Anda di halaman 1dari 61

UNIVERSITAS INDONESIA

PRODUKSI KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT KOPI


MENGGUNAKAN AKTIVASI KIMIA KALIUM KARBONAT

SKRIPSI

ADI PRASETYO
1006773206

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
DEPOK
JUNI 2014

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

HALAMAN JUDUL
UNIVERSITAS INDONESIA

PRODUKSI KARBON AKTIF DARI LIMBAH KULIT KOPI


MENGGUNAKAN AKTIVASI KIMIA KALIUM KARBONAT

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh


gelar Sarjana Teknik Kimia

ADI PRASETYO
1006773206

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
DEPOK
JUNI 2014

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

ii

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:


Nama

: Adi Prasetyo

NPM

: 100673206

Program Studi : Teknik Kimia


Judul Skripsi : Produksi Karbon Aktif dari Limbah Kulit Kopi Menggunakan
Aktivasi Kimia Kalium Karbonat

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima


sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Indonesia

DEWAN PENGUJI

Pembimbing: Prof. Ir. Mahmud Sudibandriyo, M.Sc, PhD.

Penguji 1: Dr. Ir. Asep Handaya Saputra, M.Eng

Penguji 2: Dr. Ir. Praswasti PDK Wulan, M.T

Ditetapkan di : Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, Depok


Tanggal

: 25 Juni 2014

iii

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan anugerah-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah skripsu yang berjudul Produksi Karbon Aktif
dari Limbah Kulit Kopi Menggunakan Aktivasi Kimia Kalium Karbonat.
Makalah skripsi ini dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menjadi
Sarjana Teknik di Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Indonesia.
Penyelesaian makalah skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan
dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis ingin menyampaikan ucapan dan rasa
terima kasih kepada :
1. Orang tua selaku pendukung utama, baik materi maupun moral, yang telah
memberikan doa, semangat, dan dukungan kepada penulis
2. Bapak Prof. Ir Mahmud Sudibandriyo M.Sc, Ph.D selaku dosen pembimbing
skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, masukan,
diskusi, dan persetujuannya sehingga makalah skripsi ini dapat diselesaikan.
3. Seluruh dosen Departemen Teknik Kimia yang telah mengajarkan dan
memberikan ilmu, baik di dalam perkuliahan maupun di luar.
4. Ir. Yuliusman M.Eng. selaku koordinator yang telah menuntun dan
mengarahkan penulis selama proses penyusunan makalah skripsi ini.
5. Rekan satu penelitian, M.Ikhsan A, Annisa Y, Firdhauzi K R atas dukungan
dan kerjasamanya selama ini sehingga makalah skripsi ini dapat selesai.
6. Teman-teman 2010 yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan
moral dan hiburannya yang diberikan selama ini.
7. Semua pihak yang membantu, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa makalah skripsi ini masih banyak memiliki
kekurangan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat
memperbaiki makalah ini. Semoga makalah skripsi ini dapat bermanfaat bagi
banyak pihak.
Depok, Juni 2014

Penulis
iv

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI


TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di


bawah ini
Nama

: Adi Prasetyo

NPM

: 1006773206

Program Studi : Teknik Kimia


Departemen

: Teknik Kimia

Fakultas

: Teknik

Jenis Karya

: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Produksi Karbon Aktif dari Limbah Kulit Kopi
Menggunakan Aktivasi Kimia Kalium Karbonat
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif

ini,

Universitas

Indonesia

berhak

menyimpan,

mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),


merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan
nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di

: Depok

Pada tanggal

: 25 Juni 2014

Yang menyatakan,

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

ABSTRAK

Nama
: Adi Prasetyo
Program Studi : Teknik Kimia
Judul
: Produksi Karbon Aktif dari Limbah Kulit Kopi Menggunakan
Aktivasi Kimia Kalium Karbonat
Penelitian ini membuat karbon aktif dari limbah kulit kopi karena sampai saat ini
pemanfaatan limbah kulit kopi belum maksimum. Aktivasi yang digunakan adalah
aktivasi kimia menggunakan Kalium Karbonat karena berdasarkan penelitianpenelitian sebelumnya, luas permukaan yang dihasilkan dapat bersaing dengan
activating agent lain. Variasi yang dilakukan adalah variasi rasio massa activating
agent/massa bahan baku 1/1, 3/2, dan 2/1 dan variasi suhu 600C, 700C, dan
800C. Luas permukaan diperoleh dari konversi bilangan iod dengan hasil
tertinggi adalah 891 m2/gram yang didapatkan dari suhu aktivasi 800C dan rasio
impregnasi 3/2. Sebagai pembanding, luas permukaan yang diperoleh dari aktivasi
fisika menggunakan CO2 adalah 176 m2/gram.
Kata kunci
permukaan

: Kabon aktif, Kulit kopi, Kalium karbonat, Bilangan iod, Luas

vi

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

ABSTRACT

Name
Major
Title

: Adi Prasetyo
: Chemical Engineering
: Production of Activated Carbon from Coffee Shell Waste Using
Chemical Activation Potassium Carbonate

This research aims to produce activated carbon from coffee shell waste due to
utilization of coffee shell waste that far from maximum. Activation that will be
used in this research is chemical activation using Potassium Carbonate because in
previous researches show that surface area obtained by this activating agent can
compete with other activating agent. The variation in this research is impregnation
ratio and temperature. The impregnation ratio is 1/1, 3/2, and 2/1 while the
temperature variation is 600C, 700C, and 800C. The surface area is obtained by
conversion of iod number with the highest result is 891 m2/gram which produced
at temperature 800C and impregnation ratio 3/2. Physical activation using CO2 is
done for comparison and obtains surface area 176 m2/gram.
Keywords
Surface area

: Activated carbon, Coffee shell, Potassium carbonate, Iod number,

vii

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS
AKHIR ................................................................................................................... v
ABSTRAK ............................................................................................................ vi
ABSTRACT ......................................................................................................... vii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2
Rumusan Masalah ............................................................................................ 3
1.3
Tujuan Penelitian .............................................................................................. 3
1.4
Batasan Masalah ............................................................................................... 3
1.5
Sistematika Penulisan ...................................................................................... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 5
2.1
Adsorpsi ............................................................................................................. 5
2.1.1
Parameter Adsorpsi .................................................................................. 6
2.1.2
Jenis Adsorben .......................................................................................... 7
2.2
Karbon Aktif ..................................................................................................... 7
2.2.1. Struktur Fisika dan Kimia Karbon Aktif ............................................... 9
2.2.2. Proses Pembuatan ................................................................................... 10
2.3
Kulit Kopi ........................................................................................................ 15
2.4
Karakterisasi Luas Permukaan dengan Metode Bilangan Iod .................. 17
BAB 3 METODE PENELITIAN ....................................................................... 19
3.1
Alat dan Bahan Penelitian ............................................................................. 19
3.2.1
Alat ........................................................................................................... 19
3.2.2
Bahan ....................................................................................................... 19
3.2
Diagram Alir Penelitian ................................................................................. 21
3.2.1
Diagram Pembuatan Karbon Aktif....................................................... 21
3.2.2
Diagram Karakterisasi Bilangan Iod .................................................... 22
3.3
Prosedur Pembuatan Karbon Aktif .............................................................. 23
3.3.1
Variabel Percobaan ................................................................................ 23
3.3.2
Prosedur Percobaan ................................................................................ 23
3.3.3
Prosedur Pengambilan Sampel ............................................................. 25
3.3.4
Prosedur Analisis .................................................................................... 25
3.4
Metode Bilangan Iod...................................................................................... 25
3.4.1
Pembuatan Larutan Iodin ...................................................................... 25
3.4.2
Pembuatan larutan Na2S2O3 .................................................................. 25
3.4.3
Pembuatan Larutan Amilum ................................................................. 26
3.4.4
Analisis dengan Metode Bilangan Iod ................................................. 26
viii

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 27


4.1
Pembuatan Karbon Aktif ............................................................................... 27
4.1.1
Proses Pencampuran dengan Activating Agent dan Karbonisasi ..... 27
4.1.2
Proses Aktivasi ....................................................................................... 31
4.1.3
Proses Pencucian dan Pengeringan ...................................................... 35
4.1.4
Burn-Off ................................................................................................... 37
4.2
Karakterisasi dengan Metode Bilangan Iod ................................................ 39
4.3
Karakterisasi Kondisi Optimum Karbon Aktif........................................... 43
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 45
5.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 45
5.2
Saran................................................................................................................. 45
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 46
LAMPIRAN ......................................................................................................... 49

ix

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1
Tabel 2. 2
Tabel 4. 1
Tabel 4. 2
Tabel 4. 3
Tabel 4. 4
Tabel 4. 5
Tabel 4. 6
Tabel 4. 7
Tabel 4. 8

Perbandingan Lama aktivasi dengan luas permukaan arang aktif .. 11


Tabel penelitian pembuatan karbon aktif ......................................... 13
Yield Karbonisasi ............................................................................. 30
Hasil Pengamatan pada Reaktor Aktivasi ........................................ 33
Yield Aktivasi .................................................................................. 34
Perubahan Massa Sebelum dan Setelah Pencucian dan Yield Total 37
Persen Burn Off................................................................................ 38
Bilangan Iod Karbon Aktif Kulit Kopi ............................................ 40
Konversi Bilangan Iod ke BET ........................................................ 41
Perbandingan Karbon Aktif Kulit Kopi dengan Karbon Aktif lain. 44

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Struktur permukaan karbon aktif sebelum dan sesudah karbonisasi


......................................................................................................... 8
Gambar 2. 2 (a) Lapisan heksagonal dan struktur kristalin karbon aktif (b)
Ilustrasi Skema Struktur Pori Karbon Aktif .................................... 9
Gambar 2. 3 Struktur Kimia Karbon Aktif ........................................................ 10
Gambar 2. 4 Ilustrasi Aktivasi Kimia Kalium Karbonat ................................... 12
Gambar 2. 5 Ilustrasi Pembentukan pori oleh CO2 ............................................ 15
Gambar 2. 6 Struktur Kopi. 1. Epicarp, 2.disk/navel, 3.mesocarp, 4.endocarp
(coffee hull), 5. Spermoderm, 6. Embrio ...................................... 16
Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian Pembuatan Karbon Aktif ....................... 21
Gambar 3. 2 Reaktor Aktivasi............................................................................ 22
Gambar 3. 3 Diagram Alir Karakterisasi Bilangan Iod ..................................... 22
Gambar 4. 1 Kulit Kopi Robusta ....................................................................... 28
Gambar 4. 2 Kulit Kopi setelah Karbonisasi ..................................................... 30
Gambar 4. 3 Karbon Aktif ................................................................................. 32
Gambar 4. 4 % Burn Off Karbon Aktif Kulit Kopi ........................................... 38
Gambar 4. 5 Pengaruh Rasio Impregnasi dan Suhu terhadap Bilangan Iod ...... 42

xi

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Adsorpsi adalah suatu proses separasi dimana terjadi penjerapan antara

fluida dengan permukaan padatan, yang biasa disebut adsorben. Proses adsorpsi
sendiri banyak digunakan untuk proses pemisahan suatu zat yang tidak diinginkan
dengan menggunakan material padatan sebagai adsorben sehingga zat yang tidak
diinginkan tersebut dapat dihilangkan dari suatu produk tertentu. Ada banyak
bahan yang dapat digunakan sebagai adsorben, yang paling umum dan banyak
digunakan adalah karbon aktif.
Karbon aktif adalah karbon yang diaktivasi pada suhu tinggi sehingga
memiliki luas permukaan tinggi karena adanya pori pada permukaan karbon dan
dapat digunakan sebagai bahan penjerap atau adsorben. Daya jerap dari karbon
aktif ini bergantung pada kadar karbon dan luas permukaannya. Proses adsorpsi
menggunakan karbon aktif ini dapat diaplikasikan ke dalam berbagai hal,
misalnya penjernihan air, pemurnian gas, pemurnian emas, penghilang warna atau
bau pada makanan.
Di dunia, kebutuhan karbon aktif terbilang besar. Hal ini ditunjukkan
dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap karbon aktif lebih dari 10% per
tahunnya dan diduga mencapai 1,9 juta metrik ton pada tahun 2016 dengan
rincian 39% untuk Asia/Pasifik, 33% Amerika Utara, 12% Eropa Barat, serta 16%
untuk negara lainnya (Freedonia Group, 2012). Data tersebut menunjukkan bahwa
karbon aktif sangat dibutuhkan di dunia sehingga dibutuhkan bahan pembuat
karbon aktif yang lebih efektif, mudah didapat, dan dapat diperbaharui
Terdapat banyak bahan yang dapat digunakan untuk membuat karbon
aktif, misalnya tempurung kelapa, batu bara, bagas tebu, kelapa sawit, dan lainlain. Salah satu bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kulit kopi.
Kulit kopi merupakan salah satu limbah terbesar yang dihasilkan dari industri
kopi di Indonesia. Di Indonesia, limbah kulit kopi ini belum termanfaatkan secara
baik dan maksimum. Oleh karena itu, potensi pemanfaatan kulit kopi ini untuk
menjadi bahan pembuat karbon aktif sangatlah besar dengan kandungan karbon
pada kulit kopi sebesar 56,99 % massa (Lia Indah Syafira, 2012).
1

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar ketiga didunia dengan


nilai produksi 600.000 ton per tahun dari 1,3 juta hektar kebun rakyat yang
diantaranya tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Bali, NTT, Sulawesi Selatan, hingga Papua. Dengan angka ini Indonesia
telah menyuplai 7% dari produksi kopi dunia (ICF, 2012). Dengan demikian,
pemanfaatan kulit kopi sebagai bahan karbon aktif adalah salah satu solusi dalam
mengatasi limbah kulit kopi dan menjawab permasalahan bahan baku karbon aktif
yang dapat diperbaharui.
Aktivasi karbon aktif dapat dilakukan secara fisika atau kimia.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, aktivasi kimia karbon
aktif akan menghasilkan luas permukaan per satuan massa karbon yang lebih
besar karena zat kimia yang digunakan akan mengikis permukaan karbon dan
menambah atau membuat pori baru sehingga luas permukaan akhir yang akan
diperoleh lebih besar. Pada penelitian ini akan digunakan activating agent Kalium
Karbonat (K2CO3).
Apabila melihat penelitian-penelitian sebelumnya, activating agent yang
umum digunakan adalah ZnCl2, NaOH, KOH, H3PO4. Akan tetapi, alkali
hidorksida (KOH dan NaOH), bersifat korosif, berbahaya, dan mahal (LilloRodeans dkk, 2004), sedangkan ZnCl2 tidak ramah lingkungan dan menimbulkan
masalah pada proses pembuangannya (Guo dan Lua, 2002) sehingga Kalium
Karbonat (K2CO3) digunakan sebagai activating agent dengan pertimbangan zat
ini ramah lingkungan, tidak berbahaya, dan tidak merusak (Donni Adinata dkk.,
2005). Selain itu, pada kondisi tertentu, yaitu pembuatan karbon aktif dari lignin,
aktivasi dengan K2CO3 menghasilkan karbon aktif dengan luas permukaan lebih
tinggi dibandingkan aktivasi menggunakan KOH, NaOH, ZnCl2, atau H3PO4,
pada suhu karbonisasi 700 sampai 900C (Junichi Hayashi dkk., 2000). Oleh
karena itu, pembuatan karbon aktif dengan menggunakan kulit kopi sebagai bahan
baku dan K2CO3 sebagai activating agent yang dilakukan pada suhu tinggi
diharapkan dapat memperoleh karbon aktif dengan luas permukaan per satuan
massa tinggi.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah pada

penelitian ini adalah sebagai berikut:


1. Apakah karbon aktif berbahan baku kulit kopi dengan menggunakan
activating agent K2CO3 pada suhu tinggi mampu menghasilkan luas
permukaan tinggi?
2. Bagaimana pengaruh rasio activating agent dengan massa bahan baku dan
suhu aktivasi ,pada metode aktivasi kimia, terhadap luas permukaan karbon
aktif kulit kopi?

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan karbon aktif berbahan

baku kulit kopi dengan aktivasi kimia menggunakan K2CO3 dan menganalisis
kondisi optimum yang terdiri dari rasio massa activating agent dengan massa
bahan baku dan suhu aktivasi pada metode aktivasi kimia sehingga diperoleh
karbon aktif yang memiliki luas permukaan per satuan massa tinggi sesuai dengan
syarat minimum Standar Industri Indonesia (SII) No. 0258-79 Departemen
Perindustrian Republik Indonesia

1.4

Batasan Masalah
Berikut ini merupakan penjabaran dari batasan masalah penelitian:

1. Penelitian dilakukan dengan menggunakan reaktor aktivasi di Laboratorium


Energi Berkelanjutan, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas
Indonesia
2. Jenis kulit kopi yang digunakan adalah kulit kopi robusta.
3. Proses aktivasi menggunakan aktivasi kimia dengan K2CO3 sebagai activating
agent dan dialirkan gas nitrogen (N2)
4. Aktivasi menggunakan gas CO2 sebagai pembanding dilakukan pada suhu
700C
5. Tekanan reaktor yang digunakan ialah tekanan atmosferik (P = 1 atm).
6. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah luas permukaan karbon aktif yang
dihasilkan dengan menggunakan metode bilangan Iod
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

7. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah jenis kulit kopi, massa karbon
aktif, laju alir nitrogen, suhu dan waktu karbonisasi, waktu aktivasi dan
ukuran karbon aktif
8. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah rasio massa activating agent
dengan bahan baku dan suhu aktivasi.

1.5

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam skripsi ini terbagi menjadi lima bab, yaitu:
BAB 1: PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan latar belakang, perumusan masalah, tujuan
penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan.
BAB 2: TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan dasar teori yang berkaitan dengan penelitian untuk
menjelaskan masalah-masalah yang berhubungan dengan penelitian ini
BAB 3: METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan metode penelitian dan langkah-langkah yang akan
dilakukan untuk memudahkan dalam pemecahan masalah tujuan dapat
terpenuhi.
BAB 4: HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas hasil penelitian dan analisis terhadap hasil penelitian
yang diperoleh. Hasil yang akan dibahas pada bab ini adalah proses
pencampuran, karbonisasi, aktivasi, pencucian, dan karakterisasi
BAB 5: KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini menjelaskan kesimpulan yang didapat dari penelitian ini dan
saran-saran terhadap penelitian berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Adsorpsi
Adsorpsi termasuk salah satu jenis proses separasi yang melibatkan dua

fasa, padat dan cair/gas (fluida). Adsorpsi ini merupakan suatu proses penyerapan
fluida pada permukaan padatan. Penyerapan yang terjadi pada adsorpsi ini hanya
terjadi di permukaan padatan saja. Adsorpsi banyak digunakan sebagai proses
separasi untuk memisahkan material tertentu dari suatu fluida sehingga setelah
melalui proses adsorpsi ini diperoleh produk yang lebih murni dari sebelumnya.
Selain itu, aplikasi adsorpsi juga banyak digunakan di industri kimia unutuk
berbagai hal, misalnya penjernihan air, pemurnian air, penghilang warna atau bau
pada industri makanan, ataupun sebagai penyimpan energi (gas storage).
Fluida pada proses adsorpsi dapat berupa gas atau cairan. Pada fluida gas,
driving force adsorpsi adalah rasio tekanan parsial pada fluida dan tekanan uap
pada padatan (adsorben), sedangkan pada fluida cair adalah rasio konsentrasi
dengan kelarutan senyawa.
Terdapat dua komponen utama yang terlibat dalam peristiwa adsorpsi ini,
yaitu adsorben dan adsorbat. Adsorben merupakan zat padat yang akan menjadi
tempat menempelnya/terjerapnya molekul fluida, sedangkan adsorbat merupakan
fluida yang teradsorpsi. Adsorbat pada umumnya merupakan zat pengotor yang
tidak diinginkan dalam suatu fluida sehingga salah satu cara menghilangkannya
adalah adsorpsi. Adsorben yang paling umum diguanakan dalam proses adsorpsi
adalah karbon aktif yang juga akan dibuat dalam penelitian ini. Secara umum,
adsorpsi dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Adosorpsi Fisika
Adsorpsi fisika ini terjadi akibat adanya gaya Van der Waals. Apabila
daya tarik menarik antara zat terlarut dengan adsorben lebih besar dari daya tarik
menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya, maka zat yang terlarut akan
teradsorpsi oleh adsorben pada permukaannya. Adsorpsi ini biasanya terjadi pada
suhu rendah. Proses adrorpsi fisika terjadi secara fisika sehingga tidak
membutuhkan energi aktivasi. Gaya tarik atau gaya yang menahan molekul fluida

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

pada permukaan adsorbent relatif lemah sehingga dapat diputuskan dengan relatif
mudah dengan cara pemanasan.
2. Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimia merupakan reaksi yang terjadi antara zat padat dengan zat
terlarut yang teradsorpsi. Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya yang
jauh lebih besar daripada adsorpsi fisika. Menurut Langmuir, molekul teradsorpsi
ditahan pada permukaan oleh gaya valensi yang tipenya sama dengan yang terjadi
antara atom-atom dalam molekul. Ikatan yang terjadi pada adsorpsi kimia
merupakan ikatan kimia yang lebih kuat jika dibandingkan dengan ikatan pada
adsorpsi fisika. Dengan adanya ikatan kimia yang lebih kuat, pada permukaan
adsorbent akan terbentuk suatu lapisan atau layer.

2.1.1

Parameter Adsorpsi
Adsorpsi melibatkan dua komponen utama, yaitu adsorben dan adsorbat.

Karakteristik masing-masing komponen ini akan dapat mempengaruhi kinerja dari


proses adsorpsi itu sendiri. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang karakteristik
adsorben yang dapat mempengaruhi kinerja adorpsi.
1. Kondisi Operasi
a. Suhu
Adsorpsi merupakan proses yang terjadi secara eksotermis dimana
pada saat molekul adsorbat menempel pada permukaan adsorben terjadi
pembebasan sejumlah energi. Oleh karena itu, meningkatnya suhu pada proses
ini akan mengurangi jumlah molekul yang teradsorp, sebaliknya dengan
penurunan suhu maka kemampuan adsorpsi akan meningkat
b. Tekanan
Tekanan operasi akan mempengaruhi adsorpsi baik adsorpsi fisika
maupun kimia. Pada adsorpsi fisika, kemampuan adsorpsi atau jumlah
molekul adsorbat yang teradsorp akan meningkat dengan peningkatan
tekanan, sebaliknya untuk adsorpsi kimia dengan adanya peningkatan tekanan
maka molekul adsorbat yang teradsorp akan berkurang.
2. Karakteristik Adsorben
a. Luas Permukaan dan Pori
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Luas permukaan dan pori adsorben sangat berkaitan karena dengan


bertambahnya pori maka luas permukaan suatu adsorben juga akan bertambah.
Luas permukaan ini akan berpengaruh pada area terjadinya adsorpsi atau area
menempelnya adsorbat pada permukaan adsorben. Semakin besar luas
permukaan adsorben maka semakin banyak pula molekul adsorbat yang dapat
menempel pada permukaan adseorben. Oleh karena itu, luas permukaan dan
pori adsorben merupakan salah satu factor utama dakam proses adsorpsi.
b. Konsentrasi Adsorben
Adosrben merupakan komponen yang melakukan adosrpsi sehingga
konsentrasi adosorben yang tinggi akan meningkatkan daya adsorpsi terhadap
suatu fluida.
c. Kepolaran Adsorben
Kepolaran adsorben memiliki peran yang sama seperti perannya dalam
kelarutan suatu fluida. Jika adsorben yang digunakan memiliki sifat polar
maka adsorbat yang juga bersifat polar akan lebih mudah teradsorpsi
dibandingkan dengan adsorpsi yang bersifat non-polar.

2.1.2

Jenis Adsorben
Terdapat berbagai jenis adsorben, berdasarkan komponen penyusunnya,

yang dapat digunakan dalam adsorpsi misalnya, adsorben yang mengandung


oksigen, karbon, atau polimer. Masing-masing jenis adsorben tersebut memiliki
karakterisitik dan tipe yang berbeda. Adosrben yang umum digunakan adalah
silica gel, zeolite, dan karbon aktif. Pada makalah ini, adsorben yang akan dibahas
lebih lanjut adalah karbon aktif. Karbon aktif dipilih sebagai adsorben karena
memiliki luas permukaan yang lebih tinggi dibandingkan adsorben lain, seperti
silika gel atau zeolite, sehingga dapat mengadsorpsi molekul lebih banyak
(Mahmud Sudibandriyo dan Lydia, 2011).

2.2

Karbon Aktif
Karbon aktif adalah karbon yang telah teraktivasi, baik fisika maupun

kimia, sehingga memiliki luas permukaan besar. Luas permukaan merupakan


salah satu parameter penting dalam hal adsorpsi menggunakan karbon aktif karena
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

luas permukaan menunjukkan area kontak antara karbon aktif dan fluida yang
akan dimanfaatkan untuk tempat terjadinya adsorpsi sehingga semakin besar luas
permukaan suatu karbon aktif maka akan semakin besar juga area terjadinya
proses adsorpsi.
Karbon aktif dapat dibuat dari berbagai macam bahan baku, seperti
tempurung kelapa, batu bara, bagas tebu, kelapa sawit, jerami padi, bambu, dan
lain-lain. Pembuatan karbon aktif dari bahan baku tersebut dimungkinkan karena
bahan-bahan tersebut mengandung karbon. Pada penelitian ini akan digunakan
kulit kopi sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif.
Kegunaan karbon aktif dalam industri dapat berupa pemurnian gas,
penyaring atau penghilang bau pada industri makanan ataupun obat, penyaring air,
dan penyimpan energi (gas adsorptive storage) (Liou, 2010).

Gambar 2. 1 Struktur permukaan karbon aktif sebelum dan sesudah karbonisasi (Marsh, Harry.
Activated Carbon)

Gambar 2.1 menunjukkan struktur permukaan karbon aktif sebelu dan


setelah dilakukan karbonisasi. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa setelah
diaktivasi, permukaan karbon aktif akan tidak beratuan dan membentuk pori
sehingga luas permukaan dari karbon aktif meningkat. Peningkatan luas
permukaan karbon aktif ini akan berdampak pada area kontak adsorpsi yang lebih
besar.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

2.2.1. Struktur Fisika dan Kimia Karbon Aktif


Struktur molekul karbon aktif tersusun atas atom-atom karbon yang
membentuk kristalin kecil dan terikat secara kovalen yang membentuk tatanan
heksagonal. Gambar 2.2 menunjukkan struktur grafit karbon aktif.

(a)

(b)

Gambar 2. 2 (a) Lapisan heksagonal dan struktur kristalin karbon aktif (b) Ilustrasi Skema
Struktur Pori Karbon Aktif (Marsh, Harry. 2006, Manocha Satish, 2003)

Secara umum, bentuk fisik dari karbon aktif adalah serbuk atau granular.
Perbedaan bentuk ini akan mempengaruhi aplikasi dari karbon aktif itu sendiri,
misalnya karbon aktif serbuk digunakan untuk adsorpsi fluida cair, sedangkan
karbon aktif granular digunakan untuk adsorpsi fluida gas. Karbon aktif serbuk
memiliki ukuran partikel yang lebih kecil jika dibandingkan dengan karbon aktif
granularr, yaitu 5-10 m untuk serbuk dan 0,81 mm untuk granular. Selain
ukuran partikel, karbon aktif juga memiliki pori dengan ukuran yang berbedabeda pula. Jenis-jenis pori tersebut adalah mikropori, mesopori, dan makropori
(Marsh, H. 2006).
Selain atom C, atom-atom karbon aktif juga terdiri dari atom H dan O
yang terikat secara kimia membentuk gugus fungsional yang akan mempengaruhi
kemampuan karbon aktif dalam mengadsorpsi. Gugus fungsi pada karbon aktif
diperoleh dari bahan baku atau terbentuk selama proses aktivasi. Gugus fungsi ini
membuat permukaan karbon aktif reaktif secara kimiawi dan mempengaruhi sifat
adsorpsinya (Murti, 2008).

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

10

Gambar 2. 3 Struktur Kimia Karbon Aktif (Sudibandriyo, M. 2003)

2.2.2. Proses Pembuatan


Secara garis besar, proses pembuatan karbon aktif terdiri dari tiga tahap :
1. Proses Dehidrasi
Dehidrasi merupakan proses penghilangan kandungan air dalam bahan
baku karbon aktif dengan memanaskannya dalam oven sampai didapatkan
massa yang konstan sehingga proses karbonisasi dapat berjalan lebih baik.
2. Proses Karbonisasi
Karbonisasi adalah proses pembuatan arang karbon dari bahan baku
dengan cara pemanasan pada suhu tertentu sehingga unsur selain karbon dan
pengotor-pengotor

lain

akan

hilang

yang

menyebabkan

pori-pori

terbentuk.terbuka.
3. Proses Aktivasi
Aktivasi karbon adalah proses untuk menghilangkan komponen yang
menutupi pori karbon atau juga membuat pori baru dengan reaksi oksidasi
sehingga pori-pori karbon akan terbuka lebih sempurna dan luas permukaan
bertambah. Pada penelitian ini akan dilakukan tahap aktivasi kimia
menggunakan larutan K2CO3 dan dialirkan gas nitrogen, serta aktivasi fisika
menggunakan gas CO2 sebagai pembanding.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

11

Tabel 2. 1 Perbandingan Lama aktivasi dengan luas permukaan arang aktif (Pari,
Gustan dkk)

Lama Aktivasi (min.)

Iodin (mg/g)

Luas permukaan (m2/g)

30

780,3

456,4

60

987

1028,6

90

1003

1046,3

120

880,1

563,45

c. Aktivasi Kalium Karbonat


Aktivasi menggunakan Kalium Karbonat dilakukan dengan cara
merendam karbon aktif dengan larutan Kalium Karbonat sehingga
permukaan dari karbon aktif akan terkikis/tergerus dan menimbulkan pori
yang akan menambah luas permukaan karbon aktif. Aktivasi ini dilakukan
dengan rasio dan suhu tertentu.
Pada aktivasi kimia, terjadi reaksi kimia dimana reaksi ini
menyebabkan pori pada karbon semakin besar sehingga luas permukaan
semakin besar pula. Aktivasi menggunakan activating agent, pada
umumnya memiliki hasil luas permukaan yang lebih besar pada kondisi
suhu yang lebih rendah sehingga pada penelitian ini akan dilakukan
pembuatan karbon aktif dengan aktivasi kimia. Activating agent yang
sering digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya adalah KOH,
ZnCl2, NaOH, H3PO4, dan K2CO3.
Pada penelitian ini akan dilakukan aktivasi menggunakan Kalium
Karbonat sebagai activating agent. Tabel 2.2 di bawah memberikan
gambaran dari penelitian-penelitian yang sudah pernah dilakukan dan
memiliki hubungan dengan penelitian yang akan dilakukan sekarang.
Tabel tersebut juga memperlihatkan hasil penelitiannya yang berupa luas
permukaan karbon aktif dari bahan baku ataupun aktivasi yang berbeda.
Apabila dilihat, karbon aktif berbahan baku kopi juga dapat menghasilkan
luas permukaan yang tinggi dan dapat bersaing dengan karbon aktif
berbahan baku lain. Selain itu, dengan melihat hasil penelitian yang
dilakukan oleh Junichi Hayashi, Atsuo Kazehaya, dan kawan-kawan pada
tahun 2000, terlihat bahwa pada kondisi tertentu, aktivasi dengan
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

12

menggunakan Kalium Karbonat mencapai hasil paling tinggi jika


dibandingkan dengan aktivasi menggunakan activating agent lain.
Proses aktivasi kimia dilakukan dengan suhu yang telah ditentukan
selama periode waktu 90 menit. Pemilihan waktu aktivasi ini didasarkan
pada data sebelumnya yang menunjukkan bahwa pada waktu aktivasi 90
menit menghasilkan luas permukaan karbon aktif paling tinggi. Pada
proses aktivasi kimia ini, larutan K2CO3 akan mengikis permukaan karbon
aktif sehingga membentuk pori pada karbon aktif tersebut. Pengikisan ini
disebabkan oleh terjadinya reaksi antara larutan K2CO3 dengan ikatan
CH- dan CH2- yang terkandung dari bahan baku karbon aktif.
Mekanisme reaksi antara larutan K2CO3 dengan kandungan selulosa
tersebut adalah sebagai berikut (Chunlan Lu, et.al., 2010):
K 2 CO3 + CH2 K 2 O + 2CO + H2

(2.1)

K 2 O + CH2 2K + CO + H2

(2.3)

K 2 CO3 + 2 CH 2K + 3CO + H2

(2.2)

2K 2 O + 2 CH 4K + 2CO + H2

(2.4)

Reaksi (2.1) dan (2.2) akan terjadi secara sempurna setelah proses
karbonisasi atau pada saat proses aktivasi berlangsung dan akan berlanjut
ke reaksi (2.3) dan (2.4). Ilustrasi pembentukan pori oleh K2CO3
digambarkan oleh Gambar 2.4.

Gambar 2. 4 Ilustrasi Aktivasi Kimia Kalium Karbonat

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

13
Tabel 2. 2 Tabel penelitian pembuatan karbon aktif

No.
1

Bahan Baku

Metode Aktivasi

Hasil, BET

Literatur

Lignin

Diaktivasi menggunakan 4 activating agent yang berbeda.

Suhu 900C:

Junichi Hayashi, dkk.. 2000. Preparation of

Dilakukan pengaliran gas N2 selama 1 jam.

K2CO32000 m2/gram;

activated carbon from lignin by chemical

KOH1400 m2/gram;

activation

NaOH dan Na2CO3800


m2/gram
2

Coffee Shell

Coffee Waste

Pirolisis pada suhu 800C dan 900C dan aktivasi

Suhu 800C:

Yun Ju Hwang, dkk.. 2006. Pyrolytic carbon

(pembentukan pori) menggunakan KOH dan ZnCl2

KOH2589.1 m2/gram

derived from coffee shells as anode materials for

ZnCl2172.3 m2/gram

lithium batteries

Aktivasi kimia menggunakan KOH dan ZnCl2, aktivasi fisika ZnCl2823 m2/gram

Liliana Giraldo dan Juan Carlos Moreno-Pirajan.

menggunakan CO2 (700C). Pirolisis dengan aliran gas

2012. Synthesis of Activated Carbon

KOH1058 m2/gram

nitrogen pada suhu 700C. Rasio KOH dan ZnCl2 terhadap

Mesoporous from Coffee Waste and Its

massa karbon adalah 3 : 1

Application in Adsorption Zinc and Mercury Ions


from Aqueous Solution

Coffee grounds Pirolisis dengan aliran gas N2. Aktivasi kimia 40% H3PO4

695 m2/gram

pada suhu 600C

Javier Sanchez Aznar. 2011. Characterization of


activated carbon produced
from coffee residues by
chemical and physical
activation
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

14
Tabel 2.2 Tabel penelitian pembuatan karbon aktif (Lanjutan)

No.

Bahan

Metode Aktivasi

Hasil, BET

Literatur

Aktivasi menggunakan ZnCl2 pada 900C selama 1 jam

842 m2/gram

Jisha M R, dkk. 2008. Electrochemical

Baku
5

Coffee
Shell

characterization of supercapacitors based on


carbons derived from coffee shells

Coffee

Aktivasi menggunakan H3PO4 dan ZnCl2 pada suhu 500-

grounds

700C

800-1200 m2/gram

Benrachedi. K,dkk. 2008. Coupling


ultrafiltrationwith adsorption on activated coffee
use as reserve osmosis pretreatment.

Euphorbia

Aktivasi menggunakan ZnCl2, K2CO3, NaOH, H3PO4 pada

ZnCl21115 m2/gram

Kiric Mulat,dkk. 2012. Preparation and surface

rigida

suhu 700C

K2CO32613 m2/gram

characterization of activated carbons from

NaOH396 m2/gram

Euphorbia

H3PO4790 m2/gram

rigida by chemical activation with ZnCl2, K2CO3,


NaOH and H3PO4

Serat wol

Aktovasi kimia menggunakan ZnCl2, K2CO3, H3PO4

H3PO4 226 m2/gram

Chen, dkk. 2012. Activated carbon powders

ZnCl2 205 m2/gram

from wool fibers

K2CO3 436 m2/gram


9

Limbah teh Aktivasi kimia menggunakan K2CO3

1722 m2/gram

Gurten, dkk., 2009. Preparation and


characterisation of activated carbon from waste
tea using K2CO3
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

15

d. Aktivasi fisika menggunakan gas CO2


Pada aktivasi fisika, karbon diaktivasi menggunakan panas yang
sangat tinggi. Biasanya, pada aktivasi fisika ini digunakan uap air atau gas
CO2. Aliran gas sebagai activating agent ini juga memiliki fungsi lain
yaitu untuk purging sehingga dalam reaktor tidak ada oksigen. Oksigen di
dalam reaktor pada saat aktivasi akan menyebabkan terjadinya oksidasi
yang dapat mempengaruhi kualitas karbon aktif. Selain itu, proses aktivasi
dilakukan pada suhu tinggi sehingga kehadiran oksigen sangatlah
berbahaya.

Gambar 2. 5 Ilustrasi Pembentukan pori oleh CO2 (Lidya, 2012)

Pada aktivasi fisika, reaksi kimia terjadi pada suhu yang sangat
tinggi sehingga pembentukan pori akan terjadi secara fisika dimana uap air
atau gas CO2 akan mengikis permukaan karbon membentuk pori. Proses
pembentukan pori ini membutuhkan panas yang sangat tinggi.
Pada penelitian ini akan dilakukan aktivasi fisika menggunakan gas
CO2 sebagai pembanding. Gas CO2 akan bereaksi dengan karbon pada
suhu tinggi sehingga akan membentuk pori yang kemudian berdampak
pada luas permukaan karbon aktif.

2.3

Kulit Kopi
Indonesia merupakan salah satu Negara penghasil kopi terbesar di dunia.

Tercatat bahwa Indonesia merupakan negara ketiga terbesar di dunia sebagai


produsen kopi (ICF, 2012). Produksi kopi di Indonesia mencapai nilai 600.000 ton
per tahunnya dan terjadi peningkatan sebesar 2,9 % dari tahun 2011 ke 2012
(Direktorat Jendral Perkebunan, 2012). Jenis kopi yang diproduksi di Indonesia
terdiri dari Kopi Robusta (85%) dan Kopi Arabika (15%) (ICF, 2012).

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

16

Produksi kopi yang sangat besar ini juga menimbulkan dampak negatif,
yaitu limbah. Kulit kopi merupakan salah satu limbah perkebunan di Indonesia.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Indonesia merupakan salah satu
penghasil kopi terbesar di dunia sehingga limbah yang berasal dari kopi pun
tidaklah sedikit. Limbah industri kopi, sampai saat ini hanya terbatas sebagai
pakan ternak dan sebagian kecil untuk pupuk (Muryanto, dkk.). Hal ini
menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah kulit kopi masih sangat kurang
sehingga pemanfaatan limbah kopi ini memiliki potensi yang cukup besar,
khususnya untuk limbah kulit kopi.
Secara umum, limbah kulit kopi dikelompokkan menjadi 2, berdasarkan
kematangan kopinya, yaitu limbah pengolahan kopi merah (masak) dan kopi hijau
(mentah). Pengolahan kopi merah diawali dengan pencucian, perendaman, dan
pengupasan kulit luar. Proses ini akan menghasilkan 65% biji kopi dan 35%
limbah kulit kopi luar. Biji kopi lalu dikeringkan dengan oven sehingga persen
massanya tersisa sebesar 31% yang terdiri dari 2% kopi bubuk dan 10% limbah
kulit kopi dalam. Proses pengolahan limbah kopi hijau diawalin dari penjemuran
sehinga persen massa mencapai 38% yang terdiri dari 16,5% kopi bubuk dan
21,5% campuran limbah kulit kopi luar dan dalam (Muryanto, dkk).

Gambar 2. 6 Struktur Kopi. 1. Epicarp, 2.disk/navel, 3.mesocarp, 4.endocarp (coffee hull),


5. Spermoderm, 6. Embrio (J.E. Braham dan R. Bressani, 1979)

Gambar 2.6 di atas menunjukkan struktur buah kopi secara umum. Pada
penelitian ini akan digunakan kulit kopi sebagai bahan baku. Bagian kulit kopi
yang akan digunakan adalah campuran kulit luar, dalam, dan daging buah karena
campuran kulit kopi ini merupakan salah satu limbah utama dari industri kopi.
Bagian kulit kopi diperlihatkan oleh Gambar 2.6 pada nomor 1, 3, dan 4.
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

17

Kulit kopi dapat dimanfaatkan salah satunya sebagai bahan baku


pembuatan karbon aktif. Hal ini dapat dilihat dari kandungan karbon kulit kopi
yang cukup besar, yaitu 45.3% massa dengan kandungan 72% berat adalah
selulosa, hemiselulosa, dan lignin (Lia Indah Syafira, 2012). Dengan latar
belakang tersebut, pada penelitian ini diharapkan akan mendapatkan karbon aktif
dengan luas permukaan tinggi yang dibuat dari kulit kopi sebagai bahan baku
utama.

2.4

Karakterisasi Luas Permukaan dengan Metode Bilangan Iod


Metode bilangan iod dilakukan dengan cara mengadsorp iodin

menggunakan karbon aktif. Angka iod ini menunjukkan berat iodin yang
teradsorpsi oleh karbon aktif dan menunjukkan kemampuan adsorpsi suatu karbon
aktif dalam mengadsorpsi komponen dengan berat molekul rendah.
Iodin adalah senyawa yang memiliki kelarutan di dalam air tidak terlalu
baik karena merupakan senyawa non-polar. Iodin memiliki rumus senyawa I2
yang tersusun dari dua atom sama dengan salah satu atom yang lebih
elektropositif membentuk muatan parsial positif, sedangkan satu atom yang lebih
elektronegatif membentuk parsial negatif. Momen ikatan iodin saling meniadakan
dan momen dipol iodin sama dengan nol. Hal ini dikarenakan iodin yang terdiri
dari dua atom sama memiliki keelektronegatifan yang sama. Keterkaitan sifat
iodin ini terhadap karakterisasi karbon aktif adalah kemampuan karbon aktif
dalam mengadsorpsi larutan iodin sama dengan adsorptivitas karbon aktif
terhadap senyawa non-polar.
Iodin memiliki tekanan uap yang tinggi sehingga pada suhu ruang, iodin
mudah menguap. Proses adorpsi pada adsorbat dapat terjadi karena gaya
intermolekular lebih besar dari gaya tarik antar molekul atau gaya tarik menarik
yang relatif lemah antara adsorbat dengan permukaan adsorben yang melibatkan
gaya Van der Waals dan ikatan hidrogen (Atkins, 1999).
Proses adsorpsi ini dimulai ketika molekul adsorbat larutan iodin berdifusi
melalui lapisan batas ke permukaan luar adsorben dan peristiwa ini disebut difusi
eksternal. Adsorbat yang berada pada permukaan adsorben kemudian berdifusi
lebih lanjut ke dalam pori dari karbon aktif dan disebut difusi internal.
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

18

Pada metode ini diasumsikan larutan iodin berada dalam kesetimbangan


pada konsentrasi 0,02 N yaitu dengan terbentuknaya lapisan tunggal pada
permukaan karbon aktif. Hal ini membuktikan hubungan antara bilangan iodin
dengan karakterisasi luas permukaan karbon aktif. (Jankowska dkk, 1991). Jika
kemampuan karbon aktif dalam menyerap iodin tinggi maka luas permukaan
karbon aktif juga memiliki nilai yang tinggi dan juga memiliki struktur mikropore
dan mesopore yang besar. Berdasarkan Standar Industri Indonesia karbon aktif
yang baik mampu menyerap iodin minimum 20%.
Dalam menentukan bilangan iod pada karbon aktif digunakan reaksi
redoks. Reaksi redoks adalah istilah oksidasi yang mengacu pada setiap
perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi yang disertai
kehilangan elektron, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan
bilangan oksidasi yang disertai dengan memperoleh elektron. Oksidator adalah
senyawa dimana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi
dan sebaliknya reduktor adalah atom yang terkandung mengalami kenaikan
bilangan oksidasi.
Iodin merupakan senyawa non-polar sehingga sulit untuk larut di dalam
air. Dalam pelarutannya, dgunakan KI agar terbentuk ion triiodida untuk
mempercepat pelarutan iodin menurut reaksi:
I2 + I- I3-

(2.5)

Selanjutnya, pada proses titrasi Iodin dengan Natrium Tiosulfat akan teradi
reaksi:
I3- + 2S2O32- 3I- + S4O62-

(2.6)

Titik akhir terjadi bila warna dari iod hilang saat dititrasi dengan natrium
tiosulfat (Harjadi, 1993). Perhitungan untuk mendapatkan bilangan iod (iodine
number) dapat dilakukan dengan persamaan berikut:

Keterangan :

10


0,1

12,69 5

= Larutan Natrium Tio-Sulfat yang diperlukan (mL)

= Normalitas larutan Natrium Tio-Sulfat

(2.7)

12,69 = Jumlah Iod sesuai dengan 1 mL larutan Natrium Tio-Sulfat 0,1 N


W

= Massa sampel karbon aktif (gram)


Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

BAB 3
METODE PENELITIAN
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode analisis
luas permukaan dengan bilangan Iod. Diagram alir penelitian yang digambarkan
pada Gambar 3.1 menjelaskan tahapan-tahapan yang harus dilakukan dalam
pembuatan karbon aktif berbahan baku kulit kopi mulai dari tahap persiapan,
pembuatan karbon, aktivasi, pembentukan karbon aktif, sampai pada tahap
karakterisasi (dalam penelitian ini luas permukaan karbon aktif), sedangakan
Gambar 3.3 menjelaskan tahapan yang haus dilakukan dalam karakterisasi
bilangan iod karbon aktif.

3.1
3.1.1

Alat dan Bahan Penelitian


Alat
1. Timbangan

9. Buret

2. Beaker glass

10. Penggiling

3. Cawan petri

11. Penyaring 100 dan 120


mesh

4. Spatula dan pengaduk

12. Reaktor

kaca

13. Pompa vakum

5. Kompor listrik (Hot

14. Pipet

plate)

3.1.2

6. Oven

15. Kertas saring

7. Gelas ukur (50 mL)

16. Alumunium foil

8. Labu Erlenmeyer

17. Stirrer

Bahan
a) Kulit Kopi Robusta
Bahan baku utama pembuatan karbon aktif
c) Gas CO2
Gas ini digunakan sebagai aktivator fisika (pembanding)
b) Gas N2
Gas ini digunakan sebagai purging pada saat pemanasan untuk
mencegah adanya gas O2.

19

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

20

c) K2CO3
Senyawa ini digunakan sebagai aktivator kimia
d) Air Distilasi
Digunakan untuk mencuci karbon setelah keluar dari reaktor.
e) Latutan HCl 5 N
Larutan ini diguanak pada tahap penyelesaian untuk mencuci karbon
aktif yang telah terbentuk.
f) Larutan Iodin
Larutan iodin ini digunakan sebagai adsorbat untuk menentukan luas
permukaan karbon aktif dengan melihat banyaknya iodin yang
teradsorb
g) Larutan Na2S2O3 0.1 N
Larutan ini digunakan untuk titrasi larutan iodin
h) Larutan Amilum 1 %
Larutan ini merupakan indicator dalam titrasi iodin dengan Na2S2O3

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

21

3.2
3.2.1

Diagram Alir Penelitian


Diagram Pembuatan Karbon Aktif
Persiapan alat dan bahan (penggilingan,
kalibrasi, pelarutan activating agent)

Aktivasi Fisika

Aktivasi Kimia
Pencampuran activating agent
dengan rasio 1/1, 3/2, 2/1 pada
T= 200 0C selama 45 menit

Karbonisasi di kompor pada


T=400 0C selama 300 menit

Karbonisasi di kompor
pada T=400 0C selama 300
menit
Penggerusan atau penghalusan arang

Aktivasi di reaktor denganT= 600 0C,


700 0C, 800 0C selama 90 menit

Aktivasi dengan CO2 pada


T = 700 0C selama 90 menit

Pendinginan di reaktor sampai


suhu di bawah 100 0C

Dialirkan gas N2 200 ml/min

Dialirkan gas N2 200 ml/min

Pencucian menggunakan
HCl 5 N dan air distilasi
Pengeringan pada T= 120 0C
selama 2 jam di oven

Penyaringan dengan ukuran 100-120


mesh

Karbon Aktif

Analisis Luas permukaan (Bilangan Iod)

Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian Pembuatan Karbon Aktif

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

22

Gambar 3. 2 Reaktor Aktivasi (Sudibandriyo M. 2011)

3.2.2

Diagram Karakterisasi Bilangan Iod


Persiapan alat dan bahan

Pembuatan larutan iodin, natrium tiosulfat, dan kanji

Pengeringan sampel di oven pada suhu


120 0C selama 30 menit

Penimbangan sampel sebanyak 0,5 gram

Pencampuran dan pengadukan sampel dengan


50 ml larutan iodin selama 30 menit

Penyaringan campuran sampel dan larutan


iodin menggunakan pompa vakum

Pengambilan volum larutan sebesar 10 ml untuk


kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat sampai
berwarna kuning pucat

Penambahan larutan kanji sebanyak 10


tetes hingga berwarna biru gelap

Titrasi kembali dengan natrium tiosulfat hingga larutan bening

Perhitungan Bilangan Iod

Gambar 3. 3 Diagram Alir Karakterisasi Bilangan Iod


Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

23

3.3
3.3.1

Prosedur Pembuatan Karbon Aktif


Variabel Percobaan
o Variabel kontrol: Jenis kulit kopi, massa karbon aktif, laju alir
nitrogen, suhu dan waktu karbonisasi, waktu aktivasi dan ukuran
karbon aktif
o Variabel terikat: Luas permukaan karbon aktif
o Variabel bebas: Rasio impregnasi dan suhu aktivasi

3.3.2

Prosedur Percobaan
3.3.2.1

Persiapan
Sebelum melakukan penelitian, alat dan bahan harus dipastikan

telah tersedia. Alat-alat yang digunakan pada penelitian harus dipastikan


dapat berfungsi dengan baik dan dikalibrasi terlebih dahulu untuk
menghindari kesalahan dalam perhitungan atau pengukuran.
Kulit kopi yang akan digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan
baku harus dihancurkan/ditumbuk menggunakan penggiling sehingga
memilliki ukuran yang lebih kecil dan dapat melewati saringan. Ukuran
bahan baku yang lebih kecil akan berpengaruh pada luas permukaan kulit
kopi yang semakin besar sehingga area untuk aktivasi juga semakin besar.
Sebelum melakukan penelitian, reaktor harus dalam keadaan bebas dari
oksigen sehingga dilakukan purging dengan menggunakan gas nitrogen
sehingga tidak terjadi reaksi oksidasi yang dapat merusak pori/permukaan
bahan baku.
3.3.2.2

Karbonisasi
Kulit kopi yang sudah diberikan perlakuan sebelumnya akan

melalui proses karbonisasi pada kompor listrik (Hot plate) dengan


temperatur 400C dan tekanan atmosefer selama 5 jam sampai kulit kopi
menjadi

karbon.

Tujuan

proses

karbonisasi

ini

adalah

untuk

menghilangkan zat pengotor pada bahan baku sehingga kandungan karbon


dapat meningkat. Pada proses karbonisasi ini akan dihasilkan arang/karbon
dengan ukuran kecil yang kemudian disaring dengan ukuran 100-120
mesh.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

24

3.3.2.3

Aktivasi
Pada penelitian ini akan dilakukan aktivasi kimia menggunakan

larutan Kalium Karbonat. Sebelum melewati tahap karbonisasi, bahan


baku akan dicampur dengan larutan K2CO3 dengan variasi rasio massa
K2CO3/massa bahan baku 1/1, 3/2, 2/1 pada suhu 200C selama 45 menit.
Tujuan dari pencampuran ini adalah sebagai impregnasi dari activating
agent ke bahan baku sebelum diaktivasi di dalam reaktor. Selama proses
pencampuran, bahan diaduk sehingga activating agent dapat bercampur
dan terimpregnasi secara sempurna.
Proses aktivasi akan dilakukan di dalam reaktor setelah
pencampuran selesai pada variasi suhu selama 90 menit dengan dialirkan
gas nitrogen dengan laju 200 ml/menit. Pengaliran gas nitrogen ini
bertujuan untuk purging sehingga tidak ada gas oksigen dalam reaktor.
Selain itu, fungsi gas nitrogen ini adalah untuk meratakan suhu di dalam
reaktor dan membawa sisa zat pengotor. Seteleh proses aktivasi ini selesai,
akan diperoleh karbon aktif yang telah teraktivasi secara kimia dengan
luas permukaan tertentu.
Selain aktivasi kimia, pada penelitian ini juga dilakukan aktivasi
fisika menggunakan gas CO2 sebagai pembanding. Pada aktivasi fisika ini,
kulit kopi yang telah melewati proses karbonisasi langsung diaktivasi
menggunakan gas CO2 yang dilakukan pada waktu yang sama, yaitu 90
menit, suhu 700C, dan dengan laju alir 200 ml/menit
3.3.2.4

Penyelesaian
Karbon aktif yang telah terbentuk harus diberikan perlakuan lebih

lanjut sebelum memasuki tahap karakterisasi. Tahapan selanjutnya adalah


proses pendinginan dimana pada proses ini karbon aktif yang telah
terbentuk masih berada di dalam reaktor yang berada dalam keadaan mati
dan dialirkan gas nitrogen. Tujuan pendinginan dilakukan di dalam reaktor
adalah untuk mencegah kontak karbon aktif terhadap gas oksigen atau
pengotor lainnya yang dapat menyebabkan perubahan pada karbon aktif.
Setelah proses pendinginan, karbon aktif yang telah terbentuk akan
dicuci menggunakan larutan HCl 5 N untuk menghilangkan zat-zat
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

25

pengotor yang mungkin tersisa dan dilanjutkan dengan pencucian


menggunakan air distilasi untuk menghilangkan pengaruh larutan HCl.
Setelah semua tahapan selesai, tahap akhir adalah pengeringan
karbon aktif di dalam oven selama 24 jam pada suhu 100C untuk
menghilangkan kandungan air dan penyimpanan di dalam desikator agar
karbon aktif tetap kering dan terhindar dari zat pengotor lain.
3.3.3

Prosedur Pengambilan Sampel


Pengambilan data sampel pada penelitian ini adalah dengan melihat

karakterisasi luas permukaan karbon aktif dengan menggunakan metode bilangan


Iod. Sampel yang siap diukur luas permukaannya akan terlebih dahulu ditimbang
karena pengukuran luas permukaannya per satu gram.
3.3.4

Prosedur Analisis
Analisis yang dilakukan terhadap hasil penelitian yaitu luas permukaan

karbon aktif yang didapat dari konversi bilangan iod dengan variabel-variabel
kontrol yang telah ditentukan. Percobaan dilakukan untuk variasi variabel bebas
sebanyak masing-masing tiga kali. Setelah didapatkan data untuk masing-masing
variabel, dibuat grafik antara rasio, suhu, dan luas permukaan untuk melihat
hubungan ketiganya dan kondisi optimum dalam pembuatan karbon aktif
berbahan baku kulit kopi.

3.4
3.4.1

Metode Bilangan Iod


Pembuatan Larutan Iodin
1. Melarutkan 25 gram KI dengan 30 mL aquadest ke dalam labu ukur
1.000 mL.
2. Menambahkan 13 gram I2 ke dalam larutan tadi dan mengocok sampai
larut.
3. Menambahkan aquadest ke dalam labu ukur sehingga volume larutan
menjadi 1.000 mL.
4. Menyimpan larutan tersebut di tempat sejuk dan gelap.

3.4.2

Pembuatan larutan Na2S2O3


1. Melarutkan 26 gram Natrium Tio-Sulfat dengan 0,2 gram Na2S2O3
dengan 1.000 mL aquadest ke dalam labu ukur.
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

26

2. Menambahkan 10 mL isoamil alkohol dan mengocok larutan sampai


larut merata.
3. Menutup labu ukur dan menyimpannya selama 2 hari.
3.4.3

Pembuatan Larutan Amilum


1. Melarutkan 1 gram kanji dengan 10 mL aquadest ke dalam beaker
glass.
2. Menambahkan 90 mL air panas, mengaduk, dan mendidihkan larutan
tersebut dengan menggunakan hot plate.

3.4.4

Analisis dengan Metode Bilangan Iod


Tahapan

awal

dalam

karakterisasi

bilangan

iod

adalah

dengan

mengeringkan sampel pada suhu 120C selama 30 menit untuk menghilangkan air
yang terdapat dalam karbon aktif sehingga adsorpsi dapat maksimum. Karbon
aktif kering, dicampurkan dengan larutan iodin di dalam labu erlenmeyer tertutup
untuk menghindari terjadinya kontak antara iodin dengan udara sehingga dapat
mencegah reaksi oksidasi. Labu Erlenmeyer diaduk dengan menggunakan stirrer
selama 30 menit agar terjadi proses adsorpsi iodin dengan karbon aktif secara
maksimum.
Selanjutnya adalah memisakan larutan iodin dengan karbon aktif
menggunakan bantuan pompa vakum sehingga pemisahan cepat. Larutan yang
telah dipisahkan dari karbon aktif kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan
Na2S2O3 hingga berwarna kuning pucat. Kemudian, dilakukan penambahan
larutan kanji sebagai indicator sehingga warna larutan berubah menjadi biru gelap.
Setelah itu, larutan kembali dititrasi menggunakan Na2S2O3 hingga bwarna larutan
berubah menjadi bening. Volum total Na2S2O3 yang digunakan untuk menitrasi
larutan hingga berwarna bening akan digunakan untuk perhitungan bilangan iod.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada Bab ini akan dibahas tentang hasil penelitian beserta analisisnya
sehingga dapat diperoleh kesimpulan dari penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk melihat apakah kulit kopi dapat digunakan sebagai bahan baku
karbon aktif dengan luas permukaan tinggi serta untuk melihat pengaruh suhu dan
rasio massa activating agent dengan bahan baku terhadap luas permukaan karbon
aktif yang dihasilkan. Dalam penelitian ini, karakterisasi dilakukan dengan
menggunakan metode bilangan iod untuk mengetahui perkiraan luas permukaan
dari karbon aktif.

4.1

Pembuatan Karbon Aktif


Proses pembuatan karbon aktif diawali dengan proses preparasi bahan

baku kulit kopi robusta. Kulit kopi yang digunakan sudah berada dalam keadaan
kering dan ukurannya pun tidak terlalu besar sehingga dapat langsung digunakan
untuk proses karbonisasi dan pencampuran dengan activating agent. Karbonisasi
merupakan proses awal dari pembuatan karbon aktif. Hasil dari proses karbonisasi
ini akan dimasukkan ke dalam reaktor untuk proses aktivasi sehingga akan
diperoleh karbon aktif setelah dilakukan proses pencucian dan pengeringan.

4.1.1

Proses Pencampuran dengan Activating Agent dan Karbonisasi


Langkah awal dari penelitian ini adalah preparasi bahan baku yaitu melalui

proses pengeringan dan penghalusan. Proses pengeringan dan penghalusan bahan


baku ini bertujuan untuk menghilangkan kadar air dan memperluas area kontak
bahan baku sehingga proses pencampuran dan karbonisasi dapat berlangsung
lebih baik. Pada penelitian ini, bahan baku yang digunakan sudah berada dalam
kondisi kering dan cukup halus sehingga preparasi bahan tidak terlalu sulit.
Dengan kondisi yang demikian, bahan baku sudah dapat memasuki proses awal
pembuatan karbon aktif yaiitu pencampuran dengan activating agent dan
karbonisasi.

27

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

28

Gambar 4. 1 Kulit Kopi Robusta

Sebelum proses pencampuran, Kalium Karbonat yang berbentuk padatan


dilarutkan ke dalam akuades sesuai dengan kelarutannya. Hal ini bertujuan untuk
menjaga agar konsentrasi larutan Kalium Karbonat maksimum sehingga Kalium
Karbonat yang tercampur dengan bahan baku sesuai dengan rasionya. Proses
pencampuran dilakukan dengan cara diaduk pada suhu 200C selama 45 menit.
Pengadukan dan pemanasan ini bertujuan agar karbon terimpregnasi oleh
activating agent K2CO3 dan kandungan air pada larutan KOH dapat menguap
sehingga pada proses aktivasi K2CO3 dapat bereaksi dengan lignoselulosa yang
akan membentuk pori.
Seperti telah dibahas dalam pembahasan sebelumnya, K2CO3 ini dipilih
berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu penggunaan K2CO3 ini lebih ramah
lingkungan apabila dibandingkan dengan activating agent lain. Selain itu, K2CO3
juga sesuai apabila digunakan dengan biomasa karean reaksinya dengan senyawa
lignoselulosa atau rantai hidrokarbon (-CHx-), bukan dengan unsur karbon (C).
Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilihat pengaruh penggunaan K2CO3
terhadap luas permukaan karbon aktif.berdasarkan rasio dan suhu. Setelah proses
pencampuran didapatkan campuran padatan yang berwarna cokelat-putih yang
siap untuk memasuki proses karbonisasi.
Penelitian ini juga melakukan aktivasi fisika sebagai pembanding sehingga
untuk karbon aktif yang akan diaktivasi secara fisika tidak dilakukan proses
pencampuran. Dengan demikian, bahan baku dapat langsung memasuki proses
karbonisasi.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

29

Proses karbonisasi kulit kopi dilakukan pada suhu 400C. Suhu tersebut
digunakan karena pada suhu 400C, kandungan air dan senyawa volatil yang
terkandung pada kulit kopi sudah menghilang sehingga karbon dapat diperoleh
secara optimum. Proses karbonisasi kulit kopi ini terjadi secara bertahap, yaitu
untuk rentang suhu lebih kecil dari 210C kandungan air hilang, kemudian dari
210C sampai 370C terjadi dekomposisi lignoselulosa yang terdiri dari lignin,
selulosa, dan hemiselulosa, dan mulai pada suhu 370C terjadi perengkahan ikatan
C-C (Kalderis, 2008). Selama proses karbonisasi berlangsung, kulit kopi
mengeluarkan banyak asap yang menunjukkan bahwa terjadi penguapan senyawasenyawa volatil yang terkandung pada kulit

kopi. Proses karbonisasi selesai

ketika kulit kopi yang awalnya berwarna coklat-putih sudah sepenuhnya berubah
warna menjadi hitam-putih dan hanya sedikit asap yang keluar. Hal ini
menandakan bahwa arang sudah terbentuk dan senyawa-senyawa volatil sudah
menguap. Warna putih didapatkan dari warna Kalium Karbonat yang sebelumnya
telah dicampur dengan kulit kopi.
Proses karbonisasi ini berlangsung selama 5 jam. Selama proses
karbonisasi telah terjadi sedikit reaksi antara K2CO3 dengan rantai hidrokarbon (CHx-). Reaksi ini menimbulkan terbentuknya atau terbukanya pori-pori dasar dari
karbon aktif. Tabel 4.1 akan memperlihatkan massa sebelum dan sesudah proses
pencampuran dan karbonisasi.
Dari data di bawah dapat dilihat bahwa yield karbonisasi yang tidak
dilakukan pencampuran sebesar 45%, sedangkan untuk karbonisasi yang
didahului dengan pencampuran yield yang diperoleh berkisar antara 72-79%. Hal
ini disebabkan oleh adanya senyawa K2CO3 yang tidak menguap sehingga
menambah massa dari arang itu sendiri. Meskipun demikian, tidak semua
senyawa K2CO3 ini masih terdapat dalam arang karena sudah pada suhu 400C
sudah terjadi sedikit reaksi antara K2CO3 dengan rantai hidrokarbon arang
sehingga perbedaan massa tidak berdasarkan pada rasio.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

30

Tabel 4. 1 Yield Karbonisasi

Aktivasi

Fisika (CO2)
Kimia (Rasio
K2CO3 1/1)

Kimia (Rasio
K2CO3 3/2)

Kimia (Rasio
K2CO3 2/1)

Sampel

Massa Kulit
Kopi (gram)

Massa

Massa Sebelum

K2CO3

Karbonisasi

(gram)

(gram)

Massa
Setelah

%Yield

Karbonisasi

Karbonisasi

(gram)

50,06

50,06

22,54

45,03

25,01

25,01

50,02

36,37

72,72

25,01

25,00

50,01

36,33

72,64

25,02

25,02

50,05

36,11

72,16

25,01

37,50

62,52

48,50

77,58

25,00

37,50

62,50

48,20

77,12

25,03

37,50

62,54

48,25

77,16

25,02

50,01

75,03

59,62

79,46

25,01

50,01

75,02

57,55

76,71

10

25,01

50,01

75,02

59,82

79,74

Hasil ini dapat dikatakan cukup baik karena pada sampel karbon aktif
yang tidak dicampur dengan K2CO3, diperoleh massa arang sebesar 45% yang
menunjukkan bahwa senyawa-senyawa volatil lain telah hilang dari arang dan
jumlah ini dapat dijadikan acuan dasar untuk jumlah karbon yang masih terdapat
pada arang dengan pencampuran K2CO3.

Gambar 4. 2 Kulit Kopi setelah Karbonisasi

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

31

4.1.2

Proses Aktivasi
Proses aktivasi ini diawali dengan memasukkan sampel yang telah melalui

proses karbonisasi ke dalam reaktor. Proses aktivasi dilakukan pada suhu tinggi
dengan dialirkan gas inert Nitrogen ke dalam reaktor aktivasi untuk mencegah
adanya oksigen di dalam reaktor. Peniadaan Oksigen pada proses ini karena
oksigen bersifat oksidatif dan dapat menyebabkan terjadinya reaksi pembakaran
sehingga dapat merusak struktur pori-pori dari karbon aktif. Kerusakan struktur
pori-pori karbon ini dapat menyebabkan rendahnya luas permukaan karbon aktif.
Pada proses aktivasi ini, diharapkan yang bereaksi adalah K2CO3 dengan rantai
hidrokarbon karbon aktif.
Proses aktivasi dilakukan pada suhu 600C, 700C, 800C untuk aktivasi
kimia dan 700C untuk aktivasi fisika dengan mengganti gas Nitrogen dengan gas
Karbon Dioksida. Proses aktivasi ini dilakukan selama 90 menit dan dengan laju
aliran gas 200 ml/menit. Pemilihan suhu, waktu, dan rasio massa merupakan
parameter penting pada proses aktivasi. Pada suhu dan waktu tertentu, activating
agent akan bereaksi dengan karbon sehingga membentuk pori-pori. Jika suhu
yang digunakan terlalu rendah, dikhawatirkan karbon dengan activating agent
tidak bereaksi optimum bahkan belum bereaksi sehingga pori-pori belum
terbentuk sempurna. Akan tetapi, bila suhu yang digunakan terlalu tinggi maka
terdapat kemungkinan pemutusan ikatan matriks karbon yang mengakibatkan
kerusakan pada struktur karbon sehingga pori-pori berkurang dan luas permukaan
yang diperoleh tereduksi (Teng, 2000). Lama waktu aktivasi juga mepengaruhi
luas permukaan suatu karbon aktif. Apabila waktu aktivasi terlalu singkat, maka
reaksi antara activating agent dengan karbon aktif akan tidak optimum dan jika
terlalu lama maka akan menyebabkan reaksi yang terlalu lama sehingga pori-pori
karbon aktif akan habis dan luas permukaan menurun. Begitu pula dengan rasio
massa activating agent dengan bahan baku. Rasio massa untuk setiap activating
agent memiliki titik optimum yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pada penelitian
ini akan digunakan rasio massa sebagai variabel bebas untuk mengetahui rasio
optimum penggunaan K2CO3 sehingga diperoleh karbon aktif dengan luas
permukaan tinggi.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

32

Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa perbedaan yang mencolok


terjadi antara aktivasi kimia dan aktivasi fisika. Pada proses aktivasi fisika, asap
putih yang timbul akibat tingginya suhu tidak terlalu banyak. Hal ini
menunjukkan bahwa pada aktivasi fisika, asap putih timbul akibat masih adanya
sedikit zat-zat volatil yang terdapat pada arang yang menguap pada suhu di atas
400 0C dan seiring dengan kenaikan suhu serta lamanya waktu aktivasi, asap putih
mulai menghilang yang berarti zat-zat volatil sudah tidak ada lagi di dalam
karbon. Berbeda dengan aktivasi fisika, pada saat proses aktivasi kimia
berlangsung timbul asap putih yang sangat banyak karena pada aktivasi kimia
terdapat activating agent dan terjadi reaksi kimia. Sama halnya dengan aktivasi
fisika, dalam aktivasi kimia asap putih mulai menghilang pada suhu tinggi yang
menandakan bahwa reaksi antara activating agent dengan hidrokarbon telah
berlangsung. Banyaknya asap putih dalam aktivasi kima dipengaruhi oleh
besarnya rasio massa antara activating agent dengan massa bahan baku. Semakin
tinggi rasio maka reaksi akan semakin banyak sehingga asap putih yang
ditimbulkan juga semakin banyak.
Produk aktivasi yang diperoleh adalah serbuk karbon aktif berwarna hitam
dengan sebagian besar karbon aktif mengendap. Endapan ini bersifat sementara
akibat K2CO3 mengikat uap air pada saat suhu reaktor masih rendah. Selama
proses aktivasi ini berjalan, terjadi reaksi yang melibatkan antara hidrokarbon
dalam karbon aktif dan senyawa K2CO3. Pada aktivasi kimiawi dengan K2CO3
melibatkan reaksi kimia 2.1-2.4 yang telah dibahas pada bab 2.

Gambar 4. 3 Karbon Aktif

Jika dilihat dari persamaan reaksi, pada proses aktivasi menggunakan


K2CO3 ini menghasilkan gas CO dan H2, K, serta K2O yang kemudian akan
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

33

bereaksi kembali dengan rantai -CH-. Reaksi-reaksi inilah yang akan mengikis
dan membentuk pori pada permukaan karbon aktif sehingga luas permukaan
menjadi lebih besar
Tabel 4. 2 Hasil Pengamatan pada Reaktor Aktivasi

Suhu (C)

Waktu

Hasil Pengamatan

(menit)
25

Gas N2 dialirkan ke dalam reaktor dengan laju 200


ml/menit

25-80

18

Pemanasan raktor secara bertahap untuk proses


aktivasi

80-200

15

Suhu reaktor dinaikkan secara bertahap. Pada suhu ini,


tidak terjadi perubahan

200-400

18

Asap putih mulai sedikit keluar dari selang keluaran


reactor dan tercium sedikit bau menyengat

400-600

20

Asap putih semakin banyak keluar dari reactor dan bau


pun semaking menyengat, sedangkan untuk aktivasi
fisika asap dan bau yang dikeluarkan lebih sedikit
dibandingkan dengan aktivasi kimia

600-700/800

15/21

Asap putih sedikit demi sedikit semakin berkurang


hingga akhirnya tidak keluar lagi.

600/700/800

90

Tidak ada perubahan yang dapat diamati. Suhu reaktor


dijaga sesuai dengan variasi durasi waktu aktivasi yang
telah ditentukan

600/700/800 - 80

155

Penurunan suhu dilakukan secara bertahap dengan


tetap mengalirkan gas nitrogen

80

Reaktor

dimatikan

dan

sampel

hasil

aktivasi

dikeluarkan dari reaktor.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

34

Tabel 4. 3 Yield Aktivasi

Aktivasi

Massa Sebelum

Suhu

Massa Setelah

% Yield

Aktivasi (gram)

Aktivasi (C)

Aktivasi (gram)

Aktivasi

Fisika (CO2)

22,54

700

14,45

64,11

Kimia (Rasio

36,37

600

28,35

77,95

K2CO3 1/1)

36,33

700

28,01

77,10

36,11

800

27,52

76,21

Kimia (Rasio

48,50

600

40,22

82,93

K2CO3 3/2)

48,20

700

39,40

81,74

48,25

800

39,13

81,10

Kimia (Rasio

59,62

600

52,31

87,74

K2CO3 2/1)

57,55

700

50,12

87,09

59,82

800

51,46

86,02

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadi pengurangan massa sebelum
dan setelah aktivasi. Pengurangan massa ini menunjukkan bahwa terdapat sisa zat
volatil yang menguap dan reaksi telah berlangsung serta pori telah terbentuk
Apabila melihat data persen yield aktivasi maka semakin tinggi suhu aktivasi
maka semakin banyak reaksi yang terjadi sehingga massa yang hilang juga
semakin besar yang diiringi dengan penurunan persen yield. Secara teori, konversi
reaksi endotermis akan meningkat dengan seiringnya kenaikan suhu. Oleh karena
itu, hasil yang diperoleh pada proses aktivasi telah menunjukkan bahwa
pengurangan massa terjadi karena meningkatnya konversi reaksi dari kulit kopi.
Akan tetapi, hal ini tidak sebanding dengan kenaikan rasio. Data di atas
menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio maka semakin tinggi yield. Hal ini
berlawanan dengan teori semakin tinggi rasio maka semakin banyak pula reaksi
yang terjadi. Oleh karena itu, dapat dianalisis bahwa hasil-hasil reaksi masih
terendap/terperangkap di dalam karbon aktif yang mengakibatkan massa karbon
aktif tidak berkurang seiring dengan kenaikan rasio. Selain itu, terikatnya air pada
suhu mendekati suhu ruang juga menyebabkan pengendapan atau penggumpalan
dan kenaikan massa. Banyaknya massa dalam reaktor juga mengakibatkan

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

35

semakin padatnya karbon aktif sehingga zat-zat hasil reaksi sulit untuk keluar dari
struktur karbon aktif.
Tingginya rasio mengakibatkan reaksi yang terjadi pada proses aktivasi
semakin banyak sehingga menimbulkan jumlah pori-pori pada karbon aktif
meningkat. Pori-pori yang terbentuk ini akan menentukan luas permukaan karbon
aktif. Namun demikian, reaksi yang berlebihan juga akan menimbulkan rusaknya
struktur pori-pori sehingga luas permukaan karbon aktif akan berkurang.
Di sisi lain, untuk aktivasi fisika tidak terjadi reaksi kimia dan pori-pori
terbentuk akibat proses fisika yaitu pengikisan permukaan karbon aktif dengan
gas CO2 yang telah dijelaskan pada Bab 2 penelitian ini. Pengurangan massa
terjadi karena hilangnya sebagian karbon aktif akibat pengikisan tersebut.

4.1.3

Proses Pencucian dan Pengeringan


Proses selanjutnya adalah proses pencucian. Proses pencucian ini

bertujutan untuk menghilangkan sisa-sisa K2CO3 tidak bereaksi dan zat-zat hasil
reaksi yang tertinggal pada permukaan karbon aktif. Bila pencucian tidak
dilakukan, maka zat-zat tersebut dapat menutupi permukaan pori sehingga
mengurangi luas permukaan dan luas permukaan yang diperoleh bukan
merupakan luas permukaan yang sebenarnya.
Pencucian ini diawali dengan melarutkan/merendam karbon aktif hasil
keluaran reaktor pada larutan HCl 5N. Larutan ini berfungsi untuk menghilangkan
sisa K2CO3 +dan zat-zat lain hasil aktivasi. Pada saat penambahan larutan HCl 5N
ke karbon aktif, timbul gelembung-gelembung gas dan asap putih berbau
menyengat. Hal ini menandakan bahwa pada karbon aktif terdapat gas-gas hasil
reaksi sewaktu aktivasi, yaitu gas H2, CO, dan K yang menutupi pori-pori karbon
aktif atau terperangkap sehingga gas-gas ini keluar dari pori-pori karbon aktif
tersebut pada saat dilarutkan dengan HCl,. Pencucian karbon aktif dengan HCl ini
dilakukan sampai tidak ada lagi asap atau gelembung gas yang mengindikasikan
bahwa gas-gas hasil reaksi dan sisa activating agent K2CO3 sudah hilang dari
karbon aktif.
Setelah pencucian dengan HCl, karbon aktif dibilas dengan akuades.
Pencucian dengan akuades dimaksudkan agar pengaruh larutan HCl, yaitu sisaUniversitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

36

sisa ion Cl yang masih terdapat pada karbon aktif hilang. Pencucian dengan air
distilasi ini dilakukan secara terus menerus sampai air distilasi hasil bilasan
karbon aktif mencapai pH netral. Proses pencucian ini dilakukan dengan bantuan
alat pompa vakum sehingga proses dapat dilakukan dengan cepat. Setelah dicuci
dengan akuades, karbon aktif dikeringkan dalam oven untuk menguapkan air
selama 24 jam. Hilangnya air pada karbon aktif ditandai dengan konstannya/tidak
berubahnya massa karbon aktif setelah dilakukan proses pengeringan.
Pada proses pencucian dan pengeringan, terjadi pengurangan massa
karbon aktif karena zat-zat sisa yang masih terdapat pada karbon aktif telah hilang
dan air telah menguap. Perubahan massa karbon aktif sebelum dan sesudah
pencucian dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini.
Dari data di bawah dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu dan rasio
massa maka semakin besar pula massa yang hilang karena sifat reaksi yang
endotermis, yaitu semakin tinggi suhu maka semakin baik konversi reaksi
sehingga pori yang terbentuk akan semakin banyak. Banyaknya pori dan hasil
reaksi yang terbentuk ini akan mengakibatkan massa yang hilang akan semakin
banyak. Begitu pula dengan rasio massa, semakin tinggi rasio impregnasi maka
semakin banyak reaksi. Banyaknya reaksi ini menimbulkan pembentukan pori
yang semakin banyak pula sehingga massa yang hilang pun semakin banyak.
Pada tabel di bawah juga dapat dilihat yield total dari pembuatan karbon
aktif ini. Yield total ini merupakan perhitungan massa dari awal sebelum
dilakukannya proses karbonisasi hingga terbentuknya karbon aktif secara
sempurna. Dapat dilihat dari data bahwa yield total dari pembuatan karbon aktif
ini berkisar antara 20-25%. Angka ini menunjukkan bahwa terdapat pengurangan
massa sebesar 75-80%. Pengurangan massa ini merupakan hilangnya zat-zat
volatil yang terdapat dalam kulit kopi. Selain itu angka 20-25% ini juga
menunjukkan kandungan fixed carbon di dalam kulit kopi tersebut.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

37

Tabel 4. 4 Perubahan Massa Sebelum dan Setelah Pencucian dan Yield Total

Aktivasi

Suhu

Massa Sebelum

Massa Setelah

% Massa

% Yield

Aktivasi

Pencucian (gram)

Pencucian

yang Hilang

Total

(gram)

(C)
Fisika (CO2)

700

14,45

10,01

30,72

20,00

Kimia (Rasio

600

28,35

6,20

78,13

24,79

K2CO3 1/1)

700

28,01

5,75

79,47

22,99

800

27,52

5,53

79,91

22,10

Kimia (Rasio

600

40,22

5,96

85,18

23,83

K2CO3 3/2)

700

39,40

5,70

85,53

22,80

800

39,13

5,10

86,97

20,37

Kimia (Rasio

600

52,31

5,37

89,73

21,46

K2CO3 2/1)

700

50,12

5,11

89,80

20,43

800

51,46

4,89

90,50

19,55

4.1.4

Burn-Off
Burn off merupakan persentase massa yang hilang pada bahan baku kulit

kopi mulai dari proses awal, yaitu pencampuran dengan activating agent, sampai
dengan proses akhir, pencucian dan pengeringan. Persentase burn off dapat
dijadikan parameter untuk dapat menunjukkan bahwa terbentuk pori pada karbon
aktif. Semakin tingginya nilai burn off maka dapat dikatakan bahwa volume pori
yang terbentuk semakin tinggi. Burn off dapat dihitung dengan pengurangan
100% massa bahan baku dengan persen yield total yang telah didapatkan pada
perhitungan sebelumnya sehingga burn off tiap sampel dapat dilihat pada Tabel
4.5 di bawah ini
Tabel di bawah memperlihatkan bahwa persentase burn off bahan baku
berkisar antara 75-80%. Hasil ini menunjukkan bahwa selama proses pembuatan
berlangsung terjadi pengurangan massa akibat reaksi rantai hidrokarbon dari
karbon aktif dengan activating agent K2CO3 dan penguapan zat volatil pada bahan
baku. Peningkatan persen burn off

yang diperlihatkan pada data di atas

menunjukkan bahwa pembentukan pori semakin bertambah seiring dengan


Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

38

peningkatan suhu dan rasio impregnasi. Akan tetapi, untuk sampel karbon aktif
dengan aktivasi fisika, pembentukan pori tidaklah sebaik dengan aktivasi kimia
meskipun persen burn off yang diperoleh tinggi. Tingginya persen burn off pada
aktivasi fisika diakibatkan banyaknya massa yang hilang pada proses aktivasi dan
pencucian. Pengurangan massa ini terjadi karena sifat karbon aktif yang terbentuk
memiliki massa yang sangat ringan dan kering sehingga pada saat aktivasi dan
pencucian banyak massa karbon aktif yang terbawa oleh gas nitrogen ataupun air.
Secara lebih jelas, peningkatan persen burn off dapat dilihat pada Gambar
4.4 di bawah ini.
81

% Burn Off

80
79
78

Aktivasi Fisika CO2

77

Rasio Impregnasi 1:1

76

Rasio Impregnasi 3:2

75

Rasio Impregnasi 2:1

74
500

600

700
Suhu

800

900

(0C)

Gambar 4. 4 % Burn Off Karbon Aktif Kulit Kopi


Tabel 4. 5 Persen Burn Off

Aktivasi

Suhu
Aktivasi
(C)

Massa Awal
Bahan Baku
(gram)

Massa Akhir
Karbon Aktif
(gram)

% Yield
Total

% Burn Off

Fisika (CO2)

700

50,06

10,01

20,00

80

600

25,01

6,20

24,79

75,21

700

25,01

5,75

22,99

77,01

800

25,02

5,53

22,10

77,9

600

25,01

5,96

23,83

76,17

700

25,00

5,70

22,80

77,2

800

25,03

5,10

20,37

79,63

600

25,02

5,37

21,46

78,54

700

25,01

5,11

20,43

79,57

800

25,01

4,89

19,55

80,45

Kimia (Rasio
K2CO3 1/1)

Kimia (Rasio
K2CO3 3/2)

Kimia (Rasio
K2CO3 2/1)

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

39

4.2

Karakterisasi dengan Metode Bilangan Iod


Luas permukaan karbon aktif merupakan salah satu parameter penting

yang harus dipertimbangkan untuk melihat kualitas dari karbon aktif. Karbon aktif
dengan luas permukaan tinggi merupakan adsorben yang memiliki potensial
tinggi untuk proses adsorpsi karena memiliki area kontak yang tinggi. Luas
permukaan karbon aktif pada umumnya diukur dengan metode BET, tetapi pada
penelitian ini akan digunakan metode bilangan iod untuk menentukan luas
permukaannya.
Sebelum dilakukan prosedur dalam menentukan bilangan iod, karbon aktif
terlebih dahulu disaring dengan ukuran 100-120 mesh agar karbon aktif yang akan
diuji bilangan iod homogen. Setelah dilakukan penyaringan, karbon aktif
dikeringkan di dalam oven pada suhu 100C selama 30 menit untuk
menghilangkan air yang mungkin teradsorp oleh permukaan karbon aktif.
Kemudian, karbon aktif dengan massa konstan di campur dengan larutan iodin
untuk melihat kuntitas iodin yang dapat diadsorp oleh karbon aktif. Banyaknya
iodin yang teradsorp oleh karbon aktif (mg iodin/gram karbon aktif) menunjukkan
luas permukaan yang dimiliki oleh karbon aktif.
Setelah dilakukan prosedur dalam menentukan bilangan iod, bilangan iod
untuk masing-masing sampel karbon aktif dapat dilihat pada Tabel 4.6 di bawah
ini.
Jika dilihat dari data yang terdapat pada tabel di bawah maka bilangan iod
tertinggi diperoleh dari sampel karbon aktif dengan rasio impregnasi 3/2 pada
suhu 800C yaitu sebesar 949 mg/gram, sedangkan hasil terendah didapatkan dari
karbon aktif dengan rasio 1/1 pada suhu 600C yaitu sebesar 373 mg/gram. Selain
itu, karbon aktif hasil aktivasi fisika (pembanding) bahkan menghasilkan luas
permukaan yang paling rendah yaitu sebesar 228 mg/gram. Dari hasil pengujian
ini dapat dilihat bahwa metode aktivasi yang digunakan, suhu aktivasi, dan rasio
impregnasi mempengaruhi luas permukaan karbon aktif yang dihasilkan.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

40

Tabel 4. 6 Bilangan Iod Karbon Aktif Kulit Kopi

Sampel
Aktivasi Fisika (CO2)

Rasio

Bilangan Iod

Impregnasi

(mg/gram)

228

Suhu 600C
Suhu 700C

373
1/1

519

Suhu 800C

920

Suhu 600C

467

Suhu 700C

3/2

709

Suhu 800C

949

Suhu 600C

412

Suhu 700C

2/1

Suhu 800C

676
933

Selain menggunakan metode bilangan iod, dilakukan juga perkiraan luas


permukaan spesifik (m2/gram) BET. Perkiraan ini dilakukan dengan melakukan
konversi berdasarkan korelasi antara bilangan iod dan luas permukaan karbon
aktif. Korelasi ini didapat dari regresi linear yang berdasar pada penelitian
sebelumnya yang telah melakukan perbandingan antara bilangan iod dan luas
permukaan BET. Persamaan konversi dari bilangan iod ke luas permukaan BET
(Miranti, S T. 2012) adalah
= 0,9934 ( ) 51,178

(4.1)

Dengan menggunakan persamaan di atas dapat dikonversi bilangan iod


karbon aktif ke luas permukaan BET dan hasil konversi dapat dilihat pada Tabel
4.7 di bawah ini.
Data di bawah ini merupakan data luas permukaan dimana pada data
tersebut juga dapat dilihat hubungan antara rasio impregnasi dan perubahan suhu
terhadap luas permukaan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa semakin
tinggi suhu maka luas permukaan yang diperoleh akan semakin tinggi
dikarenakan reaksi yang berlangsung antara activating agent dengan arang adalah
reaksi endotermis sehingga semakin tinggi suhu maka semakin tinggi konversi
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

41

reaksi. Tingginya konversi reaksi ini akan menyebabkan meningkatnya atau


banyaknya pori-pori yang terbentuk sehingga luas permukaan karbonn aktif pun
semakin meningkat.
Tabel 4. 7 Konversi Bilangan Iod ke BET

Rasio

Bilangan Iod

BET

Impregnasi

(mg/gram)

(m2/gram)

Aktivasi Fisika (CO2)

228

176

Suhu 600C

373

320

519

465

Suhu 800C

920

863

Suhu 600C

467

412

709

653

Suhu 800C

949

891

Suhu 600C

412

359

676

620

933

875

Sampel

Suhu 700C

Suhu 700C

Suhu 700C

1/1

3/2

2/1

Suhu 800C

Rasio impregnasi juga mempengaruhi luas permukaan suatu karbon aktif.


Dilihat dari data, semakin tinggi rasio impregnasi maka tidak menjamin luas
permukaan yang diperoleh juga semakin tinggi. Hal ini karena semakin tinggi
rasio impregnasi maka akan semakin banyak pula reaksi kimia yang terjadi
selama proses aktivasi. Banyaknya reaksi ini menyebabkan pori-pori yang
terbentuk pada permukaan karbon aktif semakin banyak sehingga luas permukaan
juga meningkat. Namun, reaksi yang berlebihan kana menyebabkan struktur pori
rusak, yaitu semakin bertambahnya mesopori dan berkurangnya mikropori,
sehingga luas permukaan akan berkurang. Hal inilah yang terjadi pada karbon
aktif kulit kopi dengan rasio impregnasi 2:1.
Rendahnya luas permukaan yang didapatkan pada aktivasi fisika
dikarenakan pada aktivasi fisika tidak terjadi reaksi kimia. Proses pembentukan
pori pada aktivasi fisika hanya terjadi pada permukaan karbon aktif secara fisika
sehingga pori yang terbentuk tidak terlalu sempurna jika dibandingkan pori yang
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

42

terbentuk pada aktivasi kimia. Kurang sempurnanya pori yang terbentuk ini
menyebabkan luas permukaan yang diperoleh pada proses aktivasi fisika rendah.
Pengaruh rasio impregnasi dan suhu aktivasi dapat dilihat secara lebih
jelas pada grafik di bawah ini.
1000
Luas Permukaan (m2/g)

900
800
700
600

Aktivasi Fisika (CO2)

500

Rasio Impregnasi 1:1

400

Rasio Impregnasi 3:2

300

Rasio Impregnasi 2:1

200
100
500

600

700
Suhu

800

900

(0C)

Gambar 4. 5 Pengaruh Rasio Impregnasi dan Suhu terhadap Bilangan Iod

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa luas permukaan tertinggi dan titik
optimum diperoleh pada rasio impregnasi 3:2. Pada rasio impregnasi 3:2, konversi
reaksi dapat berlangsung secara optimum sehingga pori-pori dapat terbentuk
secara optimum sehingga luas permukaan yang diperoleh semakin tinggi,
sedangkan pada rasio impregnasi 1:1 konversi reaksi yang terjadi masih sangat
kecil sehingga berpengaruh terhadap pembentukan pori karbon aktif yang sedikit
pula. Hal ini menyebabkan rendahnya luas permukaan karbon aktif. Pada rasio
impregnasi 2:1, konversi reaksi yang terjadi meningkat jika dibandingkan dengan
pada rasio impregnasi 3:2. Namun demikian, peningkatan konversi reaksi ini
mengakibatkan reaksi yang terjadi secara berlebihan dan merusak struktur pori
pada karbon aktif. Dengan rusaknya struktur pori karbon aktif, luas permukaan
yang diperoleh juga menurun. Akan tetapi, penurunan luas permukaan ini tidak
terlalu signifikan jika dibandingkan dengan rasio 3:2 sehingga dapat disimpulkan
bahwa kelebihan reaksi yang terjadi tidaklah terlalu banyak, sedangkan untuk
rasio impregnasi 1:1 konversi reaksi yang terjadi masih sangat kurang pada suhu
600C dan 700C.
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

43

Pengaruh suhu juga dapat dilihat pada grafik di atas. Terilhat bahwa
semakin tinggi suhu maka luas permukaan akan meningkat. Tingginya luas
permukaan karbon aktif ini karena struktur pori yang terbentuk sangatlah baik.
Peningkatan yang cukup pesat terjadi pada suhu 800C, hal ini menunjukkan pada
suhu tersebut konversi reaksi terjadi secara optimum sehingga pori yang terbentuk
juga dapat optimum, sedangkan pada suhu 600C menunjukkan bahwa telah
terjadi reaksi antara activating agent dengan K2CO3 tetapi masih belum optimum.
Luas permukaan tertinggi diperoleh pada suhu 800C yang menunjukkan bahwa
semakin tinggi suhu maka konversi reaksi juga semakin tinggi. Konversi yang
tinggi akibat kenaikan suhu dikarenakan jenis reaksi yang endotermis. Pada
aktivasi fisika, luas permukaan yang diperoleh sangat rendah akibat pembentukan
pori pada karbon aktif yang kurang maksimum
Setelah didapatkan sampel karbon aktif berdasarkan variabel-variabel yang
telah ditetapkan sebelumnya, kemudian hasil ini akan dibandingkan dengan
Standar Industri Indonesia (SII) No. 0258-79 Departemen Perindustrian Republik
Indonesia untuk karbon aktif. Berdasarkan standar tersebut syarat minimum
karbon aktif yang layak digunakan adalah karbon aktif dengan bilangan iod 200
mg/g. Dari persyaratan tersebut, karbon aktif yang diproduksi pada penelitian ini
telah memenuhi syarat minimum bilangan iod dengan bilangan iod berkisar antara
228-949 mg/g. Dengan demikian, produksi karbon aktif dari limbah kulit kopi
dapat memperoleh karbon aktif dengan luas permukaan tinggi.

4.3

Karakterisasi Kondisi Optimum Karbon Aktif


Salah satu tujuan peneilitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi

optimum dalam pembuatan karbon aktif. Pada penelitia ini diperoleh kondisi
optimum yaitu pada suhu aktivasi 800C dengan rasio impregnasi 3:2. Oleh karena
itu, akan dibandingkan antara karbon aktif yang diperoleh pada penelitian ini
dengan karbon aktif pada penelitian lain.
Data pada Tabel 4.8 memperlihatkan bahwa bahan baku dan activating
agent mempengaruhi luas permukaan karbon aktif yang diperoleh. Pembuatan
karbon aktif dari kulit kopi memiliki potensi yang cukup baik apabila dilakukan
dengan menggunakan aktivasi kimia menggunakan K2CO3. Dapat dilihat bahwa
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

44

karbon aktif kulit kopi dengan aktivasi K2CO3 memiliki luas permukaan yang
lebih tinggi dari karbon aktif kulit kopi yang menggunakan aktivasi KOH. Selain
itu, karbon aktif pada penelitian ini juga memiliki luas yang lebih tinggi daripada
karbon aktif yang diproduksi dari cangkang kelapa sawit dengan activating agent
yang sama. Perbedaan luas permukaan yang diperoleh juga dipengaruhi oleh
bahan baku karbon aktif karena setiap bahan memiliki komposisi kimia yang
berbeda.
Tabel 4. 8 Perbandingan Karbon Aktif Kulit Kopi dengan Karbon Aktif lain.

Parameter
Waktu
Luas
Rasio
Aktivasi
Permukaan
Impregnasi
(menit)
(m2/g)
90
1.5
891
60
1
2000
120
2
607

Bahan Baku

Activating
Agent

Suhu
(C)

Referensi

Kulit Kopi
lignin
Kulit Kopi
Cangkang
Kelapa
Sawit

K2CO3
K2CO3
KOH

800
800
850

K2CO3

800

120

1.5

540

Adinata D, dkk. 2005

Sekam Kopi

ZnCl2

773

60

1450

Goncalves M, dkk.
2013

Hayashi J, dkk. 2000


Nabais JV,dkk. 2008

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan
Dari hasil penelitian produksi karbon aktif dari kulit kopi dengan aktivasi

kimia menggunakan K2CO3 dapat disimpulkan:


1. Kulit kopi dapat digunakan untuk membuat karbon aktif dengan
bilangan iod 228-949 mg/g yang memenuhi syarat bilangan iod
minimum SII No. 0258-79 sebesar 200 mg/g.
2. Perbedaan luas permukaan antara karbon aktif dengan aktivasi fisika dan
kimia pada suhu 700C mencapai 164% untuk rasio 1:1, 271% untuk
rasio 3:2, dan 252% untuk rasio 2:1 dengan luas permukaan aktivasi
fisika adalah 176 m2/gram.
3. Suhu aktivasi berpengaruh terhadap luas permukaan karbon aktif.
Semakin tinggi suhu maka luas permukaan akan semakin tinggi dengan
luas permukaan tertinggi 891 m2/g pada suhu aktivasi 800C.
4. Semakin tinggi rasio impregnasi maka reaksi semakin meningkat. Rasio
optimum yang diperoleh untuk menghasilkan karbon aktif dengan luas
permukaan tertinggi adalah 3:2.
5.2

Saran
Dari hasil penelitian produksi karbon aktif dari kulit kopi dengan aktivasi

kimia menggunakan K2CO3, saran-saran yang dapat diberikan untuk penelitian


selanjutnya adalah:
1. Melakukan pembuatan karbon aktif dari kulit kopi pada suhu aktivasi
900C untuk melihat titik optimumnya
2. Menambahkan variabel waktu aktivasi dan melakukan analisis SEM
untuk melihat perubahan struktur pori pada karbon aktif
3. Melakukan uji FTIR untuk mengetahui komponen yang masih terdapat
dalam sampel setelah proses karbonisasi
4. Melakukan uji BET untuk membandingkan antara bilangan iod dengan
luas permukaan karbon aktif.
5. Melakukan impregnasi activating agent setelah proses karbonisasi untuk
melihat pengaruhnya terhadap karbon aktif yang dihasilkan.
45

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Adinata, Donni, Wan Daud, Wan Mohd, Ashri. 2005. Preparation and
characterization of activated carbon from palm shell by chemical activation
with K2CO3. Bioresource technology 145-149
Ahmad, A.A, B.H. Hameed. 2009. Reduction of COD and color of dyeing effluent
from a cotton textile mill by. Journal of Hazardous Materials 172 15381543
adsorption onto bamboo-based activated carbon
Atkins. (1999). Kimia Fisika Jilid Dua. Jakarta: Erlangga
Aznar, Javier Sanchez. 2011. Characterization of activated carbon produced from
coffee residues by chemical and physical activation. KTH Chemical Science
and Engineering.
Bressani R, J E Braham. 1979. Coffee Pulp. Ottawa: The Institute of Nutrition of
Central America and Panama.
Benrachedi, K., Bensouali, K., Houchati, H. 2008. Coupling ultrafiltrationwith
adsorption on activated coffee use as reserve osmosis pretreatment.
Chen, dkk. 2012. Activated carbon powders from wool fibers
Chunlan Lu, et.al., 2010. The role of K2CO3 during the chemical activation of
petroleum coke with KOH. Dalian, China.
Direktorat Jendral Perkebunan. 2012. Produksi Kopi Menurut Provinsi di
Indonesia 2008-2012. Jakarta
Freedonia. 2012. World Activated Carbon [Online].
Giraldo, Liliana, Juan Carlos Moreno-Pirajan. 2012. Synthesis of Activated
Carbon Mesoporous from Coffee Waste and Its Application in Adsorption
Zinc and Mercury Ions from Aqueous Solution. E-Journal of Chemistry
2012, 9(2), 938-948
Goncalves, Maraisa, Guerreiro, Mario, Cesar, de Oliveira, Luiz, Carlos, Alves, de
Castro, Cinthia, Soares . 2013. A friendly environmental material: Iron
oxide dispersed over activated carbon from coffee husk for organic
pollutants removal. Journal of Environmental Management 127 (2013)
206e211

46

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Universitas Indonesia

47

Gurten, dkk., 2009. Preparation and characterisation of activated carbon from


waste tea using K2CO3
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama
Hayashi, Junichi, Kazehaya, Atsuo, Muroyama, Katsuhiko, Watkinson, A.Paul.
2000. Preparation of activated carbon from lignin by chemical Activation.
Carbon 38 (2000) 1873 1878
Hwang, Yun Ju, dkk. 2007. Pyrolytic carbon derived from coffee shells as anode
materials for lithium batteries. School of Chemical Engineering and
Technology, Chonbuk National University, Chonju 561-756
Indonesia Coffee Festival. 2012. Bali [Online]
Jankowska, H., Swiatkowski, A., Choma, J. 1991. Active Carbon. New York:
Ellis Horwood.
Jin, Xiao-Juan. 2010. Preparation of Activated Carbon From Lignin Obtained by
Straw Pulping by KOH and K2CO3 Chemical Activation. Cellulose Chem.
Technol., 46 (1-2), 79-85
Jisha M R, dkk. 2008. Electrochemical characterization of supercapacitors based
on carbons derived from coffee shells
Kalderis, D., Koutoulakis, D., dkk. 2008. Adsorption of Polluting Substances on
Activated Carbons Prepared from Rice Husk and Sugarcane Bagasse.
Chemical Engineering Journal 144(1) : 42-50.
Kiric Mulat,dkk. 2012. Preparation and surface characterization of activated
carbons from Euphorbia rigida by chemical activation with ZnCl2, K2CO3,
NaOH and H3PO4
Lydia. 2012. Skripsi: Pembuatan Karbon Aktif dari Ampas Tebu dengan Aktivasi
Menggunakan KOH dan ZnCl2. Departemen Teknik Kimia, Faklutas Teknik
Universitas Indonesia, Jakarta.
Manocha Satish. 2003. Porous Carbons
Maron, S. H., Jerome B. Lando. 1974. Fundamentals of Physical Chemistry.
London, Collier Macmillan Publisher
Marsh, Harry, Francisco Rodriguez-Reinoso. 2006. Activated Carbon. Elsevier
Science & Technology Books.
Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

48

Murti, S. 2008. Skripsi: Pembuatan Karbon Aktif dari Tongkol Jagung untuk
Adsorpsi Molekul Amonia dan Ion Krom. Depok: Universitas Indonesia
Muryanto, dkk. Potensi Limbah Kulit Kopi Sebagai Pakan Ayam. Baadan
Pengkajian Teknologi Pertanian.
Nabais, J V,Carrott, Peter, Ribeiro Carrott, M.M.L., Luz Vania, Ortiz, Angel L
2008. Influence of preparation conditions in the textural and chemical
properties of activated carbons from a novel biomass precursor: The coffee
endocarp. Bioresource Technology 99 (2008) 72247231
Sudibandriyo, M. 2003. Ph. Dissertation : A Generalized Ono-KondoLattice
Model for High Pressure on Carbon Adsorben. Oklahoma :Oklahoma State
University
Sudibandriyo, M. 2011. Production of Super Activated Carbon from Coal and
Coconut Shell Using Chemical Activation, International Journal Chemical
and Research
Syafira, L I. 2012. Skripsi :Pembuatan Pupuk Bokashi dariLimbah Organik dan
Analisis Kandungan Unsur Nitrogen, Karbon, Fosfor, dan Kalium. Medan:
Universitas Negeri Medan
Teng, H., Hsu, L. 2000. Influence of Different Chemical Reagents on the
Preparation of Activated Carbon from Bituminous Coal. Fuel Processing
Technology 64 : 155-166
Treybal, Robert J.. Mass Transfer Operations. Singapore: McGraw Hill, 1980.

Universitas Indonesia

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

LAMPIRAN
Lampiran 1. Data perhitungan Bilangan Iod dengan Volume Iodin 10 ml

Sampel

Rasio
Impregnasi

Massa Karbon
Aktif (gram)

Aktivasi Fisika
(CO2) 700 0C

0.5

Aktivasi Kimia
Suhu 600 0C

Aktivasi Kimia
Suhu 700 0C

0.5

1/1

0.5

Aktivasi Kimia
Suhu 800 0C

0.5

Aktivasi Kimia
Suhu 600 0C

0.5

Aktivasi Kimia
Suhu 700 0C

3/2

0.5

Aktivasi Kimia
Suhu 800 0C

0.5x

Aktivasi Kimia
Suhu 600 0C

0.5

Aktivasi Kimia
Suhu 700 0C

Aktivasi Kimia
Suhu 800 0C

Volume
Na2S2O3 (ml)
8.1
8.2
8.3
8.2
7.2
6.9
6.8
7.1
6
5.7
5.7
5.9
2.7
2.8
2.8
2.7
6.1
6.2
6.3
6.4
4.2
4.3
4.4
4.3
2.5
2.5
2.6
2.5
6.7
6.7
6.8
6.8
4.6
4.7
4.7
4.7
2.6
2.6
2.7
2.7

2/1

0.5

0.5

Bilangan Iod
(mg/g)
241.11
228.42
215.73
228.42
348.35
385.68
398.12
360.79
497.65
534.97
534.97
510.09
926.37
913.68
913.68
926.37
485.21
472.76
460.32
447.88
721.59
709.15
696.71
709.15
951.75
951.75
939.06
951.75
418.77
418.77
406.08
406.08
685.26
672.57
672.57
672.57
939.06
939.06
926.37
926.37

49

Produksi karbon ..., Adi Prasetyo, FT UI, 2014

Bilangan Iod Ratarata (mg/g)


228

373

519

920

467

709

949

412

676

933

Universitas Indonesia