Anda di halaman 1dari 5

Peroksisom

1. Struktur Peroksisom

Peroksisom merupakan organel yang terbungkus oleh membran tunggal dari lipid
bilayer yang mengandung protein penyerap (reseptor). Peroksisom tidak memiliki genom
dan mengandung sekitar 50 enzim, seperti katalase dan ureat oksidase yang mengkristal
di pusatnya. Peroksisom ditemukan pada semua sel eukariota.
Peroksisom merupakan organel sitoplasma yang ukurannya sama dengan lisosom.
Salah satu tugas dari peroksisom adalah mengoksidasi asam lemak dengan rantai sangat
panjang (mengandung 20 atom karbon atau lebih) menjadi asam lemak dengan rantai
yang lebih pendek, yang kemudian dibawa ke mitokondria untuk oksidasi yang lebih
sempurna. Fungsi dari peroksisom adalah oksidasi substrat pada mamalia dan 2.

oksidasi asam lemak mamalia.


Terdapat dua jenis peroksisom pada tumbuhan yang sudah diteliti secara ekstensif.
Tipe pertama terdapat pada daun, yang berfungsi untuk mengkatalisis produk sampingan
dari reaksi pengikatan CO2 pada karbohidrat, yang disebut fotorespirasi. Reaksi ini
disebut fotorespirasi karena menggunakan O2 dan melepaskan CO2. Tipe peroksisom
lainnya, terdapat dalam biji yang sedang berkecambah. Peroksisom kedua ini, dinamakan
glioksisom, mempunyai fungsi penting dalam pemecahan asam lemak, yang tersimpan
dalam lemak biji, menjadi gula yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman muda.
Proses pengubahan lemak menjadi gula ini dilakukan dengan rangkaian reaksi yang
disebut siklus glioksilat.
Hampir semua sel eukariot memiliki peroksisom, organel yang berbentuk vesikuli
dengan diameter 5m, dan diselubungi selaput tunggal. Lumen vesikuli ini berisi enzim-

enzim oksidase, yang pada hepatosit terdiri atas oksidase D-asam amino, oksidase urat,
dan katalase.

Sebagian besar katalase yang terdapat dalam sel terkumpul di dalam peroksisom.
Selain katalase, peroksisom juga mengandung lebih dari satu enzim yang menggunakan
oksigen untuk menghilangkan atom hydrogen dari sesuatu substrat dengan reaksi
oksidatif:

RH2 + O2 R + H2O2
Katalase menggunakan H2O2 yang timbul untuk mengoksidasi berbagai macam

substrat misalnya: fenol, asam formiat,formaldehid, dan alcohol. Reaksi peroksidasi ini
berlangsung:
H2O2 + RH katalase
R + 2H2O
Apabila kadar RH2 di dalam sel rendah, reaksi yang berlangsung adalah
katalase
2H2O2
2H2O+ O2
Reaksi terakhir berperan sebagai reaksi pelindung untuk mencegah tertimbunnya
H2O2. Selaput peroksisom yang bersifat sangat permeabel sehingga ion-ion anorganik dapat
dapat masuk dengan bebas ke peroksisom.
2. Fungsi Peroksisom pada Tumbuhan
Terdapat dua macam peroksisom yang berperan penting pada tumbuhan, Satu macam
peroksisom terdapat di daun yang berfungsi sebagai katalisator dalam oksidasi hasil
sampingan reaksi fiksasi karbondioksida. Proses ini disebut fotorespirasi. Peroksida yang
lain, berada pada biji yang sedang tumbuh. Peran peroksisom ini adalah merombak asam
lemak yang terdapat dalam biji menjadi gula yang diperlukan untuk tumbuh. Pengubahan
asam lemak menjadi glukosa disebut siklus glioksilat, sehingga peroksisom pada biji yang
sedang tumbuh dinamakan glioksisom.

Glioksisom
1. Struktur Glioksisom

Glioksisom merupakan badan mikro yang hanya ditemukan pada sel tumbuhan.
Diameter glioksisom antara 0,5 sampai 1,0 mikrometer. Glioksisom hanya terdapat pada sel
tumbuhan, misalnya pada lapisan aleuron biji padi-padian. Aleuron merupakan bentuk dari
protein atau kristal yang terdapat dalam vakuola. Glioksisom banyak ditemukan pada bijibijian yang berperan sebagai tempat menyimpan asam lemak untuk pembentukan energi
dalam proses perkecambahan.
Salah satu proses utama pada biji yang sedang mengalami perkecambahan adalah
perubahan dari asam lemak dalam glioksisom, menjadi karbohidrat atau disebut
glukoneogenesis. Penguraian asam lemak menjadi asetil ko-A selanjutnya berubah menjadi

oksaloasetat untuk membentuk sitrat. Asam sitrat yang terbentuk akan diubah menjadi
glukosa melalui serangkaian reaksi enzimatis yang terdapat di dalam glioksisom.
2. Fungsi Glioksisom
a. Mengontrol dan mengkatalisis dekomposisi senyawa secara bertahap; khusus
penyimpanan lemak.
b. Menyalurkan produk terhadap sintesis senyawa karbon banyak atau karbohidrat.
Mereka sangat penting selama pertumbuhan karena mereka membantu sintesis dinding
sel baru.
c. Sebagai tempat metabolisme asam lemak
d. Tempat terjadinya siklus glioksilat
3. Siklus Glioksilat
Sebagian besar tumbuh-tumbuhan dan mikroorganisme menggunakan asam lemak
atau asetat, dalam bentuk asetil-KoA, sebagai sumber karbon utama atau satu-satunya; hal
ini dicapai melalui suatu siklus TCA yang dimodifikasi, disebut siklus glioksilat, yang
dijelaskan oleh Krebs dan Hans R. Kornberg. Pada tumbuh-tumbuhan, siklus glioksilat
terjadi dalam glioksisom. Suatu peranan kunci dari siklus adalah mengubah asetil-KoA yang
dihasilkan dari asam lemak (didapat dari minyak biji-bijian) menjadi suksinat,yang
kemudian digunakan sebagai suatu precursor gukosa (hasil utama) dan biomolekul lain yang
diperlukan oleh benih untuk bertumbuh.
Siklus glioksilat digambarkan: seperti pada siklus TCA, asetil-KoA berkondensasi
dengan oksaloasetat untuk menghasilkan sitrat yang kemudian dikonversikan menjadi
isositrat. Dua rekasi selanjutnya merupakan ciri unik dari siklus. Pada reaksi pertama,
isositrat liase membelah isositrat, menghasilkan suksinat dan gllioksilat, asetil-KoA kedua
berkondensasi dengan glioksilat, menghasilkan L-Malat.
Siklus ini dilengkapi dengan oksidasi dari L-Malat menjadi oksaloaseta. Siklus ini,
yag melintasi dua langkah dekarboksilasi karakteristik dari siklus TCA, berhasil dalam
mengubah dua molekul asetil-KoA menjadi satu molekul suksinat. Keselruhan reaksi dari
siklus dinyatakan sebagai berikut:
2 Asetil-KoA + NAD+ + H2O suksinat + 2 KoA +NADH +H+