Anda di halaman 1dari 8

PSORIASIS VULGARIS

A. Definisi
Psoriasis adalah penyakit herediter pada kulit yang penyebabnya belum diketahui, bersifat kronik dan
rekuren, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis
dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin dan Auspitz (Fitzpatricks).
Keadaan yang bersifat kronik, residif dengan lesi makula eritem, berbatas tegas dibatasi dengan
skuama kasar berlapis, berwarna putih bening ditutupi dengan grayish atau silvery white imbricat dan lamelar
scale. Ditandai dengan fenomena koebner dan Auspitz sign (Andrew).
B. Epidemiologi
- Tidak menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih-lebih mengigat bahwa
perjalanannya menahun dan residif.
- USA 2% populasi Lelaki = Perempuan
- Eropa 3-7% Kulit putih > Kulit hitam
- Jepang 0,6% Perempuan umur 27 tahun
- Inggris 1,7% Lelaki umur 29 tahun
- Amerika selatan 0,97% Pada dekade 2 atau 3 of life
- Jarang pada Afrika Barat, Jepang dan Eskimo
- Jarang pada anak-anak dan bayi
- Insiden pada orang kulit putih lebih tinggi, di Eropa dilaporkan sebanyak 3-7%. Di Amerika Serikat 12%, sedangkan di Jepang 0,6%. Pada bangsa berkulit hitam, misalnya Afrika jarang dilaporkan,
demikian pula pada suku Indian di Amerika.
- Insidensi pada pria lebih banyak daripada pada wanita
- Psoriasis terdapat pada semua usia, tapi umunya pada orang dewasa.
- Onset awal insidensi puncaknya pada 22,5 tahun (pada anak rata-rata 8 tahun) dengan psoriasis yang
parah dan riwayat keluarga psoriasis positif. Onset lanjutan terjadi pada umum 55 tahun.
- Polygenic trait. Ketika 1 orang tua mempunyai psoriasis, 8% keturunannya dapat mengalami psoriasis.
Ketika kedua orangtua memiliki psoriasis, 41% keturunanya dapat memiliki psoriasis. Tipe HLA yang
paling sering berhubungan dengan psoriasis adalah HLA-B13, -B17, Bw57 dan HLA-Cw6.
C. Faktor predisposisi
- Trauma fisik (Koebners phenomenon)
- Garukan akan menstimulasi proses proliferasi psoriasis
- Infeksi akut streptococcal dapat memicu terjadinya psoriasis guttate
- Stress 40% pada dewasa dan lebih tinggi pada anak-anak
- Obat sistemik glukokortikoid, kelas 1 topical glukokortikoid, oral lithium, antimalarial, systemic
interferon, -adrenergic blockers dapat menyebabkan psoriasiform drug eruption
- Asupan alcohol
D. Etiologi
Etiologi hingga kini belum diketahui pasti, yang jelas ialah bahwa pembentukan epidermis (turn over
time) dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Pada sebagian pasien terdapat
faktor herediter yang bersifat dominan. Faktor psikik dikatakan mempercepat terjadinya residif.
Faktor adanya infeksi fokal mempunyai hubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis yaitu
psoriasis gutata, sedangkan hubungannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas.
E. Patogenesis
- Percepatan epidermopoiesis dan peningkatan proporsi sel epidermis yang berperan dalam proses
proliferatif melebihi laju aktual epidermopoiesis merupakan hal yang mendasari lesi psoriatik.
- Perubahan yang terjadi pada zona intermediari (Szakalls barrier) dan hiperkeratotik lapisan stratum
korneum.
- Reaksi psoriatik berlangsung seluler dan nuklear dalam lapisan sel Malphigi dan granular. Oleh karena
terjadinya peningkatan aktivitas mitotik maka akan terjadi penebalan epidermal yang akantotik.

Proses perubahan kapiler, edema perivaskular, dan gangguan pada mesenkim.


Peningkatan polyamines (ptomaines) secara signifikan proliferasi sel secara cepat.
Berhubungan dengan 4 HLA antigen yaitu B13, BW17, BW16, BW371. B13 atau BW17
meningkatkan resio psoriasis 5x sedangkan B13 dan B17 meningkat pada psoriasis gutata atau
eritrodermik.
Metabolisme nukleoprotein yang abnormal dalam keratinisasi yang tidak sempurna.

Gambar 1 : patogenesis psoriasis vulgaris


Sumber: Fitzpatrick Dermatologi in Medicine
F. Klasifikasi
Berdasarkan gejala klinis
1) Nonpustular Psoriasis
Psoriasis Vulgaris
Psoriasis erythroderma
2) Pustular Psoriasis
Pustular psoriasis of von Zumbusch
Pustulosis palmaris et plantaris
Pustular psoriasis, annular type
Acrodermatitis continua
Impetigo herpetiformis
Berdasarkan berat ringannya gejala :
Psoriasis ringan : Pasi <8, luas lesi <5% dari permukaan kulit
Psoriasis sedang : Pasi 8-12 luas lesi 5-20%
Psoriasis berat : Pasi >12 luas lesi >20%
G. Manifestasi Klinis
1) Keadaan umum tidak dipengaruhi, kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma.
2) Sebagian pasien mengeluh gatal ringan.
3) Tempat predileksi pada kulit kepala, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian
ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral.
4) Kelainan kulit terdiri atas:
- Bercak-bercak eritema berbatas tegas dan merata, tapi pada stadium penyembuhan sering eritema
yang ditengah menghilang dan hanya terdapat dipinggir.
- Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan
bervariasi, lentikular, numular atau plakat, dapat berkonfuensi.
5) Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan koebner. Kedua fenomena yang disebut
lebih dahulu dianggap khas, sedangkan yang terakhir tidak khas, hanya kira-kira 47% yang positif dan
didapati pula pada penyakit lain.

Fenomena tetesan lilin: Skuama yang tebal berlapis-lapis digores dengan tepi kaca objek
glass/kuku, yang akan tampak garis putih seperti goresan pada tetesan lilin disebabkan oleh
berubahnya indeks bias (skuama tersebut patah sehingga dimasuki udara).
- Auspitz sign merupakan perdarahan berbintik-bintik (pinpoint) ketika squama psoriatik
dilepaskan (oozing darah dari kapiler). Pada lesi skuama digoreskan benda tajam lalu dilepaskan
lapis demi lapis maka beberapa menit kemudian timbul tanda auspitz (bintik perdarahan di atas
dasar eritem). Hal tersebut disebabkan oleh akantosis dan papilomatosis.
- Fenomena koebner (reaksi isomorfik) merupakan lesi tipikal psoriatik di tempat trauma
(garukan, erupsi). Pada kulit yang normal, dilakukan trauma dengan melakukan scratch/garukan
maka akan timbul kelainan kulit serupa (8-10 hari setelah trauma) berbentuk lesi linier. Dapat juga
ditemukan pada lichen planus, lichen nitidus, verruca plana, dermatitis ekzim infeksiosa, ekzim
numuler.
6) Psoriasis juga menyebabkan kelainan kuku, yakni sebanyak kira-kira 50%, yang agak khas adalah yang
disebut pitting nail atau nail pit berupa lekukan-lekukan miliar. Kelainan yang tidak khas adalah kuku
yang keruh, tebal, bagian distalnya terangkat karena terdapat lapisan tanduk dibawahnya, dan
onikolisis.
7) Kelainan pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksinya pada sendi interfalangs
distal, terbanyak pada usia 30-50 tahun. Sendi membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik
subkorteks.

Gambar 2 : Perubahan kuku psoriasis


Sumber : Fitzpatrick Dermatology in Medicine
H. Tempat predileksi psoriasis vulgaris

Gambar 4: Tempat Predileksi Psoriasis Vulgaris


Sumber: Andrews

I. Diagnosis Banding

J. Diagnosis

Anamnesis : keluhan gatal adanya bercak kemerahan disertai sisik tebal, pada telapak tangan, kaki,
daerah lipatan serta persendian
Pemeriksaan fisik : lesi berupa macula eritem atau plak eritem berbatas tegas dengan skuama tebal
berwarna keperahan, lesi dapat minimal atau generalisata dalam bentuk eritroderma. Terdapat
fenomena koebner dan tanda auspitz
Pemeriksaan histopatologi :. Pada histopatologi didapatkan hyperkeratosis, parakeratosis, mikroabses
munro

K. Tatalaksana
Topical
Antralin dapat digunakan sebagai menghambat proliferasi keratin dan juga sebagai anti-inflamasi kuat.
Antrlain bekerja dengan menghambat netrofil, monosit, dan enzim proliferasi Biasanya antralin dapat
dimulai dengan dosis minimal 0,05% sampai dosis maksimal 1% dengan cara penggunaan 15-30 menit,
kemudian dibilas. Efek samping antralin dengan dosis tinggi menyebabkan perubahan warna
kecoklatan pada sekitar kulit

Vitamin D3 analog
Kalsipotriol merupakan suatu senyawa analog vitamin D3 mampu mengobati psoriasis ringan
sampai sedang. Mekanisme kerja kalsipotriol adalah antiproliferasi keratosit, menghambat proliferasi
sel, dan meningkatkan diferensiasi juga menghambat produksi sitokin. Kalsipotriol digunakan untuk
mengobati psoriasis type-plaque. Kalsipotriol merupakan pilihan utama atau pilihan kedua setelah
kortikosteroid superpoten, namun obat ini jarang sekali menimbulkan efek samping. Efek samping
terbanyak adalah dermatitis iritan dengan pemakaian lebih dari 100g dapat meningkatkan kalsium
darah.
Kalsipotriol tersedia dalam bentuk krim dan salap atau solusio yang digunakan dua kali sehari.
Respon terapi baru terlihat setelah 14-78 hari. Reaksi iritan dan gatal merupakan tanda keberhasilan
terapi. Vitamin D analog lebih efektif bila dibandingkan dengan emolien atau tar, namun setara dengan
kortikosteroid poten. Vitamin D dan kortikosteroid poten menpunyai efektivitas yang lebih baik, bila
dibandingkan penggunaan vitamin D atau kortikosteroid tunggal.
Ter
Ter berasal dari destilasi bahan organik. Penggunaan Ter dalam pengobatan psoriasis ringan
sampai sedang. Ter dapat dilarutkan dalam alcohol disebut dengan likour karbonis detergent.
Pemakaian Ter dapat mengakibatkan kulit lengketm terasa terbakar dan kontak iritan.
Retinoid Topical
Acetylenic retinoid adalah asam vitamin A dan sintetik analog dengan reseptor dan .
Tazarotene adalah Retinoid berikatan langsung dengan asam retinoat pada promoter gen aktivasi,
menurunkan jumlah sel radang, menormalkan proliferasi. Tazarotene 1% lebih efektif dibandingkan
dengan 0.05% dengan pemakaian 12 minggu sedian ini lebih efetif dibandingkan venikulum dalam
meredakan skuama dan infiltrat psoriasis. Efek samping obat ini berupa fototoksik.

Topical kortikosteroid
Topical kortikosteroid berperan sebagai antiinflamasi, antiproliferasi, dan vasokontriksi masih
dipergunakan baik digunakan tunggal ataupun kombinasi. Keuntungan terapi kortikosteroid efektif,
relatif cepat, mudah digunakan, dan tidak terlalu mahal. Pengobatan psoriasis pada topikal
kortikosteroid berdasarkan keparahan, letak lesi, dan kekuatan kortikosteroid topical. Pemberian
kortikosteroid superpoten hanya diperbolehkan 2 minggu.

Fototerapi
Fototerapi yang dikenal UVA dan UVB, mekanisme fototerapi dapat merubah profil sitokin,
menginduksi apoptosis, imunosuppresan. Efek samping cepat fototerapi berupa subburn, sedangkan efek
samping lama berupa penuanaan dan keganasan pada kulit
Sistemik
Metotreksat dapat dipergunakan untuk psoriasis berat plakat rekalsitran, psoriasis pustulosa, psoriasis
eritroderma, psoriasis arhtritis. Mekanisme kerja obat menekan proliferasi limfosit dan produksi sitokin. Obat
ini disekresikan di ginjal, bersifat teratogenik, hepatotoksik, dan depresi sistem hematopoetik. Pemakaian obat
ini dimulai dengan 7.5 sampai 15 mg dengan pemantauan ketat pemeriksaan penunjang dan fisik.
Asitretin(siklosporin) merupakan derivat vitamin A. Bekerja dengan menghambat pengeluaran
Interleukin-2 (IL-2). Obat ini bersifat teratogenik, peningkatan TAG, dan hepatotoksik. Dosis yang
dipergunakan berkisar 2.5 sampai 3 mg per kilogram berat badan perhari yang terbagi menjadi 2 dosis, dapat
dinaikan menjadi 5 mg/KGbb/hari. Setelah kondisi pasien membaik di turun dosis secapatnya. Efek samping
berupa hipertensi dan gangguan ginjal.
Sistemik kortikosteroid digunakan dalam beberapa kasus, seperti psoriasis pustolosa, psoriasis arthritis,
psoriasis dengan lesi yang luas. Pemberian sistemik kortikosteroid untuk pengobatan jangka panjang

L. Komplikasi
Cardiovaskular

Gangguan emosional

Keganasan ( limfoma maligna)

Psoriasis erithroderma dapat terjadi hipotermia dan hipoalbuminemia sekunder

PPG dapat terjadi atralgia, mialgia, dan lesi mukosa

M. Prognosis
Penyakit psoriasis merupakan penyakit seumur hidup dengan kemungkinan terjadi kekambuhan, pada
psoriasis sedang tidak menunjukan kearah komplikasi serius, namun pada psoriasis berat pada laki-laki
meninggal setelah 3.5 tahun lebih cepat dibandingkan dengan laki-laki tanpa komplikasi, sedangkan pada
perempuan 4.4 tahun lebih cepat dibandingkan perempuan tanpa komplikasi