Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM PENETASAN

TELUR
Thomas Saputro 11/28/2014
A. Latar Belakang
Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan
global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga
mampu bersaing dengan produk dari produk-produk unggas luar negeri. Produk unggas, yakni
daging ayam dan telur, dapat menjadi lebih murah sehingga dapat menjangkau lebih luas
masyarakat di Indonesia. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan yang cukup
berat baik secara global maupun lokal karena dinamika lingkungan strategis di dalam negeri.
Tantangan global ini mencakup kesiapan daya saing produk perunggasan, utamanya bila
dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 60-70 % dari
biaya produksi karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor.
Telur merupakan makanan yang disediakan unggas untuk pertumbuhan embrionya, dari
embrio awal ssampai terbentuk anak ayam yang siap menetas. Pada perkembangan akhir isi telur
akan semakin habis, yang tersisa hanya sedikit kuning telur yang akan dimanfaatkan oleh anak
ayam selama sekitar 2 hari. Itulah sebabnya telur pada mamalia berbeda dengan telur pada
unggas.
Menetaskan telur ayam berarti mengeramkan telur agar menetas dengan tanda kerabang
telur terbuka atau pecah sehingga anak ayam dapat keluar dan dapat hidup. Penetasan telur dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu penetasan telur pada induk dan mempergunakan mesin penetas
atau incubator. Oleh karena itu, penetasan telur bertujuan untuk mendorong industri perunggasan
dalan penyediaan bibit unggul dalam jumlah besar.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persiapan Penetasan
Mesin tetas merupakan mesin penetasan yang mempunyai prinsip kerja seperti pada induk
ayam pada saat mengerami telur. Mesin tetas diusahakan memenuhi berbagai syarat yang sesuai
untuk perkembangan struktural dan fisiologi dari embrio anak ayam. Dalam pembuatan alat tetas
perlu dipertimbangkan beberapa solusi dalam pengaturan parameter biologi yang meliputi
temperatur, kelembaban udara dan sirkulasi udara. Pada alat penetasan semua faktor-faktor
tersebut dapat diatur dengan baik sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan sesuai dengan
kondisi proses biologi penetasan (Nesheim et al., 1979).
Sebelum digunakan peralatan penetasan disucihamakan dahulu. Semua alat dicuci bersih
dan disemprot dengan obat pembasmi hama. Juga bisa digunakan alkohol 70% untuk bahan

penyemprot. Selanjutnya alat dikeringkan dan dimasukkan dalam ruang penetasan (Chan dan
Zamrowi, 19943).
Alat pemanas dihidupkan dan diatur jarak penyetekan antara temperatur 99-102 oF dengan
cara mengatur jarak dengan memutar gagang pelatuk pada switch diantara regulator dengan
switch. Setelah temperatur yang diinginkan tercapai (temperatur konstan), dibiarkan sampai satu
jam sambil dikontrol (Soedjarwo, 1999). Begitu juga untuk kelembaban udara. Bak air diisi
dengan air jangan sampai penuh dan dimasukkan ke dalam alat penetas. Diatur kelembabannya
antara 55-60%. Pengaturan dilakukan dengan menambah atau mengurangi air dalam bak. Untuk
lebih mudahnya biasanya bak diisi air 2/3 bagian dan dibiarkan sampai kelembaban konstan
(Nuryati et al., 1998).
Telur biasanya tidak bisa langsung dapat dimasukkan ke dalam alat penetasan, mengingat
ada periode tertentu untuk persiapan penetasan telur. Untuk itu diperlukan waktu penyimpanan
sebelum penetasan. Masa penyimpanan sebaiknya tidak lebih dari 7 hari, karena penyimpanan
yang melebihi waktu tersebut akan menurunkan prosentase penetasan telur tetas (Nesheim et al.,
1979).
Kelembaban udara sangat penting mengingat untuk mempertahankan laju penguapan air di
dalam telur. Akibat penguapan udara ini akan membesar kantung udara. Kelembaban udara dapat
dilihat pada higrometer dan mengaturnya dengan cara menambah atau mengurangi air di dalam
bak air. Pada kerabang telur terdapat ribuan pori-pori mikro untuk pertukaran gas. Oleh karena
itu untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu diatur kelembaban pada
65-70%. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih dari 70% (Shanawany, 1994).
B. Telur
Telur merupakan salah satu produk pangan hewani yang lengkap kandungan gizinya.
Selain itu telur merupakan bahan makanan yang mudah dicerna. Sebutir telur terdiri dari 11 %
kulit telur, 58% putih telur dan 31% kuning telur (Sudaryani, 2003). Telur mempunyai
kandungan air, protein, lemak, karbohidrat dan abu berturut-turut sebesar 66,5; 12,01; 10,5; 0,9;
dan 10,9% (Hardini, 2000).
Telur tetas merupakan telur yang didapatkan dari induknya yang dipelihara bersama
pejantan dengan perbandingan tertentu. Telur tetas mempunyai struktur tertentu dan dan masingmasing berperan penting untuk perkembangan embrio sehingga menetas. Agar dapat menetas
telur sangat tergantung pada keadaan telur tetas dan penanganannya (Nuryati, et al., 1998).
Telur unggas secara umum mempunyai struktur yang sama. Terdiri dari enam bagian yang
penting untuk diketahui, yaitu kerabang telur (egg shell), selaput kerabang telur (membrane
shell), putih telur (albumen), kuning telur (yolk), tali kuning telur (chalaza) dan sel benih
(germinal disk) (Nesheim et al., 1979).
Telur tetas yang normal berbentuk bulat telur atau oval. Telur dengan bentuk bulat atau
tgerlalu lonjong merupakan telur abnormal sehingga mempengaruhi posisi embrio menjadi

abnormal yang mengakibatkan telur banyak yang tidak menetas (Nuryati, et al., 1998). Letak
rongga udara harus normal yaitu pada bagian yang tumpul dan simetris berada di tengah-tengah
(Chan dan Zamrowi, 1993).
C. Proses penetasan
Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai telur pecah
menghasilkan anak ayam. Penetasan dapat dilakukan secara alami oleh induk ayam atau secara
buatan (artifisial) menggunakan mesin tetas. Telur yang digunakan adalah telur tetas, yang
merupakan telur fertil atau telur yang telah dibuahi oleh sperma, dihasilkan dari peternakan ayam
pembibit, bukan dari peternakan ayam petelur komersil (Suprijatna et al., 2005).
Pada prinsipnya penetasan telur dengan mesin tetas adalah mengkondisikan telur sama
seperti telur yang dierami oleh induknya. Baik itu suhu, kelembaban dan juga posisi telur. Dalam
proses penetasan dengan menggunakan mesin tetas memiliki kelebihan di banding dengan
penetasan secara alami, yaitu : dapat dilakukan sewaktu-waktu, dapat dilakukan dengan jumlah
telur yang banyak, menghasilkan anak dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan, dapat
dilakukan pengawasan dan seleksi pada telur (Yuwanta, 1983).
Penetas ( pemanas dari listrik ) yang menggunakan tenaga listrik dilengkapi dengan lampu
pijar dan seperangkat alat yang disebut termostat (termoregulator). Alat ini dapat mengatur suhu
di dalam ruangan penetasan secara otomatis. Jika panasnya melebihi batas yang kita tentukan,
maka termoregulator akan bekerja memutus arus listrik, akibatnya lampu pijar menjadi mati.
Demikian suhu udara di dalam mesin tetas tetap stabil. Apabila dengan waktu tertentu ruangan
atau kotak itu suhunya rendah, maka termostat bekerja kembali untuk menyambung arus dan
lampu pijar menyala pula ( Marhiyanto, 2000 ).
Menurut Shanawany (1994), untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan
perlu diatur kelembaban pada 65 70 %. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih
dari 70 %. Cara lain dengan melihat pada kaca ventilasi masin tetas. Bila pada kaca terdapat
butir-butir air berarti kelembaban terlalu tinggi. Dalam kondisi tersebut, kaca segera dilap sampai
kering, ventilasi dibuka dan bak air dikeluarkan.
D. Tahap Akhir Penetasan
Tahap akhir dari penetasan adalah evaluasi penetasan. Hal-hal yang dievaluasi meliputi
fertilitas, mortalitas dan daya tetas. Menurut Tri-Yuwanta (1983), fertilitas adalah perbandingan
antara telur fertil dengan telur yang ditetaskan dan dinyatakan dalam persen. Mortalitas adalah
jumlah embrio yang mati selama proses penetasan dan dinyatakan dalam persen. Daya tetas
adalah jumlah telur yang menetas dari sekelompok telur fertil yang dinyatakan dalam persen.
Daya tetas menurut Shanaway (1994), dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
1.

Berat telur
Berat telur yang terlalu besar atau terlalu kecil menyebabkan menurunya daya tetas. Berat telur
yang ditetaskan harus seragam dengan bangsa dan tipenya.

2.

Penyimpanan telur
Penyimpan paling lama 1 minggu. Penyimpanan diatas 4 hari menyebabkan Daya tetas menurun
sebesar 25 % setiap hari. Untuk telur baru, penyimpanan pada temperatur 21-23 0C menyebabkan
physiological zero, artinya embrio dalam kondisi tidak mengalami pertumbuhan. Temperatur
optimum, untuk penyimpanan telur adalah sebesar 16-18 0C dengan RH 75-80%.

3.

Tempeteratur
Temperatur optimuim pada permukaan atas telur 39-39,5 0C.

4.

Kelembaban
Kelembaban yang trepat membantu agar pertumbuhan embrio sempurna dan normal.
Kelembaban yang optimal adalah sebesaqr 65-70%.

5.

Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk distribusi panas dan kelembaban mengeluarkan CO 2 dan suplai O2.
kelembaban minimal sebesar 18%.

6.

Posisi dan Pemutaran telur


Berfungsi untuk meratakan panas serta menjaga agar embrio tidak menempel pada kerabang
telur. Setiap pemutaran germinal disc akan bersentuhan dengan nutrien yang segar. Tanpa
pemutaran kekurangan nutien dan oksigen.

7.

Nutrisi induk
Defisiensi pada induk dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan menyebabkan
kematian embrio.

8.

Kesehatan Induk
Apabila induk tidak sehat maka dapat mengganggu transfer nutrien ke dalam telur, sehingga
embrio kekurangan nutrien. Akibat selanjutnya dapat menurunkan daya tetas.

9.

Infeksi bakteri/ virus


Infeksi bakteri/virus pada telur dapat menyebabkan kematian embrio.
E. DOC (Day Old Chick)
DOC(day old chick), anak yam umur 1 hari sangat menentukan keberhasilan usaha ternak
ayam. Kondisi DOC yang baik merupakan modal awal yang sangat penting. DOC yang baik
ditandai dengan kriteria sebagai berikut:
1. Berat badn memenuhi berat ideal, yaitu 35 g atau sesuai berat badan standar, yaitu tidak
kurang dari 32 g. Berat badan DOC berkorelasi positif terhadap laju pertumbuhan ayam.
2. Berperilaku gesit, lincah, dan aktif mencari makan. Jika dipegang akan bereaksi, kotoran
tidak lengket di dubur.
3. Posisi dalam kelompok selalu tersebar.
4. Rongga perut elastis, pusar kering tertutup bulu kapas yang halus, lembut dan mengkilap.

5. Mata bulat dan cerah (Setiawan, 2010).


Pada 24 jam pertama setelah menetas maka anak ayam masih dibiarkan di dalam alat
penetasan dan tidak diberi makan. Hal ini disebabkan di dalam tubuh DOC masih ada persediaan
makanan pada yolk. Biarkan cangkang pada tempatnya, karena berguna untuk melatih anak
ayam mematuk dan menimbulkan rangsangan makan, karena terdapat sisa-sisa makanan dalam
cangkang tersebut (Chan dan Zamrowi, 1993).
Setelah semua telur menetas dan berada 24 jam dalam mesin tetas maka anak ayam
diambil dan dilakukan seleksi anak ayam. Selain itu dilakukan aktivitas lain seperti penmotongan
paruh, vaksinasi marek untuk ayam layer, packing (pengemasan DOC) ke dalam box, dan
penyimpanan sementara sampai anak ayam dikirim ke peternakan (Sudaryani dan Santosa,
2000).
MATERI METODE
Praktikum Teknologi Penetasan Unggas ini dilaksanakan pada tanggal 25 April 2011
sampai tanggal 20 Mei 2011 berlokasi di Laboratorium Ilmu Pengolahan Hasil Ternak, Jurusan
Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
A. Materi
1. Alat
a.

Mesin tetas tipe semi otomatis

b. Semprotan (sprayer)
c.

Desinfektan / antiseptik

2. Bahan
a.

Telur tetas (berasal dari daerah Sukoharjo)

B. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum adalah :
1. Seleksi Telur
a.

Memilih telur yang bersih kemudian membersihkan dengan akolhol.

b. Memberi nomor dan kode pada telur pada dua sisi.


c.

Menimbang telur dan mencatat sesuai dengan nomor.

d. Mengukur panjang dan lebar telur untuk menghitung indeks telur.


e.

Menempatkan telur dengan posisi bagian tumpul di atas pad rak telur.

2. Proses Penetasan
a.

Mengatur suhu dan kelembaban dalam mesin tetas.

b. Memasukkan telur yang sudah dibersihkan apabila suhu sudah stabil.


c.

Memakai antiseptik sebelum memutar telur.

d. Memutar telur setiap hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Persiapan Penetasan
Tabel 1. Pengamatan Telur Tetas
No
Kualitatif

Kuantitati
f
Telur
Kondisi
Kebersihan
Bentuk
Warna
Berat (gram)
Panjang (mm)
Lebar (mm)
Indeks (%)
1

Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
40
4,92
3,82
77,64
2
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
46
5,19
4,05
78,03
3
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Krem
45
5,22
4,96
95,02
4
Utuh
Bersih
Bulat telur
Krem
41
4,80
3,87
80,63
5
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
40

4,93
3,79
76,88
6
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
43
5,10
3,90
76,47
7
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
43
5,19
3,78
72,83
8
Utuh
Kotor
Bulat telur
Putih
38
4,80
3,79
78,96
9
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
41
5,15
3,82
74,17
10
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
35
4,76
3,69
77,52
11
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
48
5,28
4,04
76,52

12
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Krem
45
5,20
3,95
75,96
13
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
42
5,15
3,88
75,34
14
Utuh
Kotor
Bulat telur
Putih
39
5,04
3,79
75,20
15
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
37
4,77
3,77
79,04
16
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Krem
36
4,19
3,74
89,26
17
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
44
5,20
3,90
92,86
18
Utuh
Agak kotor

Bulat telur
Krem
37
4,82
3,79
78,63
19
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
44
5,13
3,95
77,00
20
Utuh
Bersih
Bulat telur
Krem
44
5,09
3,93
77,21
21
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
35
4,69
3,76
78,25
22
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
39
4,94
3,81
77,13
23
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
48
5,36
4,03
75,19
24
Utuh
Agak kotor
Bulat telur
Putih
40

5,01
3,81
76,05
25
Utuh
Bersih
Bulat telur
Putih
50
5,41
4,10
75,79
Sumber : Laporan Sementara
Telur yang digunakan dalam praktikum Teknologi Penetasan Unggas ini sebanyak 25 butir.
Telur tersebut berasal dari Sukoharjo dengan strain untuk jantan yaitu ayam Haylen dan betina
ayam Kate. Perbandingan rasio antara jantan dan betina adalah 1 : 4. tanggal bertelur dari telur
tetas ini yaitu pada tanggal 27 April 2011. Nama pemilik dari telur tetas yang digunakan dalam
praktikum ini adalah Bp. Putut.

Berdasarkan hasil pengamatan dari 25 telur tetas tersebut terdapat sebagian telur yang tidak
semuanya bersih. Telur yang kotor dan agak kotor dibersihkan dengan alkohol 70%, caranya
yaitu mengusap menggunakan tisu pada permukaan telur dengan searah. Bentuk dari telur tetas
semuanya normal atau bulat telur, tidak ditemukan telur dalam keadaan abnormal. Warna dari
telur tetas ini adalah putih dan krem. Dari pengamatan diatas juga diperoleh panjang dan lebar
telur yang nantinya dapat digunakan untuk menghitung dan mengetahui indeks telur.
B. Proses Penetasan
Tabel Data Candling I
No. Telur
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Hasil Pengamatan
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah

21
22
23
24
25
Sumber : Laporan Sementara

Ada pembuluh darah


Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah
Ada pembuluh darah

Tabel Data Candling II


No. Telur
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Sumber : Laporan Sementara

Hasil Pengamatan
Agak terang
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap sebagian
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap

Tabel Data Candling III


No. Telur
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Hasil Pengamatan
Agak terang
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap

20
21
22
23
24
25
Sumber : Laporan Sementara

Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap
Gelap

Tabel 6. Pengaturan ventilasi alat tetas


Hari kePengaturan Ventilasi
-3
Tertutup seluruhnya
4
Terbuka bagian
5
Terbuka bagian
6
Terbuka bagian
7-21
Terbuka seluruhnya
Sumber : Laporan Sementara
Pemutaran telur bertujuan untuk meratakan panas yang diterima telur dan menghindari
embrio lengket pada sisi kerabang. Pada penetasan alami, tiap 15-20 menit induk melakukan
pemutaran telur sehingga dalam sehari dilakukan 72-96 kali pemutaran. Pada penetasan buatan,
pemutaran secara manual dilakukan sebanyak 3-9 kali (ganjil), sedangkan bila pemutaran secara
otomatis dapat tiap satu jam sekali.
Peneropongan telur dilakukan tiap tiga kali selama proses penetasan telur, yaitu hari ke-7,
14 dan 18 dengan menggunakan alat peneropong telur (candling lamp). Peneropongan telur
bertujuan untuk mengetahui telur kosong atau infertil, telur hidup yang ditandai dengan adanya
tunas dengan cabang-cabang urat darah dan telur mati yang ditandai dengan titik atau lingkaran
berwarna kehitaman.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, pemutaran telur dilaksanakan 5 kali sehari
yaitu pada pukul 07.00, 09.00, 11.00, 13.00, 15.00 WIB. Cara pemutaran telur yaitu dengan
memutar dari bagian kiri atau kanan sesuai tanda yang sudah dibuat, telur diputar dengan posisi
bagian tumpul berada di atas. Seedangakan untuk candling atau pemutaran telur dilakukan 3 kali
selama proses penetasan, hasil dari peneropongan telur dicacat. Candling pertama dilakukan
pada tanggal 6 Mei 2011 dengan hasil semua telur terdapat pembuluh darah. Candling kedua
dilakukan pada tanggal 13 Mei 2011 dengan hasil telur nomor 1 agak terang, telur nomor 7
dipecah sebagai contoh untuk mengetahui perkembangan embrio, telur nomor 17 gelap sebagian
dan sisanya gelap. Candling ketiga dilakukan pada tanggal 17 Mei 2011 dengan hasil sama
dengan candling kedua, kecuali telur nomor 17 menjadi gelap.
C. Tahap Akhir Penetasan
Tabel 7. Data Perlakuan terhadap DOC
Nomor telur tetas

Keterangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Mati
Menetas
Menetas
Mati
Mati
Menetas
Mati
Menetas
Menetas
Menetas
Menetas
Mati
Menetas
Menetas
Menetas
Menetas
Menetas
Mati
Mati
Menetas
Mati
Menetas
Menetas
Mati
Mati

Sumber : Laporan Sementara


Penetasan telur yang dilakukan pada telur ayam dalam praktikum ini adalah sebanyak 25
butir. Telur yang ditetaskan di dalam mesin tetas selama penetasan ada yang nenetas 15 butir dan
yang tidak menetas 10 butir. 5 dari DOC yang ditetaskan mengalami kematian, hal tersebut
dikarenakan kelembaban mesin tetas kurang jadi anak ayam kering di dalam cangkang saat akan
mencoba keluar. Walaupun dibantu praktikan, anak ayam tetap tidak bisa keluar karena lengket
dengan cangkang. Sedangkan 10 DOC yang hidup kondisinya lemas karena kedinginan, tetapi
DOC tetap dapat bertahan dan tumbuh normal.
Kegagalan dapat terjadi dalam proses penetasan dengan mesin tetas. Menurut Sudrajat
(2001) bahwa kegagalan menetas pada telur-telur tetas disebabkan oleh kualitas telur juga
disebabkan oleh kualitas faktor mesin tetas itu sendiri, antara lain (1) Suhu mesin tetas tidak
stabil, misalnya listrik mati atau suhu mesin tetas sering naik turun (2) Udara dalam mesin tetas
terlalu kering (3) Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dan (4) Kurang tepatnya dalam
membalik telur dalam mesin tetas sehingga embryo dalam telur mati.
Tahap akhir dalam proses penetasan yakni segera setelah DOC dikeluarkan maka segera
dilakukan sanitasi pada mesin tetas. Cara-cara sanitasi alat tetas yang selesai digunakan
antaralain : (1) Membuang dan membersihkan kulit telur yang menetas dan telur yang tidak
menetas dari rak telu, (2) Membersihkan bak air, (3) Mengeluarkan termometer dari mesin tetas
dan membersihkannya, (4) Membersihkan seluruh kotoran yang ada didalam kotak penetasan
telur.
D. Evaluasi Penetasan

Dalam suatu usaha penetasan, masalah masalah yang selalu harus dijaga adalah mencegah
atau menekan kegagalan penetasan sekecil mungkin. Besar atau kecilnya jumlah yang menetas
menentukan kelangsungan usaha penetasan itu atau menentukan usaha pemeliharaan selanjutnya.
Hal yang perlu diperhatikan adalah sulitnya untuk mengetahui apakah usaha penetasan itu akan
berhasil atau tidak. Sebab, walaupun seorang pelaksana penetasan yang telah bekerja baik,
semua syarat diperhatikan dengan baik, seperti alat tetas, ruang penetasan dan lain-lain, masih
saja ada telur yang tidak menetas atau anak-anak ayam yang menetas dalam wujud yang tidak
normal (Rasyaf, 1990).
Pada candling/peneropongan I dilakukan pada hari ke-7 setelah telur dimasukkan mesin
tetas. Berdasarkan candling I diperoleh data bahwa fertilitas telur tetas sebesar 92 %. Dari 25
butir telur yang ditetaskan terdapat 2 butir yang infertil. Tanda-tanda telur hidup yang ditandai
dengan adanya tunas dengan cabang cabang urat darah dan telur mati yang ditandai dengan
titik atau lingkaran berwarna hitam.
Pada candling II angka fertilitas telur tetas sebesar 92 %, karena pada candling II ini dari
telur ayam yang masih ada terlihat adanya urat-urat darah pada semua telur. Mortalitas pada
candling II ini adalah 8 %, karena semua telur fertil terdapat embrio yang hidup. Candling II ini
dilakukan pada hari ke-14 setelah telur dimasukkan mesin tetas.
Candling III dilakukan pada hari ke- 21 dan didapatkan angka mortalitas sebesar 8 % dan
fertilitas 92 %. Dari telur yang masih ada yaitu: 23 butir telur ayam, tidak terdapat telur yang
fertil.
Menurut Rasyaf (2002), telur yang tidak menetas menjadi lebih banyak bila menggunakan
mesin tetas dibandingkan dengan pengeraman dengan induk ayam. Kesalahan temperatur,
kelembaban mesin tetas atau terlalu banyak menggunakan obat pembunuh kuman dapat
menyebabkan banyak telur yang tidak menetas.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan yaitu mortalitas dari candling I sampai candling
III tidak mengalami penurunan. Daya tetas telur merupakan indikator banyaknya anak ayam
yang menetas dari sejumlah telur yang bertunas. Dari hasil perhitungan diperoleh daya tetas
sebesar 65,2 % dan kualitas tetas sebesar 60 %. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas
telur menurut Rukmana (2003) adalah sebagai berikut:
1. Kesalahan-kesalahan teknis pada waktu memilih telur tetas.
2.

Kesalahan-kesalahan teknis dari petugas yang menjalankan mesin tetas atau kerusakan teknis
pada mesin tetas.

3.

Iklim yang terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga mengakibatkan menurunnya daya tetas
telur.

4. Faktor yang terletak pada ayam sebagai sumber bibit, antara lain sebagai berikut:
a.

Sifat Turun Temurun: Telur tetas yang berasal dari babon dengan daya produksi tinggi bukan
saja fertilitasnya yang tinggi, tetapi juga daya tetasnya tinggi.

b.

Perkawinan: Perkawinan antara keluarga dekat (tanpa seleksi) kadang-kadang menghasilkan


telur-telur yang daya bertetas rendah

c.

Makanan: Defisiensi vitamin (A,B2, B12,D,E dan asam pantothenat dapat menyebabkan daya
tetas telur berkurang).

d.

Perkandangan : Temperatur dalam kandang yang terlalu dingin atau terlalu panas akan
menurunkan daya tetas telur
Telur yang mempunyai fertilitas tinggi pada umunya mempunyai daya tetas yang tinggi
pula. Namun, untuk menghasilkan telur yang daya tetasnya tinggi, perlu memperhatikan
beberapa syarat berikut ini :

1. Telur tidak terlalu besar, tetapi tidak terlalu kecil.


2.

Umur telur tetas antara 1-6 hari. Umur telur yang melewati hari tersebut cenderung daya
tetasnya menurun.

3. Telur berasal dari induk dan pejantan yang sehat


4. Telur dalam keadaan bersih
5. Kulit telur rata.
6. Telur tidak cacat atau rusak.
7. Telur berbentuk oval atau bulat telur.
(Jayasamudera, 2005).
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Persiapan yang dilakukan untuk penetasan telur yaitu pemilihan telur dengan warna yang
seragam, tidak retak, tidak kotor, tekstur halus dan berbentuk bulat atau oval.
2. Pengaturan ventilasi selama penetasan

Hari ke-4 ventilasi dibuka bagian.

Hari ke-5 ventilasi dibuka bagian.

Hari ke-6 ventilasi dibuka bagian.

Hari ke-7 sampai menetas dibuka seluruhnya.


3. Pemutaran telur dimulai pada hari keempat, dan selama penetasan dilakukan pemutaran
sebanyak 5 kali sehari.
4. Peneropongan telur bertujuan untuk mengetahui telur kosong/ infertil, telur hidup yang
ditandai dengan adanya tunas dengan cabang-cabang urat darah dan telur mati yang
ditandai dengan titik/ atau lingkar berwarna kehitaman.

5. Peneropongan (candling) dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada hari ke-7, hari ke-14,
dan hari ke-21.
6. Penanganan alat penetasan yaitu dibersihkan dengan air dan disemprot dengan
disinfektan serta sisa cangkang dikeluarkan dan dibersihkan.
7.

Dari hasil prakikum diperoleh 15 telur yang menetas dan 10 telur menetas. DOC yang mati
sebanyak 3 ekor dan DOC yang bertahan hidup 10 ekor.

B. Saran
1. Pengumuman tentang praktikum sebaiknya diperjelas agar tidak terjadi miss komunikasi
antara assisten dan praktikan.
2. Jadwal pengumpulan laporan jangan terlalu mepet karena banyak bab yang harus
dibahas.

DAFTAR PUSTAKA
Chan, H. dan M. Zamrowi. 1993. Pemeliharaan dan Cara Pembibitan Ayam Petelur. Penerbit Andes
Utama. Jakarta.
Hardini, S. Y. P. K. 2000. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Telur Konsumsi dan Telur Biologis
terhadap Kualitas Interior Telur Ayam Kampung. Laporan Hasil Penelitian.
Jayasamudera, Dede Juanda dan Cahyono Bambang. 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nesheim, M. C., R. E. Austic dan L. E. Card. 1979. Poultry Production. Lea and Febiger, Philadelphia.
Nuryati, T. N., Sutarto, M. Khamin dan P. S. Hardjosworo. 1998. Sukses Menetaskan Telur. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
________., 2002. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana Rahmat. 2003. Ayam Buras: Intensifikasi dan Kiat Pengembangan. Kainisius. Jakarta.
Setiawan, Iwan. 2010. Tipe DOC (Day Old Chick). http://centralunggas.blogspot.com/2010/01/tipe-docday-old-chick.html. Di download pada tanggal 12 Juni 2011.
Shanawany. 1994. Quail Production Systems. FAO of The United Nations. Rome.
Soedjarwo, E. 1999. Membuat Mesin Tetas Sederhana. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudaryani, T. dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudrajad. 2001. Beternak Ayam Vietnam untuk Aduan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suprijatna, E., Umiyati, a., dan Ruhyat, K., 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tri-Yuwanta. 1983. Beberapa Metode Praktis Penetasan Telur. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Marhiyanto, B. 2000. Suksses Beternak Ayam Arab. Difa Publiser. Jakarta.

Laporan Penetasan Pada Telur


PENDAHULUAN
Latar belakang
Kebutuhan masyarakat terhadap daging unggas terutama ayam sangat tinggi seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Sementara ketersediaan populasi ayam

(chicken population stock) sangat berkurang. Berkurangnya populasi ayam tersebut disebabkan
karena a). penyakit, dimana baru-baru ini unggas diserang oleh penyakit yang sangat ditakuti
oleh manusia yaitu flu burung. Flu burung ini ditakuti karena bisa menular ke manusia dan
bersifat mematikan. Sementara vaksinnya belum bisa ditemukan. b). kurangnya minat
masyarakat dalam pembudidayaan unggas atau ayam, karena perkembangan teknologi yang
semakin canggih, menyebabkan manusia menjadi gengsi dan manja untuk melakukan suatu
usaha terutama pada pembudidayaan unggas terutama ayam.
Sehingga melihat permasalahan tersebut maka ditemukanlah suatu cara untuk meningkatkan
populasi ayam yaitu dengan cara menetaskan telur. Penetasan telur ini merupakan suatu uapay
untuk menyelsaikan permasalahan kebutuhan unggas dimasyarakat baik kebutuhan untuk
dikonsumsi maupun kebutuhan untuk dibudidayakan.
Penetasan telur ini menggunakan mesin tetas, dimana fungsinya menggantikan induk asli dari
unggas tersebut. Sementara system kerja mesin tetas sama seperti system kerja induk, suhu dan
kelembaban bisa diatur oleh orang yang menetaskan. Namun kelebihan dari mesin tetas ini
adalah mampu menampung telur yang akan ditetaskan dalam jumlah yang banyak, dari 100 butir
sampai ribuan butir lebih.
Akantetapi menetaskan telur menggunakan mesin tetas masih belum terlalu banyak diterapkan
dimasyarakat, Karena mereka belum memahami teknis penggunaan dari mesin tetas tersebut.
Sehingga perlu pengkajian tentang bagaimana cara menggunakan mesin tetas yang baik serta
bagaimana cara menetaskan telur.
Mahasiswa terutama mahasiswa fakultas peternakan harus melakukan pengkajian terhadap
permasalahan yang ada, perlu percobaan penetasan telur. Oleh karena itu mahasisw melakukan
praktikum penetasan telur pada mata kuliah teknologi penetasan telur.
Tujuan dan kegunaan
Tujuan
a. Untuk mencoba menetaskan telur
b. Untuk mengetahui permasalahan pada saat penetasan, baik kendala mesin tetas maupun
kendala pada telurnya yang tidak bisa menetas.
c. Untuk mengetahui waktu pemutaran telur
d. Untuk mengetahi jenis mesin tetas
Kegunaan
a. Praktikum ini berguna sebagai nilai tambahan mahasiswa pada mata kuliah teknologi
penetasan telur
b. Setelah melakukan praktikukm ini, diharapkan mahasiswa mampu untuk menetaskan telur
menggunakan mesin tetas secara mandiri
c. Mahasiswa bisa mengetahui permasalahan yang ada pada penetasan telur
d. Mahasiswa bisa menjadi terampil untuk menetaskan telaur
TINJAUAN PUSTAKA
Telur merupakan kumpulan makanan yang disediakan induk unggas untuk perkembangan embrio
menjadi anak ayam didalam suatu wadah. Isi dari telur akan semakin habis begitu telur telah

menetas. Telur tersusun oleh tiga bagian utama : kulit telur, bagian cairan bening, dan bagian
cairan yang berwarna kuning (Rasyaf, 1990).
Menurut Suprapti (2002), telur merupakan salah satu produk peternakan
unggas yang memiliki kandungan gizi lengkap dan mudah dicerna. Telur merupakan salah satu
sumber protein hewani disamping daging, ikan dan susu. Secara umum terdiri atas tiga
komponen pokok, yaitu kulit telur atau cangkang (11 % dari bobot tubuh), putih telur (57 % dari
bobot tubuh) dan kuning telur (32 % dari bobot tubuh).
Tepung telur pada dasarnya masih merupakan telur mentah juga, namun
sudah dikeringkan sebagian besar kandungan airnya, hingga hanya tersisa kurang
lebih 10 % saja. Bahan yang diperlukan dalam pembuatan tepung telur ini adalah
telur-telur yang mengalami retak atau pecah telur, serta telur-telur yang telah
mendekati batas akhir umur penyegarannya (Suprapti, 2002).
Telur merupakan kumpulan makanan yang disediakan induk unggas untuk
perkembangan embrio menjadi anak ayam didalam suatu wadah. Isi dari telur akan semakin
habis begitu telur telah menetas. Telur tersusun oleh tiga bagian utama : kulit telur, bagian cairan
bening, dan bagian cairan yang berwarna kuning (Rasyaf, 1990).
Menurut Suprapti (2002), telur merupakan salah satu produk peternakan
unggas yang memiliki kandungan gizi lengkap dan mudah dicerna. Telur merupakan salah satu
sumber protein hewani disamping daging, ikan dan susu. Secara umum terdiri atas tiga
komponen pokok, yaitu kulit telur atau cangkang (11 % dari bobot tubuh), putih telur (57 % dari
bobot tubuh) dan kuning telur (32 % dari bobot tubuh). Ciri-ciri telur yang baik antara lain :
kerabang bersih, halus, rongga udara kecil, kuning telurnya terletak ditengah dan tidak bergerak,
putih telur bagian dalam kental dan tinggi pada bagian putih telur maupun kuning telur tidak
terdapat noda darah maupun daging. Bentuk telur serta besarnya juga proporsional dan nofrmal
(Sudaryani dan Samosir, 1997).
Oleh karena telur mempunyai pelindung yang keras dalam bentuk kulit
telur/kerabang, maka yang terpenting untuk kualitas telur ditentukan dari sudut
internal, yaitu dari komposisi gizinya. Komposisi gizi ini tentu saja dipengaruhi oleh makanan
yang diberikan pada unggas. Faktor eksternalnya berupa bakteri perusak yang berusaha untuk
masuk ke dalam telur melalui pori-pori pada kerabang telur.
Secara interbal memang kualitas telur ditentukan oleh kandungan gizinya dan struktur fisik isi
telur itu. Telur yang baik dilihat dari struktur fisik adalah telur dengan putih telur yang masih
kental dan bening. Biasanya putih telur ini masih terbagi atas 2 lapisan yaitu lapisan yang kental
didekat kuning telur dan lapisan yang encer dibagian terluar kuning telur. Bila semua lapisan
telurnya sudah encer maka kualitas telur itu mulai merosot (Rasyaf, 1996).
Telur sangat tahan terhadap kehilangan isi karena ketahanan kerabang
terhadap penyusupan zat cair atau perbanyakan jasad renik. Telur utuh terdiri atas
beberapa komponen, yaitu air 66 % dan bahan kering 34 % yang tersusun atas
protein 12 %, lemak 10 %, karbohidrat 1 % dan abu 11 %. Kuning telur adalah salah satu
komponen yang mengandung nutrisi terbanyak dalam telur. Kuning telur mengandung air sekitar
48 % dan lemak 33 %. Kuning telur juga mengandung vitamin, mineral, pigmen dan kolesterol.
Putih telur terdiri atas protein, terutama lisosin yang memiliki kemampuan anti bakteri untuk
membantu mengurangi kerusakan telur (Akoso, 1993).
Kerabang telur atau egg shell mempunyai dua lapisan yaitu spongy layer dan mamillary layer
yang terbungkus oleh lapisan lendir berupa kutikula. Lapisan luar terbentuk dari kalsium,
phosphor dan vitamin D yang merupakan lapisan paling keras yang berfungsi melindungi semua
bagian telur. Tebal tipisnya kerabang telur tergantung pada jumlah kalsium yang terdapat pada
pakan. (Stadellman et al., 1995).
Putih telur atau albumen mempunyai proporsi yang tinggi dalam komposisi telur mencapai 60 %
dari total berat telur. Persentasi putih telur pada ayam petelur bervariasi secara keseluruhan
tergantung dari strain, umur ayam dan umur dari telur (Stadellman, 1995).

Kuning telur merupakan bagian yang paling penting bagi isi telur,sebab pada bagian inilah
terdapat dan tempat tumbuh embrio hewan, khususnya pada telur yang telah dibuahi. Bagian
kuning telur ini terbungkus semacam selaput tipis yang sangat kuat dan elastis yang disebut
membrane vetelina. Kuning telur memiliki komposisi gizi yang lebih lengkap daripada putih
telur dan terdiri dari air, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin .(Stadellman, 1995).
Kualitas fisik telur juga ditentukan oleh kuning telur, warna kuning telur
tersebut disebabkan karena adanya kandungan xantofil pakan yang diabsorpsi dan
disimpan dalan kuning telur (Stadellman et al., 1995). Lebih lanjut dikemukakan oleh Nesheim
et al. (1979), bahwa kuning telur merupakan bagian telur terpenting karena didalamnya terdapat
sel benih. Kuning telur tersusun oleh lapisan konsentris terang dan gelap yang disebabkan karena
perbedaan xantofil pakan dan periode siang dan malam.
Kualitas telur ditentukan oleh dua faktor, yakni kualitas luarnya berupa kulitcangkang dan isi
telur. Kualitas luar ini bisa berupa bentuk, warna, tekstur, keutuhan, dan kebersihan kulit
cangkang. Sedangkan yang berkaitan dengan isi telur meliputi kekentalan putih telur, warna dan
posisi telur, serta ada tidaknya noda-noda pada putih dan kuning telur. Dalam kondisi baru,
kualitas telur tidak banyak mempengaruhi kualitas bagian dalamnya. Jika telur tersebut
dikonsumsi langsung, kualitas telur bagian luar tidak menjadi masalah. Tetapi jika telur tersebut
akan disimpan atau diawetkan, maka kualitas kulit telur yang rendah sangat berpengaruh
terhadap awetnya telur. Kualitas isi telur tanpa perlakuan khusus tidak dapat dipertahankan
dalam waktu yang lama. Dalam suhu yang tidak sesuai, telur akan mengalami kerusakan setelah
disimpan lebih dari dua minggu. Kerusakan ini biasanya ditandai dengan kocaknya isi telur dan
bila dipecah isinya tidak mengumpul lagi.(Anonima,2009)
Dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, misalnya Haryoto (1996), Muhammad Rasyaf
(1991), dan Antonius Riyanto (2001), menyatakan bahwa kerusakan isi telur disebabkan adanya
CO2 yang terkandung di dalamnya sudah banyak yang keluar, sehingga derajat keasaman
meningkat. Penguapan yang terjadi juga membuat bobot telur menyusut, dan putih telur menjadi
lebih encer. Masuknya mikroba ke dalam telur melalui pori-pori kulit telur juga akan merusak isi
telur. Telur segar yang baik ditandai oleh bentuk kulitnya yang bagus, cukup tebal, tidak cacat
(retak), warnanya bersih, rongga udara dalam telur kecil, posisi kuning telur di tengah-tengah,
dan tidak terdapat bercak atau noda darah.(Anonimb,2009)
Pemindangan merupakan salah satu bentuk pengolahan dengan kombinasi
penggaraman dan perebusan.Pemindangan dapat di lakukan dari bahan baku ikan atau telur.
Pemindangan ikan hanya umum di lakukan di daerah pantai sedangkan
pemindangan telur dapat di lakukan di berbagai tempat.Telur pindang merupakan
produk olahan telur tradisional yang menggunakan bahan penyamak protein.Protein akan
terdenaturasi jika kontak dengan bahan penyamak,misalnya tanin.Bahan-bahan yang dapat di
gunakan untuk menyamak telur antara lain kulit bawang merah,daun jambu biji dan air
teh.Pemindangan telur dapat menyebabkan telur rebus tersebut sedikit lebih awet dari pada
perebusan telur dalam air biasa.Pada proses pemindangan telur di gunakan daun jambu biji atau
kulit bawang merah yang menyebabkan warna kulit telur menjadi kecoklatan dan akan
memberikan cita rasa yang khas.selain itu jambu biji di duga mengandung tanin yang bersifat
menyamak kulit telur sehingga memperpanjang umur simpan telur.Tanin tersebut akan
menyebabkan protein yang ada di permukaan kulit telur menggumpal dan menutupi pori-pori
telur,sehingga telur menjadi lebih awet karena kerusakan telur dapat di hambat. (Teknologi
pangan dan
Gizi IPB)
Secara alamiah bangsa unggas yang salah satunya adalah ayam, akan mengerami telur telurnya
bila sudah dirasa cukup baginya sebagai bagian dari memperbanyak keturunannya (species nya).
Mesin tetas tentunya memang diciptakan untuk mengambil alih tugas mengerami dari se-ekor
induk ayam (atau bangsa unggas lainnya) dalam mengerami telur telur yang dibuahi dari hasil
persilangan atau perkawinan dengan pejantan. Mesin tetas tentunya memang diciptakan untuk
mengambil alih tugas mengerami dari se-ekor induk ayam (atau bangsa unggas lainnya) dalam

mengerami telur telur yang dibuahi dari hasil persilangan atau perkawinan dengan pejantan
(Anonym, 2010).
Adapun macam-macam dari mesin tetas adalah sebagai berikut :
1. Alat tetas dengan teknologi sekam dan sumber panas matahari
2. Mesin tetas Listrik dengan lampu bohlam sebagai alat pemanasnya
3. Mesin tetas dengan menggunakan lampu minyak
4. Mesin tetas dengan kawat nekelin
5. Mesin tetas dengan kombinasi beberapa hal diatas
6. Mesin tetas otomatis (Anonym, 2010.)
Anonym (2010). mengatakan Untuk mendapatkan telur telur yang bagus untuk di tetaskan harus
di yakini bahwa telur- telur tersebut berasal dari induk induk ayam yang memenuhi syarat
sebagai induk yang baik seperti:
1. Telah di Vaksinasi secara lengkap
2. Sehat
3. Mempunyai postur dan bentuk badan yang baik
4. Berasal dari galur murni
Secara garis besar incubator hanya dikelompokkan menjadi 2 tipe dasar yaitu tipe forced air
(dengan sirkulasi udara) dan still air (tanpa sirkulasi udara). Di Indonesia (Jakarta) di temukan
tipe still air yang banyak dijual di dengan kapasitas mulai dengan 40, 100, 200 butir telur, walau
pada prakteknya yang berkemampuan 100 butir hanya bisa dipakai untuk menetaskan 70 butir
agar ada cukup ruang, tidak terlalu padat dan baik daya tetasnya. Jenis ini membutuhkan banyak
penanganan dalam pemutaran telur yang biasanya dilakukan sedikitnya 3 kali sehari secara satu
persatu dan dengan cara membuka tutup incubatornya. Suhu penetasannya selalu dibuat 2o
sampai 3oF lebih tinggi dari type forced air atau sekitar 102o sampai 103oF. Hal ini karena panas
untuk penetasan dirambatkan melalui udara dari bohlam lampu diatasnya (Anonym, 2010).
Ventilasi yang cukup adalah penting untuk diperhatikan mengingat didalam telur ada embrio
yang juga bernafas dalam perkembangannya dan memerlukan O2 dan membuang CO2. Dalam
operasi mesin penetas, lebar lubang bukaan ventilasi harus diatur agar cukup ada sirkulasi udara
dan dengan memperhatikan penurunan tingkat kelembaban udaranya.
Pada incubator tipe still-air, buatan Cemani maka bukaan ventilasi ada di bagian atasnya yang
dapat diatur untuk mengeluarkan udara bersamaan degan pergerakan udara panas yang ada
didalamnya sedangkan sirkulasi udara masuk sudah cukup dari lubang lubang yang ada dibagian
bawah dan samping incubator tersebut.
Pada incubator jenis forced-air incubator, jika terjadi lampu mati atau PLN off maka ventilasi
harus dibuka lebih lebar dan bila perlu sesekali di buka pintunya agar terjadi pertukaran udara
segar dan tetap diusahakan suhu ruangan berada pada kisaran 75oF atau lebih. Sedangkan pada
incubator tipe still-air ventilasi dibiarkan terbuka atau (tidak berubah atau lebih ditutup)
agar panas dan kelembaban tidak terlalu terpengaruh (Anonym, 2010).
Standart untuk suhu dalam incubator penetasan tipe forced air adalah 100oF. untuk jenis
forced-air incubators dan 102oF. untuk type still-air incubators. Suhu pada incubator penetas

(hatching) di set 1o F lebih rendah dibandingkan dengan incubator pengeram selama 3 hari
sebelum penetasan.
Tabel 1. Kegiatan yang dilakukan pada penetasan telur
Keterangan
Ayam
Periode Incubator (Hari)
21
Temperatur (oF)
100
Humidity
65-70
Tidak ada pemutaran telur
Hari ke 18th
Buka Vents tambah
hari ke 10th
Buka Vents (jika diperlukan)
hari ke 18th
Sedangkan untuk tipe still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi bagian
atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur
atau diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator juga
harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.
Fluktuasi temperatur sebanyak 1 derajat atau kurang tidak menjadi masalah tetapi pengontrolan
Temperature secara berkala amat diperlukan untuk menjaga agar suhu tidak ketinggian atau
kerendahan dari standart tersebut. Sebagai catatan : suhu sekitar 105oF. untuk 30 menit dapat
mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada 90oF untuk 3 sampai 4 jam
akan memperlambat perkembangan embrio didalam telur (Anonym, 2010).
Pengontrolan kelembaban udara harus dilakukan dengan hati hati. Hal ini diperlukan untuk
menjaga hilangnya air dari dalam telur secara berlebihan. Pengukuran dapat dilakukan dengan
hygrometer atau psychrometer. Psychrometer atau termometer bola basah (wet bulb)
menunjukkan derajat kelembaban udara dan dapat dibaca berdasarkan tabel dibawah ini:

Kelembaban relatif (relatif humidity) untuk mesin incubator penetas atau periode 18 hari
pertama harus dijaga pada 50 55 % atau 83.3 oF 85.3 oF dengan wet bulb. Dan 3 hari
setelahnya (21 hari dikurangi 3 hari) atau pada hari ke 19 21 sebelum penetasan, kelembaban
udara harus dinaikkan menjadi 60 oF - 65 oF atau 87.3 oF - 89 oF.
Pada saat 3 hari menjelang penetasan dapat dikatakan kita harus lepas tangan hand-off karena
pada saat ini tidak diperlukan campur tangan manusia sama sekali selain menunggu proses
penetasan berjalan sampai selesai dengan sendirinya. Incubator tidak boleh dibuka karena dapat
menyebabkan kehilangan kelembaban udara yang amat diperlukan dalam penetasan. Kehilangan
kelembaban dapat mencegah keringnya membran pada kulit telur pada saat penetasan (hatching).
Kelembaban yang rendah menyebkan anak ayam sulit memecah kulit telur karena lapisannya
menjadi keras dan berakibat anak ayam melekat / lengket di selaput bagian dalam telur dan mati.
Akan tetapi kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam didalam telur juga
sulit untuk memecah kulit telur atau kalaupun kulit telur dapat dipecahkan maka anak ayam tetap
berada didalam telur dan dapat mati tenggelam dalam cairan dalam telur itu sendiri.
Pada incubator penetas hatching, kelembaban udara bisa diatur dengan memberikan nampan
berisi air dan bila perlu ditambahkan busa / sponse untuk meningkatkan kelembaban udara.
Sedangkan pada tipe still-air maka menaikkan kelembaban dengan cara menambah nampan air
dibawah tempat penetasan atau pada prinsipnya, menaikkan kelembaban dapat dicapai dengan
menambah penampang permukaan airnya.
Adapun cara yang sempurna untuk menentukan kelembaban udara adalah dengan
memperhatikan ukuran kantong udara didalam telur bagian atas atau bagian tumpulnya seperti
gambar dibawah ini dengan menggunakan teropong telur. Kelembaban dapat diatur setelah
peneropongan telur pada hari ke 7, 14, dan 18 pada masa penetasan (Anonym, 2010).
.
Pemeriksaan fertilitas telur adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Hal ini terutama diperlukan
untuk menentukan jumlah telur yang fertile untuk terus ditetaskan sedangkan yang tidak fertile
atau tidak bertunas harus disingkirkan karena tidak berguna dalam proses penetasan dan bahkan
Cuma buang buang tenaga dan tempat saja. Padahal tempat yang ada dapat dimanfaatkan untuk
telur telur fertile yang lain atau yang baru akan ditetaskan.
Tes fertilitas semacam ini tidak akan mempengaruhi perkembangan embrio telur, malah
sebaliknya kita akan tahu seberapa normal perkembangan embrio didalam telur tersebut telah
berkembang atau bertunas. Tatapi tetap sebagai hal yang terpenting dalam proses ini adalah
mengetahui seberapa banyak telur yang fertile dan dapat menentukan langkah langkah yang
diperlukan untuk telur yang tidak fertile terutama jika telur telur tersebut diberikan coretan /
tulisan mengenai asal telur dan tanggal di telurkan oleh sang ayam maupun informasi asal
kandangnya.
Ada beberapa istilah untuk alat melihat fertilitas telur disebut teropong telur atau tester atau
candler. Alat ini mudah dibuat dengan cara menempatkan bohlam lampu dalam sebuah kotak
atau silender yang dapat terbuat dari segala macam jenis baik kayu ataupun pralon 3 inch seperti
pada gambar.
Cara membuatnya adalah dengan memotong pralon 3 inch sepanjang 20 cm dan menutup kedua
ujungnya dengan kayu yang dibuat melingkar mengikuti pralon dan kemudian di mur. Bagian
dalam diberikan fitting lampu dan sebuah bohlam lampu yang cukup terang (missal : 40 watt)
dan satu ujung bagian atasnya pada bagian tengahnya diberikan lubang sebesar 2/5 besar
diameter telur rata rata atau sekitar 2 cm.
Penggunaannya adalah dengan menyalakan bohlam lampu dan melalui lubang yang ada (pada

bagian atasnya) diletakkan telur yang akan dilihat dengan cara menempelkan bagian bawah telur
(bagian yang lebih tajam dari telur) ke lubang dan melihat perkembangan yang ada di dalam
telur. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan alat ini pada ruangan yang gelap
sehingga bagian dalam telur yang terkena bias cahaya lampu dapat lebih jelas terlihat.
Telur biasanya di test setelah 5 7 hari setelah di tempatkan dalam incubator. Telur dengan kulit
yang putih seperti telur ayam kampung akan lebih mudah dilihat daripada telur negri atau yang
warna kulitnya cokalat atau warna lainnya.
Pada saat test fertilitas, maka hanya telur yang ada bintik hitam dan jalur jalur darah yang halus
yang akan terus di tetaskan. Tetapi singkirkan telur telur yang ada pita darahnya, tidak ada
perubahan (tetap tidak ada perkembangan), ada blok kehitaman karena mati atau seperti contoh
pada gambar berikut:
Apabila karena kurang pengalaman atau karena ragu ragu seperti missal menurut pengalaman
kami perkembangan embrio kadang tidak terlihat jelas di bagian pinggir telur karena
perkembangannya ada di tengah telur. Keadaan ini akan tampak seakan akan telur tidak
berkembang tetpi nyatanya berkembang dengan baik.
Dalam kasus tersebut maka hal yang bijaksana adalah dengan mengembalikan telur telur tersebut
kedalam incubator dan test kembali pada hari ke 10 atau 14 misalnya. Jika ternyata berkembang
maka telur terus di tetaskan tetapi bila tidak maka harus dibuang.
Sanitasi atau pembersihan terhadap telur dan peralatan penetasan dapat menggunakan sistim
fumigasi. Fumigasi dngan tingkat yang rendah tidak akan membunuh bakteri dan bibit penyakit
tetapi fumigasi yang terlalu tinggi dapat mebunuh embrio didalam telur. Maka amatlah di
haruskan untuk memakai ukuran yang tepat terhadap bahan kimia yang akan digunakan dalam
melakukan fumigasi.
Dalam melakukan fumigasi, sebuah ruangan yang cukup atau lemari yang besar diperlukan
untuk menampung semua telur telur yang akan di tetaskan dan ruangan atau tempat tersebut juga
dilengkapi dengan kipas angin untuk sirkulasi udara didalamnya.

Susun telur telur yang ada didalam ruangan atau lemari dengan rak rak dari bahan berlubang
lubang (seperti kawat nyamuk atau kasa) sehingga udara dapat bergerak bebas diantaranya.
Bahan kimia yang biasa dipakai untuk fumigasi adalah gas Formaldehyde yang di hasilkan dari
campuran 0.6 gram potassium permanganate (KmnO4) dengan 1.2 cc formalin (37.5 percent
formaldehyde) untuk setiap kaki kubik ruangan yang dipakai. Buat campuran bahan bahan
tersebut pada tempat terpisah sebanyak setidaknya 10 kali dari volume total ruangan atau lemari.
Sirkulasikan gas tersebut di dalam ruangan atau lemari selama 20 menit dan kemudian keluarkan
/ buang gas nya. Suhu yang diperlukan selama fumigasi adalah diatas 70oF. Selanjutnya biarkan
telur telur tersebut di udara terbuka selama beberapa jam sebelum menempatkannya di dalam
mesin incubator (Anonym, 2010).
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
Materi Praktikum
a. Alat Praktikum
mesin tetas

bola lampu 5 watt


saklar
tissue
thermometer dan hygrometer
b. Bahan Praktikum
telur tetas 60 butir
air keran
Metode Praktikum
Satu hari sebelum memasukkan telur kedalam mesin tetas, mesin tetas dan tempat disekitar
mesin tetas dibersihkan.Sebelum memasukkan telur, telur diseleksi. Dari 60 buitr telur ada 11
butir yang terseleksi dan 49 butir telur yang dimasukkan kedalam mesin tetas untuk dimasukkan.
Kemudian setelah diseleksi telur dibersihkan dan dimasukkan kedalam mesin tetas.
Mesin tetas diisikan dengan air pada tempat air yang ada didalam mesin tetas untuk mendapatkan
kelembaban yang stabi, kemudian temperature udara mesin tetas diatur sekitar 390 C. setelah itu,
pengontrolan dilakukan untuk melakukan pemutaran telur dalam jangka 3 hari. Selanjutnya
peneropongan telur dilakukan pada hari keempat untuk mengetahui fertilitas telur tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Telur yang ditetaskan pada mesin tetas merupakan telur yang sudah diseleksi dengan baik. Tetapi
setelah melakukan uji coba penetasan menggunakan mesin tetas ternyata tidak ada yang menetas.
Jumlah telur yang ditetaskan dan sudah diseleksi adalah 49, tetapi satupun tidak ada yang
menetas.
Telur dimasukkan pada tanggal 2 desember 2010 dan pada tanggal 22 desember 2010 telur
diperiksa untuk terakhir kalinya, tapi tidak ada yang menetas. Sementara dilihat dari kendala
yang ada, ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan penetasan menggunakan
mesin tetas, yaitu : mesin tetas dan telur yang ditetaskan.
Mesin tetas memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap daya tetas sebutir telur. Karena mesin
tetas harus berfungsi sama seperti induk aslinya maka mesin tetas disebut juga sebagai indukan.
Mesin tetas tentunya memang diciptakan untuk mengambil alih tugas mengerami dari se-ekor
induk ayam (atau bangsa unggas lainnya) dalam mengerami telur telur yang dibuahi dari hasil
persilangan atau perkawinan dengan pejantan. Mesin tetas tentunya memang diciptakan untuk
mengambil alih tugas mengerami dari se-ekor induk ayam (atau bangsa unggas lainnya) dalam
mengerami telur telur yang dibuahi dari hasil persilangan atau perkawinan dengan pejantan
(Anonym, 2010).
Sehingga ventilasi mesin tetas sangat perlu diperhatikan. Ventilasi yang cukup adalah penting
untuk diperhatikan mengingat didalam telur ada embrio yang juga bernafas dalam
perkembangannya dan memerlukan O2 dan membuang CO2. Dalam operasi mesin penetas, lebar
lubang bukaan ventilasi harus diatur agar cukup ada sirkulasi udara dan dengan memperhatikan
penurunan tingkat kelembaban udaranya.
Pada incubator tipe still-air, buatan Cemani maka bukaan ventilasi ada di bagian atasnya yang
dapat diatur untuk mengeluarkan udara bersamaan degan pergerakan udara panas yang ada
didalamnya sedangkan sirkulasi udara masuk sudah cukup dari lubang lubang yang ada dibagian
bawah dan samping incubator tersebut.

Pada incubator jenis forced-air incubator, jika terjadi lampu mati atau PLN off maka ventilasi
harus dibuka lebih lebar dan bila perlu sesekali di buka pintunya agar terjadi pertukaran udara
segar dan tetap diusahakan suhu ruangan berada pada kisaran 75oF atau lebih. Sedangkan pada
incubator tipe still-air ventilasi dibiarkan terbuka atau (tidak berubah atau lebih ditutup)
agar panas dan kelembaban tidak terlalu terpengaruh (Anonym, 2010).
Perhatian mesin tetas terhadap ventilasi, berarti temperature dan kelembaban pada mesin tetas
juga diperhatikan. Karena ventilasi juga akan mempengaruhi temperature dan kelembaban.
Sementara temperature dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap daya tetas telur.
Standart untuk suhu dalam incubator penetasan tipe forced air adalah 100oF. untuk jenis
forced-air incubators dan 102oF. untuk type still-air incubators. Suhu pada incubator penetas
(hatching) di set 1o F lebih rendah dibandingkan dengan incubator pengeram selama 3 hari
sebelum penetasan.

Sedangkan untuk tipe still air, posisi termometer adalah sejajar atau rata dengan tinggi bagian
atas telur atau sekitar 5 cm dari dasar telur. Termometer haruslah tidak diletakkan diatas telur
atau diluar bidang penetasan tetapi bersebelahan dengannya. Selain itu, mesin incubator juga
harus tertutup rapat untuk menghindari hilang panas atau kelembaban udaranya.
Fluktuasi temperatur sebanyak 1 derajat atau kurang tidak menjadi masalah tetapi pengontrolan
Temperature secara berkala amat diperlukan untuk menjaga agar suhu tidak ketinggian atau
kerendahan dari standart tersebut. Sebagai catatan : suhu sekitar 105oF. untuk 30 menit dapat
mematikan embrio didalam telur sedangkan suhu penetasan pada 90oF untuk 3 sampai 4 jam
akan memperlambat perkembangan embrio didalam telur (Anonym, 2010). Pengontrolan
kelembaban udara harus dilakukan dengan hati hati. Hal ini diperlukan untuk menjaga hilangnya
air dari dalam telur secara berlebihan. Pengukuran dapat dilakukan dengan hygrometer atau
psychrometer. Psychrometer atau termometer bola basah (wet bulb) menunjukkan derajat
kelembaban udara dan dapat dibaca berdasarkan tabel dibawah ini:
Kelembaban relatif (relatif humidity) untuk mesin incubator penetas atau periode 18 hari
pertama harus dijaga pada 50 55 % atau 83.3 oF 85.3 oF dengan wet bulb. Dan 3 hari
setelahnya (21 hari dikurangi 3 hari) atau pada hari ke 19 21 sebelum penetasan, kelembaban
udara harus dinaikkan menjadi 60 oF - 65 oF atau 87.3 oF - 89 oF.
Kemudian keadaan telur juga sangat perlu diperhatikan. Karena telur yang ditetaskan perlu
diketahui tingkat fertilitasnya, infertile, ukuran kerabang warna kerabang, berat, asal induk yang
mampu memiliki daya tetas tinggi, kebersihan dan masih banyak lagi yang perlu diperhatikan
dari telur yang ditetaskan tersebut. Namun yang paling perlu diperhatikan adalah asal telur itu
sendiri. Anonym, (2010) mengatakan Untuk mendapatkan telur telur yang bagus untuk di
tetaskan harus di yakini bahwa telur- telur tersebut berasal dari induk induk ayam yang
memenuhi syarat sebagai induk yang baik seperti:
1. Telah di Vaksinasi secara lengkap
2. Sehat
3. Mempunyai postur dan bentuk badan yang baik
4. Berasal dari galur murni
Setelah memperhatikan galurnya, maka yang perlu diperhatikan adalah kualitas telur itu sendiri.
Karena kualitas telur akan mempengaruhi daya tetas juga. Kualitas telur ditentukan oleh dua

faktor, yakni kualitas luarnya berupa kulit


cangkang dan isi telur. Kualitas luar ini bisa berupa bentuk, warna, tekstur, keutuhan, dan
kebersihan kulit cangkang. Sedangkan yang berkaitan dengan isi telur meliputi kekentalan putih
telur, warna dan posisi telur, serta ada tidaknya noda-noda pada putih dan kuning telur. Dalam
kondisi baru, kualitas telur tidak banyak mempengaruhi kualitas bagian dalamnya. Jika telur
tersebut dikonsumsi langsung, kualitas telur bagian luar tidak menjadi masalah. Tetapi jika telur
tersebut akan disimpan atau diawetkan, maka kualitas kulit telur yang rendah sangat berpengaruh
terhadap awetnya telur. Kualitas isi telur tanpa perlakuan khusus tidak dapat dipertahankan
dalam waktu yang lama. Dalam suhu yang tidak sesuai, telur akan mengalami kerusakan setelah
disimpan lebih dari dua minggu. Kerusakan ini biasanya ditandai dengan kocaknya isi telur dan
bila dipecah isinya tidak mengumpul lagi.(Anonima,2009).
Sementara telur yang diseleksi pada praktikum teknologi penetasan telur adalah telur yang
terseleksi, namun kemungkinan kurang infertile walaupun telur tersebut berasal dari induk yang
sudah dibuahi. Karena rasio pejantan dan betina yang normal untuk ayam petelur adalah 1:7.
Artinya satu ekor pejantan melayani tujuh ekor betina. Perbandingan rasio pada induk telur
kemungkinan terlalu banyak sehingga tingkat kesuburan sperma yang masuk kedalam sel telur
sangat rendah. Hal ini bisa dilihat dari rasio perbandingan pejantan dengan induk petelur
terhadap tingkat kesuburan (fertilitas) telur.
Telur yang tidak menetas tersebut kemudian diperiksa bagian dalamnya. Ternyata di bagian
dalam terdapat cairan kental yang berwarna putih. Ini merupakan hasil dari pembelahan sel
embrio yang abnormal. Sehingga menyebabkan gagalnya proses perkembangan embrio menjadi
anak ayam. Proses ini dipengaruih oleh fertilitas telur serta tingkat kebersihan telur. Seharusnya
warna bagian dalam telur berwarna kunig untuk kuning telurnya dan kental bening untuk
albumen telurnya.
Karena telur yang dimasukkan kedelam mesin tetas seharusnya dibersihkan dengan alcohol, tapi
dibersihkan menggunakan air keran biasa. Kemudian yang mempengaruhi adalah aliran listrik
yang digunakan untuk memanaskan mesin tetas.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari praktikum yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa telur yang ditetaskan tidak ada yang
fertile.
Saran
a. Dalam melakukan seleksi telur perhatikan bentuk serta warna kerabang karena bentuk dan
warna kerabang sangat mempengaruhi tingkat fertilitas telur itu sendiri.
b. temperature mesin tetas serta kelembabannya juga harus diperhatikan. Serta aliran listriknya.
Ketika listrik mati harus ada pengganti cadangan yang digunakan untuk memanaskan mesin tetas
supaya suhu dan kelembaban tetap terjaga.
DAFTAR PUSTAKA
Akoso, B. T., 2000. Perlindungan Masyarakat Veteriner dan Pengembangan Produk Hewani. In
Rapat Koordinasi dan Konsultasi Penyusunan Program Proyek T.A 2000. Jakarta.
Anggorodi R., 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT Gramedia. Jakarta.
Anonim, 2003. Beternak Ayam Petelur. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Anonim, 2009 Http://smp2talun.wordpress.com/2008/04/25/Pengaruh pemberian minyak
terhadap kualitas telur. Diakses pada hari kamis 7 januari 2009 ,pukul 15.30.

Anonym, 2010. penetasan telur dengan mesin tetas. http://www.gloryfarm.com/ptetas_mesin/mesin_tetas.htm diakses pada tanggal 20 Desember
2010).
Anonym, 2010. Tips menetaskan telur.
http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/tips_tetas.htm di akses pada tanggal 20 Desember 2010
Bell D.J. and Freeman B.M., 1971. Physiology and Biochemistry of the Domestic Fowl. Volume
3. Academic Press. London New York.
Haryoto. 1996. Pengawetan Telur Segar. Yogyakarta: Kanisius.
James Blakely and David H. Bade, 1985. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh Bambang Srigandono dan Soedarsono).
Nalbandov A.V., 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. Edisi ketiga. Penerbit
Universitas Indonesia. Jakarta. (Diterjemahkan oleh Sunaryo Keman).
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Rashaf, Muhammad. 1991. Pengelolaan Produksi Telur. Yogyakarta:
Kanisius
Rasyaf M., 1992. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Riyanto, Antonius. 2001. Sukseskan Menetaskan Telur Ayam. Jakarta:
Andromedia Pustaka
Stadellman, W.J. dan O.J. Cotteril, 1995. Egg Science and Technology. 4th ed. teh Avi Publishing
Co. Inc. New York.
Sudaryani dan Samosir, 1997. Mengatasi Permasalahan Beternak Ayam.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Suprapti, L., 2002. Pengawetan Telur, Telur Asin, Tepung Telur, dan Telur
Beku. Penerbit kanisius. Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai