Anda di halaman 1dari 6

SISTEM PROTEKSI TEGANGAN RENDAH

a. Jaringan tegangan rendah


Jaringan tegangan rendah berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik
dari Gardu Distribusi ke Konsumen tegangan rendah. Tegangan rendah
yang digunakan PT. PLN ( persero) adalah 127/220 V dan 220/380 V.

b. Radius operasi jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi


oleh
-Susut tegangan yang disyaratkan.
-Luas penghantar jaringan.
-Distribusi pelanggan sepanjang jalur disribusi.
-Sifat daerah pelayanan(desa/kota).

c. Konstruksi Jaringan Tegangan Rendah (JTR) Konstruksi JTR


terbagi atas :
a) Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR)
SUTR merupakan jaringan kawat yang berisolasi maupun tidak
berisolasi. Bagian utama dari SUTR kawat tak berisolasi adalah
tiang listrik (besi, beton), Cross Arm, Isolator dan penghantar
Aluminium / Tembaga (Cu)
b) Saluran Kabel Udara Tegangan Rendah (SKUTR)
Kabel yang digunakan adalah jenis XLPE yang lebih dikenal dengan
nama LVTC ( Low Voltage Twisted Cable). Jenis kabel ini
direntangkan di antara tiang penyangga. Bagian utama adalah
tiang, kabel dan suspension Clamp Bracket, yang berfungsi untuk
menahan kabel pada tiang. Kabel jenis ini sekarang banyak
digunakan dalam pemasangan JTR baru karena dianggap kontruksi
jenis ini lebih handal.

d. Perlengkapan Utama Sitem jaringan Rendah


1. Tiang
Berfungsi Untuk meletakkan penghantar serta perlengkapan system
seperti transformator, Fuse, isolator, arrester, recloser dan sebagainya.
Tiang dibagi menjadi 3 jenis yaitu tiang kayu, besi dan beton sesuai
dengan fungsi bawah tanah.
2. Penghantar
Berfungsi sebagai penyalur arus listrik dari trafo daya pada gardu
induk ke konsumen. Kebanyakan penghantar yang digunakan pada

sistem distribusi . Begitu juga dengan beberapa kawat jaringan bawah


tanah.
3. Kapasitor
Berfungsi untuk memperbesar factor daya pada system penyaluran.
4. Recloser
Berfungsi untuk memutuskan saluran secara otomatis ketika terjadi
gangguan dan akan segera menutup kembali beberapa waktu
kemudian sesuai dengan setting waktunya. Biasanya alat ini disetting
untuk dua kali bekerja, yaitu dua kali pemutusan dan dua kali
penyambungan . Apabila hingga kerja recloser yang kedua keadaan
masih membuka dan menutup, berarti telah terjadi gangguan
permanen.
5. Fuse
Berfungsi untuk memutuskan saluran apabila terjadi gangguan beban
lebih maupun adanya gangguan hubung singkat.
6. PMT
Berfungsi untuk memutuskan saluran secara keseluruhan pada tiap out
put. Pemutusan dapat terjadi karena adanya gangguan sehingga
secara otomatis PMT akan membuka ataupun secara manual
diputuskan karena adanya pemeliharaan jaringan.
7. Tansformator
Berfungsi untuk menurunkan level tegangan sehingga sesuai dengan
tegangan kerja yang diinginkan
8. Isolator
Berfungsi untuk melindungi kebocoran arus dari penghantar ke tiang
maupun ke penghantar lainnya.
Perlengkapan perlengkapan diatas sangat penting keberadaannya,
terutama untuk peralatan proteksi. Agar dapat bekerja dengan baik dan
terjaminnya kontinuitas pelayanan, maka harus dilakukan pemeliharaan
secara rutin untuk mengetahui kerusakan dan kehandalan dari masingmasing peralatan tersebut. Pemeliharan peralatan yang rutin sangat penting
dilakukan agar setiap saat dapat diawasi keadaannya apakah masih layak
dipakai atau tidak.

1.4.TransformatorDistribusi
Transformator adalah salah komponen elektro yang berkerja untuk menaikan
tegangan serta menurunkan tegangan dengan perinsip kerja gandengan
elektromagnetik. Dalam sistem distribusi tenaga listrik transformator dapat
dibagi berdasarkan sistem kerja menjadi dua macam yaitu: 1. Transformator
Step Up ( 11,6 KV menjadi 150 KV ) 2. Transformator Down ( 150 KV menjadi
20 KV ) dan ( 20 KV menjadi 380 / 220 Volt ) Sistem distribusi menggunakan

jenis transformator
diinginkan.

step

down

untuk

menghasilkan

tegangan

yang

Berdasarkan jenis belitan transformator yang digunakan maka dalam sistem


tenaga listrik terdapat dua macam jenis belitan antara lain:
1.Belitanbintang

2.Belitandelta

1.5.Arester
Arrester adalah suatu alat untuk melindungi isolasi atau peralatam listrik
terhadap tegangan lebih yang diakibatkan oleh sambaran petir atau
tegangan transient yang tinggi dari suatu penyambungan atau pemutusan
rangkaian (sirkuit), dengan jalan mengalirkan arus denyut (Surge Current)
ketanah serta membatasi berlangsungnya arus ikutan (Follow Current) serta
mengembalikan keadaan jaringan ke keadaan semula tanpa mengganggu
sistem.
PrinsipKerjaArester
Bagi sebuah arester bila terjadi tegangan lebih pada jaringan ,
aresterberkerja dengan mengalirkan arus surge ( Surge Current ) ketanah ,
kemudian setelah tegangan normal kembali, arester tersebut harus segera
memutus arus yang mengikuti kemudian Follow Current.

KarakteristikArrester
Sebuah alat pengamanan memiliki beberapa karakteristik begitu juga
dengan arrester yang memiliki beberapa karakteristik antara lain :
a. Pada tegangan operasional, harus mempunyai impedansi yang sangat
tinggi
atau
tidak
menarik
arus
listrik
b. Bila mendapat tegangan transient abnormal diatas harga tegangan
tembusnya , harus tembus ( Break Down ) dengan cepat.
c. Arus pelepasan selama Break Down ( Tembus ) tidak boleh melebihi arus
pengelepasan
nominal
supaya
tidak
merusak.
d. Arus dengan frekwensi normal harus diputuskan dengan segera apabila
tegangan transien telah turun dibawah harga tegangan tembusnya.
1.6.
Rel
Daya
Rel daya adalah suatu bagian dari sistem tenaga listrik yang bertujuan dalam
penggunaannya untuk mengkombinasikan bermacam feder yang akan turut
dibagi dalam melayani beban. Dalam sistem tenaga listrik Rel daya disebut
juga dengan istilah Busbar. Busbar adalah konduktor berkapasitas arus besar
yang berfungsi untuk terminal penampang arus yang masuk dan keluar
melalui saluran masuk dan keluar melalui gardu induk. Busbar atau rel daya
juga berfungsi untuk titik pertemuan atau hubungan antara transformator
transformator, SUTT dan peralatan-peralatan listrik lainya untuk menerima
dan mendistribusikan tenaga listrik . Rel ini pada umunya terdiri dari bahan
tembaga , alumunium atau ACSR.
1.7.
Sistem
Busbar
Tunggal
(
Single
Busbar
Sistem
)
Pada sistem ini semua trafo, generator dan fedder yang ada pada system
dihubungkan kebusbar. Rel daya tunggal adalah sistem rel daya yang paling
sederhana karena hanya menggunakan satu rel daya saja. Semua rangkaian
baik saluran masuk ataupun saluran keluar disambungkan dengan rel
tersebut
melalui
pemutus
daya
dan
saklar
pemisah.

1.8.Recloser(PemutusBalikOtomatis)
Salah satu tujuan pengamanan sistem tenaga listrik ialah terjaminnya
penyaluran tenaga listrik, artinya bila terjadi gangguan (misalnya gangguan
pada sistem distribusi yang sering terjadi) kalau mungkin tidak menimbulkan
pemutusan daya, ataupun bila terpaksa, pemutusan tersebut diusahakan
sesingkat mungkin. Peralatan yang bertugas untuk memberikan perintah
memutus / menghubungkan daya secara otomatis adalah Pemutus Balik
Otomatis(PBO) atau Recloser. Dengan penambahan rele penutup balik maka
gangguan sementara tidak mengakibatkan pemutusan daya secara
keseluruhan, atau hanya terjadi pemutusan daya dalam waktu yang sangat
singkat (beberapa detik). Klasifikasi Recloser Recloser dapat diklasifikasikan
sebagai
berikut:
a.
Menurutjumlahfasanya

Fasa
tunggal

Fasa
tiga
b. Menurut media peredam busur api Media minyak 6 Media hampa udara
(vacum)
c. Menurut peralatan pengendalinya Pengaturan hidrolik Pengaturan
elektronik
1.9.Sectionalizer
Sectionalizer atau yang disebut juga saklar seksi otomatis (SSO) adalah
sebuah alat pemutus beban yg secara otomatis dapat dibebankan, seksiseksi yang tergantung dari suatu sistem distribusi atau dapat melokalisasi
gangguan pada seksi yang terganggu, sehingga sistem yang tidak
mengalami
gangguan
tetap
mendapat
energi
listrik.
Saklar seksi otomatis (SSO) bekerja sendiri untuk membuka rangkaian
setelah perhitungan operasi pemutusan dari peralatan-peralatan disisi
sumbernya, dan pembukaannya dilakukan pada saat peralatan disisi sumber
sedang dalam posisi terbuka. Dalam pemasangannya dapat diperlihatkan
pada
bagan
dibawah
ini: