanyak diri, berkembang, berubah menjadi janin, dan akhirnya dilahirkan sebagai
bayi. Bayi ini merupakan keturunan dengan kode genetik yang sama dengan laki-laki yang
menjadi sumber pengambilan sel tubuh.
Kedua, Kloning manusia dapat pula berlangsung di antara perem-puan saja tanpa
memerlukan kehadiran laki-laki. Proses ini dilaksanakan dengan mengambil sel dari tubuh
seorang perempuan, kemudian inti selnya diambil dan digabungkan dengan sel telur
perempuan yang telah dibuang inti selnya. Sel telur ini setelah bergabung dengan inti sel
tubuh perem-puan lalu ditransfer ke dalam rahim perempuan agar memperbanyak diri,
berkembang, berubah menjadi janin, dan akhirnya dilahirkan sebagai bayi. Bayi yang
dilahirkan merupakan keturunan dengan kode genetik yang sama dengan perempuan yang
menjadi sumber pengambilan sel tubuh. Hal tersebut mirip dengan apa yang telah berhasil
dilakukan pada hewan domba.
Adapun pewarisan sifat yang terjadi dalam proses Kloning, sifat-sifat yang diturunkan hanya
berasal dari orang yang menjadi sumber pengambilan sel tubuh, baik laki-laki maupun
perempuan. Dan anak yang dihasilkan akan memiliki ciri yang sama dengan induknya dalam
hal penampilan fisiknya seperti tinggi dan lebar badan serta warna kulit dan juga dalam hal
potensi-potensi akal dan kejiwaan yang bersifat asli. Dengan kata lain, anak tersebut akan
mewarisi seluruh ciri-ciri yang bersifat asli dari induknya. Sedangkan ciri-ciri yang
diperoleh melalui hasil usaha, tidaklah dapat diwariskan. Jika misalnya sel diambil dari
seorang ulama yang faqih, atau mujtahid besar, atau dokter yang ahli, maka tidak berarti si

10

anak akan mewarisi ciri-ciri tersebut, sebab ciri-ciri ini merupakan hasil usaha, bukan sifat
asli.

e. Manfaat Kloning
Teknologi kloning diharapkan dapat memberi manfaat kepada manusia, khususnya di
bidang medis. Beberapa keuntungan terapeutik dari teknologi kloning adalah sebagai berikut:
1. Kloning manusia memungkinkan banyak pasangan suami istri yang tidak subur (tidak bisa
mendapatkan keturunan) untuk mendapatkan anak.
2. Organ manusia dapat dikloning secara selektif untuk dimanfaatkan sebagai organ
pengganti bagi pemilik sel organ itu sendiri, sehingga dapat meminimalisasi resiko
penolakan.
3. Sel-sel dapat dikloning dan diregenerasi untuk menggantikan jaringan-jaringan tubuh yang
rusak, misalnya urat syaraf dan jaringan otot. Kemungkinan bahwa kelak manusia dapat
mengganti jaringan tubuhnya yang terkena penyakit dengan jaringan tubuh embrio hasil
kloning, atau mengganti organ tubuhnya yang rusak dengan organ tubuh manusia hasil
kloning. Di kemudian hari akan ada kemungkinan tumbuh pasar jual beli embrio dan sel-sel
hasil kloning.
4. Teknologi kloning memungkinkan para ilmuan medis untuk menghidupkan dan mematikan
sel-sel. Dengan demikian, teknologi ini dapat digunakan untuk mengatasi kanker.
5. Teknologi kloning memungkinkan dilakukan pengujian dan penyembuhan penyakitpenyakit keturunan. Dengan teknologi kloning, kelak dapat membantu manusia dalam
menemukan obat kanker, menghentikan serangan jantung, dan membuat tulang, lemak,
jaringan penyambung, atau tulang rawan yang cocok dengan tubuh pasien untuk tujuan bedah
penyembuhan dan bedah kecantikan.
6. Pada tumbuhan, manusia bisa membuat jenis tumbuhan yang memiliki kualitas unggul
yang sama dengan induk dalam waktu singkat dan jumlah yang besar, sehingga bisa
dimanfaatkan untuk konservasi tumbuhan langka dengan jalan mengkloning sel tumbuhan
tersebut dan diperbanyak.

11

F. Kloning Manusia Ditinjau dari Segi Agama, SosialBudaya, dan Hukum di Indonesia
1.

Kloning manusia ditinjau dari Agama


a. Agama Islam
Dalam kitab-kitab klasik belum (atau mungkin malah tidak)
ditemukan pendapat-pendapat pakar hukum Islam mengenai hukum
spesifik kloning. Namun, metode pengambilan hukum melalui kaidahkaidah ushul fiqh yang telah digunakan mereka bisa dijadikan panduan
untuk mengambil dan menentukan kasus-kasus hukum yang akan terjadi
berikutnya. Karena belum (mungkin juga tidak) ditemukannya rujukan dari
kitab-kitab hukum terdahulu, para ahli hukum sekarang masih
memperdebatkan masalah ini dan belum ditemukan kesepakatan final
dalam kasus yang menyeluruh.
Di sini kami akan kemukakan beberapa pendapat sebagian ahli
hukum Islam masa kini mengenai kasus kloning ini. Pendapat ini kami
kutip dari kajian yang dibuat Badan Kajian Keislaman (Majma al-Buhts alIslamiyyah), Kairo, Mesir. Kloning terhadap tumbuh-tumbuhan atau hewan
asalkan memiliki manfaat bagi kehidupan manusia maka hukumnya
mubah/halal. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa segala sesuatu yang
ada di dunia ini diciptakan untuk kesejahteraan manusia (lihat surat AlBaqarah/2:29 dan surat al-Jatsiyah/45:13).
Professor Abdulaziz Sachedina of the University of Virginia, merujuk pada
ayat Al-Quran surat Al-Mukminun 12-14, bahwa ilmuwan yang

12

mengadakan kloning tidak mempercayai Allah adalah pencipta yang


paling sempurna terhadap makhluknya. Usaha mengkloning adalah usaha
mengingkari kesempurnaan Allah (QS. 23:12-14) Dan Sesungguhnya
kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah..
Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal
daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami
bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Hasil konferensi tahun 1997 oleh Islamic fiqh mengemukakan pandangan
bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, seminar ini menyimpulkan
bahwa Kloning manusia itu haram dan Kloning terhadap hewan itu halal,
Kloning terhadap manusia itu akan menimbulkan masalah komplek sosial
dan moral.
Fatwa terakhir, tentang larangan mengkloning manusia dikeluarkan
jawatan Kuasa Fatwa Majelis Kebangsaan Malaysia melalui keputusan
mudzakarah yang ke 51 pada tanggal 11 maret 2002, menetapkan bahwa
:
(1) Kloning manusia untuk tujuan apapun adalah haram, karena
bertentangan dengan fitrah kejadian manusia, sebagaimana yang
ditentukan oleh Allah SWT.
(2) Penggunaan stem cell dengan tujuan medis sejauh tidak ber tentangan
dengan hukum syara diperbolehkan.
Ali Yafie dengan tegas menyatakan bahwa bayi kloning merupakan bayi
bermasalah dalam bentuk hukum islam karena bersangkutan dengan:
1. Bayi kloning akan dipertanyakan siapa ibu dan bapak syahnya
2. Dalam proses kloning terdapat 3 pihak:
a) Perempuan yang diambil sel telurnya,
b) Donor pemberi selnya (inti selnya akan mengganti inti sel pertama
yang sudah dihancurkan,
c) Ibu pengganti yang rahimnya dipakai untuk menanam embrio yang
13

berasal dari donor, sampai dapat menyelesaikan perkembangannya dan


melahirkannya, ketiga pihak itu dipertanyakan status dan hubungannya
dalam unit keluarga
3. Proses kloning menggambarkan lahirnya manusia akan mendapat
nasab dari mana.
4. Pihak manakah yang bertanggung jawab atas kelanjutan hidup bayi
Kloning
5. Apa Maslahat dan kemudaratan dari kloning manusia.
Karena kloning adalah persoalan kontemporer yang hukumnya sendiri
tidak pernah dibicarakan dalam Al-Quran maupun Hadist dan ijtihad para
ulama Mutaqaddimin. Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk
menetapkan hukumnya adalah melalui ijtihad.
1. Manfaat positif yang mungkin diperoleh antara lain:
a. Kloning dapat membantu pasangan suami-istri yang mempunyai
problem reproduksi untuk memperoleh anak,
b. Dengan kloning, para ilmuwan dapat mengobati berbagai macam
penyakit akibat rusaknya, beberapa gen yang terdapat dalam tubuh
manusia,
c. Kloning memberikan peluang kepada para ilmuwan untuk menentukan
karakteristik (fisik dan mental),
d. Ilmuwan dapat menentukan silsilah seseorang yang tak dikenal
e. Dapat menjadikan sebagai dasar untuk membuktikan pelaku
perzinahan.
2. Implikasi negatif.
a. Proses penciptaan manusia merupakan hak prerogatif Allah semata (the
divine will), dengan mengkloning manusia, berarti telah memasuki dan
mengintervensi ranah kekuasaan Allah,
b. Para ilmuwan tersebut tidak mempercayai bahwa Allah adalah pencipta
yang paling sempurna (Ahsan al-Khaliqin),
c. Tuhan telah menciptakan manusia dengan keragaman, kloning manusia
bertentangan dengan sunatullah. (Partaonan Daulay, 2005 . 92).
Kloning ini hukumnya haram menurut hukum Islam dan tidak boleh
dilakukan. Kloning manusia akan menghilangkan garis keturunan, padahal
14

Islam mewajibkan memelihara nasab, diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA,


yang mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda :
Siapa saja yang menghubungkan kepada orang yang bukan ayahnya,
atau seorang budak bertuan kepada selain tuannya, maka akan mendapat
laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. (HR. Ibnu Majah).
Menjadi hal yang menarik pada poling tahun 2001 oleh CNN, diantara
1005 orang Amerika yang menganggap kloning manusia adalah ide yang
buruk lebih dari 90 persen. Dan hampir 69 persen menganggap itu adalah
melawan kehendak Tuhan. Hanya 19 persen pada tahun 1997 yang
menganggap tidak melawan kehendak Tuhan dan meningkat pada tahun
2001, 23 persen menganggap itu tidak melawan perintah Tuhan.
.
2.

Kloning Manusia Ditinjau dari SosialBudaya


Masyarakat manusia intinya adalah proses interaksi sosial yaitu
hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi individu dengan
individu, individu dengan kelompok, dan suatu kelompok dengan
kelompok lainnya. Interaksi sosial yang dilakukan secara berulang-ulang
serta bertahan dalam jangka waktu yang relatif lama, biasanya
menghasilkan hubungan-hubungan sosial. Bila hubungan sosial tersebut
dilakukan secara sistematis dan tertib maka hubungan sosial tadi akan
menjadi sistem sosial. Dengan demikian, sistim social merupakan suatu
wadah dan proses dari pola-pola interaksi sehingga sistim ini mempunyai
unsur-unsur pokok yaitu kepercayaan, perasaan, tujuan, kaidah,
kedudukan dan peranan yang mencakup posisi dan hak serta kewajiban
seseorang dan penerapannya dalam interaksi sosial, kekuasaan, sanksi
dan fasilitas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kloning pada
manusia pada saat ini dapat dikatakan tidak etis tapi tidak menutup
kemungkinan pada suatu saat nanti dapat dikatakan etis karena adanya
situasi dan kondisi tertentu.

3.

Kloning Manusia Ditinjau dari Hukum Perundang-Undangan di


Indonesia
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kloning
menimbulkan kontroversi, terutama yang bersangkutan dengan kloning
15

manusia. Isu yang mengedepan dan menjadi perdebatan pada forum


internasional adalah apakah larangan terhadap kloning manusia bersifat
mutlak atau terbatas pada kloning reproduktif manusia. Kloning manusia
diidentifikasi menirnbulkan beberapa masalah, baik masalah etika dan
moral, masalah ilmiah, serta masalah sosial. Kloning berdasarkan Undangundang perkawinan No. ! tahun 1974 juga bertentangan, karena anak
yang syah adalah anak yang lahir dari dalam atau sebagai akibat
perkawinan yang syah.

BAB III

Penutupan
a. kesimpulan
Dari pembahasan makalah di atas maka dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain:

16

Kloning berasal dari kata dasar Klon yang berasal dari bahasa Yunani kln yang artinya
tunas. Kloning adalah tindakan menggandakan atau mendapatkan keturunan jasad hidup
tanpa fertilisasi, yaitu dengan cara mengambil sel gamet dari induk sehingga didapat
keturunan yang mempunyai susunan (jumlah dan gen) yang sama dan kemungkinan besar

mempunyai fenotipe yang sama.


Ada beberapa tehnik kloning yang dikenal, antara lain tehnik roslin dan tehnik Honolulu.
Ada beberapa jenis kloning, diantaranya kloning DNA rekombinan, kloning reproduktif, dan

kloning tarapeutik.
Kloning memiliki beberapa manfaat, seperti membantu pasangan suami istri dalam
memperoleh anak, mengobati kanker, untuk menghasilkan varietas tanaman yang unggul,

serta untuk mengobati beberapa penyakit keturunan.


Kloning hukumnya haram menurut hukum Islam dan tidak boleh dilakukan. Kloning
manusia akan menghilangkan garis keturunan, padahal Islam mewajibkan memelihara nasab,
diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, yang mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda :
Siapa saja yang menghubungkan kepada orang yang bukan ayahnya, atau seorang budak
bertuan kepada selain tuannya, maka akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat, dan

seluruh manusia. (HR. Ibnu Majah).


Ditinjau dari segi sosial-budaya, kloning pada manusia pada saat ini dapat dikatakan tidak
etis tapi tidak menutup kemungkinan pada suatu saat nanti dapat dikatakan etis karena adanya
situasi dan kondisi tertentu.

b. Saran
Hendaknya ilmu kloning bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, terlepas dari
pro dan kontra terhadap kloning. Akan tetapi pengawasan terhadap kegiatan kloning juga
perlu awasi oleh pihak yang berwenang dalam hal ini oleh pemerintah yakni dengan
membuat peraturan yang jelas mengenai teknologi kloning, sehingga tidak terjadi penyalah
gunaan teknologi oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Kloning
http://kamusq.blogspot.com/2012/03/pengertian-kloning-dan-jenis-jenis.html
http://proseskloningmanusia.blogspot.com/2010/02/proses-kloning.html
http://www.angelfire.com/ri/Ricoaries68/kloning.html
17

http://rumoh-biologi.blogspot.com/2012/04/kloning-dan-manfaatnya.html
http://lenkabelajar.blogspot.com/2012/09/makalah-kloning.html
http://safnowandi.wordpress.com/2012/02/17/kloning/

18