Anda di halaman 1dari 31

RIZKY AGUSTIAN HADI

1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

1. Memahami dan menjelaskan konsep keluarga


1.1.
Menjelasan definisi keluarga
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang
berarti "anggota". Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih
memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu,
memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara
individu tersebut. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
Definisi keluarga dikemukakan oleh beberapa ahli:
1) Reisner (1980): Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang
atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri
dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek, dan nenek.
2) Logans (1979): Keluarga adalah sebuah sistem sosial dan sebuah kumpulan
beberapa komponen yang saling berinteraksi satu sama lain.
3) Gillis (1983): Keluarga adalah sebagaimana sebuah kesatuan yang kompleks
dengan atribut yang dimiliki tetapi terdiri dari beberapa komponen yang
masing-masing mempunyai arti sebagaimana unit individu.
4) Duvall: Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional dan sosial dari tiap anggota.
5) Bailon dan Maglaya: Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih
individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi,
hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam
perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu budaya.
6) Johnsons (1992): Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang
mempunyai hubungan darah yang sama atau tidak, yang terlibat dalam
kehidupan yang terus menerus, yang tinggal dalam satu atap, yang mempunyai
ikatan emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang dengan orang
yang lainnya.
7) Lancester dan Stanhope (1992): Dua atau lebih individu yang berasal dari
kelompok keluarga yang sama atau yang berbeda dan saling menikutsertakan
dalam kehidupan yang terus menerus, biasanya bertempat tinggal dalam satu
rumah, mempunyai ikatan emosional dan adanya pembagian tugas antara satu
dengan yang lainnya.
8) Jonasik and Green (1992): Keluarga adalah sebuah sistem yang saling
tergantung, yang mempunyai dua sifat (keanggotaan dalam keluarga dan
berinteraksi dengan anggota yang lainnya).
9) Bentler et. Al (1989): Keluarga adalah sebuah kelompok sosial yang unik
yang mempunyai kebersamaan seperti pertalian darah/ikatan keluarga,
emosional, memberikan perhatian/asuhan, tujuan orientasi kepentingan, dan
memberikan asuhan untuk berkembang.
10) National Center for Statistic (1990): Keluarga adalah sebuah kelompok yang
terdiri dari dua orang atau lebih yang berhubungan dengan kelahiran,
perkawinan, atau adopsi dan tinggal bersama dalam satu rumah.
1

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

11) Spradley dan Allender (1996): Satu atau lebih individu yang tinggal bersama,
sehingga mempunyai ikatan emosional, dan mengembangkan dalam interelasi
sosial, peran, dan tugas.
12) BKKBN (1992): Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri
dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dengan anaknya, atau
ibu dengan anaknya.
13) Depkes (1998): Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan
14) WHO (1996): Anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui
pertalian darah, adaptasi, atau perkawinan.
15) Helvie (1981): Keluarga adalah sekelompok manusia yang tinggal dalam suatu
rumah tangga dalam kedekatan yang konsisten dan hubungan yang erat.
1.2.
Menjelaskan fungsi keluarga
Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) bahwa fungsi keluarga
dibagi menjadi 8. Fungsi keluarga yang dikemukakan oleh BKKBN ini senada dengan fungsi
keluarga menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994, yaitu :
1) Fungsi Keagamaan
yaitu dengan memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam
kehidupan beragama, dan tugas kepala keluarga untuk menanamkan bahwa ada kekuatan lain
yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain setelah di dunia ini.
2) Fungsi Sosial Budaya
Dilakukan dengan membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku
sesuai dengan tingkat perkembangan anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
3) Fungsi Cinta Kasih
Diberikan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman, serta memberikan
perhatian diantara anggota keluarga.
4) Fungsi Melindungi
Bertujuan untuk melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik, sehingga anggota
keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
5) Fungsi Reproduksi
Merupakan fungsi yang bertujuan untuk meneruskan keturunan, memelihara dan
membesarkan anak, memelihara dan merawat anggota keluarga
6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Merupakan fungsi dalam keluarga yang dilakukan dengan cara mendidik anak sesuai dengan
tingkat perkembangannya, menyekolahkan anak. Sosialisasi dalam keluarga juga dilakukan
untuk mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik
7) Fungsi ekonomi
Adalah serangkaian dari fungsi lain yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah keluarga. Fungsi
ini dilakukan dengan cara mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga,
dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa datang.
8) Fungsi Pembinaan Lingkungan
Memberikan kepada setiap keluarga kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras,
seimbang sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan yang berubah secara dinamis..
2

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Fungsi keluarga menurut WHO (1978)


1) Fungsi Biologis
a. Untuk meneruskan keturunan
b. Memelihara dan membesarkan anak
c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d. Memelihara dan merawat anggota keluarga
2) Fungsi Psikologis
a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
d. Memberikan identitas keluarga
3) Fungsi Sosialisasi
a. Membina sosialisasi pada anak
b. Membina norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkah perkembangan
anak
c. Meneruskan nilai nilai keluarga
4) Fungsi Ekonomi
a. Mencari sumber sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
b. Pengaturan dan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan keluarga
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa yang akan datang,
Misalnya: Pendidikan anak , jaminan hari tua.
5) Fungsi Pendidikan
a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan dan
membentuk prilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam
memenuhi perannya sebagai orang dewasa.
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.
Fungsi keluarga menurut Friedman (1998)
1) Fungsi Affective
a. Menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan sehat secara mental saling
mengasuh, menghargai, terikat, dan berhubungan.
b. Mengenal identitas individu
c. Rasa aman
2) Fungsi Sosialisasi Peran
a. Proses perubahan dan perkembangan individu untuk menghasilkan interaksi
sosial dan belajar berperan,
b. Fungsi dan peran di masyarakat
c. Sasaran untuk kontak sosial di dalam atau di luar rumah
3) Fungsi Reproduksi
Menjamin kelangsungan generasi dan kelangsungan hidup masyarakat
4) Fungsi ekonomi
a. Memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga
b. Menambah penghasilan keluarga sampai dengan pengalokasian dana
c. Fungsi perawatan Kesehatan
d. Konsep sehat sakit keluarga
e. Pengetahuan dan keyakinan tentang sakit tujuan kesehatan keluarga
keluarga mandiri.
3

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Menurut Undang-Undang 1992 membagi Fungsi Keluarga sebagai berikut


1) Fungsi Keagamaan
a. membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh
anggota keluarga,
b. menerjemahkan ajaran dan norma agama kedalam tingkah laku hidup seharihari bagi seluruh anggota keluarga,
c. memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengalaman
ajaran agama,
d. melengkapi dan menambah proses belajar anak tentang keagamaan yang
tidak/kurang diperoleh disekolah atau masyarakat,
e. membina rasa, sikap ,dan praktik kehidupan beragama.
2) Fungsi Budaya adalah
a. membina tugas keluarga sebagai sarana untuk meneruskan norma budaya
masyarakat dan bangsa yang ingin dipertahankan,
b. membina tugas keluarga untuk menyaring norma dan budaya asing yang
tidak sesuai,
c. membina tugas keluarga sebagai saran anggota nya untuk mencari
pemecahan masalah dari berbagai pengaruh negatif globalisasi dunia,
d. membina tugas keluarga sebagai sarana bagi anggotanya untuk mengadakan
kompromi/adaptasi dan praktik (positif) serta globalisasi dunia ,
e. membina budaya keluarga yang sesuai ,selaras , dan seimbang dengan
budaya masyarakat bangsa untuk menunjang terwujudnnya norma keluarga
kecil bahagia dan sejahtera.
3) Fungsi Cinta kasih adalah
a. menumbuhkembangkan potensi simbol cinta kasih sayang yang telah ada
diantara anggota keluarga dalam simbol yang nyata, seperti ucapan dan
tingkah laku secara optimal dan terus menerus ,
b. membina tingkah laku ,saling menyayangi diantara anggota keluarga
maupun antara keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif
dan kualitatif.
c. membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan uhkrawi dalam
keluarga secara serasi, selaras , dan seimbang,
d. membina rasa ,sikap, dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan
dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga kecil
bahagia dan sejahtera.
4) Fungsi Perlindungan
a. memenuhi kebutuhan akan rasa aman diantara anggota keluarga.Bebas dari
rasa tidak aman yang tumbuh dari dalam maupun dari luar keluarga,
b. membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk
ancaman dan tantangan yang datang dari luar maupun dalam,
c. membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal
menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
5) Fungsi Reproduksi
a. membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan reproduksi sehat
baik bagi anggota keluarga maupun keluarga sekitarnya.
4

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

b. memberikan contoh pengalaman kaidah-kaidah pembetukan keluarga dalam


hal usia , kedewasaan fisik dan mental,
c. mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat baik yang berkaitan dengan
jangka waktu melahirkan, jarak antara kelahiran dua anak , dan jumlah ideal
anak yang diinginkan dalam keluarga,
d. mengembang kan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif
menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
6) Fungsi Sosialisasi
a. menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai
wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama,
b. menyadari ,merencanakan , dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai
pusat tempat anak dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai konflik
dan permasalahan yang dijumpainya baik lingkungan masyarakat maupun
sekolahnya. Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal
yang perlu dilakukannya untuk meningkatkan kemantangan dan
kedewasaan baik fisik maupun mental, yang tidak/kurang diberikan
lingkungan sekolah maupun masyarakat.
c. membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga
sehingga tidak saja bermamfaat positif bagi anak, tetapi juga orang tua untuk
perkembangan dan kematangan hidup bersama menuju keluarga kecil
bahagia dan sejahtera.
7) Fungsi Ekonomi adalah melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun
didalam kehidupan keluarga dalam rangka menopang perkembangan hidup
keluarga, mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian , keselamatan
dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran keluarga, mengatur waktu
sehingga kegiatan orang tua diluar rumah dan perhatiaanya terhadap anggota
rumah tangga bejalan serasi , selaras ,dan seimbang , membina kegiatan dan
hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk mewujudkan keluarga kecil
bahagia dan sejahtera.
8) Fungsi Pelestarian Lingkungan adalah membina kesadaran dan praktik
kelestarian lingkungan internal keluarga , membina kesadaran, sikap, dan
praktik pelestarian lingkunga hidup yang serasi , selaras, dan seimbang antara
lingkungan keluarga dan lingkungan hidup sekitarnya.
1.3.
Menjelaskan bentuk keluarga
1.3.1. Bentuk keluarga traditional
1) Nuclear Family atau keluarga inti
Ayah, ibu, anak tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu
ikatan perkawinan, satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
2. Reconstituted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami atau istri. Tinggal
dalam satu rumah dengan anak-anaknya baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil
dari perkawinan baru.
3. Niddle Age atau Aging Couple
Suami sebagai pencari uang, istri di rumah atau kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak
sudah meninggalkan rumah karena sekolah atau perkawinan / meniti karier.
4. Keluarga Dyad / Dyadie Nuclear
5

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Suami istri tanpa anak.


5. Single parent
Satu orang tua ( ayah atau ibu) dengan anak.
6. Dual carier
Suami istri / keluarga orang carier dan tanpa anak
7. Commuter Maried
Suami istri / keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling
mencari pada waktu-waktu tertentu.
8. Single Adult
Orang dewasa hidup sendiri dan tidak ada keinganannya untuk kawin.
9. Extended Family
1,2,3 generasi bersama dalam satu rumah tangga
10. Keluarga Usila
Usila dengan atau tanpa pasangan , anak sudah pisah.
1.3.2. Bentuk keluarga non traditional
1) Commune Family
Beberapa keluarga hidup bersama dalam satu rumah, sumber yang sama, pengalaman yang
sama.
2) Cohibing Couple
Dua orang / satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin
3) Homosexual / Lesbi
Sama jenis hidup bersama sebagai suami istri.
4) Institusional
Anak-anak / orang orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.
Keluarga orang tua (pasangan)yang tidak kawin dengan anak.
1.3.3. Struktur keluarga
1) Dominasi jalur hubungan darah
a. Patrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ayah. Suku-suku di Indonesia
rata-rata menggunakan struktur keluarga Patrilineal.
b. Matrilineal
Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis ibu. Suku padang salah satu suku
yang menggunakan struktur keluarga matrilineal.
2) Dominasi keberadaan tempat tinggal
a. Patrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari pihak
suami.
b. Matrilokal
Keberadaan tempat tinggal satu keluarga yang tinggal dengan keluarga sedarah dari istri.
3) Dominasi pengambilan keputusan
a. Patriakal
Dominasi pengambil keputusan ada pada pihak suami.
b. Matriakal
Dominasi pengambilan keputusan ada pada pihak istri.

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

1.3.4

Ciri-ciri struktur keluarga


1) Terorganisasi
Keluarga adalah cerminan sebuah organisasi, dimana masing-masing anggota keluarga
memiliki peran dan fungsinya masing-masing sehingga tujuan keluarga dapat tercapai.
Organisasi yang baik ditandai dengan adanya hubungan yang kuat antar anggota sebagai
bentuk saling ketergantungan dalam mencapai tujuan.
2) Keterbatasan
Dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawabnya
masing-masing sehingga dalam berinteraksi setiap anggota tidak bisa semena-mena, tetapi
mempunyai keterbatasan yang dilandasi oleh tanggung jawab masing-masing oleh anggota
keluarga.
3) Perbedaan dan kekhususan
Adanya peran yang beragam dalam keluarga menunjukan masing-masing anggota keluarga
mempunyai peran dan fungsi yang berbeda dan khas seperti halnya peran ayah sebagai
pencari nafkah utama, peran ibu yang merawat anak-anak.
(Friedman, M.M. 1998)
Menurut Ali (2010) ciri-ciri keluarga di Indonesia adalah:
1) Mempunyai ikatan keluarga yang sangat erat yang dilandasi oleh semangat
kegotongroyongan.
2) Merupakan satu kesatuan utuh yang dijiwai oleh nilai budaya ketimuran yang
kental yang mempunyai tanggung jawab besar.
3) Umumnya dipimpin oleh suami sebagai kepala rumah tangga yang dominan
dalam mengambil keputusan walaupun prosesnya melalui musyawarah dan
mufakat.
4) Sedikit berbeda antara yang tinggal di pedesaan dan di perkotaan-keluarga di
pedesaan masih bersifat tradisional, sederhana, saling menghormati satu sama
lain dan sedikit sulit menerima inovasi baru.
Ciri ciri Keluarga Indonesia:
1) Suami sebagai pengambil keputusan
2) Merupakan suatu kesatuan yang utuh
3) Berbentuk monogram
4) Bertanggung jawab
5) Pengambil keputusan
6) Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
7) Ikatan kekeluargaan sangat erat
8) Mempunyai semangat gotong-royong

1.4. Menjelaskan siklus kehidupan keluarga


Saat ini pendefinisian keluarga secara tradisional mendapat tantangan. Maraknya orang tua tunggal,
perceraian, perpisahan dan pernikahan kembali membuat struktur tradisional mengalami
perkembangan. Namun penelitian memperlihatkan bahwa siklus hidup sebuah keluarga yang paling
menguntungkan adalah model keluarga tradisional, dan model yang lain dianggap sebagai deviasi dari
norma ini (Carter & McGoldrick, 1999). Tahap-tahap dari siklus hidup sebuah keluarga tradisional
adalah sebagai berikut:
Tahapan
Tugas
7

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Pengalaman dari Membangun hubungan dengan orang tua, saudara dan


keluarga asal
teman-teman
Menyelesaikan sekolah
Meninggalkan
Membedakan diri dengan keluaga asal dan mengembangkan hubungan
rumah
sesama
dewasa dengan orang tua
Membantung hubungan pertemanan yang intim
Memulai karir/pekerjaan
Tahap
pra Memilih pasangan
pernikahan
Mengembangkan hubungan
Memutuskan untuk menikah
Tahap pasangat Mengembangkan cara hidup bersama yang didasarkan atas realitas dan
tanpa anak
bukannya proyeksi bersama
Mengatur kembali hubungan dengan keluarga asal dan teman-teman,
dan melibatkan pasangan
Keluarga dengan Mengatur kembali sistem pernikahan dengan memberi tempat
anak kecil
pada keberadaan anak
Memulai peran sebagai orang tua
Mengatur kembali hubungan dengan keluarga asal dengan melibatkan
peran saudara dan kakek/nenek
Keluarga dengan Mengatur kembali hubungan orang tua-anak untuk memberikan tempat
anak remaja
pada kebebasan yang lebih besar
Mengatur kembali hubungan pernikahan dan memusatkan pada
masalah tengah baya dan karir
Melepas anak
Membereskan masalah paruh baya
Mengatur ulang hubungan orang tua anak secara lebih dewasa
Mengatur kembali hubungan dengan pasangan
Mengatur kembali hubungan dengan besan, menantu, cucu dll.
Berurusan dengan kelemahan dan kematian, terutama pada keluarga
asal
Kehidupan usia Mengatasi penuaan fisik
lanjut
Menangani peran anak yang lebih besar dalam mengatur keluarga besar
Menangani kehilangan karena kematian pasangan dan teman-teman
Mempersiapkan kematian, kilas balik kehidupan dan integrasi
Siklus hidup keluarga dalam ilmu kependudukan dipandang penting, karena lima alasan
pokok sebagai berikut :
1) Menunjukan interaksi antara anggota keluarga. Peristiwa-peristiwa seperti
kelahiran, kematian, dan perubahan umur atau status anak, tidak hanya
mempengaruhi individu-individu yang bersangkutan, tetapi juga anggota
keluarga yang lain.
2) Memperjelas pengaruh yang kontinu dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
tahap-tahap awal siklus terhadap kehidupan keluarga sampai akhir siklus
tersebut.

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

3)

Menghilangkan konsepsi yang salah tentang keluarga, misalnya pandangan


bahwa keluarga hanya melewati satu atau dua tahap tertentu saja.
4) Merupakan suatu ringkasan yang penting tentang pengaruh gabungan faktorfaktor fertilitas, mortalitas, nupsialitas dengan faktor-faktor ekonomi dan
kebudayaan.
5) Dapat menjelaskan bermacam-macam variasi kegiatan sosial demografi dan
sosial ekonomi.
Menurut Neighbour (1985) tahapan, tugas dan masalah yang menjadi isu penting dalam
setiap tahapan siklus kehidupan keluarga adalah sebagai berikut :
1) Tahap Perkawinan
2) Tahap Melahirkan Anak
3) Tahap Membesarkan Anak-Anak Memasuki Sekolah Dasar
4) Tahap Membesarkan Anak-Anak Usia Remaja
5) Tahap Keluarga Mulai Melepaskan Anak-Anak
6) Tahap Tahun-tahun Pertengahan
7) Tahap Usia Tua
Tahapan dalam siklus Posisi
kehidupan keluarga
keluarga
1.

Pasangan menikah

2.

Memiliki anak

3.

Usia pra-sekolah

4.

Usia sekolah

dalam Penting pada tip tahap


Tugas
perkembangan
keluarga
Suami
Mencapai pembentukan suatu
Istri
keluarga
yang
secara
bersama-sama
(mutuais)
memuaskan
satu
sama
lainnya
Penyesuaian
terhadap
kehamilan
dan
harapan
terhadap parenthood
Istri Ibu
Memiliki dan menyesuaikan
Suami Ayah
diri
serta
mendorong
Bayi anak perempuan
perkembangan bayi
atau laki-laki
Mencapai pembentukan suatu
tempat tinggak yang baik
untuk kedua orang tua dan
bayi
Istri Ibu
Mengadaptasi
kebutuhanSuami Ayah
kebutuhan yang penting dan
Anak perempuan
minat-minat
dari
anak
saudara
prasekolah, dengan cara yang
Anak
laki-laki

mendorong pertumbuhan
saudara
Mengatasi
keletihan
dan
kurangnya privasi karena
berperan sebagai orang tua
Istri Ibu
Penyesuaian
ke
dalam
Suami Ayah
komuniyas keluarga yang
Anak perempuan
9

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

saudara
Anak
laki-laki
saudara

5.

Remaja

Istri -Ibu

6.

Launching center

7.

Orang
tua
pertengahan

Istri ibu nenek

Suami ayah - kakek

usia Istri Ibu Nenek

8.

Anggota
yang uzur

keluarga Janda Duda

Istri Ibu Nenek


Suami Ayah - Kakek

memiliki anak usia sekolah


dengan cara konstruktif
Mendorong pencapaian anakanak
dalam
bidang
pendidikan
Menyeimbangkan
antara
kebebasan dengan kewajiban
dalam proses pendewasaan
remaja dan mengemansipasi
diri mereka
Mencari minat-minat paska
orangtua dan karir sebagai
orang tua yang sudah
bertambah umurnya
Melepaskan para dewasa muda
untuk bekerja, wajib militer,
pernikahan, dsb, melalui
ritual tertentu dan bantuan
yang tepat
Membangun
kembali
hubungan pernikahan
Mempertahankan
hubungan
kekerabatan antara generasi
muda dan yang lebih tua
Mengatasi kedukaan dan hidup
sendiri
Menutup rumah keluarga atau
menyesuaikan
rumah
tersebut dengan usia
Penyesuaian dengan pension

1.5. Menjelaskan dinamika keluarga


Adanya interaksi (hubungan) antara individu dengan lingkungan sehingga tersebut dapat
diterima dan menyesuaikan diri baik dalam lingkungan keluarga maupun kelompok sosial
yang sama.
Dinamika keluarga adalah interaksi atau hubungan pasien dengan anggota keluarganya dan
juga bisa mengetahui bagaimana kondisi keluarga di lingkungan sekitarnya. Keluarga
diharapkan mampu memberikan dukungan dalam upaya kesembuhan pasien.
Ada empat aspek yang selalu muncul dalam dinamika keluarga
1) Pertama, tiap anggota keluarga memiliki perasaan dan idea tentang diri sendiri
yang biasa dikenal dengan harga diri atau self-esteem.
2) Kedua, tiap keluarga memiliki cara tertentu untuk menyampaikan pendapat dan
pikiran mereka yang dikenal dengan komunikasi.
10

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

3) Ketiga, tiap keluarga memiliki aturan permainan yang mengatur bagaimana


mereka seharusnya merasa dan bertindak yang berkembang sebagai sistem nilai
keluarga.
4) Yang terakhir, tiap keluarga memiliki cara dalam berhubungan dengan orang
luar dan institusi di luar keluarga yang dikenal sebagai jalur ke masyarakat.
A. Teori Peran
Peran pokok dalam perkawinan menurut Parsons dan Baless (1955) menyatakan adanya dua
peran pokok dalam perkawinan, yaitu eksperimental dan ekspresif. Peran instrumental adalah
melakukan segala hal yang perludilakukan yaitu mencari uang dan menjaga hubungan luar
yang memuaskan dengan system ekonomi dan system sekolah. Peran ekspresif terutama
memperhatikan hubungan yang memuaskan di dalam keluarga dan ekspresi perasaan yang
berhubungan dengan hubungan yang intim. Pada keluarga modern peran-peran tersebut tidak
dibagi secara eksak antara suamidan isteri. Dalam teori peran ada empat konsep dasar yang
merupakan dasar untuk mengerti kesehatan mental dan keluarga, yaitu:
1) Komplimentaris peran, yaitu anggota keluarga melakukan peran yang
berbeda,yang melengkapi satu sama lain dalam menyelesaikan fungsi keluarga.
Dengan ini kebutuhan keluarga dapat dipenuhi dengan cara yang efisien,
misalnya ayah mendengarkan keluhan anak-anaknya, ibunya membimbing
anak-anak dan memberi hukuman jika diperlukan.
2) Pertukaran peran, mencakup anggota keluarga merespon permintaan-permintaan
baru pada keluarga dengan betukar peran, misalnya:anak gadis harus mengasuh
adiknya karena ayah ibunya harus bekerja dan akan bermasalah ketika dia belum
mampu memenuhi tuntutan tersebut.
3) Konflik peran, terjadi ketika dua atau lebih anggota keluarga berselisih paham
tentang suatu peran. Contoh: ayah tiri mengambil tanggung jawab pendisiplinan,
sedang istrinya menganggap itu sebagai tugasnya.
4) Kebalikan peran, mencakup anggota keluarga sementara memegang peran yang
berlawanan dengan peran-peran yang biasanya dilakukan. Contoh: anak
perempuan berangan apa yang sesuai untuk dilakukan ibunya apabila anaknya
perempuan melanggar aturan jam malam
B. Teori Perkembangan.
Bagaimana keluarga berperan sangat menentukan mengenai bagaimana keluarga menghadapi
krisis, dan ini akan berbeda-beda dalam tahap-tahap yang berbeda dalam kehidupan keluarga.
Suatu krisis dapat mengganggu keseimbangan peran dan seberapa besar gangguan itu
tergantung pada tahapkehidupan keluarga. Oleh karena itu konselor dalam mengintervensi
harus memperhatikan perkembangan keluarga. Tahap-tahap perkembangan yang biasa
dilewati dalam sebuah bangunan dan system keluarga adalah sebagai berikut:
1) Keluarga yang baru mulai (suami isteri tanpa anak)
2) Keluarga denga anak (anak tertua: 30 bulan)
3) Keluarga denga balita (anak tertua:30 bulan-6 tahun)
4) Keluarga dengan anak sekolah (anak tertua: 6- 13 tahun)
5) Keluarga dengan anak remaja (anak tertua:13-20 tahun)
6) Keluarga sebagai pusat peluncuran (anak pertama-anak terakhir meninggalkan
rumah
7) Keluarga tahun-tahun tengah: middle years: sarang kosong sampai pensiun.
8) Keluarga tua (pensiun sampai mati dari suami isteri)
11

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Perkembangan ini berlaku bagi keluarga nuclear. Perubahan-perubahan seperti perceraian,


orang tua tunggal, pernikahan kembali, keluarga yang campur dapat mengganggu
perkembangan keluarga yang sehat.
C. Teori Sistem
Pada teori sistem terdapat beberapa asumsi-asumsi inti mengenai yang dapat menjelaskan
mengenai keluarga. Beberapa asumsi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Keluarga bukan kumpulan individu. Perubahan atau stress yang dialami salah
satu anggota keluarga akan berpengaruh pada seluruh keluarga
2) Keluarga mempunyai pola interaksi yang mengatur tingkah laku anggotanya.
3) Simptom individu dapat mempunyai satu fungsi di dalam keluarga. Satu simtom
fisik
4) maupun psikososial dapat dikaitkan dalam pola interaksi keluarga begitu rupa
sehingga
5) dapat mengganggu bagi harmoni keluarga.
6) Kemampuan untuk menyesuaikan terhadap perubahan merupakan cirri
berfungsinya
7) keluarga yang sehat. Dalam perubahan, fleksibilitas dan adaptibilitas keluarga
harus
8) diberi tekanan.
9) Anggota keluarga harus berbagi tanggung jawab bersama bagi problemproblemnya.
10) Apabila beberapa tingkah laku terus timbul dan terus ada, yang sangat menekan
baik
11) bagi individunya atau bagi orang lain yang prihatin terhadap tingkah laku
tersebut, kl
12) tidak hati-hati tingkah laku yang lain mungkin terjadi di dalam system interaksi,
13) yang dapat menimbulkan dan mempertahankan tingkah laku yang bermasalah
tersebut, padahal seharusnya perlu ada usaha untuk memecahkannya.
Kerangka lain untuk mengerti dinamika keluarga adalah perbedaan-perbedaan antara
keluarga yang sehat dan keluarga yang tidal dapat berfungsi dengan baik
Menjalaskan genogram keluarga
Definisi genogram adalah suatu alat bantu berupa peta skema (visual map) dari silsilah
keluarga pasien yang berguna bagi pemberi layanan kesehatan untuk segera mendapatkan
informasi tentang nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan antar anggota keluarga.
Genogram adalah biopsikososial pohon keluarga, yang mencatat tentang siklus kehidupan
keluarga, riwayat sakit di dalam keluarga serta hubungan antar anggota keluarga.
Di dalam genogram berisi : nama, umur, status menikah, riwayat perkawinan, anak-anak,
keluarga satu rumah, penyakit-penyakit spesifik, tahun meninggal, dan pekerjaan. Juga
terdapat informasi tentang hubungan emosional, jarak atau konflik antar anggota keluarga,
hubungan penting dengan profesional yang lain serta informasi-informasi lain yang
relevan. Dengan genogram dapat digunakan juga untuk menyaring kemungkinan adanya
kekerasan (abuse) di dalam keluarga.

12

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Genogram idealnya diisi sejak kunjungan pertama anggota keluarga, dan selalu dilengkapi
(update) setiap ada informasi baru tentang anggota keluarga pada kunjungan-kunjungan
selanjutnya. Dalam teori sistem keluarga dinyatakan bahwa keluarga sebagai sistem yang
saling berinteraksi dalam suatu unit emosional. Setiap kejadian emosional keluarga dapat
mempengaruhi atau melibatkan sediktnya generasi keluarga. Sehingga idealnya, genogram
dibuat minimal untuk 3 generasi.
Dengan demikian, genogram dapat membantu dokter untuk :
1) Mendapat informasi dengan cepat tentang data yang terintegrasi antara
kesehatan fisik dan mental di dalam keluarga
2) Pola multigenerasi dari penyakit dan disfungsi
Fungsi Genogram
1) Bagaimana proses traingulasi terjadi dalam keluarga; mencari dimana
komunikasi mengalami masalah.
2) Memahami label/julukan apa saja yang pernah diungkapkan orangtua dan cukup
membentuk karakter diri kita sendiri.
3) Memahami ikatan ganda yang pernah dilakukan orangtua yang mungkin
membuat diri sendiri tidak bisa mandiri melainkan takut berdiri sendiri tanpa
bantaun (dukungan) orangtua

Simbol-simbol yang digunakan dalam GENOGRAM

13

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

14

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

( McDaniel, S., et.al., A. 2005)

Bentuk-bentuk hubungan

(Sloane PD dkk, 2002; McDaniel dkk. 2005. Gan LG dkk, 2004)

15

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

2.

Memahami dan menjelaskan aspek-aspek dalam pelaksanaan diagnosis holistic


16

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Pengertian diagnosis holistik adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menentukan


dasar dan penyebab penyakit (disease), luka (injury) serta kegawatan yang diperoleh
dari alasan kedatangan, keluhan personal, riwayat penyakit pasien, pemeriksaan fisik,
hasil pemeriksaan penunjang, penilaian risiko internal/individual dan eksternal dalam
kehidupan pasien serta keluarganya.
Dasar Pemikiran Diagnostik Holistik
Setiap kejadian penyakit dikemukakan dari
multi aspek
I. Aspek Personal.
Keluhan utama, harapan dan kekhawatiran.
II. Aspek Klinis.
Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan diagnosis kerja dan diagnosis
banding.
III. Aspek Internal.
Kepribadian seseorang akan mempengaruhi perilaku. Karakteristik pribadi amat
dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi, kultur, etnis,
dan lingkungan.
IV. Aspek Eksternal.
Psikososial, dan ekonomi keluarga
V. A. Skala Fungsi Sosial.
Skala 1: Tidak ada kesulitan, dimana pasien dapat hidup mandiri
Skala 2: pasien mengalami sendiri mengalami kesulitan
B. Skala Fungsional.
Skala 3: Ada beberapa kesulitan, perawatan diri masih bisa dilakukan, hanya dapat
melakukan kerja ringan
Skala 4: Banyak kesulitan. Tidak melakukan aktifitas kerja, tergantung pada
keluarga.
Skala 5: Tak dapat melakukan kegiatan
Ppt :Diagnosis Holistik pada Pelayanan Strata Pertama, Dr. Adolfina R. Amahorseja,
MS.Fakultas kedokteran UKI
3.

Memahami dan menjelaskan konsep dan fungsi keluarga dalam islam


Keluarga muslim adalah keluarga yang meletakkan segala aktivitas pembentukan
keluarganya sesuai dengan syariat Islam yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah.
Keluarga tersebut dibangun di atas aqidah yang benar dan semangat untuk beribadah kepada
Allah serta semangat untuk menghidupkan syiar dan adab-adab Islam Islam sebagaimana
telah dicontohkan Rasulullah SAW. Menurut HammudahAbdul Al-Ati dalam bukunya The
Family Structure in Islam definisi keluarga dilihat secara operasional adalah: Suatu struktur
yang bersifat khusus yang satu sama lain mempunyai ikatan khusus, baik lewat hubungan
darah atau pernikahan. Perikatan itu membawa pengaruh pada adanya rasa saling berharap
(mutual expectation) yang sesuai dengan ajaran agama, dikukuhkan dengan kekuatan hukum
serta secara individual saling mempunyai ikatan batin.
Keluarga dapat diartikan sebagai kelompok sosial yang merupakan produk dari adanya
ikatan-ikatan kekerabatan yang mengikat satu individu dengan yang lainnya. Dengan
pengertian ini keluarga berarti merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga
17

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu keluarga luas atau keluarga besar yang
disebut dengan al-ailah, dan keluarga inti atau keluarga kecil yang disebut dengan istilah alusrah. Al-ailah dimaknai sebagai lembaga tempat hidup bersama dengan situasi yang
berbeda-beda, tapi di bawah satu formasi keluarga, yang di dalamnya terbentuk sebuah
ikatan bersama. Sedangkan al-usrah adalah kelompok sosial yang terdiri dari suami, istri dan
anak-anak yang belum menikah.
Dengan klasifikasi itu, keluarga mempunyai empat fungsi, yaitu:
1) Fungsi seksual yang membuat terjadinya ikatan di antara anggota keluarga,
antara laki-laki dan perempuan. Kedua jenis kelamin ini secara alami berada
pada posisi yang saling membutuhkan.
2) Fungsi kooperatif untuk menjamin kontinuitas sebuah keluarga.
3) Fungsi regeneratif dalam menciptakan sebuah generasi penerus secara estafet.
4) Fungsi genetik untuk melahirkan seorang anak dalam rangka menjaga
keberlangsungan sebuah keturunan.
Sebelum Islam lahir, sistem kekeluargaan yang digunakan masyarakat Timur (dunia Arab)
adalah sistem kesukuan (nizam al-qabail) yang bersandar pada kerabat keluarga (alqarabah al-usriyyah). Sistem ini pada umumnya menyebut sebuah keluarga dengan nama
kepala sukunya. Sistem kekeluargaan seperti ini pada dasarnya diterima Islam, karena
kedatangan Islam ke wilayah ini tidak banyak mempengaruhi sistem kekeluargaan yang ada,
bahkan Islam cukup adaptif dengan sistem ini. Hal ini karena Islam tidak menggunakan
sistem tersendiri untuk sebuah sistem kekeluargaan. Tapi yang menjadi kata kunci untuk
memahami sebuah sistem keluarga dalam Islam adalah istilah zawaj atautazwij. Terma ini
dalam Islam dipahami sebagai masa terpisahnya anak (laki-laki atau perempuan) dari rumah
tangga bapaknya. Apabila seorang anak telah melakukan zawaj, maka ia memiliki otoritas
secara otonom untuk membina rumah tangganya tersendiri. Hal ini karena Islam
memandang sinn al-zawajsebagai batas seseorang untuk memiliki sikap kemandirian, baik
dari segi psikis maupun fisik.
Sebuah keluarga Muslim merupakan landasan utama bagi terbentuknya masyarakat Islami. Di
dalam keluarga Muslim terkandung sebuah konsep religius (al-mafhum al-dini), yaitu bahwa
para anggota keluarga diikat oleh sebuah ikatan agama untuk mewujudkan kepribadian yang
luhur. Konsep ini menekankan bahwa sebuah keluarga Muslim harus dapat membentuk para
anggotanya agar memiliki kepribadian yang luhur ini. Memiliki sifat kasih dan sayang, cinta
sesama, menghormati orang lain, jujur, sabar, qanaah dan pemaaf merupakan di antara
indikator bagi sebuah kepribadian yang luhur.
Bentuk keluarga yang paling sederhana adalah keluarga inti yang terdiri atas suami istri dan
anak-anak yang biasanya hidup bersama dalam suatu tempat tinggal. Namun demikian
menurut Abdul Al Ati pengertian keluarga tidaklah dibatasi oleh kerangka tempat tinggal.
Sebab anggota sebuah keluarga tidaklah selalu menempati tempat tinggal yang sama. Adanya
rasa saling harap sebagai unsur dalam perikatan keluarga itu lebih penting dari unsur tempat
tinggal
Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat
adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya
telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan
tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia
18

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Ruum [30]: 21)
Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah
secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan
buntu. Terlalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan
membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita
dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok
dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan
mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu
nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim). Seorang suami seyogyanya tidak terusmenerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa
sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali. Dalam hal
ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya
maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan
bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka
bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya
kebaikan yang banyak." (An Nisa' [4]: 19)
Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui
kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung,
penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami.
Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan
rumahnya. Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah
suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan
suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan
mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan
mengkhianati ketika ia pergi. Dalam hadits: "Perempuan mana yang meninggal dan suaminya
ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)
Ada juga yang mengungkapkan beberapa karakteristik yang harus terwujud dalam sebuah
keluarga yang menjadikannya layak disebut sebagai model keluarga muslim. Karakteristik
tersebut adalah:
1) Keluarga yang dibangun oleh pasangan suami-istri yang shalih.
2) Keluarga yang anggotanya punya kesadaran untuk menjaga prinsip dan norma
Islam.
3) Keluarga yang mendorong seluruh anggotanya untuk mengikuti fikrah islami.
4) Keluarga yang anggota keluarganya terlibat dalam aktivitas ibadah dan dakwah,
dalam bentuk dan skala apapun.
5) Keluarga yang menjaga adab-adab Islam dalam semua sisi kehidupan rumah
tangga.
6) Keluarga yang anggotanya melaksanakan kewajiban dan hak masing-masing.
7) Keluarga yang baik dalam melaksanakan tarbiyatul aulad (proses mendidik anakanak).
8) Keluarga yang baik dalam mentarbiyah khadimah (mendidik pembantu).
19

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

3.3. Hak dan Kewajiban Anak


Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
Pada dasarnya, kewajiban seorang anak merupakan hak bagi orang tua begitu pula sebaliknya
hak anak adalah merupakan kewajiban dari orang tua sendiri. Diantara kewajiban anak untuk
berbakti pada orang tuanya dibagi menjadi dua yaitu ketika mereka masih hidup dan sesudah
mereka wafat.
A. Saat Orang Tua Masih Hidup
1) Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah.
Taat, patuh dan hormat pada kedua orang tua merupakan kewajiban bagi setiap anak
Adam(manusia). Sedangkan mendurhakai keduanya merupakan perbuatan yang diharamkan,
kecuali jika mereka menyuruh untuk berbuat syirik atau bermaksiat kepada Allah. Allah
berfirman, artinya, Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku
sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, .
Rasulullah SAW. bersabda, Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai Allah. Sesungguhnya
ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan. Adapun contoh bentuk ketaatan pada orang
tua diantaranya:
a. Apabila orang tua meminta makan maka anak wajib memberikan
b. Memberikan sesuatu yang diinginkan orang tua baik yang diminta atupun
tidak
c. Segera mendatangi panggilan orang tua
d. Melaksanakan semua perintah orang tua asalkan buka perintah maksiat
e. Tidak membentak, menghardik, memukul bahkan membunuh orang tua
meskipun orang tua salah
Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan berbagia bentuk. Di antara
bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat
menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ah, tidak mengeraskan
suara melebihi suara mereka, mendahulukan keperluan orang tua dari pada keperluan pribadi.
2) Berbakti terhadap kedua orang tua dapat direalisasikan dengan berbagai
bentuk. Diantara wujud lain dari pada bakti pada orang tua diantaranya:
a. Tidak berkata ah dan tidak mengeraskan suara melebihi suara orang tua
b. Tidak mendahului jalan orang tua
c. Mendahulukan keperluan orang tua dari pada keperluan pribadi
d. Tidak berkata kasar
3) Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan
lainnya.
Amat penting kedudukan izin kepada orang tua dalam masalahjihad. Seorang laki-laki datang
kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya, Wahai Rasulullah apakah aku
boleh ikut berjihad? Beliau balik bertanya, Apakah kamu masih mempunyai kedua
orangtua? Laki-laki tersebut menjawab, Masih. Beliau bersabda, Berjihadlah (dengan cara
berbakti) kepada keduanya.
4) Memberikan nafkah kepada orang tua
Beberapa ayat dalam Al Quran yang membahas tentang hal ini adalah Al Baqarah ayat 15
dan Ar-Rum ayat 38. Rasulullah SAW. pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia
20

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

berkata, Ayahku ingin mengambil hartaku. Nabi SAW. bersabda, Kamu dan hartamu
adalah milik ayahmu.
Oleh sebab itu, hendaknya seorang anak tidak bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang
menyebabkan keberadaan dirinyaatas izin Allah, memeliharanya ketika kecil, serta telah
berbuat baik kepadanya.
5) Memenuhi sumpah/nadzar kedua orang tua
Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat
perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena
hal itu termasuk hak mereka.
6) Mendahulukan berbakti kepada ibu dari pada ayah.
Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Siapa yang
paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? beliau menjawab, Ibumu. Lelaki itu
bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? Beliau kembali menjawab, Ibumu. Lelaki itu kembali
bertanya, Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab, Ibumu. Lalu siapa lagi? Tanyanya.
Ayahmu, jawab beliau.
Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu dari pada ayah. Sebab, menaati ayah lebih
didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan
syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan taat kepada suaminya.
7) Mendahulukan berbakti pada orang tua dari pada berbuat baik pada istri
Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di
dalam gua lalu mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik
mereka, di antara amal mereka, ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang
tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan. Begitupula dengan kisah Alqomah
8) Mendoakan kedua orang tua.
Merupakan perihal yang sangat urgen sebab doa juga merupakan wujud ungkapan
terimakasih anak terhadap orang tua. Ayat Al-Quran yang membahas tentang kewajiban
mendoakan keduanya salah satunya adalah firman Allah SWT :
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik
aku waktu kecil".
9) Memelihara orang tua
Ayat yang membahas tentang hal ini adalah surat Al-Isra ayat 23 dan Al-Ahqaf ayat 15
B. Ketika Orang Tua Telah Meninggal
Ada beberapa kewajiban yang dilakukan anak terhadap orang tuanya ketika mereka sudah
tiada diantaranya:
1) Mengurus jenazahnya dan banyak mendoakan untuknya, karena ini merupaka
bukti kebaktian anak terhadap orang tuanya sebelum dikebumikan.
2) Memohonkan ampun untuk keduanya. Karena doa yang yang masih bisa
menjadi amal jariyah adalah doa anak sholeh terhadap orang tuanya. Namun
anak yang dimaksud anak di sini tidak hanya anak kandung saja tapi anak tiri,
ataupun anak angkatpun bisa. Karena dalam doa kita juga dianjurkan untuk
mendoakan semua orang muslim.

21

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

3) Melanjutkan amalan baik yang belum sempat dilakukan mereka semasa hidup
karena demikian itu akan menjadi amalan jariyah bagi orang tua meskipun
telah memenuhi panggilanya.
4) Menunaikan janji, hutang dan wasiat orang tua yang belum terlaksana.
5) Memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orang tua
Rasulullah SAW pernah bersabda, Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang
anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah ayahnya
meninggal.
6) Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat ibu dan ayah
Rasulullah SAW. bersabda, Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim ayahnya
yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan saudara-saudara ayahnya
setelah ia meninggal.
Hak-hak yang harus diperoleh anak
1) Hak Mendapatkan Rasa Kasih Sayang
Banyak hal yang bisa menjadi ungkapan kasih sayang, hal yang demikian tak ditinggalkan
oleh syariat, hingga didapati banyak contoh dari Rasulullah SAW, bagaimana beliau
mengungkapkan kasih sayang kepada anak-anak.
Satu contoh yang beliau berikan adalah mencium anak-anak. Bahkan beliau mencela orang
yang tidak pernah mencium anak-anaknya. Kisah-kisah tentang ini bukan hanya satu dua. Di
antaranya dituturkan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mencium Al-Hasan bin 'Ali, sementara AlAqra' bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra' berkata, "Aku
memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium." Kemudian
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memandangnya, lalu bersabda, "Siapa yang tidak
menyayangi, maka dia tidak akan disayangi."
Kalaulah dibuka perjalanan para pendahulu yang shalih dari kalangan shahabat radhiallahu
'anhum, hal ini pun ditemukan di kalangan mereka. Bahkan dilakukan oleh shahabat yang
paling mulia, Abu Bakr Ash-Shiddiqradhiallahu 'anhu. Ketika Abu Bakr radhiallahu
'anhu tiba di Madinah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hijrah, dia
mendapati putrinya, 'Aisyah radhiallahu 'anha sakit panas. Al-Barra' bin 'Azibradhiallahu
'anhu yang menyertai Abu Bakr saat menemui putrinya mengatakan:
"Kemudian aku masuk bersama Abu Bakr menemui keluarganya. Ternyata 'Aisyah putrinya
sedang berbaring, terserang penyakit panas. Maka aku melihat ayah 'Aisyah mencium pipinya
dan berkata, 'Bagaimana keadaanmu, wahai putriku?'."
Inilah kasih sayang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seorang ayah yang paling mulia
di antara seluruh manusia. Tak segan-segan beliau mendekap dan mencium putra-putri dan
cucu-cucunya. Begitu pun yang beliau ajarkan kepada seluruh manusia.
2) Hak untuk memperoleh kehidupan
Problematika perekonomian seakan menjadi momok yang menakutkan bagi calon orang tua
bahkan orang tua sekalipun. Banyak sekali orang tua yang mnelantarkan anak yang telah
dilahirkan sendiri dari rahimnya. Bahkan tak sedikit pula yang membiarkan anaknya
merasakan kehidupan dunia ini.
Allah berfirman: Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan
memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.
22

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

3) Hak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI)


Wajib bagi seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah yang
artinya: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang
ingin menyempurnakan penyusuan.
Sebuah riwayat disampaikan oleh 'Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu:
"Datang para tawanan di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ternyata di antara
para tawanan ada seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. Setiap dia dapati
anak kecil di antara tawanan, diambilnya, didekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kalian menganggap wanita ini akan
melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami pun menjawab, "Tidak. Bahkan dia tak akan
kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sungguh Allah lebih penyayang daripada wanita ini terhadap anaknya."
4) Hak untuk mendapat nama yang baik dari orang tua
Pemberian nama yang baik bagi anak adalah awal dari sebuah upaya pendidikan terhadap
anak anak. Ada yang mengatakan; apa arti sebuah nama. Ungkapan ini tidak selamanya
benar. Islam mengajarkan bahwa nama bagi seorang anak adalah sebuah doa. Dengan
memberi nama yang baik, diharapkan anak mampu berperilaku baik sesuai dengan namanya.
Adapun setelah kita berusaha memberi nama yang baik, dan telah mendidiknya dengan baik
pula, namun anak kita tetap tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita kembalikan
kepada Allah SWT. Nama yang baik dengan akhlak yang baik, itulah yang diharapkan oleh
setiap orang tua.
5) Hak mendapat aqiqohan dari orang tua.
Aqiqah hukumnya sunnah muakkadh (sangat dianjurkan) bagi yang mampu melakukannya,
berdasarkan sabda Nabi SAW
Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih paa hari ketujuh (sejak kelahiran
anaknya), lalu dinamai dan dicukur rambutnya.
6) Hak mendapat pendidikan
Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Bahkan ibu
merupakan madrasah awal bagi putra putrinya. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya
dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia.
Mendidik anak bukanlah sekedar kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan
tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu.
Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya,
seperti mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak
itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan
menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini
dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Bak dan tidaknya seorang anak
juga ada pengaruhnya terhadap peran orang tua. Karena pada dasarnya anak itu terlahir dalam
keadaan fitrah, jadi yang menjadikan anak tersebut islam ataupun kafir adalah orang tuanya.
3.4. Hak dan Kewajiban Orang Tua
Kewajiban Orang tua kepada Anak
1) Berdoa sebelum bercampur dengan istri, sehingga jika Allah takdirkan dari
pencampuran tadi, si istri hamil, maka anaknya menjadi anak yang soleh.
23

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

2) Mengikuti rosulullah dalam menyambut kelahiran anak.


3) tinggal di lingkungan yang islami
4) Memberi nama yang baik
5) Ibu hendaknya Menyusui anaknya
6) Mengasuh dan membimbing anak (bukan diasuh oleh pembantu).
7) Mengkhitan si anak
8) Mengajari alquran, sholat,puasa, adab dan etika
9) Mengajari anak naik kuda, berenang dan memanah.
10) Memberi nafkah dari rezeki yang halal sampai si anak mandiri atau menikah.
11) Memilihkan teman yang baik.
12) berbuat adil kepada semua anak anaknya.
13) Menjadi contoh yang baik bagi anaknya.
14) Mencarikan pendamping hidup yang sholeh bagi anaknya.
Hak-hak Orang Tua
Yang dimaksud dengan hak-hak orang tua di sini adalah kewajiban-kewajiban yang harus
ditunaikan seorang anak terhadap orang tuanya. Ada banyak hak orang tua atas anak, yang
paling penting di antaranya adalah :
1) Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik. Hal itu ditunjukkan melalui
perkataan, perbuatan, harta, dan badan.
2) Menaati perintah keduanya kecuali dalam hal-hal yang sifatnya maksiat.
3) Berbicara kepada mereka berdua dengan penuh kelembutan dan sopan santun.
4) Tawadhu (rendah diri) dan tidka boleh bersikap sombong di hadapan
keduanya.
5) Banyak berdoa dan memohon ampun untuk mereka berdua, terlebih di saat
keduanya telah meninggal dunia.
6) Memelihara nama baik, kehormatan, dan harta mereka berdua.
7) Melakukan perbuatan yang membuat mereka senang tanpa harus ada perintah
terlebih dahulu.
8) Menghormati teman-teman mereka berdua semasa mereka masih hidup, dan
begitu juga setelah matinya.
9) Segera memenuhi panggilan mereka berdua
3.5. Hak dan Kewajiban Antar Keluarga
Hak Kerabat dan Sanak Keluarga
1) Dikunjungi/silaturahim
Dalil hadits: Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya maka
hendaklah dia takut kepada Allah dan bersilaturahim kepada kerabat. (HR. Ahmad dan Al
Hakim)
2) Selamat dari tangan dan lisannya. Maksudnya adalah tidak digunjingkan dan
dianiaya.
3) Bersedekah/memberi hadiah
Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memutuskan kekerabatan. (HR.
Ahmad, Thabrani dan Baihaqi

24

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

4.

Memahami dan menjalaskan hak dan kewajiban keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang sakit dalam islam
Bagi Penderita
Wajib bersabar dan ikhlas terhadap cobaan (sakit) yang menimpanya, sedang bersabar (dari
cobaan itu) akan diberi pahala dan mendapatkan kebaikan di sisi Allah. Islam memerintahkan
agar berobat pada saat ditimpa penyakit. Berobatlah, karena tiada satu penyakit yang
diturunkan Allah, kecuali diturunkan pula obat penangkalnya, selain dari satu penyakit, yaitu
ketuaan (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi dari sahabat Nabi Usamah bin Syuraik).
Sesungungnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya. Maka jika
didapatkan obat maka sembuhlah ia dengan izin Allah.
Kewajiban-Kewajiban Orang yg Sakit:
1) Orang yang sakit memiliki kewajiban untuk senantiasa ridha terhadap qadha Allah
Subhanahu wa Taala, bersabar atas taqdir-Nya serta berbaik sangka kepada Rabbnya.
Itu yang lebih baik baginya.
2) Seyogyanya orang yang sedang sakit memiliki perasaan antara rasa takut dan harap,
yaitu takut akan siksa Allah Azza wa Jalla atas dosa-dosanya dan berharap akan
rahmat Allah Azza wa Jalla kepadanya. Sikap ini didasarkan pada hadits dari Anas
bin Malik Radhiyallahuanhu
3) Seberat apapun sakit yang diderita, tidak boleh baginya untuk berangan-angan ingin
mati. Hal ini karena ada hadits Ummul Fadhl Radhiyallahuanha, bahwa
Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam pernah datang kepada mereka tatkala
Abbas Radhiyallahuanhu (paman Rasulullah) menderita sakit, hingga Abbas
berangan-angan ingin mati.
4) Jika ia masih memiliki tanggungan atas hak-hak orang lain, hendaklah ia tunaikan
kepada yang berhak apabila hal itu mudah baginya. Jika tidak mudah, hendaklah ia
berwasiat (kepada keluarganya). Sesungguhnya Nabi Shallallahualaihi wa
Sallam berkata:






Barang siapa pernah mendhalimi hak saudaranya dalam hal harga diri[1] atau hartanya,
hendaklah ia selesaikan sebelum datang hari kiamat, hari yang tidak diterima dinar tidak
pula dirham. Jika ia punya amalan shalih maka diambil darinya lalu diberikan kepada orang
yang punya hak. Jika ia tidak punya amalan shalih, maka diambil dosa-dosa orang yang
bersangkutan lalu dibebankan kepadanya.
5) Orang yang sakit hendaknya bersegera untuk menyiapkan wasiat karena ada sabda
RasulullahShallallahualaihi wa Sallam:



Tidak benar bagi seorang muslim yang bermalam dua malam sedangkan ia punya sesuatu
yang ingin diwasiatkannya kecuali semestinya wasiat itu telah ditulis di sisinya.
Ibnu Umar Radhiyallahuanhuma berkata: Tidaklah berlalu satu malam sejak aku
mendengar RasulullahShallallahualaihi wa Sallam mengatakan itu kecuali sudah kutulis
wasiatku. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim juga Ashabus Sunan maupun
yang lain.
6) Wajib baginya untuk memberikan wasiat kepada sanak kerabatnya yang tidak
menerima warisan darinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:



25

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA



Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda)
kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah untuk ibu-bapak dan karib
kerabatnya secara ma`ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (AlBaqarah: 180)
7) Boleh baginya untuk berwasiat dengan sepertiga hartanya, tidak boleh lebih.
8) Hendaklah dalam berwasiat ini disaksikan oleh dua orang yang jujur yang
muslim. Jika tidak ada maka bisa dengan dua orang (yang jujur) non muslim dengan
diminta agar keduanya bersumpah untuk bisa dipercaya apabila ragu akan
persaksiannya
9) Adapun berwasiat agar hartanya diberikan kepada kedua orang tua dan sanak kerabat
yang berhak menerima warisan dari orang yang meninggalkan warisan itu, maka ini
tidak boleh dilakukan. Karena hal ini sudah dimansukh dengan ayat tentang warisan.
Dan telah dijelaskan pula oleh RasulullahShallallahualaihi wa Sallam dengan
penjelasan yang paling sempurna, ketika beliau berkhutbah pada haji Wada. Kata
beliau:


Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang punya hak,
dan tidak ada wasiat bagi ahli waris.
10) Diharamkan membuat wasiat yang mendatangkan mudharat (kerugian) bagi orang
lain, seperti berwasiat agar sebagian ahli waris jangan diberikan hak warisnya atau
berwasiat agar melebihkan sebagian ahli waris atas sebagian yang lain. Hal ini
disebabkan adanya firman Allah Subhanahu wa Taala:

Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi
wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit
atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. (An-Nisaa: 7)
11) Wasiat yang lalim (tidak adil) hukumnya batil lagi tertolak, karena adanya sabda
RasulullahShallallahualaihi wa Sallam:

Barang siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam (agama) kami ini yang tidak ada
asal darinya, maka ia tertolak.
12) Ketika banyak terjadi kebidahan pada sebagian besar kaum muslimin di masa ini.
Begitu pula dalam permasalahan yang berkaitan dengan jenazah. Maka termasuk
kewajiban seorang muslim adalah untuk berwasiat agar disiapkan (urusan
kematiannya) dan agar dikuburkan berdasarkan Sunnah (tuntunan Nabi
Shallallahualaihi wa Sallam), sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu
wa Taala (At-Tahrim: 6)
Bagi Keluarga, Kerabat, dan Orang lain
1) Disyariatkan menjenguk setiap orang sakit
Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq 'alaih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw.
Bersabda :

26

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

"Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menjenguk yang
sakit, mengantarkan jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakannya ketika
bersin."
Orang sakit adalah orang yang lemah, yang memerlukan perlindungan dan sandaran.
Perlindungan (pemeliharaan, penjagaan) atau sandaran itu tidak hanya berupa materiil
sebagaimana anggapan banyak orang, melainkan dalam bentuk materiil dan spiritual
sekaligus.
Karena itulah menjenguk orang sakit termasuk dalam bab tersebut. Menjenguk si sakit
ini memberi perasaan kepadanya bahwa orang di sekitarnya (yang menjenguknya)
menaruhperhatian kepadanya, cinta kepadanya, menaruh keinginan kepadanya, dan
mengharapkan agar dia segera sembuh. Faktor-faktor spiritual ini akan memberikan
kekuatan dalam jiwanya untuk melawan serangan penyakit lahiriah. Oleh sebab itu,
menjenguk orang sakit, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya merupakan
bagian dari pengobatan menurut orang-orang yang mengert. Maka pengobatan tidak
seluruhnya bersifat materiil (kebendaan). Karena itu, hadits-hadits Nabawi menganjurkan
"menjenguk orang sakit"
2) Mendoakannya dengan ikhlas.
3) Menimbulkan optimisme kepada si sakit.
4) Menganjurkannya berlaku sabar, karena sabar itu besar pahalanya, dan melarangnya
berkeluh kesah, karena berkeluh-kesah itu dosa.
5) Mendoakan si sakit
Ada dua hak orang sakit yang harus dipenuhi oleh anggota masyarakat atau
keluarganya. Hak orang sakit yang pertama dan utama adalah bebas dari segala tanggung
jawab social yang normal. Artinya orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk tidak
melakukan pekerjaan sehari-hari yang biasa dia lakukan. Hal ini boleh dituntut, namun
tidaklah selalu mutlak, tergantung tingkat keparahan atau tingkat persepsi dari penyakit
tersebut. Apabila tingkat keparahan sakitnya rendah maka orang tersebut mungkin saja tidak
perlu menuntut haknya. Dan seandainya menuntut haknya harus tidak secara penuh.
Maksudnya, ia tetap dalam posisinya tetapi perannya dikurangi, dalam arti volume dan
frekuensi kerjanya dikurangi.
Tetapi bila tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya, misalnya
menderita penyakit menular. Hak tersebut haruslah dituntut karena bila tidak akan dapat
menimbulkan konsekuensi ganda, yaitu disamping produktivitas kerja menurun atau bahkan
dapat menambah beratnya penyakit.
Hak yang kedua adalah hak untuk menuntut bantuan atau perawatan kepada orang lain.
Didalam masyarakat yang sedang sakit berada dalam posisi yang lemah, lebih-lebih bila
sakitnya berada dalam derajat keparahan yang tinggi. Anggota keluarga dan anggota
masyarakat berkewajiban untuk membantu dan merawatnya. Oleh karena tugas penyembuhan
dan perawatan memerlukan keahlian tertentu, maka tugas ini didelegasikan kelpada lembagalembaga masyarakat atau individu tertentui seperti dokter, perawat, bidan dan petugas lainnya
Kewajiban keluarga merawat orang sakit :
1) Mengenal gangguan kesehatan setiap anggotanya. Keluarga mempunyai peranan
yang amat penting dalam mengembangkan, mengenal, dan menemukan masalah

27

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

2)

3)
4)
5)

kesehatan dalam keluarga sebagai antisipasi menjaga kesehatan dalam


keluarganya
Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. Keluarga merupakan
pusat pengambilan keputusan terpenting, termasuk membuat keputusan tentang
masalah kesehatan keluarga. Keluarga dalam tugasnya mengambil keputusan bagi
anggota keluarga disebut sebagai pelayanan rujukan kesehatan primer
Memberikan keperawatan kepada anggota keluarga yang sakit dan tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda
Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga
Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga kesehatan,
yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada

Kesabaran bagi keluarga si sakit.


Kesabaran keluarga dan kerabatnya dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya tidak
kalah besar pahalanya. Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya
ditimpa sakit ialah suami atas istrinya, atau istri atas suaminya.
Yang lebih wajib lagi ialah kesabaran anak laki-laki terhadap penyakit kedua orang tuanya.
Sebab hak mereka adalah sesudah hak Allah Ta'ala, dan berbuat kebajikan atau berbakti
kepada mereka termasuk pokok keutamaan yang diajarkan oleh seluruh risalah Ilahi. Karena
itu Allah menyifati Nabi Yahya a.s. dengan firman-Nya :
"Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi
durhaka." (Maryam : 14)
Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia lebih berhak memelihara dan merawat
kedua orang tuanya, dan lebih mampu melaksanakannya karena Allah telah mengaruniainya
rasa kasih dan sayang yang melimpah, yang tidak dapat ditandingi oleh anak laki-laki.
Di dalam merawat orang sakit, orang yang mendampingi sedikit banyak harus tahu :
1) apa kebutuhannya, obat-obatannya, makanannya, dan sebagainya.
2) Usahakanlah untuk terus berkomunikasi dengan orang sakit.
3) Untuk bisa menumbuhkan kasih dalam merawat orang sakit, kita harus merawat
bukan sekedar melakukan tugas. Jadi dalam merawat itu harus ada kasih.
4) Baik orang yang merawat maupun yang dirawat harus mempersiapkan hati
menghadapi apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Diantara orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya ditimpa sakit ialah suami
atas istrinya, atau istri atas suaminya. Karena pada hakikatnya kehidupan adalah bunga
dan duri, hembusan angin sepoi dan angin panas, kelezatan dan penderitaan, sehat dan
sakit, perputaran dari satu kondisi ke kondisi lain. Oleh sebab itu, janganlah orang yang
beragama dan berakhlak hanya mau menikmati istrinya ketika ia sehat tetapi merasa jenuh
ketika ia menderita sakit. Ia hanya mau memakan dagingnya untuk membuang tulangnya,
menghisap sarinya ketika masih muda lalu membuang kulitnya ketika lemah dan layu.
Sikap seperti ini bukan sikap setia tidak termasuk mempergauli istri dengan baik, bukan
akhlak lelaki yang bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.
28

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Kondisi khusus atau pencapaian usia tertentu yang mengharuskan bakti dan perbuatan baik
seorang anak kepada orang tuanya semakin kokoh. Yaitu, ketika keduanya telah lanjut
usia, dan pada saat-saat seusia itu mereka amat sensitif terhadap setiap perkataan yang
keluar dari anak-anak mereka, yang sering rasakan sebagai bentakan atau hardikan
terhadap keberadaan mereka. Kata-kata yang mempunyai konotasi buruk inilah yang
dilarang dengan tegas oleh Al-Qur~an:
Selain itu, tanggung jawab keluarga terhadap si sakit bertambah berat apabila ia tidak
punya atau kehilangan kelayakan untuk berbuat sesuatu, misalnya anak kecil apalagi
belum sampai mumayiz-- atau seperti orang gila, yang masing-masing membutuhkan
perawatan ekstra dan penanganan yang serius. Karena orang yang mumayiz dan berpikiran
normal dapat meminta apa saja yang ia inginkan dapat menjelaskan apa yang ia butuhkan,
dapat minta disegerakan kebutuhannya bila terlambat, dan dapat memuaskan orang
yang mengobati atau merawatnya. (Qardhawi Y. 2012)
Bimbingann terhadap pasien yang sakaratul mat
Orang sakit biasanya mengalami krisis psikologis dalam dirinya, oleh karena itu hendaknya
didampingi dan diberi perhatian lebih, serta dorongan motivasi untuk kesembuhannya. Doadoa serta dzikir dirasa mampu mengurangi rasa sakit orang yang merasakannya. Karena
dalam doa dan dzikir tersebut terdapat ilmu ikhlas sebagai hamba Allah swt yang tidak
mempunyai daya dan upaya dihadapan-nya. Kita dapat mendampinginya sebagai wujud
bertawaqal dan menyerahkan diri kepada Allah swt dan menyadari segalanya kembali atas
kehendaknya.
Mati adalah kata yang tidak disukai oleh kebanyakan orang. Banyak yang menghindar
darinya. Kematian itu sendiri tentunya lebih ditakuti dari sekadar kata mati. Tidak hanya oleh
manusia, binatang pun takut mati. Seakan tidak ada yang sudi mati. Hal ini wajar bagi
makhluk yang bernyawa, karena mati merupakan sebab berpisahnya seorang dari hal yang ia
senangi, berpisah dari dunia dan segala isinya. Sementara manusia memang mencintai dunia
dan seisinya. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wata'ala, yang artinya;
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatangbinatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga). (QS. Al-Imran: 14)
Di sisi lain, ada yang menyangka bahwa kematian menjanjikan ketenangan. Karenanya, kita
sering mendengar kasus bunuh diri. Orang itu mengira kematian merupakan solusi ampuh
untuk mengatasi semua masalah. Ada juga golongan manusia yang sepanjang harinya
bermaksiat, seakan-akan maut tidak akan menjemputnya.

29

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

DAFTAR PUSTAKA
Azwar A, 1995. Program Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, Yayasan Penerbitan IDI,
Jakarta
Azwar A, Justam J dan Bustami Z S. 1983. Bunga rampai dokter keluarga, Kelompok Studi
Dokter Keluarga, Jakarta
Friedman, M. Marilyn. 1998. Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik.Jakarta : EGC.

30

RIZKY AGUSTIAN HADI


1102011238
SKENARIO 2 BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

Gan, L.G., Azwar, A., Wonodirekso, S. (Eds.) A primer on Family Medicine Practice.
Singapore: 2004
Goldenberg, I., & Goldenberg, H. (2008). Family therapy: An overview. Belmont, CA:
Thomson Brooks/Cole.
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/10/pengertian-keluarga.html

(Last Update 2014,

December 10)
http://epidemiolog.wordpress.com/2008/12/01/32/(Last Update 2014, December 10)
http://forbetterhealth.wordpress.com/2008/12/04/konsep-keluarga/(Last

Update

2014,

December 11)
http://ikanpaus09.blogspot.com/2011/03/genogram.html (Last Update 2014, December 10)
http://puskesmassungkai.wordpress.com/2009/08/27/hak-orang-sakit/(Last

Update

2014,

December 11)
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 829 Menkes SK/VII/1999 Tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan. Available at : http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-104.pdf (Last Update 2014, December 11)
Kewajiban

Orang

Tua

dan

Anak

dalam

Islam.

Available

at:

indonesia.blogspot.com/2012/05/kewajiban-orang-tua-dan-anak-dalam.html

http://al-islam(Last

Update

2014, December 11)


McDaniel, S., Campbell, T.L., Hepworth, J., & Lorenz, A. 2005. Family - Oriented Primary
Care 2nd Ed. New York: Springer. p.42
Qardhawi Y. 2012. Fatwa-fatwa Kontemporer. Jakarta: Gema Insani Press
Sloane, P.D., Slatt, L.M., Ebell, M.H., & Jacques, L.B. 2002. Essential ofFamily Medicine
4th Ed. Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins (page 24)
Sudiharto. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan
Transkultural. Jakarta:EGC.
Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.
Usman H. 1998. Pengenalan epidemiologi, Jakarta.

31