Anda di halaman 1dari 12

Balok SKDN

Ridwan Annas Gizi Masyarakat

Balok SKDN merupakan gambaran seberapa jauh keberhasilan program


UPGK (Upaya Peninjauan Gizi Kurang) di tingkat Posyandu atau desa. Data
tingkat desa merupakan rekapitulasi (kumpulan) data dari semua
Posyandu yang ada di sebuah desa.
Ada 4 kata dari balik SKDN yang dijelaskan sebagai berikut :
S : jumlah seluruh balita diwilayah posyandu
K : jumlah balita yang memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) pada bulan ini diwilayah
kerja posyandu
D : jumlah balita yang ditimbang bulan ini diwilayah kerja posyandu
N : balita yang ditimbang 2 bulan berturut-turut dan garis pertumbuhan pada Kartu
Menuju Sehat (KMS) naik
Berikut ini adalah beberapa macam data yabg di gambarkan dalam balok SKDN :
1. Jumlah S, K, D, N, yang digambarkan dalam bentuk balok
2. Tingkat liputan program (% K/S)
3. Tingkat partisipasi masyarakat (% D/S)
4. Tingkat keberhasilan penimbangan (% N/D)
Beberapa hal yang perlu diingat dalam pembuatan b
Beberapa hal yang perlu diingat dalam pembuatan balok SKDN meliputi
- balok K, D , dan N tidak akan pernah lebih tinggi dari S karena tidak mungkin
jumlah balita yang memiliki KMS lebih banyak dari jumlah seluruh balita di sebuah
desa dan pencapaian paling tinggi adalah balok yang sejajar
- balok N tidak akan pernah lebih tinggi dari D karena balita yang ditimbang 2 bulan
berturut-turut dan pertumbuhan pada KMS naik tidak akan lebih dari jumlah balita
yang ditimbang pada bulan ini

Jika terjadi sebuah kasus balok K, D, N lebih tinggi maka petugas kesehatan yang
bersangkutan dilapangan harus di kontrol dan di evaluasi karena kemungkinan
besar terjadi kelalaian pada prosesnya pembuatan balok SKDN.
Referensi :
Dinas kesehatan Provinsi Lampung. Bidang Bina Pelayanan Kesehatan Seksi Gizi.
2013

RISKANURFAJRIAHSETIAWAN
makalah SKDN (Status Gizi Balita )
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah

Untuk menciptakan masyarakat yang sehat dinas kesehatan dan puskesmas


melakukan berbagai upaya seperti, bagian dari sistem kesehatan nasional
dengan melibatkan peran serta kader dan masyarakat untuk menangani
masalah gizi yang pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat
namun penanggulangan tidak dapat dilakukan lewat pendekatan medis dan
pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor,
oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai
sektor yang terkait (Supariasa. 2002).
KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS
harus dibawa ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan
anak dengan demikian pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap
bagi anak yang bersangkutan, sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk
pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN.
Pengertiannya S adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu, K adalah
jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS, D adalah jumlah balita yang
datang ditimbang bulan ini, N adalah jumlah balita yang naik berat badanya.
Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan
penimbangan, kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu, tingkat
partisipasi masyarakat dalam kegiatan, kecenderungan status gizi, efektifitas
kegiatan. (Suhardjo. 1996).
1.2 Tujuan
1. Pembaca mengerti mengenai SKDN

2. Memberitahu pembaca mengenai gambaran status gizi melalui balok SKDN


3. pembaca mengetahui sistem pencatatan dan pelaporan data SKDN
4. Menjelaskan pengolahan data SKDN
1.3 Rumusan Masalah
Apa kepanjangan SKDN
Bagaimana gambaran status gizi melalui balok SKDN
Bagaimana sistem pelaporan data SKDN
Bagaimana cara pengolahan data SKDN
BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian

KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS
harus dibawa ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan
anak dengan demikian pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap
bagi anak yang bersangkutan, sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk
pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN.
SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita SKDN sendiri
mempunyai singkatan yaitu sebagai berikut:
S= adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu,
K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS,
D= jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini,
N= jumlah balita yang naik berat badanya.
Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan
penimbangan (K/S), kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu (D/K),
tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi
(N/D), efektifitas kegiatan (N/S). (Suhardjo. 1996).
2.2 Perhitungan SKDN
Pemantauan status gizi dilakukan dengan memanfaatkan data hasil
penimbangan bulanan posyandu yang didasarkan pada indikator SKDN tersebut.
Indikator yang dipakai adalah N/D (jumlah anak yang berat badannya naik
dibandingkan dengan jumlah anak yang ditimbang dalam %). Peramalan
dilakukan dengan mengamati kecenderungan N/D dan D/S setiap bulan pada
wilayah masing-masing wilayah kecamatan. Pematauan status gizi dilaporkan
setiap bulan dengan mempergunakan format laporan yang telah ada.
Balita yang datang dan ditimbang (D/S)

Pengertian
Balita yang datang dan ditimbang (D) adalah semua balita yang datang dan
ditimbang berat badannya.
Definisi Operasional
Balita yang datang dan ditimbang (D) adalah semua balita yang datang dan
ditimbang berat badannya (D) di posyandu maupun di luar posyandu satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Balita yang naik berat badannya (N/D)
Definisi Operasional Balita yang naik berat badannya (N) adalah balita yang
ditimbang (D) di posyandu maupun di luar posyandu yang berat badannya naik
dan mengikuti garis pertumbuhan pada KMS di satu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu.
Rumusnya
Contoh Kasus :
Dari laporan kegiatan Gebyar Posyandu 27 pada tanggal 27 Desember 2008,
didapat data, seperti ; (DKI Jakarta) tercatat jumlah seluruh Balita yang ada
sebesar 553.775 Balita, dan sebanyak 425.946 diantaranya telah memiliki Kartu
Menuju Sehat (KMS), sementara itu, sebanyak 279.371 balita ditimbang berat
badannya, sedangkan balita yang naik berat badannya adalah sebanyak 148.642
anak.
Cara Perhitungan:
Cakupan kegiatan program (output) yaitu:
Jumlah Kelompok masyarakat yang sudah diberikan pelayanan
kesehatan (Numerator)
Jumlah kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program
(Denominator)
Dengan konstanta yang digunakan adalah persentase (%)
Jumlah kelompok masyarakat dengan konstanta
Cakupan Kegiatan yang sudah diberikan pelayanan digunakan adalah
Program (Output)

kesehatan (numerator)

yaitu
Jumlah kelompok masyarakat
Yang menjadi sasaran program
denominator

persentase (%)

Cakupan balita yang memiliki KMS (K) :


= 425.946/553.775 X 100% = 76,92%
Cakupan balita yang ditimbang (D) :
= (279.371)/(553.775) X 100% = 50,45% dari 553.775 balita
Cakupan balita yang timbangannya naik (N) :
= 148.642/553.775 X 100% = 53,21% dari 279.371 balita yang ditimbang
Dan sebesar tercatat, 21.300 atau 7,62% balita dengan status Kurang Gizi (KG)
NDKS : 5,993 atau 2,14% balita dengan status Gizi Buruk (GB).
2.2 Pengolahan
Dalam pengolahan penghitungan N dan D harus benar. Misalnya seorang anak
setelah ditimbang mengalami kenaikan berat badan 0,1 kg,ketika data berat
tersebut dipindahkan ke KMS ternyata tidak naik mengikuti pita warna, pada
contoh ini anak tidak dikelompokkan sebagai balita yang mengalami kenaikan BB
(lihat buku pemantau pertumbuhan). Data SKDN dihitung dalam bentuk jumlah
misalnya S,K,D,N atau dalam bentuk proporsi N/D, D/S, K/S dan BMG/D untuk
masing-masing posyandu. Biasanya setelah melakukan kegiatan di Posyandu
atau di pospenimbangan petugas kesehatan dan kader Posyandu (petugas
sukarela) melakukan analisis SKDN. Analisinya terdiri dari:
Tingkat partisipasi Masyarakat dalam Penimbangan Balita Yaitu jumlah balita
yang ditimbang dibagi dengan jumlah balita yangada di wilayah kerja Posyandu
atau dengan menggunakan rumus (D/Sx 100%), hasilnya minimal harus
mencapai 80%, apabila dibawah 80% maka dikatakan partisipasi masyarakat
untuk kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan berat badan
sangatlah rendah. Hal ini akan berakibat pada balita tidak akan terpantau oleh
petugas kesehatan ataupun kader Posyandu akan memungkinkan balita ini tidak
diketahui pertumbuhan berat badannya atau pola pertumbuhan baerat
badannya.
Tingkat Liputan Program Yaitu jumlah balita yang mempunyai KMS dibagi dengan
jumlah seluruh balita yang ada diwilayah Posyandu atau dengan menggunakan
rumus (K/S x 100%). Hasil yang didapat harus 100%. Alasannya balitabalita
yang telah mempunyai KMS telah mempunyai alat instrument untuk memantau
berat badannya dan data pelayanan kesehatan lainnya. Apabila tidak digunakan

atau tidak dapat KMS makan pada dasarnya program POSYANDU tersebut
mempunyai liputan yang sangat rendah atau bisa juga dikatakan balita tersebut.
Khusus untuk Tingkat Kehilangan Kesempatan ini menggunakan rumus (S-K)/S x
100%), yaitu jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu dikurangi Jumlah balita
yang mempunyai KMS, hasilnya dibagi dengan jumlah balita yang ada diwilayah
Posyandu tersebut. Semakin tinggi Presentasi Kehilangan kesempatan, maka
semakin rendah kemauan orang tua balita untuk dapat memanfaatkan KMS.
Padahal KMS sangat baik untuk memantau pertumbuhan berat badan balita atau
juga pola pertumbuhan berat badan balita
Indikator lainnya2 adalah (N/D x 100%) yaitu jumlah balita yang naik berat
badannya dibandingkan dengan jumlah seluruh balita yang ditimbang.
Sebaiknya semua balita yang ditimbang harus mengalami peningkatan berat
badan.
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indicator Drop-Out, yaitu balita yang sudah
mempunyai KMS dan pernah datang menimbang berat badannya tetapi
kemudian tidak pernah datang lagi di Posyandu untuk selalu mendapatkan
pelayanan kesehatan. Rumusnya yaitu jumlah balita yang telah mendapatkan
KMS dikurangi dengan jumlah balitayang ditimbang, dan hasilnya dibagi dengan
balita yang mempunyai KMS ((K-D)/K x 100%).
Indikator lainnya dalam SKDN adalah indikator perbandingan antara jumlah
balita yang status gizinya berada di Bawah Garis Merah (BGM) dibagi dengan
banyaknya jumlah balita yang ditimbang pada bulan penimbangan (D).
Rumusnya adalah (BGM/D 100%)A.
2.3 Cara Penyajian
Komponen Output
Menurut Azrul Azwar, DR,dr, MPH, output merupakan hasil dari statu pekerjaan
administrasi, dalam ilmu kesehatan dikenal dengan nama pelayanan kesehatan
(health service). Kinerja output disini meliputi cakupan hasil program gizi di
Posyandu yang dapat dilihat dalam bentuk persentase cakupan yang berhasil
dicapai oleh suatu Posyandu. Adapun cakupan hasil program gizi di Posyandu
tersebut adalah sebagai berikut :
Cakupan Program (K/S)
Cakupan program (K/S) adalah Jumlah Balita yang memiliki Kartu Menuju Sehat
(KMS) dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu kemudian dikali

100%. Persentase K/S disini, menggambarkan berapa jumlah balita diwilayah


tersebut yang telah memiliki KMS atau berapa besar cakupan program di daerah
tersebut telah tercapai.
Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S)
Cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah Jumlah Balita yang ditimbang di
Posyandu dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah kerja Posyandu
kemudian dikali 100 %. Persentase D/S disini, menggambarkan berapa besar
jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Kelangsungan Penimbangan (D/K)
Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K) adalah Jumlah Balita yang ditimbang
di Posyandu dalam dibagi dengan jumlah balita yang telah memiliki KMS
kemudian dikali 100%. Persentase D/K disini, menggambarkan berapa besar
kelangsungan penimbangan di daerah tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D)
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) adalah : Rata rata jumlah Balita yang naik
berat badan (BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ditimbang di Posyandu
kemudian dikali 100%. Persentase N/D disini, menggambarkan berapa besar
hasil penimbangan didaerah tersebut yang telah tercapai.
Share this:

Twitter

Facebook8

1 Komentar
1.
riskanurfajriahsetiawan said,
April 5, 2012 pada 3:12 am

Semoga bermanfaat^^
Balas

Berikan Balasan

Pos-pos Terakhir

050412

catatan pertamaku

Hello world!

Arsip
April 2012

Kategori
Uncategorized

Meta

Mendaftar

Masuk log

RSS Entri

RSS Komentar

WordPress.com
Blog di WordPress.com. Tema Thirteen.
Ikuti

Ikuti riskanurfajriahsetiawan
Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Daftarkan saya

Buat situs dengan WordPress.com