Anda di halaman 1dari 25

1

OSILASI HARMONIS

A. PENDAHULUAN
Dunia ini dipenuhi oleh benda-benda yang bergarak. Gerakannya dapat
dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu 1) benda yang begerak di sekitar satu
tempat dan 2) benda yang bergerak berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Benda
yang bergerak disekitar suatu tempat disebut dengan bergetar atau berosilasi. Contoh
dari osilasi adalah gerak osilasi pendulum, getaran dawai gitar, gerakan elektron pada
suatu atom. Contoh dari benda yang bergerak berpindah adalah gelombang laut menuju
pantai, penjalaran cahaya, dan gelombang yang merambat sepanjang tali.
Kita mulai dengan mempelajari gerak jenis pertama yaitu gerak osilasi. Pada
gerak osilasi materi dari sistem sederhana memiliki satu atau dua jenis bentuk dasar
gerak. Gerak osilasi secara umum merupakan gerakan objek disekitar titik
kesetimbangannya. Simpangan terbesar disekitar titik kesetimbangan yang mampu
dicapai objek disebut amplitudo. Perulangan gerakan osilasi ada yang teratur dan ada
yang tidak. Osilasi yang beraturan disebut dengan osilasi harmonis. Simpangan (

) pada gerakan osilasi hanya bergantung pada waktu, sebab gerakannya tidak
berpindah tempat. Sehingga fungsi dari simpangan hanya bergantung pada waktu, yang

(t ).
dapat diungkapkan dengan
Pada gerak jenis kedua kita akan menemukan bahwa gerak sistem lebih
kompleks dari yang pertama. Gerakannya merupakan campuran dari gerak-gerak
osilasi yang berpindah. Perpaduan gerak semacam ini disebut dengan gelombang.
Simpangan pada gelombang bergantung pada kedudukan atau posisi (

) dan

waktu (

). Dengan demikian fungsi simpangan pada gelombang dapat dituliskan

(r , t )
sebagai
Gerakan osilasi dapat terjadi pada 1, 2 dan 3 derajat kebebasan atau 1, 2 dan 3
dimensi. Contoh satu derajat kebebasan adalah osilasi pendulum, osilasi massa pegas,
dan rangkaian LC.
B. SISTEM OSILASI HARMONIS
Kita dapat mulai dengan osilasi benda-benda yang berada pada satu dimensi atau
satu derajat kebebasan. Contohnya sistem sederhana seperti osilasi pendulum, osilasi
massa pegas, dan rangkaian LC. Bentuk dari sistem osilasi satu derajat kebebasan dapat
dilihat pada Gambar 1.1 di bawah ini:

Gambar 1.1 Sistem dengan satu derajat kebebasan.


Untuk semua osilasi dengan satu derajat kebebasan, dapat dirumuskan:

(t ) Ao cos(t )
(1.1)

Ao
= simpangan,

konstanta fase.

= amplitudo,

= frekuensi sudut,

Sifat getaran atau osilasi diwakili oleh persamaan (1). Untuk massa yang

berosilasi

seperti

pada

sistem

masa

pegas

dan

pendulum,

dapat

melambangkan perpindahan massa benda dari posisi titik kesetimbangannya (


pada bandul = = simpangan bandul dari kedudukan setimbang). Untuk osilasi

rangkaian LC,

melambangkan arus induksi yang terjadi pada induktor.

Sedangkan merupakan konstanta fase/fase awal yang dilihat pada saat t = 0.


Bila konstatanta fase = 0 maka persamaan (1) dapat dirubah menjadi:
(t) = A cos (t)

(1.2)

Ataupun
(t) = A sin (t)

(1.3)

Penentuan cos atau sin tergantung pada posisi awal dari simpangan saat t = 0. Beberapa
besaran lain yang sering ditemukan dalam membahas osilasi adalah frekuensi (f), perioda
(T) dengan hubungan
T

1
f

(1.4)

Osilasi dipengaruhi oleh dua macam besaran yang selalu berlawanan yaitu gaya
pulih dan inersia. Gaya pulih mencoba untuk mengembabalikan ke posisi setimbang
atau nol. Sedangkan inersia melawan setiap perubahan gangguan tersebut terhadap
waktu (d

/dt) atau dikatakan sistem memberikan sebuah kecepatan yang cocok

(d/dt) untuk bagian yang berpindah. Untuk yang lebih besar, gaya pulihnya juga
lebih kuat.
Pada osilasi rangkaian LC, gaya pulih disebabkan oleh gaya tolak diantara
elektron, yang membuat elektron memilih untuk tidak berdesakan ke satu lempeng
kapasitor. Untuk osilasi pada rangkaian LC, inersia disebabkan oleh induktansi L, yang
menentang arus induksi pada induktor. Arus disebabkan oleh perubahan jumlah muatan

pada kapasitor yaitu dq/dt ( untuk kapasitor merupakan muatan kapasitor yang dapat
diganti dengan q).
1. Osilasi Pada Bandul
a. Persamaan OHS pada bandul

Gambar 1.2. Osilasi pada bandul


Kita mulai dengan ketentuan bahwa sebelah kanan titik setimbang A,
berharga positif dan sebelah kirinya negatif. Simpangan = (radian) dan perubahan
simpangan terhadap waktu merupakan kecepatan sudut

d / dt

(1.5)

sedangkan percepatan sudut diberikan oleh :

d / dt d 2 / dt 2

(1.6)

Hubungan kecepatan sudut dengan kecepatan tangensial atau kecepatan linier


adalah:

v/L

atau

v L

(1.7)

Hubungan percepatan sudut dengan percepatan tangansial atau percepatan linier


adalah:

a dv / dt L(d / dt )
a L( d 2 / dt 2 ) L
(1.8)
Selanjutnya kita masuk pada gerakan bandul. Bila bandul titarik dengan gaya
F kearah B sejauh , maka saat itu

d / dt

adalah nol. Karena bandul punya

massa m, maka gaya berat diberikan oleh:


w mg

(1.9)
Gaya pulih akan membawa bandul pada posisi setimbang di A. Gaya pulih Fp
besarnya sama dengan F namun arahnya berlawanan. Besar gaya pulih adalah:

F mg sin
p

(1.10)
Tanda negatif berarti gaya pulih berlawanan dengan perubahan . Menurut hukum
II Newton

F ma

mg sin

(1.11)

Sehingga

g sin

(1.12)

Saat ini gaya pulih menyebabkan adanya


kecepatan sudut (

d / dt

percepatan linier yang memberikan

) berharga negatif (arah ke kiri). Sesampai di A,

gaya pulih = 0, percepatan = 0, kecepatan sudut berharga maksimum (bertanda


negatif).
Kecepatan sudut yang maksimum akan menggerakkan bandul menuju posisi
C. Sesampai di C, kecepatan sudut = 0, namun percepatan berharga maksimum.
Dan gaya pulih Fp kembali maksimum. Selanjutnya gaya pulih membawa bandul
pada posisi setimbang namun inersia akan melawannya dengan menggerakkan
benda pada simpangan semula.

Bila dalam gerakan tidak terjadi gesekan maka gerakan bolak-balik yang
terjadi dari B-A-C-A-B akan mempunyai simpangan yang konstan dan memiliki
frekuensi gerak tertentu. Gerak yang demikian disebut gerak harmonik sederhana
atau osilasi harmonik sederhana (OHS).
Besar frekuensi osilasi bergantung pada panjang tali yaitu:

2f
(1.13)

2 2

g
L

g
L

(1.14)

Menurut hukum II Newton,


mg sin

ma

d 2
mL 2 mg sin
dt
d 2
g
sin 2 sin
2
L
dt
d 2
2 sin 0
2
dt

(1.15)

Persamaan ini dikenal dengan persamaan OHS.


Sehingga untuk mencari solusi dapat digunakan operator turunan yaitu:
D2

Untuk

d2
dt 2

maka

sin

, sehingga diperoleh:

D 2 2 0
( D 2 2 ) (t ) 0
(1.16)
solusi persamaan OHS ini secara umum sering ditulis:

(t ) o cos(t )
(1.17)

Dalam bentuk kompleks ditulis sebagai:

(t ) o ei (t )
(1.18)

b. Pertukaran Energi Pada Bandul

Gambar 1.3. Pertukaran energi pada bandul

Pada simpangan terbesar di B dan C, kecepatan

= 0. Bandul memiliki

energi potensial Ep maksimum yaitu:


E p mgh mg ( L L cos )

Untuk

<< berlaku ekspansi Taylor yaitu:

cos

1
2

=1-

sehingga:
E p mg

(1-

1
2

)]

Ep

Bila

L
2

mg

merupakan simpangan sesaat

(t )

(t) maka:

o cos t

Energi potensial menjadi:


E p

mgL
2

o (cos t ) 2
(1.19)

Pada posisi terendah di A, seluruh energi potensial berubah menjadi energi kinetik.

Karena di A, kecepatan
Ek

maksimum, maka Ek juga maksimum.

1 2
mv
2

v Ld / dt L o sin t
Ek 12 m(

L2

o 2 2 sin 2 t
)

2 g / L
Karena
Maka:
mg 2 2 2
L o sin t
2L

Ek
Ek

mgL 2
o
2

sin 2 t

(1.20)

Em Ek E p

Setiap saat berlaku energi total


Em Ek E p

. Contohnya pada posisi D.

mgL 2
o {
2

Em

Em

sin 2 t

cos 2 t

mgL 2
o
2

(1.21)

2. Osilasi Massa Pegas


a. Persamaan osilasi massa pegas

Gambar 1.4. Osilasi Massa Pegas

x1

Dari Gambar 1.4 terlihat bahwa posisi

merupakan keadaan setimbang.


xo

x (t )

Massa m berosilasi setiap saat sejauh

dengan amplitudo
F

untuk bergerak pegas ditarik dengan gaya

(arah kekanan) maka saat


F

dilepaskan pegas mengalami gaya pulih sebesar


posisi terjauh kecepatan

Pada posisi setimbang,

posisi
kanan).

. Pada posisi

(arah ke kiri). Saat

= 0.

berharga maksimum. Karena pada posisi

setimbang kecepatan maksimum, maka massa

x2

. Bila

x2

akan bergerak menuju

gaya pulih adalah

(arah ke

Menurut hukum Hook gaya pulih disebabkan oleh adanya gaya pegas yang
selalu melawan perubahan panjang pegas yang terjadi. Hukum Hook didefenisikan
sebagai:

F k ( x2 x1 ) kx

dapat dinyatakan dalam

(1.22)

x(t )

atau

Menurut hukum II Newton

F ma
ma kx
d 2 x (t )
m
kx(t )
dt 2
d 2 x (t )
k
x(t )
2
dt
m

Besaran

k /m

, sehingga:

d 2 x (t )
2 x(t )
2
dt
Atau
d 2 x(t )
2 x(t ) 0
dt 2

(1.23)

Dengan menggunakan operator turunan diperoleh:


( D 2 2 ) x(t ) 0
(1.24)
Solusinya adalah:
x(t ) xo cos(t )
(1.25)
Atau :
x(t ) xo ei (t )

(1.26)
Persamaan ini disebut persamaan osilasi pada pegas. Bila selama osilasi gesekan
udara diabaikan, maka akan terjadi osilasi harmonis sederhana (OHS).

b. Pertukaran energi pada osilasi massa pegas


Pada simpangan terjauh sistem massa pegas memiliki energi potensial
maksimum dan energi kinetik sama dengan nol. Hal ini disebabkan oleh karena
kecepatan = 0. Bila jauh perpindahan adalah y maka energi potensial pegas adalah:
1 2
kx
2

Ep

Energi potensial setiap saat menjadi:


1
k{xo2
2

Ep

Jika

k 2m

cos 2 (t )

maka:

1
E p 2m
2

xo2 cos 2 (t )

(1.27)

Jika posisi setimbang diambil sebagai titik acuan

x1

, maka energi potensial

akan nol pada posisi ini. Energi kinetik pada posisi setimbang berharga maksimum
sebab kecepatannya juga maksimum. Besar energi kinetiknya adalah:

Ek
Ek

1 2
mv
2

1
2

m(

dx(t ) 2
)
dt

1
Ek 2 mxo2 sin 2
2

(t )

Dengan demikian energi mekaniknya adalah:


Em E p E k

Em

sin 2 (t )

Besar energi mekanik setiap saat adalah :


Em E p E k

(1.28)

Em

1
m 2 xo2{sin 2 (t ) cos 2 (t )}
2

1
m 2 xo2
2

Em

2 k / m

Bila

Em

(1.29)

maka:

1 2
kxo
2

(1.30)

3. Osilasi Rangkaian LC
a. Persamaan osilasi rangkaian LC

Gamabar 1.5. Osilasi rangkaian LC


Sebuah rangkaian induktor dengan induktansi L dan sebuah kapasitor dengan
kapasitansi C seperti pada Gambar 1.5 merupakan rangkaian osilator harmonik.

Pada saat

t 0

qo
kapasitor terisi penuh oleh muatan

dan tersimpan

dalam bentuk energi listrik. Saat rangkaian tertutup, muatan dikapasitor mengalir
sepanjang sirkuit melalui induktor sehingga dalam induktor timbul arus induksi
melawan arus yang ditimbulkan oleh kapasitor. Proses ini merupakan proses
pengosongan kapasitor yaitu energi listrik pada kapasitor berubah menjadi energi
magnet dalam induktor. Setelah kapasitor kosong, energi magnet yang tersimpan
pada induktor mengalir pada kapasitor dengan arah yang berlawanan dengan arah
semula. Karena arah gerak pertukaran energinya selalu bolak-balik dan energi yang
mengalir bergantian adalah energi listrik dan energi magnet, maka disebut osilasi
elektromagnetik.

Pada rangkaian LC,baik kapasitor maupun induktor memikili potensial. Beda


potensial kapasitor adalah:
VC q / C
(1.31)
Beda potensial induktor adalah:

VL L(di / dt )

(1.32)

Karena pada pengosongan kapasitor arah arus berlawanan dengan arah gerak
electron maka:
di / dt d 2 q / dt 2

i dq / dt

sehingga

VL

Akibatnya

ditulis sebagai:

VL L( d 2 q / dt 2 )
Saat resonansi maka potensial kapasitor =potensial indktor yaitu:
VC VL
q / C L(di / dt )

L(di / dt ) q / C 0
d 2 q / dt 2

1
q0
LC

d 2 q / dt 2 2 q 0
(1.33)
Dengan menggunakan operator turunan diperoleh:
( D 2 2 ) q (t ) 0
Dengan solusi:
q (t ) qo cos(t )
(1.34)
Atau:
q (t ) qo ei ( wt )

(1.35)

Persamaan ini dapat dinyatakan dalam besaran arus yaitu dengan cara
menurunkan satu kali lagi terhadap t. Sehingga diperoleh:
L(di / dt ) q / C 0

d 2i / dt 2

1
LC

dq / dt 0
1
i0
LC

d i / dt
2

Karena

1 / LC

maka:

d 2i / dt 2 2i 0

1 / LC

disebut feekuensi natural resonansi LC. Dengan menggunakan

operator turunan diperoleh:


( D 2 2 )i 0
Setiap saat berlaku:
( D 2 2 )i (t ) 0
Solusi dari persamaan ini adalah:
i (t ) io cos t

Bila pada saat

t 0

sudah ada fase awal sebesar

maka:

i (t ) io cos(t )
(1.36)
Atau:
i (t ) io ei (t )

(1.37)
Persamaan ini disebut persamaan osilasi harmonis sederhana (OHS) untuk sistem
rangkaian LC.
c. Pertukaran energi pada rangkaian LC

qo
Muatan kapasitor pada keadaan awal adalah maksimum sebesar

Karena kapasitor memiliki muatan, maka dalam kapasitor tersimpan energi listrik.
Muatan kapasitor setiap saat dapat dinyatakan dalam:
q (t ) qo cos t
(1.38)
Besar arus yang mengalir dalam rangkaian setiap saat adalah:
i (t ) dq (t ) / dt qo sin t
(1.39)
Energi listrik dalam kapasitor yang mengalir pada rangkaian adalah:

UE

q2
qo2

cos 2 t
2C
2C

(1.40)

Energi listrik yang mengalir kedalam induktor akan disimpan pada induktor dalam
bentuk energi magnet yang besarnya adalah:
UM

1 2 L 2 2 2
Li qo sin t
2
2

(1.41)

Energi total yang ada pada sistem setiap saat adalah:

U tot U E U M
U tot

qo2
L
cos 2 t 2 qo2 sin 2 t
2C
2

Gunakan

1
LC

U tot
U tot

qo2

2C

, sehingga diperoleh:
1 2
L 1 2 2
qo cos 2 t
qo sin t
2C
2 LC

(1.42)

Kapasitor dan induktor bertukar energi setiap saat secara periodik dengan frekuensi

1
LC

. Karena energi yang bertukar secara periodik adalah energi listrik

dan energi magnet maka rangkaian LC merupakan salah satu sumber osilasi elektro
magnetik.
C. OSILASI TEREDAM
Pada pembahasan terdahulu, kita telah membicarakan OHS tanpa redaman.
Berikutnya akan dibahas tenang osilasi teredam. Sebagai contoh bila gaya gesekan
pada lantai dalam gerakan massa pegas tidak diabaikan, maka gaya gesekan akan
menyebabkan suatu saat osilasinya akan berhenti. Demikian juga osilasi bandul yang
dipengaruhi oleh gesekan udara selama bergerak juga akan teredam. Hal yang sama
juga terjadi bila rangkaian LC ditambah dengan R, osilasinya akan teredam oleh R.
Besarnya redaman yang terjadi sebanding dengan perubahan simpangan terhadap
d / dt

waktu atau kecepatan gerak oslasi (


dengan f konstanta redaman adalah

). Bila redaman dilambangkan

maka besarnya f dinyatakan secara umum

oleh:

f=

d
dt

(1.43)

1. Osilsi teredam pada sistem massa pegas


Sekarang mari kita bahas tentang osilasi teredam pada sistem massa pegas.
Dalam gerakan osilasi ini, gerakn benda mengalami faya gsekan dengan lantai sepeti
gambar berikut ini:

Gambar 1. 6. Osilasi teredam

Gaya-gaya yang mempengaruhi gerakan benda di atas adalah gaya sesaat F, gaya

F k ( x2 x1 ) kx

gesekan f dan gaya pulih

. Meurut hukum II Newton:

F ma

kx
b

Gunakan f
m

ma

f
dx
dt

x x

, dan

d 2x
dx
b kx 0
2
dt
dt

(1.44)

x x(t )

Dengan menggunakan

operator turunan

dan

diperoleh:

(mD2 bD k ) x 0

b b 2 4ac
2a

D12

(1.45)

akar akar persamaan ini adalah :

12

b
2m

2m

k
m

(1.46)
b
T
2m

Bila

(1.47)

k
m
dan

0 =

(1.48)

maka:

12 T
(1.49)
Solusinya adalah:

2
2
T 0

x(t ) C1e

( T

T 2 o2

)t

C2 e

( T T 2 o2

)t
(1.50)

Secara umum dapat ditulis:

(t ) C1e

( T

T 2 o2

)t

C2 e

( T T 2 o2

)t
(1.51)

a. Kasus redaman kecil


Untuk kasus redaman kecil dengan
T2 << 02

(1.52)

maka:

T 2 o2 2 i
(1.53)
Persamaan gerak menjadi:

(t ) C1e

Bila

C1 C2 A

( T i o )t

C2 e

( T i o

)t
(1.54)

maka secara umum dapat ditulis:

(t ) AeTt (eit e it )
(t ) AeTt cos(t )
(1.55)
Persamaan osilasi teredam ini memperlihatkan bentuk osilasi yang sama
dengan osilasi harmonik, tetapi diredam secara eksponensial.

Gambar 1.6. Osilasi dengan redaman kecil


b. Kasus redaman kuat
Untuk kasus redaman kuat dengan

T2 >> 02

(1.56)

maka:
2
2
T 0

T2 T

(t ) C1e

( T T )t

C2 e

( T T

(1.57)
)t

(t ) C1eo C2e 2Tt C1 C2e 2Tt

(1.58)

Dari persamaan ini terlihat bahwa pada redaman kuat tidak terjadi osilasi tapi
langsung teredam dengan kuat.
c. Kasus redaman kritis
Untuk kasus redaman kritis kita ambil

T 2 o

(1.59)
sehingga berlaku persamaan

T
2

2
0

(t ) e Tt (C1e o C2e o )
(t ) (C1 C2 )e Tt

(1.60)

Dari persamaan memperlihatkan bahwa tidak terjadi osilasi bahkan langsung


diredam dalam waktu yang singkat. Ilustrasi bentuk redaman kritis dan redaman
kuat dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 1.. Osilasi teredam kuat dan teredam kritis


2. Osolasi teredam pada rangkaian RLC
Berikutnya kita lihat osilasi teredam pada rangkaian RLC.

Gambar 1., Rangkaian RLC


VC
Jika pada rangkaian diketahui besarnya
VC VR VL
(1.61)
q
di
iR L
C
dt

i
Karena

dq
dt

q
dq
d 2q
RL 2
C
dt
dt

Maka

d 2q
dq q
R
0
2
dt
dt C
1
)q 0
C

( LD 2 RD

(1.62)

Dalam hal ini konstanta redaman adalah R. Untuk mencari penyelesaian persamaan
ini harus dicari harga akar-akarnya.

D12

R R 2 4L / C
2L

akar akar persamaan ini adalah :

12
(1.63)

R
2L

2L

1
LC

Bila

R
T
2L

1
LC
dan 0 =

12 T

, maka:
2
2
T 0

(1.64)
Solusinya adalah:
q (t ) C1e

( T

T 2 o2

)t

C2 e

( T T 2 o2

)t
(1.65)

Secara umum dapat ditulis:

(t ) C1e

( T

T 2 o2

)t

C2 e

( T T 2 o2

)t
(1.66)

D. Osilasi Teredam dengan Gaya Pemicu (Osilasi Harmonik teredam Terpaksa)


Perhatikanlah gambar berikut ini:

k
m
0 =

T=

b
2m

Gambar 1.7. Osilasi harmonik terpaksa


Dari gambar 1.7 di atas terlihat bahwa dalam gerakan osilasi diberikan gaya
pemicu untuk memaksa gerakan sebesar :
F (t ) Fo cos(t )
(1.67)
SehinggapPersamaan gerak osilasinya dapat dituliskan:

d 2
d
b
k
2
dt
dt

Fo cos(T )
(1.68)

Solusinya berbentuk:

(t ) p (t ) k (t )
................................(1.69)

p (t )
dimana:

merupakan solusi persamaan differensial homogen, dan

k (t )
merupakan solusi khusus.
untuk T2 << 02 :

solusi pelengkap p(t) homogen pada pers (4)


p(t) = A sin (t + )

solusi khusus:
k(t) = A cos (t + - )

(20)

cari persamaan amplitude A dan sudut fase !


untuk mencari kedua besaran ini, pers (20) disubstitusikan ke dalam pers (19), diperoleh:

[{(02-2)cos + 2T sin }-

F
m

] cos (t + )

+ A {(02-2)sin + 2T cos } sin (t + ) = 0 (21)


Dari pers. (21) dapat dituliskan persamaan:

A{(02-2)cos + 2T sin }-

F
m

= 0 (22)

dan
(02-2)sin + 2T cos = 0 ..(23)
Dari pers. (22) diperoleh:
F

m
2

2
( 02 2) (2T )

A=
Dari pers. (23) diperoleh:

...(24)

tan =

2T
2
2
0

(25)

Sistem osilasi harmonis teredam terpaksa adalah rangkaan RLC dengan menggunakan
generator:

teredam:
Vc = VR + VL
Vc VR VL = 0
Teredam terpaksa:
V(t) = Vc + VR + VL
1
LC
Frekuensi rangkaian disesuaikan dengan frekuensi natural : =
Generator dengan frekuensi menimbulkan arus pada rangkaian RLC. Walaupun
rangkaian ada R, tidak menyebabkan redaman pada arus yang mengalir sebab generator
selalu mengganti energi yang diserap R.
Arus dalam rangkaian akan selalu konstan dengan frekuensi sampai selesai.
Amplitudo arus adalah:

V0
1
)
R (L
C

I0 =

..(26)

Harga ini akan maksimal bila:

L =

1
C

1
LC
=

Jadi secara garis besar dapat dikatakan gaya yang bekerja pada suatu sistem mekanik atau
elektromagnetik adalah:
F

Fluar

Fredaman

2
d
d t2

Finternal

- generator
- pukulan terus

R: tahanan
f : gesekan

L: E.magnet
C : E.listrik

menerus

k: pegas Ep

= Fo cos (t + ) (19)
( Persamaan differensial non homogen)
Solusinya berbentuk:
(t) = p (t) + k (t)
dimana: p(t) solusi pelengkap (solusi persamaan differensial homogen)
k(t) solusi khusus
untuk T2 << 02 :

solusi pelengkap p(t) homogen pada pers (4)


p(t) = A sin (t + )

solusi khusus:
k(t) = A cos (t + - )

(20)

cari persamaan amplitude A dan sudut fase !


untuk mencari kedua besaran ini, pers (20) disubstitusikan ke dalam pers (19), diperoleh:

[{(02-2)cos + 2T sin }-

F
m

] cos (t + )

+ A {(02-2)sin + 2T cos } sin (t + ) = 0 (21)


Dari pers. (21) dapat dituliskan persamaan:

A{(02-2)cos + 2T sin }-

F
m

= 0 (22)

dan
(02-2)sin + 2T cos = 0 ..(23)
Dari pers. (22) diperoleh:
F

m
2

2
( 02 2) (2T )

A=

...(24)

Dari pers. (23) diperoleh:

tan =

2T
2
2
0

(25)