Anda di halaman 1dari 21

KELOMPOK 8:

1. Sariningsih(1600031045)
2. Ibnu ahmad alhamidi (1600031039)
3. Ikhasan Redi (1600031016)
4. Nyimas wulandari(1600031008)

Abstact
Religious and cultural diversity is a pluralism in Indonesia. pluralism is a
necessity that must have happened in the world and the way to resolve it is to
respect their attitude. pluralism that every religion demanded not only
recognizes the existence and rights of other religions, but are involved in the
effort to understand the differences and similarities in order to achieve harmony
in diversity. According to Alwi Shihab

Kata Pengantar
Alhamdulillah, dengan izin dan rahmat Allah Subhanawataala serta hidayah dan
inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Metodologi
Studi Islam tahun 2016/2017.
Berkat rahmat dan hidayah-Nya serta dengan kemauan dan dorongan untuk
menyelesaikan tugas makalah, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang
membahas tentang Isu Pluralisme dalam Studi Islam sebagai tugas perkuliahan serta
sebagai wawasan pengetahuan dalam mengetahui pluralisme dalam mempelajari islam.
Kami

menyadari

bahwa

dalam

proses

penulisan

makalah

ini

terdapat

ketidaksempurnaan, karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan. Untuk itu kami memohon
kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga dalam menyusunan makalah selanjutnya
akan lebih baik lagi dan bermanfaat. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan
pembaca.

Yogyakarta, 5 Desember 2016

penulis

ii

DAFTAR ISI
Abstact.........................................................................................................................................i
KataPengantar............................................................................................................................ii
Daftar Isi...................................................................................................................................iii
Bab I Pendahuluan.....................................................................................................................1
A. Latar Belakang...............................................................................................................1
B. Rumusan masalah...........................................................................................................1
C. Tujuan penulisan............................................................................................................2
Bab II Pembahasan.....................................................................................................................3
A. Pengertian Pluralisme.....................................................................................................3
B. Pluralisme dalam Berbagai Konteks..............................................................................9
C. Teori-Teori dalam Pluralisme dan Teori Pluralisme Menurut Para Ahli.....................12
D. Sejarah Perkembangan Pluralisme di Dunia Islam......................................................14
E. Pluralisme dalam Perspektif al-Quran........................................................................17
F. Analisis Isu Pluralisme.................................................................................................19
Bab II Penutup..........................................................................................................................21
A. Kesimpulan...................................................................................................................21
B. Kritik dan Saran...........................................................................................................21
Daftar Pustaka..........................................................................................................................22

iii

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dalam hidup ini tentu memiliki banyak perbedaan, perbedaan atau dalam
bahasa Inggris pluralisme yang terdiri dari kata pluralyang berarti beragam dan
isme yang berarti pemahaman atau bisa disebut juga dengan bermacam-macam
paham/pemahaman.1
Dalam islam itu sendiri pluralisme dianggap wajar bagi orang tertentu.
Karena di Indonesia sendiri perbedaan-perbedaan itu sangat terasa adanya, di dalam
islam itu sendiri perbedaan penafsiran suatu ayat al-quran dan hadis akan
menyebabkan perbedaan pengertian dan pemahaman. Dalam hal ini kajian pluralisme
dalam metodologi studi islam menjadi kajian yang bisa memberikan pengertian yang
baik tentang apa itu perbedaan dalam kajian islam.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pluralisme dalam metodologi studi islam?
2. Apa saja teori-teori dalam pluralisme?
3. Bagaimana sejarah dan perkembangan isu pluralisme dalam dunia islam?
4. Bagaimana persepektif al-Quran terhadap pluralisme?
5. Bagaimana analisis dari isu pluralisme itu?

C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui pengertian dari pluralisme
2. Mengetahui pengertian pentingnya pluralitas dalam studi islam
3. Mengetahui dan memahami teori teori dari pluralisme
4. Mengetahui perkembangan dari pluralisme dalam dunia Islam
5. Mengatahui perspektif al-Quran terhadap pluralisme dalam keberagamaan.
6. Mengetahui analisis dari isu pluralisme.

www.wikipedia.com pengertian pluralisme

Bab II
Pembahasan
A. Pengertian pluralisme
Pluralisme berasal dari kata plural yang berarti banyak dan jamak dan kata isme
yang berarti paham atau gagasan. Jadi pluralisme adalah suatu paham atau teori yang
menganggap bahwa realitas terdiri dari banyak substansi2. Dalam perspektif ilmu sosial,
pluralisme yang meniscayakan adanya diversitas atau perbedaan dan keberagaman dalam
masyarakat yang memiliki dua sisi yang berbeda yaitu konsesus dan konflik. Konsesus
mengandaikan bahwa masyarakat memiliki latar belakang yang berbeda-beda itu akan
bertahan hidup(survive) karena setiap anggotanya menyepakati aturan kebersamaan yang
harus ditaati,sedangkan konflik justru memandang bahwa masyarakat yang berbeda-beda itu
akan bertahan hidup karena adanya konflik. Teori ini tidak menafikan adanya keharmonisan
dalam masyarakat. Keharmonisan terjadi bukan karena adanya kesepakatan bersama, tetapi
terjadi karena adanya pemaksaan kelompok kuat terhadap kelompok yang lemah.3
Pluralitas memang merupakan realitas sosiologi yang mana dalam kenyataanya
masyarakat memang plural atau berbeda-beda. Plural pada initinya menunjukan lebih dari
satu paham. Dengan demikian pluralisme adalah paham atau sikap terhadap keadaan
majemuk atau banyak dalam segala hal diantaranya sosial, budaya, politik dan agama4.
Sedangkan makna pluralisme dalam beragama berkaitan dengan usaha membangun
pemahaman yang lebih komperhensif terhadap makna pluralisme agama, penting untuk
memahami tentang pengertian yang lebih utuh terhadap pluralisme agama. Walaupun kata
agama lebih dikenal baik dan menjadi bagian yang lekat dengan kehidupan manusia, namun
tidak mudah untuk membuat rumusan agama yang diterima secara luas. Hal ini disebabkan

Pius A. P, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Popular, (Surabaya: Arkola, 1994), Cet. Ke-1,
h.604.
3

Umi Sumbulah, Islam Radikal Dan Pluralism Agama, (Malang: Badan Litbang Dan
Diklat Kementrian Agama RI. 2010),
4

Mabadiul Chomsah, Pluralism Dalam Perspektif Islam, Dalam Http://Penabutut.Com


(30 Desember 2012).

karena agama selalu diterima dan dialami secara subjektifitas. Sebagai konsekuensinya,
manusia sering kali mendefinisikan agama sesuai dengan pengalaman dan penghayatan yang
dianutnya. Rumusan semacam ini tentu subjektif dan tidak mudah diterima oleh mereka yang
menganut agama dan memiliki pengalaman yang berbeda. Implikasi, definisi dan
pengertian,dan pemahaman agama sangat beragam, tergantung kepada siapa yang
mendifinisikannya
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab sulitnya membuat definisi ini, karena
pengalaman agama itu adalah soal batin dan subjektif. Selain itu, pengalaman agama juga
sangat individualistis. Setiap orang mengartikan agama sesuai dengan pengalaman agamanya
sendiri. Orang yang bertukar pikiran atau diskusi tentang pengalaman agama jarang
memperoleh kesamaan, pemahaman, pengalaman dan kesepakatan berkaitan dengan apa
yang didiskusikan. Kedua, barangkali tidak ada orang yang begitu bersemangat dan
emosional lebih daripada membicarakan persoalan agama.
Wacana pluralisme secara umum tidak hanya muncul disebabkan oleh adanya
kemajemukan(pluralitas) masyarakat, adanya keanekaragaman dalam berbagai bidang
kehidupan serta struktur masyarakat yang terdiri atas berbagai suku dan agama. Lebih dari itu
dalam realitas keragaman tersebut yang lebih penting adalah membangun pertalian sejati
kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban(genuine engagementof diversities within on
bounds of civility). Bahkan, dikatakan bahwa pluralisme merupakan keharusan bagi
keselamatan umat manusia yang diantaranya dapat dilakukam melalui mekanisme
pengawasan dan pembimbingan diantara kelompok masyarakat. 5
Secara lebih terperinci pluralisme merupakan keberadaan atau toleransi keberagaman,
etnik atau kelompok-kelompok kultural dalam suatu masyarakat atau negara serta keragaman
kepercayaan atau sikap dalam suatu badan, kelembagaan dan sebagainya. Pluralisme
semacam ini disebut dengan konsep pluralisme sosial. Untuk merealisasikan dan mendukung
konsep tersebut diperlukan adanya toleransi. Sebab, toleransi tanpa adanya sikap pluralistik
tidak akan menjamin tercapainya kerukunan antar umat beragama yang langgeng. Demikian
juga dengan sebalikanya6.

Budhy Munawar-Rahman, islam pluralis: wacana Kesetaraan Kaum Beriman (Jakarta:


Paramadiana,2011),h.31
6
Alwi Sihab, islam inklusif, Menuju sikap yang terbuka dalam Beragama (Bandung: Mizan,1995),h.14

Pluralisme agama adalah realitas yang tidak mungkin untuk ditolak.ia telah ada,
menjadi bagian dari kehidupan seharhidup sehari-hari, dan menjadi salah satu hal yang
mewarnai dunia dewasa ini.7 Manusia hidup dalam pluralisme dan merupakan bagian dari
pluralisme itu sendri, baik secara pasif maupun aktif, tak terkcuali dalam hal keagamaan.
Pluralisme agama juga merupakan tantangan khusus yang dihadapi agama-agama
dunia dewasa ini. Dan seperti pengamatan Coward,8 setiap agama muncul dalm lingkungan
yang plural ditinjau dari sudut agama dan membentuk dirinya sebagai tanggapan terhadap
pluralisme tersebut.Jika tidak dipahamisecara benar dan tarif oleh pemeluk agama,pluralisme
agama akan menimbulkan dampak, tidak hanya berupa konflik antarumat beragama,tetapi
juga konflik sosial dan disintegrasi bangsa.
Anilisis David Tracy meyebutkan bahwa di antra agama-agama yang ada di dunia ini
memang tidak ada yang memiliki esensi tunggal, yang ada di dunia ini memang tidak ada
muatan tunggal tentang pencerahan atau wahyu, tidak ada cara tunggal emansipasi atau
lieberasi yang dibangun dalam semua pluralitas itu.Ada perbedaan penafsiran tentang Tuhan
itu sendiri: God,Emptiness,the One,Nature,the Many. Ada perbedaan pemahaman mengenai
apa yang diwahyukan oleh Tuhan tentang Tuhan dan tentang diri kita dalam hubungan kita
tentang harmoni dan disharmoni dengan Tuhan tersebut. Ada perbedaan penafsiran tentang
cara apa yang harus kita ikuti untuk mengubah (pandangan kita) dari pemusatan diri secara
fatal menuju pemusatan kepada Tuhan secara bebas. Tetapi diskursus dan cara-cara agama
seperti itu kadang-kadang bisa saling melengkapi, dan pada batas tertentu, melengkapi
beberapa aspek yang belum maju dari yang lain, tetapi pada saat yang sama juga bisa saling
mengganggu dan melenyapkan.9
Dengan demikian Pluralisme agama bisa dipahami dalam tiga sudut pandang.
Pertama, sosial yaitu semua agama berhak untuk ada dan hidup artinya semua umat
beragama sama-sama belajar untuk toleran, dan menghormati iman atau kepercayaan dari
setiap penganut agama. Kedua, etika

atau

moral yaitu

semua umat

beragama

memandang bahwa moral atau etika dari masing-masing agama bersifat relative dan sah
apabila umat beragama menganut pluralisme agama dalam nuansa atis, maka didorong
untuk tidak menghakimi penganut agama lain. Ketiga teologi filisofis yaitu agama-agama
7

Harnold Coward, pluralism Challenge to World Religion (Maryknoll NY: Orbis Books, 1985), h.5
Ibid,h.167
9
David Tracy, plurality and ambiguity, Hermeneutic,Religion, Hope(Chicago:University of Chicago, press, 1985)
h.89-90
8

pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama menyelamatkan artinya semua agama
menuju pada ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian arti pluralisme berkepercayaan
dapat didefinisikan meliputi dua kategori sebagai berikut:
a. Kebebasan beragama : perbedaan dan keragaman agama- agama yang hidup
bersama dan berdampingan tercakup dalam definisi kebebasan beragama. Agamaagama tersebut diperkenankan untuk dipeluk dan diyakini secara bebas oleh setiap
individu yang memilihnya menjadi pegangan hidup.
b. Kebebasan berkepercayaan : merupakan istilah yang merujuk kepada pandangan
hidup-pandangan hidup atau posisi non keagamaan atau sekuler yang tercakup
dalam kebebasan berkepercayaan.10

Pluralisme dalam Berbagai Konteks


Dikalangan umat islam di Indonesia sendiri, pluralisme paham keagamaan itu eksis
dan dapat kita amati dan kita saksikan. Ada kelompok umat islam yang melakukan tahlil bagi
orang yang meninggal dunia, ada pula yang tidak. Ada yang memakai qunut saat shalat
shubuh, ada yang tidak. Ada yang memakai metode ruqyah dalam menentukan awal puasa
bulan ramadhan, ada yang menggunaka metode hisab. Ada yang melakukan ajaran agama
dengan cara tarekat, ada juga yang tidak mempraktikan ajaran tarekat. Beda paham
keagamaan, beda amalan. Ini yang namanya pluralisme paham dan tradisi keagamaan.
Pluralisme budaya juga eksis dikalangan umat Islam di Indonesia. Budaya muslim
minang berbeda dengan budaya muslim di Aceh. Budaya muslim Sunda berbeda dengan
budaya muslim Betawi, tidak sama dengan budaya muslim di Kalimantan Selatan dan
berlainan dengan budaya muslim Jawa. Hal ini dapat dilihat misalnya pada corak kesenian,
tari-tarian, pakaian adat, atau upacara perkawinan. Itu semua menunjukan secara jelas tentang
adanya pluralitas( kemajemukan) dan pluralisme ( paham kemajemukan) dalam kehidupan
masyrakat muslim di indonesia. Di kalangan umat Islam Indonesia, pluralisme politik juga
ada. Kita lihat misalnya ada PPP( partai keadilan sejahtera) dan PAN ( partai Amanat
Nasional, PKS(Partai keadilan Sejahtera). Masing-masing partai mempunyai visi, misi, garis
perjuangan dan kultur politik sendiri-sendiri.

10

Zakiyudin Baidhawi, Kredo. Kebebasan beragama( Jakarta:PSAP.2006). hal 3.


Wasid, Gus Dur Sang Guru Bangsa: pergolakan Islam dan kemanusiaan (Yogyakarta: Interpena,2010) hal 116

Para pendukung atau basis massa dari masing-masing partai itu juga mempunyai latar
belakang sosial ekonomi dan pendidikan yang berbeda. Realitas ini menunjukan adanya
pluralisme politik islam di pentas nasional. Kalau kita menoleh ke belakang dan membaca
sejarah Islam secara cermat, kita lihat di zaman sejarah Islam klasik sudah ada pluralisme
paham

keagamaan

seperti

terliahat

pada

beragamnya

aliran-aliran

dalam

ilmu

kalam(misalnya aliran jabariah, Mujassimah, Asyariah, Maturidiah, dll.


Penggunaan kata plural, pluralitas dan pluralisme dapat dipadankan dengan
penggunaan kata modern, moderinitas dan moderinisme, dan intelektualisme. Kata plural
dipakai kalau menunjukkan sifat yang melekat pada sesuatu(misalnya masyarakat plural) kata
pluralisme dipergunakan kalau membicarakan tentang keadaan atau fakta yang bercorak
plural( misalnya pluralitas budaya) Kata pluralitas dipergunakan kalau membicarakan tentang
keberagaman pandangan atau kemajemukan paham atau pemikiran(misalnya pluralime
politik, pluralisme pemikiran, pluralisme hukum atau filsafat); jadi inti dari dari pengertian
kata plural, pluralitas dan pluralisme adalah kemajemukan, kebinekaan, keragaman, bukan
penyamaan.
Istilah pluralisme budaya sangat berdekatan dan sangat erat hubungannya dengan
istilah multikulturalisme. Kedua istilah ini memiliki makna dan pengertian yang saling terkait
dan

saling

bersentuhan.

Dalam

pluralisme

budaya

terkandung

pula

pengertian

mulitikulturalisme dan dalam multikulturalisme terkandung adanya pluralistas budaya.


Dalam pluralitas budaya terkadung pengertian multiagama terkandung pengertian pluralitas
agama.
Multikultural adalah paham atau pandangan yang mengakui dan menghargai adanya
multikultural dalam kehidupan masyrakat. The Radom House Dictionary of the English
Language mendefinisikan multikulturalisme sebagai:
The state or condition of being multicultural: the preservation of different cultures or
cultural identities within a unified society, as a state or nation. 11
Kondisi yang bercorak multikultural; pemeliharaan dan pelestarian kebudayaankebudayaan atau identitas-identitas budaya yang berbeda-beda dalam suatu masyrakat yang
dipersatukan, seperti yang terdapat di sebuah negara atau bangsa).

11

Lihat The Random House Disctionary of the English Language, edisi kedua( New York: Radom House, Inc.,
1987), hlm. 1263

Keterkaitan antara pluralisme dalam studi islam adalah bahwa dalam pembelajaran
pendidikan meliputi sifat keterbukaan yang bersifat inklusif. Terhadap Pendidikan Islam
Inklusif-Pluralis
1. Denisi Pendidikan Islam Inklusif-Pluralis
Pendidikan Islam inklusif-pluralis adalah usaha menjaga, mengembangkan,dan
mengarahkan trah dan potensi manusia secara maksimal sehingga terwujudlah insan kamil
yang berkesadaran al-Tauhid sebagai perspektif fundamental dalam melintas batas sekatsekat formalitas-lahiriyah berbagaikelompok agama dan etnis atau tradisi budaya sehingga
terjalin adanya sikap saling menghargai dan memahami.Dalam pendidikan ini ditanamkan
ajaran esoteris-transendental-universal kepada peserta didik, yaitu ajaran tentang kesatuan
hakikat ketuhanan yang melintas batas. langkah nilai-nilai transendental berupa penyatuan
dengan Yang Esa. Dengan demikian, esensi pengetahuan harus terpisah dengan kesucian.
Menurut Nasr, setiap subtansi pengetahuan merupakan pengetahuan tentang Realitas
yang merupakan Subs-tansi Tertinggi. Melalui intelegensi, seseorang dapat mengetahui Yang
Absolute (Seyyed Hossein Nasr: 1997, 1). Namun, dalam realitas modernitas manusia
modern telah kehilangan sense of wonder, yaitu hilangnya pengetahuan kesucian (Seyyed
Hossein Nasr: 1997, 1). Hal ini disebabkan karena adanya reduksi intelek kepada penalaran
dan pembatasan intelegensi kepada kelicikian dan kecerdikan dalam dunia modern (Seyyed
Hossein Nasr: 1997,1).
Dengan demikian menurut Nasr, diperlukan sebuah solusi yaitu kembali kepada jalan
tradisi. Pemakaian istilah tradisi di alam pengertian kontemporer ini menjadi bagian penting
bagi peradaban Barat, karena Barat telah mendesakralisasi pengetahuan dan kehidupan dunia
manusia modern.Formulasi titik pandang tradisional adalah sebuah respons kesucian yang
merupakan awal maupun akhir kehidupan manusia terhadap ratapan malapetaka kelalaian
manusia modern terhadap Realitas Ultimate (Seyyed Hossein Nasr: 1997, 1).
Secara epistemologik dalam pendidikan Islam kualitas akal budi manusia akan
berguna dan memenuhi harapan bilamana ia mampu mengapresiasi tradisi dan warisan nilainilai budaya Islam dari para pendahulunya, dan selanjutnya menerapkannya untuk merespon
problematika dunia modern, sehingga menjadikan tradisi sebagai perspektif dan prospektif
terhadap kompleksitas dunia modern. Dalam pendidikan ini sangat akomodatif terhadap
tradisi dan dapat diaplikasikan sesuai dengan problematika yang dihadapi.Pendidikan ini
memberi bekali pengetahuan kepada peserta didik tentang makna, subtansi, sumber
kebenaran agama dan bagaimana berpartisipasi dalam rangka mengkonstruksi kesadaran
7

esoterik, yaitu menyeru kepada seluruh umat manusia untuk kembali ke jalan Tuhan dalam
segala aktitas kemanusiaan.
a. Aksiologi
Secara aksiologi, peserta didik ditanamkan sikap toleransi yaitu sikap saling
menghargai adanya perbedaan partikular agama-agama dengan mengusung tiga brand yaitu
mutual trust,mutual respect, dan mutual understanding(Masngud, dkk: 2010, 276). Dengan
dibangunnya kesadaran bahwa perbedaan agama adalah kehendakNya dan sekaligus menjalin
kooperasi antar pemeluk agama, maka keharmonisan,kerukunan dan perdamaian antar umat
beragama dapat teraktualisasi.
Tujuan Pendidikan Islam Inklusif-Pluralis
Tujuan awal pendidikan Islam inklusif-pluralis adalah membangun diskursus
pendidikan bernuansa esoteris transendental universal yaitu pendidikan yang berlandaskan
'al-Tauhid' yang melampaui batas sekat-sekat formalita lahiriyah berbagai kelompok etnis
atau tradisi budaya dan batas-batas simbol dan bahasa dalam setiap syariat yang
berbeda.Sedangkan tujuan akhir dari pendidikan Islam inklusif-pluralis adalah membimbing
dan membentuk karakter peserta didik untuk mampu memahami dan menguasai setiap materi
pembelajaran dengan menumbuhkan kesadaran al-Tauhia", sebagai landasan untuk
membimbing dan membentuk ketaqwaan individual dan sosial peserta didik, sehingga
memiliki karakter yang kuat untuk bersikap inklusif, pluralis, dan humanis dalam
mewujudkan kehidupan yang sejahtera, selamat dan sentosa di era pluralitas agama dan
budaya.
Kurikulum Pendidikan lslam klusif-Pluralis
Dalam kurikulum pendidikan Islam inklusif-pluralis berarti siswa belajar aktif
independen dengan mengakses berbagai sumber bacaan infomasi melalui berbagai media
agar mereka memiliki pengetahuan,sekaligus memiliki pandangan terbuka dan luas mengenai
problematika di tanah air, baik pada ranah sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama. Dalam
konteks sosial-agama misalnya, peserta didik dapat menilai informasi yang terjadi pada
situasi kekinian; seperti merebaknya aksi anarkis yang mengatasnamakan agama, sekaligus
juga dapat melihat dan menilai pluralitas agama dan budaya di tanah air, sehingga mereka
dapat melakukan analisis, sintesis, komparatif dan menilai informasi yang relevan untuk
dijadikan pegangan dalam kehidupannya. Sebagaimana ungkapan Nasr bahwa, kaum Muslim
dewasa ini terus bersentuhan dengan masyarakat agama lain sebagaimana yang terjadi selama
berabad-abad yang lalu(Seyyed Hossein Nasr: 2003, 56).
8

Namun, Nasr juga menilai bahwa pada dewasa ini terdapat kaum fundamentalis yang
identik dengan kekerasan yang mengatasnamakan agama, sebagaimana yang terjadi di
Negara-negara Muslim Nasr menentang keras kaum fundamentalis dengan menyatakan
bahwa, orang-orang yang menimpakan bahaya dan kerugian kepada orang yang tidak
berdosa,tidak peduli apapun alasan mereka, berarti menentang secara tegas ajaran Al-Quran
dan syariat mengenai perdamaian dan perang (Seyyed Hossein Nasr: 2003, 56).Hal inilah
yang menjadi bahan informasi bagi peserta didik bahwa selain masyarakat Indonesia plural
yang terdiri dari berbagaimacam suku, bangsa, budaya, bahasa dan agama yang
beranekaragam. Namun, di sisi lain banyak terjadi konik dan kekerasan yang dapat
menimbulkan disintegrasi bangsa. Sehingga, peserta didik diharapkan dengan bekal informasi
dan pengetahuan yang luas, mereka akan melakukan berbagai pertimbangan, menganalisis,
membandingkan, dan menilai informasi yang relevan untuk dijadikan sebagai arahan dan
pegangan dalam kehidupannya, sebagai bekal untuk merajut hidup yang penuh toleran dan
harmonis dalam masyarakat yang plural.12

B. Teori-Teori dalam Pluralisme dan Teori Pluralisme Menurut Para


Ahli
Dalam memahami suatu konteks keilmuan dan pengetahuan selalu memiliki
perbedaan teori pluralisme ditinjau dari kerangka teori, ada dua teori klasik yag menjadi cikal
bakal ide pluralime , yaitu pluralisme materiklasik dan pluralisme spiritualistik.
1. Konsep pluralisme materialistik berasal dari teori atom democritos yang
menyatakan bahwa atom-atom adalah bagian terkecil dari benda yang menerus
terpencar dan berubah-ubah. Secara kualitatif , atom-atom tersebut sama , tetapi
dari sisi ukuran dan bentuk berbeda. Atom selalu ada dan tidak dapat dihancurkan
. atom-atom bergerak secara bebas dalam ruang dengan gerak alamiyah sendiri.
Konsep inilah yang kemudian diderivasikan untuk memahami pluralisme dengan
memberikan penekanan pada perbedaan bentuk partikular dari sistem-sistem yang
mempertemukan unsur-unsur di dalamnya.

12

YU'TIMAALAHUYATAZAKA, MAHASISWA PASCASARJANA UIN SUNAN, et al. KONSEP


PENDIDIKAN ISLAM INKLUSIF-PLURALIS (KAJIAN PEMIKIRAN FILSAFAT ESOTERIS SEYYED
HOSSEIN NASR). PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, 2014. h.8-14

2. Sementara teori pluralisme spiritualistik mengacu kepada konsepsi Leibniz yang


merupakan upaya menghindari dua hal; gagasan mekanisme Spinoza dan
atomisme.Walaupun berbeda, kedua teori ini memiliki kesamaan, yaitu tidak
menolak kesatuan fundamental dalam kelengkapan alam semesta13. Sedangkan
para ahli berbeda-beda mengemukakan teori pluralisme. Sebagaimana sebagau
berikut:
a. Menurut

Nurcholis

Madjid yang dikutip Rachman, mengatakan bahwa

pluralisme agama tidak dapat dipahami hanya dengan mengatakan bahwa


masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, berdiri dari berbagai suku dan
agama

yang

justru

hanya menggambarkan kesan fragmentasi bukan

pluralisme. Pluralisme agama harus dipahami sebagai pertalian sejati


kebhinekaan dalam ikatan- ikatan

keadaban

(genuine

engagement

of

diversities within the bond of civility)14, dan menurut pendapatnya terdapat tiga
sikap dalam pluralisme agama yaitu
Sikap eksklusif dalam melihat agama lain
Sikap ini memandang agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang
menyesatkan umat.
Sikap inklusif
Sikap ini memandang agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita.15
Sikap pluralis
Saat ini bisa terekspresikan dalam macam-macam rumusan, misalnya agamaagama lain adalah

jalan

yang

sama-sama

sah

untuk mencapai kebenaran

yang sama, agama- agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan
kebenaran yang sama sah, atau setiap agama mengekspresikan bagian penting bagi
sebuah kebenaran.
b. Menurut Alwi Shihab pluralisme

yaitu

tiap

pemeluk

agama

dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tapi

13

Frederich J.E. Woodbridge, pluralism. Dalam James Hastings(ed). Encyclopedia of religion and Ethcis,
Vol.X(New York: Charles Scribners sons, t.t). h.68
14
Budi Munawar, Rachman. Islam Pluralis (Jakarta: Paramadina,2001), h.39
15
Nurcholis Madjid, mencari Akar-Akar Islam bagi Pluralisme Modrn: Pengalaman Indonesia.
Dalam Jalan Baru, editor Mark R. Woodward, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 56

10

terlibat dalam usaha memahami perbedaan


guna

dan

persamaan

tercapainya kerukunan, dalam kebhinekaan.16

c. Menurut M. Amin Abdullah pluralisme agama merupakan sebuah


keniscayaan

sekaligus

kebutuhan.

Manusia

tidak

mungkin

menghilangkan pluralisme yang telah diciptkan oleh Tuhan.17


d. Menurut Komaruddin Hidayat bahwa pluralisme adalah sebuah
keniscayaan, sebagaimana juga keniscayaan adalah pluralitas bahasa
dan etnis. Di era sekarang, kata Kang Komar penting untuk
dikembangkan pemikiran teologis yang menawarkan pandangan
inklusivisme dan pluralisme keberagamaan. Pemikiran semacam ini
diyakini beliau akan berperan meredakan konflik dan bisa jadi justru
seseorang akan lebih dewasa dalam mengapresiasi agama. Jika hendak
memahami agama lain, kita hendaknya memahami dan bergaul
dengan pemeluk agama lain.18
e. Menurut Anis Malik Thoha bahwa pluralisme agama ternyara belum
dapat dirumuskan secara mapan. Kondisi ini berbeda dengan
hangatnya diskusi dan perbincangan tentang topik pluralisme agama.
Padahal, definisi pluralisme itu penting artinya sebagai salah satu
sarana untuk memasuki substansi persoalan secara mendalam.19

C. Sejarah Perkembangan Pluralisme di Dunia Islam


Nabi Muhammad dan kaum muslimin tidak terlalu sukses dalam mendakwahkan
agama islam di Mekkah, kota kelahirannya, walaupun sudah berjuang selama 13 tahun. Nabi
menyusun strategi baru dengan cara berhijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622M. 20
Di Madinah Nabi mulai meraih sukses dalam gerakan dakwahnya. Beliau berhasil
membentuk masyarakat islam dibawah panji-panji ukhuwah Islamiyah yang sangat kuat dan

16

Shihab, Alwi. Islam Inklusif. Hal 41


Naim, Ngainun. 2014. Islam dan Pluralisme Agama. Yogyakarta. Aura Pustaka. Cet ke-3 hal,49
18
Komarudin Hidayat, Membangun Teologi Diologis dan Inklusivistik, dalam Komaruddin Hidayat dan Ahmad
Gaus AF(eds.), passing Over, Melintasi Batas Agama ( Jakarta: Grandmedia, 1998),hal49
19
Naim, Ngainun. 2014. Islam dan Pluralisme Agama. Yogyakarta. Aura Pustaka. Cet ke-3 hal,70
17

20

Hijrah Nabi dari mekkah ke Madinah dijadikan awal perhitungan kalender Islam oleh khalifah Umar bin
Khattab (13-23 H 634-644 M), khalifah ke-2 dari Khulafa ar-Rasyidin. Jadi tahun 1 Hijriah bertetapan dengan
622M

11

solid. Beliau mengadakan perjanjian damai, kerukunan, dan toleransi dengan kelompokkelompok arab non-muslim dan kaum yahudi. Perjanjian ini secara resmi ditandatangani oleh
pihak-pihak yang sepakat untuk hidup berdampingan secara damai , toleran, bebas menganut
agama dan melaksanakan ibadah. Masing-masing pihak diberikan kewenangan untuk
memiliki sistem pengadilan sendiri. Dalam sejarah, perjanjian ini dikenal sebagai piagam
Madinah atau konsitusi Madinah.
Konsitusi madinnah merupakan konsitusi tertulis pertama di dunia yang memuat
dasar-dasar toleransi, harmoni dan kebebasan beragama yang dalam ajaran islam sangat
dijunjung tinggi sebagi salah satu hak asasi manusia. Dengan demikian, ide dan praktik
tentang toleransi, perdamaian dan kerukunan antar umat beragama sebenarnya memiliki akarakar teologis sosiologis-historis yang sangat kuat dalam islam dan menemukan buktinya yang
jelas dan nyata dalam praktik kehidupan Nabi Muhammad SAW. Fakta sejarah ini tidak
dapat dipungkiri dan inilah bukti sejarah yang sangat akurat berdampingan secara damai yang
direalisasikan dalam praktik hidup seorang Nabi Muhammad dan kaum muslimin di
Madinah.
Setelah berjuang selama 23 tahun menyiarkan islam di Mekah dan Madinah, pada
tahun 630M(8 hijriah) Nabi Muhammad dan kaum muslimin dapat merebut kota mekkah
dari tangan kaum kafir Quraisy. Terjadilah Fattu Mekkah (terbukanya Mekkah). Ketika
terjadi Fattu Mekkah. Nabi dan para pengikutnya tidak melakukan tindakan balas dendam
dan tidak pula memaksa kaum Quraisy dan suku-suku arab laiinya untuk memeluk agama
Islam. Nabi dan kaum Muslimin memaafkan mereka walaupun mereka pada masa
sebelumnya memusuhi dan hendak membunuh Nabi. Nabi menunjukan sosok kebesaran jiwa
dan sifat kenegarawannya21 sehingga suasana yang kondusif ini, para kepala kabilah-kabilah
Arab di Jazirah Arab berbondong-bondong datang kepada Nabi dan mereka dengan
kesadaran sendiri yang mendalam menyatakan diri masuk islam.
Begitu pula ketika palestina(Yerusalem) masuk ke dalam kekuasaan Islam. Khalifah
Umar bin Khattab

22

memberikan kebebasan beragama kepada umat Kristen dan kaum

Yahudi dan memeberikan rumah-rumah ibadah mereka (gereja dan sinagong ) tetap berfungsi
seperti sediakala. Sebagaimana kita llihat Yerussalem sekarang ini rumah-rumah ibadah dari
tiga agama(islam, kristen dan yahudi) yang diwarisi dari sejarah toleransi umat islam di masa
21

Tentang sosok kenegarawaan Nabi Muhammad, baca Montgomenry watt, Muhammad: proohet and
Statesman (Oxford University Press) 1964
22
Umar bin Khatab adalah Khalifah ke-2 dari khulafa ar-Rasydin. Umar memerintah dari 13-23H (634-644 M)

12

lampau. Ketika panglima pasukan muslim Amru bin Ash berhasil menaklukan negeri mesir
pada tahun 20 H/ 641H, tidak

terjadi pemaksaan oleh umat islam kepada penduduk

setempat(umat kristen) untuk memeluk agam islam. Keberadaan komunitas kopti(yang


beragama kristen) di Mesir dewasa ini yang diperlukan dengan baik dan adil oleh
pemerintahan dan rakyat Mesir merupakan bukti nyata tentang toleransi umat islam terhadap
kelompok minoritas, dan banyak keadaan ini sebenarnya merupakan kesinambungan dan
warisan sejarah toleransi umat islam dimasa lampau.
Sejarah masuknya dan berkembangan agama islam di Indonesia pada abad ke 13M
juga membuktikan bahwa islam disiarkan dengan cara-cara yang santun, bijak, arif, persuasif
dan damai. Hal inii secara jelas dapat dilihat misalnya dari cara-cara dakwah oleh wali
songo23 yang mengunakan pendekatan kultural edukatif dalam dakwah mereka. Candi
Prambanan(Hindu) candi Borobudur(Budha), dan sejumlah candi yang lain yang ada di
Indonesia terutama di jawa tetap utuh dan tidak dihancurkan oleh umat Islam ketika datang
dan tersebar di Nusantara.
Kalau mau dan berambisi, penghancuran terhadap candi-candi itu dapat dilakukan
oleh umat Islam karena kekuatan dan kekuasaan ada ditangan mereka pada waktu itu. Tapi
para sultan(peguasa muslim), wali songo, dan umat islam tidak melakukannya. Ini berarti
bahwa islam di Indonesia disiarkan dengan cara-cara damai dan menggunakan metode
persuasif-edukatif dan tidak menggunakan cara-cara yang radikal-konfrontatif, cara-cara
kekerasan, atau dengan jalan perang.
Jadi dalam perkembangan pluralisme diawali dengan adanya sikap saling
menghargai seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan dalam perkembanganya di
Indonesia pluralisme dikenalkan dengan cara yang lebih santun dan terjadinya akulturasi
dengan budaya setempat, dan menghargai antara perbedaan diantara pemeluk agama di
Indonesia, sehingga dalam penyebarannya dapat diterima oleh masyrakat secara luas.

D. Pluralisme dalam Perspektif al-Quran


Musa Asyarie menegaskan, bahwa sesungguhnya berbeda dengan orang lain
bukanlah suatu kesalahan, apalagi kejahatan namun sebaliknya sangat diperlukan. Tentunya,

23

Wali songo atau wali sembilan adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonan, Sunan Giri,
Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga. Lihat Solichin
Salam, Sekitar Walisanga(Kudus: Menara Kudus,tt)

13

berbeda dalam pengertian ini bekan asal berbeda atau (waton sulaya). Perbedaan harus
dipandang sebagai realitas sosial yang fundamental, yang harus dihargai dan dijamin
pertumbuhannya oleh masyarakat itu sendiri
Dalam kaitannya dengan pluralisme,Al Quran dalam Qs al-Hujarat ayat 13
menegaskan: Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan kami jadikan kau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu disisi Allah ialah yang
taqwa diantara kamu
Ayat al-Quran ini sesungguhnya mengajarkan kepada kita semua akan pentingnya
dan perlunya memberlakukan perbedaan dan pluralitas secara arif. Yaitu untuk saling
mengenal dan belajar atas adanya perbedaan dan pluralitas itu untuk saling membangun dan
memperkuat, saling pengertian dan tidak melihatnya hanya dalam perspektif tinggi dan
rendah ataupun baik dan buruk. Tinggi rendahnya manusia di hadapan Tuhan tidak
ditentukan oleh adanya realitas peerbedaan dan pluralitas, tetapi oleh kadar ketaqwaannya.
Untuk mengelola adanya realitas perbedaan dan kemajemukan, sehingga perbedaan
dan kemajemukan itu tidak berkembang dan dikembangkan kearah yang destruktif, al-Quran
selanjutnya menganjurkan kepada kita untuk dapat menjaga dan mengembangkan
musyawarah.
Hal ini seperti dijelaskan dengan surat Al-Imran, ayat 159 Maka karena rahmat dari
Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekirannya engkau berlaku keras dan
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari lingkunganmu. Maka manfaatkanlah
mereka dan memohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
segala urusan. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakal-lah kepada Allah,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.
Musyawarah yang dianjurkan oleh al-Quran adalah musyawarah yang dilakukan
secara tulus dan ikhlas, bukan musyawarah yang basa-basi, seperti yang selama ini
berkembang dalam iklim kehidupan politik yang represif, yang akhirnya hanya melahirkan
dampak yang menentramkan bagi kehidupan masyarakat
Karena itu, Alquran selanjutnya menggambarkan dengan konkret adanya ketulusan
dalam musyawarah itu, dengan ditandai oleh adanya kesediaan untuk saling mendengar
pendapat masing-masing dan bersedia untuk menerima, mengikuti serta menjalankan dengan
14

sungguh-sungguh pendapat yang paling baik yang ada dalam masyrakat itu. Al-Quran
dalam surat az-Zumar ayat 18 menyatakan Mereka yang mendengar pendapat, lalu
mengikuti pendapat yang lebih baik, mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh
Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal
Kini, seringkali kita menyaksikan dalam masyarakat kita adanya kecenderungan
untuk memanfaatkan adanya perbedaan dan pluralisme yang ada. Yang kemudian di
manipulasi demi kepentingan-kepentingan politik tertentu dan kepentingan jangka pendek
lainnya, seperti bisnis dan memperoleh keuntungan material bagi suatu kelompok tertentu,
dengan menciptakan dan mempertajam konflik dalam masyarakat.
Sudah waktunya kita menyadari dengan tulus tentang adanya pluralitas, sehingga
dapat menjauhi dari setiap tindakan yang muncul, baik yang terang-terangan maupun diamdiam. Untuk menolak adanya perbedaan dan pluralitas, dengan memanfaatkan untuk
mempertajam konflik dalam masyarkat yang majemuk. Karena tindakan semacam itu
sesungguhnya hanya akan menghancurkan diri sendiri.24

E. Analisis Isu Pluralisme


Dewasa ini isu pluralisme adalah sebuah isu yang kontemporer yang banyak
diperdebatkan oleh sebagian masyarakat yang pada umumnya yang lebih kukuh dalam satu
pandangan yang diangkap benar dan mendasar baginya,sehingga melupakan hakikat dasar
dari pluralisme. Pluralisme sesungguhnya adalah suatu pemahaman yang mengedepankan
kebebaskan dalam menjalankan apa yang masing-masing orang anggap benar dan dapat
dijadikan pedoman bagi orang yang mempercayainya
Pluralisme dapat dipahami dalam berbagai makna dan penerapannya seperti
pluralisme dalam beragama. Pluralisme dalam beragama dapat dipahami bahwa setiap
pemeluk agama bebas melakukan segala bentuk ibadah agama dan tentu saja tidak melanggar
perarturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Pluralisme agama ini terkadang dapat
menimbulkan sebuah perdebatan panjang jika dalam penerapannya tidak ada toleransi antara
sesama pemeluk agama. Dalam hal ini toleransi menjadi penting dalam pemahamannya
dengan pluralisme. Karena tanpa adanya toleransi akan banyak permasalahan yang akan
dihadapi dalam menjalankan sebuah pluralisme beragama.

24

Darmawan Andy, pengantar Studi Islam, Yogyakarta:Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005

15

Keterkaitan antara pluralisme dan studi islam adalah kebebasan dalam belajar dan
memperoleh pengetahuan yang masih berpegang teguh kepada Al-Quran nilai ketauhidan
yang mengesakan Allah SWT, dan menumbuhkan sikap anatar berbagai agama untuk saling
menghormati dan menghargai dengan pemeluk agama lain dengan demikian bahwa
pluralisme diartikan dalam konteks ini adalah saling menghormati dari berbagai agama dan
tidak saling menghina, menghujat, dan membuat teror kepada agama lain.
Penerapan sikap toleransi pada masa Rasulullah harus menjadi sebuah contoh yang
patut di terapkan pada masa sekarang, karena pada masa Rasulullah SAW, sikap pluralisme
sudah diterapkan dengan membiarkan orang lain yang berbeda agama untuk melakukan
masing-masing ibadah dan umat lain tidak menganggu dan saling menghormati. Disitulah
letak dari sebuah pluralisme yaitu tidak memaksakan kehendak kita dengan kehendak orang
lain yang berbeda pendapat dengan kita .

16

Bab III
Penutup
A. Kesimpulan
Pluralisme adalah suatu pemahaman yang berbeda dan keberagaman, dalam
realitasnya sifat keberagaman adalah sikap yang hendak ditanamkan dalam islam yaitu sikap
yang memberikan rahmat bagi setiap masing-masing pemeluk agama selain islam. Pengertian
pluralisme dipahami berbeda-beda oleh para ahli agama islam yang mana pada intinya adalah
pluralisme menghendaki adanya penghormatan kepada pemeluk agama lain untuk melakukan
ibadah sesuai dengan apa yang dianut masing-masing pemeluk agama.
Pluralisme telah diterapakan pada masa Rasulullah SAW, yang mana dalam
penerapanya dengan cara membiarkan pemeluk agama lain menjalankan ibadahnya masingmasing. dan tidak menganggu peribadatannya. Dalam masa Rasulullah antara umat saling
menghargai walaupun terkadang terdapat cacian dari pemeluk agama lain kepada beliau,
tetapi Rasulullah tetap senantiasa bersifat sabar dan lapang dada.
Dengan demikian bahwa dalam studi Islam harus ditanamkan kepada masing-masing
individi untuk saling menghargai antara keberagaman sesuai dengan firman Allah SWT Qs
Al-Kafirun ayat 6 Lakum dinakum waliyadin yaitu Untukmu agamamu, dan untukkulah,
agamaku.

B. Kritik dan Saran


Dalam penulisan makalah ini tentu jauh dari kata kesempurnaan, sehingga kritik dan
saran sangat sangat dibutuhkan agar dalam penyusunan makalah selanjutnya lebih baik.

17

Daftar Pustaka

www.wikipedia.com pengertian pluralisme

Pius A. P, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Popular:Surabaya: Arkola, 1994


Umi Sumbulah. Islam Radikal Dan Pluralism Agama: Malang: Badan Litbang Dan
Diklat Kementrian Agama RI. 2010
Mabadiul Chomsah. Pluralism Dalam Perspektif Islam. Dalam
Http://Penabutut.Com(30 Desember 2012).
Budhy Munawar-Rahman, islam pluralis: wacana Kesetaraan Kaum
Beriman:Jakarta: Paramadiana,2011
Alwi Sihab, islam inklusif, Menuju sikap yang terbuka dalam Beragama:Bandung:
Mizan,1995
Harnold Coward, pluralism Challenge to World Religion:Maryknoll NY: Orbis
Books, 1985
Zakiyudin Baidhawi, Kredo. Kebebasan beragama:Jakarta:PSAP.2006
Wasid, Gus Dur Sang Guru Bangsa: pergolakan Islam dan kemanusiaan.Yogyakarta:
Interpena,2010

The Random House Disctionary of the English Language, edisi kedua:New York:
Radom House, Inc., 1987

YU'TIMAALAHUYATAZAKA, MAHASISWA PASCASARJANA UIN SUNAN,


et al. KONSEP PENDIDIKAN ISLAM INKLUSIF-PLURALIS (KAJIAN
PEMIKIRAN FILSAFAT ESOTERIS SEYYED HOSSEIN NASR). PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM, 2014.

Frederich J.E. Woodbridge, pluralism. Dalam James Hastings(ed). Encyclopedia of


religion and Ethcis, Vol.X(New York: Charles Scribners sons, t.t)

Budi Munawar, Rachman. Islam Pluralis.Jakarta: Paramadina,2001


Nurcholis Madjid, mencari Akar-Akar Islam bagi Pluralisme Modrn:
Pengalaman Indonesia. Dalam Jalan Baru, editor Mark R. Woodward.
Bandung: Mizan, 1998
Shihab, Alwi. Islam Inklusif.

Naim, Ngainun. 2014. Islam dan Pluralisme Agama. Yogyakarta. Aura Pustaka.

Komarudin Hidayat, Membangun Teologi Diologis dan Inklusivistik, dalam


Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF(eds.), passing Over, Melintasi Batas
Agama ( Jakarta: Grandmedia, 1998)
Naim, Ngainun. 2014. Islam dan Pluralisme Agama. Yogyakarta. Aura Pustaka.

Tentang sosok kenegarawaan Nabi Muhammad, baca Montgomenry watt,


Muhammad: proohet and Statesman (Oxford University Press) 1964

18