Anda di halaman 1dari 11

A Womans Dua For Her Future Husband

March 10, 2012 in Uncategorized | Leave a comment

O Allah! Please grant me the one


Who will be the garment for my soul
Who will satisfy half of my deen
And in doing so make me whole
Make him righteous and on your path
In all hell do and say
And sprinkle water on me at Fajr
Reminding me to pray
May he earn from halal sources
And spend within his means
May he seek Allahs guidance always
To fulfill all his dreams
May he always refer to Quran
and the Sunnah as his moral guide
May he thank and appreciate Allah
For the woman at his side
May he be conscious of his anger
And often fast and pray
Be charitable and sensitive
In every possible way

May he honor and protect me


And guide me in this life
And please Allah! Make me worthy
to be his loving wife
And finally, O Allah!
Make him abundant in love and laughter
In taqwa and sincerity
In striving for the hereafter!
May Allah grant all the Muslim sisters with such husbands Ameen ya rabb
-taken from ILoveAllaah.comI have one more wish
I hope that my future husband has the same dream like me
To have children!!
And didnt think to much about how to raise the children
And didnt make me wait for a long time
wow thats 3 lol

Hukum Ikhtilath Dalam Pendidikan


Juni 26, 2010 pada 2:34 am (Fikih)
Allah yang maha tahu dan bijaksana telah menurunkan syariat Islam yang mulia ini untuk
kemaslahatan seluruh komponen makhluk yang ada di dalamnya. Khususnya manusia, sebagai
makhluk yang telah dilebihkan atas sekalian makhluk lainnya, maka syariat yang mulia ini
berfungsi untuk menjaga lima hal pokok yang merupakan penopang hidup mereka, yaitu; agama,
akal, jiwa, nasab atau keturunan dan harta.
Salah satu syariat Allah yang berfungsi untuk menjaga hal itu adalah pengharaman zina dan
seluruh hal yang dapat menjerumuskan seseorang kepada perilaku keji tersebut. Allah berfirman;
[32/ ]
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji
dan suatu jalan yang buruk.. (al Israa; 32). Dalam ayat ini tergambar kemahabijakan Allah yang
tidak saja mengharamkan perbuatan zina, tetapi juga melarang mendekati perbuatan itu, yaitu
dengan melakukan hal-hal yang dapat menjerumuskan seorang kepada perbuatan keji tersebut.
Diantara hal yang dapat menjerumuskan seorang kepada perbuatan keji itu wal iyaadzu billahadalah ikhtilath, yang berarti; bercampurnya antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram
dalam satu tempat yang memungkinkan mereka untuk saling melihat dan melakukan interaksi

langusng tanpa adanya batasan. Perbuatan ini diakui atau tidak- adalah salah satu sebab terbesar
terjerumusnya seseorang dan masyarakat secara umum kepada perzinahan. Imam Ibnu al
Qayyim rahimahullah- berkata;

Bercampurnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram (ikhtilath) adalah sebab dari maraknya
tindakan keji dan perzinahan.[1]. Lihatlah gaya hidup bebas orang-orang barat saat ini. Sebuah
gaya hidup yang telah menganggap budaya kencan dengan seluruh ritualnya sebagai sebuah
fase yang mesti dilewati oleh orang-orang yang ingin hidup berumahtangga. Lihat dan
pelajarilah !, niscaya anda akan tahu kebenaran dari pernyataan imam Ibnu al Qayyim
sebagaimana telah disebutkan-.
Olehnya, maka secara umum- al Quran dan sunnah telah mengharamkan ikhtilath. Diantara
keterangan al Quran yang berkenaan dengan itu adalah sebagai berikut;
1. Firman Allah dalam surah Yusuf, ayat 23;

(
)23:
Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan
dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: Marilah ke sini. Yusuf
berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku Telah memperlakukan Aku dengan
baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.. (Yusuf; 23). Dalam ayat
ini digambarkan hal yang terjadi ketika nabiullah Yusuf u berada dalam satu ruangan dengan istri
sang pembesar Mesir kala itu. Hingga hampir-hampir saja Beliau masuk dalam perangkap
syaithan, kalau saja bukan karena petunjuk dan pertolongan Allah. Allah berfirman;
[24/ ]
Sesungguhnya wanita itu Telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan
Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu Andaikata dia tidak melihat tanda
(dari) Tuhannya.. (Yusuf; 24)
1. Firman Allah dalam surah an-Nuur, ayat 30-31;

( 30)



[31 30/ ]

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya,
dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman:
Hendaklah mereka menahan pandangannya, . (an Nuur; 30-31). Dalam ayat ini Allah
memerintahkan laki-laki dan wanita yang bukan mahram untuk menahan pandangan mereka
terhadap lawan jenisnya, dan perintah ini tentu- tidaklah akan terlaksana manakala mereka

semua berbaur dalam satu ruangan tanpa batasan (ikhtilath). Syariat menahan pandangan ini
tiada lain ditujukan untuk menjauhkan orang-orang dari perangkap syaithan. Olehnya, maka
Rasulullah e menyatakan bahwa pandangan kepada lawan jenis yang bukan mahram secara
sengaja adalah zina yang diharamkan. Rasulullah e bersabda kepada Ali t;

Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandanganmu yang pertama (terhadap lawan jenis yang
bukan mahram) dengan pandangan yang kedua. Yang pertama itu adalah untukmu, dan yang
selanjutnya tidaklah halal bagimu.[2]. Dalam hadits lainnya, Beliau e bersabda;





Zina mata adalah memandang, zina telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina
tangan adalah memegang, zina kaki adalah melangkah, zina hati dengan berangan-angan, dan
yang membuktikannya adalah kemaluan.[3]. semoga Allah menyelamatkan kami dan seluruh
kaum muslimin dari fitnah-.
1. Firman Allah dalam surah an Nuur, ayat 31;

[31/ ]
Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka
sembunyikan.. (an Nuur; 31). Dalam ayat ini Allah melarang seorang wanita untuk
menghentakkan kakinya, yang mana dengan hentakkan tersebut akan terdengarlah bunyi gelang
kakinya yang dapat mengundang perhatian lawan jenisnya hingga terjadilah fitnah. Perhatikan !,
sedemikian Allah ingin menutup sekecil apapun celah yang dapat menjerumuskan seorang
masuk ke dalam kubangan zina. Jika saja hentakan kaki dengan sifat yang telah disebutkan
dinyatakan sebagai hal yang dapat menjerumuskan seorang ke dalam fitnah, maka bagaimana
dengan interaksi langsung dengan mereka ?!. Sedangkan Rasulullah e bersabda;

Wanita itu adalah aurat. Maka bila ia keluar dari rumahnya, syaithan pun datang menambah
elok penampilannya.[4]. Olehnya, sangatlah wajar bila dalam haditsnya yang lain Rasulullah e
bersabda;


Tiada fitnah terbesar bagi laki-laki sepeninggalku melainkan fitnah wanita.[5]. Rasulullah e
bersabda;

Takutlah kalian terhadap fitnah dunia dan fitnah wanita. Sesungguhnya awal fitnah yang
menimpa Bani Israail adalah fitnah wanita.[6].
Adapun keterangan-keterangan dari sunnah Rasulullah e tentang pengharaman ikhtilath ini
sungguh amatlah banyak, diantaranya adalah beberapa hadits yang telah diutarakan sebelumnya,
dan beberapa keterangan yang lainnya adalah;
1. Pernyataan Rasulullah e menanggapi keinginan dari istri Abu Humaid as Saaidi
radhiyallahu anhuma- untuk menghadiri shalat bersama Beliau di masjid Beliau.
Menanggapi keinginan tersebut Rasulullah e bersabda;










Sungguh saya telah mengetahui hal tersebut, namun shalat yang engkau lakukan di kamar
tidurmu lebih baik dari shalat yang engkau kerjakan di kamar-kamar lainnya; dan shalat yang
engkau kerjakan di bagian lain dari kamar tidurmu lebih baik dari shalat yang engkau laksanakan
di halaman rumahmu; dan shalat yang engkau laksanakan di halaman rumahmu lebih baik dari
shalat yang engkau laksanakan di mesjid kampungmu; dan shalat yang engkau laksanakan di
mesjid kampungmu lebih baik dari shalat yang engkau laksanakan di mesjidku ini.. Semenjak
itu, Beliau menyuruh seseorang membangun tempat shalat pada bagian terdalam dari rumahnya,
lantas Beliau terus melaksanakan shalat di tempat itu hingga berjumpa dengan Allah taala[7].
1. Hadits Rasulullah e, dari Abu Hurairah t;



Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang terdepan dan seburuk-buruknya adalah yang terbelakang.
Sebaik-baik shaf wanita adalah yang terbelakang dan seburuk-buruknya adalah yang
terdepan.[8].
1. Hadits Ibnu Umar, bahwa Rasulullah e bersabda;

Seandainya kita mengkhusukan pintu ini (pintu masjid) untuk para wanita (tentu hal itu adalah
lebih baik).[9].
Ketiga riwayat diatas dan masih banyak keterangan lainnya menyiratkan kepada kita bahwa
ikhtilat adalah hal yang tidak diinginkan di dalam Islam. Sekaligus hal tersebut menegaskan
bahwa semakin jauh seorang wanita dari laki-laki dan demikian sebaliknya, maka akan semakin
amanlah mereka dari syaithan yang telah siap membinasakan mereka dengan jaring-jaring
mautnya.
Ikhtilath Dalam Dunia Pendidikan

Tidak syak bahwa menuntut ilmu yang bermanfaat adalah sebuah ibadah yang sifatnya fardhu,
baik fardhu ain atau fardhu kifayah. Namun hal yang perlu untuk selalu diingat bahwa tujuan
menuntut ilmu adalah untuk mendapatkan ridha Allah dan untuk meraih serta memberikan
kemaslahatan yang sebesar-besarnya kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Olehnya itu, hal
yang sangat naf tentunya- bila tujuan yang sangat mulia ini pada akhirnya harus tercoreng
dengan melakukan hal yang tidak diridhai oleh Allah.
Maka setelah memperhatikan keterangan-keterangan umum yang telah disampaikan berkenaan
dengan hukum ikhtilath, dapatlah dipahami bahwa hukum ini pun berlaku juga- dalam dunia
pendidikan. Bahkan secara logika, dunia pendidikanlah yang seharusnya sangat pantas untuk
menjadi yang terdepan dalam penerapan hukum tidak ikhtilath. Hal ini disebabkan karena
dunia pendidikan adalah cermin peradaban. Baik dan bersihnya dunia pendidikan adalah cermin
dari tingginya tingkat peradaban. Sebaliknya, buruk dan kotornya dunia pendidikan adalah
cerminan dari dekadensi dan kemerosotan peradaban.
Menegaskan hal ini adalah riwayat Abu Said t, Beliau berkata;


Para sahabat wanita berkata kepada Rasulullah e, Kami tidak bisa mendatangi majelismu
wahai Rasulullah karena banyaknya laki-laki. Karenanya sisihkanlah harimu wahai Rasulullah e
untuk kami. Maka Rasulullah e pun menyiapkan satu hari buat mereka.[10]. Diambil pelajaran
dari keterangan ini bahwa pemisahan antara laki-laki dan wanita dalam kegiatan belajar
mengajar pun adalah bagian dari syariat Islam. Terlebih di era ini, dimana perkembangan
teknologi yang begitu pesat sangat memungkinkan hal tersebut, dan tidak lagi seperti dahulu
yang mesti menggunakan cara manual dengan menyediakan waktu khusus buat mereka.
Realita dan Solusi
Menimbang hukum syarI yang telah disebutkan, dan realita dunia pendidikan formal yang ada
di Negara kita tercinta ini yang hampir seluruhnya atau bahkan seluruhnya- menerapkan sistim
ikhtilath, serta menimbang kebutuhan ummat yang sangat besar terhadap orang-orang yang
memiliki kompetensi ilmu secara formal di bidangnya masing-masing; maka wallahu alammenjalani pendidikan secara ikhtilath adalah sebuah hal yang sifatnya darurat dengan beberapa
solusi yang ditawarkan agar keimanan dapat bertahan di tengah derasnya arus fitnah. Diantara
solusi itu adalah;
1. Senantiasa konsisten dalam kegiatan menuntut ilmu agama, menghadiri majelis ilmu, dan
bertanya kepada ulama dalam setiap permasalahan pelik yang dihadapi khususnyadalam interaksi dalam kampus.
2. Senantiasa berada bersama orang-orang yang memiliki komitmen dalam menegakkan
nilai-nilai Islam pada diri dan orang-orang selain mereka.
3. Menghindarkan diri dari tempat-tempat atau kegiatan-kegiatan yang dapat
menjerumuskan seorang dalam fitnah.

4. Memperbanyak doa dan ibadah kepada Allah.


Demikianlah beberapa solusi yang ditawarkan, yang diharapkan bahwa kesemuanya dapat benarbenar efektif dalam menjaga kemurnian iman seorang, dimana Allah berfirman;
[11/ ]
Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..
(at Taghaabun; 11)

[29/ ]
Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu
Furqaan [petunjuk yang dapat membedakan antara yang Haq dan yang batil]. dan kami akan
jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah
mempunyai karunia yang besar.. (al Anfaal; 29)
Harapan
Kepada para pemimpin Bangsa dan pihak-pihak yang berkompeten dalam pengambilan
kebijakan dalam dunia pendidikan; hendaknya kisruh-kisruh yang terjadi di dunia pendidikan
dewasa ini, yang telah banyak mencoreng nama baik dunia pendidikan secara umum, baik yang
dilakukan oleh oknum Mahasiswa atau bahkan- yang dilakukan oleh oknum Guru; hendaknya
seluruh hal tersebut semakin mempertebal keyakinan kita semua akan penting dan urgennya
kembali kepada syariat Allah yang benar agar cita-cita yang menjadi visi dan misi utama
pendidikan dapat tercapai.
Wallahu waliyyut taufiiq wa huwa hasbuna wa nimal wakiil
Khalwat di dunia maya
Pada topik yang lalu telah dibahas tentang pandangan Islam terhadap fonomena ikhtilath di dunia
pendidikan. Dinyatakan bahwa hukum asal ikhtilath adalah haram karena perbuatan tersebut
dapat menjadi jembatan menuju perzinahan, yang tidak syak lagi- adalah perbuatan yang
diharamkan.
Melanjutkan topik kemarin, lawan dari kata ikhtilath adalah khalwat. Kalau ikhtilath adalah
campur-campur, maka khlawat adalah bersepi-sepi alias berdua-dua dengan si Dia. Bila
diamati, ternyata keduanya sungguh amat beda. Tetapi ternyata, meski berbeda, muaranya adalah
satu, yaitu keduanya adalah celah yang rentan mengantar seorang ke gerbang perzinahan wal
iyadzu billah-; diawali dari ritual ikhtilath, pandang-pandangan, bercakap-cakap, tertawa, and
lanjutlah acaranya dengan janji berkhalwat di tepi pantai losari, pada malam minggu, jam 19.00,
on time.
Di era teknologi saat ini, berbagai cara ternyata- bisa menjadi alternativ efektif untuk meraih
hal yang diingini dari ritual khalwat; tatap-tatapan, senyum-senyuman, dan menumpahkan

seluruh isi hati; seluruhnya dilakukan dengan aman, murah, tidak capek, lebih berani, n tanpa
khawatir ada yang ngintip wah guawat juga Jalan alternativ yang dimaksud tidak lain
adalah berkhalwat di dunia maya.
Berbicara soal dunia maya , yah , sekarang, begitulah eranya. Mulai dari transaksi kecilkecilan, sampai yang besar-besar, hingga masalah cari jodoh, pun sekarang ini- dieksekusi juga
lewat dunia maya. Ngomong-ngomong soal manfaat dan mudharatnya, tentu sangatlah relativ.
Jika ditanya tentang internet, hp, dan seabrek alat komunikasi saat ini; -tentu- semua sepakat
menyatakan bahwa hukum asalnya mubah-mubah aje. Bila demikian, -jelas- bahwa hukum
seluruh fasilitas yang ada pada alat-alat canggih yang disebut tadi, -pun adalah mubah.
Tetapi jangan enjoy dulu , perlu diketahui bahwa segala yang mubah, status hukumnya
mungkin saja berubah menjadi wajib, sunnah, haram atau makruh. Dalam sebuah kaidah fiqhi
dinyatakan;

Hukum sarana yang digunakan sama dengan tujuan penggunaanya.. Nuklir, bila digunakan
untuk kemaslahatan, maka memanfaatkannya adalah baik. Tetapi jika digunakan untuk
menghancurkan dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa, maka hukumnya so pasti
adalah haram.
Bila ada yang nanya; Apa sih zina itu, dan bagaimana hukumnya ?. Dikatakan bahwa zina itu
adalah masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan wanita yang bukan pasangan syah
secara sengaja tanpa syubhah (iih vulgar banget, maaf yah !!). Ini adalah pengertian zina secara
baku, dan sudah tentu hukumnya adalah haram. Lantas bagaimana dengan pandang-pandangan,
pegang-pegangan, out bond dengan orang-orang yang bukan mahram, ikhtilath dan
berkhalwat ???. Ternyata, agama pun menggolongkannya sebagai perbuatan zina. Mengapa yah
???. Jawabannya; karena seluruh hal itu adalah hal yang sangat rentan mengantar seorang ke
gerbang perzinahan. Olehnya itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam- bersabda;



Sesungguhnya Allah telah menetapkan bahwa seorang anak Adam pasti akan terjerat dalam
(bentuk) perzinahan. Zinanya mata adalah melihat, zinanya lisan adalah berbicara, hati
berkeinginan dan berangan-angan, dan yang membuktikan itu semua adalah kemaluan.[11].
Nah, dari uraian ini jelaslah bahwa berkhalwat itu adalah haram. Tentang perbuatan ini, secara
khusus- Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam- bersabda;

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia berdua-duaan dengan
seorang wanita yang bukan mahramnya tanpa ditemani oleh mahram dari sang wanita, karena
sesungguhnya yang ketiga adalah syaithan.[12]. Hukum nih berlaku di dunia nyata, lantas gimana

hukum yang berlaku di dunia maya?. Untuk mengetahui jawabannya, perlu diketahui dua kaidah
fiqh berikut. Kaidah Pertama;

Asal dari hukum-hukum syariat bahwa penetapan hukum-hukum itu disebabkan karena adanya
illat (sebab) tertentu.[13]. Pertanyaan; mengapa khalwat diharamkan ?. Jawabannya
-sebagaimana disebutkan- karena pekerjaan itu adalah jembatan yang bisa mengantar seorang
kepada perzinahan. Bertolak dari kaidah ini, marilah disimak masalah berkhalwat di dunia maya.
Pertanyaan; apakah kekhawatiran yang timbul akibat berkhalwat (dalam wilayah dunia nyata)
pun adalah sama dengan kekhawatiran yang timbul akibat berkhalwat di dunia maya ?. Dalam
tataran waaqie (realita), -ternyata- jawabannya adalah ya. Kalau demikian, berikut ini adalah
kaidah kedua;

Hukum dari sebuah masalah yang bersinggungan dengan sebab tertentu akan senantiasa sejalan
dengan keberadaan atau ketidakberadaan sebab tersebut.[14]. Nah ni dia kata kuncinya,
maksudnya bahwa ketika sebab diharamkannya berkhalwat dalam tataran dunia nyata, juga ada
dalam tataran dunia maya; maka hukumnya pun tentu- adalah sama.
Mengakhiri tulisan ini, ingatlah senantiasa beberapa pesan agama berikut;

Firman Allah;
[32 :} { ]

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam- bersabda;



Tidaklah saya meninggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melainkan fitnah
wanita.[15]. Olehnya, waspadalah waspadalah !!!.
Semoga Allah senantiasa menjaga kaum muslimin dari segala fitnah, yang nampak maupun yang
tersembunyi. Wa huwa hasbuna wa nima al wakiil.
[1] At Thuruk al Hukmiyyah, oleh Imam Ibnu al Qayyim, hal. 379
[2] HR. Abu Daud, no. 1837
[3] HR. Muslim, no. 4802
[4] HR. Tirmidzi, no. 1093

[5] HR. Bukhari, no. 4706


[6] HR. Muslim, no. 4925
[7] HR. Ahmad, no. 25842
[8] HR. Muslim, no. 664
[9] HR. Abu Daud, no. 391
[10] HR. Bukhari, no. 99
[11] HR. Bukhari, no. 6243
[12] HR. Ahmad, no. 14651
[13] al Maqaashid Inda al Imam as Syaathibi, Diraasah Ushuliyyah Fiqhiyyah, oleh Mahmud
Abdu al Haadi, (1/119)
[14] Ilaam al Mauwaqqiien An Rabbi al Alaamiin, (4/108)
[15] HR. Bukhari, no. 5096