Anda di halaman 1dari 13

Aspek Medikolegal dan Etika Kedokteran dalam Pembuatan Surat Rujukan

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan
Semakin berkembangnya jaman, teknologi dan sarana komunikasi dunia semakin maju,
hal tersebut mempengaruhi banyak hubungan sosial antara masyarakat begitu juga hubungan
dalam bidang medis atau kesehatan. Hal tersebut dapat di lihat dalam hubungan antara dokter
dan pasien. Hubungan antara dokter dan pasiennya dapat dimasukkan ke dalam golongan
kontrak. Suatu kontrak adalah pertemuan pikiran dari dua orang mengenai suatu hal. Pihak
pertama mengikatkan diri untuk memberikan pelayanan, sedangkan pihak kedua menerima
pemberian pelayanan tersebut. Pasien datang meminta kepada dokter untuk diberikan pelayanan
pengobatan sedangkan dokter menerima untuk memberikannya.
Sudah menjadi salah satu kewajiban dokter untuk memberikan pelayanan terbaik untuk
pasien dan juga untuk membantu pasien dalam hal medis jika membutuhkannya. Pada kasus,
didapatkan seorang laki-laki yaitu pasien lama meminta tolong dokter untuk membuatkan surat
rujukan atau surat pengantar berobat ke jepang untuk kakaknya dengan alasan menderita
penyakit jantung yang sudah lama diderita, penyakit lever dan penyakit pada lutut kanannya
(osteochondritis genu) sehingga mengalami hambatan berjalan. Kakak kandungnya saat ini
sedang diperiksa oleh kejaksaan karena di duga telah melakukan tindak pidana korupsi, dengan
status tahanan. Seorang laki-laki ini dating meminta surat rujukan hanya dengan membawa datadata medik dari kakaknya.
Surat rujukan merupakan surat pengantar tenaga medis dalam hal ini ditujukan kepada
dokter maupun dokter gigi secara tertulis yang bertujuan sebagai advice (petunjuk pengobatan)
maupun pengobatan secara lebih lanjut kepada tenaga medis yang lebih berkompeten dalam
bidangnya. Pada hal ini seorang dokter harus tetap melakukan pemeriksaan terlebih dahulu
terhadap pasien sebelum memberikan surat rujukan. Hal ini bersangkutan dengan hukum yang
akan di bahas pada tinjauan pustaka ini.
Aspek Hukum
1

Jika dokter menyetujui pembuatan surat rujukan tanpa adanya bukti serta hasil
pemeriksaan yang jelas kemungkinan besar dapat di tuntut secara hukum, hal tentang penahanan
diatur dalam KUHAP. Menurut KUHAP yang dimaksud dengan penahanan dijelaskan dalam
Pasal 1 butir 21: Penahanan adalah penempatan Tersangka atau Terdakwa ditempat tertentu oleh
Penyidik atau Penuntut Umum atau Hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara
yang diatur dalam Undang-Undang ini. 1
Dari pengertian tersebut diatas jelas dinyatakan bahwa penahanan merupakan
penempatan Tersangka atau Terdakwa disuatu tempat tertentu dan hanya boleh dilakukan oleh
Penyidik,Penuntut Umum, Hakim dengan suatu penetapan dalam hal serta dengan tata cara yang
diatur dalam Pasal lain dalam KUHAP.
Prosedur Medikolegal
Prosedur medikolegal pada kasus ini menyangkut dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP), yaitu: 2
Pasal 267 KUHAP
(1) Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang ada atau
tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.
(2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukan seseorang ke dalam rumah
sakit jiwa atau untuk menahannya disitu, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan
tahun enam bulan.
(3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat
keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.
Etika Profesi Kedokteran
Pada dasarnya suatu profesi memiliki 3 syarat utama, yaitu: diperoleh melalui pelatihan
yang ekstensif, memiliki komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan
memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat. Selain itu juga memiliki 3 syarat
umum, yaitu: sertifikasi, organisasi profesi, otonomi dalam bekerja. Pemebrian sertifikasi,
organisasi profesi, otonomi dalam bekerja. Pemberian sertifikasi dilakukan tidak sekali untuk
selamanya, melainkan harus selalu memperoleh validasi melalui profiency check. Otonomi
mengakibatkan kelompok profesi ini menjadi ekslusif dan memerlukan self regulation dalam
2

rangka menjaga tanggung jawab moral dan tanggung jawab profesinya kepada masyarakat.
Mereka umumnya memiliki etika profesi dan standar profesi serta berbagai tatanan yang
menunjang adanya upaya self regulation tersebut.3
Di dalam sehari-hari kita mengenal 2 jenis profesi, yaitu prfesi konsultan dan profesi
scholar. Pada jenis prfesi konsultan terdapat hubungan individual antara prfesional dengan klien
dan biasanya melakukan transaksi fee-for-service, sedangkan pada profesi scholar biasanya
memiliki klien banyak pada satu waktu dan bekerja berdasarkan gaji dan honor. Kedua jenis
profesi tersebut meliki tanggung jawab yang khas yaitu tanggung jawab profesi.
Etika Kedokteran
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap
dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik buruk
dan benar salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak
jumlahnya. Terdapat 2 teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontology dan
teleology. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa deontology mengajarkan bahwa baik buruknya
suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri, sedangkan teleology mengajarkan
untuk menilai baik buruk tindakan dengan melihat hasilnya atau akibatnya. Deontologi lebih
mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teleology lebih kearah
penalaran dan pembenaran kepada azas manfaat. 3,4
Beauchamp dan Childress menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik
diperlukan 4 kaidah dasar moral dan beberapa rules di bawahnya. Ke 4 kaidah dasar moral
tersebut adalah :
1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak
otonomi pasien. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed
consent.
2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke
kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja,
melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya lebih besar daripada sisi buruknya.
3. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk
keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere
3

4. atau above all do no harm.


5. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam
bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya.
Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka), privacy
(menghormatihak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasian pasien), dan fidelity
(loyalitas dan promise keeping). Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus
dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis, professional kedokteran juga mengenal
etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku.
Hubungan Dokter-Pasien
Hubungan antara dokter dan pasiennya secara yuridis dapat dimasukkan ke dalam
golongan kontrak. Suatu kontrak adalah pertemuan pikiran dari dua orang mengenai suatu hal.
Pihak pertama mengikatkan diri untuk memberikan pelayanan, sedangkan pihak kedua menerima
pemberian pelayanan tersebut. Pasien dating meminta kepada dokter untuk diberikan pelayanan
pengobatan sedang sang dokter menerima untuk memberikannya.4
Dengan demikian maka sifat hubungannya mempunyai dua ciri :
1) Adanya suatu persetujuan, atas dasar saling menyetujui dari pihak dokter dan pasien
tentang pemberian pelayanan pengobatan.
2) Adanya suatu kepercayaan, karena hubungan kontrak tersebut berdasarkan saling percaya
mempercayai satu sama lain.
Karena bersifat hubungan kontrak antara dokter dan pasien, maka harus dipenuhi persyaratan :4
1) Harus adanya persetujuan dari pihak-pihak yang berkontrak
Persetujuan itu berwujud dalam petemuan dari penawaran dan penerimaan pemberian
pelayanan tersebut yang merupakan penyebab terjadinya suatu kontrak. Persetujuannya
adalah antara dokter dan pasien tentang sifat pemberian pelayanan pengobatan yang
ditawarkan sang dokter dan yang telah diterima baik oleh pasiennya. Dengan demikian
maka persetujuan antara masing-masing pihak haruslah bersifat sukarela.
Persetujuan yang diperoleh berdasarkan kesalahan, tekanan atau kekerasan, ditakuttakuti, pengaruh tekanan yang tak wajar, atau penipuan, akan membuat kontrak itu bisa
dibatalkan menurut hukum.
2) Harus ada suatu obyek yang merupakan substansi dari kontrak.

Obyek atau substansi kontrak dari hubungan dokter pasien adalah pemberian pelayanan
pengobatan yang dikehendaki pasien dan diberikan kepadanya oleh sang dokter. Obyek
dari kontrak harus dapat dipastikan, legal, dan tidak di luar profesinya.
3) Harus ada suatu sebab atau pertimbangan.
Sebab atau pertimbangan itu adalah factor yang menggerakkan sang dokter untuk
memberikan pelayanan pengobatan kepada pasiennya. Bisa dengan pemberian imbalan
atau bisa juga sekedar untuk menolong atau atas dasar kemurahhatian sang dokter.
Pembayaran untuk pemberian pelayanan pengobatan sudah dianggap tersirat dan
diketahui oleh pasien, kecuali diwajibkan oleh hukum, atau dianggap untuk amal atau
menolong sesamanya. Apabila sang pasien ternyata tidak mampu untuk membayar, tidak
akan mempengaruhi adanya kontrak atau mengurangi tanggung jawab sang dokter
terhadap tuntutan kelalaian.
Bentuk Hubungan Kontrak Dokter-Pasien
Terdapat beberapa bentuk hubungan, yaitu :4
1. Kontrak yang nyata
Dalam bentuk ini sifat atau luas jangkauan pemberian pelayanan pengobatan sudah
ditawarkan oleh sang dokter yang dilakukan secara nyata dan jelas, baik secara
tertulis maupun secara lisan.
2. Kontrak yang tersirat
Dalam bentuk ini adanya kontrak disimpulkan dari tindakan-tindakan para pihak.
Timbulnya bukan karena adanya persetujuan, tetapi dianggap ada oleh hukum
berdasarkan akal sehat dan keadilan. Maka jika seorang pasien dating ke suatu klinik
medis dan sang dokter mengambil riwayat penyakitnya, memeriksa keadaan fisik
pasien dan memberikan pengobatan yang diperlukan, maka dianggap tersirat sudah
ada hubungan kontrak antara pasien dan dokter.
Fitness to be detained
Terdakwa harus memenuhi kriteria, salah satunya adalah kelayakan/ukuran kemampuan
seseorang secara medis untuk menjalani penahanan yang disebut fitness to be detained.
Penahanan menurut KUHAP hanya dapat dikenakan terhadap Tersangka atau Terdakwa yang
melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana
tersebut dalam hal (Pasal 21 ayat (4) KUHAP):5,6
5

a) Tindak pidana itu diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.
b) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal-Pasal tertentu dalam KUHP, seperti
Pasal 282, Pasal 296, Pasal 335 ayat (1), Pasal 372, Pasal 378 dll.
Dalam hal penahanan baik Penyidik, Penuntut Umum, dan Hakim berwenang dan
memiliki kepentingan masing-masing dalam melakukan penahanan terhadap Tersangka atau
Terdakwa. Penyidik melakukan penahanan untuk kepentingan Penyidikan, Penuntut Umum
untuk kepentingan penuntutan sedangkan Hakim untuk kepentingan pemeriksaan . Dalam
Hukum Acara Pidana di Indonesia dikenal 3 (tiga) jenis penahanan yang dapat dikenakan
terhadap seorang Tersangka atau Terdakwa (Pasal 22 ayat (1) KUHAP), yaitu:
1. Penahanan rumah tahanan negara (Rutan) artinya Tersangka atau Terdakwa ditempatkan
didalam fasilitas negara yaitu rumah tahanan negara.
2. Penahanan rumah dilaksanakan di rumah tinggal atau rumah kediaman Tersangka atau
Terdakwa dengan mengadakan pengawasan terdahapnya untuk menghindarkan segala
sesuatu yang dapat menimbukkan kesulitandalam Penyidikan, penuntutan atau
pemeriksaan di sidang pengadilan. (Pasal 22 ayat (2) KUHAP).
3. Penahanan Kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman Tersangka
atau Terdakwa, dengan kewajiban bagi Tersangka atau Terdakwa melapor diri pada waktu
yang ditentukan (Pasal 22 ayat (3) KUHAP).
Dikecualikan dari jangka waktu penahanan sebagaimana tersebut dalam Pasal tersebut
dalam Pasal 24, Pasal 25, Pasal 27, Pasal 28, guna kepentingan pemeriksaan, penahanan terhadap
Tersangka atau Terdakwa dapat diperpanjang berdasar alasan yang patut dan tidak dapat
dihindarkan karena (Pasal 29 ayat (1) KUHAP):
a) Tersangka atau Terdakwa menderita gangguan fisik atau mental yang berat, yang
dibuktikan dengan surat dokter, atau
b) perkara yang sedang diperiksa diancam dengan pidana penjara sembilan tahun atau lebih
Perpanjangan tersebut diberikan untuk paling lama 30 hari dan dalam hal penahanan tersebut
masih diperlukan dapat diperpanjang lagi untuk paling lama 30 hari (Pasal 29 ayat (2) KUHAP).
Fitness to stand trial
Kapasitas yang harus dimiliki seseorang untuk dapat dikatakan kompeten memberikan
kesaksian di pengadilan adalah mampu mengamati, mengingat dan berkomunikasi tentang
peristiwa yang dipertanyakan, serta memahami sifat dan dampak dari sumpah yang
6

diucapkannya (be capable of observing, remembering, and communicating about events in


question, understand the nature of an oath).5
Kompetensi yang lebih tinggi kualitasnya harus dimiliki oleh seseorang yang akan
diinterogasi sebagai tersangka (competence to be interviewed, competence to be detained)
ataupun diperiksa di sidang pengadilan sebagai terdakwa (competence to stand trial). Perasaan
moral masyarakat menyatakan bahwa individu yang tidak dapat memahami sifat dan obyektif
persidangan yang melawannya, tidak mampu berkonsultasi dengan penasehat hukumnya dan
tidak mampu membantu persiapan pembelaan atas dirinya, dianggap tidak layak untuk diadili.7
Di dalam jurisprudensi kasus Dusky vs US (1960) dikatakan bahwa test (untuk menguji
kompetensi untuk diajukan ke pengadilan) harus dapat menentukan apakah ia saat ini memiliki
kemampuan yang memadai untuk berkonsultasi dengan penasehat hukumnya dengan tingkat
penalaran yang memadai dan pemahaman yang memadai tentang fakta dalam persidangan
tersebut. Dalam praktek, Chiswyck (1990) merumuskan kapasitas yang harus dimiliki adalah
sebagaimana dikutip oleh Zapata sewaktu mengomentari pemeriksaan atas Pinochet, yaitu : (1)
memberi instruksi kepada penasehat hukum, (2) melakukan pembelaan atas tuduhan, (3)
menantang keberadaan seseorang anggota juri tertentu, dan (4) memahami bukti-bukti yang
diajukan ke pengadilan.
Penentuan kompetensi biasanya melalui tiga tahap prosedur, dimulai dengan tahap
pencetus. Baik jaksa penuntut umum maupun pembela, ataupun hakim dapat mencetuskan
persoalan kompetensi terdakwa. Akibatnya, begitu isu kompetensi diajukan di pengadilan, maka
siapa pun tidak diperbolehkan mengabaikannya ditinjau dari prinsip fair-trial.5

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik jantung
1. Inspeksi jantung
Inspeksi jantung bertujuan untuk menemukan tanda-tanda atau kelainan kondisi jantung
melalui pengamatan pada permukaan dada. Pemeriksaan awal ini biasanya melibatkan
empat elemen, yakni:

Bentuk prekordium. Pada orang sehat, bentuk kedua belah dada seharusnya
simetris. Perubahan bentuk, seperti cekung dan gembung menunjukkan adanya

kelainan.
Denyut apeks jantung, atau ictus cordis normal hanya berbentuk tonjolan kecil.

Jika terjadi pembesaran atau perluasan, berarti ada indikasi terjadinya kelainan.
Denyut nadi pada dada. Denyut nadi yang menunjukkan gerakan naik-turun
biasanya menunjukkan adanya pemberasan ventrike; kanan, sedangkan denyutan

di bagian atas menunjukkan adanya kelainan aorta.


Denyut vena pada dada dan punggung normalnya tidak terlihat. Jika denyutan
terlihat, menunjukkan adanya kelainan.7

2. Palpasi
Cara pemeriksaan fisik jantung yang kedua ini dilakukan untuk memperkuat hasil temuan
inspeksi fisik. Dalam istilah awam, palpasi berarti meraba; tenaga medis melakukan
palpasi menggunakan telapak tangan atau ujung jari untuk melakukan pemeriksaan pada
ictus kordis, getaran, maupun gerakan trakea. Sebagai contoh, pada keadaan normal, ictus
kordis biasanya bisa dipalpasi, namun pada penderita gangguan jantung, ictus kordis
mungkin tidak teraba atau teraba dengan sangat kuat.7
3. Perkusi
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menetapkan batas normal jantung, biasanya
dikelompokkan menjadi batas kiri dan batas kanan jantung. Pada kondisi tertentu, batas
jantung meluas ke kanan atau ke kiri atau mengecil akibat adanya tekanan. Hal ini
menunjukkan adanya gangguan. Sebagai contoh, pada penderita emfisema, batas kanan
jantung cenderung mengecil, sedangkan pada penderita neurisma aorta, daerah jantung
meluas ke kanan.7
4. Auskultasi
Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan stetoskop duplex. Alat ini berfungsi untuk
mendengarkan bunyi dengan nada rendah pada detak jantung. Bunyi yang terdeteksi
dikelompokkan menjadi 3, yakni Bunyi Jantung I, II, dan bising. Pada penderita
gangguan jantung, seperti penderita obesitas, bunyi jantung mungkin terdengar melemah.
Demikian juga dengan adanya deteksi bising patologis, yang mungkin terjadi akibat
pembesaran bilik jantung.7
Pemeriksaan fisik liver
1. Inspeksi
8

Pemeriksaan hati dimulai dari sisi kanan pasien. Pasien berbaring terlentang. Perhatikan
bentuk perut Normal : simetris
Abnormal :

Membesar dan melebar ascites


Membesar dan tegang berisi udara ( ilius )
Membesar dan tegang daerah suprapubik retensi urine
Membesar asimetris tumor, pembesaran organ dalam perut
Perhatikan umbilicus, adanya tanda radang dan hernia atau tidak.
Dan lihatlah kulit pasien untuk tanda-tanda penyakit hati, seperti :7
Palmar eritema
Kemerahan pada telapak tangan, terutama pada pangkal ibu jari dan jari kelingking
disebut eritema palmaris. Hal ini sering dikaitkan dengan gagal hati kronis, dan

karenanya juga disebut telapak hati. Meskipun bukan merupakan tanda khas.
Xanthomatosis
Hal ini ditandai dengan akumulasi lipid berbentuk kecil, berwarna kuning, benjolan datar
yang disebut xanthomas, di bawah kulit. Benjolan tersebut diamati terutama pada jarijari, siku, lutut dan sendi lainnya, serta pada tangan dan kaki. Hal ini dapat terjadi dalam

kasus metabolisme lipid yang berubah karena kerusakan hati.


Caput medusa
Portal hipertensi menyebabkan pelebaran pembuluh darah paraumbilikalis yang hadir di
dekat pusar. Akibatnya, pembuluh darah, yang dinyatakan nyaris tak terlihat melalui
permukaan kulit, menjadi sangat menonjol dan terlihat membesar dan membengkak.
Mereka muncul seperti struktur tubular biru memancar dari pusar, dalam pola yang

menyerupai ular Medusa. Oleh karena itu namanya caput medusa (kepala Medusa).
Spider Nevi
Spider angioma, pembuluh darah laba-laba atau spider nevus ditandai dengan pelebaran
pembuluh darah dekat permukaan kulit. Tampaknya seperti lesi dengan titik merah pusat,
dan memancar ekstensi merah yang menyerupai jaring laba-laba. Hal ini sering diamati
pada leher, wajah, lengan dan bagian atas badan. Kehadiran lebih dari lima spider nevi

dianggap menjadi tanda gagal hati.


Ascites
Hal ini mengacu pada penumpukan cairan dalam rongga peritoneal, dan merupakan hasil
dari tekanan darah rendah albumin dan meningkat pada pembuluh darah dari hati
(hipertensi portal). Tahap awal penumpukan cairan mungkin asimtomatik, tetapi sebagai
akumulasi bertambah satu mungkin mengalami kembung dan sakit perut. Penumpukan
yang berlebihan menyebabkan distensi perut dan sesak napas.
9

2. Palpasi
- Posisi pasien tidur terlentang.
- Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien.
- Pemeriksa meletakkan tangan kiri dibawah torak/ dada kanan posterior pasien
-

pada iga kesebelas dan keduabelas dan kemudian ditekanan kearah atas.
Telapak tangan kanan diletakkan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke atas /
superior pasien dan diekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis

klavikular di bawah batas bawah hati.


Kemudian ditekan dengan lembut ke dalam dan ke atas.7

3. Perkusi
Hati apabila dilakukan perkusi akan menimbulkan suara yang pekak. Hal ini
dikarenakan karena konsitensi hepar yg keras. Untuk batas kanan hati, Perkusi dilakukan
pada linea midclavicula dextra. Untuk batas atas kanan atas hati dilakukan perkusi dari
os. Clavicula ke caudal sehingga akan memunculkan suara sonor (pada paru) hingga
didapatkan suara pekak (oleh hepar). Sedangkan batas bawah hati, perkusi dilakukan
pada SIAS ke cranial sehingga akan didapatkan suara timpani (pada abdomen) hingga di
dapatkan suara pekak (oleh hepar). Lalu kita ukur, ukuran dari hati pasien dari batas
kanan atas hati sampai batas kanan bawah hepar tadi. Normalnya liver span (jarak redup
oleh karena adanya hati) berkisar 6-12 cm. Dapat dikatakan terjadi hepatomegali
(perbesaran hepar) bila batas atas didapatkan naik 1 ICS (pada ICS V) dan batas bawah
turun >2cm di bawah arcus costae atau jarak redup >12cm.
Sedangkan untuk batas kiri hati dilakukan pada linea midsternalis. Untuk batas
kiri atas hati bisa ditarik garis langsung dari batas kanan atas hati tadi ke medial. Untuk
batas kiri bawah hati, dapat dilakukan perkusi dari umbilicus ke cranial, akan didapatkan
suara timpani pada abdomen dan pekak oleh karena adanya hati. Batas normal liver span
pada lobus kiri hepar yaitu sekitar 4-8cm. Dapat dikatakan terjadi hepatomegali bila
didapatkan batas kiri bawah hepar >2cm dibawah processus xiphoideus atau liver span
>8cm.7
4. Auskultasi
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan hati, seperti inspeksi, palpasi perkusi
selanjutnya adalah auskultasi. Mendengarkan jika adanya bruit hati atau vena
berdengung.7
10

Untuk pemeriksaan penunjang jantung dapat di lakukan pemeriksaan EKG, Pemeriksaan


ektrokardiogram (EKG) adalah pemeriksaan kesehatan terhadap aktivitas elektrik (listrik)
jantung. Elektrokardiogram adalah rekaman aktivitas elektrik jantung sebagai grafik jejak garis
pada kertas grafik. Untuk pemeriksaan osteocondritis genu dan liver dapat dilakukan
pemeriksaan foto rontgen dan juga jika diperlukan dapat dilakukan ct scan.

Pemeriksaan laboratorium
Darah lengkap
Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis
pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk melihat
bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit. Disamping itu juga pemeriksaan ini sering
dilakukan untuk melihat kemajuan atau respon terapi pada pasien yang menderita suatu penyakit
infeksi.8 Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu:
1.

Hemoglobin

2.

Hematokrit

3.

Leukosit (White Blood Cell / WBC)

4.

Trombosit (platelet)

5.

Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)

6.

Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)

7.

Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)

8.

Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)

9.

Platelet Disribution Width (PDW)

10.

Red Cell Distribution Width (RDW)


Pemeriksaan Darah Lengkap biasanya disarankan kepada setiap pasien yang datang ke

suatu Rumah Sakit yang disertai dengan suatu gejala klinis, dan jika didapatkan hasil yang diluar
nilai normal biasanya dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik terhadap gangguan

11

tersebut, sehingga diagnosa dan terapi yang tepat bisa segera dilakukan. Lamanya waktu yang
dibutuhkan suatu laboratorium untuk melakukan pemeriksaan ini berkisar maksimal 2 jam.
Pemeriksaan enzim hati
Tes fungsi hati yang umum adalah AST (aspartate transaminase), yang di Indonesia lebih
sering disebut sebagai SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase), dan ALT (alanine
transaminase) yang biasanya di Indonesia disebut sebagai SGPT (serum glutamic-pyruvic
transaminase). SGOT dan SGPT akan menunjukkan jika terjadi kerusakan atau radang pada
jaringan hati. SGPT lebih spesifik terhadap kerusakan hati dibanding SGOT. Adalah hal yang
biasa bila terjadi sedikit peningkatan (hingga dua kali angka normal) kadar SGOT dan SGPT.
Namun, kadar SGOT dan SGPT lebih dari dua kali angka normal, umumnya dianggap bermakna
dan membutuhkan pemeriksaan lebih jauh.8
Kesimpulan
Pada kasus ini yang dapat dilakukan seorang dokter adalah untuk tetap menjaga rahasia
kedokteran yaitu dokter harus menjelaskan kepada pasien bahwa harus membawa kakak
kandungnya untuk diperiksa lebih lanjut tentang penyakitnya. Selain itu, dokter juga dapat
meminta keterangan jelas darimana rekam medik di dapat, jika memang benar pasien dapat
meminta surat rujukan dari dokter yang membuat rekam medik tersebut. Surat-surat tersebut
tidak bisa digunakan untuk keluar dari tahanan, karena yang berwenang mengeluarkan surat
tersebut yaitu dokter forensik dan dokter dari kejaksaan.

Daftar Pustaka
1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Pustaka Dwipar; Jakarta: 2007. h. 8-12,30-32,535,62-7,77-9
2. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Kompilasi peraturan
perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Jakarta: FKUI;2014.h.17-31
3. Samil, Suprapti R. Etika kedokteran indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2001
12

4. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia Ikatan Dokter Indonesia. dikti.go.id.


2006. Diunduh 6 Januari 2016.
5. Ciccone JR. Competence to stand trial: efforts to clarify the concept and improve clinical
evaluations of criminal defendants. Current Opinion in Psychiatry 1999, 12: 647-651.
6. Budiyanto arif, Widiatmaka Wibisana,dkk. Peraturan Perundang-Undangan Bidang
Kedokteran edisi 2. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia;1994 h 20-36
7. W Wilkins. Adams diagnosis fisik. Edisi 17. Jakarta: EGC; 2005.h.213-48
8. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga;2006.h.393

13