Anda di halaman 1dari 7

Prinsip Penyusunan Bagian Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir dalam proposal merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
(Sugiyono, 2011:283)
Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabelvariabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antarvariabel
independen dan dependen. Apabila dalam penelitian-penelitian ada variabel moderator dan
intervening, maka perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian.
Pertautan antar variabel tersebut selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigm
penelitian.Oleh karena itu, setiap penyusunan paradigm penelitian harus didasarkan pada
kerangka berpikir. (Sugiyono, 2011:283)
Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian
tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel
atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti di samping mengemukakan deskripsi
teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang
diteliti. (Sugiyono, 2011:283)
Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis
yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu, dalam rangka penyusunan
hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukakan
kerangka berpikir. (Sugiyono, 2011:283)
Kerangka berpikir yang dihasilkan

dapat

berupa

kerangka

berpikir

yang

asosiatif/hubungan maupun komparatif/perbandingan. Kerangka berpikir asosiatif dapat


menggunakan kalimat: jika begini maka akan begitu; jika komitmen kerja tinggi, maka
produktivitas lembaga akan tinggi pula atau jika pengawasan dilakukan dengan baik (positif),
maka kebocoran anggaran akan berkurang (negatif). (Sugiyono, 2011:283)
Kerangka berpikir dikembangkan dan digambarkan secara logis dan diperluas jaringan
asosiasi antarvariabel yang telah diidentifikasi melalui proses-proses seperti wawancara,
observasi dan survey literature. Variabel-variabel ini berhubungan dengan situasi masalah.
(Awangga, 2007:108)
Sampai sekarang masih merupakan bukti bahwa untuk menemukan pemecahan masalah.
Sesorang

harus

mula-mula

mengidentifikasi

masalah

dengan

tepat

dan

kemudian

mengidentifikasi variabel-variabel yang mendukung masalah. Kepentingan dari pelaksanaan


survey-survey dan pengadaan review literature secara mnyeluruh sekarang menjadi jelas setelah

adanya indikasi mengenai variabel-variabel yang sesuai jaringan asosiasi antarvariabel perlu
diperluas sehingga hipotesa-hipotesa yang relevan dapat dikembangkan dan kemudian dapat
diuji. (Awangga, 2007:108)
Didasarkan pada hasil pengujian hipotesa-hipotesa ini (yang menunjukkan apakah
hipotesa itu mendapat dukungan atau tidak), besarnya masalah yang harus dipersiapkan melalui
penemuan-penemuan penelitian menjadi terbukti. Jadi, kerangka berpikir merupakan suatu
langkah yang penting dalam proses penelitian. (Awangga, 2007:109)
Penyusunan kerangka beripikir menurut Sugiono (2011: 62) yaitu sebagai berikut.
1. Menetapkan Variabel yang Diteliti
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun
kerangka berpikir untuk pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan dulu variabel
penelitiannya. Berapa jumlah variabel yang diteliti, dan apakah nama setiap variabel,
merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
2. Membaca Buku dan Hasil Penelitian
Setelah variabel ditentukan, maka langkah berikutnya yaitu membaca buku-buku dan
hasil penelitian yang relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks,
ensiklopedia, dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah laporan penelitian,
journal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.
3. Deskripsi Teori dan Hasil Penelitian
Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang
berkenaan dengan variabel yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi teori berisi
tentang, definisi terhadap masing-masing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang
lingkup setiap variabel, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang lain dalam
konteks penelitian itu.
4. Analisis Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil
penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah
teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan objek
penelitian atau tidak.
5. Analisis Komparatif terhadap Teori dan Hasil Penelitian
Analisis komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori
yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui analisis
komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain, atau
mereduksi bila dipandang terlalu luas.
6. Sintesa Kesimpulan

Melalui analisis kritis dan komparatif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang
relevan dengan semua variabel yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa
atau kesimpulan sementara. Perpaduan antara variabel satu dengan variabel yang lain
akan menghasilkan kerangka berpikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk
merumuskan hipotesis.
7. Kerangka Berpikir
Setelah sintesa atau kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya disusun
kerangka berpikir. Kerangka berpikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berpikir
yang asosiatif/hubungan maupun komparatif/perbandingan.

Prinsip Penyusunan Bagian Metode Penelitian


Untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis, diperlukan metode penelitian.
(Sugiyono, 2011: 285). Metode penelitian berisi penjelasan mengenai tentang alat dan perlatan
yang digunakan dalam penelitian, serta metode penelitian lokasi, jenis penelitian sampel,
rancangan penelitian atau design penelitian, prosedur pelaksanaan, cara pengumpulan data dan
cara analisis data. Fungsi metode penelitian adalah supaya kegiatan penelitian seseorang dapat
diikuti dan dikritisi serta dapat diulang apabila perlu secara tepat dan benar. (Widi, 2010: 276).
a. Metode Penelitian

Menurut Paul D. Ledy, ada beberapa metode dalam melakukan penelitian yaitu historical
method, descriptive survey method, analytical survey method, experimental method.
Mengenai berbagai jenis metode aplikatif secara praktis yang sering digunakan akan
disebutkan secara singkat berikut ini.
1. Metode Obervasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu aktivitas untuk koleksi data, dengan
cara mengamati dan mencatat mengenai kondisi-kondisi, proses-proses dan perilakuperilaku objek penelitian. Berkaitan dengan metode obervasi ini sangat perlu
memperhatikan ruang dan waktu. Oleh karena itu, segala bentuk pencatatannya
melampirkan ruang (lokasi) dan waktu sebagai salah satu tolak ukur validitas data
yang dikoleksi.
2. Metode Interview
Interview atau wawancara merupakan suatu metode dalam koleksi data dengan cara
memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai hal-hal yang diperlukan sebagai data
penelitian. Hasil dari koleksi data dengan cara ini adalah jawaban-jawaban. Pada
umumnya, koleksi data dengan cara ini sangat dipengaruhi oleh kondisi dan latar
belakang seseorang. Dengan demikian, pembagian kelompok-kelompok masyarakat
harus diperhatikan dan pencatatan mengenai hal ini menjadi landasan yang kuat bagi
validitas penelitian.
3. Metode Kuesioner
Kuesioner merupakan salah satu metode koleksi data dengan cara membagikan
angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan sebagai bahan data yang akan diolah dan
dianalisis. Cara ini dilakukan untuk mendapatkan jawaban-jawaban berkenaan
dengan data yang diperlukan dari suatu populasi yang diangkat dalam tema
penelitian. Secara umum, dapat diambil gambaran mengenai penilaian subjekfisitas
responded terhadap hal-hal tertentu.
4. Metode Inventori
Inventori merupakan usaha untuk menemukan data-data berupa hal-hal yang konkret.
Data-data yang ditemukan akan dilakukan pemeriksaan dan penelusuran lebih
mendalam.
5. Metode Dokumentasi
Dokumentasi merupakan pembuatan dan penyimpanan bukti-bukti (gambar, tulisan,
suara, dll) terhadap segala hal, baik objek atau juga peristiwa yang terjadi.
6. Metode Sampling

Sampling yang berarti pengambilan sampel ini merupakan pencarian data dengan
cara mencuplik dari suatu populasi dengan standar tertentu sehingga cuplikan yang
diambil bersifat representatif. Asumsi yang dibangun adalah pengambilan sebagian
dari populasi merupakan data dari keseluruhan populasi. Ibaratnya adalah seperti
kalau kita hendak menguji kandungan zat pada sebuah kolam, maka cukup
mengambil air suatu gelas, atau bahkan hanya satu tetes saja. Satu tetes air sini sudah
cukup untuk mewakili air suatu kolam.
7. Metode Eksperimen
Eksperimen merupakan salah satu metode untuk mendapatkan data dengan cara
melakukan percobaan. Maksud dari percobaan adalah membuat miniature suatu
proses yang berkaitan dengan adanya variable-variabel. Dalam eksperimen selalu
membuat kelompok control. Kelompok control ini menjadi pembanding bagi
kelompk lainnya. Ukuran perubahan yang diukur oleh tingkat perbedaan dengan
kelompok control. Menurut Paul D. Leedy, eksperimental method bertujuan
mengetahui fenomena sebab akibat. Kelompok control (control group) merupakan
kelompok yang tidak dikenai sebab sehingga kondisinya tetap. Sedangkan kelompok
ekperimen (experimental group) adalah kelompok yang dikeani sebab. Oleh karena
itu, dapat disimpulkan bahwa eksperimen berusaha mengetahui pengaruh suatu
variabel. (Awangga, 2007: 134)
b. Populasi dan Sampel
Dalam peneltian perlu dijelaskan populasi dan sampel yang dapat digunakan
sebagai sumber data. Apabila hasil penelitian akan digeneralisasikan (kesimpulan data
sampel yang dapat diberlakukan untuk populasi) maka sampel yang digunakan sebagai
sumber data harus representatif dapat dilakukan dengan cara mengambil sampel dari
populasi secara random sampai jumlah tertentu. (Sugiyono, 2011: 285)
c. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan data,
sehingga data yang didapatkan lebih baik dengan pertimbankan (jenis data, tingkat
akurasi data, kelengkapan data, sistematika data dalam pengolahan, standar waktu yang
diperlukan serta biaya). (Awangga, 2007: 138)
Penelitian bertujuan untuk mengukur suatu gejala akan menggunakan instrument
penelitian. Jumlah instrumen yang akan digunakan tergantung pada variabel yang akan

diteliti. Apabila variabel yang diteliti jumlahmya lima, maka akan menggunakan lima
instrument. Dalam hal ini perlu dikemukakan instrument apa saja yang akan digunakan
untuk penelitian, skala pengukuran yang ada pada setiap jenis instrument (Likert, dll),
prosedur pengujian validitas dan reliabilitas instrumen. (Sugiyono, 2011: 285)
Mengenai penggunaan jenis instrument dapat digunakan satu atau lebih dari satu
sesuai dengan kebutuhan. Jenis-jenis instumen penelitian tersebut dapat dibuat sesuai
dnegan kebutuhan. (Awangga, 2007:138)
d. Teknik Pengumpulan Data
Yang diperlukan di sini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat,
sehingga betul-betul didapat data yang valid dan reliable. Jangan semua teknik
pengumpulan data (angket, obervasi, wawancara) dicantumkan apabila sekiranya tidak
dapat dilaksanakan. Selain itu, konsekuensi dari mencantumkan ke tiga teknik
pengumpulan data yaitu setiap teknik pengumpulan data yang dicantumkan harus disrtai
datanya. Memang untuk mendapatkan data yang lengkap dan objektif, penggunaan
berbagai teknik sangat diperlukan, tetapi bila suatu teknik dipandang mencukupi maka
teknik yang lain bila bila digunakan akan menjadi tidak efisien. (Sugiyono, 2011: 285)
e. Teknik Analisis Data
Penggunaan teknik analisis data memerlukan pemilihan jenis uji yang akan
diterapkan. Masing-masing jenis uji yang akan diterapkan. Masing-masing jenis uji
memiliki kekhususan konsep interpretasi sehingga kita harus menentukan dengan tepat
jenis uji yang akan digunakan. (Awangga, 2007: 144)
Teknik pengolahan data berkaitan dengan analisis data selanjutnya dalam
mengambil kesimpulan dari hasil penelitian setelah dikomparasikan dengan hipotesisnya.
(Awangga, 2007: 144)
Teknik analisis data berkenaan dengan perhitungan untuk menjawab rumusan
masalah dan pengujian hipotesis yang diajukan. Bentuk hipotesis mana yang diajukan,
akan menentukan teknik statistik mana yang digunakan. Jadi, sejak membuat rancangan
telah ditentukan. Apabila peneliti tidak membuat hipotesis, maka rumusan masalah
penelitian itulah yang perlu dijawab. Akan tetapi, apabila peneliti tidak membuat
hipotesis, maka rumusan masalah penelitian itulah yang perlu dijawab. Apabila hanya
rumusan masalah itu dijawab, maka sulit membuat generalisasi, sehingga kesimpulan

yang dihasilkan hanya dapat berlaku untuk sampel yang digunakan, tidak dapat berlaku
uintuk populasi. (Sugiyono, 2011: 285)