Anda di halaman 1dari 16

Aplikasi Teknologi Bioflok pada Budidaya Udang

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-dasar Akuakultur
yang dibimbing oleh Bapak Muhammad Fakhri, S.Pi, MP, M.Sc

Disusun oleh : KELOMPOK 3 / KELAS T.01


Anggota :
1. Nanda Glory K
2. Nur Aini
3. Nela Abidatul K
4. Miftahul Jannah
5. Fadhel Muhammad B
6. Uri Debyasari Putri S
7. Cindi Ananda A.P
8. Annisa Dhea Agne V
9. Alfisar Suryo P
10. Danang Agus P

(165080300111039)
(165080300111041)
(165080300111043)
(165080300111045)
(165080300111047)
(165080301111001)
(165080301111003)
(165080301111005)
(165080301111007)
(165080301111009)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala limpahan
Rahmat-Nya,Taufik, dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah Dasar-dasar Akuakultur Aplikasi Teknologi Bioflok Pada
Budidaya Udang

ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.

Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Malang, 11 Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................1
1.1 Latar Belakang .....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................2
1.3 Tujuan...................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................3
2.1 Pengertian Bioflok................................................................................3
2.2 Pendekatan Teknologi Bioflok.............................................................4
2.3 Pengelolaan Kualitas Air Pada Pendekatan Sistem Bioflok.................9
2.4 Pengukuran Bioflok..............................................................................9
2.5 Manfaat Teknologi Bioflok..................................................................9
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Teknologi Bioflok...................................10
2.5 Dampak Teknologi Bioflok.................................................................11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .........................................................................................12
3.2 Saran....................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pakan merupakan input produksi budidaya yang sangat menentukan
tingkat pertumbuhan ikan, namun sebagian pakan yang berikan hanya 25% yang
dikonversi sebagai hasil produksi dan yang lainnya terbuang sebagai limbah
(62% berupa bahan terlarut dan 13% berupa partikel terendap). Hal ini
berdampak secara signifikan terhadap degradasi kualitas air pada badan
penerima atau perairan. Dampak ekologi yang ditimbulkan dari buangan ini
adalah terjadinya pengkayaan nutrien (eutrofikasi), perubahan pola rantai dan
jaring makanan, dan meningkatnya tingkat kebutuhan oksigen.
Pada sistem heterotrofik, limbah budidaya ikan berupa amonia diubah
menjadi sumber pakan bagi ikan. Penerapan sistem heterotrofik akan dapat
meningkatkan kemampuan sistem akuakultur dalam mengurangi beban limbah
budidaya ikan, di lain pihak akan menghasilkan biomassa ikan tambahan dari
ikan pemakan flok. Dengan demikian budidaya ikan yang dikembangkan akan
lebih efisien dan ramah lingkungan. Pemanfaatan limbah budidaya ikan terutama
ditujukan pada senyawa-senyawaan terlarut. Senyawaan tak terlarut (particulated
waste) seringkali dibuang begitu saja dalam jumlah besar sebagai bahan yang tak
termanfaatkan. Bakteria heterotrofik dapat mengubah nutrien-nutrien tersebut
menjadi biomass bakteri yang potensial sebagai bahan pakan ikan. Apabila hal
ini dapat berlangsung dengan baik, maka buangan limbah budidaya ikan akan
dapat berkurang secara drastis. Kendala utama agar proses ini berlangsung
adalah rendahnya perbandingan karbon dengan nitrogen (C/N ratio) di dalam air
limbah. Melalui pemberian suplementasi karbon maka produksi bakteria dapat
dipicu pada sistem akuakultur (Schneider et al, 2005). Proses mikrobial tersebut
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas air dan mengurangi beban
cemaran limbah budidaya ikan ke perairan sekitarnya. Sistem heterotrofik
mempunyai potensi untuk diterapkan dalam pemanfaatan limbah amonia pada
pemeliharaan ikan (Gunadi & Hafsaridewi, 2007). Komunitas bakteri yang
terakumulasi di dalam sistem akuakultur heterotrofik akan membentuk flok
(gumpalan) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan untuk ikan. Salah
satu jenis ikan yang dapat memakan komunitas mikrobial dalam bioflok adalah
ikan nila. Teknologi Bioflok (BioFloc Technology, BFT) dalam akuakultur
adalah memadukan teknik pembentukan bioflok tersebut sebagai sumber pakan
bagi ikan (Crab et al, 2007). Proses mikrobial tersebut dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan kualitas air dan mengurangi beban cemaran limbah
budidaya ikan ke perairan sekitarnya. Sistem heterotrofik mempunyai potensi

untuk diterapkan dalam pemanfaatan limbah amonia pada pemeliharaan ikan


(Gunadi & Hafsaridewi, 2007).
Komunitas bakteri yang terakumulasi di dalam sistem akuakultur
heterotrofik akan membentuk flok (gumpalan) yang dapat dimanfaatkan sebagai
sumber pakan untuk ikan. Salah satu jenis ikan yang dapat memakan komunitas
mikrobial dalam bioflok adalah ikan tilapia. BFT dalam akuakultur adalah
memadukan teknik pembentukan bioflok tersebut sebagai sumber pakan bagi
ikan (Crab et al, 2007). Pemaduan proses heterotrofik (teknologi bioflok) pada
sistem resirkulasi akan mengakibatkan beban limbah yang dihasilkan dari
budidaya ikan semakin rendah bahkan diharapkan hingga mencapai titik nol
sehingga terwujud sistem budidaya ikan tanpa limbah (Zero-waste aquaculture).
Nila dapat memakan komunitas bakteri dalam sistem BFT dan tumbuh baik
dengan pakan berprotein rendah, sehingga terjadi penghematan biaya pakan
(Azim et al, 2007). Tilapia dapat memakan komunitas bakteri dalam sistem BFT
dan tumbuh baik dengan pakan berprotein rendah, sehingga terjadi penghematan
biaya pakan (Azim et al, 2007). BFT mampu meningkatkan sistem imun pada
tilapia, nila dan udang vanamei, hal ini dibuktikan dengan uji tantang
menggunakan bakteri Steptococcus iniae yang diinjeksikan pada hewan uji
sehingga mampu menghambat pertumbuhan Steptococcus iniae. Hal ini
membuktikan bahwa BFT dapat menekan pertumbuhan Steptococcus iniae
sehingga tingkat kematian nila dapat ditekan hingga 30% (Avnimelech, 2009).
BFT mempunyai keunggulan dibandingkan dengan teknik lainnya karena teknik
ini memadukan penanganan buangan limbah untuk menjaga kualitas air
sekaligus memproduksi pakan ikan secara in situ. Untuk mendapatkan
penggunaan bioflok yang optimal maka perlu dilakukan analisis terhadap nilainilai Feeding Rate (FR) berdasarkan waktu.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.Apa yang dimaksud dengan bioflok?
2.Bagaiman penerapan bioflok pada pada perikanan?
3.Apa kelebihan dan kekurangan sistem bioflok?
1.3 TUJUAN
1. Agar kita mengetahui apa itu bioflok
2. Agar kita mengetahui sistem kerja bioflok
3. Agar kita mengetahui kelebihan maupun kekurangan bioflok

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bioflok
Bioflok merupakan salah satu teknologi yang mampu mengatasi
permasalahan limbah akuakultur, sebab dengan penambahan materi karbon
bakteri heterotrof mampu mengubah nitrogen anorganik yang berasal dari fases
maupun sisa pakan menjadi protein sel tunggal yang kemudian dapat
dimanfaatkan sebagai sumber pakan ikan atau udang (Avnimelech, 1999)
Secara umum pengertian bioflok adalah kumpulan dari
berbagai organisme baik bakteri, jamur, protozoa, maupun algae
yang tergabung dalam sebuah gumpalan (floc). Bioflok berasal
dari kata BIOS yang berarti kehidupan dan FLOC yang artinya
gumpalan. Pada awalnya teknologi bioflok merupakan teknologi
pengolahan limbah berupa lumpur aktif yang melibatkan aktifitas
mikroorganisme.
Dalam penerapan pengolahan limbah, bahan organik
berupa limbah lumpur harus terus diaduk dan diaerasi.
Tujuannya adalah agar limbah selalu dalam kondisi tersuspensi
sehingga dapat diuraikan oleh bakteri heterotrof (Bacillus
megaterium.) secara aerobik menjadi senyawa anorganik.
Keharusan pengadukan dalam teknologi pengolahan
limbah ini dikarenakan jika bahan organik mengendap, maka
akan terjadi kondisi yang anaerob dimana bakteri anaerob
terangsang untuk mengurai bahan organik menjadi senyawa
yang lebih sederhana dan bersifat racun (ammonia, nitrit, H2S,
dan metana).
Bahwa permasalahan utama dalam kegiatan budidaya,
khususnya yang dilakukan secara intensif adalah tingginya
kandungan amonia yang bersifat racun bagi ikan. Hal ini terjadi
karena sisa pakan dan hasil metabolisme ikan yang mengendap
di dalam kolam yang secara langsung maupun tidak langsung
merupakan sumber amonia yang bersifat racun bagi ikan.
Konsep teknologi bioflok dalam akuakultur adalah untuk
mendaur ulang senyawa nitrogen anorganik (amonia yang
bersifat racun) menjadi protein sel mikroba yang dapat dimakan
oleh hewan pemakan detritus seperti nila, udang dan juga lele.
Mengembangkan dan menjaga keberadaan bakteri yang
menguntungkan dalam kolam merupakan kunci sukses teknologi
bioflok. Bakteri yang menguntungkan harus dijaga dominasinya
di dalam kolam sehingga akan menekan pertumbuhan bakteri

patogen yang dapat menyebabkan peyakit pada ikan. Disisi lain,


jika kumpulan bakteri yang menguntung tersebut dapat
membentuk gumpalam flok yang banyak, akan berperan dalam
merobak
limbah
nitrogen
secara
efisien.

2.2 Pendekatan teknologi bioflok


a. Teknologi Bioflok
Teknologi bioflok merupakan salah satu alternatif baru dalam mengalasi
masalah kualitas air dalam akuakultur yang diadaptasi dari teknik pcngolahan
limbah domestik secara konvensional (Avnimelech, 2006; de Schryver et al.,
2008). Prinsip utama yang diterapkan dalam teknologi ini adalah manajemen
kualitas air yang didasarkan pada kemampuan bakteri heterotrof untuk
memanfaatkan N organik dan anorganik yang terdapat di dalam air.
Pada kondisi C dan N yang seimbang dalam air, bakteri heterotrof yang
merupakan akan memanfaatkan N, baik dalam bentuk organik maupun anorganik,
yang terdapat dalam air untuk pembentukan biomasa sehingga konsentrasi N
dalam air menjadi berkurang (de Schryver et al., 2008). Secara teoritis,
pemanfaatan N oleh bakteri heterotrof dalam sistem akuakultur disajikan dalam
reaksi kimia berikut (Ebeling et al., 2006):
NH4+ + 1.18C6H12O6 + HC03- + 2.06O2 C5H7O2N + 6.06H2O + 3.07CO2
Dari persamaan tersebut maka dapat diketahui bahwa secara teoritis untuk
mengkonversi setiap gram N dalam bentuk ammonia, diperlukan 6,07 g karbon
organik dalam bentuk karbohidrat, 0,86 karbon anorganik dalam bentuk
alkalinitas dan 4,71 g oksigen terlarut. Dari persamaan ini juga diperoleh bahwa
rasio C/N yang diperlukan oleh bakteri heterotrof adalah sekitar 6.
Goldman (1987) menyatakan bahwa pada substrat dengan rasio C/N sama dengan
atau lebih dari 10, bakteri heterotrof tidak akan meregenerasi ammonia dari hasil
kalabolisme bahan organik (asam amino) dan sebaliknya akan memanfaatkannya
untuk membentuk sel baru. Sebaliknya, pada rasio C/N yang rendah (<1,5) maka
bakteri heterotrof akan melepaskan ammonia ke lingkungannya (Hargreaves,
2006). Avnimelech (1999) menyatakan bahwa untuk aplikasi teknologi bioflok,
rasio C/N diupayakan mencapai 10 atau lebih.
Teknologi bioflok, sering disebut juga dengan teknik suspensi aktif
(activated suspension technique, AST), menggunakan aerasi konstan untuk
memungkinkan terjadinya proses dekomposisi secara aerobik dan menjaga flok
bakteri berada dalam suspensi (Azim et al., 2007). Dalam sistem ini, bakteri
heterotrof yang tumbuh dengan kepadatan yang tinggi berfungsi sebagai

bioreaktor yang mengontrol kualitas air terutama konsentrasi N serta sebagai


sumber protein bagi organisme yang dipelihara.

Pembentukan bioflok oleh bakteri terutama bakteri heterotrof secara


umum bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan nutrien. menghindari stress
lingkungan dan predasi (Bossier & Verstraete, 1996; de Schryver et al., 2008).
Flok bakteri tersusun atas campuran berbagai jenis mikro-organisme
(bakteri pembentuk flok, bakteri filamen, fungi), partikel-partikel tersuspensi,
berbagai koloid dan polimer organik, berbagai kation dan sel-sel mati (Jorand et
al., 1995, Verstraete, et al., 2007; de Schryver et al., 2008) dengan ukuran
bervariasi dengan kisaran 100 - 1000 m (Azim et al., 2007; de Schryver et al.,
2008). Selain flok bakteri, berbagai jenis organisme lain juga ditemukan dalam
bioflok scperti protozoa, rotifer dan oligochaeta (Azim et al., 2007; Ekasari,
2008). Komposisi organisme dalam flok akan mempengaruhi struktur bioflok dan
kandungan nutrisi bioflok (Izquierdo, et al., 2006; Ju et al., 2008). Ju et al. (2008)
melaporkan bahwa bioflok yang didominasi oleh bakteri dan mikroalga hijau
mengandung protein yang lebih tinggi (38 dan 42% protein) daripada bioflok
yang didominasi oleh diatom (26%).
Kondisi lingkungan abiotik juga berpengaruh terhadap pembentukan
bioflok seperti rasio C/N, pH, temperatur dan kecepatan pcngadukan (de Scryver
et al., 2008; Van Wyk & Avnimeleeh, 2007). Sementara menurut de Schryver et al.
(2008), mekanisme pembentukan flok oleh komunitas bakteri merupakan proses
yang kompleks yang merupakan kombinasi berbagai fenomena fisika, kimia dan
biologis seperti interaksi permukaan bakteri secara fisik dan kimiawi, dan quorum
sensing sebagai kontrol biologis.

b. Aplikasi teknologi bioflok dalam akuakultur


Hingga saat ini teknologi bioflok telah diaplikasikan pada budidaya ikan
dan udang seperti nila, sturgeon, snook, udang putih dan udang windu (Arnold et
al., 2009; Avnimeleeh, 2005, 2007; Burford et al., 2003, 2004; Hari et al., 2004;
Serfling, 2006). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi
bioflok berperan dalam perbaikan kualitas air, peningkatan biosekuriti,
peningkatan produktivitas. peningkatan efisiensi pakan serta penurunan biaya
produksi melalui penurunan biaya pakan (Avnimelech, 2007; Crab et al., 2008,
2009; Ekasari, 2008; Hari et al., 2006, Kuhn et al., 2009; Taw, 2005)
Kemampuan bioflok dalam mengontrol konsentrasi ammonia dalam
sistem akuakultur secara teoritis maupun aplikasi telah terbukti sangat tinggi.
Secara teoritis Ebeling et al. (2006) dan Mara (2004) menyatakan bahwa
immobilisasi ammonia oleh bakteri heterotrof 40 kali lebih cepat daripada oleh
bakteri nitrifikasi. Secara aplikasi de Schryver et al. (2009) menemukan bahwa
bioflok yang ditumbuhkan dalam bioreaktor dapat mengkonversi N dengan
konsentrasi 110 mg NH4/L hingga 98% dalam sehari. Penelitian ini menunjukkan
bahwa bioflok memiliki kapasitas yang besar dalam mengkonversi nitrogen
anorganik dalam air, sehingga dapat memperbaiki kualitas air dengan lebih cepat.
Hasil-hasil penelitian mengenai aplikasi bioflok dalam kegiatan akuakultur secara
langsung juga menunjukkan bahwa kualitas media pemcliharaan, pertumbuhan
dan efisiensi pakan udang windu yang dipelihara dengan peningkatan rasio C/N
secara signifikan lebih baik daripada kontrol (Hari et al. 2004,2006; Samocha et
al.,
2007).
Peningkatan efisiensi pakan juga ditunjukkan oleh beberapa penelitian
aplikasi bioflok (Azim & Little, 2008; Hari et al., 2004, 2006). Hal ini
menunjukkan bahwa keberadaan bioflok sebagai suplemen pakan telah
meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien pakan secara keseluruhan, Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa bioflok dapat dimanfaatkan, baik secara langsung
maupun sebagai tepung untuk bahan baku pakan (Azim & Little, 2008; Ekasari,
2008; Kuhn et al., 2008; 2009). Adapun kandungan nutrisi bioflok umumnya
beragam pada setiap penelitian (Tabel 1) namun dapat mememuhi kebutuhan
organisme akuatik pada umumnya, Craig & Helfrich (2002) menyatakan bahwa
pakan ikan sebaiknya mengandung 18 - 50% protein, 10 - 25% lemak, 15 - 20%
karbohidrat, <8,5% abu, dan sejumlah vitamin dan mineral. Penelitian
pemanfaatan nitrogen bioflok oleh ikan nila dengan menggunakan isotop N oleh

Avnimelech & Kochba (2009) menunjukkan bahwa ikan nila dapat memanfaatkan
240 mg N bioflok/kg ikan atau setara dengan 25% dari protein yang ditambahkan
dalam pakan. Dari teknologi bioflok juga telah dikembangkan pembuatan tepung
bioflok yang telah diujicobakan pada udang putih (Kuhn et al., 2009). Penelitian
ini melaporkan bahwa udang yang diberi substitusi bioflok menunjukkan
pertumbuhan yang lebih baik dari kontrol. Taw et al. (2008) melaporkan bahwa
aplikasi teknologi bioflok di tambak udang di Indonesia yang dikombinasikan
dengan panen secara parsial dapat menurunkan biaya produksi hingga 20%
dengan FCR kurang dari 1,1. Dalam penelitian ini diperoleh data bahwa biaya
yang diperlukan untuk energi yang digunakan untuk aerasi pada budidaya udang
dengan kepadatan yang tinggi dengan sistem bioflok dapat dikurangi dengan
dilakukannya pemanenan parsial.
Pertumbuhan bioflok dalam sistem akuakultur dipcngaruhi oleh fakior
kimia, fisika dan biologis dalam air. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan
untuk mendorong pembentukan bioflok dalam sistem budidaya diantaranya adalah
pcrgantian air seminimal mungkin hingga mendekati nol, aerasi kuat serta
peningkatan rasio C/N (Van Wyk & Avnimelech, 2007). Menurut Van Wyk &
Avnimelech (2007) karakteristik sistem bioflok adalah kebutuhan oksigen yang
tinggi dan laju produksi biomas bakteri yang tinggi. Oleh karena itu dalam sistem
ini diperlukan aerasi dan pengadukan yang kuat untuk menjamin kebutuhan
oksigen baik dari organisme budidaya maupun biomas bakteri serta untuk
memastikan bahwa bioflok tetap tersuspensi dalam air dan tidak mengendap.
intensitas pengadukan dan kandungan oksigen juga mempengaruhi struktur dan
komposisi bioflok (de Schryver et al., 2008). Intensitas pengadukan yang terlalu
tinggi dapat mempengaruhi ukuran bioflok sedangkan kandungan oksigen yang
terlalu rendah dapat menyebabkan dominasi bakteri filamen pada bioflok yang
akan menyebabkan bioflok cenderung terapung.
Pakan buatan yang digunakan dalam kegiatan akuakultur umumnya
mengandung protein yang cukup tinggi dengan kisaran 18 - 50% (Craig &
Helfrich, 2002) dengan rasio C/N kurang dari 10 (Azim et al., 2007). Hal ini
tentunya berdampak pada keseimbangan rasio C/N dalam media budidaya,
sehingga untuk penerapan teknologi bioflok, rasio C/N perlu ditingkatkan lagi.
Peningkatan rasio C/N dalam air untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri
heterotrof dapat dilakukan dengan mengurangi kandungan protein dan
meningkatkan kandungan karbohidrat dalam pakan (Azim et al., 2007; Tacon et
al., 2004) atau dengan menambahkan sumber karbohidrat secara langsung ke
dalam air (Avnimelech, 2007: Samocha et al., 2007). Sumber karbohidrat dapat
berupa gula sederhana seperti gula pasir atau molase (Ekasari, 2008; Kuhn et al.,
2008, 2009; Samocha et al., 2007), atau bahan-bahan pati seperti tepung tapioka,
tepung jagung, tepung terigu dan sorgum (Avnimelech, 1999; Hari et al., 2004;
Van
Wyk
&
Avnimelech,
2007).
Penambahan kandungan karbohidrat dalam pakan tentunya akan merubah

komposisi pakan secara keseluruhan sehingga diperlukan adanya penyesuaian


bahan-bahan tertentu dalam pakan seperti peningkatan kadar vitamin dan mineral.
Menurut Avnimelech (1999) jumlah karbohidrat yang ditambahkan untuk
mendorong pembentukan bioflok dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut: Karbohidrat (kg)= Pakan (kg) x % N dalam pakan x % ekskresi N/0,05
Penggunaan sumber karbon juga perlu memperhatikan beberapa faktor
diantaranya kecepatan pemanfaatan karbohidrat oleh bakteri, kandungan protein
dalam sumber karbohidrat itu sendiri, kecernaan karbohidrat oleh organisme
budidaya, serta harga per unit karbohidrat. Sumber karbon juga dapat
mempengaruhi kandungan nutrisi bioflok seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 1
(Crab et al., 2009; de Schryver et al., 2008; Ekasari, 2008).
Selain aerasi dan pengadukan,
dan
penambahan
karbon,
pembentukan dan struktur bioflok juga dipengaruhi oleh faktor kimia, fisika dan
biologis lain scpcrti laju akumulasi bahan organik, temperatur dan pH (de
Schryver et a/., 2008). Selain melalui pengamatan visual dan mikroskopik
(Gambar 2), pembentukan dan keberadaan bioflok dalam sistem akuakultur dapat
diketahui melalui pengukuran beberapa parameter kimia dan fisika air. Parameter
kimia yang sering digunakan sebagai indikator utama keberadaan bioflok meliputi
chemical oxygen demand (COD), atau jumlah oksigen yang diperlukan untuk
mengoksidasi seluruh bahan organik dalam sampel secara kimiawi, dan biological
oxygen demand (BOD) atau jumlah oksigen yang diperlukan oleh
mikroorganisme untuk mengkonversi bahan organik melalui proses biokimia.
Pada akuakutur dengan sistem bioflok, kebutuhan akan oksigen akan meningkat
terutama disebabkan oleh tingginya kepadatan bakteri heterotrof di dalam air dan
tentunya berpengaruh pada nilai COD maupun BOD. Parameter fisika yang dapat
digunakan untuk mendetcksi keberadaan bioflok adalah suspended solids (SS)f
volatile suspended solids (VSS), floc volume index (FVI). Salah satu karakter
utama sistem bioflok adalah tingginya padatan tersuspensi terutama VSS yang
merupakan indikator tingginya bahan organik tersuspensi dalam air
c. Prinsip dasar Teknologi bioflok
Shirota (2008), menjelaskan prinsip dasar dari bioflok adalah mengubah
senyawa organik dan anorganik yang mengandung senyawa karbon (C), hidrogen
(H), oksigen (O), dan nitrogen (N) menjadi massa sludge berupa bioflok dengan
menggunakan bakteri pembentuk flok (flocs forming bacteria) yang biopolimer
poli hidroksil alkanoat sebagai ikatan bioflok. Skema pembentukan bioflok dapat
dilihat dari Gambar 13.
Proses pembentukan bioflok dimulai dari pemberian pakan pada budidaya
udang. Sebagaimana yang diketahui, pakan yang digunakan dalam budidaya
udang memiliki kandungan protein tinggi. Pakan yang diberikan tidak seluruhnya
mampu diasimilasi oleh tubuh udang dan ikan. Hanya sebagian saja yang mampu
diasimilasi kedalam tubuh sedangkan sisanya terbuang ke perairan dalam bentuk

sisa pakan dan buangan metabolit. Sisa pakan dan buangan metabolit ini menjadi
suatu masalah pada tambak udang karena unsur protein yang terlarut akan segera
membentuk amoniak yang sangat berbahaya bagi organisme akuatik khususnya
udang.

Gambar 13. Skema Pembentukan Bioflok (Soeharsono, 2010).


Keterangan : Makanan mengandung protein tinggi masuk dimakan oleh udang. Makanan
yang dimakan akan di eksresikan menjadi amonia (NH 3) sedangkan yang tidak termakan
menjadi N-Organik yang terakumulasi di kolam. Penangulangan amonia dilakukan
beberapa proses yaitu pemanfaatan langsung oleh alga, melalui proses nitrifikasi dengan
bantuan bakteri autotrof menghasilkan nitrit dan nitrat yang juga dimanfaatkan oleh alga
untuk pertumbuhanya. Proses terakhir yaitu amonia, N-organik dan hasil nitrifikasi (nitrit
dan nitrat) dapat diasimilasi dengan bantuan bakteri heterotorof dan alga yang dibantu
dengan pengadukan dan sirkuklasi akan membentuk komunitas yang disebut Bio-Flocs

2.3 Pengelolaan Kualitas Air Pada Pendekatan Sistem Bioflok


Pengelolaan kualitar air di tambak dilakukan setiap hari yaitu parameter
yang perlu diperhatikan dalam budidaya udang dengan pendekatan Teknologi
Bioflok (BFT) dimana berbasis Probiotik Bacillus subtilis adalah parameter fisika,
(warna air, dan suhu), parameter kimia (DO, pH, NH 3, NO2, P) Dari pengukuran
kualitas air yang dilakukan maka hasil pengukuran dapat digunakan untuk
memantau kondisi air dan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menjaga
kualitas air agar bagus untuk digunakan sebagai media hidup udang dan udang

mampu dengan cepat tumbuh di lingkungan tersebut. Pengukuran kualitas air ada
yang dilakukan setiap hari yaitu, pH, kedalaman air, suhu, DO dan warna air,
sedangkan untuk kualitas air seperti NH3, NO2, Pospat dan diukur setiap 3 atau 4
hari sekali

2.4 Pengukuran bioflok


Pengukuran flok menurut beberapa ahli flok (floker) adalah dengan
menggunakan alat yang disebut Imhoff cone yaitu alat yang terbuat dari bahan
kaca atau palstik transparan berbentuk kerucut dan dilengkapi dengan skala.
Pengukuran dilakukan dengan mengambil 1 liter air pada tambak yang berasal
dari 2 tempat berbeda dalam satu kolam budidaya dengan kedalaman pengambilan
1- 15 cm pada pukul 09.00 - 12.00 WITA. Langkah selanjutnya yaitu
mengendapkan dalam imhoff cone selama 10 15 menit. Volume flok dapat
dibaca pada skala imhoff cone
2.5 Manfaat Teknologi Bioflok
Schryver et al. (2008) berpendapat bahwa, teknologi bioflok adalah suatu
sistem budidaya bakteri heterotrof dan alga dalam suatu gumpalan flocs secara
terkontrol dalam suatu wadah budidaya atau merupakan suatu sistem yang
memanipulasi kepadatan dan aktivitas mikroba sebagai suatu cara mengontrol
kualitas air dengan mentransformasikan amonium menjadi protein mikrobial agar
mampu mengurangi residu dari sisa pakan (Avnimelech & Kochba. 2009). Teknik
bioflok bertujuan meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dengan
pembentukan biomassa mikroba makroagregat dari bahan organik dan senyawa
terlarut (Serfling 2006).
Manfaat penggunaan teknologi bioflok apabila diaplikasikan dengan tepat
adalah meminimalisir pergantian air atau bahkan tidak ada pergantian air dalam
sistem budidaya sehingga teknologi ini ramah lingkungan. Pakan yang digunakan
pun menjadi lebih sedikit ketimbang sistem konvensional lain. Telah dicoba untuk
ikan Nila yang dipelihara dalam sistem bioflok akan tumbuh optimum pada
tingkat pemberian pakan 1,5% dengan pakan yang mengandung 35% protein
(Satker PBIAT Ngrajek, 2012).
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Teknologi Bioflok

Adapun kelebihan dan kekurangan dalam penerapan teknologi bioflok


(BFT). Suprapto (2007), menjelaskan teknologi bioflok memiliki keuntungan dan
kekurangan.
Kelebihan dari teknologi bioflok yaitu
1. pH relatif stabil dan cendrung rendah sehingga kandungan amoniak
(NH4+) relatif rendah.
2. Tidak tergantung dari sinar matahari, namun aktivitasnya menurun
apabila suhu rendah.
3. Tidak perlu ganti air (sedikit ganti air) sehingga biosecurity terjaga.
4. Limbah tambak (kotoran, alga, sisa pakan, ammonia), dapat didaur ulang
dan dijadikan makanan alami dengan protein tinggi, dan lebih ramah
lingkungan.

Kekurangannya dari teknologi bioflok yaitu


1. Tidak dapat diterapkan pada tambak yang bocor/rembes karena sedikit
pergantian air bahkan tidak ada pergantian air,
2. Memerlukan peralatan (kincir) cukup banyak sehingga kebutuhan listrik
lebih tinggi,
3. Aerasi harus hidup terus karena apabila aerasi kurang maka akan terjadi
pengendapan bahan organik sehingga resiko munculnya H2S tinggi
Teknologi bioflok membutuhkan input energi (listrik) yang besar untuk
proses pencampuran air dan aerasi dengan menggunakan kincir air agar suspensi
flok mikroba dapat terus bertahan (Bosma dan Verdegem, 2011).
2.7 Dampak Teknologi Bioflok
Bila dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional, teknologi
bioflok dianggap lebih ramah lingkungan karena hemat dalam hal penggunaan air,
pergantian air yang terbatas mengurangi resiko penyebaran patogen, dan
penggunaan lahan lebih optimal karena kepadatan tinggi.
Klaim ramah lingkungan teknologi bioflok masih terbatas pada
berkurangnya dampak lingkungan perairan, seperti pencemaran bahan organik,

penyebaran patogen dan efisiensi penggunaan lahan serta air, sementara input
energi, kebutuhan bahan dan peralatan juga berpotensi menyumbang potensi
penurunan kualitas lingkunga global. Dalam budidaya intensif, pemberian pakan
dan teknik pemeliharaan kualitas air dengan sistem tertutup dan pergantian air
terbatas, membuka peluang penggunaan energi tinggi dan menghasilkan emisi gas
rumah kaca yang signifikan. Selain itu, teknologi bioflok hanya berkonsentrasi
pada konversi TAN (total ammonia nitrogen) menjadi nitrit, tetapi tidak
memperhitungkam konsumsi oksigen yang dibutuhkan untuk proses aerobik oleh
bakteri dalam proses mengubah nitrit menjadi nitrat. Teknik bioflok dapat
menyebabkan masalah lingkungan lain yang berkaitan dengan akumulasi nitrat.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bioflok merupakan salah satu teknologi yang mampu mengatasi
permasalahan limbah akuakultur, sebab dengan penambahan materi karbon
bakteri heterotrof mampu mengubah nitrogen anorganik yang berasal dari fases
maupun sisa pakan menjadi protein sel tunggal yang kemudian dapat
dimanfaatkan sebagai sumber pakan ikan atau udang (Avnimelech, 1999
Teknologi bioflok membutuhkan input energi (listrik) yang besar untuk
proses pencampuran air dan aerasi dengan menggunakan kincir air agar suspensi
flok mikroba dapat terus bertahan
Manfaat penggunaan teknologi bioflok apabila diaplikasikan dengan tepat
adalah meminimalisir pergantian air atau bahkan tidak ada pergantian air dalam
sistem budidaya sehingga teknologi ini ramah lingkungan. Pakan yang digunakan
pun menjadi lebih sedikit ketimbang sistem konvensional lain. Telah dicoba untuk
ikan Nila yang dipelihara dalam sistem bioflok akan tumbuh optimum pada
tingkat pemberian pakan 1,5% dengan pakan yang mengandung 35% protein
Klaim ramah lingkungan teknologi bioflok masih terbatas pada
berkurangnya dampak lingkungan perairan, seperti pencemaran bahan organik,
penyebaran patogen dan efisiensi penggunaan lahan serta air, sementara input
energi, kebutuhan bahan dan peralatan juga berpotensi menyumbang potensi
penurunan kualitas lingkunga global.
3.2 Saran

Adapun kiranya agar makalah ini dapat dijadikan suatu referensi bagi
pembaca terutama mahasiswa Perikanan dan Ilmu Kelautan sendiri. agar lebih
memahami apa itu sebenarnya Teknologi Bioflok.

DAFTAR PUSTAKA
Ekasari, J. 2009. Teknologi Biotlok: Teori dan Aplikasi dalam Perikanan
Budidaya Sistem Intensif. Dapartemen Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
Jumal Akuakultur Indonesia, 8(2): 117-126 (2009)
Abulias, MN, Utarini, DR, Winarni, ET. 2014. Manajemen Kualitas Media
Pendederan Lele pada Lahan Terbatas Dengan Teknik Bioflok.
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto,
Indonesia. Jurnal MIPA 37 (1): 16-21 (2014)
Riani, H., Rostika, R., Lili, W. 2012. Efek Pengurangan Pakan Terhadap
Pertumbuhan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) P-L 21
yang Diberi Bioflok. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol 3. No. 3
September 2012: 207-211
Suryaningrum, F.M. 2014. Aplikasi Teknologi Bioflok pada Pemeliharaan Benih
Ikan Nila (Oreochromisniloticus). Jurnal Manajemen Perikanan
dan Kelautan Vol. 1 No. 1, Mei 2014