Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Besarnya jumlah penduduk Indonesia yaitu sekitar 237, 641 juta (Badan Pusat
Statistik, 2010) merupakan pasar potensial susu impor. Untuk itu, pemanfaatan
sumberdaya ternak lokal selain sapi merupakan salah satu cara untuk mengurangi
ketergantungan akan susu impor karena produksi susu dalam negeri baru dapat memenuhi
sekitar 30% kebutuhan nasional. Salah satu usaha bidang peternakan yang belum
memperoleh penanganan secara intensif dan masih perlu didorong serta dikembangkan
adalah usaha peternakan kerbau perah.
Usaha ternak kerbau merupakan komponen penting dalam usahatani penduduk
pedesaan karena dapat membantu pendapatan rakyat di pedesaan dengan pemanfaatan
sumberdaya alam yang tersedia di sekitarnya (Kusnadi, 2004; Kusnadi et al., 2005). Ternak
kerbau adalah salah satu komoditas yang berfungsi sebagai sumber protein hewani bagi
masyarakat, sebagai tabungan, tambahan penghasilan, sebagai tenaga kerja dan kotorannya
bisa dijadikan pupuk sekaligus memberikan sumber keuntungan/pendapatan bagi petani.
(Devendra, 1993). Namun demikian, sampai saat ini usaha pemeliharaan ternak kerbau di
pedesaan belum banyak mempertimbangkan aspek keuntungan, pemeliharaan kerbau
belum diupayakan oleh peternak agar dapat berproduksi secara optimal. Sistem
pemeliharaan kerbau masih diusahakan oleh petani kecil (peternakan rakyat) yang berada
di wilayah pedesaan dengan keterbatasan penguasaan sumberdaya (lahan, pendapatan,
inovasi dan teknologi). Keadaan demikian menunjukkan bahwa pola usaha ternak kerbau
belum merupakan usaha komersial, yakni merupakan usaha sampingan yang ditandai
dengan skala usaha relatif kecil dan tatalaksana pemeliharaan seadanya.

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang
informasi tampilan produksi susu kerbau yang berada di daerah Kabupaten Gayo Lues
Provinsi Aceh.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Ternak Kerbau
Di Indonesia terdapat dua rumpun ternak kerbau yaitu kerbau lumpur (swamp
buffalo) dan kerbau sungai (riverine buffalo), dengan total populasi 2.246.000 ekor
(Direktorat Jenderal Peternakan, 2007). Populasi kerbau sungai hanya ditemukan di daerah
Sumatera Utara dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Kerbau lumpur hampir tersebar di
seluruh daerah di Indonesia, terutama di 6 provinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Direktorat
Jenderal Peternakan, 2007). Kerbau lumpur dipelihara terutama sebagai ternak kerja dan
untuk produksi daging, namun di beberapa daerah kerbau ini juga diperah (Muhammad,
2002; Bahri dan Talib, 2008; Wirdahayati, 2008). Sebaliknya kerbau sungai adalah
termasuk tipe perah, dan salah satu diantaranya adalah kerbau Murrah yang berasal dari
India yang terkenal dengan produksi susu dapat mencapai 1.029 2.565 kg/laktasi (Shafie ,
1985; Dhanda, 2006). Populasi kerbau sungai di India sekitar 95 juta ekor, dan hampir 56%
dari total produksi susu nasionalnya adalah susu kerbau (Dhanda, 2006).

2.2. Produksi Susu


Di daerah Gayo Lues, jumlah produksi susu ternak kerbau yang diperah oleh
masyarakat umumnya berkisar antara 0,9 1,5 liter/ekor/hari, namun pemerahannya tidak
dilakukan setiap hari. Kerbau yang ada di daerah tersebut merupakan bangsa kerbau rawa,
oleh sebab itu jumlah produksi susunya tidak sebanyak kerbau sungai. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa produksi susu dari setiap ternak kerbau yang diperah berkisar antara
1,50-2,50 liter/ekor/hari dengan lama pemerahan sekitar 7 bulan (Zulbardi, 2002).
Malaysia sebagai negara tetangga Indonesia yang iklimnya tidak jauh berbeda dengan
Provinsi Sumatera Barat, produksi susu kerbau lumpur di sana 1,7 - 3,4 liter per hari (Ali,
3

1980). Mason (1974) melaporkan produksi susu swamp buffalo di Indonesia 1 - 2 liter per
hari dan di Vietnam dapat mencapai 6 liter per hari pada awal laktasi.
Nilai gizi susu kerbau terlihat lebih tinggi dari kandungan gizi susu sapi dengan kadar
protein 5,25 vs 3,27 %; kadar lemak 8,79 vs 3,45 %; kadar air 82,42 vs 87,96 % (Sirait dan
Setyanto, 1995). Kadar lemak susu kerbau pada umumnya (tipe perah dan tipe daging)
antara 6,6 9,0% di atas kadar lemak susu sapi 3,6 4,9 % (Dhana, 2006) yang antara lain
dipengaruhi oleh bangsa ternak dan faktor pakan.
Menurut Chantalakhana (1980), lama laktasi Swamp Buffalo (kerbau lumpur) di Asia
Tenggara 7 11 bulan. Hal yang sama dilaporkan pula oleh Madamba dan Eusebio (1980)
Swamp Buffalo di Asia Tenggara lama laktasinya 10 bulan. Akan tetapi Ali (1980)
melaporkan swamp buffalo yang dipelihara di Malaysia lama laktasinya 5 - 6 bulan.
Total produksi susu dalam satu masa laktasi yang dapat dihasilkan oleh seekor kerbau
berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan berbedanya bulan dan tingkat laktasi, penampilan
individu, latar belakang pemeliharaan dan pemberian pakan. Pada bulan-bulan awal laktasi
produksi susu kerbau banyak, puncaknya dicapai pada bulan kedua (Chutikul,1975).
Bulan-bulan berikut produksi susu kerbau mulai menurun seiring dengan meningkatnya
umur anak dan umur kebuntingan. Perbedaan periode laktasi dapat menyebabkan berbeda
jumlah susu yang diperoleh dalam satu masa laktasi. Jumlah produksi susu bertambah dari
laktasi pertama ke laktasi berikutnya, produksi susu paling banyak diperoleh pada laktasi
enam (Chutikul, 1975). Produksi susu kerbau dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain:

2.2.1. Breed atau Bangsa Kerbau


Produksi susu kerbau yang dipengaruhi adanya dari bangsa itu sendiri. Beberapa
bangsa kerbau perah dapat dilihat melalui tabel berikut:

Tabel 1. Jumlah produksi susu kerbau menurut bangsanya


Bangsa Kerbau

Produksi Susu (kg)

Panjang Laktasi (Hari)

Murrah Bulgaria

2.023

300

Murrah Malaysia

1.030

300

Nili/Ravi India

2.440

326

Murrah India

1.635 1.813

283 296

Surti India

1.460 1.934

313 315

1.165

276

926

295

Italia

1.030 2.981

100 558

Rusia

669 1.500

300

778

293

Bhadawari India
Nagpuri India

China/Taiwan rawa

Sumber : Bongso and Mahadevan, 1990, Mudgal, 1999, Castillo,L.S, 1975

2.2.2. Umur Beranak Pertama Kali


Umur kerbau ketika beranak pertama kali mempengaruhi jumlah susu/ produksi
susu yang dihasilkan. Dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah produksi susu kerbau berdasarkan umur


Umur Kerbau Beranak
< 42 bulan

Produksi Susu (kg)


9.330

42 48 bulan

8.719

>48 bulan

9.196

Kerbau perah yang terlambat beranak pertama kali akan mengurangi jumlah gudel
yang dihasilkan, karena akan mengurangi kehidupan produktifnya sebagai hewan ternak.
Tingginya umur beranak pertama kali (dilihat dari tabel diatas) disebabkan oleh jenis pakan
bermutu rendah yang diberikan kepada kerbau dibanding sapi. Dengan demikian,
pertumbuhan kerbau akan sedikit lebih lambat apabila dibanding sapi. Ada korelasi yang
kuat antara umur beranak pertama kali dan produksi susu laktasi I serta lama laktasi.
5

2.2.3. Musim Beranak


Hampir 80 % gudel di India lahir pada musim panas-gugur (Juni Desember).
Sebagai contoh, kerbau Murrah beranak pada antara bulan Juni hingga November.
Sedangkan gudel gudel di Mesir lahir pada musim gugur dingin (Oktober Maret).
Kerbau yang beranak pada bulan Februari Maret merupakan kerbau yang memiliki
kualitas susu paling baik. Produksi susu kerbaupun sangatlah berpengaruh pada saat musim
panas. Bila kerbau-kerbau tersebut dalam periode optimal dari laktasinya badannya
diperciki air selama musim itu, sehingga nantinya akan terjadi peningkatan jumlah
produksi susu. Namun apabila tidak diberi perlakuan tersebut maka produksi susunya akan
menurun dan tidak teratur. Di Filipina, kerbau yang beranak pada bulan Januari April
atau Musim Kemarau akan menghasilkan susu lebih banyak dibanding musim musim
lain. Di Pakistan, produksi susu tertinggi akan dicapai apabila gudel yang dilahirkan antara
bulan November Desember. Keterbatasan hormon juga mempengaruhi sedikit
banyaknya produksi susu. Hormon berperan pada saat terdapat sedikit pakan, namun
bermutu. Ternak kerbau perah akan cenderung lebih cocok pada suhu udara lingkungan
yang sejuk hingga dingin karena daya tahan kerbau perah tersebut terhadap panas lebih
rendah daripada sapi perah.

2.2.4. Pengaruh Laktasi Yang Telah Dihasilkan


Kerbau perah umumnya akan memperlihatkan puncak produksi pada laktasi ke 4
ke 6. Setelah itu, produksi susu kerbau akan cenderung menurun, secara tetap.

Tabel 3. Produksi susu kerbau berdasarkan masa laktasi


Produksi 300 hari

Lama Laktasi

(kg)

(hari)

1.618,5

1.573,4

217,8

1.880

1.790,4

300

1.964

1.878

298,3

2.039,5

1.963,8

291

2.024,3

1.959,4

290

1.823,7

1.767,5

270

Laktasi ke-

Produksi Susu (kg)

Sumber : Bhat, 1992


2.2.5. Tingkatan Laktasi
Umumnya, puncak produksi susu kerbau setiap masa laktasi terjadi pada bulan ke-2
hingga ke-3. Biasanya, setelah bulan ke-4 dari masa kebuntingannya produksi susu kerbau
cenderung menurun. Hal ini disebabkan karena adanya kenaikan kadar lemak / fat. Ini
menunjukkan produksi susu setelah bulan ke-4 berbanding terbalik dengan kadar lemak.
Puncak laktasi dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya pakan, dan musim beranak.Namun
pada umumnya, puncak laktasi terbaik tercatat pada laktasi I.
Dengan seiring bertambahnya kadar lemak pada susu kerbau yang mengakibatkan
kandungan lemak susu kerbau tinggi, maka produktivitas kerbau akan dihitung pula dari
total lemak.

Tabel 4. Komposisi gizi susu kerbau berdasarkan tingkatan laktasi


Bahan
Kering
1
6,16
5,30
3,96
2
5,73
5,03
3,75
3
6,59
5,18
3,59
4
5,57
5,00
3,51
5
6,11
5,16
3,88
6
7,20
4,86
3,73
7
7,05
4,68
3,59
8
7,98
5,00
4,34
9
7,01
5,11
3,53
10
7,18
4,64
4,05
Sumber : Abd. E-Salam, M. H. dan S. El-Shibiny. 1966
Bulan Laktasi

Fat

Laktosa

Protein
Whey
0,62
0,65
0,62
0,63
0,54
0,60
0,56
0,76
0,71
0,66

Abu
0,82
0,80
0,80
0,75
0,77
0,80
0,78
0,83
0,81
0,83

2.2.6. Pakan dan Tata Laksana Pemberian


Kerbau yang diberi pakan yang berkualitas tinggi cenderung memproduksi susu
yang cukup lama. Dan apabila kerbau yang diberi pakan kualitas rendah, misal limbah
pertanian, maka hasil susu yang diproduksi tidak menjamin akan mendapat kualitas yang
baik. Di daerah yang terdapat sejumlah kerbau dalam jumlah banyak maka kemungkinan
akan terjadi defisiensi makanan sehingga dibutuhkan pengganti pangan yang bisa
mencukupi kebutuhan pangan dari kerbau-kerbau tersebut. Selain itu, di daerah tersebut
biasanya pun makanan yang ada adalah makanan yang berkualitas rendah.

2.2.7. Jarak Antara Dua Kelahiran Anaknya


Faktor ke-7 ini menentukan produksi susu kerbau karena penting bagi menentukan
efisiensi reproduksi. Jarak antara 2 kelahiran gudel disebabkan perbaikan kualitas
perkawinan pada musim panas. Jarak antara 2 kelahiran gudel ini pun pada umumnya
memiliki hubungan yang erat dengan masa layanan perkawinan. Layanan perkawinan yang
lama maupun yang pendek akan mempengaruhi jumlah gudel yang lahir dan banyak susu

yang dihasilkan. Kerbau Murrah biasanya melahirkan anak dengan rata-rata interval
beranaknya 428,7 hari.
Selain itu produksi susu kerbau dipengaruhi oleh layanan perkawinan, periode
kebuntingan, panjang laktasi, dan non-genetik. Faktor non genetik disini meliputi:
1. waktu keluarnya susu (let down time) : waktu dihitung sejak putting disentuh hingga
keluar susu pertama. Apabila waktu keluarnya susu semakin lama, maka itu berarti
jumlah produksi susu yang dihasilkan semakin sedikit / turun.
2. waktu pemerahan (milking time) : waktu sejak keluarnya susu pertama hingga terakhir.
Waktu pemerahan dipengaruhi oleh hormone oksitosin. Dan jumlah kadar hormone
yang dikeluarkan tergantung pada ukuran ternak, tahapan laktasi, total produksi susu,
berat badan ternak.
3. kecepatan lewat susu (rate of milk flow) : rasio antara produksi susu dan waktu
pemerahan total. Kecepatan keluarnya susu yang lebih besar diperkirakan akan
menaikkan jumlah produksi susu.

Jika ternak tidak dikawinkan pada waktunya setelah beranak, maka hal ini
cenderung akan menyebabkan periode laktasi yang lama, bahkan sampai 400 hari
(minimalnya < 350 hari).
Selain unsur-unsur yang mempengaruhi produksi susu yang telah dijelaskan di atas,
susunan gizi susu kerbau pun dipengaruhi oleh beberapa hal, yakni :
1.

Spesies dan Ragam Jenis Bangsa. Susu kerbau perah pada umumnya lebih kaya akan
bahan dasar penyusunan susu dibanding susu sapi, kecuali kadar air dan kandungan
karotennya. Tidak adanya karoten membuat warna susu lebih putih daripada susu
sapi.

2.

Ragam Musim. Susunan gizi susu kerbau dapat berubah-ubah sesuai musimnya, baik
musim dingin, panas, semi, maupun gugur. Hal ini sangat berkaitan dengan pakan
yang diberikan saat itu.

3.

Banyaknya Pemerahan Setiap Harinya. Pada awal pemerahan susu kerbau akan
memiliki susunan gizi yang berbeda dengan pertengahan ataupun akhir pemerahan.
Pada awal pemerahan, susu kerbau umumnya memiliki kandungan lemak yang
sedikit, ini dikarenakan kelenjar ambing tidak menutup katup penutup untuk
menghambat kecepatan produksi susu tersebut. Sementara pada pemerahan akhir,
susu kerbau akan kaya lemak. Let down of milk membutuhkan waktu 32 37 detik,
sedangkan akhir laktasi 62 67 detik.

4.

Unsur Genetik. Kawin silang sangat mempengaruhi jumlah protein susu. Walaupun
dalam satu spesies, jika terjadi kawin silang akan tetap mempengaruhi hasil dari
protein susu. Produksi susu selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi
oleh faktor lingkungan termasuk manajemen pemeliharaannya.Kerbau Sungai spesies
Kerbau Murah mempunyai kemampuan produksi susu yang lebih baik dari Kerbau
Lumpur, namun lama laktasi kedua jenis kerbau tidak jauh berbeda. Di bawah ini
dapat dilihat produksi susu pada Kerbau Lumpur, Kerbau Sungai dan Crossbred
(persilangan).

10

Tabel 5. Jumlah produksi susu, laju pertumbuhan dan lama laktasi kerbau
berdasarkan breed
Kriteria

Kerbau Lumpur

Kerbau Sungai

Crossbred

Laju pertumbuhan pedet (kg

0,4 - 0,8

0,4 - 0,7

0,4 - 0,7

Lama laktasi (hari)

236 - 277

240 - 300

236 - 277

Produksi susu per hari (liter)

1,0 - 2,5

4 - 15

3-4

per hari)

Sumber : Thac dan Vuc (1979); Khajarern dan Khajarern (1990); Thu, Dong, Quaq
dan Hon (1993); Sanh, Preston dan Ly (1997); Thu, Pearson dan Preston (1996);
Gongzhen (1995) dan Puslitbang Peternakan (2008) dalam Bahri dan Talib (2007).
5.

Produksi susu selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh faktor
lingkungan termasuk manajemen pemeliharaannya.

2.3. Karakteristik Kerbau di Gayo Lues


Kerbau yang dipelihara oleh petani peternak di Gayo Lues pada umumnya bangsa
kerbau lumpur. Kelemahan kerbau ini tidak dapat menghasilkan susu yang banyak. Oleh
karena itu produksi susunya tidak banyak yang bisa dihasilkan per harinya. Pemeliharaan
kerbau masih dilakukan dengan sistem tradisional, yaitu pada malam hari dikandangkan
dan siang harinya digembalakan di padangan dan ada juga diikatpindahkan. Kerbau yang
diikat pada siang harinya biasanya diberi pakan tambahan pada malam hari. Pakan yang
diberikan biasanya rumput alam sebanyak lebih kurang 20 kg.

2.4. Komposisi Susu Kerbau


Susu kerbau memiliki kandungan gizi tidak kalah dibandingkan susu sapi. Susu
kerbau mengandung 4,5 g protein, 8 g lemak, 463 Kkal dan 195 iu kalsium. Susu kerbau
lebih kental dibandingkan susu sapi. Hal ini karena susu kerbau mengandung 16% bahan
padat, sedang susu sapi bahan padatnya 12%. Kandungan lemak susu kerbau juga lebih
banyak, sehingga kandungan energinya lebih tinggi dari susu sapi.
11

Tabel 6. Komposisi susu beberapa jenis ternak


Zat Gizi
Protein
Lemak
Karbohidrat
Energi
Gula
Asam Lemak:
Jenuh
Tidak jenuh
Kolesterol
Kalsium

Per 100 g
g
g
g
k cal
kJ
g

Kerbau
4.5
8,0
4,9
110
463
4,9

Sapi
3,2
3,9
4,8
66
275
4,8

Kambing
3,1
3,5
4,4
60
253
4,4

Domba
5,4
6,0
5,1
95
396
5,1

g
g
mg
lu

4,2
1,9
8
195

2,4
1,2
14
120

2,3
0,9
10
100

4,2
1,9
8
195

Ada baiknya bila mengetahui beberapa susunan/komposisi dari jenis masing - masing
susu.

Tabel 7. Komponen air susu beberapa ternak


Jenis susu

Air %

Laktosa %

Mineral %

Susu Sapi

87,75

4,95

0,70

Susu Kambing

87,23

4,23

0,84

Susu Kerbau

78,50

4,30

0,80

Susunan air susu tidak selalu sama dan akan selalu berubah ubah. Hal ini
dikarenakan berbagai macam faktor .
Susu kerbau memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi karena itu, potensi dan
kandungan gizinya yang sangat besar, susu kerbau dijuluki sebagai Emas Putih. Jika dilihat
dari komposisi nilai gizi yang terdapat di dalamnya, susu kerbau tidak kalah dengan susu
asal ternak ruminansia lainnya. Bahkan kandungan protein dan lemaknya sangat tinggi
yaitu 5,5-10,5% dua kali lipat dari susu lain.
Dalam susu terdapat beberapa komponen, salah satunya lemak. Lemak susu adalah
komponen yang paling beragam. Sebagian besar lemak susu terdiri dari trigliserida. Bahan
12

utama pembentuk lemak susu adalah glukosa, asam asetat, asam beta hidroksobutirat,
trigliserida dasri kilomikra dan LDL serta darah. 75 90 % dari asam lemak berantai
pendek (C4 C14) dan 30 % dari asam palmitat yang disusun dalam kelenjar susu berasal
dari asam asetat. Dan sisanya berasal dari asam lemak. Asetil Co-A yang digunakan oleh
kelenjar susu dibentuk dari asetat yang terdapat dalam sitoplasma. Pakan ternak pun sangat
berperan dalam kualitas susu, sehingga di dalam pakan ternak harus memenuhi criteria gizi
yang baik, yakni terdapat jumlah protein yang tinggi, energi (yang diperlukan untuk
membentuk lemak susu) tinggi, mineral yang kaya akan Ca dan P (tak lupa Na dan Cl
karena cukup penting bagi ternak), vitamin yang cukup.
Dibanding dengan jumlah laktasi yang sama, kerbau akan menghasilkan lebih banyak
lemak dan bahan padat bukan lemak (Solid Non Fat/SNF) daripada sapi lokal.

Tabel 8. Produksi susu kerbau negara utama (000 Ton)


Negara

1980

1987

1999

Naik 1980-1990 (%)

26

21

22

0,5

China

1390

1800

1938

3,7

India

17358

23323

23600

3,7

Nepal

500

547

603

Pakistan

6383

8790

10538

5,4

Srilanka

55

67

55

-1,3

Bangladesh

Sumber : Mudgal,1999
Produksi susu tiap harinya dan di tiap negara pastilah berbeda beda. Produksi susu
tiap hari dari kerbau laktasi di India dan Pakistan bisa mencapai 2-2,5 kg pada kerbau
kualitas jelek, dan bisa mencapai 20 kg pada kerbau yang baik pengelolaannya. Rata rata
produksi susu kerbau di India didapat lebih kurang 2.005 kg per laktasi. Sedangkan pada
kelompok kerbau kualitas baik / tinggi hasil susunya sebesar 2,7 % dari kerbau laktasi
menghasilkan susu melebihi 3.630 kg per laktasinya.
13

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kerbau merupakan salah satu ternak yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai
salah satu ternak perah secara lebih optimal. Jumlah produksi susu kerbau di daerah
Kabupaten Gayo Lues berkisar antara 0,9 1,5

liter/ekor/hari. Jumlah produksi ini

dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti bangsa, laktasi dan manajemen.


Susu kerbau perah memiliki nilai gizi yang tinggi. Susu kerbau mengandung 4,5 g
protein, 8 g lemak, 4,9 karbohidrat, 463 Kkal energi dan 195 iu kalsium. Susu kerbau lebih
kental dibandingkan susu sapi. Kerbau mengandung 16% bahan padat, sedangkan susu sapi
bahan padatnya sebesar12%.

3.2. Saran
Kerbau merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang yang sangat potensial
dikembangkan di Indonesia. Pemeliharaan kerbau oleh petani dan peternak umumnya
masih dilakukan secara ekstensif. Oleh sebab itu diisarankan kepada mahasiswa dan para
ilmuan untuk meneliti lebih lanjut masalah pengemangan ternak kerbau, sehingga dapat
meningkatkan kualitas dan kuantisas ternak tersebut.

14

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Syed, A. B. 1980. Buffalo Production And Development In Malaysia. Dalam Buffalo
Production For Small Farms. FFTC Series No. 15, Taipei.
Chantalakhana, C. 1980. Breeding Improvement of Swamp Buffalo for Small Farms. In
Southeast Asia. Dalam Buffalo Production For Small Farms. FFTC Series No. 15,
Taipei.
Chutikul, K. 1975. Ruminant (Buffalo) Nutrition. Dalam The Asiatic Water Buffalo.
FFTC, Taipei
Devendra , C. 1993. Ternak ruminansia di Asia. Dalam Woszika-Tomaszewska, I.M.
Mastika, A. Djajanegara, S. Garniner dan T. R. Wiradarya (Eds.). Produksi Kambing
dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2007. Statistik Peternakan 2007. Direktorat Jenderal
Peternakan, Departemen Pertanian RI, Jakarta.
El-Shibiny, S,.Abd El-Salam,M.H & Ahmed, N.S., 1966.Milchwissensshalft, 27.217
Hadiwiyoto, S., 1994. Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Penerbit Liberty.
Yogyakarta.
Kusnadi , U. 2004. Kontribusi Ternak dalam Meningkatkan Pendapatan Petani di
Lahan Marginal Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten. J. Pembangunan
Peternakan Tropis . Special Edition Oktober 2004.
Mahadevan, P. 1978. Water Buffalo Research-Possible Future Trends. World Animal
Review 25: 2-7.
Mason, I.L. 1974. The Husbandry and Health of The Domestic Buffalo. Food And
Agriculture Organization of The United Nation, Rome
Mudgal,V.1992.Reproduction in River Buffaloes.In :BuffaloProduction.Ed. NM.Tulloh
and J.H.G.Holmes.Elsevier-LondonMuhammad, Z. 2002. Model Pengembangan
Kerbau Perah. Laporan Direktorat Budidaya Peternakan, Jakarta.
Shafie , M.M. 1985. Physiological Responses and Adaptation of Water Buffalo. In :
Stress Physiology in Livestock, vol. 2: Ungulates. YOUSEF, M.K. (Ed.). Florida,
USA, CRC. pp. 1 4
Zulbardi, M. 2002. Upaya Peningkatan Produksi Susu Kerbau bagi Ketersediaan dan
Mempertahankan Potensi Dadih. Pros. Seminar Nasional Teknol ogi Peternakan
dan Veteriner. Puslitbang Peternakan. Bogor. Hal: 186 189

15