Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut
sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat
di sini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun
juga sehat secara mental serta sosial kultural.
Sekitar 1 milyar manusia atau 1 dari 6 manusia di bumi ini adalah remaja dan
85% di antaranya hidup di negara berkembang. Banyak sekali remaja yang sudah
aktif secara seksual meski bukan atas pilihannya sendiri. Kegiatan seksual
menempatkan remaja pada tantangan risiko terhadap berbagai masalah kesehatan
reproduksi. Setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan,
4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular
Seksual (PMS) yang masih dapat disembuhkan. Secara global, 40% dari semua
kasus HIV/AIDS terjadi pada kaum muda 15-24 tahun. Perkiraan terakhir adalah
setiap hari ada 7000 remaja yang terinfeksi HIV. Jumlah kasus HIV di Indonesia
yang dilaporkan hingga Maret 2007 mencapai 14.628 orang. Sedangkan kasus
AIDS sudah mencapai 8.914 orang, dimana separuh dari kasus ini adalah kaum
muda (umur 15-29 tahun = 57,4 %).
Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Remaja yang diterbitkan oleh Biro Pusat
Statistik, BAPPENAS, dan UNFPA jumlah remaja usia 10 24 tahun pada tahu
2007 adalah sekitar 64 juta jiwa atau 28,64 % dari jumlah perkiraan penduduk
Indonesia sebanyak 222 juta jiwa. Permasalahan remaja saat ini sangat kompleks
dan mengkhawatirkan. Hal ini ditunjukkan dengan masih rendahnya pengetahuan
remaja tentang kesehatan reproduksi. Remaja perempuan dan laki-laki yang tahu
tentang masa subur baru mencapai 29,0 % dan 32,3 %. Remaja perempuan dan
remaja laki-laki yang mengetahui risiko kehamilan jika melakukan hubungan
seksual sekali, masing-masing baru mencapai 49,5 % dan 45,5 %. Remaja
perempuan dan remaja laki-laki usia 14-19 tahun yang mengaku mempunyai
teman yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah masing-masing
mencapai 48,6 % dan 46,5 %.
1

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Situmorang (2001) didapatkan 27%
remaja laki-laki dan 9% remaja perempuan di Medan mengatakan sudah pernah
melakukan hubungan seksual dan data PKBI (2006) didapatkan bahwa kisaran
umur pertama kali melakukan hubungan seksual adalah 13-18 tahun dan 60%
tidak menggunakan alat kontrasepsi. Risiko kesehatan reproduksi ini dipengaruhi
oleh berbagai faktor yang saling berhubungan misalnya kebersihan organ-organ
reproduksi, hubungan seksual pranikah, akses terhadap pendidikan kesehatan,
kekerasan seksual, pengaruh media massa, gaya hidup yang bebas, penggunaan
NAPZA, akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau, dan
kurangnya kedekatan remaja dengan kedua orang tuanya dan keluarganya.
Pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, remaja perlu mendapat
informasi yang cukup, sehingga mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan
yang seharusnya dihindari. Dengan mengetahui tentang kesehatan reproduksi
remaja secara benar, kita dapat menghindari hal-hal yang negatif yang mungkin
akan dialami oleh remaja yang

tidak

mempunyai pengetahuan yang cukup

tentang kesehatan reproduksi remaja.


Remaja juga perlu menyadari akan pentingnya pembuatan keputusan untuk
menolak setiap kegiatan seksual yang rentan terjadi pada masa remaja karena
setiap kegiatan seksual mempunyai risiko negatif tentang kesehatan reproduksinya.
Hubungan atau kontak seksual pada remaja di bawah 17 tahun juga berisiko
terhadap tumbuhnya sel kanker pada mulut rahim, penyakit menular seksual,
HIV/AIDS, melakukan aborsi, dan lebih jauh dapat menyebabkan komplikasi
berupa gangguan mental dan kepribadian pada remaja.
Remaja putri merupakan yang paling rentan dalam menghadapi masalah
kesehatan sistem reproduksinya. Hal ini dikarenakan secara anatomis, remaja putri
lebih mudah terkena infeksi dari luar karena bentuk dan letak organ
reproduksinya yang dekat dengan anus. Dari segi fisiologis, remaja putri akan
mengalami menstruasi, sedangkan masalah-masalah lain yang mungkin akan terjadi
adalah kehamilan di luar nikah, aborsi, dan perilaku seks di luar nikah yang berisiko
terhadap kesehatan reproduksinya. Dari segi sosial, remaja putri sering
mendapatkan perlakuan kekerasan seksual.
2

Risiko kesehatan reproduksi remaja ini dapat ditekan dengan pengetahuan yang
baik tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Pengetahuan tentang KRR
ini dapat ditingkatkan dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang dimulai
dari usia remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi di usia remaja bukan hanya
memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat
pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak
diharapkan atau kehamilan berisiko tinggi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kesehatan Reproduksi
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 23
Tahun 1992).
Definisi ini sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan
kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial, ditambahkan lagi (sejak
deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syarat baru, yaitu: sehingga setiap
orang akan mampu hidup produktif, baik secara ekonomis maupun sosial.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang
utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang
berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya.
Kesehatan reproduksi berarti bahwa orang dapat mempunyai kehidupan seks yang
memuaskan dan aman, dan mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan
kebebasan untuk menentukan keinginannya, kapan dan frekuensinya.

2.2 Hak yang Terkait Dengan Kesehatan Reproduksi


Membicarakah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dengan soal hak
reproduksi, kesehatan seksual dan hak seksual. Hak reproduksi adalah bagian dari hak
asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan individual untuk memutuskan secara
bebas dan bertanggung jawab jumlah, jarak, dan waktu kelahiran anak, serta untuk
memiliki informasi dan cara untuk melakukannya.
1. Kesehatan Seksual
Kesehatan seksual yaitu suatu keadaan agar tercapai kesehatan reproduksi yang
mensyaratkan bahwa kehidupan seks seseorang itu harus dapat dilakukan secara
memuaskan dan sehat dalam arti terbebas dari penyakit dan gangguan lainnya. Terkait
dengan ini adalah hak seksual, yakni bagian dari hak asasi manusia untuk
memutuskan secara bebas dan bertanggungjawab terhadap semua hal yang
4

berhubungan dengan seksualitas, termasuk kesehatan seksual dan reproduksi, bebas


dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan.

2. Prinsip Dasar Kesehatan Dalam Hak Seksual dan Reproduksi


a. Bodily integrity, hak atas tubuh sendiri, tidak hanya terbebas dari siksaan dan
kejahatan fisik, juga untuk menikmati potensi tubuh mereka bagi kesehatan,
kelahiran dan kenikmatan seks aman.
b. Personhood, mengacu pada hak wanita untuk diperlakukan sebagai aktor dan
pengambilan keputusan dalam masalah seksual dan reproduksi dan sebagai
subyek dalam kebijakan terkait.
c. Equality, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dan antar perempuan
itu sendiri, bukan hanya dalam hal menghentikan diskriminasi gender, ras, dan
kelas melainkan juga menjamin adanya keadilan sosial dan kondisi yang
menguntungkan bagi perempuan, misalnya akses terhadap pelayanan
kesehatan reproduksi.
d. Diversity, penghargaan terhadap tata nilai, kebutuhan, dan prioritas yang
dimiliki oleh para wanita dan yang didefinisikan sendiri oleh wanita sesuai
dengan keberadaannya sebagai pribadi dan anggota masyarakat tertentu.
e. Ruang lingkup kesehatan reproduksi sangat luas yang mencakup berbagai
aspek, tidak hanya aspek biologis dan permasalahannya bukan hanya bersifat
klinis, akan tetapi non klinis dan memasuki aspek ekonomi, politik, dan sosialbudaya. Oleh karena itu diintroduksi pendekatan interdisipliner (meminjam
pendekatan psikologi, antropologi, sosiologi, ilmu kebijakan, hukum dan
sebagainya) dan ingin dipadukan secara integratif sebagai pendekatan
transdisiplin.

2.3 Kesehatan Reproduksi Remaja


Kesehatan reproduksi remaja secara umum didefinisikan sebagai kondisi sehat
dan sistem, fungsi, dan proses alat reproduksi yang dimiliki oleh remaja.
Remaja perlu memahami tentang kesehatan reproduksi, khususnya kesehatan
reproduksi remaja, karena keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi

mempunyai

konsekuensi

atau

perkembangan dan kehidupan sosial remaja.

akibat

jangka

panjang

dalam

2.3.1

Tumbuh Kembang Remaja


Remaja adalah individu baik perempuan, maupun laki-laki yang berada pada
masa/usia antara anak-anak dan dewasa. United Nations menyebut remaja
bagi mereka yang berusia 15-24 tahun. Di Indonesia, batasan remaja mendekati
batasan PBB tentang pemuda kurun usia 14-24 tahun yang dikemukakan dalam
Sensus Penduduk.
Masa remaja adalah merupakan masa peralihan baik secara fisik, psikis
maupun sosial dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Remaja adalah asset
sumber daya manusia yang merupakan tulang punggung penerus generasi
di

masa mendatang. Bila dilihat dari komposisi penduduk menurut kelompok

umur dan jenis kelamin, jumlah remaja menempati posisi yang lebih besar
dibanding dengan komposisi umur
usia remaja

lainnya.

Besarnya

jumlah penduduk

ini adalah merupakan peluang dan bukan menjadi masalah bagi

pemerintah.
J.J. Rosseau membagi perkembangan jiwa manusia menurut perkembangan
perasaannya, yang membaginya dalam 4 tahap yaitu :
1. Umur 0-4 atau 5 tahun

: masa kanak-kanak (infancy).

2. Umur 5-12 tahun

: masa bandel (savage stage).

3. Umur 12-15 tahun

: bangkitnya akal (rasio), nalar (reason) dan


kesadaran(self consciousness).

4. Umur 15-20 tahun

: masa kesempurnaan remaja (adolescence proper)


dan merupakan puncak perkembangan emosi.

Individu pada masa remaja akan mengalami situasi pubertas, dimana ia akan
mengalami

perubahan

yang

mencolok

secara

fisik

maupun

secara

emosional/psikologis dibandingkan dengan masa sebelumnya, yaitu masa kanakkanak.


a. Perkembangan Fisik (Biologik) pada Masa Remaja
Pada masa remaja, seseorang mengalami pertumbuhan fisik yang lebih
cepat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Hal ini terlihat pada
organ seksualnya, dimana biologik sampai pada kesiapan untuk melanjutkan
keturunan.
Pada wanita, ciri sekunder individu dewasa terjadi karena beberapa jenis
hormon/zat dalam tubuh, terutama estrogen dan progesterone, mulai
6

berperan aktif sehingga mulai tumbuh payudara, pinggul mulai melebar dan
membesar. Disamping itu, akan mulai tumbuh rambut halus di sekitar
ketiak dan vagina/kemaluan, dan perubahan lainnya seperti, kulit dan
rambut mulai berminyak, keringat bertambah banyak, lengan dan tungkai
kaki bertambah panjang, tulang-tulang wajah mulai memanjang dan
membesar, dan lainnya. Pada wanita, kedua indung telur (ovarium) akan
menghasilkan sel telur (ovum). Hormon kelamin wanita mempersiapkan
rahim (uterus) untuk menerima hasil konsepsi bila sel telur dibuahi oleh
sperma,

juga

mempersiapkan

vagina

sebagai

penerima

penis

saat

bersenggama. Sejak saat ini wanita akan mengalami ovulasi dan menstruasi.
Ovulasi adalah proses keluarnya ovum dari ovarium, dan jika tidak dibuahi,
maka ovum akan mati dan terjadilah menstruasi. Menstruasi adalah peristiwa
alamiah keluarnya darah dari vagina

yang

berasal dari uterus akibat

lepasnya endometrium sebagai akibat dari ovum yang tidak dibuahi.


Sama halnya dengan perempuan, ciri seks sekunder pada laki-laki
terutama akan disebabkan oleh hormon testosterone yang menyebabkan
tumbuhnya rambut di sekitar ketiak dan kemaluan, tumbuh jenggot dan
kumis, terjadi perubahan suara menjadi berat, tubuh bertambah berat dan
tinggi, keringat bertambah banyak, kulit dan rambut mulai berminyak,
lengan dan tungkai kaki bertambah panjang, pundak dan dada bertambah
besar dan bidang, tumbuh jakun, penis dan buah zakar membesar, dan
lainnya. Pada pria, sejak usia ini

testis akan menghasilkan sperma yang

tersimpan dalam skrotum. Kelenjar prostat akan menghasilkan sperma, dan


penis dapat digunakan untuk bersenggama dalam perkawinan. Seorang pria
dapat menghasilkan puluhan sampai jutaan sperma sekali ejakulasi dan
mengalami mimpi basah, dimana sperma keluar dengan sendirinya
secara alamiah.
Perubahan fisik baik pada remaja perempuan maupun pada remaja lakilaki akan berhenti pada usia sekitar 20 tahun, yang berakibat tubuh tidak
akan bertambah tinggi lagi, payudara tidak akan membesar lagi, dan pinggul
tidak akan bertambah lebar.
b. Perkembangan Psikososial pada Masa Remaja
Kesadaran akan bentuk fisik
7

yang bukan lagi anak-anak akan

menjadikan remaja sadar meninggalkan tingkah laku anak-anaknya dan


mengikuti norma, serta aturan yang berlaku. Perubahan psikologis terjadi
disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan kebutuhan, konflik nilai
antara keluarga dan dunia luar, serta terjadinya perubahan fisik. Perubahan
psikologis yang dimaksud seperti remaja menjadi sangat sensitif, sering
bersikap irasional, mudah tersinggung, bahkan stres.
Menurut Havigrust aspek psikologis yang menyertai masa remaja adalah
:

Menerima kenyataan (realitas) jasmani.

Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman


sebaya.

Menjalankan peran-peran social menurut jenis kelamin sesuai dengan


norma.

Mencapai kebebasan emosional (tidak tergantung) pada orang tua atau


orang dewasa lain.

Mengembangkan

kecakapan

intelektual

serta

konsep

untuk

bermasyarakat.

Memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan atau jabatan.

Mencapai kebebasan ekonomi, merasa mampu hidup dengan nafkah


sendiri.

2.3.2

Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan.

Perilaku Seksual Remaja


Menjadi remaja berarti menjalani proses berat yang membutuhkan
banyak penyesuaian dan menimbulkan kecemasan. Lonjakan pertumbuhan
badani dan pematangan organ-organ reproduksi adalah salah satu masalah besar
yang mereka hadapi. Perasaan seksual yang menguat tak bisa tidak dialami oleh
setiap remaja meskipun kadarnya berbeda satu dengan yang lain, begitu juga
kemampuan untuk mengendalikannya. Ketika mereka harus berjuang mengenali
sisi-sisi diri yang mengalami perubahan
pubertas, masyarakat justru berupaya

fisik,

psikis,

dan sosial akibat

keras menyembunyikan segala

hal

tentang seks. Tidak tersedianya informasi yang akurat dan benar tentang
kesehatan

reproduksi

memaksa
8

remaja mencari akses dan melakukan

eksplorasi sendiri.
Perilaku remaja yang tidak sehat

akan menimbulkan beberapa

manifestasi khususnya di kalangan remaja sendiri, masalah yang dapat timbul


adalah :

Dampak

kehamilan

yang

tidak

diinginkan

pada

remaja

putri

baik terhadap kesehatan.

Pengguguran kandungan, terutama yang dilakukan secara tidak aman.

Dampak sosial ekonomi dari kehamilan yang tidak diinginkan.

Masalah penyakit menular seksual.

Dampak sosial dan ekonomi dari penyakit menular seksual.

a. Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD) pada Remaja


Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang
oleh karena suatu sebab maka keberadaannya tidak diinginkan atau diharapkan
oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut.
Penyebab KTD pada Remaja adalah:
Karena kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar mengenai
proses terjadinya kehamilan, dan metode pencegahan kehamilan.
KTD

akan

semakin

memberatkan remaja perempuan jika

pasangannya tidak bertanggung jawab atas kehamilan yang terjadi.


KTD dapat terjai akibat tindakan perkosaan. Dalam hal ini meskipun
remaja putri memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi ia tidak bisa
menghindarkan diri dari tindakan seksual yang dipaksakan

terhadapnya.
KTD bisa terjdai pada remaja yang telah menikah dan telah
menggunakan cara pencegahan kehamilan, namun tidak berhasil.

KTD dapat berdampak pada kehidupan sosial remaja. Kehamilan

yang

terjadi pada remaja memberi dampak yang berat pada remaja. Dikucilkan,
diberhentikan dari pekerjaan, dan menjadi bahan pembicaraan yang

tidak

enak dalam masyarakat harus selalu diterima olehnya. Kemungkinan untuk


diusir dari keluarga karena keluarga tidak tahan menahan aib yang harus
diterima akibat perbuatannya juga harus diterima olehnya. Satu cara lain yang
harus dihadapi oleh remaja itu sendiri untuk menutupi semua adalah
9

perkawinan. Meskipun hal itu terpaksa dilakukannya namun ia tidak memiliki


pilihan lain untuk menyelamatkan nama baik keluarga.
Selain berdampak pada kehidupan sosial, KTD juga dapat memiliki dampak
medis bagi remaja. Dampak medis yang terjadi pada kehamilan remaja adalah
persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan
akibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan. Keadaan
gizi yang buruk, tingkat sosial ekonomi yang rendah, dan stres juga dapat
memudahkan terjadi infeksi saat hamil, terlebih pada kala nifas. Keadaan lain
yang dapat terjadi adalah anemia kehamilan, keracunan kehamilan, dan
kematian ibu yang tinggi akibat menggugurkan kehamilan.
b. Aborsi pada Remaja
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil kehamilan
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus yang tidak aman
(unsafe abortion) adalah abortus yang dilakukan oleh orang yang tidak
terlatih/kompeten sehingga menimbulkan banyak komplikasi bahkan kematian.
Melahirkan mengandung risiko bagi semua perempuan, apalagi bila
remaja perempuan memutuskan untuk mengakhiri kehamilan yang tidak
dikehendaki. Karena hal ini tidak dibenarkan oleh hukum di Indonesia, pada
umumnya mereka mencari

orang

yang

dapat

melakukan

pengguguran

kandungan, sering kali oleh mereka yang tidak ahli dan bekerja dengan kondisi
yang tidak memenuhi persyaratan medis sebagian remaja mengakhiri kehamilan
yang tidak diinginkan dengan cara- cara yang tidak aman, malah berbahaya bagi
kesehatannya sendiri, misalnya :
Meminum ramuan atau jamu baik yang dibuat sendiri maupun yang dibeli.
Memijat peranakannya atau dengan mencoba mengeluarkan janin dengan

lat-alat yang membahayakan dengan bantuan dukun pijat.


Meminum obat-obatan yang diberikan oleh dokter atau bidan.
Cara tersebut dapat mengakibatkan perdarahan, infeksi, hingga kematian

calon ibu. Jika dengan cara-cara tersebut kehamilan tidak berhasil diakhiri,
kemungkinan janin mengalami kecacatan mental maupun fisik dalam masa
pertumbuhannya. Di samping itu, aborsi juga berdampak pada kondisi
psikologis. Perasaan bersalah sering kali menghantui pasangan khususnya wanita
setelah mereka melakukan aborsi ini.
10

c.

Infeksi Menular Seksual (IMS)


Infeksi menular seksual adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan
seksual yang lebih berisiko bila hubungan seksual dilakukan dengan bergantiganti pasangan, baik melalui vagina, oral, maupun anal.
Infeksi menular seksual menyebabkan infeksi alat reproduksi yang harus
dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan
menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan, dan kematian.
Oleh karena bentuk dan letak alat kelamin yang menonjol, pada lakilaki gejala penyakit menular seksual lebih mudah dikenali, dilihat, dan
dirasakan, sedangkan pada perempuan sebagian besar tanpa gejala, sehingga
sering kali tidak disadari.
Pada laki-laki, gejala IMS antara lain :
Bintil-bintil berisi cairan, lecet, atau borok pada penis/alat kelamin.
Luka tidak sakit, keras, dan berwarna merah pada alat kelamin.
Adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam.
Rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin.
Rasa sakit yang hebat saat buang air kecil.
Kencing nanah atau darah yang berbau busuk.
Bengkak panas dan nyeri pada pangkal paha.
Sedangkan pada perempuan gejala-gejala penyakit menular seksual

adalah:
Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual.
Rasa nyeri pada perut bagian bawah.
Pengeluaran lendir pada vagina.
Keputihan berwarna putih susu, bergumpal, dan disertai rasa gatal dan

kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya.


Keput ihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal.
Timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual.
Bintil-bintil berisi cairan, lecet, atau borok pada alat.
Beberapa pencegahan terjadinya infeksi menular seksual adalah dengan

tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, kemudian menghindari


hubungan seksual yang tidak aman atau berisiko, selalu menggunakan kondom
untuk mencegah penularan penyakit menular seksual, serta selalu menjaga
kebersihan alat kelamin.

2.3.3

Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja


Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi
11

melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, penciuman, rasa, dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk
tindakan seseorang.
Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari
oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan.

Hasil

penelitian

Rogers

(1974)

dalam

Notoatmodjo

(2005), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru


(berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut menjadi proses yang berurutan
yakni:
a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Interest, dimana orang merasa tertarik terhadap stimulus atau objek
tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai timbul.
c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus
tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa
yang dikehendaki oleh stimulus.
e. Adoption,

dimana

subjek

telah

berperilaku

baru

sesuai

dengan

pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.


Pengetahuan seseorang individu terhadap sesuatu dapat berubah dan
berkembang sesuai kemampuan, kebutuhan, pengalaman, dan tinggi rendahnya
mobilitas materi informasi tentang sesuatu di lingkungannya. Pengetahuan yang
dicakup dalam daerah kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :
a. Tahu (know) adalah mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain dengan menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan.
b. Memahami (comprehension) adalah kemampuan untuk memahami secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar.
c. Aplikasi (application) adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
12

d. Analisis (analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek


ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
e. Sintesis

(synthesis)

adalah

kemampuan

untuk

meletakkan

atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang


baru.
f. Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Pengetahuan remaja terhadap reproduksi sehat sangat tergantung pada
informasi yang diterima baik dari penyuluhan maupun dari media massa serta
kemampuan untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut.
Pendidikan seksualitas adalah suatu kegiatan pendidikan yang berusaha untuk
memberikan pengetahuan agar remaja dapat mengubah perilaku seksualnya
kearah yang lebih bertanggung jawab. Sekolah sebagai institusi formal yang
merupakan tempat sebagian besar kelompok remaja adalah wadah yang tepat
untuk memberikan pengetahuan kepada remaja tentang kesehatan reproduksi
atau perilaku seksual yang sehat dan aman melalui pendidikan yang dimasukkan
dalam kurikulum.
Pada dasarnya, tujuan pendidikan kesehatan reproduksi remaja adalah untuk
membekali para remaja dalam menghadapi gejolak biologisnya agar :

Mereka tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah karena mengetahui


risiko yang dapat mereka hadapi.

Seandainya mereka tetap melakukannya juga (tidak semua orang dapat


dicegah untuk melakukannya), mereka dapat mencegah risiko buruk yang
dapat terjadi.

Jika risiko terjadi juga, mereka akan menghadapinya secara bertanggung


jawab.

2.4 Permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja


Menurut FIGO (Federation International de Gynecology et dObstertrique)
batasan kesehatan reproduksi adalah kemampuan untuk berproduksi, mengatur
13

reproduksi dan untuk menikmati hasil reproduksinya. Batasan tersebut harus diikuti
dengan keberhasilan untuk mempertahankan hasil reproduksi dan tumbuh
kembangnya. Pubertas pada remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan
masa dewasa. Tidak ada batas yang jelas antara akhir masa anak awal dan awal masa
pubertas, akan tetapi dapat dikatakan bahwa pubertas mulai dengan awal berfungsinya
ovarium. Pubertas berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi dengan mantap dan
ovulasi teratur, secara klinis pubertas dimulai dengan timbulnya ciri-ciri seks
sekunder dan berakhir jika sudah ada kemampuan reproduksi.
Pubertas pada wanita dimulai kira-kira pada umur 8-14 tahun dan berlangsung
kurang lebih selama 4 tahun. Awal pubertas jelas dipengaruhi oleh faktor genetik dan
faktor lingkungan (kesehatan dan gizi). Usia menarche sekarang berkisar antara 11-13
tahun namun umur rata-rata menarche dan ovulasi pada saat ini cenderung lebih muda
daripada beberapa dekade yang lalu. Sebagai akibat menarche awal dan mungkin oleh
karena kebebasan seksual, banyak pusat pelayanan obstetri mengalami peningkatan
kasus kehamilan remaja. Committee on adolescents, menyatakan sebenarnya seksual
pranikah, kehamilan dan abortus adalah kebebasan individu dan sulit dicegah.
Menurut Fielding dan Williams, peningkatan kehamilan pada usia muda setiap tahun
menghasilkan 15 juta kelahiran dari ibu usia muda pada tahun 1988. Di Amerika
Serikat dari 1 juta wanita usia muda yang hamil, hampir

semuanya tidak

menginginkan kehamilannya, lebih dari 40% melakukan aborsi dan 38% saat
melahirkan berusia kurang dari 17 tahun.

14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk diketahui oleh para perempuan bakal
calon ibu ataupun laki-laki calon bapak. Oleh karena itu berdasarkan uraian di atas
dapat penulis simpulkan bahwa.
Definisi kesehatan sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan dengan
kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dana sosial, ditambahkan lagi (sejak
deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syarat baru, yaitu: sehingga setiap
orang akan mampu hidup produktif, baik secara ekonomis maupun sosial.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang
utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam segala hal yang
berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya.
Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap pasangan dan
individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab jumlah, jarak, dan
waktu kelahiran anak, serta untuk memiliki informasi dan cara untuk melakukannya.
Kesehatan reproduksi remaja secara umum didefinisikan sebagai kondisi sehat dan
sistem, fungsi, dan proses alat reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Remaja
perlu memahami tentang kesehatan reproduksi, khususnya kesehatan reproduksi
remaja, karena keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi
mempunyai konsekuensi atau akibat jangka panjang dalam perkembangan dan
kehidupan sosial remaja.
15

16

DAFTAR PUSTAKA
Dariyo, A. 2003. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Departemen Kesehatan RI. 2000. Health Services Research. Jakarta: Departemen
Kesehatan.
Harahap J. 2003. Kesehatan Reproduksi. Bagian Kedokteran Komunitas dan
Kedokteran Pencegahan FK USU: Perpustakaan digital USU.
Romauli, Suryati dkk. 2011 . Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika.
Widyastuti Y, dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Fitramaya. Yogyakarta.
Yanti. 2011. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Pustaka Riham

17

18