Anda di halaman 1dari 2

Dalam waktu 5 tahun, Swedia telah mengurangi jumlah wanita yang terjebak dalam prostitusi.

Di
ibukotanya, Stockholm, jumlah wanita di prostitusi jalanan telah berkurang sebanyak lebih dari 60%.
Bukan hanya itu, jumlah germo telah berkurang sebanyak 80%. Bahkan ada beberapa kota besar yang
sudah menghapuskan profesi pelacur di lingkungannya.
Selain itu, rumah bordil besar dan panti pijat plus-plus juga sudah tidak ada. Padahal tempat-tempat
seperti itu sudah mengakar selama lebih dari 30 tahun saat prostitusi di Swedia masih legal.
Ditambah lagi, jumlah imigran wanita yang diselundupkan ke Swedia untuk tujuan seks komersil juga
hampir habis tak bersisa. Pemerintah Swedia memperkirakan hanya ada 200-400 wanita dan anak
perempuan yang diselundupkan ke Swedia dalam beberapa tahun terakhir.
Tentu human trafficking ini masih perlu diberantas. Namun ini merupakan prestasi jika dibandingkan
dengan negara tetangganya, Finlandia, yang kebocoran 15-17 ribu wanita setiap tahunnya untuk
menjadi pekerja seks komersil. Dalam abad terakhir ini, tidak ada negara ataupun eksperimen sosial
yang mendekati hasil yang dibuat Swedia.
Pertanyaannya, bagaimanakah cara Swedia melakukan hal ini? Ternyata, strategi Swedia tidaklah
rumit. Bahkan, sebenarnya sangat sederhana dan masuk akal. Anda pasti bertanya-tanya, Mengapa
Indonesia tidak mencoba cara yang satu ini?
Swedia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun. Sampai pada tahun 1999, Swedia
mengesahkan aturan yang:
1.
2.

Mengkriminalkan pembeli seks


Menghapuskan status kriminal penjual seks

Alasan dibuatnya aturan ini disebutkan dalam hukum yang diterapkan pemerintah Swedia:
Di Swedia, prostitusi dianggap sebagai kekerasan pria terhadap wanita dan anak-anak. Prostitusi
secara resmi dianggap sebagai bentuk eksploitasi terhadap wanita dan anak-anak serta menjadi
masalah sosial yang besar Kesetaraan gender tidak akan pernah tercapai selama pria membeli,
menjual, dan mengeksploitasi wanita dan anak-anak dengan melacurkan mereka.
Selain 2 poin di atas, ada aturan ketiga yang sangat penting. Swedia menganggarkan dana sosial
untuk membantu setiap pekerja seks komersial yang ingin keluar dari jeratan prostitusi. Selain itu ada
juga dana untuk mendidik masyarakat mengenai pentingnya aturan ini.
Ada 4 kesimpulan yang bisa kita ambil dari strategi Swedia ini:
1.
2.

Strategi unik Swedia ini memperlakukan prostitusi sebagai bentuk kekerasan terhadap wanita.
Pria yang mengeksploitasi wanita dengan membeli seks dikriminalisasikan.

3.

Wanita pekerja seks komersial diperlakukan sebagai korban yang membutuhkan bantuan.

4.

Masyarakat diedukasi untuk melawan bias sejarah yang telah lama berpikir bahwa prostitusi
itu hal yang wajar.

Untuk menguatkan fondasi hukum aturan ini,aturan prostitusi Swedia disahkan sebagai bagian dari
paket aturan melawan kekerasan.
Within 5 years, Sweden has reduced the number of women trapped in prostitution. In the capital,
Stockholm, the number of women in street prostitution has been reduced by more than 60%. Not only
that, the number of pimps has been reduced by 80%. There are even some large cities that have
abolished the profession of prostitutes in her neighborhood.
In addition, large brothels and massage parlors plus-plus is also gone. Though places like the already
entrenched for more than 30 years of age when prostitution in Sweden was legal.
Plus, the number of immigrant women trafficked into Sweden for the purpose of commercial sex is
almost exhausted no trace. The Swedish government estimates that there are only 200-400 women
and girls were smuggled to Sweden in recent years.

Certainly human trafficking still needs to be eradicated. However, this is an achievement when
compared with its neighbors, Finland, the leakage of 15-17 thousand women each year to become sex
workers. In the last century, no country or a social experiment that is close to the results that made
Sweden.
The question is, how does Sweden do this? Apparently, the Swedish strategy is not complicated. In
fact, it is actually very simple and reasonable. You must be wondering, "Why does Indonesia not try
this one?"
Sweden has done research for many years. Until 1999, Sweden endorsed the rules:
1. Criminalising sex buyers
2. Eliminating the criminal status of sex sellers
The rationale for creating this rule mentioned in the law that applied to the Swedish government:
"In Sweden, prostitution is regarded as male violence against women and children. Prostitution is
officially regarded as a form of exploitation of women and children as well as being a major social
problem ... gender equality will never be achieved as long as men buy, sell and exploit women and
children by prostituting them. "
In addition to 2 points above, there are three very important rules. Swedish social budgeted funds to
help every commercial sex workers who want to get out of the bondage of prostitution. There was also
the funds to educate the public about the importance of this rule.
There are 4 conclusions can we draw from this Swedish strategy:
1. Sweden's unique strategy treats prostitution as a form of violence against women.
2. Men who exploit women to buy sex criminalized.
3. Women prostitutes are treated as victims who need help.
4. educated society against bias of history that has long been thought that prostitution was a natural
thing.
To strengthen the foundations of the rule of law, rule Sweden legalized prostitution as part of a
package of rules against violence.