Anda di halaman 1dari 3

Dalam praktikum ini dilakukan sintesis benzyl alcohol dan asam benzoate

yang bertujuan untuk mengetahui reaksi antara benzaldehida dan kalium hidroksida,
serta mempelajari reaksi cannizzaro. 20 gram KOH dilarutkan dalam 90 mL air dan
dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Proses ini merupakan suatu reaksi eksotermis
yang menghasilkan panas. Selanjutnya, ditambahkan 16 gram benzaldehid. KOH dan
benzaldehid adalah sebagai reaktan. Fungsi air adalah sebagai pelarut/ penghidrolisis
KOH, sedangkan kalium hidroksida ditambahkan berfungsi sebagai basa kuat agar
terjadi reaksi cannizzaro, selain itu fungsi penambahan KOH adalah untuk
menginduksi karbon alfa pada benzaldehid. Selanjutnya larutan di refluks selama 2
jam. Laju reaksi dari reaksi ini sangat lambat. Oleh karena itu dipercepat dengan cara
merefluks selama 2 jam dengan suhu yang tinggi. Proses refluks dilakukan selama 2
jam karena reaksi tersebut baru berjalan dengan sempurna dalam waktu 2 jam.
Setelah dilakukan refluks selama 2 jam, larutan didinginkan dalam larutan es.
Tambahkan 53 mL air

untuk melarutkan kalium benzoate/endapan yang telah

terbentuk dan 15 mL diklorometan. Larutan dimasukkan dalam corong pisah dan


ditambahkan 15 mL eter. Penambahan eter bertujuan agar terjadi pemisahan antara
larutan yang bersifat polar dengan larutan yang bersifat non polar. Kemudian dikocok
larutan tersebut untuk mengekstrak benzil alkohol dengan eter. Larutan yang telah
diekstrak akan terbagi dua bagian, lapisan yang paling atas merupakan larutan eteral
(yaitu campuran homogen antara eter dengan benzil alkohol), sedangkan bagian
bawah merupakan larutan berair yang sebagian besar mengandung air dan asam
benzoat serta pengotor-pengotor lainnya. Pemisahan larutan menjadi dua setelah
ditambahkan eter disebabkan karena adanya sifat bahwa suatu senyawa polar akan
larut dalam pelarut polar, begitu pula sebaliknya (like dissolve like). Eter
merupakan suatu molekul polar, tetapi sukar larut dalam air karena kepolarannya
sangat rendah, tetapi eter merupakan suatu pelarut yang baik pada senyawa-senyawa
organik yang tidak larut dalam air. Karena eter memiliki kepolaran yang hampir sama
dengan benzil alkohol, maka benzil alkohol akan mudah larut dalam eter, sehingga
akan lebih mudah untuk diekstrak/dipisahkan, sedangkan asam benzoat mudah larut
dengan air. Karena adanya perbedaan dua kepolaran yang bebeda tersebut maka
dalam larutan akan terbentuk dua lapisan yang berbeda, yang tidak dapat bercampur
satu sama lain. Letak dari senyawa dalam corong pisah ini sangat dipengaruhi oleh
berat jenis masing-masing senyawa. Larutan eteral berada pada lapisan atas
dikarenakan memiliki massa jenis yang lebih ringan, sedangkan larutan berair yang

memiliki massa jenis yang lebih besar berada pada lapisan bawah. Selain itu pada
proses ekstraksi ini dilakukan pengocokan agar terbentuk suatu emulsi, yang akan
lebih memudahkan dalam homogenisasi larutan, dan pemisahan lapisan. Pada proses
pengocokan sesekali dibuka tutupnya agar gas eter yang timbul dapat langsung
dikeluarkan. Gas eter tersebut terjadi karena sifat eter itu sendiri yang mudah
menguap. Kemudian dipisahkan kedua lapisan tersebut dengan lapisan eteral tetap
berada di dalam corong pisah. dilakukan ekstrak lagi pada larutan berair , ekstraksi
tersebut dilakukan dua kali menggunakan masing-masing 12,5 mL eter. Hal tersebut
dimaksudkan agar sisa benzil alkohol yang masih berada dalam larutan berair dapat
terekstrak seluruhya. Dalam melakukan ekstraksi lebih baik dilakukan berulangkali
dengan jumlah pelarut organik dalam jumlah sedikit, daripada sekali dengan pelarut
organik dalam jumlah yang banyak, karena hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi
penggunaan bahan. Dari hasil ekstraksi tersebut didapatkan dua macam larutan, yaitu
larutan eteral dan larutan berair. Kemudian larutan air disimpan, sedang larutan eteral
diekstrak lagi.
Ekstrak eter yang terbentuk dari 3 kali ekstraksi tersebut kemudian digabungkan
dan dilakukan pengocokan terhadap larutan eter tersebut dua kali dengan
menggunakan 3 mL larutan natrium metabisulfit jenuh untuk memisahkan
benzaldehida yang masih ada dalam larutan. Setelah dilakukan pengocokan, maka
akan timbul dua lapisan, hal tersebut menandakan bahwa larutan eteral tersebut
masih mengandung sisa benzaldehid yang tidak digunakan untuk reaksi. Natrium
metabisulfit tersebut akan akan memberikan kepolaran yang berbeda antara
benzaldehid yang memiliki kepolaran yang berbeda dengan larutan eteral, sehingga
terbentuk dua lapisan. Setelah itu larutan baru dicuci dengan 5 mL larutan 10%
natrium karbonat dan 5 mL air. Penambahan natrium karbonat akan membuat
larutan benar-benar terpisah menjadi dua dengan batas yang sangat jelas, sehingga
lebih mudah dipisahkan. Selain itu tujuan proses pencucian dengan 10% natrium
karbonat dan air adalah agar diperoleh larutan benzil alkohol yang lebih murni.
Kemudian barulah dipisahkan larutan yang mengandung benzil alkohol dengan
larutan yang mengandung benzaldehid. Setelah pemisahan dilakukan, kemudian
larutan bisa dikeringkan dengan natrium sulfat (Na 2SO4) anhidrous. Penambahan
Na2SO4 itu berfungsi sebagai agen penghidrasi ( pengikat molekul air dari hasil
samping reaksi/ molekul air yang ikut terekstraksi). Kemampuan pengikatan tersebut
dikarenakan Na2SO4 anhidrous memiliki afinitas yang besar terhadap molekul air. Hal
ini dimaksudkan untuk mendapatkan benzil alkohol yang lebih murni, dan terbebas

dari molekul air. Penambahan Na2SO4 dilakukan sedikit demi sedikit hingga butiran
Na2SO4 yang sudah bergabung/ mengikat molekul air tidak pisah lagi. Air yang sudah
terikat dtandai dengan penggumpalan sesuatu zat yang berwarna putih yang terletak
didasar. Selanjutnya larutan diatas ditaruh di atas air mendidih( seperti proses
evaporasi ) . Evaporasi ini dimaksudkan untuk menghilangkan pelarut yang masih
ada yaitu eter, dan diharapkan akan dihasilkan benzil alkohol yang murni. Dari
evaporasi tersebut diperoleh benzil alkohol yang berwarna kuning jernih, dan
diperoleh benzil alkohol seberat gram. Apabila dibandingkan dengan
perhitungan secara teoritis seharusnya diperoleh benzil alkohol seberat

..,

setelah rekristalisasi seberat. Fasa berair( asa. Benzoate) ditambahkan 40 mL


HCl pekat, 40 mL air, dan 50 gr es. Hal tersebut dimaksudkan agar terbentuk asam
benzoat, karena yang terbentuk sebelumnya yaitu dari reaksi adalah Kalium benzoat,
bukannya asam benzoat. HCl tersebut akan terhidrolisis menjadi ion-ionnya dalam
air, ion H+ dari HCl ini akan menggeser keberadaan ion K + dari ion benzoat, sehingga
terbentuklah asam benzoat. Pada suasana asam ini asam benzoat berwujud padat,
sedangkan pada suasana basa/alkali ion benzoat ini berwujud cair. Kristal benzoate
yang didapat berwarna putih dengan berat. setelah rekristalisasi seberat.
Proses selanjutnya adalah rekristalisasi kedua Kristal yang didapatkan. Hal
tersebut bertujuan untuk menghilangkan zat pengotor yang ada dalam Kristal asam
benzoate maupun benzyl alcohol. Yang dilakukan selanjutnya adalah uji titik didih
benzyl alcohol, diperoleh.dan uji titik leleh asam benzoate, diperoleh. Secara
teori seharusnnya titik didih benzyl alcohol 205,5 C dan titik leleh asam benzoate
122,4 C. hal ini dikarenakan dalam Kristal yang telah diuji titik leleh maupun titik didih
terdapat zat pengotor dan keterbatasan waktu praktikum.