Anda di halaman 1dari 9

1.

Pendahuluan
Akrodermatitis merupakan dermatitis tipe vesikular pada jari, telapak
tangan dan kaki. Penyakit ini merupakan dermatosis yang dapat dalam keadaan
akut, rekuren, dan kronik, yang dikarakteristikan dengan adanya vesikel yang
gatal dengan onset tiba-tiba, dan pada keadaan lanjut dapat ditemukan fisura dan
likenifikasi.1,2 Akrodermatitis pertama kali ditemukan pada tahun 1955 di Italia
oleh Gianotti yang dikaitkan dengan infeksi virus Hepatitis B. Beberapa waktu
kemudian dikemukakan bahwa banyak virus maupun bakteri lain yang dapat
menyebabkan akrodermatitis seperti Coxsackie virus, Parainfluensa virus,
Enterovirus, Respiratory Syncytial virus, group A Beta Hemolytic Streptococcus
dan lainnya..7
Prevalensi akrodermatitis di Amerika Serikat adalah 5% dari seluruh
penyakit eksema pada tangan. Insidensi puncak penyakit ini terjadi pada pasien
usia 20-40 tahun, tetapi penyakit ini juga dapat terjadi pada usia remaja ataupun
pada usia lebih tua. Berdasarkan beberapa penelitian penyakit ini lebih sering
terkena pada wanita dibandingkan pria dengan perbandingan 2 : 1. Mortalitas
tidak pernah dilaporkan sehubungan dengan akrodermatitis tetapi dalam keadaan
berat penyakit ini dapat menganggu aktivitas. 2
Akrodermatitis dikaitkan dengan riwayat atopi, dimana sekitar 50 %
penderita akrodermatitis juga menderita dermatitis atopik. Akrodermatitis
merupakan penyakit yang sering kambuh tetapi dapat terjadi remisi spontan dalam
2-3 minggu. Interval serangan bisa terjadi dalam minggu atau bulan. Pada
beberapa orang akrodermatitis dapat menjadi kronik.1
Mekanisme mengenai terjadinya akrodermatitis sendiri masih belum
jelas. Hipotesis paling awal mengemukakan bahwa lesi-lesi vesikel yang
timbul pada akrodermatitis disebabkan oleh ekskresi keringat yang berlebihan
(excessive sweating). Namun sekarang hipotesis ini sudah tidak digunakan lagi
karena lesi-lesi vesikular yang timbul pada akrodermatitis tidak berkaitan
dengan saluran kelenjar keringat. Walaupun demikian, hiperhidrosis (keringat
1

berlebihan) merupakan salah satu tanda yang terlihat secara khas pada 40%
penderita akrodermatitis.3
Distribusi dari ruam adalah 80 % pada tangan dan kaki, dimana tempat
predileksi dimulai dari bagian lateral jari-jari, telapak tangan, telapak kaki dan
pada keadaan lanjut pada bagian dorsal jari-jari.1 Akrodermatitis merupakan
penyakit yang sering kambuh tetapi dapat terjadi remisi spontan dalam 2-3
minggu. Interval serangan bisa terjadi dalam minggu atau bulan.2

2. Akrodermatitis
2.1 Definisi
Ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata acro yang berarti ekstremitas
dan dermatitis yang mempunyai arti peradangan pada kulit (4). Akrodermatitis
ditinjau dari segi bahasa berasal dari kata acro yang berarti ekstremitas dan
dermatitis yang mempunyai arti peradangan pada kulit. Sehingga, pengertian
secara bahasa yakni peradangan kulit yang terdapat pada ektremitas. Sinonim dari
acrodermatitis ialah acrodermatitis infatile lichenoid, acrodermatitis papular
infatile, Gianotti crosti sindrom, papular acrodermatitis of childhood,
papulovesicular acro located syndrome.6 Sehingga dapat ditarik suatu pengertian
secara bahasa yakni peradangan kulit yang terdapat pada ektremitas.
Akrodermatitis adalah suatu kelainan kulit yang tidak berbahaya yang disertai
gejala demam dan malaise, yang terkait dengan suatu infeksi virus maupun
bakteri.3 Sedangkan secara klinis akrodermatitis dijelaskan sebagai suatu kelainan
kulit pada anak yang disertai dengan gejala ringan berupa panas dan malaise, yang
dikaitkan dengan adanya infeksi virus hepatitis B ataupun infeksi virus lainnya.
Pada kelainan ini biasanya lesinya simetrik, papul berwarna merah tembaga
berbentuk datar, berkilat, berbentuk garis linear.6

2.2 Etiologi
Penyebab akrodermatitis belum diketahui dengan pasti. Akrodermatitis
sering timbul bersamaan dengan penyakit kulit lain misalnya dermatitis atopik,
dermatitis kontak, alergi terhadap bahan metal, infeksi dermatofita, infeksi

bakteri, lingkungan dan stres.3 Ada beberapa faktor yang mungkin berperan dalam
menyebabkan akrodermatitis , yaitu
1. Atopi : Sebanyak 50% pasien dengan akrodermatitis dilaporkan baik
secara personal maupun keluarga mempunyai atopy diatesis (eksema,
asma, hay fever, rinitis alergika)
2. Serum IgE akan meningkat, sekalipun pasien dan keluarga tidak
mempunyai riwayat atopy.
3. Sensitif terhadap nikel : Ini mungkin faktor yang signifikan dalam
akrodermatitis namun mempunyai jumlah yang rendah, sedangkan dalam
beberapa studi lain dilaporkan adanya peningkatan terhadap sensitifitas
terhadap nikel.
4.

Infeksi jamur.

5.

Stres emosi :Merupakan faktor yang paling memungkinkan menyebabkan


akrodermatitis. Banyak pasien melaporkan adanya akrodermatitis berulang
selama periode stres. Perbaikan akrodermatitis menggunakan biofeedback
untuk mengurangi stres.

6. Faktor lain : Faktor yang dilaporkan bisa menyebabkan akrodermatitis


antara lain rokok, kontrasepsi oral, aspirin dan implan metal.
2.3 Patofisiologi
Mekanisme mengenai terjadinya akrodermatitis sendiri masih belum jelas.
Hipotesis paling awal mengemukakan bahwa lesi-lesi vesikel yang timbul pada
akrodermatitis disebabkan oleh ekskresi keringat yang berlebihan (excessive
sweating). Namun sekarang hipotesis ini sudah tidak digunakan lagi karena lesilesi vesikular yang timbul pada dermatitis dishidrosis tidak berkaitan dengan
saluran kelenjar keringat. Walaupun demikian, hiperhidrosis (keringat berlebihan)
merupakan salah satu tanda yang terlihat secara khas pada 40% penderita
dermatitis dishidrosis (istilah dishidrosis datang dari gejala berkeringat
banyak/salah berkeringat).4

Stres emosional dan faktor lingkungan meliputi perubahan iklim, suhu


yang panas atau dingin dan kelembaban dapat memudahkan terjadinya
penyebaran dari akrodermatitis. Pasien mengeluh gatal pada tangan dan basah
serta adanya bula yang tiba-tiba muncul. Keluhan rasa panas dan gatal mungkin
akan dialami setelah bula muncul. Keadaan tersebut bisa berubah dari sekali
sebulan menjadi sekali setahun.5
2.4 Gambaran Klinis
Gelembung (vesikel) kecil dengan karakteristik sebagai berikut:

vesikel yang sangat kecil (diameter 3 mm atau kurang) yang muncul di ujung
dan sisi jari jari tangan dan kaki serta telapak tanga.

vesikel yang opak dan dalam, yang rata dengan kulit atau sedikit lebih tinggi
dan tidak mudah pecah. Akhirnya, gelembung kecil bersatu dan membentuk
gelembung besar (bula).

vesikel mungkin gatal, nyeri, atau tidak ada gejala sama sekali dan
memburuk setelah kontak dengan sabun, air, atau zat iritan.

vesikel akan pecah saat digaruk , mengeluarkan cairan di dalamnya, dan


akhirnya muncul krusta dan fisura (retak). Retak kulit itu sangat nyeri dan
menimbulkan gangguan kosmetik dan sering membutuhkan waktu berminggu
minggu bahkan berbulan bulan untuk menyembuhkannya Kulit akan tampak
kering dan bersisik selama periode ini.

Cairan dari vesikel adalah serum yang terakumulasi antara sel-sel kulit yang
teriritasi bukan keringat seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Dalam beberapa kasus, seperti lepuh yang terdapat di telapak atau jari dapat
ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening . Hal ini ditandai dengan
rasa kesemutan di lengan bawah dan benjolan muncul diketiak.

Kuku pada jari tangan dan jari kaki yang terkena, dapat mengalami kelainan.
Beberapa faktor yang digali dari anamnesis dapat terkait dengan

akrodermatitis, antara lain stress emosional, riwayat atopik diri sendiri atau
keluarga, pajanan terhadap antigen tertentu (seperti kobalt, nikel, balsam, krom,
5

dll), riwayat pengobatan dengan terapi imunoglobulin intravena, atau riwayat


penyakit hiv.
2.5 Pemeriksaan Fisik

Pada kulit tampak adanya papul papul yang berwarna merah kecoklatan
atau seperti merah tembaga dengan ukuran 2-5mm, datar dan berkilat tidak
gatal,dan distribusinya simetrik, diskret (terpisah satu dengan lain) atau

membentuk garis linear,8


Daerah predileksi : wajah, ektremitas (tangan, kaki) bagian ektensor,

pantat. Kadang kadang dapat mengenai telapak tangan dan telapak kaki.6
Jika akibat infeksi virus Hepatitis dapat ditemukan anicterik adanya

hepatosplenomegali, limfadenopati.
Jika penyebabnya streptococcus pada sistem respirasi atas dapat dijumpai
adanya lesi di mukosa, pembengkakan pada tonsil dan pharing merah. 8
Sedang untuk penyebab lain belum diterangkan secara terperinci.

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium
Diagnosis akrodermatitis biasanya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan
klinis semata dan mudah untuk didiagnosis karena cenderung tidak menyerupai
keadaan lainnya. Pemeriksaan kultur bakteri dan sensitifitas dilakukan jika curiga
adanya infeksi sekunder. Sedangkan tes darah biasanya tidak diusulkan, tapi
biasanya IgE-nya meningkat.5 Dapat juga dilakukan uji tempel (Patch Test) bila
dicurigai adanya dermatitis kontak alergi.
Histopatologi
Pada biopsi kulit epidermis diperoleh spongios fokal, parakeratosis dan
acantholisis ringan. pada dermis disekitar vascular terdapat infiltrat lymphosit dan
histiosit.

2.7 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis yang
ditemukan, kultur bakteri dan sensitivitas, uji tempel, dan histopatologi (adanya
spongiosis disertai infiltrasi limfosit dan/atau bula/vesikel intraepidermal).
2.8 Diagnosis Banding
Diagnosis bandingnya adalah dermatitis, yaitu dermatitis allergen yang
terjadi karena adanya kontak dengan allergen. Dermatitis kontak iritan dapat
menjadi faktor pencetus terjadinya akrodermatitis ini. Dermatitis kontak iritan
pada tangan biasanya mengenai dorsum manus dan sela-sela jari. Pada
akrodermatitis, lokalisasi terutama di telapak tangan dan pinggir lateral jari-jari.
Akrodermatitis dapat dibedakan dengan penyakit lain yang mempunyai
wujud kelainan kulit yang serupa namun dibedakan dari segi etiologi, distribusi
dan tempat predileksi yakni9 :

Dermatitis kontak iritan


Drug Eruption
Scabies
Erytema Multiforme
Tinea Pedis et Manum10

2.8 Penatalaksanaan
Krim kortikosteroid
Asam salisilat 5% dalam alkohol
Krim vioform 3% memberi hasil yang baik
Bila madidans : kompres dengan KMnO4 1 : 5000
Pada kasus-kasus yang berat diberikan kortikosteroid sistemik seperti :
prednison, prednisolon atau tiamsinolon
Terapi paling mendasar yang dapat dilakukan adalah menjaga daya tahan tubuh.5

Beberapa tips yang dapat diterapkan antara lain:


1. Gunakan pelembab untuk mencegah kulit kering dan gatal
2. Manajemen stres
3. Hindari menggaruk karena justru akan memperburuk dishidrosisnya. Untuk
mengurangi gatalnya Anda dapat membasuh atau merendam tangan dan kaki
Anda dalam air dingin.
4. Buka kaus kaki dan sepatu setiap ada kesempatan untuk mengalirkan uap
keringat
5. Hindari penggunaan shampoo dan sabun yang berbahan keras
6. Hindari nikel jika Anda alergi terhadapnya. Sumber nikel antara lain
beberapa jenis makanan, perhiasan, bra, dsb.
7. Hindari produk kulit yang mengandung alkohol karena dapat mengiritasi
kulit.
8. Gunakan alas kaki dari bahan kulit daripada karet
9. Gunakan kaus kaki yang terbuat dari katun dibandingkan bahan sintetik

2.9 Prognosis
Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Fitzpatrick TB, Johnson RA, Wolff K, Suurmond D. Color atlas and


synopsis of Clinical Dermatology. New York. United States of America:
Mc Graw-Hill Medical Publishing Division; 2008.
8

2.

Janniger, Camila K. Pediatric Dyshidrotic Eczema. Diunduh dari:


http://emedicine.medscape.com/article/910946-overview. di akses tanggal
17 September 2012

3.

Harahap, H. 2000, Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates, Jakarta : 21

4.

Siregar, R.S. 1996, Atlas Berwarna SARIPATI PENYAKIT KULIT,


EGC, Jakarta : 142-143

5.

Burdick, A.E. 2004, Dyshidrotic Eczema, Department of Dermatology,


University of Miami School of Medicine, http ://www.eMedicine.com : 119

6.

Adam, Acrodermatitis definition, April, 2003, http :// www.unair.com//.


Diunduh 22 Juli 2011.

7.

Cristopher J.R , Acrodermatitis Overview, Cause and Risk Factors,


Oktober, 2002, htt :// www.raredisease.org // Diunduh 22 Juli 2011.

8.

Lehree M, Acrodermatitis Symptoms and Sign, University of Pennsylvania


Medical Center, January, 2002, Philadelphia, htt: // www.urac.org //.
Diunduh 22 Juli 2011

9. Albert G.Y. , Gianotti Crosti Syndrome (Papular Acrodermatitis of


Chillhood, Desember, 2002, http :// www.medicine.com //. Diunduh 22
Juli 2011.
10. Budimulja, Unandar. Mikosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Edisi kelima cetakan kedua. 2007. FKUI. Jakarta. Hal 97.