Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN KOMINUSI

LAPORAN PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN KOMINUSI DISUSUN OLEH: KELOMPOK 6 1. FIRMAN BIMAWAN MASYHUDI (073001400041)

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 6

1. FIRMAN BIMAWAN MASYHUDI

(073001400041)

2. I DEWA PUTU DEO SETYAWAN

(073001400049)

3. DIVA MELYANE TOEBAGUS MAOLANA

(073001400031)

4. CHRIS OSWIN NATHANIEL SIMATUPANG (073001400022)

5. ARI SANJAYA

(073001400013)

6. ALFIAN NUGRAHA ABDULLAH

(073001400005)

7. UMAR ARMANDO

(073001200181)

8. SONDY SILALAHI

(073001100093)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

2016

LAPORAN MODUL I KOMINUSI Kelompok 6 / Selasa, 06-12-2016 Asisten : Ali Akbar

Abstrak - Modul 1 - Kominusi adalah proses mereduksi ukuran butir. Selain untuk mereduksi ukuran butir, kominusi juga merupakan proses untuk meliberasi bijih atau melepaskan bijih tersebut dari ikatannya yang merupakan gangue mineral. Proses crushing memiliki tahapan yaitu Jaw Crusher dan Roll Crusher. Batuan yang masih berbentuk bongkahan besar, dimasukkan pada Jaw Crusher, kemudian batuan akan diremukkan menjadi ukuran-ukuran yang lebih kecil. Lalu Hasil ayakan dari Jaw Crusher tersebut dimasukkan pada Roll Crusher untuk diremukan. Semakin kecil jarak antara roll putar 1 dan roll putar 2, maka hasilnya akan semakin halus. Kemudian lakukan pengayakan dengan ukuran yang ditentukan. Hasil dari ayakan dengan Roll akan di Grinding atau penggerusan dengan menggunakan Ball Mill. Pertama, lakukan proses Grinding dengan Ball Mill selama 5 menit, kemudian diayak. Lalu lakukan tahapan yang sama dengan tambahan waktu 5 menit (menjadi 10 menit), kemudian diayak untuk. Setelah itu lakukakn ayakan dan lakukan tahapan yang sama dengan tambahan waktu 5 menit (15 menit) dan kemudian diayak.

A. TINJAUAN PUSTAKA Kominusi adalah proses mereduksi ukuran

butir. Selain untuk mereduksi ukuran butir, kominusi juga merupakan proses untuk meliberasi bijih atau melepaskan bijih tersebut dari ikatannya yang merupakan gangue mineral. Kominusi atau pengecilan ukuran merupakan tahap awal dalam proses PBG yang bertujuan untuk :

1. Membebaskan / meliberasi (to liberate) mineral berharga dari material pengotornya.

2. Menghasilkan ukuran dan bentuk partikel yang sesuai dengan kebutuhan pada proses berikutnya.

3. Memperluas permukaan partikel agar dapat mempercepat kontak dengan zat lain, misalnya reagen flotasi.

Kominusi ada 2 (dua) macam, yaitu :

1. Peremukan / pemecahan (crushing)

2. Penggerusan / penghalusan (grinding) Disamping itu, baik peremukan maupun

penggerusan, bisa terdiri dari beberapa tahap,yaitu :

Tahap pertama / primer (primary stage)

Tahap kedua / sekunder (secondary stage)

Tahap ketiga / tersier (tertiary stage)

Kadang-kadang ada tahap keempat / kwarter (quaternary stage)

Peremukan / Pemecahan (Crushing) Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian / bijih yang langsung dari tambang (ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar (diameter sekitar 100 cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa sampai ukuran 2,5 cm.

Crusher merupakan alat yang digunakan dalam proses crushing. Crushing merupakan proses yang bertujuan untuk meliberasi mineral yang diinginkan dari mineral pengotornya. Crushing biasanya dilakukan dengan proses kering, dan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu Prymary crushing, secondary crushing, dan fine crushing.

Peralatan yang dipakai antara lain adalah :

1. Jaw crusher

Peralatan yang dipakai antara lain adalah : 1. Jaw crusher Jaw crusher adalah sebuah alat penghancur

Jaw crusher adalah sebuah alat penghancur yang konstruksinya sangat sederhana, dengan tenaga yang besar mampu menghancurkan batu hingga ukuran 20 - 60 cm dengan kapasitas antara 10 - 200T/H. Prinsip kerja jaw crusher adalah batu yang akan dipecah dimasukkan melalui feed opening bagian movable jaw yang bergerak (Jaw Plate) kedepan ataupun yang kebelakang yang turun naik, akibat dari excentric shaft yang digerakkan oleh Fly Wheel yang sumber penggeraknya adalah motor listrik. Batu tadi dihancurkan oleh kedua buah rahang jaw karena gerakan moveble jaw. Batu yang telah hancur keluar melalui discharge opening. Discharge opening ini

dapat

baut adjustment.

diatur

dengan

menyeting

2. Gyratory crusher

atau

menyetel

diatur dengan menyeting 2. Gyratory crusher atau menyetel Gyratory crusher adalah salah satu jenis utama penghancur

Gyratory crusher adalah salah satu jenis utama penghancur primer di tambang atau pabrik pengolahan bijih. Crusher gyratory ditetapkan dalam ukuran baik oleh gape dan diameter mantel atau dengan ukuran pembukaan penerima. Crusher gyratory dapat digunakan untuk menghancurkan primer atau sekunder. Tindakan menghancurkan disebabkan oleh penutupan kesenjangan antara garis mantel (bergerak) yang dipasang pada poros vertikal pusat dan liners cekung (fixed) dipasang pada frame utama crusher. Kesenjangan yang dibuka dan ditutup oleh eksentrik di bagian bawah poros yang menyebabkan poros vertikal pusat berkisar. Poros vertikal bebas berputar mengelilingi porosnya sendiri.

3. Cone crusher

berputar mengelilingi porosnya sendiri. 3. Cone crusher Cone Crusher adalah mesin yang berfungsi sebagai mesin

Cone Crusher adalah mesin yang berfungsi sebagai mesin lanjutan / crusher sekunder setelah proses dari crusher primer. Kapasitas cone crusher bisa mencapai 15 sampai 125ton/jam. Ketika kerucut crusher bekerja, motor lengan eksentrik berputar. Lengan eksentrik menggerakkan poros transmisi dan bagian kerucut untuk membuat gerakan ayunan. Ketika akan berayun sampai permukaan dinding menghancurkan dengan dinding mortir gulungan, batuan dan bijih yang ditekan dan dihancurkan.Bersama antara lengan dan frame dikompresi dengan logam. Ketika blok logam dan bahan lainnya yang tidak dapat

hancur jatuh ke crusher, logam akan keluar dari penghancur dan debit objek.

4. Roll crusher

keluar dari penghancur dan debit objek. 4. Roll crusher Roll Crusher adalah type crusher dengan sistem

Roll Crusher adalah type crusher dengan sistem gilas rotary dengan kecepatan rpm yang realatif lebih rendah dari impact crusher yaitu sekitar 300 rpm dan memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar. Roll Crusher atau pemecah batu jenis roll, memecah batu dengan menjepitnya diantara satu roll, dua roll atau lebih, dimana roll-roll akan berputar berlawanan dengan adanya berat tersendiri dan gusuran dari batu, maka batu akan pecah. Adapun permukaan dari Roll bermacam- macam ada yang rata, bergelombang, beralur dengan bermacam-macam, gigi-gigi dan sebagainya, sesuai dengan jenis batu dan hasil pemecahan yang diharapkan.

5. Impact crusher

batu dan hasil pemecahan yang diharapkan. 5. Impact crusher Impact Crusher adalah type crusher dengan sistem

Impact Crusher adalah type crusher dengan sistem pukul rotary dengan kecepatan rpm yang cukup tinggi, Impact crusher biasa digunakan untuk menghancurkan batu kali dan batu gunung dengan ukuran raw material tidak terlalu besar dan menghasilkan produk dengan ukuran yang kecil (sekitar 1 - 5 cm). Impact crusher bekerja menghancurkan material dengan kekuatan tabrakan. Ketika material memasuki area blow bar, material dihancurkan dengan kekuatan dan kecepatan tinggiblow bar dan dilempar ke impact plates dalam rotor untuk penghancuran kedua. Kemudian material akan terlempar kembali kedalam blow bar untuk penghancuran ketiga. Proses ini berlangsung terus menerus sampai material hancur sesuai dengan ukuran yang diinginkan dan keluar dari bagian paling bawah mesin. Ukuran dan bentuk dari bubuk

akhir dapat diubah dengan mengatur jarak antara impact rack dan rotor support.

3.

Campuran bola-bola baja dan bahan galian atau bijihnya sendiri yang disebutsemi autagenous mill (SAG).

6. Rotary breaker

yang disebut semi autagenous mill (SAG). 6. Rotary breaker Cara kerja rotary breaker adalah perputaran rotary

Cara kerja rotary breaker adalah perputaran rotary breker itu memberikan efek benturan pada material yang berada di dalamnya baik dengan dinding rotary breaker maupun dengan material itu sendiri). Material yang telah hancur akan lolos pada lubang-lubang screen tersebut sedangkan material yang tidak lolos akan mengalami proses penghancuran kembali. Pengumpanan dilakukan dengan memasukkan material batubara dari satu sisi tabung.

7. Hammer mill

material batubara dari satu sisi tabung. 7. Hammer mill Secara umum, mesin ini berbentuk sebuah tabung

Secara umum, mesin ini berbentuk sebuah tabung besi yang memiliki poros di bagian vertikal atau horizontal. Rotor berputar di bagian dalam mesin akan menggerakkan mesin. Feed yang telah diproses oleh mesin akan keluar sesuai besar ukuran yang telah dipilih melalui saringan.

Penggerusan / Penghalusan (Grinding)

Penggerusan adalah proses lanjutan pengecilan ukuran dari yang sudah berukuran 2,5 cm menjadi ukuran yang lebih halus. Pada proses penggerusan dibutuhkan media penggerusan yang antara lain terdiri dari :

1. Bola-bola baja atau keramik (steel or ceramic balls).

4. Tanpa media penggerus, hanya bahan galian atau bijihnya yang saling menggerus dan disebut autogenous mill.

Peralatan penggerusan yang dipergunakan adalah :

1. Ball mill dengan media penggerus berupa bola-bola baja atau keramik.

1. Rod mill dengan media penggerus berupa batang-batang baja.

2. Semi autogenous mill (SAG) bila media penggerusnya sebagian adalah bahan galian atau bijihnya sendiri.

3. Autogenous mill bila media penggerusnya adalah bahan galian atau bijihnya sendiri.

A. Data Percobaan Setelah dilakukan percobaan didapatkan data sebagai berikut :

dilakukan percobaan didapatkan data sebagai berikut : Tabel B.1 Data crushing dengan jaw crusher Tabel B.2

Tabel B.1 Data crushing dengan jaw crusher

sebagai berikut : Tabel B.1 Data crushing dengan jaw crusher Tabel B.2 Data crushing dengan roll

Tabel B.2 Data crushing dengan roll crusher

jaw crusher Tabel B.2 Data crushing dengan roll crusher Tabel B.3 Data grinding dengan ball mill

Tabel B.3 Data grinding dengan ball mill selama 5 menit

Tabel B.4 Data grinding dengan ball mill selama 10 menit Tabel B.5 Data grinding dengan

Tabel B.4 Data grinding dengan ball mill selama 10 menit

Tabel B.4 Data grinding dengan ball mill selama 10 menit Tabel B.5 Data grinding dengan ball

Tabel B.5 Data grinding dengan ball mill selama 15 menit

mengamati hasil peremukan

mengayak dengan seri 12,5 mm, 3#, 8#, 14# dan 20#

mengulangi percobaan dengan jarak roll yang berbeda yaitu 1 cm dan 0,5 cm

mengayak dengan seri 3#, 8#, 14#, 20# dan 50#

menimbang per fraksi ayakan

membuat grafik distribusi

2. Rumus-rumus Dasar

a. Persen berat:

b. Reduction Ratio:
b. Reduction Ratio:

3. Perhitungan

B.

Pengolahan Data Percobaan

Crushing

1. Langkah Kerja

Jaw Crusher

a. Jaw Crusher

Menyiapkan contoh bijih

menjalankan Jaw Crusher dalam keadaan kosong

mengamati cara kerjanya

memasukan umpan

Mengamati hasil peremukan

mengayak dengan seri 25 mm, 12,5 mm, 3#, 8# dan

14#

menimbang per fraksi ayakan

membuat grafik distribusi ukuran

b. Roll Crusher

produk peremukan Jaw Crusher

menjalankan Jaw Crusher dalam keadaan kosong

mengamati cara kerjanya

mengatur jarak roll sebesar 1,5 cm

memasukkan umpan

mengatur jarak roll sebesar 1,5 cm ↓ memasukkan umpan ↓ Tabel C.1 Hasil perhitungan berat kumulatif

Tabel C.1 Hasil perhitungan berat kumulatif jaw crusher

Roll Crusher

Hasil perhitungan berat kumulatif jaw crusher Roll Crusher Tabel C.2 Hasil perhitungan berat kumulatif roll crusher

Tabel C.2 Hasil perhitungan berat kumulatif roll crusher

Grinding

Ball Mill (5menit)

kumulatif jaw crusher Roll Crusher Tabel C.2 Hasil perhitungan berat kumulatif roll crusher Grinding Ball Mill

Tabel C.3 Hasil perhityngan berat kumulatif ball mill

(5menit)

Ball Mill (10menit)

berat kumulatif ball mill (5menit) Ball Mill (10menit) Tabel C.4 Hasil perhitungan berat kumulatif ball mill

Tabel C.4 Hasil perhitungan berat kumulatif ball mill (10 menit)

Ball Mill (15menit)

berat kumulatif ball mill (10 menit) Ball Mill (15menit) Tabel C.5 Hasil perhitngan berat kumulatif ball

Tabel C.5 Hasil perhitngan berat kumulatif ball mill

(15menit)

C.5 Hasil perhitngan berat kumulatif ball mill (15menit) Grafik C.1 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan

Grafik C.1 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan ukuran ayakan jaw crusher

% berat lolos kumulatif dengan ukuran ayakan jaw crusher Grafik C.2 Perbandingan % berat lolos kumulatif

Grafik C.2 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan ukuran ayakan roll crusher

% berat lolos kumulatif dengan ukuran ayakan roll crusher Grafik C.3 Perbandingan % berat lolos kumulatif

Grafik C.3 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan ukuran ayakan ball mill (5menit)

lolos kumulatif dengan ukuran ayakan ball mill (5menit) Grafik C.4 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan

Grafik C.4 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan ukuran ayakan ball mill (10menit)

lolos kumulatif dengan ukuran ayakan ball mill (10menit) Grafik C.5 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan

Grafik C.5 Perbandingan % berat lolos kumulatif dengan ukuran ayakan ball mill (15menit)

P80 untuk Jaw Crusher

y

= 1.5032x + 1.3442

80

= 1.5032x + 1.3442

x

= 52.325

P80 untuk Roll Crusher

y

= 5.2395x + 5.1785

80

= 5.2395x + 5.1785

x

= 14.280

P80 untuk Ball Mill (5 menit)

y

= 59.824x + 24.475

80

= 59.824x + 24.475

x

= 0.928

P80 untuk Ball Mill (10 menit)

y

= 67.37x + 30.057

80

= 67.37x + 30.057

x

= 0.741

P80 untuk Ball Mill (15 menit)

y

= 71.082x + 35.967

80

= 71.082x + 35.967

x

= 0.619

RR80 untuk Roll Crusher dengan gep 0.5 cm

C. Analisa Hasil Percobaan

Pada tahap crushing, umpan yang dimasukkan tidak sesuai dengan produk yang dihasilkan. Pada awal pengumpanan sebanyak 2 kg, setelah peremukan dengan jaw

crusher produk yang dihasilkan sebaanyak 1.8851 kg. Pengumpanan yang dilakukan pada roll crusher sebanyak 2,1

kg. Namun setelah dilakukan proses penggilingan dengan

roll crusher produk yang dihasilkan sebesar 2,004 kg.

Hasil crushing serta grinding tersebut lalu diayak untuk mendapatkan / memilah sampel tersebut menjadi fraksi- fraksi sesuai dengan distribusi ukurannya. Dari hasil tersebut kemudian dicari P80, yaitu 80 % dari berat produk berukuran kurang dari. Untuk proses grinding menunjukkan P80 yang menurun pada grafik seiring berjalannya waktu. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu grinding maka sampel akan semakin halus, sehingga ukuran bukaan saat meloloskan sampe 80% juga semakin kecil. Reduction ratio yaitu perbandingan antara ukuran feed dengan produk yang dihasilkan. Semakin besar nilai reduction ratio maka menandakan bahwa proses reduksi yang semakin baik

Skema kerja ball mill

bahwa proses reduksi yang semakin baik Skema kerja ball mill Cara kerja dari ball mill ini

Cara kerja dari ball mill ini dasarnya adalah dengan menggelindingkan bola penghancur di dalam mesin dan menghancurkan material didalamnnya hingga menjadi hancur sesuai dengan keinginan.

D. Jawaban pertanyaan dan tugas

1. Jelaskan istilah gape, setting, angle of nip!

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan

reduction ratio, limiting reduction ratio, dan reduction ratio 80%. Apakah factor- faktor yang mempengaruhi besarnya reduction ratio dari hasil permukaan.

3. Ada berapa macam tipe Jaw Crusher menurut desainnya dan dimana letak perbedaannya.

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan choke crushing dan arrested crushing pada

operasi peremukan serta beri contoh alat yang menggunakan cara tersebut

5. Jelaskan mekanisme remukan material.

6. Jelaskan factor-faktor yang mempengaruhi laju partikel melewati permukaan ayakan.

7. Bagaimana menyatakan ukuran dari alat Jaw Crusher, Gyratory Crusher, Roll Crusher, dan pengayak getar.

JAWABAN

1.

 

Gape: Jarak mendatar pada mouth yang diukur pada bagian mouth dimana umpan yang dimasukkan bersinggungan dengan mouth.

Setting: Bagian dari jaw crusher untuk mengatur agar lubang ukuran sesuai dengan yang dikehendaki. Bila setting block dimajukan, maka jarak antara fixed jaw dengan swing jaw menjadi lebih pendek atau lebih dekat, dan sebaliknya. Pada jaw crusher ada open setting dan close setting.

Angle of nip: Sudut yang dibentuk dengan garis singgung yang dibuat melalui titik singgung antara jaw dengan batuan

2.

Reduction ratio adalah perbandingan antara ukuran umpan yang m asuk dengan ukuran produkta yang dihasilkan. Limitting reduction ratio adalah perbandingan antara ukuran bukaan screen dimana semua feed bisa lolos terhadap ukuran bukaan screen yang sama dimana semua produkta bisa lolos. Reduction Ratio 80% (RR 80):

perbandingan antara ukuran screen yang meloloskan 80% dari feed dengan ukuran bukaan screen yang meloloskan 80% dari produkta.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya reduction ratio di antaranya adalah kekerasan, kandungan air, komposisi mineral, ukuran butir, porositas, selain itu juga dipengaruhi oleh discharge dari crusher.

3. Jaw Crusher ada empat tipe berdasarkan desain, yaitu Blake, Overhead Pivot, Overhead Eccentric, dan Dodge. Perbedaan dari keempat tipe tersebut adalah dalam hal ukuran umpan, power,

kecepatan putar, dan karakteristik, serta aplikasinya.

4. Choke crushing adalah mekanisme peremukan dimana dalam prosesnya material diremukkan oleh alat serta tumbukan dengan material itu sendiri. Contoh alat: roll crusher. Arrested crushing adalah mekanisme peremukan yang selama prosesnya material diremukkan oleh alat sampai material lolos ke zona discharge. Contoh alat: jaw crusher.

5. Abrasion (attrition) Terjadi bilamana energi yang kurang mencukupi diterapkan pada partikel, menyebakan terjadinya localized stressing dan remuknya sebagian kecil area sehingga menghasilkan distribusi ukuran partikel yang halus. Compression (clevage) Energi cukup untuk membuat partikel remuk, menghasilkan ukuran partikel ukurannya tidak jauh berbeda dengan ukuran umpan. Impact (shatter) Energi sangat mencukupi untuk terjadinya peremukan partikel, menghasilkan banyak partikel dengan distribusi ukuran yang lebar.

6. Ukuran bukaan ayakan Semakin besar diameter lubang bukaan akan semakin banyak material yang lolos. Ukuran relatif partikel Material yang mempunyai diameter yang sama dengan panjangnya akan memiliki kecepatan dan kesempatan masuk yang berbeda bila posisinya berbeda, yaitu yang satu melintang dan lainnya membujur. Pantulan dari material Pada waktu material jatuh ke screen maka material akan membentur kisi-kisi screen sehingga akan terpental ke atas dan jatuh pada posisi yang tidak teratur. Kandungan air Kandungan air yang banyak akan membantu tapi bila sedikit malah akan menyumbat screen.

Faktor-faktor yang juga mempengaruhi laju partikel melewati permukaan diantaranya adalah densitas bulk, permukaan ayak, persentase area bukaan, bentuk partikel, ukuran jarak antar mantel, kelembapan permukaan, bentuk lubang, ketebalan mantel, frekuensi, dan sudut inklinasi

Gyratory crusher: gape x mantle diameter Roll crusher: diameter x width Pengayak getar: banyaknya lubang dalam ukuran 1 inch linear (mesh), atau ukuran geometri 1 lubang (mm)

SOAL (GRINDING)

1. Jelaskan mekanisme pengecilan ukuran yang terjadi dalam Ball Mill, demikian juga dengan Rod Mill.

2. Kenapa penggunaan bijih pada PBG umumnya dilakukan dengan cara basah?

3. Jelaskan factor-faktor yang mempengaruhi keausan pelapis pada Ball Mill.

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kecepatan kritis dan turunkan persamaannya.

5. Jelaskan hubungan antara putaran mill dengan aksi penggerusan.

JAWABAN

1. Ball mill: Jadi bola-bola baja yang besar berada pada diameter shell yang besar untuk menghancurkan partikel besar, sedang bola-bola baja yang kecil (sudah aus) berada pada cone section dekat ujung pengeluaran untuk menghancurkan partikel yang sudah halus. Feed (umpan) untuk ball mill dapat berukuran 3 inci (max) dan digiling sampai menjadi 50 mesh (0,29 mm). kalau feed (umpan) makin kecil, maka produknya dapat lebih

halus lagi (200 mesh = 0,074 mm). Dalam operasi ball mill kecepatan perputan shell silinder harus dibuat setinggi mungkin, tetapi dihindarkan agar muatanya (grinding media dan batuan) tidak ikut berputar bersama shell silinder. Pada ball mill, bola akan ikut berputar dengan tumbling mill. Kemudian di suatu titik ketika kecepatannya sama dengan nol, bola akan jatuh dan menumbuk bijih di dalam mill

.

Roll mill :Roll Mill bentuknya hampir sama dengan Ball mill, berbentuk shell silinder dengan ukuran panjangnya lebih besar dari diameternya (1 1/3 3 kali), dimuati dengan grinding media berupa batang-batang baja (stel rod) pengganti bola-bola baja. Silinde. Pada rod mill, material akan berada di

antara dua rod dan dalam kondisi terjepit. Penggerusan terjadi akibat berat dari rod.

2. - Penggerusan cara basah memerlukan energi lebih sedikit dibandingkan cara kering.

- Klasifikasi cara basah lebih mudah dan memerlukan ruang lebih kecil dibandingkan cara kering. - Lingkungan pada penggerusan cara basah lebih bersih dan tidak memerlukan alat penangkap debu. - Penggerusan cara kering memerlukan material yang betul-betul kering, maka perlu proses pengeringan lebih dulu. Selain itu, agar bijih tidak lengket pada liner, dan karena proses selanjutnya dalam pengolahan bahan galian adalah dengan cara basah.

3. Pada cara basah, biasanya bijih bersifat korosif terhadap liner, sehingga liner terkorosi dan membutuhkan pelumas,

Gesekan antara liner dengan bijih yang digiling bisa mengakibatkan abrasi untuk liner berbahan baja.

Kekuatan abrasi liner yang tergantung pada jenis materialnya.

Kecepatan rotasi, ukuran umpan, bahan dasar liner, ketebalan liner, dan zona cascading.

4. Kecepatan kritis yaitu kecepatan putar cell pada operasi milling dimana pada saat itu grinding media menempel pada dinding cell sehingga tidak terjadi proses abrasi maupun impact.

V dinyatakan dalam,

disubtitusikan,

( )

Kecepatan kritis terjadi saat α = 0, sehingga nilai cos α =

1,

(

)

( )

√( Kecepatan kritis ini dinyatakan dalam satuan revolusi per menit (rpm).

)

5. Berdasarkan kecepatan putaran mill terdapat dua mekanisme penggerusan yaitu, cascading dan cataracting. Kedua mekanisme ini akan menghasilkan distribusi ukuran produk yang berbeda.

a) Mekanisme Cascading Pada putaram mill yang relatif rendah, muatan akan bergerak naik tidak begitu tinggi dan setelah mencapai titik kesetimbangan muatan segera kembali

menggelincir atau menggelinding di atas muatan lain yang sedang bergerak ke atas. Pada mekanisme ini pengecilan ukuran terjadi akibat gaya abrasi. Produk yang dihasilkan dengan mekanisme ini adalah sangat halus.

b) Mekanisme Cascading Pada putaram mill yang relatif rendah, muatan akan bergerak naik tidak begitu tinggi dan setelah mencapai titik kesetimbangan muatan segera kembali menggelincir atau menggelinding di atas muatan lain yang sedang bergerak ke atas. Pada mekanisme ini pengecilan ukuran terjadi akibat gaya abrasi. Produk yang dihasilkan dengan mekanisme ini adalah sangat halus.

F.

Kesimpulan

a. Reduction ratio 3.664

b. P80 jaw 52.325 mm

c. P80 roll 14.280 mm

d. P80 grinding 5 menit 0.928 mm

e. P80 grinding 10 menit 0.741 mm

f. P80 grinding 15 menit 0.619

g. Waktu penggerusan meningkat maka hasil produk semakin halus

DAFTAR PUSTAKA

Kelly, Errol G. & David J. Spottiswood. 1982. Introduction

to Mineral Processing. Hal. 23-24. USA: John Wiley & Sons.

http://thesimpleacre.blogspot.com/2013/11/cara-kerja-

mesin-ball-mill-diulas.html

http://abenk-miner.blogspot.co.id/2011/08/kominusi.html

Lampiran