Anda di halaman 1dari 7

Aktivator

Aktivator kombinasi Headgear


Merupakan suatu alat yang prinsip kerjanya gabungan dari teknik aktivator dengan headgear.
Penggunaannya akan lebih efektif, karena selain waktu perawatannya menjadi lebih singkat, efek
yang tidak diharapkan bila hanya menggunakan salah satu alat dapat dikurangi. Pengaruhnya
pada maksila yaitu menghambat pertumbuhan maksila, sedangkan pada mandibula yaitu
merangsang pertumbuhan mandibula. Alat Aktivator-Headgear juga dapat mengatur erupsi gigi,
sehingga dapat memperbaiki hubungan rahang dalam arah vertikal
3.4.1 Kombinasi dari Teuscher
Aktivator yang telah dilengkapi dengan tube untuk memasang Headgear. Headgear yang
digunakan dari jenis high-pull headgear. Penentuan posisi vektor daya headgear merupakan
faktor terpenting dari seluruh perawatan. Konstruksi gigitan untuk aktivasi sagital mandibula
tidak melebihi 6 mm, sedangkan ketinggiannya sedikit lebih besar dari freeway space.Hasil
perawatan pada maksila adalah menghambat pertumbuhan maksila serta mengontrol
pertumbuhan tulang alveolar dan gigi geligi, sedangkan pada mandibula adalah mengontrol
tinggi muka bawah dan merangsang pertumbuhan kondilus dan fossa glenoid, sehingga
menyebabkan pergerakan mandibula
3.4.2 Kombinasi dari Van Beek Aktivator yang telah dilengkapi dua buah lengan kawat luar
untuk memasang headgear. Untuk menentukan posisi vektor daya headgear dengan cara
mengaktivasi lengan kawat luar tersebut.Konstruksi gigitan untuk aktivasi sagital mandibula
tidak melebihi 6 mm, sedangkan ketinggiannya 5-8 mm, lebih tinggi bila dibandingkan aktivator
umumnya.Hasil perawatan yaitu perbaikan overjet dan perbaikan overbite
3.4.3 Kombinasi dari Lehman
Terdiri dari pelat akrilik maksila, pelat mandibula dan dua lengkung kawat luar untuk memasang
headgear.Untuk menentukan posisi daya headgear dengan mengaktivasi lengkung kawat luar.
Untuk memaksa mandibula bergerak ke anterior dengan cara mengaktifkan per berbentuk S. Per
berbentuk S ini menghubungkan pelat maksila dengan pelat mandibula.Hasil perawatan adalah
mengurangi overbite, overjetdan kecembungan muka serta pergerakan mandibula ke anterior dan
menambah sudut SNB.
3.4.4 Kombinasi Open Aktivator-Headgear
Prinsip kerjanya sama seperti aktivator pada umumnya, hanya pada disain alat pelat akrilik tidak
diperluas sampai ke anterior, sehingga lebih mempermudah pasien untuk berbicara selama
pemakaian alat ini.

1.1

Bionator
Bionator merupakan salah satu alat fungsional lepasan yang dikembangkan oleh Wilhelm
Balters (1950-an). Bionator adalah sebuah alat orthodontic lepasan yang didesain untuk
mengkoreksi fungsi dan perbedaan skeletal anteroposterior antara maksilla dan mandibula.
Menurut Graber & Neuman (1984), terdapat dua konsep dasar Balters tentang bionator, yaitu :

1.

Bionator, tidak setebal aktivator. Tidak ada bagian yang menutupi palatum anterior, dan tidak
menutupi lidah sehingga pasien dapat bicara normal walupun alat ada di dalam mulut. Bionator
dipakai siang dan malam hari kecuali waktu makan, sehingga dapat digunakan selama
beraktivitas.

2. Bagian yang penting dari konsep Balters adalah lidah. Keseimbangan antara lidah dan pipi, serta
antara lidah dan bibir harus memberikan ruang yang cukup bagi lidah untuk berfungsi, sehingga
lidah dapat menjaga keseimbangan alami lengkung gigi dan hubungan satu sama lain.
Perawatan dengan bionator bertujuan untuk memperbaiki hubungan bibir dan gigi-gigi,
membawa lidah berkontak dengan palatum, membawa gigi insisif ke dalam hubungan yang
normal, memperbesar rongga mulut dan memperbaiki posisi lidah dengan mengubah posisi
mandibula, serta memperbaiki hubungan rahang. (Graber,dkk.,1997).
Selain itu juga, tujuan penggunaan bionator dapat digunakan untuk membentuk
koordinasi otot yang baik dan menghilangkan potensi yang dapat merusak bentuk pembatasan
pertumbuhan, sementara pembongkaran kondilus melalui posisi mandibula protusive. Gigi seri
atas dan bawah biasanya berada dalam kontak selama pakai.

1.2

Indikasi dan Kontraindikasi Penggunaan Bionator


Indikasi penggunaan bionator adalah pada penderita maloklusi kelas II dengan tinggi
muka bagian bawah sangat pendek. Pada kasus dengan tinggi muka yang besar, bionator ini
dapat juga digunakan untuk mencegah bertambahnya erupsi gigi posterior dengan menggunakan
akrilik interoklusal. (Graber dan Neuman, 1984)
Menurut Rakosi dkk (1993), maloklusi kelas II divisi 1 pada periode gigi bercampur
merupakan indikasi yang tepat untuk menggunakan bionator dengan beberapa kondisi, yaitu
lengkung gigi baik, tidak ada crowding, mandibula retruded, kelainan skeletal tidak terlalu parah
dan gigi-gigi insisif atas tiping ke labial.
Kontraindikasi penggunaan bionator
Hubungan kelas II yang disebabkan maksila protruded, ada pola pertumbuhan vertikal
dan insisif bawah tiping ke labial. Perawatan akan berhasil baik apabila ada deepbite yang
disebabkan oleh infraoklusi gigi-gigi molar dan premolar, terutama karena posisi lidah ke lateral,
sebaliknya tidak akan berhasil apabila deepbite disebabkan supraklusi gigi-gigi insisif. (Graber
dan Neuman, 1984). Selain itu menurut Graber dan Neuman kontraindikasi penggunaan bionator
ialah pada kasus gigi berjejal. Maloklusi dengan gigi berjejal dan pergeseran midline maka
posisi gigi yang demikian merupakan kontraindikasi penggunaan bionator karena memerlukan
pencabutan dan pergeseran gigi geligi.

1.3

Prinsip Kerja Bionator


1. Untuk maloklusi klass II
G i g i i n c i s i v u s m a k s i l a a k a n d i r e t r a k s i , m a k a l a b i a l b o w h a r u s d a l a m keadaa
n aktif. Pada beberapa kasus dengan modifikasi labial bow bawah dimana gigi
insisivus mandibula akan diprotraksi, maka labial bow harus dalam keadaan pasif.

G i g i p o s t e r i o r m a k s i l a a k a n d i g e s e r k e d i s t a l d a n d i c e g a h a g a r t i d a k berger
ak ke mesial yaitu dengan mengasah lempeng akrilik pesawat secara b e n a r ,
s e h i n g g a j a l u r e r u p s i g i g i p o s t e r i o r k e a r a h d i s t a l . P e n g a s a h a n dilakukan
pada daerah distal gigi, sedangkan pada bagian mesial tetapmenyentuh
gigi. Sebaiknya gigi geligi mandibula jalur erupsinya ke arahmesial maka lempeng
akrilik menyentuh bagian distal dan bebas di daerah mesial.

2. Unt u k m a l o k l u s i k l a s s I I I
Bagian akrilik dari alat Kelas III adalah sama dengan jenis standar. Sebuah plat mandibula
dan dua bagian rahang lateral yang membentang dari premolar pertama ke premolar pertama
yang bergabung bersama-sama, membuka gigitan hanya cukup untuk memungkinkan gigi seri
atas untuk bergerak kearah labial dari gigi seri bawah. Pembukaan gigitan ini harus memberikan
ruang kurang dari 2 mm antara tepi gigi seri rahang atas dan mandibular. Dengan ruang tertutup,
menuju lidah, dengan perpanjangan plat dari bagian rahang bawah dari kaninus ke kaninus. Tepi
gigi seri atas melampaui batas atas akrilik sekitar 2mm. Dengan cara ini, gigi seri rahang atas
diposisikan langsung di depan penghalang akrilik, agar tidak mengerahkan segala bentuk
tekanan, dengan jarak sekitar 1mm dari ketebalan akrilik yang akan dihilangkan dari belakang
gigi seri rahang bawah. Hambatan ini menghalangi setiap gerakan maju dari lidah menuju ruang
depan. Tujuannya adalah untuk mengajarkan lidah agar mendapat rangsangan proprioseptif
untuk tetap ditarik dan tepat di ruang fungsionalnya. Serta menghubungkan bagian anterior yang
tidak tercakup langit-langit mulut, untuk merangsang komponen pertumbuhan ke sekitar di
daerah depan.

3. Untuk maloklusi dengan open bite


Open bite appliance diakui dalam sebagian besar kasus baik di lidah biasanya
menyebabkan atau membuat infraocclusion pada gigi insisivus maksila dan mandibula, yang
memungkinkan terjadinya over eruption di bagian bukal. Dalam kasus biasanya ditandai dengan
adanya interocclusal sedikit atau tidak ada yang disebabkan karena fungsi lidah yang abnormal.
Ini penting untuk mencegah lidah masuk ke aperture. Untuk tujuan penggunaan alat dalam kasus
ini, maka bagian rahang atas dari akrilik anterior, yang berlawanan dengan jenis hanya
menjelaskan dimana akrilik dibatasi untuk kontak dengan gigi bukal saja. Dimana bagian
anterior tidak bersentuhan dengan gigi atau tulang alveolar, karena tidak boleh mengganggu
perubahan pertumbuhan yang diharapkan. Sebagaimana dengan tampilan vestibular,
diharapkan bahwa respon dari perawatan tidak hanya akan meningkatkan oklusi pada gigi tetapi
juga akan mengubah bagian alveolar yang berdekatan. Bagian akrilik di mandibula
dan maksila bergabung dengan slight bite block. dengan open bite appliance, bite block oklusal
kecil digunakan untuk stabilisasi dan memiliki lekukan pada gigi di permukaan. Tujuan
dari lateral bite block adalah untuk mencegah gigi posterior erupsi, saat dimana gigi
anterior yang ditujukan untuk erupsi dengan bebas. Ini harus membentuk kembali pembukaan
interocclusal dan dimensi vertikal postural yang berhubungan dengan dimensi vertical oklusal.
Block jangan terlalu tebal untuk mencegah lip seal.

1.4

Jenis Jenis Bionator


Bionator memiliki beberapa jenis diantaranya yaitu:
1. Open bite (bionator untuk membuka gigitan) memudahkan terjadinya pergerakan
secara vertikal gigi-geligi posterior dan tetap mempertahankan posisi gigi-geligi anterior
2. Close bite (bionator untuk menutup gigitan) posterior bite block
3. Maintain bite (bionator untuk mempertahankan gigitan) mereposisi mandibula
kedepan dengan tetap mempertahankan dimensi vertikal yang telah ada.

Pesawat Frankel
Pesawat fungsional Frankel, kadang disebut juga dengan pesawat Frankel ditemukan
pertama kali oleh Dr. Rolf Frankel dari Zwickau, Jerman Timur tahun 1966 sebagai alternatif
pesawat aktivator. Pesawat ini menggunakan prinsip gabungan dari pesawat Andersen
maupun oral screen.
Prinsip dasar kerja pesawat ini adalah rahang dan prosesus dento-alveolar kemungkinan
akan mengalami deposisi tulang dan resorpsi selama periode pertumbuhan. Selain itu, jumlah
dan arah deposisi tulang tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan tekanan rahang dan
prosesus alveolar karena postur dan aktivitas lidah, bibir, dan pipi. Oleh karena itu, korektor
berfungsi untuk memodifikasi posisi jaringan lunak dan aktivitasnya sehingga mempengaruhi
jumlah dan arah deposisi tulang yang terjadi pada kompleks dento-alveolar.
Pesawat Frankel bisa mengaplikasikan tekanan pada gigi-geligi dan otot-otot mastikasi.
Pesawat ini bekerja dalam tiga cara berlainan, yaitu:
1. Posisi postural ke depan mendorong terjadinya pertumbuhan pada kondilus mandibula
dan sendi temoporomandibular.

2. Bantalan vestibular, dengan aksinya yaitu mencegah tekanan otot yang merugikan pada
gigi-geligi, akan mendorong terjadinya pertumbuhan dari tulang basal rahang, jadi
memungkinkan lengkung gigi membesar dan mengurangi susunan gigi yang berjejal.
3. Bantalan vestibular labial, dengan mengubah posisi otot dan aksinya, bisa mendorong
terjadinya pertumbuhan bibir.
Pesawat Frankel sebagai perawat korektor fungsional efektif untuk perawatan maloklusi
Angle klas II divisi 1, klas II divisi 2, klas III dan open bite anterior. Perawatan maloklusi
menggunakan pesawat Frankel perawatan ini dilakukan pada masa aktif pertumbuhan, terutama
pada periode gigi bercampur.

2. Pesawat Herbst
Pesawat Herbst pertama kali diperkenalkan oleh Emil Herbst pada International Dental
Congress di Berlin, Jerman pada tahun 1905. Pesawat ini merupakan jenis pesawat fungsional
tipe cekat yang dirancang untuk merawat kasus kelas II. Komponen utama pesawat ini yang
disebut telescope terdiri dati tube dan plunger.
Indikasi pesawat Herbst dirancang untuk menstimulasi pertumbuhan kondilus mandibula
dan secara khusus digunakan pada maloklusi kelas II dengan mandibula yang retrognasi. Pasien
yang memiliki riwayat obstruksi jalan napas lewat hidung dan tidak memungkinkan untuk
memakai pesawat lepas, dapat menggunakan pesawat Herbst. Peswat Herbst dapat juga di
indikasikan pada pasien yang tidak kooperatif karena pesawat dicekatkan ada gigi dan bekerja 24
jam sehari tanpa bantuan pasien.

3. Twin Block

Twin block merupakan pesawat fungsional sederhana dengan kontak oklusi bite block
yang didesain untuk memajukan mandibula. Twin block mempunyai desain pesawat yang terdiri
dari upper block dan lower block.
-

Indikasi :
Maloklusi kelas II divisi 1 dengan bentuk gigi normal
Terdapat overjet ringan sampai berat dan deep overbite
Pasien kasus disto-oklusi pada segmen bukal
Pasien harus dalam masa pertumbuhan aktif yaitu masa gigi bercampur
Twin block lebih idel bagi pasien yang tidak memiliki kelainan pertumbuhan arah vertical
secara berlebihan
Kontraindikasi :
Kelas II dimana maksila mengalami prognasi dan mandibula dalam posisi normal
Pada kasus gigi yang sangat berjejal