Anda di halaman 1dari 42

BIDANG TEKNOLOGI DAN

MANUFAKTUR

LAPORAN
PROGRAM PENELITIAN INOVATIF MAHASISWA
PROVINSI JAWA TENGAH

JUDUL PENELITIAN
PERBANDINGAN KEKUATAN STRUKTUR VELG SEPEDA MOTOR OEM
TERHADAP BERBAGAI JENIS AFTERMARKET MENGGUNAKAN
METODE ELEMEN HINGGA
Oleh
NAFTALI RICKY Y

5212413035

DHIMAS M DANIAL

5212413037

SENTHOT DHIMAS WAHYU R

5212413038

FAHMA ILMIAN SYAH

5212413039

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SEMARANG
TAHUN 2016

ii

HALAMAN PENGESAHAN
PROGRAM PENELITIAN INOVATIF MAHASISWA
1.

Judul Penelitian

2.
3.

Bidang Kajian
Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap
b. NIM/NRM/Semester
c. Jurusan/Fakultas
d. Universitas/Institut/Politeknik
e. Alamat Rumah/Telepon/Faximili
f. No. HP dan email

4.
5.

6.
7.

Anggota Peneliti
Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar
b. NIP
c. No. HP dan email

: Perbandingan Kekuatan Struktur


Velg
Sepeda
Motor
OEM
Terhadap Berbagai Jenis After
Market Menggunakan Metode
Elemen Hingga
: Teknologi dan Manufaktur
:
:
:
:
:

Senthot Dhimas W.R.


5212413038/VI
Teknik Mesin/Teknik
Universitas Negeri Semarang
Ringinharjo 05/01, Gumpang,
Kartasura, Sukoharjo
: 085750557878/
dhimas.w.ramadhan@gmail.com
: 3 orang
: Kriswanto S.Pd., M.T.
: 198609032015041001
: 085641306022/
kriswanto@mail.unnes.ac.id
: Rp 7.451.000,00
: 6 bulan

Biaya Total Kegiatan


Jangka Waktu Penelitian

Semarang, 16 Mei 2016


Menyetujui:
Ketua Jurusan/Dosen Pembimbing,

Ketua Peneliti,

Kriswanto S.Pd., M.T.

Senthot Dhimas W. R.

NIP. 198609032015041001

NIM/NRM.5212413038

Mengetahui
Universitas Negeri Semarang
PD III,

(Drs. Wirawan Sumbodo M.T.)

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. ii


DAFTAR ISI .......................................................................................... iii
BAB 1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................ 2
B. Pembatasan Masalah ................................................................ 3
C. Rumusan Masalah ................................................................... 3
D. Tujuan ..................................................................................... 3
E. Manfaat ................................................................................... 3
BAB 2. LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori ........................................................................ 5
B. Kajian Penelitian yang Relevan ............................................... 13
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
A. Teknik Pengumpulan Data ...................................................... 14
B. Alat dan Bahan ........................................................................ 14
C. Diagram Alir Penelitian ........................................................... 15
D. Tahapan Pembuatan ................................................................. 16
E. Instrumen ................................................................................. 17
F. Uji Coba Desain ...................................................................... 17
BAB 4. PEMBAHASAN
A. Hasil Simulasi .......................................................................... 18
B. Pembahasan ............................................................................. 23
BAB 5. PENUTUP

A. Kesimpulan .............................................................................. 27
B. Saran ........................................................................................ 27
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 28

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penggunaan sepeda motor di Indonesia setiap tahunnya selalu mengalami
peningkatan yang signifikan. Data dari Badan Pusat Statsistik (BPS)
menunjukkan pada tahun 2013 penggunaan sepeda motor di Indonesia
mencapai 84.732.652 unit. Dengan tingginya penggunaan sepeda motor maka
kebutuhuan akan komponen-komponen nya pun juga tinggi. Salah satu
komponen pada sepeda motor yang berperan sangat krusial adalah velg.
Tabel 1.1. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun
1987-2013 (Sumber : http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1413)

Velg pada sepeda motor merupakan suatu komponen yang mempunyai


fungsi utama untuk menumpu ban roda. Ningtyas (2013) menyatakan bahwa
dalam penggunaannya pada sepeda motor kekuatan suatu velg sangatlah
penting karena velg merupakan salah satu bagian dari kendaraan yang
menerima tegangan dan beban yang cukup tinggi. Mengingat banyaknya jalan
yang berlubang di Indonesia, memperbesar resiko pada velg untuk menerima
tegangan dan beban kejut akibat dari lubang tersebut. Jika velg sering terkena
kondisi tersebut, maka bukan hal yang mustahil jika velg tersebut akan
mengalami deformasi dan bahkan dapat retak maupun pecah.
Seperti pada komponen-komponen sepeda motor lainnya, velg juga
memiliki klasifikasinya tersendiri. Sukamto (2013), menyebutkan bahwa jenis
komponen-komponen kendaraan menurut klasifikasi internasional adalah OEM
(Original Equipment Manufactured), OES (Original Equipment Sparepart),

AM (Aftermarket), dan Genuine. OEM merupakan jenis komponen yang sudah


terpasang pada saat membeli sepeda motor baru. OES merupakan jenis
komponen yang digunakan sebagai pengganti komponen OEM dimana
pembuatannya oleh pabrikan OEM sehingga mempunyai kode formula yang
sama, proses yang sama dan bahan yang sama dengan komponen OEM.
Kemudian jenis AM yang merupakan jenis komponen yang beredar di pasaran
dengan kualitas yang beragam. Genuine pada dasarnya termasuk dalam
kategori jenis AM, dimana istilah ini hanya untuk membedakan antara asli atau
tidaknya produk tersebut.
Selain klasifikasi di atas, velg di pasaran pada umumnya hanya
diklasifikasikan pada dua jenis yaitu velg jenis cast wheel (CW) dan spoke
wheel (SW). Ramdan (2014) menyebutkan bahwa terdapat dua jenis velg untuk
sepeda motor, spoke wheel (SW) merupakan velg yang berbentuk jari-jari.
Sedangkan casting wheel (CW) atau biasa disebut velg racing, merupakan velg
yang terbuat dari besi yang dibentuk melalui proses casting (molding/dicor).
Kedua jenis velg tersebut memiliki kekuatan dan karakteristik tersendiri,
dimana velg jenis CW memilik variasi bentuk yang lebih banyak dibandingkan
dengan jenis SW.
Penggunaan velg jenis CW aftermarket cukup diminati di Indonesia
dengan banyaknya velg jenis tersebut di pasaran. Hal tersebut disebabkan
karena jenis velg tersebut mempunyai banyak variasi desain yang menarik dan
harganya yang relatif lebih murah daripada jenis OEM. Berbicara mengenai
harga tentunya berbanding lurus dengan kualitas, pada jenis velg aftermarket
juga terdapat beberapa masalah ketika digunakan. Anonim (2015) dalam
tulisannya menyebutkan mengenai berbagai kerusakan yang terjadi pada
penggunaan velg jenis aftermarket karena terkena beban hantaman pada
jalanan yang rusak.
Pada variasi velg jenis CW terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi
kekuatan velg tersebut, beberapa diantaranya adalah gaya dan beban yang
bekerja pada velg, bentuk geometri dan ukuran velg, dan material yang
digunakan pada velg. Dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi kekuatan
velg dan berbagai variasi bentuknya maka diperlukan suatu pendekatan teknik

untuk mengetahui seberapa kuatkah suatu velg untuk menerima beban dan
tegangan yang bekerja, dalam hal ini metode yang digunakan adalah dengan
permodelan elemen hingga.
Dari latar belakang yang telah dijelaskan kami tertarik untuk membuat
suatu penelitian dengan judul Perbandingan Kekuatan Struktur Velg Sepeda
Motor OEM Terhadap Berbagai Jenis Aftermarket Menggunakan Metode
Elemen Hingga

B. Pembatasan Masalah
Agar penelitian yang dilakukan tidak terlalu meluas, maka diperlukan suatu
pembatasan masalah sebagai berikut.
1. Analisis hanya pada velg Suzuki Skydrive jenis OEM dan aftermarket.
2. Analisis menggunakan permodelan metode elemen hingga.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diambil suatu rumusan
masalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah perbandingan kekuatan dari berbagai sampel variasi velg
jenis OEM dan aftermarket?
2. Bagaimanakah deformasi (displacement) dari hasil permodelan elemen
hingga velg jenis OEM dan aftermarket?

D. Tujuan
Dari rumusan masalah tersebut , maka penelitian ini mempunyai tujuan
sebagai berikut.
1. Mengetahui perbandingan kekuatan dari berbagai sampel variasi velg jenis
OEM dan aftermarket.
2. Mengetahui deformasi (displacement) dari hasil permodelan elemen hingga
velg jenis OEM dan aftermarket.
E. Manfaat
Penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut.

1. Sebagai referensi dan pengetahuan untuk analisa kekuatan velg


menggunakan metode elemen hingga.
2. Mendukung usaha industri kecil menengah otomotif dalam meningkatkan
kualitas desain produk velg.
3. Untuk masyarakat sebagai pengetahuan mengenai pemilihan jenis velg
jenis CW.
4. Untuk Dirjen Transportasi Darat, sebagai informasi tentang standar
keamanan pada velg aftermarket yang beredar di pasaran.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Jenis Velg
Kendaraan tidak akan dapat berjalan tanpa velg karena velg merupakan
komponen utama dalam sebuah kendaraan. Velg harus cukup kuat untuk
menahan beban vertikal dan horisontal, beban pengendaraan, pengereman,
dan berbagai macam tenaga yang tertumpu pada ban. Disamping itu, velg
harus dibuat akurat agar dapat mengikat ban dengan baik. Selain kekuatan
dan keringanan, penampilan velg yang indah juga diminati oleh pemakai.
Menurut pabrikannya, velg dibedakan menjadi dua jenis, yaitu OEM
(Original Equipment Manufacturer) yaitu pabrik yang memproduksi parts
untuk produsen kendaraan dan aftermarket yaitu pabrik yang memproduksi
parts modifikasi.
Pabrikan velg OEM telah menempuh perjalanan yang sangat jauh dalam
melakukan riset. Tes yang dilakukan terhadap velg praproduksi bisa
memakan biaya hingga miliaran rupiah untuk menjamin velg tersebut
nantinya dapat berfungsi maksimal baik dalam perjalanan yang keras
hingga lembut, di dalam maupun di luar kota. Konsekuensinya memang
kurang baik bagi kantong kita, harga velg OEM menjadi mahal. Bahkan
harga bekasnya tetap mahal.

Gambar 2.1. Contoh Velg jenis OEM pada motor Suzuki Skydrive
(Sumber : http://ceriwis.net/forum/showthread.php?t=1221428)
Kebanyakan velg aftermarket tidak didahului dengan riset yang matang.
Hal ini tentu agar biaya dapat ditekan seminimal mungkin. Dan juga
5

produsen velg aftermarket tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tes


yang diperlukan. Secara garis besar, velg aftermarket adalah produk yang
menyasar pangsa pasar yang tidak terlalu mementingkan kualitas namun
lebih condong kepada tampilan visual. Harga menjadi faktor yang sangat
dominan dalam penjualan velg aftermarket.

Gambar 2.2. Contoh Velg Aftermarket (Sumber :


http://hnsmotoparts.com/product/249/8/Velg-Power-Mio-roseblack/?o=default)
Pada prinsipnya ketika velg original itu dibuat ia memiliki prasyarat
yang harus dipenuhi agar lolos untuk diproduksi secara massal, antara lain:
a. Ketahanan dari kondisi jalanan yang berbahaya seperti lubang, jalanan
retak, bergelombang.
b. Ketahanan dari garam, zat asam dan kimiawi lainnya yang bersifat
merusak.
c. Ketahanan agar tidak mendapat retur terlalu banyak.
d. Kemampuan untuk menopang kendaraan beserta beban penumpang dan
muatan dengan tetap memperhatikan faktor keselamatan.
e. Ketepatan fitment velg sehingga sistem suspensi dan sistem deselerasi
kendaraan dapat berfungsi optimal sesuai desain baku kendaraan tanpa
muncul getaran/ gangguan.
Sementara prinsip pabrikan velg aftermarket:
a. Memastikan proses produksi memakan biaya sekecil mungkin
b. Tidak perlu menggunakan bahan baku dan metode pembuatan terbaik.

c. Satu model/ varian velg dibuat untuk dapat digunakan pada banyak
jenis kendaraan, walaupun desain asli (OEM) dari velg tersebut tidak
menerapkan demikian.
Aspek keselamatan merupakan hal yang paling wajib diperhitungkan
dalam dunia otomotif karena berhubungan erat dengan nyawa dari
penumpang. Sehingga dalam pemodifikasian setiap komponennya haruslah
dipertimbangkan secara matang. Dalam dunia otomotif telah banyak
kecelakaan yang disebabkan oleh velg yang terdeformasi plastis.
Ada banyak kasus mengenai kecelakaan karena velg pecah atau terbelah
dua saat digunakan dalam kecepatan tinggi. Atau melengkung saat
kendaraan melintasi lubang di jalanan rusak sehingga mengganggu
handling kendaraan. Kerusakan yang terjadi pada velg paduan aluminium
adalah bibir velg mengalami deformasi plastis atau pecahnya spoke pada
velg cast wheel akibat gaya dan tegangan yang terjadi melebihi tegangan
maksimum yang diizinkan.

Gambar 2.3. Kerusakan pada Velg


(sumber: otozones.blogspot.com)
Kualitas velg dipengaruhi oleh kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Penampilan, velg bersifat fashion yang digunakan untuk memperindah
penampilan kendaraan secara keseluruhan.
b. Mode, karena velg bersifat fashion maka tentunya mode dari sebuah
velg mempengaruhi minat pelanggan yang ingin membeli velg.
c. Warna (finishing), finishing sebuah velg meningkatkan daya tarik
pelanggan dari produk fashion tersebut.

d. Kekuatan, velg yang tidak kuat dapat membahayakan keselamatan


pengendara tersebut, terutama untuk kalangan yang menggemari
kegiatan offroad.
e. Keringanan, velg yang ringan akan meningkatkan kecepatan sebuah
kendaraan
2. Material Velg
Menurut jenis materialnya, ada dua jenis velg yang dikenal di kalangan
masyarakat, yaitu velg besi dan velg paduan aluminium. Velg besi tidak
banyak disukai karena beberapa alasan, salah satunya adalah tidak sesuai
perkembangan zaman. Oleh karena itu banyak yang menggantinya dengan
velg yang lebih gaya atau yang disebut dengan velg paduan aluminium.

Gambar 2.4. Velg Besi


(sumber: bikersindo.wordpress.com)
Untuk angkutan umum dan komersial yang memerlukan velg dengan
kekuatan tinggi dan kualitas penampilan yang rendah, besi merupakan
bahan logam yang paling efisien dan efektif. Logam aluminium lebih tahan
karat dibandingkan besi sehingga penampilan logam aluminium lebih tahan
lama keindahannya daripada logam besi, selain itu logam aluminium dapat
menimbulkan kilauan indah yang mengkilap bila dipoles. Kelebihan logam
aluminium yang terakhir terletak pada beratnya yang lebih ringan
dibandingkan logam besi sehingga para pengguna kendaraan pribadi lebih
memilih memakai velg dengan jenis bahan aluminium daripada velg besi.
Industri velg aluminium sendiri juga memiliki kategori berdasarkan
teknologi yang digunakan untuk memproduksi produknya terutama

teknologi yang digunakan pada proses pencetakan velg (casting).


Teknologi yang ada di industri velg aluminium terkini ialah:
a. Die casting
Teknologi ini menunjuk kepada proses produksi yang mencetak velg
aluminium dengan melebur logam aluminium hingga menjadi cair
untuk dicetak menggunakan cetakan atau molding. Setelah aluminium
cair dicetak dalam cetakannya maka cairan logam tersebut akan
didinginkan agar kembali menjadi logam. Produk dari proses produksi
dengan teknologi die casting umumnya dikenal dengan sebutan alloy
wheels. Teknologi ini dibagi lagi menjadi dua berdasarkan teknologi
pencetakan velg yang digunakan sebagai berikut:
1. High pressure
Teknologi ini memasukkan aluminium cair ke dalam cetakan
(molding) dari samping atau atas cetakan tersebut. Aluminium cair
yang memenuhi cetakan kemudian didinginkan sehingga terbentuk
cetakan yang diminati.
2. Low pressure casting
Teknologi ini menggunakan tekanan udara yang dihasilkan oleh
mesin pencetak velg untuk menyuntik (inject) aluminium cair ke
dalam cetakan yang tertutup dari bawah.
b. Forging
Teknologi ini menggunakan logam aluminium yang tidak dilebur untuk
mencetaknya menjadi velg. Teknologi forging mengandalkan kekuatan
mesinnya untuk mencetak velg menggunakan bahan baku aluminium
yang masih dalam bentuk logam berbeda dengan die casting dimana
bahan baku aluminiumnya harus dilebur. Produk velg yang dihasilkan
dengan menggunakan teknologi forging ini umumnya dikategorikan
dengan sebutan forged wheels. Teknologi ini pun terbagi menjadi dua
kategori yaitu:
1. Semi Solid Forge

10

Teknologi ini mencetak velg dengan menggunakan bahan baku


logam aluminium yang dipanaskan mendekati titik leburnya
sehingga melembek namun masih dalam bentuk logam.
2. Solid Forge atau Full Forge
Teknologi ini mencetak velg dengan menggunakan bahan baku
logam aluminium yang solid atau dalam suhu normal.
Teknologi forging merupakan teknologi pencetakan velg yang lebih
baru dibandingkan die casting. Proses forging membutuhkan kekuatan
mesin yang lebih tinggi dibandingkan die casting karena bahan bakunya
masih berbentuk logam. Kelebihan dari velg forged ialah keringanan velg
yang dapat dicetak tanpa mengurangi sisi kekuatan velg tersebut.
Industri velg aluminium di Indonesia sampai saat ini hanya
menggunakan teknologi die casting dalam memproduksi velg. Teknologi
lainnya terutama forging sudah digunakan di beberapa negara maju seperti
Jerman, Inggris, Itali, Jepang dan Taiwan, akan tetapi teknologi tersebut
belum digunakan di industri manufaktur velg aluminium di Indonesia.
3. Metode Elemen Hingga (Finite Element Method)
Metode elemen hingga adalah teknik numerik untuk mendapatkan
solusi perkiraan untuk kelas masalah yang diatur oleh persamaan
diferensial parsial sederhana. Masalah seperti ini disebut sebagai batas nilai
masalah karena mereka terdiri dari persamaan diferensial parsial dan
kondisi batas (ITT Kanpur, 2009). Metode elemen hingga mengubah
persamaan diferensial parsial sederhana menjadi satu set persamaan aljabar
yang mudah untuk dipecahkan. Masalah nilai awal yang terdiri dari
persamaan diferensial parabolik atau hiperbolik dan kondisi awal (selain
kondisi batas) tidak bisa sepenuhnya diselesaikan dengan metode elemen
hingga.
Pembentukan model elemen hingga yang tepat untuk masalah praktis
yang sebenarnya tergantung pada beberapa faktor, yaitu pemahaman
tentang masalah fisik termasuk pengetahuan kualitatif respon struktural
untuk diprediksi, pengetahuan prinsip-prinsip dasar mekanika dan

10

11

pemahaman yang baik tentang prosedur elemen hingga tersedia untuk


analisis (Evgeny Barkanov, 2001).
Diskritasi domain (memecah perhitungan menjadi bentuk yang lebih
sederhana) ke dalam elemen hingga adalah langkah pertama dalam elemen
hingga metode. Hal ini setara dengan mengganti domain memiliki jumlah
tak terbatas derajat kebebasan dengan sistem memiliki jumlah terbatas
derajat kebebasan. Bentuk, ukuran, jumlah dan konfigurasi elemen harus
dipilih dengan hati-hati sehingga bentuk asli atau domain disimulasikan
semirip mungkin tanpa meningkatkan upaya komputasi. Berbagai
pertimbangan yang diambil dalam proses diskritisasi adalah:
a. Jenis elemen
b. Ukuran elemen
c. Lokasi node
d. Jumlah elemen
e. Penyederhanaan diberikan oleh konfigurasi fisik dari tubuh
f. Representasi terbatas tubuh yang tak terbatas
g. Skema penomoran simpul
h. Generasi simpul otomatis
Setelah semua terlaksana, maka perlu menambahkan sifat material, beban
eksternal dan menerapkan kondisi batas.
4. Faktor Keselamatan (Safety Factor)
Nugroho (2012) menjelaskan bahwa istilah safe stress, allowable stress
atau permissible stress dan design stress memiliki pengertian yang sama.
Tegangan yang digunakan dalam mendesain sebuah mesin harus memiliki
faktor keamanan agar kegagalan tidak terjadi. Tegangan tersebut biasa
disebut juga allowable stress.
Dibawah batas luluh, deformasi yang dihasilkan proporsional terhadap
beban yang dikenakan. Tegangan luluh terjadi ketika beban yang dikenakan
menyebabkan adanya deformasi plastis. Sedangkan ultimate stress
merupakan tegangan maksimum yang mampu dicapai oleh material
sebelum mengalami patah.

11

12

Faktor keamanan merupakan angka yang harus dipenuhi dalam


mendesain tegangan struktur. Untuk memenuhi tujuan ini, faktor keamanan
dapat dimasukan kedalam desain melalui ultimate stress, yield stress,
endurance limit, creep strength atau kriteria kekuatan lainya. Pernyataan
dari beberapa desainer, bahwa kegagalan terjadi ketika sebuah mesin tidak
mampu menjalankan fungsinya dan sebagian besar elemen mesin tidak
berjalan sebagaimana mestinya setelah menerima deformasi tetap sehingga
diperlukan faktor keamanan dari bagian-bagian elemen mesin dengan
kriteria batas luluh.
Di sisi lain, sejak faktor keamanan digunakan oleh desainer selama
bertahun-tahun, ultimate stress mulai digunakan untuk menentukan faktor
keamanan. Tabel 2.1 memperlihatkan aturan nilai faktor keamanan untuk
pemula. Patel (1980) menyatakan bahwa desain tegangan yang sama tidak
perlu digunakan ketika faktor keamanan didasarkan pada ultimate stress
sama ketika desain tegangan didasarkan pada batas luluh.
Tujuan menggunakan faktor keamanan adalah untuk menentukan hal
sebagai berikut:
1. Pembebanan maksimum yang akan terjadi pada mesin atau struktur.
2. Memperkirakan kekuatan terhadap material yang digunakan.
3. Distribusi actual stress.
4. Penentuan dimensi dari struktur yang akan kita rancang.
5. Antisipasi terhadap beban berlebih yang mungkin terjadi saat perlakuan
tertentu

12

13

Tabel 2.1. Faktor keamanan menurut tipe pembebanan dan material

B. Kajian Penelitian yang Relevan


Untuk melakukan penelitian ini diperlukan tinjauan terhadap penelitian
yang terdahulu. Selain sebagai acuan, hal ini berguna agar penelitian ini tidak
menyamai penelitian yang terdahulu, berikut contoh penelitian yang sudah
dilakukan antara lain.
1. Ningtyas (2013) melakukan penelitian tentang Analisa Kekuatan Material
Velg Sepeda Motor Jenis Casting Wheel Terhadap Tumbukan dengan
Variasi Kecepatan.
2. Rajarethinam, meneliti tentang Modifikasi dari Desain dan Analisis Velg
Sepeda Motor.
3. Zuliantoni (2010) melakukan penelitian tentang Simulasi Pengujian
Dynamic Radial Fatigue Velg Racing Sepeda Motor dengan Metode
Elemen Hingga.

13

14

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua metode
pengambilan data, yaitu:
1. Metode Literatur
Pengumpulan data yang dilakukan dengan mencari data dari buku,
jurnal maupun internet yang dapat digunakan sebagai landasan teori
dalam menulis laporan ini. Literatur yang digunakan adalah yang
berhubungan dengan metode elemen hingga, komponen sepeda motor dan
otomotif.
2. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah suatu cara pengumpulan data dengan
melakukan pengujian dan mengamati prosesnya serta menulis hasil
pengujiannya (Roestiyah, 2001:80). Data yang diperlukan adalah besar
tegangan maksimum dan minimum yang dihasilkan dari pengujian velg
sepeda motor dengan metode elemen hingga.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Laptop Dell Inspiron 14R

e. Kertas Sinar Dunia A4 2

b. Tetikus

rim

c. Modem Smartfren

f. Tinta Data Print hitam dan

d. Flashdrive

warna

2. Bahan
a. ANSYS

c. Microsoft Office Word

b. CATIA V5R19

14

15

C. Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian


Adapun diagram penelitian dijelaskan sebagai berikut
1. Melakukan tinjauan artikel dan jurnal ilmiah serta pembatasan masalah
agar penelitian tidak terlalu meluas dengan memasukkan parameter yang
telah ditentukan.
2. Melakukan pengambilan data dari sampel yang akan disimulasikan.

15

16

3. Melakukan pemodelan velg OEM (Original Equipment Market) dan


Aftermarket dengan menggunakan software CATIA V5R19 dan ANSYS.
4. Melakukan simulasi dengan metode elemen hingga terhadap desain velg
OEM

(Original

Equipment

Market)

dan

Aftermarket

dengang

menggunakan software CATIA V5R19 dan ANSYS.


5. Melakukan pengambilan data dengan parameter hasil tegangan, deformasi
dan safety factor dari simulasi desain velg OEM (Original Equipment
Market) dan Aftermarket.
6. Melakukan olah data yang telah diperoleh.
7. Menyusun laporan hasil penelitian

pemodelan velg OEM (Original

Equipment Market) dan Aftermarket.

D. Tahapan Pembuatan
Tabel 3.1. Tahapan Pembuatan
No

Kegiatan

Tinjauan Literatur
dan Pembatasan
Masalah

Pengambilan Data

Pemodelan Velg
OEM dan After
Market

Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan


1

Simulasi Finite
Element Method

Hasil Tegangan,
Deformasi dan
Safety Factor

Hasil dan
Pembahasan

16

17

Laporan dari
Artikel Ilmiah

E. Instrumen
Tabel 3.2. Instrumen Penelitian
No.
1
2
3
4

Pemodelan
Velg

Tegangan
(N/m)
Max Min

Displacement
(N)

Safety
Factor

Yield Strength
(N/m)

OEM
Aftermarket
A
Aftermarket
B
Aftermarket
C

F. Uji Coba Desain


Pemodelan akan dibuat dengan menggunakan software CATIA V5R19,
kemudian akan dianalisis dengan metode elemen hingga. Sampel yang dibuat
akan disimulasikan dengan dikenai gaya dari beban kendaraan dan
penumpang sehingga dihasilkan berbagai tegangan, displacement atau
regangan, safety factor dan yield strength.

17

18

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Hasil Simulasi
Berikut merupakan hasil dari simulasi menggunakan metode elemen
hingga pada berbagai tipe velg.
1. Analisa Kekuatan Velg OEM
a. Analisa Tegangan

Gambar 4.1. Tegangan pada Velg OEM dari Hasil Simulasi Elemen
Hingga
Pada gambar 4.1. dapat diketahui bahwa tegangan maksimal dari
hasil simulasi adalah 2,912E+006 Pa; sedangkan untuk tegangan
minimalnya 296,8 Pa. Selain itu dapat diketahui juga bahwa pada
hampir seluruh permukaan velg manampilkan warna biru yang
mengindikasikan tegangan pada velg tersebut masih berada dalam
nilai minimal.

18

19

Nilai tegangan yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan


dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Tegangan
yang lebih tinggi terdapat pada daerah persinggungan antara jari-jari
dengan tromol dan tapak velg, selain itu daerah tapak luar velg yang
terkena pembebanan juga menghasilkan tegangan yang tinggi.
b. Analisa Displacement

Gambar 4.2. Displacement pada Velg OEM dari Hasil Simulasi


Elemen Hingga
Pada gambar 4.2. dapat diketahui bahwa displacement dengan nilai
paling tinggi dari hasil simulasi adalah 0,005699 mm; sedangkan
untuk displacement dengan nilai yang paling rendah adalah 0 mm,
artinya tidak terdapat displacement pada daerah tersebut.
Nilai displacement yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan
dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Pada daerah
tapak velg mengalami displacement yang paling tinggi dengan

19

20

indikasi warna merah dan jingga. Hal ini disebabkan karena pada
tapak velg tersebut merupakan daerah yang terkena pembebanan.
Kemudian pada jari-jari velg mempunyai nilai displacement yang
bervariasi. Pada jari-jari yang semakin dekat dengan tapak velg nilai
displacement-nya semakin besar, sedangkan daerah jari-jari yang
semakin dekat dengan tromol mempunyai nilai displacement yang
semakin rendah.
Pada tromol velg tidak terdapat displacement dikarenakan pada
daerah tersebut beban yang bekerja telah ditahan oleh jari-jari velg.
2. Analisa Kekuatan Velg Aftermarket A
a. Analisa Tegangan

Gambar 4.3. Tegangan pada Velg Aftermarket A dari Hasil Simulasi


Elemen Hingga
Pada gambar 4.3. dapat diketahui bahwa tegangan maksimal dari
hasil simulasi adalah 1,5 E+006 Pa; sedangkan untuk tegangan
minimalnya 399,7 Pa. Selain itu dapat diketahui juga bahwa pada

20

21

hampir seluruh permukaan velg manampilkan warna biru yang


mengindikasikan tegangan pada velg tersebut masih berada dalam
nilai minimal.
Nilai tegangan yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan
dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Tegangan
yang lebih tinggi terdapat pada daerah persinggungan antara jari-jari
dengan tromol dan tapak velg, selain itu daerah tapak luar velg yang
terkena pembebanan juga menghasilkan tegangan yang tinggi.
b. Analisa Displacement

Gambar 4.4. Displacement pada Velg Aftermarket A dari Hasil


Simulasi Elemen Hingga
Pada gambar 4.4. dapat diketahui bahwa displacement dengan nilai
paling tinggi dari hasil simulasi adalah 0,004038 mm; sedangkan
untuk displacement dengan nilai yang paling rendah adalah 0 mm,
artinya tidak terdapat displacement pada daerah tersebut.
Nilai displacement yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan
dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Pada daerah
21

22

tapak velg mengalami displacement yang paling tinggi dengan


indikasi warna merah dan jingga. Hal ini disebabkan karena pada
tapak velg tersebut merupakan daerah yang terkena pembebanan.
Kemudian pada jari-jari velg mempunyai nilai displacement yang
bervariasi. Pada jari-jari yang semakin dekat dengan tapak velg nilai
displacement nya semakin besar, sedangkan daerah jari-jari yang
semakin dekat dengan tromol mempunyai nilai displacement yang
semakin rendah.
Pada tromol velg tidak terdapat displacement dikarenakan pada
daerah tersebut beban yang bekerja telah ditahan oleh jari-jari velg.
3. Analisa Kekuatan Velg Aftermarket B
a. Analisa Tegangan

Gambar 4.5. Tegangan pada Velg Aftermarket B dari Hasil Simulasi


Elemen Hingga
Pada gambar 4.5. dapat diketahui bahwa tegangan maksimal dari
hasil simulasi adalah 2,281E+006 Pa; sedangkan untuk tegangan
minimalnya 1294 Pa. Selain itu dapat diketahui juga bahwa pada
22

23

hampir seluruh permukaan velg manampilkan warna biru yang


mengindikasikan tegangan pada velg tersebut masih berada dalam
nilai minimal.
Nilai tegangan yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan
dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Tegangan
yang lebih tinggi terdapat pada daerah persinggungan antara jari-jari
dengan tromol dan tapak velg, selain itu daerah tapak luar velg yang
terkena pembebanan juga menghasilkan tegangan yang tinggi.
b. Analisa Displacement

Gambar 4.6. Displacement pada Velg Aftermarket B dari Hasil


Simulasi Elemen Hingga
Pada gambar 4.6. dapat diketahui bahwa displacement dengan nilai
paling tinggi dari hasil simulasi adalah 0,002415 mm; sedangkan
untuk displacement dengan nilai yang paling rendah adalah 0 mm,
artinya tidak terdapat displacement pada daerah tersebut.

23

24

Nilai displacement yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan


dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Pada
beberapa daerah tapak velg mengalami displacement yang paling
tinggi dengan indikasi warna merah dan jingga. Hal ini disebabkan
karena pada tapak velg tersebut merupakan daerah yang terkena
pembebanan, daerah tapak velg yang mempunyai nilai displacement
rendah disebabkan karena pada daerah tersebut ditahan oleh jari-jari
velg.
Kemudian pada jari-jari dan tromol velg nilai displacement yang
dihasilkan cukup rendah, dikarenakan pada jari-jari velg tersebut
mempunyai jumlah lebih banyak dari jenis velg lain (10) dan dengan
ukuran yang cukup besar. Pada tromol velg hampir tidak terdapat
displacement yang dihasilkan karena beban yang bekerja telah ditahan
oleh jari-jari velg.
4. Analisa Kekuatan Velg Aftermarket C
a. Analisa Tegangan

Gambar 4.7. Tegangan pada Velg Aftermarket C dari Hasil Simulasi


Elemen Hingga
24

25

Pada gambar 4.7. dapat diketahui bahwa tegangan maksimal dari


hasil simulasi adalah 2,554E+005 Pa; sedangkan untuk tegangan
minimalnya 408,5 Pa. Selain itu dapat diketahui juga bahwa pada
hampir seluruh permukaan velg manampilkan warna biru yang
mengindikasikan tegangan pada velg tersebut masih berada dalam
nilai minimal.
Nilai tegangan yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan
dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Tegangan
yang lebih tinggi terdapat pada daerah persinggungan antara jari-jari
dengan tromol dan tapak velg, selain itu daerah tapak luar velg yang
terkena pembebanan juga menghasilkan tegangan yang tinggi.
b. Analisa Displacement

Gambar 4.8. Displacement pada Velg Aftermarket C dari Hasil


Simulasi Elemen Hingga

25

26

Pada gambar 4.8. dapat diketahui bahwa displacement dengan nilai


paling tinggi dari hasil simulasi adalah 0,0002032 mm; sedangkan
untuk displacement dengan nilai yang paling rendah adalah 0 mm,
artinya tidak terdapat displacement pada daerah tersebut.
Nilai displacement yang semakin tinggi berturut-turut ditunjukkan
dengan warna biru, biru muda, hijau, kuning, dan merah. Pada daerah
tapak velg mengalami displacement yang paling tinggi dengan
indikasi warna merah dan jingga. Hal ini disebabkan karena pada
tapak velg tersebut merupakan daerah yang terkena pembebanan.
Kemudian pada jari-jari velg monoblock mempunyai nilai
displacement yang bervariasi. Pada jari-jari yang semakin dekat
dengan tapak velg nilai displacement nya semakin besar, sedangkan
daerah jari-jari yang semakin dekat dengan tromol mempunyai nilai
displacement yang semakin rendah.
Pada tromol velg tidak terdapat displacement dikarenakan pada
daerah tersebut beban yang bekerja telah ditahan oleh jari-jari velg
monoblock.
5. Tabel Hasil Perhitungan
Tabel 4.1. Hasil Simulasi pada Berbagai Jenis Velg (Tegangan dan Yield
Strength)
No.
1
2
3
4

Pemodelan
Velg
OEM
Aftermarket A
Aftermarket B
Aftermarket C

Tegangan (Pa)

Yield Strength
(Pa)

Safety
Factor

Min
Max
296.8 2.912E+006 5.51485E+007 2.912E+006
399.7
1.5E+006
5.51485E+007 1.5E+006
1294 2.281E+006 5.51485E+007 2.281E+006
408.5 2.554E+005 5.51485E+007 2.554E+005

26

27

B. Pembahasan
1. Displacement

Displacement (mm)

0,006

0,005699

0,005
0,004038

0,004
0,003

Displace
ment

0,002415

0,002
0,001

0,0002032

0
OEM

Jenis Velg

Gambar 4.9. Grafik Displacement terhadap Jenis Velg


Dari gambar 4.9. dapat dilihat bahwa nilai displacement paling
tinggi diperoleh pada jenis velg OEM, sedangkan paling rendah diperoleh
pada jenis velg aftermarket C. Hal ini disebabkan karena perbedaan
desain pada setiap jenis velg. Pada jenis aftermarket C merupakan tipe
monoblock, dimana tapak luar pada velg tertahan oleh desain jari-jari yang
berbentuk piringan. Sedangkan pada velg OEM hanya terdapat jari-jari
penahan tapak luar yang lebih sedikit, dibandingkan dengan jenis
aftermarket A dan B.
2. Safety Factor

Safety Factor

2,50E+02

2,16E+02

2,00E+02
1,50E+02
1,00E+02
5,00E+01
0,00E+00

3,68E+01

1,89E+01
OEM

2,42E+01
B

Jenis Velg

Gambar 4.10. Grafik Safety Factor terhadap Jenis Velg

27

28

Dari gambar 4.10. dapat dilihat bahwa nilai safety factor paling
tinggi diperoleh pada jenis velg aftermarket C, sedangkan paling rendah
diperoleh pada jenis velg OEM. Kemudian Aftermarket A tertinggi ke-2
dan Aftermarket B tertinggi ke-3. Hal ini disebabkan karena displacement
yang berbeda pada setiap jenis velg.
3. Tegangan (minimal dan maksimal)
1400
1294

Tegangan Min (Pa)

1200
1000
800
600
400

408,5

399,7

Tegangan
Min (Pa)

296,8
200
0
OEM

Jenis Velg

Gambar 4.3. Grafik Tegangan Minimal terhadap Jenis Velg


Dari gambar 4.3 dapat dilihat bahwa nilai tegangan minimum
paling tinggi diperoleh pada jenis velg aftermarket B, sedangkan paling
rendah diperoleh pada jenis velg OEM. Hal ini disebabkan karena
perbedaan desain pada setiap jenis velg. Pada jenis aftermarket B
memiliki nilai paling tinggi karena jari-jari yang menahan tapak luar pada
velg memiliki jumlah yang banyak. Sedangkan pada velg OEM hanya
terdapat jari-jari penahan tapak luar yang lebih sedikit, dibandingkan
dengan jenis aftermarket A dan B.

28

29

3,50E+06

Tegangan Max (Pa)

3,00E+06

2,91E+06

2,50E+06
2,28E+06
2,00E+06
1,50E+06

Tegangan
Max (Pa)

1,50E+06

1,00E+06
5,00E+05
2,55E+05
0,00E+00
OEM

Jenis Velg

Gambar 4.4. Grafik Tegangan Maksimal terhadap Jenis Velg


Dari gambar 4.4 dapat dilihat bahwa nilai tegangan maksimum
paling tinggi diperoleh pada jenis velg OEM, sedangkan paling rendah
diperoleh pada jenis velg aftermarket C. Sama halnya dengan grafik
tegangan minimum, dimana disebabkan karena perbedaan desain pada
setiap jenis velg. Pada jenis aftermarket C merupakan tipe monoblock,
dimana tapak luar pada velg tertahan oleh desain jari-jari yang berbentuk
piringan. Sedangkan pada velg OEM hanya terdapat jari-jari penahan
tapak luar yang lebih sedikit, dibandingkan dengan jenis aftermarket A
dan B.
4. Yield Strength
Berdasarkan data yang telah dihasilkan, diketahui bahwa yield
strength pada semua jenis velg mempunyai nilai yang sama. Hal ini
disebabkan karena semua jenis material yang digunakan diasumsikan sama
(Aluminium Alloy 6061).

29

30

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari simulasi yang telah dilakukan, didapati bahwa:
1. Perbandingan kekuatan dari berbagai jenis

velg yang telah

disimulasikan, diperoleh bahwa yield strength memiliki nilai yang


sama. Sedangkan, pada tegangan minimum dihasilkan angka paling
tinggi pada velg aftermarket B dan paling rendah pada velg OEM.
Selain itu, pada tegangan maksimum dihasilkan angka paling tinggi
pada velg OEM dan paling rendah pada velg aftermarket C.
2. Displacement dari hasil permodelan elemen hingga velg jenis OEM
dan aftermarket diperoleh bahwa nilai displacement paling tinggi
diperoleh pada jenis velg OEM, sedangkan paling rendah diperoleh
pada jenis velg aftermarket C.

B. Saran
Setelah melaksanakan simulasi, ada beberapa saran yang dapat
perlu dipertimbangkan, yaitu:
1. Dalam pemilihan jenis velg tidak selalu harus mengutamakan dari segi
penampilan, tetapi juga juga harus mempertimbangkan kekuatan dan
keamanan desain velg.
2. Untuk penelian selanjutnya dengan tema yang sama dapat memberi
variasi pengujian pada material dan pembebanan yang berbeda.

30

31

DAFTAR PUSTAKA
Anonim (2015) Memperbaiki Velg Racing Motor yang Bengkok dan Retak.
Online at http://otozones.blogspot.com/2015/03/memperbaiki-velg-racingmotor-yang-bengkok-dan-retak.html [accessed 10/05/16]
Barkanov, Evgeny. 2001. Introduction to the Finite Element Method. Riga: Riga
Technical University
Dalimunthe, Harri Rusadi. 2014. Desain dan Analisis Velg Mobil Berbasis
Aluminium Alloy. Skripsi. Universitas Sumatera Utara
Gozali, Hendry. 2009. Analisis Industri dan Keunggulan Bersaing Melalui
Pengembangan Resources dan Capabilities dalam Penerapan Economies Of
Scale dan Exferiencee Curve di Industri Manufaktur Velg Alumunium.
Tesis. Universitas Indonesia.
ITT Kanpur. 2009. Finite Element Method. Kanpur: NPTEL
Ningtyas, A.; Lubi, J. 2013. Analisa Kekuatan Material Velg Sepeda Motor Jenis
Casting Wheel Terhadap Tumbukan dengan Variasi Kecepatan. Jurnal
Teknik Pomits Vol. 1, No. 1, (2013) 1-4. Surabaya: Institut Tekknologi
Sepuluh Nopember Surabaya
Nugroho, Y.A.; Satrijo, D, Ir., MT. 2012. Desain dan Analisa Gerbong Kereta Api
Pengangkut Bahan Bakar Premium Dengan Metode Elemen Hingga.
Undergraduate Thesis. Mechanical Engineering Departement, Faculty
Engineering of Diponegoro University.
Patel, R. C. and Pandya, A. D (1980). Machine Design. Vandodara : Acharya
Book Depot
Perbedaan

Jenis

Antar

Velg

Motor

SW

dan

CW.

Online

http://ngemodif.blogspot.com/2014/12/perbedaan-jenis-antar-velg-motorsw-dan.html [accessed 10/05/16]

31

at

32

Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis tahun 1987-2013.


Online

at

http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1413

[accessed

10/05/16]
Purnomo, Endra Yulia, 2013. Studi Bahan Alumunium Velg Merk Sprint dengan
Metode Standard ASTM terhadap Sifat Fisis dan Mekanis. Laporan Tugas
Akhir. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Rajarethinam, P.; Periasamy, K. Modification and Analysis of Motor Cycle Wheel
Spokes. International Journal of Modern Engineering Research (IJMER)
Sukamto.; Bardi, A.J. 2013. Analisis Perpindahan Panas Kampas Rem Pada
Sepeda Motor. Jurnal Teknik Vol.3 No.1/April 2013. ISSN 2088 3676
Wansty, Kurnia. 2015. Velg Pabrikan (OEM) vs. Replika Part I. Online at
http://www.balimaning.com/2015/07/velg-pabrikan-oem-vs-replika-parti.html [accessed 10/0516]
Wansty, Kurnia. 2015. Velg Pabrikan (OEM) vs. Replika Part II. Online at
http://www.balimaning.com/2015/07/velg-pabrikan-oem-vs-replika-partii.html, [accessed 10/05/16]
Zuliantoni. 2010. Simulasi Pengujian Dynamic Radial Fatigue Velg Racing
Sepeda Motor dengan Metode Elemen Hingga. Jurnal Ilmiah Bidang Sains.
Teknologi Murni Disiplin dan Antar Disiplin, Vol II, No. 8, September 2010

32

33

Lampiran
Nama dan Biodata Ketua dan Anggota
a. Ketua Pelaksana Kegiatan
1. Nama Lengkap

: Senthot Dhimas W.R.

2. NIM/NRM

: 5212413038

3. Fakultas/Program Studi

: Teknik/Teknik Mesin S1

4. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

5. Waktu untuk Kegiatan

: 10 jam/minggu

b. Anggota Pelaksana
1. Nama Lengkap

: Naftali Ricky Y

2. NIM/NRM

: 5212413035

3. Fakultas/Program Studi

: Teknik/Teknik Mesin S1

4. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

5. Waktu untuk Kegiatan

: 10 jam/minggu

c. Anggota Pelaksana
1. Nama Lengkap

: Dhimas Moehammad Danial

2. NIM/NRM

: 5212413037

3. Fakultas/Program Studi

: Teknik/Teknik Mesin S1

4. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

5. Waktu untuk Kegiatan

: 10 jam/minggu

d. Anggota Pelaksana

33

34

1. Nama Lengkap

: Fahma Ilmian Syah

2. NIM/NRM

: 5212413039

3. Fakultas/Program Studi

: Teknik/Teknik Mesin S1

4. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

5. Waktu untuk Kegiatan

: 10 jam/minggu

Nama dan Biodata Dosen Pembimbing


a. Nama Lengkap dan Gelar

: Kriswanto S.Pd., M.T.

b. Golongan Pangkat dan NIP

: CPNS/ 198609032015041001

c. Jabatan Fungsional

: Tenaga Pengajar

d. Jabatan Struktural

: Tenaga Pengajar

e. Fakultas/Program Studi

: Teknik/Teknik Mesin

f. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

g. Bidang Keahlian

: Perancangan Teknik

h. Waktu untuk Kegiatan

: 10 jam/minggu

34

35

Rincian Anggaran Penelitian


No.

Jenis Pengeluaran

Biaya (Rp)

Honorarium

2.400.000,-

Bahan habis pakai

Peralatan

Perjalanan

200.000,-

Lain-lain

180.000,-

957.000,3.714.000,-

Jumlah

7.451.000,-

Lampiran 1. Justifikasi Anggaran Penelitian


No.

Uraian

Honorarium
Senthot Dhimas W.
R.
Dhimas Moehammad
D.
Naftali Ricky Y
Fahma Ilmian S.
Jumlah

II

Bahan Habis Pakai


Kertas A4
Ballpoint
Tinta Printer
Lakban
Snack
Makan
Stapler
Kuota Inernet
Jumlah

Volume
3

Perekayasa
pertama
Pembantu
peneliti
Pembantu
peneliti
Pembantu
peneliti

Harga
Satuan

Jumlah

Pajak

5
(3x4)

Jumlah
setelah
Pajak
7
(5-6)

30

jam

20000

600000

600000

30

jam

20000

600000

600000

30

jam

20000

600000

600000

30

jam

20000

600000
2400000

600000
2400000

2
8
2
1
12
12
1
4

rim
pcs
set
pcs
dos
dos
pcs
pcs

40000
2000
34000
13000
10000
20000
20000
100000

80000
16000
68000
13000
120000
240000
20000
400000
957000

80000
16000
68000
13000
120000
240000
20000
400000
957000

35

36

III

IV

Peralatan
Penunjang
Jangka Sorong Digital
Vernier Bevel
Protractor
Mouse
Modem
Flashdrive
Velg OEM
Velg AM
Jumlah

pcs

735000

735000

735000

1
1
1
2
1
3

pcs
pcs
pcs
pcs
pcs
pcs

324000
156000
399000
50000
800000
400000

324000
156000
399000
100000
800000
1200000
3714000

324000
156000
399000
100000
800000
1200000
3714000

Perjalanan
Transport
Jumlah

kali

50000

200000
200000

200000
200000

Lain-lain
Pembuatan laporan
Jumlah

eks

30000

180000
180000

180000
180000

7451000

7451000

Jumlah

36

37

Lampiran

Perhitungan Angka Safety Factor:


1. Safety Factor OEM

2. Safety Factor Aftermarket A

3. Safety Factor Aftermarket B

4. Safety Factor Aftermarket C

37

38

38