Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak ibu yang mengeluh, gigi depan rahang atas anaknya berwarna kecoklatan,
mahkota giginya rusak, bahkan terkadang hanya tinggal sedikit saja mahkota yang tersisa.
Namun kebanyakan para ibu tersebut tidak menyadari apa penyebabnya. Yang sesungguhnya
terjadi adalah gigi tersebut mengalami karies, dan kejadian ini sering disebut sebagai karies
botol, early childhood caries, atau baby bottle caries. Pola karies gigi ini erat kaitannya dengan
pemberian susu atau cairan manis lain dengan menggunakan botol secara berkepanjangan.
Terlebih lagi bila anak terbiasa atau dibiasakan meminum susu botol sebelum tidur, dan tak
jarang botol susu masih ada dalam mulut anak saat ia jatuh tertidur. Karies gigi sulung yang
disebabkan pemberian susu atau minuman manis lain menggunakan botol susu secara
berkepanjangan memiliki ciri yang khas. Gigi yang terlibat biasanya adalah gigi depan rahang
atas, dan biasanya keempat gigi depan rahang bawah bebas karies.
Faktor perilaku orang tua menjadi faktor pendukung terjadinya masalah ini, terutama
karena kurangnya pengetahuan orang tua mengenai kesehatan gigi yang benar. Persentase
kejadian ini cukup tinggi, dari suatu penelitian dilaporkan 3-6% anak di bawah usia 4 tahun
mengalami karies botol.
1.2 Tujuan

Agar mahasiwa mampu menjelaskan tentang konsep caries gigi dan membuat asuhan
keperawatan pada klien dengan caries gigi

BAB II
TEORITIS
1

2.1 Definisi
Karies gigi atau pembusukan gigi adalah suatu kerusakan destruktif progresif dan
mengenai jaringan-jaringan gigi yang mengalami perkapuran.
Karies adalah kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga
menjalar ke dentin (tulang gigi).
Karies adalah suatu penyakit jaringan keras gigi (email, dentin dan sementum) yang
bersifat kronik progresif dan disebabkan aktifitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat
diragikan. Ditandai dengan demineralisasi jaringan keras dan diikuti kerusakan zat organiknya.
2.2 Etiologi
Banyak sekali faktor yang menyebabkan karies. Faktor yang utama, antara lain:
1. Gigi dan air ludah, Bentuk gigi yang tidak beraturan dan air ludah yang banyak lagi kental,
mempermudah terjadinya karies.
2. Adanya bakteri penyebab karies, Bakteri yang menyebabkan karies adalah dari jenis
Streptococcus dan Lactobacillus.
3. Makanan yang kita dikonsumsi, Makanan yang mudah lengket dan menempel di gigi seperti
permen dan coklat, memudahkan terjadinya karies.
Sementara itu faktor lain yang turut andil adalah tingkat kebersihan mulut, frekuensi
makan, usia dan jenis kelamin, penyakit yang sedang diderita seperti kencing manis dan TB,
serta sikap/ perilaku terhadap pemeliharaan kesehatan gigi.
2.3 Patofisiologi
Terdapat tiga teori mengenai terjadinya karies, yaitu teori asidogenik (teori kemoparasiter
Miller), teori proteolitik, dan teori proteolisis kelasi.
o Teori Asidogenik Miller (1882) menyatakan bahwa kerusakan gigi adalah adalah proses
kemoparasiter yang terdiri atas dua tahap, yaitu dekalsifikasi email sehingga terjadi
kerusakan total email dan dekalsifikasi dentin pada tahap awal diikuti oleh pelarutan
residunya yang telah melunak. Asam yang dihasilkan oleh bakteri asidogenik dalam
proses fermentasi karbohidrat dapat mendekalsifikasi dentin, menurut teori ini,

karbohidrat, mikroorganisme, asam, dan plak gigi berperan dalam proses pembentukan
karies.
o Teori Proteolitik Gottlieb (1944) mempostulasikan bahwa karies merupakan suatu prose
proteolisis bahan-bahan organik dalam jaringan keras gigi oleh produk bakteri. Dalam
teori ini dikatakan mikroorganisme menginvasi jalan organik seperti lamela email dan
sarung batang email (enamel rod sheath), serta merusak bagian-bagian organik ini.
Proteolisis juga disertai pembentukan asam. Pigmentasi kuning merupakan ciri karies
yang disebabkan produksi pigmen oleh bakteri proteolitik. Teori proteolitik ini
menjelaskan terjadinya karies dentin dengan email yang masih baik. Manley dan
Hardwick (1951) menggabungkan teori proteolitik dan teori asidogenik . Menurut mereka
teori-teori tersebut dapat berjalan sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Teori ini
menyatakan bahwa bakteri-bakteri dapat membentuk asam dari substrat karbohidrat, dan
bakteri tertentu dapat merusak protein jika tidak ada karbohidrat, karena itu terdapat dua
tipe lesi karies. Pada tipe I, bakteri menginvasi lamela email, menyerang email dan dentin
sebelum tampak adanya gejala klinis karies. Tipe II, tidak ada lamela email, hanya
terdapat perubahan pada email sebelum terjadi invasi mikroorganisme. Perubahan email
ini terjadi akibat dekalsifikasi email oleh asam yang dibentuk oleh bakteri dalam plak
gigi diatas email. Lesi awal ini disebut juga calky aanamel.
o Teori Proteolisis Kelasi Teori ini diformulasikan oleh Schatz (1955). Kelasi adalah suatu
pembentukan kompleks logam melalui ikatan kovalen koordinat yang menghasilkan
suatu kelat. Teori ini menyatakan bahwa serangan bakteri pada email dimulai oleh
mikroorganisme yang keratinolitik dan terdiri atas perusakan protein serta komponen
organik email lainnya, terutama keratin. Ini menyebabkan pembentukan zat-zat yang
dapat membentuk kelat dan larut dengan komponen mineral gigi sehingga terjadi
dekalsifikasi email pada pH netral atau basa.
2.4 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis karies email yaitu:

Lesi dini atau lesi bercak putih/coklat (karies insipien)

Lesi lanjut (lesi yang telah mengalami kavitasi)

Gejala paling dini karies email secara makroskopik adalah suatu bercak putih. Bercak
ini jelas terlihat pada gigi cabutan yang kering yang tampak sebagai suatu lesi kecil., opak dan
merupakan daerah berwarna putih, terletak sedikit kearah serviks dan titik kontak. Warna tampak
berbeda dibandingkan email di sekitarnya yang masih sehat.
Pada tahap ini, deteksi dengan sonde tidak dapat dilakukan karena email yang
mengelilinginya masih keras dan mengkilap. Kadang-kadang lesi tampak coklat karena materi
yang terserap kedalam pori-porinya. Baik bercak putih maupun coklat bisa bertahan bertahuntahun lamanya karena perkembangan lesi tersebut dapat dicegah. Jika lesi email sempat
berkembang, permukaan yang semula utuh akan pecah (kavitasi) dan akan terbentuk lubang
(kavitas).
Pada saat pemeriksaan diperlukan pencahayaan yang baik. Gigi harus bersih dan kering,
sehingga kotoran dan karang gigi harus dibersihkan dahulu. Gigi yang sudah kering harus
diisolasi dengan gulungan kapas sehingga tidak basah oleh saliva. Gigi harus betul-betul kering
dan pengeringan biasanya dengan penyemprotan secara perlahan-lahan.
Untuk menemukan tanda awal karies diperlukan penglihatan yang tajam. Biasanya
pemeriksaan dilakukan dengan sonde tajam sampai terasa menyangkut. Sebaiknya hal ini jangan
dilakukan karena sonde tajam akan merusak lesi karies yang masih baru dan bakteri akan
terbawa dalam lesi sehingga kariesnya menyebar
2.5 Pemeriksaan Penunjang
Radiograf bite wing diperlukan dalam menegakkan diagnosis. Pada teknik ini sinar
diarahkan tegak lurus terhadap sumbu gigi dan menyinggung titik kontak. Film diletakkan di
sebelah lingual gigi posterior. Pasien menahan posisi tersebut dengan menggigit pegangan
filmnya. Tiap daerah yang mungkin diserang karies harus dinilai secara tersendiri.
2.6 Penatalaksanaan
Setelah diagnosis karies ditegakkan, maka ada dua cara pendekatan yang mungkin ditempuh
yaitu:
1. Menggunakan usaha preventif untuk mencoba menghentikan penyakit
2. Membuang jaringan yang rusak dan menggantikannya dengan restorasi disertai usaha
pencegahan terhadap rekurensinya.
4

Kedua pendekatan diatas dipertimbangkan berdasarkan informasi diagnostik yang


diperoleh. Usaha-usaha pencegahan yang dilakukan berkaitan dengan peran karbohidrat
diantaranya adalah:
1. Menurunkan konsumsi sukrosa
2. Mengubah bentuk fisik makanan yang dikonsumsi, misalnya dengan menghindari
makanan yang lengket.
Tidak lupa pula dengan cara pencegahan lain yang bersifat umum seperti
3. Kebiasaan menggosok gigi secara tepat dan benar tentang tata cara dan secara konsisten
atau teratur
4. Selalu memeriksakan kesehatan gigi setidak-tidaknya tiap 6 bulan sekali
2.7 WOC (terlampir)
2.8 Rencana Asuhan Keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko kerusakan pertumbuhan gigi berhubungan dengan kurang motivasi keluarga
mengenai perawatan gigi.
2. Nyeri berhubungan dengan kerusakan gigi.
3. Gangguan Konsep diri berhubungan dengan bau nafas tidak sedap.
b. Intervensi Keperawatan
1. Resiko kerusakan pertumbuhan gigi berhubungan dengan kurang motivasi keluarga
mengenai perawatan gigi.
Tujuan : kerusakan pertumbuhan gigi tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Keluarga lebih memperhatikan kesehatan gigi anak dan dapat melakukan perawatan gigi
anak dengan benar.
Intervensi :

Jelaskan kepada keluarga tentang pentingnya perawatan gigi anak sejak dini.
Jelaskan tentang makanan yang dapat merusak gigi anak.
Ajarkan orang tua perawatan gigi dan cara menggosok gigi dengan benar agar orang

tua dapat menerapkannya pada anak.


2. Nyeri berhubungan dengan kerusakan gigi.
Tujuan : Anak tidak mengeluh nyeri pada area mulutnya.
5

Kriteria Hasil :
Anak mendapatkan gigi yang sehat.
Anak tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan pada area mulut.
Anak bisa mengkonsumsi segala jenis makanan tanpa mengeluh sakit pada gigi.
Intervensi :

Observasi tingkat kerusakan gigi anak.


Jelaskan kepada keluarga tentang upaya perawatan gigi yang benar.
Jelaskan tentang pentingnya menggosok gigi minimal 2 kali sehari.
Anjurkan keluarga untuk memeriksakan gigi anak setidak-tidaknya 6 bulan sekali.
Minta keluarga untuk mengawasi makanan yang dikonsumsi anak.

BAB III
KASUS
Contoh kasus:
An. A mengeluhkan giginya terasa nyeri setelah mengkonsumsi coklat. Orang tuanya
mengatakan kalau An. A sering sekali mengkonsumsi es, coklat, dan permen. Gigi klien terlihat
6

rusak di bagian depan dan berwarna kecoklatan. Orang tua nya mengatakan sejak umur 4 tahun
giginya sudah seperti itu. An. A juga jarang sekali menggosok giginya. Orang tuanya pun kurang
memperhatikan kesehatan gigi klien. BB=15 kg, TB = 90 cm, TD: 100 / 60 mmHg, Nadi:72
kali / menit, Suhu: 36,5 C dan pernafasan: 24 kali / menit.
a. Pengkajian
a.

b.

Identitas
Nama Anak
Panggilan
Nama orang tua
Jenis kelamin
Umur
Agama
Alamat
Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama

: Rumaisha Harum Ahla


: Arum
: Maraita
: Perempuan
: 5 tahun
: Islam
: Anduring

Anak sering mengeluh tentang sakit pada giginya, terutama saat makan es, permen dan
makanan manis lainnya.

c.

d.

e.

Riwayat Penyakit Sekarang


Adanya kerusakan pada gigi bagian depan, terlihat berlubang dan berwarna
kecoklatan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Anak punya riwayat demam, batuk dan pilek.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang pernah menderita penyakit yang berhubungan dengan

kerusakan gigi.
Pengajian fisik
Inspeksi
: terjadinya kerusakan pada gigi bagian depan dan mahkota depan hanya
tinggal sedikit.
Pengukuran antropometri : BB=15 kg, TB = 90 cm
Pemerikasaan tanda-tanda vital
2 Tekanan darah
: 100 / 60 mmHg
3 Nadi
: 72 kali / menit
4 Suhu
: 36,5 C
5 Pernafasan
: 24 kali / menit
Pengkajian 11 Pola Fungsional Godon
Pola Persepsi kesehatan
Orang tua nya menganggap bahwa anak masih kecil, giginya masih gigi susu yang
masih ada gantinya. Jadi orang tua tidak terlalu memikirkan perawatan gigi anak.
7

Pola Nutrisi dan Metabolik


Anak terlihat sehat dan tidak ada masalah pada berat badan, hanya saja giginya yang
berlubang karena perawatan yang kurang dari orang tua. Pola makan anak teratur dan
anak sering jajan di luar rumah, seperti es, coklat dan permen yang sering dikonsumsi

setiap hari.
Pola Eliminasi
Anak tidak ada masalah dengan buang air besar dan buang air kecilnya.
Pola tidur-istirahat
Anak tidur jam 9 malam dan bangun jam 6 pagi setiap hari. Tidur anak nyenyak tidak

ada gangguan. Tetapi anak jarang sekali tidur di siang hari.


Pola aktivitas-latihan
Anak tidak mengalami gangguan pada aktivitasnya. Anak bermain dengan ceria

bersama teman-temannya setiap hari.


Pola peran-hubungan
Interaksi dengan keluarga cukup baik. Hubungan anak dengan orang tua terlihat

harmonis, terlihat anak sangat disayang dengan orang tua.


Pola persepsi diri-konsep diri
Tidak ada gangguan pada persepsi diri dan konsep diri anak.
Pola sensori-kognitif
Tidak ada gangguan pada sensori dan kognitif anak.
Pola reproduksi-seksual
Tidak ada gangguan pada pula seksual anak.
Pola koping-toleransi stress
Anak masih bergantung pada orang tua. Dalam mengatasi stress anak masih sangat
membutuhkan dukungan orang tua.
Pola nilai-kepercayaan
Anak belum mengerti tentang ibadah dan kepercayaan agamanya. Jadi tidak ada
pengaruh pola ibadah terhadap penyakit anak.

b. Tindakan Keperawatan (terlampir)

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan survei Litbankes, prosentase angka kesakitan gigi menduduki peringkat ke-6
terbanyak (SKRT 1992). Di Indonesia prevalensi karies gigi tetap diperkirakan 60-80% dari
jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan survei kesehatan gigi yang dilakukan oleh direktoral
Kesehatan Gigi pada tahun 1995 di 10 propinsi di Indonesia (1984-1988) pada daerah kota anak
umur 8 tahun mempunyai prevalensi karies 45,2%, rata-rata 0,94, anak umur 12 tahun sebesar
76,62% rata-rata 2.21, sedangkan anak umur 14 tahun mempunyai prevalensi kariesnya 73,2&
dengan rata-rata 2,69. 2) Adanya interaksi antara faktor penyebab karies, merupakan awal
terjadinya lesi karies gigi. Hasil laporan penelitian-penelitian di berbagai tempat di Indonesia
menunjukkan adanya prevalensi yang cukup tinggi pada anak usia prasekolah. Berdasarkan hal
tersebut maka peneliti tertarik untuk mengetahui karakteristik karies gigi pada anak usia
prasekolah di TK Kemudo II, Kemudo, Prambanan, Klaten. Hasil survei pendahulu di dapatkan
lebih separuh dari 42 anak mengalami karies gigi. Oleh karena itu, para orang tua jangan
menganggap bahwa gigi susu pada anak akan diganti dengan gigi yang baru. Tidak demikian.
Justru perawatan gigi dan mulut pada masa balita dan anak ikut menentukan kesehatan gigi dan
mulut mereka pada tingkatan usia selanjutnya. Mereka harus dibiasakan merawat gigi sejak dini.
Di bawah ini beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk segala umur:

o Kurangi konsumsi makanan manis dan mudah melekat pada gigi seperti permen dan coklat.
Pada anak mungkin melarangnya sama sekali dapat menimbulkan dampak psikis, maka perlu
dipikirkan alternatif penyelesaiannya.
o Menggosok gigi secara teratur dan benar. Sebaiknya dilakukan pada pagi, sore dan menjelang
tidur. Lebih baik lagi bila dilakukan tiap usai makan. Dalam hal ini pilihlah sikat gigi yang
berbulu halus dan pasta gigi yang mengandung fluor. Biasakan pula berkumur-kumur setelah
makan makanan manis.
o Siapkan makanan yang kaya akan kalsium (seperti ikan dan susu), fluor (sayur, daging dan
teh), vitamin A (wortel), vitamin C (jeruk), vitamin D (susu), vitamin E (kecambah).
o Menjaga higiene gigi dan mulut. Bila ada karang gigi sebaiknya dibawa ke dokter untuk
dibersihkan. Sebaiknya pula memeriksakan gigi tiap enam bulan sekali.
BAB V
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Karies adalah kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga
menjalar ke dentin (tulang gigi).
Penyebab karies gigi pada anak ini karena anak sering mengkonsumsi makanan yang
lengket di gigi dan manis terlebih lagi anak jarang sekali menggosok gigi. Ini akan membuat
email gigi anak rusak. Jika dibiarkan ini akan mejalar ke pembuluh saraf di gigi dan
mengakibatkan nyeri.
Untuk pengobatan bisa dilakukan dengan:
1. Menurunkan konsumsi sukrosa
2. Mengubah bentuk fisik makanan yang dikonsumsi, misalnya dengan menghindari
makanan yang lengket.
3. Kebiasaan menggosok gigi secara tepat dan benar tentang tata cara dan secara konsisten
atau teratur
4. Selalu memeriksakan kesehatan gigi setidak-tidaknya tiap 6 bulan sekali
3.2 Saran

10

Berdasarkan isi dari makalah banyak kekurangan yang terdapat pada isi yang dijelaskan
dan bahasa yang di gunakan penulis sebagian besar masih teksbook. Hal ini disebabkan karena
kurangnya pemahaman dari penulis.
Hendaknya dimasa yang akan datang diharapkan para penulis dan penerus selanjutnya
lebih memahami lagi terhadap materi yang akan dibuatnya.

11