Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

PLASENTA PREVIA

Oleh:
MIFTA WIRASWESTI

G99141133

YOHANES C W

G99142100

Pembimbing :
dr. Eka Budi Wahyana, M.Kes, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR. SOEDIRAN MS
WONOGIRI
2015

PRAKATA

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ilmiah ini dalam menempug stase Ilmu Obstetri dan
Ginekologi di RSUD Dr Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri.
Makalah ini telah kami susun secara maksimal melalui bantuan dari
berbagai pihak sehingga makalah ini dapat selesai dengan lancar. Terlepas dari hal
itu, kami sepenuhnya sadar bahwa tentu saja banyak kekurangan dalam makalah
ini baik dari segi isi, tata bahasa maupun susunan kalimat. Oleh sebab itu kami
sangat terbuka atas kritik dan saranb dari pembaca agar makalah ini dapat
diperbaiki untuk kedepannya.
Akhir kata kami berharap makalah yang berjudul Plasenta Previa ini
dapat memberi manfaat bagi pembaca.

BAB I
PENDAHULUAN

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat
derajat

kesehatan

perempuan.

Organisasi

Kesehatan

Dunia

(WHO)

memperkirakan di seluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat
hamil atau bersalin. Artinya, setiap menit ada satu perempuan yang meninggal. Di
Indonesia menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009,
Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran
hidup, dan menurut survei kesehatan daerah Angka Kematian Ibu di Provinsi Jawa
Tengah tahun 2007 adalah 20 orang dengan jumlah kelahiran hidup 24.176 orang.
Tingginya angka kematian ibu itu menempatkan Indonesia pada urutan teratas di
ASEAN dalam hal tersebut. Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001 menyebutkan
angka kematian ibu di Indonesia 396 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah itu
meningkat dibandingkan dengan hasil survei 1995, yaitu 373 per 100.000
kelahiran hidup. Departemen Kesehatan menargetkan tahun 2010 angka kematian
ibu turun menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup. Namun target tersebut masih
jauh untuk dicapai.1
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan
(40-60%), infeksi (20-30%) dan keracunan kehamilan (20-30%), sisanya sekitar
5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan.
Perdarahan sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan
perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat

yang kejadiannya berkisar 3% dari semua persalinan, penyebabnya antara lain


plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya.1
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada
segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan
jalan lahir. Pada keadaan normal, plasenta terletak di bagian atas uterus, biasanya
di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Angka
kejadian plasenta previa adala 0,4-0,6% dari keseluruhan persalinan. Dengan
penatalaksanaan yang baik mortalitas perinatal adalah 50 per 1000 kelahiran
hidup.2
Oleh karena itu, penulis merasa perlu membahas plasenta previa dalam
suatu bentuk makalah ilmiah agar makalah ini dapat memberi informasi ilmiah
mengenai plesenta previa dalam kehamilan sebagai hal yang tentu saja perlu
diketahui seorang calon dokter.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di atas atau sangat
dekat dengan ostium uteri internal.3 Implantasi plasenta yang normal ialah
pada dinding depan, dinding belakang rahim, atau di daerah fundus uteri.
B. Epidemiologi
Kejadian plasenta previa bervariasi antara 0,3-0,5% dari seluruh
kelahiran. Dari seluruh kasus perdarahan antepartum, plasenta previa
merupakan penyebab yang terbanyak. Oleh karena itu, pada kejadian
perdarahan antepartum, kemungkinan plasenta previa harus dipikirkan lebih
dahulu.3
C. Klasifikasi
Plasenta previa dibagi berdasarkan kemungkinan implantasinya:1
1. Plasenta previa totalis :

seluruh ostium

uterin internal tertutup oleh plasenta.


2. Plasenta previa parsialis

sebagian ostium uterin internal tertutup


jaringan plasenta.
3. Plasenta previa marginalis

tepi

plasenta terletak pada bagian pinggir ostium


uterin internal.

4. Plasenta letak rendah :

implantasi

plasenta pada segmen bawah uterus sehingga


letak tepi plasenta sangat dekat dengan
ostium uterin internum.
5. Vasa previa

Pembuluh darah fetus

berjalan melewati membran dan terletak pada


ostium uterin internal.
Penentuan macamnya plasenta previa bergantung pada besarnya
pembukaan, misalnya plasenta previa marginalis pada pembukaan 2 cm dapat
menjadi plasenta previa lateralis pada pembukaan 5 cm. Begitu pula plasenta
previa totalis pada pembukaan 3 cm, dapat menjadi lateralis pada pembukaan
6 cm. Oleh karena itu, penentuan macamnya plasenta previa harus disertai
dengan keterangan mengenai besarnya pembukaan, misalnya plasenta previa
lateralis pada pembukaan 5 cm.3

Ga
mbar 1. Jenis dari Plasenta Previa

Dengan kemajuan diagnostik, plasenta previa dapat dibedakan dengan


jelas dari plasenta letak rendah. Bila plasenta previa sentralis ditegakkan

secara ultrasonografi pada trimester terakhir kehamilan, kita tidak perlu lagi
melakukan pemeriksaan klinis di kamar operasi dan operasi dapat segera
dilakukan.3

D. Etiologi
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan dimana
endometrium kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau kurang
baiknya vaskularisasi desidua.3
Keadaan ini bisa ditemukan pada :4
1. Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya pendek.
2. Mioma uteri.
3. Kuretase yang berulang.
4. Umur lanjut.
5. Bekas seksio sesarea.
6. Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok atau
pemakai kokain. Hipoksemi yang terjadi akibat karbon monoksida akan
dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada
perokok berat (lebih dari 20 batang sehari).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus
tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang
tumbuh meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum.
Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot
mencari tempat implantasi yang lebih baik, yaitu di tempat yang rendah dekat

ostium uteri internum. Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang
besar dan yang luas, seperti pada eritroblastosis, diabetes mellitus, atau
kehamilan multipel.3

E. Patofisiologi
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trimester ketiga dan
mungkin juga lebih awal, oleh karena telah dimulai terbentuknya segmen
bawah

rahim

(SBR),

tampak

plasenta

akan

mengalami

pelepasan.

Sebagaimana diketahui plasenta terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian


desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari uri. Dengan melebarnya
isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim (SBR), maka plasenta yang
berimplantasi tersebut sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat
pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu
servik mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian plasenta
yang terlepas. Pada tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal
dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta.
Oleh karena fenomena pembentukan segmen bawah rahim (SBR) itu
perdarahan pada plasenta previa akan terjadi (unavoidable bleeding).
Perdarahan di tempat tersebut relatif dipermudah dan diperbanyak oleh karena
segmen bawah rahim (SBR) dan servik tidak mau berkontraksi dengan kuat
karena element otot yang dimilikinya sangat minimal, dengan akibat
pembuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna.
Perdarahan akan berhenti karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi

mengenai sinus yang besar dari plasenta yang mana perdarahan akan
berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Oleh karena pembentukan segmen
bawah rahim (SBR) itu akan berlangsung progresif dan bertahap, maka
laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Demikianlah perdarahan
akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (causeless). Darah yang keluar
berwarna merah segar tanpa rasa nyeri (painless). Pada plasenta yang
menutupi seluruh ostium uteri internum (OUI) perdarahan terjadi lebih awal
pada kehamilan oleh karena segmen bawah rahim (SBR) terbentuk lebih
dahulu pada bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum (OUI).
Sebaliknya, pada plasenta previa parsialis atau letak rendah,
perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau mulai persalinan.
Perdarahan pertama lebih sedikit tetapi cenderung lebih banyak pada
perdarahan berikutnya. Untuk berjaga-jaga mencegah syok hal tersebut perlu
dipertimbangkan. Perdarahan pertama sudah dapat terjadi pada umur
kehamilan dibawah 30 minggu tetapi lebih separuh kejadiannya terjadi pada
umur kehamilan 34 minggu ke atas. Berhubung letak perdarahan dengan
ostium uteri internum (OUI), maka perdarahan lebih mudah mengalir keluar
rahim dan tidak membentuk hematoma retroplasenta yang mampu merusak
jaringan yang lebih luas dan melepaskan tromboplastin kedalam sirkulasi
maternal. Dengan demikian, sangat jarang terjadi koagulupati pada plasenta
previa.
Hal yang lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah
rahim (SBR) yang tipis mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas,

akibatnya plasenta lebih kuat melekat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi
plasenta akreta dan plaenta inkreta, bahkan plasenta perkreta yang
pertumbuhan vilinya bisa sampai menembus ke buli-buli dan kerektum
bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan inkreta lebih sering terjadi pada
uterus yang sebelumnya sudah pernah bedah sesar (SC). Segmen bawah rahim
dan serviks yang rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang
terdapat disana. Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian
perdarahan pasca persalinan pada plasenta previa, misalnya dalam kala tiga
karena plasenta sukar terlepas dengan sempurna (retensio plasentae), atau
setelah uri lepas karena segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi
dengan baik.3

F. Manifestasi klinis
1. Gejala yang terpenting ialah perdarahan tanpa nyeri. Perdarahan pada
plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan dinding rahim.
Setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada dinding rahim karena isi rahim
tumbuh lebih cepat dibandingken dengan rahim, akibatnya istmus uteri
tertarik menjadi bagian dinding korpus uteri yang disebut segmen bawah
rahim. Perdarahan pada plasenta previa terjadi karena terlepasnya pasenta
dari dasarnya. Perdarahan pada plasenta previa bersifat berulang-ulang.
2. Bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub
bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu atas
panggul.

3. Sering disertai kelainan letak karena ukuran panjang rahim berkurang.3

G. Komplikasi
Kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta lebih dekat pada
ostium, dan merupakan port dentre yang mudah tercapai. Lagi pula, pasien
biasanya anemis karena perdarahan sehingga daya tahannya lemah. Juga harus
dikemukakan bahwa pada plasenta previa mungkin sekali terjadi perdarahan
pasca persalinan karena:3
1. Kadang-kadang plasenta lebih erat melekat pada dinding rahim (plasenta
akreta).
2. Daerah perlekatan luas.
3. Kontraksi segmen bawah rahim kurang sehingga mekanisme penutupan
pembuluh darah pada insersi plasenta tidak baik.
Bahaya untuk ibu pada plasenta previa, yaitu :3
1. Syok hipovolemik.
2. Infeksi-sepsis.
3. Emboli udara (jarang).
4. Kelainan koagulopati sampai syok.
5. Kematian.
Sedangkan bahaya untuk anak, yaitu :3
1. Hipoksia.
2. Anemi.

3. Kematian.

H. Diagnosis
Dari anamnesis didapat perdarahan tanpa keluhan nyeri dan
perdarahan berulang. Pada perabaan fornises teraba bantalan lunak pada
presentasi kepala. Pemeriksaan dalam pada plasenta previa hanya dibenarkan
bila dilakukan di kamar operasi yang telah siap untuk melakukan operasi
segera.
Diagnosis plasenta previa (dengan perdarahan sedikit) yang diterapi
ekspektatif ditegakkan dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Dengan
pemeriksaan USG transabdominal ketepatan diagnosisnya mencapai 95-98%.
Dengan USG transvaginal atau transperineal (translabial), ketepatannya akan
lebih tinggi lagi. Penggunaan magnetic resonance imaging (MRI) masih terasa
sangat mahal pada saat ini.
Dengan bantuan USG, diagnosis plasenta previa/letak rendah sering
kali sudah dapat ditegakkan sejak dini sebelum kehamilan trimester ketiga.
Namun, dalam perkembangannya dapat terjadi migrasi plasenta. Sebenarnya,
bukan plasenta yang berpindah, tetapi dengan semakin berkembangnya
segmen bawah rahim, plasenta akan ikut naik menjauhi ostium uteri internum.
Sikap untuk segera mengirim pasien ke rumah sakit (yang mempunyai
fasilitas operasi) tanpa lebih dulu melakukan pemeriksaan dalam atau
pemasangan tampon sangat dihargai, hal ini didasarkan atas kenyataan
bahwa :3
1. Perdarahan pertama pada plasenta previa jarang membawa maut.

2. Pemeriksaan dalam dapat menimbulkan perdarahan yang hebat.


I. Terapi
Pengobatan plasenta previa dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu :3
1. Terminasi
Kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang
membawa maut, misalnya : kehamilan cukup bulan, perdarahan banyak,
parturien, dan anak mati (tidak selalu).
a. Cara vaginal yang bermaksud untuk mengadakan tekanan pada
plasenta, yang dengan demikian menutup pembuluh-pembuluh darah
yang terbuka(tamponade pada plasenta). Dilakukan pada plasenta letak
rendah, plasenta marginalis atau plasenta previa lateralis di anterior
(dengan anak letak kepala). Dilakukan oksitosin drip disertai
pemecahan ketuban.
b. Dengan seksio sesarea, dimaksudkan untuk mengosongkan rahim
hinggarahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan. Seksio
sesarea juga mencegah terjadinya robekan serviks yang agak sering
terjadi pada persalinan per vaginam. Dilakukan pada keadaan plasenta
previa dengan perdarahan banyak, plasenta previa totalis, plasenta
previa lateralis di posterior, plasenta letak rendah dengan anak letak
sungsang.
2. Ekspektatif
Dilakukan apabila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup
di dunia luar baginya kecil sekali. Dahulu ada anggapan bahwa kehamilan

dengan plasenta previa harus segera diakhiri untuk menghindarkan


perdarahan yang fatal. Namun, sekarang ternyata terapi menunggu dapat
dibenarkan dengan alasan sebagai berikut :
a. Perdarahan pertama pada plasenta previa jarang fatal.
b. Untuk menurunkan kematian bayi karena prematuritas.
Syarat bagi terapi ekspektatif ialah bahwa keadaan ibu dan anak
masih baik (Hb-nya normal) dan perdarahan tidak banyak.
Pada terapi ekspektatif, pasien dirawat di rumah sakit sampai berat
anak 2500 gr atau kehamilan sudah sampai 37 minggu. Selama terapi
ekspektatif diusahakan untuk menentukan lokalisasi plasenta dengan
pemeriksaan USG dan memperbaiki keadaan umum ibu. Jika kehamilan
37 minggu telah tercapai, kehamilan diakhiri menurut salahsatu cara yang
telah diuraikan.
Penderita

plasenta previa

juga

harus

diberikan

antibiotik

mengingatkemungkinan terjadinya infeksi yang besar disebabkan oleh


perdarahan dantindakan-tindakan intrauterin. Jenis persalinan apa yang
kita pilih untuk pengobatan plasenta previa dan kapan melaksanakannya
bergantung pada faktor-faktor sebagai berikut :
1. Perdarahan banyak atau sedikit.
2. Keadaan ibu dan anak.
3. Besarnya pembukaan.
4. Tingkat plasenta previa.
5. Paritas.

Perdarahan yang banyak, pembukaan kecil, nullipara, dan tingkat


plasenta previa yang berat mendorong kita melakukan seksio sesarea.
Sebaliknya, perdarahan yang sedang/sedikit, pembukaan yang sudah besar,
multiparitas dan tingkat plasenta previa yang ringan, dan anak yang mati
cenderung untuk dilahirkan per vaginam. Pada perdarahan yang sedikit dan
anak yang masih kecil (belum matur) dipertimbangkan terapi ekspektatif.
Perlu diperhatikan bahwa sebelum melakukan tindakan apapun pada penderita
plasenta previa, harus selalu tersedia darah yang cukup.
Cara-cara vaginal terdiri dari :
1. Pemecahan ketuban.
Dapat

dilakukan

pada

plasenta

letak

rendah,

plasenta

previamarginalis, dan plasenta previa lateralis yang menutup ostium


kurang darisetengah bagian. Pada plasenta previa lateralis yang
plasentanya terdapat disebelah belakang, lebih baik dilakukan seksio
sesarea karena dengan pemecahan ketuban, kepala kurang menekan pada
plasenta. Hal ini disebabkan kepala tertahan promontorium, yang dalam
hal ini dilapisi lagi oleh jaringan plasenta.
Pemecahan ketuban dapat menghentikan perdarahan karena :
a. Setelah pemecahan ketuban, uterus mengadakan retraksi hingga kepala
anak menekan pada plasenta.
b. Plasenta tidak tertahan lagi oleh ketuban dan dapat mengikuti gerakan
dinding rahim hingga tidak terjadi pergeseran antara plasenta dan
dinding rahim.

Jika his tidak ada atau kurang kuat setelah pemecahan ketuban,
dapat diberikan infus pitosin. Jika perdarahan tetap ada, dilakukan seksio
sesarea.4
2. Versi Braxton Hicks.
Tujuan dari perasat Braxton Hicks ialah untuk mengadakan
tamponade plasenta dengan bokong dan untuk menghentikan perdarahan
dalam rangka menyelamatkan ibu.
Versi Braxton Hicks biasanya dilakukan pada anak yang sudah
mati ataupun masih hidup. Mengingat bahayanya, yaitu robekan pada
serviks dan pada segmen bawah rahim, perasat ini tidak mempunyai
tempat lagi di rumah sakit yang besar. Akan tetapi, dalam keadaan
istimewa, misalnya jika pasien berdarah banyak, anak sudah meninggal
dan kita mendapat kesulitan memperoleh darah atau kamar operasi masih
lama siapnya maka cara Braxton Hicks dapat dipertimbangkan.
Syarat untuk melakukan versi Braxton Hicks ialah pembukaan
yang harus dapat dilalui oleh 2 jari supaya dapat menurunkan kaki.
a. Cunan Willett-Gauss.Tujuannya ialah untuk mengadakan tamponade
plasenta dengankepala. Kulit kepala anak dijepit dengan cunam
Willett-Gauss dan diberati dengan timbangan 500 gr. Perasat ini
sekarang hampir tidak pernah dilakukan lagi.3

Skema 1. Algoritma penatalaksanaan plasenta previa.5

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo. Angka Kematian Ibu di Indonesia.
http://www.menegpp.go.id/aplikasidata/index.php?
option=com_docman&task=doc_download&gid=290&Itemid=111; 2009.
2. Davood S, Parviar K and Ebrahimi S. Selected pregnancy variables in
women with placenta previa. Res. J. Obstet. Gynecol . 2008;1: 1-5.
3. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom
KD.Williams Obstetrics. 23rd edition. Philladelphia : McGraw-Hill
Education; 2009.
4. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF, editor. Obstetri
Patologi:Ilmu Kesehatan Reproduksi. Edisi II. Jakarta: EGC ; 2004.
5. Krisnadi SR, Mose JC, Effendi JS. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri

danGinekologi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin. Bandung; 2005