Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS

PERAN ORANG TUA TERHADAP PSIKOLOGI DAN MENTAL


PECANDU NAPZA

DISUSUN OLEH :
RIZKY AGUSTIAN HADI
1102011238

BIDANG KEPEMINATAN: DRUG ABUSE


KELOMPOK 5
TUTOR : dr.ADITARAHMA IMANINGDYAH, Sp.PK

TAHUN AKADEMIK 2016/2017


UNIVERSITAS YARSI

ABSTRAK
Latar Belakang : Berdasarkan data tahun 2011, siswa SMP di Indonesia pengguna napza berjumlah
1.345 orang. Tahun 2012 data penggunan siswa SMP ini naik menjadi 1.424 orang. Data tahun 2013 di
Indonesia, dari 70 juta remaja Indonesia, diperkirakan sekitar 14.000 orang mengkonsumsi napza. Data
pengguna baru siswa SMP pada Januari-Februari 2013 tercatat 262 orang. Pada siswa SMA, tahun
2011 tercatat 3.187 orang, yang meningkat pada tahun berikutnya menjadi 3.410 orang. Adapun kasus
baru 2013 tercatat 519 orang.
Metode: Hasil wawancara langsung dengan Seorang pasien laki-laki usia 21 tahun, berasal dari
Pekanbaru, Riau, agama Islam, merupakan salah satu Pasien di Rumah Sakit Ketergantungan Obat
(RSKO) Cibubur berdasarkan beberapa study literature.
Hasil dan kesimpulan : Peran orang tua sangat penting dalam pencegahan pemakaian NAPZA karena
orang tua merupakan sarana pertama dalam membentuk kepribadian terutama pembentukan psikologi
dan mental seorang anak menjadi remaja yang matang dan siap mental dalam menghadapi masalah
yang dihadapi agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan NAPZA.
Kata Kunci : NAPZA , Orang Tua , Psikologi , Mental

PENDAHULUAN
Berdasarkan data tahun 2011, siswa SMP di Indonesia pengguna napza berjumlah 1.345
orang. Tahun 2012 data penggunan siswa SMP ini naik menjadi 1.424 orang. Data tahun 2013 di
Indonesia, dari 70 juta remaja Indonesia, diperkirakan sekitar 14.000 orang mengkonsumsi
napza. Data pengguna baru siswa SMP pada Januari-Februari 2013 tercatat 262 orang. Pada
siswa SMA, tahun 2011 tercatat 3.187 orang, yang meningkat pada tahun berikutnya menjadi
3.410 orang. Adapun kasus baru 2013 tercatat 519 orang. (Herdajani F, Irma Rosalinda. 2013)
Beberapa faktor internal dan eksternal yang menjadi penyebab individu
menyalahgunakan NAPZA dan menjadi ketergantungan terhadap narkotika dan psikotropika
yaitu faktor kepribadian, kondisi kejiwaan yang mudah merasa kecewa atau depresi, kondisi
keluarga, pergaulan teman sekolah dan lingkungan, serta kemudahan memperoleh NAPZA di
pasaran yang resmi maupun tidak resmi. Faktor kepribadian yang dapat mendorong seseorang
mengkonsumsi napza yaitu faktor dari dalam diri sendiri seperti kepribadian, misalnya individu
yang introvert (tertutup), mudah kecewa, depresi, stress. faktor dari dalam seperti faktor
permasalahan keluarga meliputi, keutuhan keluarga, kesibukan orang tua, hubungan orang tua
dengan anak . Faktor sosial meliputi lingkungan sekolah, pekerjaan atau di sekitar rumah.
Kurangnya perhatian orang tua terhadap seorang anak, merupakan faktor risiko tinggi
bagi seorang anak untuk memakai narkoba dikarenakan berbagai sikap orang tua terhadap
anaknya diantaranya orang tua terlalu otoriter (serba tidak boleh) atau permisif (serba boleh),
orang tua kurang komunikatif dengan anak, orang tua terlalu mengatur anaknya, orang tua terlalu
menuntut agar anaknya berprestasi di luar kemampuannya, orang tua yang terlalu sibuk kurang
memberi perhatian kepada anaknya, orang tua yang kurang harmonis, bahkan orang tuanya
menjadi salah satu pemakai narkoba. (Martono Lydia H, Satya Joewana. 2008)
Narkoba (narkotika dan obat/bahan terlarang) atau Napza (narkotika, psikotropika dan zat
adiktif) adalah obat, bahan atau zat adiktif yang jika diminum, dihisap, ditelan, atau disuntikkan,

berpengaruh pada kerja otak dan susunan saraf pusat yang dapat menimbulkan kecanduan atau
ketergantungan. . NAPZA yang sering dikonsumsi dan menyebabkan ketergantungan, adalah
heroin (putauw), sabu (metamfetamin), ekstasi, obat penenang dan obat tidur (anxiety sedative),
ganja dan kokain. (Martono Lydia H, Satya Joewana. 2006)
Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui peran orang tua dalam pencegahan pemakaian
narkoba pada remaja studi kasus pasien ini Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur.
Penulisan ini berdasarkan wawancara dengan salah satu pasien di Rumah Sakit Ketergantungan
Obat Cibubur, Jakarta Timur.
PRESENTASI KASUS
Seorang pasien laki-laki usia 21 tahun, berasal dari Pekanbaru, Riau, agama Islam, adalah
salah satu Pasien di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur. Pendidikan terakhir
Sekolah Menengah Atas dan pasien ini berstatus belum menikah . Sebelumnya pasien ini masuk
kedalam NAPZA, pertama kali dia mencoba menghisap lem aibon pada saat kelas 2 SMP dengan
ajakan teman-teman disekolahnya dan rasa penasaran serta coba-coba. saat sedang berkumpul
bersama temannya di tempat belakang halaman sekolah dia dan teman-teman selalu menghisap
lem pada saat jam istirahat. Namun waktu setelah berlalu disaat kelas 3 SMP dia mencoba ganja
dari ajakan teman sekolah, disaat itu mulai menjadi pecandu berat, sehingga dia ingin mencoba
metamfetamine (sabu-sabu).
Dia mengenal sabu-sabu dari saudara laki-laki tuanya yang saat itu memang seorang
pemakai sabu-sabu. Dari situlah hidup Tn.JA hancur, dimana dia sering mencuri uang dari usaha
rumah makan yang dirintis oleh Ibunya untuk membeli sabu-sabu yang harga 500 mg
Rp.200.000,-. Pada saat Kelas 1 SMA dia ingin mencoba pil Inex, tetapi pil inex dia pakai hanya
1 kali dalam seminggu disaat dia merasa jenuh. Tepat kelas 3 SMA dia terlibat kasus pembegalan
motor di kota pekanbaru, karena dia terdesak dengan keuangan untuk membeli barang haram
tersebut.
Di pertengahan kelas 3 SMA dia dan saudara laki-lakinya ketahuan dengan orang tuanya
sendiri saat pakai sabu di kamar saudara laki-lakinya, pada saat itu dia merasa menghancurkan
perasaan orang tua dan masa depannya. Dia dan saudara laki-lakinya di rehab BNN Pekanbaru,
namun Tn. JA merasa fasilitas dan pengobatan di BNN Pekanbaru kurang memadai dan akhirnya
Dia dan saudara laki-lakinya di Rehabilitasi RSKO Cibubur
Pada awal bulan September tahun 2016, ia masuk ke RSKO karena dia ingin
direhabilitasi dan kemauannya itu didukung oleh pihak Orang Tua dan Kelurganya. Pada saat
rehabilitas dia mengaku bahwa dia hanya dikasih obat Neurobion dan Obat Haloperidol agar
menghilangkan rasa ilusi terhadap kecanduan metamfetamine.
Saat ini pasien merasa menyesal karena telah menggunakan Metamfetamin tersebut,
karena akibat dari penggunaan Metamfetamin tersebut dia tidak dapat melanjutkan kuliahnya
dan mengecewakan orang-orang sekitarnya termasuk orang yang dia sayangi orang tuanya.
Pasien berjanji untuk tidak lagi menggunakan Metamfetamin karena efeknya hanya rasa senang
sesaat dan menghancurkan masa depannya sebagai generasi penerus bangsa.
DISKUSI
Faktor-faktor yang dapat Mempengaruhi Penyalahgunaan NAPZA, Banyak hal yang
dapat menjadi penyebab penyalahgunaan NAPZA, hal itu karna hubungan yang saling terkait
antara prilaku penyalahgunaan, faktor lingkungan dan faktor peredaran NAPZA di masyarakat

(di dalam Jajuli, 2007). Faktor-faktor yang dapat memepengaruhi terjadinya penyalahgunaan
adalah NAPZA sebagai berikut :
A. Lingkungan Sosial
1. Rasa ingin tahu
Pada masa remaja seseorang lazim mempunyai sifat selalu ingin tahu segala sesuatu dan
ingin mencoba sesuatu yang belum atau kurang diketahui dampak negatifnya. Bentuk rasa
ingin tahu dan ingin mencoba itu misalnya dengan mengenal narkotika, psikotropika maupun
minuman keras atau bahan berbahaya lainnya.
Rasa ingin tahu adalah suatu emosi yang berkaitan dengan perilaku ingin tahu seperti
eksplorasi, investigasi, dan belajar, terbukti dengan pengamatan pada spesies hewan manusia
dan banyak. Istilah ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan perilaku itu sendiri
disebabkan oleh emosi rasa ingin tahu. Seperti emosi Rasa ingin tahu merupakan dorongan
untuk ta hu hal-hal baru, rasa ingin tahu adalah kekuatan pendorong utama di balik penelitian
ilmiah dan disiplin ilmu lain dari studi manusia.
2. Kesempatan
Masyarakat dan lingkungan yang memberi kesempatan pemakaian NAPZA yaitu adanya
situasi yang mendorong diri sendiri untuk mengggunakan NAPZA dorongan dari luar adalah
adanya ajakan, rayuan, tekanan dan paksaan terhadap seseorang untuk memakai NAPZA.
Kesibukan kedua orang tua maupun keluarga dengan kegiatannya masing-masing, atau
dampak perpecahan rumahtangga akibat (broken home) serta kurangnya kasih sayang
merupakan celah kesempatan para remaja mencari pelarian dengan cara menyalahgunakan
narkotika, psikotropika maupun minuman keras atau atau obat berbahaya, oleh karna itu
kondisi dalam masyarakat juga memprilaku pengaruhi prilaku remaja.
3. Kemudahan/Fasilitas atau prasarana dan sarana yang tersedia
Kemudahan mendapatkan NAPZA penyebab lain banyaknya orang yang mengkonsumsi
NAPZA adalah karena banyaknya remaja yang mengggunakan NAPZA, selain itu Ungkapan
rasa kasih sayang orangtua terhadap putra-putrinya termasuk yang di berikan orang tua
terhadap anak-ankanya seperti memberikan fasilitas dan uang yang berlebih bisa jadi pemicu
penyalah-gunakan uang saku untuk membeli rokok untuk memuaskan segala mencoba ingin
tahu dirinya. Biasanya para remaja mengawalinya dengan merasakan merokok dan minuman
keras, baru kemudian mencoba-coba narkotika dan obat terlarang (di dalam Kartono, 1992).
4. Faktor pergaulan
Pergaulan adalah merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan
individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok pergaulan mempunyai pengaruh yang
besar dalam pembentukan kepribadian seorang individu. Pergaulan yang ia lakukan itu akan
mencerminkan kepribadiannya, baik pergaulan yang positif maupun pergaulan yang negatif.
Pergaulan yang positif itu dapat berupa kerjasama antar individu atau kelompok guna
melakukan halhal yang positif. Sedangkan pergaulan yang negatif itu lebih mengarah ke
pergaulan bebas, hal itulah yang harus dihindari, terutama bagi remaja yang masih mencari
jati dirinya.

5. Konflik keluarga
Konflik keluarga yang dimaksud adalah Perceraian, dalam sebuah pernikahan tidak bisa
dilepaskan dari pengaruhnya terhadap anak. Banyak faktor yang terlebih dahulu diperhatikan
sebelum menjelaskan tentang dampak perkembangan anak setelah terjadi suatu perceraian
antara ayah dan ibu mereka. Anak yang sudah menginjak remaja dan mengalami perceraian
orang tua lebih cenderung mengingat konflik dan stress yang mengitari perceraian itu sepuluh
tahun kemudian, pada tahun masa dewasa awal mereka. Mereka juga Nampak kecewa dengan
keadaan mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh.
6. Lingkungan Pendidikan
Lingkungan Sekolah merupakan lingkungan di mana remaja mendapatkan
pengetahuan,pembinaan perilaku,dan keterampilan. Di sekolah juga, remaja menemukan
teman sebaya yang mendorong munculnya persaingan antar sesama. Ada yang ingin
berprestasi,terlihat bergengsi,sok jagoan, dan sebagainya.Jika keadaan ini tidak bisa
dibenahi dan diselesaikan oleh pengelola pendidikan di sekolah,maka remaja yang cenderung
pendiam,malas mengejar prestasi dan beraktivitas akan mengalami stres dan berpotensi
terjerumus ke dalam tindakan penyimpangan seperti penyalahgunaan NAPZA.
Lingkungan sekolah datang sekolah hanya untuk ketemu teman, merokok, lalu bolos.
Transisi sekolah peralihan jenjang sekolah yang berakibat penurunan prestasi memberi andil
dalam penyalahgunaan NAPZA, terutama Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali
memiliki harapan- harapan pendidikan yang rendah dan nilai rapor yang rendah. Kemampuankemampuan verbal mereka seringkali lemah.
7. Lingkungan di pemukiman masyarakatnya yang permisif
Lingkungan masyarakat yang permisif terhadap hukum dan norma kurang patuh terhadap
aturan,status sosial ekonomi. Faktor komunitas yang dimaksud adalah tinggal di suatu daerah
yang tingkat kejahatannya tinggi, yang juga dicirikan oleh kondisi-kondisi kemiskinan dan
kehidupan yang padat, menambah kemungkinan bahwa seorang anak akan menjadi nakal.
Masyarakat ini seringkali memiliki sekolah-sekolah yang sangat tidak memadai. Komunitas
juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan remaja. Masyarakat dengan tingkat
kriminalitas tinggi memungkinkan remaja mengamati berbagai model yang melakukan
aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka.
B. Kepribadian
1. Kondisi kejiwaan
Orang-orang yang cukup mudah tergoda dengan penyalahgunaan NAPZA adalah para
remaja yang jiwa labil, pada masa ini mereka sedang mengalami perubahan biologis,
psikologis maupun sosial (di dalam Sunarno, 2007).
2. Perasaan
Perasaan rendah diri di dalam pergaulan bermasyarakat, seperti di lingkungan sekolah,
tempat kerja, lingkungan sosial dan sebagainya sehingga tidak dapat mengatasi perasaan itu,
remaja berusaha untuk menutupi kekurangannya agar dapat menunjukan eksistensi dirinya
melakukannya dengan cara menyalahgunakan narkotika, psykotropika maupun minuman
keras sehingga dapat merasakan memperoleh apa-apa yang diangan-angankan antara lain
lebih aktif, lebih berani dan sebagainya (di dalam Sunarno, 2007).

3. Emosi
Kelabilan emosi remaja pada masa pubertas dapat mendorong remaja melakukan kesalahan
fatal. Pada masa -masa ini biasanya mereka ingin lepas dari ikatan aturan-aturan yang di
berlakukan oleh orang tuanya. Padahal disisi lain masih ada ketergantungan sehingga hal itu
berakibat timbulnya konflik pribadi.
4. Mental
Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri,
dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup. Definisi ini lebih luas dan
bersifat umum karena berhubungan dengan kehidupan manusia pada umumnya. Menurut
definisi ini seseorang dikatakan bermental sehat bila dia menguasai dirinya sehingga terhindar
dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal yang menyebabkan frustasi.
5. Faktor-faktor individu
Faktor individu atau diri sendiri lainnya harus selalu bersikap positif. Sifat mudah
terpengaruh, kurangnya pemahaman terhadap agama, pencarian sensasi atau kebutuhan tinggi
terhadap ekcitment.
Beberapa pengaruh adanya NAPZA terhadap perilaku penyalahgunaan di kalangan remaja
adalah sebagai berikut :
a. Ingin menikmati yang cepat (praktis).
Pada awalnya orang memakai NAPZA kerena mengharapkan kenikmatan misalnya,
nikmat bebas dari rasa kesal, kecewa, stres, takut, frustrasi. Takala mulai mencoaba,
perasaan nikmat tersebut tidak datang yang datang justru perasaan berdebar, kepala berat,
dan mual.
b. Ketidaktahuan
Pemakai NAPZA yang berakibat buruk terjadi karena kebodohan pemakainya sediri,
dasar dari seluruh alasan penyebab peyalahgunaan NAPZA adalah ketidaktahuan.
Ketidaktahuan tersebut menyangkut banyak hal, misalnya tidak tahu apa itu NAPZA atau
tidak mengenali NAPZA, tidak tahu bentuknya, tidak tahu akibatnya terhadap fisik, mental,
moral, masa depan, dan terhadap kehidupan akhirat, tidak paham akibatnya terhadap diri
sendiri, keluarga masyarakat, dan bangsa.
c. Alasan internal
Adalah ingin tahu, ingin di anggap hebat, rasa setia kawan, rasa kecewa, frustrasi, dan
kesal dapat terjadi karena kekeliruan dalam komunikasi. Antara lain (1) komunikasi anak
dengan orang tua (2) komunikasi antara anak (3) komunikasi di lingkungan eksekutif muda
(4) komunikasi suami istri (5) ingin menikmati rasa gembira, tampil licah, enerjik, dan
mengusir rasa sedih dan malas.
d. Alasan keluarga
Komunikasi yang buruk antar ayah ,ibu, dan anak sering kali menciptakan konflik yang
tidak berkesudahan. Penyebab konflik beragam konflik dalam keluarga solusi yang baik

adalah komunikasi yang baik, penuh pengertian saling menghargai dan menyayangi serta
ingin saling menghargai satu sama lainnya. Konflik dalam keluarga dapat mendorong
anggota keluarga merasa frustrasi, sehingga terjebak memilih NAPZA sebagai solusi.
Biasanya yang paling rentan terhadap stres adalah anak,kemudian suami, istri sebagai
benteng akhir.
e. Alasan orang lain
Banyak pengguna NAPZA yang awal dimulai kerena pengaruh dari orang lain. Bentuk
pengaruh orang lain itu dapat bervariasi muli dari bujuk rayu, tipu daya, dan sampai
paksaan.
f. Jaringan peredaran luas sehingga NAPZA mudah didapat
Penyebab lain banyaknya orang yang mengkonsumsi NAPZA adalah karena NAPZA
mudah didapat. Jaringan pengedar NAPZA di Indonesia dengan cepat meluas, bukan hanya
di kota besar tetapi di kota madya bahkan desa-desa. Meluasnya jaringan NAPZA didorong
oleh rendahnya kualitas intelektualitas dan moralitas masyarakat dan buruknya kondisi
sosial ekonomi. Perdagangan NAPZA adalah bisnis yang menggiurkan banyak orang
karena buruknya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Dengan peredaran yang
demikian luas, NAPZA mudah didapat dimana-mana. Oleh karena itu, perang melawan
penyalahgunaan di Indonesia akan berat sebelah.
Bahaya Pengaruh Penyalahgunaan NAPZA
1. Dampak Negatif
Dampak NAPZA, memang sangatlah berbahaya bagi manusia. NAPZA dapat merusak
kesehatan manusia baik secara fisik, emosi, maupun perilaku pemakainya. Bahkan, pada
pemakaian dengan dosis berlebih atau yang dikenal dengan istilah over dosis (OD) bisa
mengakibatkan kematian tapi masih saja yang menyalahgunakannya (di dalam Masjid, 2007).
A. Dampak NAPZA terhadap fisik pemakai NAPZA akan mengalami gangguan-gangguan
fisik sebagai berikut berat badannya akan turun secara drastis, matanya akan terlihat
cekung dan merah, mukanya pucat, bibirnya menjadi kehitam-hitaman, tangannya
dipenuhi bintik-bintik merah., buang air besar dan kecil kurang lancer, sembelit atau sakit
perut tanpa alasan yang jelas.
B. Dampak NAPZA terhadap emosi pemakai NAPZA akan mengalami perubahan emosi
sebagai berikut sangat sensitif dan mudah bosan , jika ditegur atau dimarahi, pemakai
akan menunjukkan sikap membangkang , emosinya tidak stabil, Kehilangan nafsu
makan.
C. Dampak NAPZA terhadap perilaku pemakai NAPZA akan menunjukkan perilaku negatif
sebagai berikut malas sering melupakan tanggung jawab, jarang mengerjakan tugas-tugas
rutinnya menunjukan sikap tidak peduli, menjauh dari keluarga, mencuri uang di rumah,
sekolah, ataupun tempat pekerjaan, menggadaikan barang-barang berharga di rumah,
sering menyendiri menghabiskan waktu ditempat-tempat sepi dan gelap, seperti di kamar
tidur, kloset, gudang, atau kamar, takut akan air ,batuk dan pilek berkepanjangan,bersikap
manipulatif, sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan, sering
menguap, mengaluarkan keringat berlebihan, sering mimpi buruk, sakit kepala, nyeri
sendi (di dalam Masjid, 2007).

2. Dampak Positif
Walaupun begitu setiap kehidupan memiliki dua sisi mata uang. Di balik dampak negatif,
narkotika juga memberikan dampak yang positif. Jika digunakan sebagaimana mestinya,
terutama untuk menyelamatkan jiwa manusia dan membantu dalam pengobatan, narkotika
memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
A. Dari pembahasan diatas merupakan pemakain dampak positif narkotika
B. Opium digunakan sebagai penghilang rasa sakit dan untuk mencegah batuk dan diare
C. Kokain digunakan untuk mendapatkan efek stimulan, seperti untuk meningkatkan daya
tahan dan stamina serta mengurangi rasa lelah.
D. Ganja (ganja/cimeng) digunakan untuk bahan pembuat kantung karena serat yang
dihasilkannya sangat kuat, biji ganja juga digunakan sebagai bahan pembuat minyak.
Dampak Penyalahgunaan NAPZA :
a. Dampak Fisik
o Gangguan pada sistem saraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan
kesadaran, kerusakan syaraf tepi.
o Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot
jantung, gangguan peredaran darah.
o Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim.
o Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran
bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
o Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat,
pengecilan hati dan sulit tidur.
o Gangguan pada endokrin,seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen,
progesteron,testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
o Perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid).
o Bagi pengguna NAPZA melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara
bergantian, risikonya adalah tertular penyakit hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat
ini belum ada obatnya.
o konsumsi NAPZA melebihi kemampuan (over dosis dan menyebabkan kematian).
b. Dampak Psikis
o
o
o
o
o

Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah


Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku brutal
Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.

c. Dampak Sosial
o Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
o Merepotkan dan menjadi beban keluarga
o Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

Menurut Abu Hanifah dan Nunung Unayah (2011) peran orang tua atau keluarga dalam
pencegahan pemakaian narkoba pada remaja diantaranya, yaitu :
1. Tiada alasan repot mengurus soal pekerjaan sehingga orang tua tidak sempat
memperhatikan kehidupan anak yang hidup tanpa kasih sayang. Ayah dan ibu
mempunyai kekuasaan sepenuhnya untuk membentuk pribadi yang baik terhadap
kehidupan anak-anak. Kebiasaan hidup hormat menghormati, sopan santun, terhadap
orang tua harus dimulai sejak masih kanak-kanak. Dalam kehidupan beragama pun orang
tua yang harus memulainya dari kecil. Mereka harus dibimbing mengenai tuhan,
mengenai kewajiban, belajar agama sehingga mengetahui berbagai perintah dan larangan
tuhan.
2. Para orang tua wajib melarang anak-anaknya untuk tidak merokok dan meminum
minuman keras. Sebagai pintu gerbang penyalahgunaan narkoba itu kebiasaan merokok
dan meminum minuman keras. Dari kebiasaan itu akan beranjak maju pada taraf
menghisap ganja dan sampai meminum morfin, kemudian menginjeksikan atau
menyuntikkan zat-zat berbahaya ke dalam tubuhnya.
3. Kontrol orang tua dalam mengawasi sikap, tingkah laku, dan kebiasaan anak-anak secara
terus menerus, apa yang dibawa anak, apa isi tas sekolah anak, perlu dikontrol dan bila
terdapat hal-hal yang tidak semestinya, anak harus diberi peringatan. Demikian pula siapa
teman bermain anak dan kemena mereka pergi perlu diketahui orang tua.
Orang tua mengisi waktu luang anak jangan dibiarkan kosong sehingga ia berkesempatan
untuk membuat hal yang aneh. Isilah waktu luang dengan anak dengan acara-acara sesuai bakat,
dan minat yang berguna untuk meningkatkan ketrampilan anak. (Hanifah A, Nunung Unayah.
2011).Pandangan Islam tentang hukum penggunaan narkoba adalah haramnya mengkonsumsi
narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat.Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Narkoba
sama halnya dengan zat yang memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para
ulama.Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak
memabukkan (Majmu Al Fatawa, 34: 204). Dalil-dalil yang mendukung haramnya narkoba
(Tausikal, 2012) :

- -

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir
(yang membuat lemah) (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309.Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini dhoif). Jika khomr itu haram, maka demikian pula dengan mufattir
atau narkoba. (Tausikal Muhammad A. 2012)
Ada ada beberapa metode orang tua dalam mendidik anaknya untuk mencegah pemakaian
narkoba menurut ajaran Islam. Menurut Hartini (2011) setidaknya ada enam metode pendidikan
anak yang telah dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu :

1. Metode dialog Qurani dan nabawi. Maksud dialog dalam metode ini adalah pembicaraan
diantara dua orang atau lebih melalui tanya jawab yang didalamnya ada kesatuan inti
pembicaraan sehingga dialog berperan sebagai jembatan yang menghubungkan
pemikirian antar manusia.
2. Metode kisah Alquran dan nabawi. Metode kedua ini berupa cara mendidik anak melalui
media cerita tentang kisah-kisah teladan yang ada di dalam Alquran maupun pada masa
Islam generasi pertama.

3. Metode keteladanan. Keteladanan adalah salah stu metode yang efektif dalam mendidik
anak. Tanpa keteladanan orang tua sulit mendapatkan ketaatan muthlak dari anaknya.
Rasul sebagainya yang dinyatakan Alquran adalah suri tauladan dalam setiap detik
kehidupan beliau.
4. Metode praktek dan perbuatan. Metode ini merupakan sebuah metode pendidikan dengan
cara mengajari anak langsung tanpa memberikan teori yang bertele-tele.
5. Metode ibrah dan mauizzah. Dengan metode ini anak diajak untuk bisa mengambil
setiap pelajaran atau hikmah dari setiap peristiwa kehidupan yang dialami anak.
6. Metode targhib dan tarhib. Istilah lain dari metode ini adalah reward and punishment.
Melalui metode ini anak akan mengetahui konsekuensi dari setiap keputusan dan
perbuatan yang diambil. (Hartini M. 2011).
ANALISA KASUS
Berbagai faktor yang mendorong penyalahgunaan narkoba yang berasal dari diri sendiri,
antara lain faktor kepribadian, fisik, usia, dan lain-lain. Faktor dari luar antara lain: faktor
keluarga, sosial, agama dan lain-lain. Berdasarkan yang didapat saya melalui wawancara kepada
pasien pecandu NAPZA, dapat diketahui pasien memakai narkoba dengan mudah di rumahnya
sendiri karena kurangnya pengawasan orang tua dan kurangnya peran orang tua dalam
pencegahan pemakaian narkoba. Dijelaskan juga bahwa kedua orang tua pasien saat sibuk
dengan pekerjaan masing-masing, diantaranya ayah pasien bekerja sebagai pejabat instansi
pemerintah setempat dan ibunya mempunyai usaha rumah makan di kota pekanbaru. Kurangnya
peran orang tua merupakan faktor risiko tinggi pada pemakaian narkoba pada kehidupan remaja
(Martono Lydia H, Satya Joewana. 2008), menghindari hal tersebut peran orang tua dalam
pencegahan pemakaian narkoba pada remaja sangat penting dan ditekankan.
Orang tua adalah yang mendasari segala perkembangan pribadi seorang anak. Menurut
para ahli Psikologi Perkembangan, sejak lahir, ia mendapatkan dasar-dasar yang langsung
didapat dari orang tua. Kunci pertama dalam mengarahkan pendidikan dan membentuk mental
anak terletak pada peranan orang tuanya, sehingga baik buruknya budi pekerti itu tergantung
kepada budi pekerti orang tuanya. Disinilah anak tumbuh dan berkembang mendapat pelajaranpelajaran dan pengalaman yang dipelajari orang tua, yang akan memperkembangkan kepribadian
yang seimbang. Faktor kepribadian memegang peranan penting bagi keberhasilan seseorang.
Oleh karena itu peran orang tua sangatlah penting dalam mengembangkan pribadi
sehingga menjadi remaja yang matang dan siap mental dalam menghadapi masalah serta godaan
yang mungkin dihadapi, dan mencegah remeja terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.
(Herdajani F, Irma Rosalinda. 2013).
KESIMPULAN
Peran orang tua sangat penting dalam pencegahan pemakaian NAPZA karena orang tua
merupakan sarana pertama dalam membentuk kepribadian terutama pembentukan psikologi dan
mental seorang anak sehingga menjadi remaja yang matang dan siap mental dalam menghadapi
masalah yang dihadapi agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan NAPZA. Dari segi Agama
Islam NAPZA sangat diharamkan dan harus dijauhi. Dari segi individu juga harus banyak
melakukan kegiatan positif ,perkuat benteng Iman serta perbanyak Ibadah kepada Allah SWT
agar terhindar dari dunia hitam NAPZA.

SARAN
Saran yang dapat diberikan adalah setiap orang dapat berubah menjadi sesuatu yang lebih
baik, jangan menyudutkan bahkan memojokkan dan menghina seseorang yang berperilaku yang
tidak baik, karena setiap orang bisa berubah. Pada saat tahap penyembuhan tetap didukung
kearah yang lebih baik karna hal ini adalah fase rawan untuk setiap manusia dapat kembali ke
kebiasaan buruknya dulu.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis sangat berterimakasih kepada Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur, Jakarta
Timur yang telah memberikan kesempatan untuk berkunjung dan mengumpulkan data informasi
dari pasien untuk kelancaran penulisan case report ini. Terima kasih kepada DR. drh. Hj. Titiek
Djannatun selaku koordinator penyusun Blok Elektif, dr. Hj. RW. Susilowati, M.Kes selaku
koordinator pelaksana Blok Elektif, dr.Nasrudin Noor, Sp.KJ selaku dosen pengampu bidang
kepeminatan Ketergantungan Obat/Drug Abuse. Serta kepada dr.Aditarahma Imaningdyah,
Sp.PK sebagai pembimbing kelompok 5 yang telah memberikan bimbingannya, serta temanteman kelompok 5 drug abuse dan rekan-rekan calon sejawat Fakultas Kedokteran Universitas
YARSI yang telah membantu dalam penulisan laporan kasus ini.

DAFTAR PUSTAKA
Anggreni, Dewi. 2015. Dampak Bagi Pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
(NAPZA) di Kelurahan Gunung Kelua Samarinda Ulu. Diunduh jam 19.00 WIB hari jumat
tanggal
18
November
2016
dari
http://ejournal.sos.fisip-unmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2015/06/Jurnal%20Dewi%20Anggreni%20(06-24-15-03-10-17).pdf.
Hartini M. 2011. Metodologi Pendidikan Anak dalam Pandangan Islam. Jurnal Pendidikan
Agama Islam-Talim. Vol. 9(1). Hal 31-43.

Herdajani F, Irma Rosalinda. 2013. Peran Orang Tua dalam Mencegah dan Menanggulangi
Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika pada Remaja. Prosiding Seminar Nasional Parenting
2013. Hal 373-384.
Jazuli. 2007. Upaya menjaga diri dari bahaya narkoba. Semarang: PT Bengawan ilmu.
Jehani L, dkk. 2006. Mencegah Terjerumus Narkoba. Tanggerang: Visimedia.
Kartini, Kartono. 1992. Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Martono Lydia H, Satya Joewana. 2006. 16 Modul Latihan Pemulihan Pecandu. Jakarta: Balai
Pustaka.
Martono Lydia H, Satya Joewana. 2008. Peran Orang Tua dalam Mencegah dan Menanggulangi
Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta: Balai Pustaka.
Sunarno.2007. Narkoba, Bahaya dan Upaya Pencegahannya. Semarang: PT Bangawan ilmu
Tuasikal Muhammad A. 2012. Narkoba dalam Pandangan Islam. Diunduh jam 21.15 WIB hari
jumat tanggal 18 November 2016 dari http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/narkoba-dalampandangan-islam.html