Anda di halaman 1dari 7

Kepada Yth :

Rencana baca
: Senin, 7 April 2014,
Jam : 08.00 WITA
Tempat
: RSP UNHAS Lantai 7 Gedung

TUTORIAL
IMUNOLOGI

PEMERIKSAAN HORMON HUMAN CHORIONIC


GONADOTROPIN (hCG) MENGGUNAKAN
METODE LATEKS
Nur Azni.M.L, Asvin Nurulita, Uleng Bahrun
Bagian Ilmu Patologi Klinik FKUNHAS /RSUP dr Wahidin Sudirohusodo Makassar

I. PENDAHULUAN
Human Chorionic Gonadotropin (hCG) adalah hormon yang
meningkat pada awal kehamilan dengan doubling time (waktu yang
diperlukan sehingga kadarnya menjadi dua kali lipat) sekitar 2 hari selama
beberapa minggu pertama seiring dengan peningkatan ukuran jaringan
trofoblastik. Seminggu setelah konsepsi dapat

mencapai 25 sampai 50

mlU/mL. Kadar hCG mencapai puncaknya sekitar 150.000 atau 200.000


mIU/ml pada minggu ke 10 12 kehamilan.1
Hormon ini merupakan suatu glikoprotein yang terdiri dari 237 asam
amino dengan struktur yang hampir serupa dengan glikoprotein
glikoprotein hipofisis, terdiri dari dua rantai yaitu satu rantai alfa yang
bersifat spesifik spesies, dan satu rantai beta yang menentukan interaksi
reseptor dan efek biologi akhir. Tiga puluh persen komponen hCG adalah
karbohidrat. 2
Plasenta merupakan tempat utama sintesis dan sekresi hCG. Lapisan
luar sinsitium merupakan tempat biosintesis hCG. Di dalam sinsitium ini
terdapat struktur untuk sintesis dan sekresi protein seperti retikulum
endoplasma, kompleks golgi dan mitokondria.

2,3

Molekul hCG yang utuh

dapat ditemukan dalam plasma sejak hari ke-7 hingga 9 setelah lonjakan LH
pada pertengahan siklus, yang mendahului ovulasi. Dengan demikian hCG
mungkin memasuki darah ibu sewaktu terjadinya implantasi blastokista. hCG
dalam darah ibu akan ikut tersaring pada ginjal sehingga dapat dieksresikan
melalui urine. Produksi hCG sangat penting selama trimester pertama untuk
mempertahankan korpus luteum dari kematian.3,4
Pemeliharaan kehamilan normal bergantung pada kondisi progesteron
dan estrogen yang tinggi. Laju sekresi hCG meningkat pesat selama awal
kehamilan untuk menyelamatkan korpus luteum dari kematian. Sekresi
Tutorial Imunologi

puncak hCG terjadi sekitar 60 hari setelah akhir siklus haid terakhir. Pada
minggu ke -10 kehamilan, hormon ini turun ke tingkat rendah yang
berlangsung selama sepanjang kehamilan (Gambar 1).4,5

Gambar 1. Grafik fluktuasi kadar hCG pada kehamilan.


(Sumber:Sherwood L. Fisiologi Manusia.2007)
Turunnya hormon hCG terjadi pada saat korpus luteum tidak lagi
diperlukan untuk sekresi hormon steroidnya, karena plasenta mulai
mengeluarkan estrogen dan progesteron dalam jumlah yang signifikan.
Korpus luteum mengalami regresi parsial seiring dengan merosotnya sekresi
hCG.5,6
Indikasi pemeriksaan kadar hCG
diagnosis

umumnya digunakan untuk

kehamilan, pada minggu minggu pertama kehamilan.

Pemeriksaan kadar hormon ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi


aborsi.7
Metode pemeriksaan hCG antara lain dengan enzyme immunooassay
berdasarkan metode sandwich. immunochromatography,aglutinasi lateks.6,7
Tutorial ini akan membahas pemeriksaan hormon hCG dengan metode lateks.

Tutorial Imunologi

II. TUJUAN
Pemeriksaan hormon hCG metode lateks bertujuan untuk mendeteksi
kadar hormon hCG secara kualitatif dalam urin.
III. METODE KERJA
a. Pra analitik7
1. Persiapan pasien
Pengambilan sampel pasien dilakukan pada pada pagi hari yaitu urine
pertama pagi hari yang mengandung kadar hCG paling tinggi, tetapi
dapat juga digunakan urine sewaktu.
2. Persiapan sampel
Urine dikumpulkan pada penampung gelas atau plastik steril tanpa
pengawet. Urine yang keruh harus disentrifus tersebih dahulu. Sampel
dapat disimpan pada sahu 2-8 C selama 72 jam sebelum melakukan
tes. Untuk penyimpanan yang lebih lama urine harus dibekukan
(hanya sekali). Sampel yang dibekukan harus dicairkan sampai
mencapai suhu ruangan sebelum diperiksa.
3. Alat dan bahan
a. Reagen hCG lateks
b. Urine kontrol hCG positif
c. Urine kontrol hCG negatif
d. Slide aglutinasi dan pipet sekali pakai (Gambar 2)

Tutorial Imunologi

Gambar 2. Alat dan bahan pemeriksaan hCG lateks


(Sumber: http://www.biolab.fr)
B. Analitik
1. Prinsip
Prinsip tes pemeriksaan berdasarkan reaksi aglutinasi lateks
antara partikel lateks yang dilapisi antibodi anti hCG dengan hCG
yang terdapat sampel urin. Adanya hCG dalam urine akan berikatan
dengan antibodi anti hCG sehingga menghasilkan suatu aglutinasi
yang dapat dibedakan secara visual dengan kontrol negatif yang tidak
aglutinasi (Gambar 3).7

Gambar 3. Prinsip reaksi aglutinasi lateks hCG


(Sumber:http://www.library.aua.edu.ag)
Keterangan

: partikel lateks yang dilapisi antibodi anti hCG


: hCG yang terdapat sampel urin

2. Cara kerja
a. Komponen reagen dan sampel dibiarkan dalam suhu ruangan (18
300 C) sebelum digunakan
b. Satu tetes kontrol hCG negatif diteteskan pada salah satu
lingkaran slide aglutinasi.
c. Satu tetes kontrol hCG positif diteteskan pada salah satu
lingkaran slide aglutinasi.
d. Satu tetes sampel urine diteteskan pada salah satu lingkaran slide
aglutinasi.
e. Reagen lateks dihomogenkan dan ditambahkan satu tetes pada
tiap lingkaran slide aglutinasi.
Tutorial Imunologi

f. Reagen diaduk dengan menggunakan pipet pengaduk masing


masing dan disebarkan keseluruh area lingkaran.
g. Slide digerakan berputar selama 2 menit dan diobservasi untuk
melihat adanya aglutinasi.
h. Hasil dinterpretasi setelah 2 menit
i. Setelah digunakan slide dicuci dengan air dan dikeringkan.

a
b
d

e
Gambar 4. Cara kerja pemeriksaan hCG lateks

3. Nilai rujukan
a. Hasil positif pada pemeriksan hCG latex apabila terjadi
aglutinasi.
b. Hasil negatif didapatkan apabila tidak terjadi aglutinasi.

Gambar 5. Interpretasi pemeriksaan hCG. (1) hasil positif (2) hasil negatif.
(Sumber : http://www.home.kku.ac.th)
C. Pasca analitik
Interpretasi
Beberapa

kondisi

selain

kehamilan

yang

menyebabkan

peningkatan kadar hCG antara lain penyakit trofoblastik, epitelioma


korionik, mola hidatidosa, dan beberapa keganasan non trofoblastik,
protein dalam urine tertentu yang menyebabkan hasil positif palsu. 7,8
Tutorial Imunologi

Diagnosa hasil pemeriksaan hCG harus berdasarkan keadaan klinis yang


konsisten.ekskresi hCG biasanya menurun pada kehamilan ekstra uteri,
toksemia kehamilan atau ancaman keguguran. Keadaan tersebut dapat
menyebabkan hasil negatif palsu.8,9
Sensitivitas hCG latex adalah 99% dan spesifisitasnya adalah 100%.
D. Keterbatasan pemeriksaan hCG lateks
Pemeriksaan ini hanya bersifat kualitatif dan tidak dapat
menentukan kadar hCG yang sebenarnya. Penggunaan sabun dan detergen
dapat mengganggu aglutinasi reagen.7

Tutorial Imunologi

DAFTAR PUSTAKA
1. Sacher RA, Mcpherson RA. Endokrinologi reproduktif.
Hasil
2.

Pemeriksaan

Laboratorium.

Penerbit

Tinjauan Klinis

Buku

Kedokteran

EGC.Jakarta.2004 :536-538.
Prawirohardjo S, Hormon plasenta. Ilmu Kebidanan. Penerbit Bina

putaka Sarwono Prawirohardjo.Jakarta.2009 :166 -168


3. Sherwood, Sekresi Gonadotropin Korion Manusia. Fisiologi Manusia.
4.

Penerbit Buku Kedokteran EGC,Jakarta:2002. 855-857 J


Cunningham F.G, Leveno K J. Bloom S L, Hauth J C , Rouse D J, Spong
C Y, MD. Obstetri Wiliams. Ed.23 Pendit B. U dkk. Jakarta

EGC

2008:65-66
5. H. Hardjono dkk. Tumor Marker. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium
Diagnostik. Hasanuddin University. 2002:42
6. Kee J.L. Uji laboratorium. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Dan
Diagnostik. Penerbit Buku Kedokteran HCG,Jakarta:2007:252-253
7. Biolabo SA, hCG Lateks Insert Kit. Perancis. 2008
8. Wallach J, M.D. Gonadotropins Chorionic. Interpretation of Diagnostic
9.

Test. Eighth edition.2007:98-99


Dunning M.B, Fischbach F.T. Urine testing. A manual of Laboratory and
Diagnostic Test. Ed 8. 2007:242

Tutorial Imunologi