Anda di halaman 1dari 33

Referat

Spinal Cord Injury

Disusun Oleh :
Gerry Pratama
1408465696

Pembimbing
dr. Andrea Valentino, Sp.BS

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT UMUM ARIFIN ACHMAD

PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan referat ini yang berjudulSpinal Cord Injury.
Referat ini disusun sebagai sarana untuk memahami Spinal Cord Injury,
meningkatkan kemampuan menulis ilmiah dibidang kedokteran khususnya di Bagian
Ilmu Bedah dan memenuhi salah satu persyaratan kelulusan Kepaniteraan Bagian
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau/Rumah Sakit Umum Daerah Arifin
Achmad Provinsi Riau.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada dr. Andrea
Valentino, Sp.BS selaku pembimbing serta pihak yang telah membantu penulis dalam
mengumpulkan bahan sumber tulisan ini.
Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, dan masih
banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh sebab itu kritik dan saran sangat
diharapkan penulis dari dokter pembimbing serta rekan-rekan Koassisten demi
kesempurnaan referat ini. Semoga referat ini membawa manfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, Mei 2015

Penulis
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Medula spinalis merupakan satu kumpulan saraf-saraf yang terhubung ke
susunan saraf pusat yang berjalan sepanjang kanalis spinalis yang dibentuk oleh
tulang vertebra. Ketika terjadi kerusakan pada medula spinalis, masukan sensoris,
gerakan dari bagian tertentu dari tubuh dan fungsi involunter seperti pernapasan dapat
terganggu atau hilang sama sekali. Ketika gangguan sementara ataupun permanen
terjadi akibat dari kerusakan pada medula spinalis, kondisi ini disebut sebagai cedera
medula spinalis. Trauma medula spinalis adalah cedera pada tulang belakang baik
langsung maupun tidak langsung, yang menyebabkan lesi di medula spinalis sehingga
menimbulkan gangguan neurologis, dapat menyebabkan kecacatan menetap atau
kematian.1

Vertebra yang paling sering mengalami cedera adalah medulla spinalis pada
daerah servikal (leher) ke 5,6 dan 7, Torakal ke-12 dan lumbal pertama. Vertebra ini
paling rentang karena ada rentang mobilitas yang lebih besar dalam kolumna vertebral
dalam area ini. Penyebab tersering adalah kecelakaan lalu lintas (50%), jatuh (25%)
dan cedera yang berhubungan dengan olahraga (10%). Sisanya akibat kekerasan dan
kecelakaan kerja. Hampir 40%-50% trauma medulla spinalis mengakibatkan defisit
neurologis, sering menimbulkan gejala yang berat, dan terkadang menimbulkan
kematian.2
1.2

Batasan masalah
Referat ini membahas tentang anatomi, epidemiologi, etiologi, faktor resiko,

gejala klinis, patofisiologi, komplikasi, diagnosis, penatalaksanaan dan pencegahan


pada kasus Cedera medulla spinalis.

1.3

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan referat ini adalah :
1. Memahami dan menambah wawasan mengenai Spinal Cord Injury (SCI).
2. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah di bidang kedokteran khususnya
di Bagian Ilmu Bedah.
3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik (KK) di Bagian
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Riau dan Rumah Sakit Umum
Daerah Arifin Achmad.

1.4 Metode Penulisan


Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu
kepada beberapa literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Anatomi Medula Spinalis dan Dermatom


Medulla Spinalis merupakan bagian dari susunan saraf pusat yang terbentang

dari foramen magnum sampai dengan L1. Medula spinalis terletak di kanalis
vertebralis, dan dibungkus oleh tiga meninges yaitu duramater, arakhnoid dan
piamater. Saraf spinal dilindungi oleh tulang vertebra, ligament, meningen spinal dan
juga cairan LCS (liquor cerebro spinal). LCS mengelilingi medulla spinalis di dalam
ruang subarachnoid. Bagian superior dimulai dari bagian foramen magnum pada
tengkorak, tempat bergabungnya dengan medulla oblongata. Medula spinalis berakhir
di inferior di region lumbal. Dibawah medulla spinalis menipis menjadi konus
medularis dari ujungnya yang merupakan lanjutan piamater, yaitu fillum terminale
yang berjalan kebawah dan melekat dibagian belakang os coccygea. Akar saraf
lumbal dan sakral terkumpul yang disebut dengan Cauda Equina. Setiap pasangan
syaraf keluar melalui foramen intervertebral. Syaraf Spinal dilindungi oleh tulang
vertebra dan ligamen dan juga oleh meningen spinal dan LCS (liquor cerebrospinal).3,6

Gambar 1. Anatomi Medula spinalis 4


Disepanjang medulla spinalis melekat 31 pasang saraf spinal melalui radiks
anterior atau radiks motorik dan radiks posterior atau radiks sensorik. Masing-masing
radiks melekat pada medulla spinalis melalui fila radikularia yang membentang
disepanjang segmen-segmen medulla spinalis yang sesuai. Masing-masing radiks

saraf memiliki sebuah ganglion radiks posterior, yaitu sel-sel yang membentuk
serabut saraf pusat dan tepi. 31 pasang saraf spinal diantaranya yaitu : 3,6
a. 8 pasang syaraf servikal
b. 12 pasang syaraf torakal
c. 5 pasang syaraf lumbal
d. 5 pasang syaraf sakral
e. 1 pasang syaraf koksigeal

Gambar 1. 31 pasang saraf spinal.4


Struktur medulla spinalis terdiri dari substansi abu abu (substansia grisea)
yang dikelilingi substansia putih (substansia alba). Pada potongan melintang,
substansia grisea terlihat seperti hurup H dengan kolumna atau kornu anterior atau
posterior substansia grisea yang dihubungkan dengan commisura grisea yang tipis.
Didalamnya terdapat canalis centralis yang kecil. Keluar dari medula spinalis
merupakan akar ventral dan dorsal dari saraf spinal. Substansi grisea mengandung
badan sel dan dendrit dan neuron efferen, akson tak bermyelin, saraf sensoris dan
motoris dan akson terminal dari neuron. Bagian posterior sebagai input atau afferent,
anterior sebagai Output atau efferent, comissura grisea untuk refleks silang dan
substansi alba merupakan kumpulan serat saraf bermyelin.

Fungsi medula Fungsi medula spinalis :3,5,6


a. Pusat gerakan otot tubuh terbesar yaitu dikornu motorik atau kornu ventralis.
b. Mengurus kegiatan refleks spinalis dan refleks tungkai, Refleks merupakan respon
bawah sadar terhadap adanya suatu stimulus internal ataupun eksternal untuk
mempertahankan keadaan seimbang dari tubuh. Refleks yang melibatkan otot
rangka disebut dengan refleks somatis dan refleks yang melibatkan otot polos, otot
jantung atau kelenjar disebut refleks otonom atau visceral.
c. Menghantarkan rangsangan koordinasi otot dan sendi menuju cerebellum.
d. Mengadakan komunikasi antara otak dengan semua bagian tubuh.

2.1.1

DERMATOM
Berkaitan dengan masukan sensorik, setiap daerah spesifik di tubuh yang

dipersarafi oleh saraf spinal tertentu yang disebut area dermatom. Saraf spinal juga
membawa serat-serat yang bercabang untuk mempersarafi organ-organ dalam, dan
kadang-kadang nyeri yang berasal dari salah satu organ tersebut dialihkan ke
dermatom yang dipersarafi oleh saraf spinal yang sama.7

Gambar 3. Standard Neurological Clasification of Spinal Cord Injury7

2.2

Pengertian Cedera Medula Spinalis


Cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan pada medulla spinalis akibat

trauma atau non trauma yang akan menimbulkan gangguan pada sistem motorik,
sistem sensorik dan vegetatif. Kelainan motorik yang timbul berupa kelumpuhan atau
gangguan gerak dan fungsi otot-otot, gangguan sensorik berupa hilangnya sensasi
pada area tertentu sesuai dengan area yang dipersyarafi oleh level vertebra yang
terkena, serta gangguan sistem vegetatif berupa gangguan pada fungsi bladder, bowel
dan juga adanya gangguan fungsi seksual.3,7,10
Klasifikasi menurut American Spinal Injury Association:7
Grade A
Grade B

Grade C
Grade D

Hilangnya seluruh fungsi morotik


dan sensorik dibawah tingkat lesi
Hilangnya seluruh fungsi motorik
dan sebagian fungsi sensorik di
bawah tingkat lesi.
Fungsi motorik intak tetapi dengan
kekuatan di bawah 3.
Fungsi motorik intak dengan
kekuatan motorik di atas atau sama
9

Grade E

dengan 3.
Fungsi motorik
normal.

dan

sensorik

Penilaian terhadap gangguan motorik dan sensorik dipergunakan Frankel


Score.3,10
Frankel Score A
kehilangan fingsi motorik dan sensorik
lengkap
(complete loss).
Frankel Score B
Fungsi motorik hilang, fungsi sensorik utuh.
Frankel Score C
Fungsi motorik ada tetapi secara praktis tidak
berguna (dapat menggerakkan tungkai tetapi
tidak dapat berjalan).
Frankel Score D
Fungsi motorik terganggu (dapat berjalan
tetapi tidak dengan normal gait).
Frankel Score E
Tidak terdapat gangguan neurologik.

Skala
kerusakan
berdasarkan
American
spinal
injury
association/International medical society of Paraplegia (IMSOP)
Grade
Tipe
Gangguan
spina
ASA/IMSOP
A
Komplit
Tidak ada fungsi sensorik d
motorik sampai S4-5
B
Inkomplit
Fungsi sensorik masih baik ta
fungsi
motorik
tergang
sampai segmen sakral S4-5
C
Inkomplit
Fungsi
motoik
tergang
dibawah level, tapi otot-ot
motorik utama masih pun
kekuatan < 3
D
Inkomplit
Fungsi motorik tergang
dibawah
level,
otot-ot
motorik
utamanya
pun
kekuatan > 3
E
Normal
Fungsi sensorik dan motor
normal

Sedangkan lesi pada medula spinalis menurut ASIA resived 2000, terbagi atas :7
10

a. Paraplegi : Suatu gangguan atau hilangnya fungsi motorik atau dan sensorik karena
kerusakan pada segment thoraco-lumbo-sacral.
b.Quadriplegi : Suatu gangguan atau hilangnya fungsi motorik atau dan sensorik
karena kerusakan pada segment cervikal.

Sindrom cedera medulla spinalis menurut ASIA, yaitu : 3,9,10

Nama Sindroma

Pola dari lesi saraf

Kerusakan

Central cord syndrome

Cedera pada posisi Menyebar ke daerah sacral.


sentral dan sebagian Kelemahan otot ekstremitas atas
pada daerah lateral.
dan ekstremitas bawah jarang
terjadi pada ekstremitas bawah
Dapat sering terjadi
pada daerah servikal

Brown- Sequard Syndrome

Anterior dan posterior Kehilangan


hemisection
dari proprioseptiv dan
medulla spinalis atau fungsi motorik.
cedera
akan
menghasilkan medulla
spinalis unilateral

Anterior cord syndrome

Kerusakan
pada Kehilangan funsgsi motorik dan
anterior dari daerah sensorik secara komplit.
putih dan abu- abu
medulla spinalis

Posterior cord syndrome

Kerusakan
pada Kerusakan
proprioseptiv
anterior dari daerah diskriminasi dan getaran. Funsgis
putih dan abu- abu motor juga terganggu
medulla spinalis

Cauda equine syndrome

Kerusakan pada saraf


lumbal atau sacral
samapi ujung medulla
spinalis

ipsilateral
kehilangan

Kerusakan sensori dan lumpuh


flaccid pada ekstremitas bawah
dan kontrol berkemih dan
defekasi.

11

2.3

Epidemiologi
Berdasarkan data dari National Spinal Cord Injury Statistical Centre dari

University of Alabama yang dipublikasikan pada Februari 2013, insiden eidera


medulla spinalis diperkirakan sekitar 40 kasus per satu juta populasi di Amerika
Serikat atau 12.000 kasus per tahun. Cedera medulla spinalis seringkali diderita oleh
dewasa muda, dengan hampir setengah dari seluruh kasus terjadi pada usia 16-30
tahun. Sejak tahun 2010, disabilitas neurologis yang diderita adalah tetraplegia
inkomplit sebesar 40,6%, paraplegia inkomplit 18,7%, paraplegia komplit 18% dan
tetraplegia komplit 11,6%.11

2.4

Etiologi
Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi dua jenis :
A. Cedera medula spinalis traumatik, terjadi ketika benturan fisik eksternal

seperti yang diakibatkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh atau kekerasan,
merusak medula spinalis. Sebagai lesi traumatik pada medula spinalis dengan
beragam defisit motorik dan sensorik atau paralisis. Sesuai dengan American Board of
Physical Medicine and Rehabilitation Examination Outline for Spinal Cord Injury
Medicine, cedera medula spinalis traumatik mencakup fraktur, dislokasi dan kontusio
dari kolum vertebra. 3,7,9,10
B. Cedera medula spinalis non traumatik, terjadi ketika kondisi kesehatan
seperti penyakit, infeksi atau tumor mengakibatkan kerusakan pada medula spinalis,
atau kerusakan yang terjadi pada medula spinalis yang bukan disebabkan oleh gaya
fisik eksternal. Faktor penyebab dari cedera medula spinalis mencakup penyakit
motor neuron, myelopati spondilotik, penyakit infeksius dan inflamatori, penyakit
neoplastik, penyakit vaskuler, kondisi toksik dan metabolik dan gangguan kongenital
dan perkembangan. 3,7,9,10
12

2.5

Faktor Resiko
A. Laki-laki lebih banyak dari pada perempuan : Cedera tulang tulang

belakang mempengaruhi jumlah yang tidak proporsional pada pria. Bahkan,


perempuan terhitung hanya sekitar 20 persen dari trauma cedera tulang belakang di
Amerika Serikat. 3,7,9,10
B. Terjadi antara usia 16 dan 30 : Banyak terjadi cedera tulang belakang
traumatis berusia antara 16 dan 30. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan
penyebab utama cedera tulang belakang, sementara jatuh penyebab paling cedera
pada orang yang lebih tua. 3,7,9,10
C. Terlibat dalam perilaku berisiko : Menyelam ke dalam air terlalu dangkal
atau bermain olahraga tanpa mengenakan peralatan keselamatan yang tepat atau
mengambil tindakan pencegahan yang tepat dapat menyebabkan cedera tulang
belakang. 3,7,9,10
D. Memiliki tulang atau kelainan sendi : Sebuah cedera yang relatif kecil
dapat menyebabkan cedera tulang belakang jika Anda memiliki gangguan lain yang
mempengaruhi tulang atau sendi, seperti arthritis atau osteoporosis. 3,7,9,10

2.6

Gejala Klinik
Jika medula spinalis mengalami cedera, maka saraf-saraf yang berada pada

daerah yang mengalami cedera dan yang di bawahnya akan mengalami gangguan
fungsi,

yang

menyebabkan

hilangnya

kontrol

otot

dan

juga

hilangnya

sensasi. Hilangnya kontrol otot atau sensasi dapat bersifat sementara atau menetap,
sebagian atau menyeluruh, tergantung dari beratnya cedera yang terjadi. Cedera yang
menyebabkan putusnya medula spinalis atau merusak jalur jalannya saraf di medula
spinalis menyebabkan hilangnya fungsi yang menetap, tetapi trauma tumpul yang
mengguncang medula spinalis dapat menyebabkan hilangnya fungsi sementara, yaitu
bisa sampai beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan. Hilangnya kontrol
13

otot sebagian menyebabkan timbulnya kelemahan pada otot. Sedangkan kontrol otot
yang hilang seluruhnya menyebabkan kelumpuhan. Ketika otot mengalami
kelumpuhan, maka otot tersebut seringkali kehilangan tonus ototnya sehingga menjadi
lemas (flaccid). Beberapa minggu kemudian, kelumpuhan dapat berkembang menjadi
spasme otot yang involunter (tidak disadari) dan lama (paralysis spastik). 3,7,9,10
Kerusakan hebat dari medula spinalis di pertengahan punggung bisa menyebabkan
kelumpuhan pada tungkai, tetapi lengan masih tetap berfungsi secara normal. Gerakan
refleks tertentu yang tidak dikendalikan oleh otak akan tetap utuh atau bahkan
meningkat. Contohnya, refleks lutut tetap ada atau bahkan meningkat. Meningkatnya
refleks ini dapat menyebabkan spasme pada tungkai. Refleks yang tetap
dipertahankan menyebabkan otot yang terkena menjadi memendek, sehingga dapat
terjadi kelumpuhan jenis spastik. Otot yang spastik teraba kencang dan keras dan
sering mengalami kedutan. 3,7,9,10
Sesaat setelah trauma, fungsi motorik dibawah tingkat lesi hilang, otot flaksid,
refleks hilang, paralisis atonik vesika urinaria dan kolon, atonia gaster dan hipestesia.
Juga dibawah tingkat lesi dijumpai hilangnya tonus vasomotor, keringat dan
piloereksi serta fungsi seksual. Kulit menjadi kering dan pucat serta ulkus dapat
timbul pada daerah yang mendapat penekanan tulang. Spingter vesika urinaria dan
anus dalam keadaan kontraksi (disebabkan oleh hilangnya inhibisi dari pusat sistem
saraf pusat yang lebih tinggi.3,7,9,10
Apabila medula spinalis cedera secara komplit dengan tiba-tiba, maka tiga fungsi
yang terganggu antara lain seluruh gerak, seluruh sensasi dan seluruh refleks pada
bagian tubuh di bawah lesi. Keadaan yang seluruh refleks hilang baik refleks tendon,
refleks autonomic disebut spinal shock. Kondisi spinal shock ini terjadi 2-3 minggu
setelah cedera medula spinalis. Fase selanjutnya setelah spinal shock adalah keadaan
dimana aktifitas refleks yang meningkat dan tidak terkontrol. Pada lesi yang
menyebabkan cedera medula spinalis tidak komplit, spinal shock dapat juga terjadi
dalam keadaan yang lebih ringan atau bahkan tidak melalui shock sama sekali. Selain
itu gangguan yang timbul pada cidera medula spinalis sesuai dengan letak lesinya,
dimana pada UMN lesi akan timbul gangguan berupa spastisitas, hyperefleksia, dan
disertai hypertonus, biasanya lesi ini terjadi jika cidera mengenai C1 hingga L1. Dan
14

pada LMN lesi akan timbul gangguan berupa flaccid, hyporefleksia, yang disertai
hipotonus dan biasanya lesi ini terjadi jika cidera mengenai L3 sampai kauda ekuina,
di samping itu juga masih ada gangguan lain seperti gangguan bladder dan bowel,
gangguan fungsi seksual, dan gangguan fungsi pernapasan. 3,7,9,10
Dapat dirumuskan gejala-gejala yang terjadi pada cedera medulla spinalis yaitu :
3,7,9,10

1. Gangguan sensasi menyangkut adanya anastesia, hiperestesia, parastesia.


2. Gangguan motorik menyangkut adanya kelemahan dari fungsi otot-otot dan
reflek tendon myotome.
3. Gangguan fungsi vegetatif dan otonom menyangkut adanya flaccid dan sapstic
blader dan bowel.
4. Gangguan fungsi ADL yaitu makan, toileting, berpakaian, kebersihan diri.
5. Gangguan mobilisasi yaitu Miring kanan dan kiri, Transfer dari tidur ke duduk,
Duduk, Transfer dari bed ke kursi roda, dan dari kursi roda ke bed.
6. Penurunan Vital sign yaitu penurunan ekspansi thorax, kapasitas paru dan
hipotensi.
7. Skin problem menyangkut adanya dekubitus.
Cedera medulla spinalis juga mempengaruhi fungsi organ vital yaitu diantaranya
disfungsi respirasi terbesar yaitu cedera setinggi C1-C4. Cedera pada C1-C2 akan
mempengaruhi ventilasi spontan tidak efektif. Lesi setinggi C5-8 akan mempengaruhi
m. intercostalis, parasternalis, scalenus, otot-otot abdominal, otot-otot abdominal.
Selain itu mempengaruhi intaknya diafragma, trafezius dan sebagian m. pectoralis
mayor. Lesi setinggi thoracal mempengaruhi otot-otot intercostalis dan abdominal,
dampak umumnya yaitu efektifitas kinerja otot pernafasan menurun. 3,7,9,10

2.7

Patofisiologi
15

Defisit neurologis yang berkaitan dengan cedera medula spinalis terjadi akibat
dari proses cedera primer dan sekunder. Sejalan dengan kaskade cedera berlanjut,
kemungkinan penyembuhan fungsional semakin menurun. Karena itu, intervensi
terapeutik sebaiknya tidak ditunda, pada kebanyakan kasus, window period untuk
intervensi terapeutik dipercaya berkisar antara 6 sampai 24 jam setelah cedera.
Mekanisme utama yaitu cedera inisial dan mencakup transfer energi ke korda spinal,
deformasi korda spinal dan kompresi korda paska trauma yang persisten. Mekanisme
ini, yang terjadi dalam hitungan detik dan menit setelah cedera, menyebabkan
kematian sel yang segera, disrupsi aksonal dan perubahan metabolik dan vaskuler
yang mempunyai efek yang berkelanjutan. Proses cedera sekunder yang bermula
dalam hitungan menit dari cedera dan berlangsung selama berminggu-minggu hingga
berbulan-bulan, melibatkan kaskade yang kompleks dari interaksi biokimia, reaksi
seluler dan gangguan serat traktus. Sangat jelas bahwa peningkatan produksi radikal
bebas dan opioid endogen, pelepasan yang berlebihan dari neurotransmitter eksitatori
dan reaksi inflamasi sangat berperan penting. Lebih jauh lagi, profil mRNA
(messenger Ribonucleic Acid) menunjukkan beberapa perubahan ekspresi gen setelah
cedera medula spinalis dan perubahan ini ditujukan sebagai target terapeutik. 3,7,9,10
Beberapa teori telah diusulkan untuk menjelaskan patofisiologi dari cedera
sekunder. Teori radikal bebas menjelaskan bahwa, akibat dari penurunan kadar antioksidan yang cepat, oksigen radikal bebas berakumulasi di jaringan sistem saraf pusat
yang cedera dan menyerang membrane lipid, protein dan asam nukleat. Hal ini
berakibat pada dihasilkannya lipid peroksidase yang menyebabkan rusaknya membran
sel. Teori kalsium menjelaskan bahwa terjadinya cedera sekunder bergantung pada
influks dari kalsium ekstraseluler ke dalam sel saraf. Ion kalsium mengaktivasi
phospholipase,

protease,

dan

phosphatase.

Aktivasi

dari

enzim-enzim

ini

mengakibatkan interupsi dari aktivitas mitokondria dan kerusakan membran sel. Teori
opiate receptor mengusulkan bahwa opioid endogen mungkin terlibat dalam proses
terjadinya cedera medula spinalis dan bahwa antagonis opiate (contohnya naloxone)
mungkin bisa memperbaiki penyembuhan neurologis. Teori inflamasi berdasarkan
pada hipotesis bahwa zat-zat inflamasi (seperti prostaglandin, leukotrien, plateletactivating factor, serotonin) berakumulasi pada jaringan medula spinalis yang cedera
dan merupakan mediator dari kerusakan jaringan sekunder. Bila bagian cervical 1-4
16

yang terkena mengakibatkan pola nafas menjadi efektif dan kelumpuhan total dan
kemungkinan untuk bertahan hidup sangat kecil. 3,7,9,10
Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma (kecelakaan mobil, jatuh dari
ketinggian, cedera olahraga) atau penyakit (Transverse Myelitis, Polio, Spina Bifida,
Friedreich dari ataxia) dapat menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis, tetapi
lesi traumatic pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi.
Efek trauma yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada
medulla spinalis disebut whiplash atau trauma indirek. Whiplash adalah gerakan
dorsapleksi dan anterofleksi berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan
mendadak. Trauma whiplash terjadi pada tulang belakang bagian cervikalis bawah
maupun thorakalis bawah misalnya pada waktu duduk dikendaraan yang sedang
berjalan cepat kemudian berhenti secara mendadak, atau pada waktu terjun dari jarak
tinggi,

menyelam

yang

dapat

mengakibatkan

paraplegia

Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi, hiperfleksi, tekanan
vertical (terutama pada T.12sampai L.2), rotasi. Kerusakan yang dialami medulla
spinalis dapat bersifat sementara atau menetap.akibat trauma terhadap tulang
belakang, medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medulla
spinalis), tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala yang ditimbulkan
adalah berupa oedema, perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh darah.
Pada kerusakan medulla spinalis yang menetap, secara makroskopis kelainannya
dapat terlihat dan terjadi lesi, contusion, laseratio dan pembengkakan daerah tertentu
di medulla spinalis. Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma
tulang belakang secara langsung karena tertutup atau peluru yang dapat mematahkan
atau mengeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan dislokasi).lesi transversa medulla
spinalis tergantung pada segmen yang terkena (segmen transversa, hemitransversa,
kuadran transversa). Trauma ini bersifat whiplash yaitu jatuh dari jarak tinggi dengan
sifat

badan

berdiri,

jatuh

terduduk,

terdampar

eksplosi

atau

fraktur

dislokasio.kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi, medulla spinalis dapat


terjepit oleh penyempitan kanalis vertebralis.3,7,9,10
Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler
traumatik dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip

17

diantara duramater dan kolumna vertebralis.gejala yang didapat sama dengan


sindroma kompresi medulla spinalis akibat tumor, kista dan abses didalam kanalis
vertebralis. Akibat hiperekstensi dislokasio, fraktur dan whislap radiks saraf spinalis
dapat tertarik dan mengalami jejas. pada trauma whislap, radiks colmna 5-7 dapat
mengalami hal demikian, dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang
bersifat hiperpatia, gambaran tersbut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis
traumatik yang reversible.jika radiks terputus akibat trauma tulang belakang, maka
gejala defisit sensorik dan motorik yang terlihat adalah radikuler dengan terputusnya
arteri radikuler terutama radiks T.8 atau T.9 yang akan menimbulkan defisit sensorik
motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema
aaanastomosis anterial anterior spinal.3,7,9,10
Medula spinalis dan radiks dapat rusak melalui 4 mekanisme berikut : 3,7,9,10
1. Kompresi oleh tulang, ligamentum, herniasi diskus intervertebralis dan
hematom. Yang paling berat adalah kerusakan akibat kompresi tulang dan kompresi
oleh korpus vertebra yang mengalami dislokasi tulang dan kompresi oleh korpus
vertebra yang mengalami dislokasi ke posterior dan trauma hiperekstensi.
2. Regangan jaringan yang berlebihan akan menyebabkan gangguan pada
jaringan, hal ini biasanya terjadi pada hiperfleksi. Toleransi medula spinalis terhadap
regangan akan menurun dengan bertambahnya usia.
3. Edema medula spinalis yang timbul segera setelah trauma menyebabkan
gangguan aliran darah kapiler dan vena.
4. Gangguan sirkulasi akibat kompresi tulang atau sistem arteri spinalis anterior
dan posterior.

2.8

Komplikasi
a. Ulker dekubitus : Merupakan komplikasi paling utama pada cedera medulla

spinalis. Terjadi karena tekanan yang pada umumnya terjadi pada daerah pinggul

18

(ischial tuberositas dan trochanter pada femur). Pada cedera medulla spinalis tidak
hanya terjadi perubahan dari tonus otot dan sensasi saja, tapi juga peredaran darah ke
kulit dan jaringan subkutan berkurang. 3,7,9,10
b. Osteoporosis dan fraktur : Kebanyakkan pasien dengan cedera medulla
spinalis akan mengalami komplikasi osteoporosis. Pada orang normal, tulang akan
tetap sehat dan kokoh karena aktifitas tulang dan otot yang menumpu. Ketika aktifitas
otot berkurang atau hilang dan tungkai tidak melakukan aktifitas menumpu berat
badan, maka mulai terjadi penurunan kalsium, phospor sehingga kepadatan tulang
berkurang. 3,7,9,10
c. Pneumonia, atelektasis, aspirasi : Pasien dengan cedera medula spinalis di
bawah Th4, akan beresiko tinggi untuk berkembangnya restriksi fungsi paru. Terjadi
pada 10 tahun dalam cedera medulla spinalis dan dapat progresif sesuai keadaan.
3,7,9,10

d. Deep Vein Trombosis (DVT) : Merupakan komplikasi terberat dalam cedera


medula spinalis, yaitu terdapat perubahan dari kontrol neurologi yang normal
daripada pembuluh darah.
e. Cardiovasculer disease : Komplikasi dari sistem kardiorespirasi merupakan
resiko jangkapanjang pada cedera medulla spinalis.
f. Neuropatic pain : Merupakan masalah yang penting dalam cedera medulla
spinalis. Berbagai macam nyeri hadir dalam cedera medulla spinalis. Kerusakan pada
daerah tulang belakang dan jaringan lunak di sekitarnya dapat berakibat rasa nyeri
pada daerah cedera. Biasanya pasien akan merasakan terdapat phantom limb pain atau
nyeri yang menjalar pada level lesi ke inervasinya. 3,7,9,10
I. Perubahan Tonus Otot : Akibat yang paling terlihat pada SCI adalah paralisis
dari otot-otot yang dipersarafi oleh segmen yang terkena. Kerusakan dapat mengenai
traktus descending motorik, AHC, dan saraf spinalis, atau kombinasi dari semuanya.
Saat mengenai traktus descending, akan terjadi flaccid dan hilangnya refleks.
Kemudian kondisi tersebut akan diikuti dengan gejala autonom seperti berkeringat

19

dan inkontinensia dari bladder dan bowel. Dalam beberapa minggu akan terjadi
peningkatan tonus otot saat istirahat, dan timbulnya refleks. 3,7,9,10
J. Komplikasi Sistem respirasi : Bila lesi berada di atas level C4 akan
menimbulkan paralisis otot inspirasi sehingga biasanya penderita membutuhkan alat
bantu pernafasan, hal tersebut disebabkan gangguan pada n. intercostalis. Komplikasi
pulmonal yang terjadi pada lesi disegmen C5 Th 12, timbul karena adanya
gangguan pada otot ekspirasi yang mendapat persarafan dari level tersebut, seperti m.
adbominalis dan m. intercostalis. Paralysis pada m. obliques eksternalis juga
menghambat kemampuan penderita untuk batuk dan mengeluarkan sekret. 3,7,9,10
K. Kontrol Bladder dan Bowel : Pusat urinaris pada spinal adalah pada konus
medullaris. Kontrol refleks yang utama berasal dari segmen sekral. Selama fase spinal
syok, bladder urinary menjadi flaccid. Semua tonus otot dan refleks pada bledder
hilang. Lesi di atas conus medullaris akan menimbulkan refleks neurogenic bladder
berupa adanya spastisitas, kesulitan menahan BAK, hipertrophy otot detrusor, dan
refluks urethral. Lesi pada conus medullaris menyebabkan tidak adanya refleks
bladder, akbiat dari flaccid dan menurunnya tonus otot perineal dan sphincter utethra.
Gangguan pada bowel sama seperti pada bladder ditambah dengan adanya lesi pada
cauda equina. 3,7,9,10
L. Respon Seksual : Respon seksual berhubungan langsung dengan level dan
komplit atau inkompletnya trauma. Terdapat dua macam respon, reflekogenik atau
respon untuk stimulasi eksternal yang terlihat pada penderita dengan lesi UMN dan
psikogenik, dimana timbul melalui aktifitas kognisi seperti fantasi, yang berhubungan
dengan lesi pada LMN. Pria dengan level lesi yang tinggi dapat mencapai refleksif
ereksi, tapi bukan ejakulasi. Pada lesi yang lebih ke bawah ia dapat lebih cepat untuk
ejakulasi, tetapi kemampuan ereksinya sulit. Lesi pada kauda ekuina tidak
memungkinkan terjadinya ejakulasi ataupun ereksi. 3,7,9,10
M. Menstruasi biasanya terhambat 3 bulan, fertilasi dan kehamilan tidak
terhambat, tapi kehamilan harus segera diakhiri, terutama pada trisemester terakhir.
Persalinan akan terjadi tanpa sepengetahuan ibu hamil akibat dari hilangnya sensasi,
dan persalinan diawali dengan disrefleksia autonomik. 3,7,9,10
20

Anamnesis
1. Keluhan utama : Keluhan yang membawa pasien untuk berobat. Kebanyakan kasus
cedera medulla spinal datang dengan keluhan kelemahan pada ektremitas. Tanyakan
keluhan sudah berapa lama dirasakan.8,9,10
2. RPS :
a. Keluhan kelemahan : Lokasi kelemahan (bagian sktremitas mana saja)
paraplegia tau quadriplegi, kelmahan timbulnya tiba-tiba atau perlahan-lahan,
gejala semakin parah atau tidak, timbul setelah makan atau tidak, obat-obatan
yang digunakan utnuk mengurangi gejala, hasil pengobatan. 8,9,10
b. Keluhan tambahan : Nyeri (lokasi, terus menerus atau hilang timbul, nyeri
menjalar atau tidak, kapan nyeri bertambah, kapan nyeri berkurang.
Kesemutan, sesak, nyeri pada perut, keluhan BAK (inkontinensia atau retensi
urin), BAB (konstipasi). Hilangnya sensasi rasa. Gangguan fungsi seksual.
8,9,10

c. Tanya sebelumnya apakah pernah alami gejala yang sama, kegiatan seharihari (angkat yang berat-berat). Pola BAK dan BAB sebelum sakit. 8,9,10
3. RPD : Riwayat trauma sebelumnya, riwayat kelainan tulang belakang, riwayat DM,
HT, Alergi, Low back pain, osteoporosis, osteoarthritis, riwayat TB. 8,9,10
4. RPK : Riwayat kelainan tulang belakang, osteoporosis, TB. 8,9,10

Pemeriksaan
A. Pemeriksaan Fisik

21

Pemeriksaan awal dimulai dengan penilaian kondisi jalan nafas, pernafasan dan
sirkulasi darah. Pada kasus cedera, sangat penting diperiksa keadaan jalan nafas dan
pernafasannya karena pada trauma C1-C4. 8,9,10
1. Inspeksi : Inspeksi adalah pemeriksaan secara visual tentang kondisi serta
kemampuan gerak dan fungsinya. Apakah ada oedem pada anggota gerak, pengecilan
otot ( atropi ), warna dan kondisi kulit sekitarnya, kemampuan beraktifitas, alat bantu
yang digunakan untuk beraktifitas, posisi pasien, dll. 8,9,10
2. Palpasi : Palpasi adalah pemeriksaan terhadap anggota gerak dengan menggunakan
tangan dan membedakan antara kedua anggota gerak yang kanan dan kiri. Palpasi
dilakukan terutama pada kulit dan subkutaneus untuk mengetahui temperatur, oedem,
spasme, dan lain sebagainya. 8,9,10
3. Pemeriksaan Fungsi Gerak : Dalam hal ini meliputi fungsi gerak aktif, gerak pasif,
dan gerak isometrik. Pada pemeriksaan ini umumnya pada pasien ditemukan adanya
rasa nyeri, keterbatasan gerak, kelemahan otot dan sebagainya. 8,9,10
4. Pemeriksaan Fungsional : Dalam pemeriksaan fungsional meliputi kemampuan
pasien dalam beraktifitas baik itu posisi miring kanan-kiri (setiap 2 jam), transfer dari
tidur ke duduk, dari tempat tidur ke kursi roda dan sebaliknya. 8,9,10
5. Pemeriksaan Khusus
a. Kekuatan Otot : Pengukuran ini digunakan untuk melihat kekuatan otot dari
keempat anggota gerak tubuh. Dan dilakukan dengan menggunakan metode manual
muscle testing ( MMT ). 8,9,10
b. ROM : Pemeriksaan ROM dilakukan dengan menggunakan goniometer dan
dituliskan dengan menggunakan metode ISOM (International Standar Of
Measurement ). 8,9,10
c. Pemeriksaan Nyeri dengan VAS ( Visual Analog Scale ) : VAS merupakan salah
satu metode pengukuran nyeri yang dapat digunakan untuk menilai tingkat nyeri yang
dirasakan oleh pasien. Pasien diminta untuk menunjukan letak nyeri yang dirasakan

22

pada garis yang berukuran 10 cm, dimana pada ujung sebelah kiri (nilai 0) tidak ada
nyeri dan pada ujung sebelah kanan ( nilai 10 ) nyeri sekali. 8,9,10
d. Pemeriksaan Sensoris : Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan sensori level.
Sensori level adalah batas paling kaudal dari segment medula spinalis yang fungsi
sensorisnya normal. Tes ini terdiri dari 28 tes area dermatom yang diperiksa dengan
menggunakan tes tajam tumpul dan sentuhan sinar, dengan kriteria penilaiannya
sebagai berikut : 8,9,10
Nilai 0 : tidak ada dapat merasakan (absent ).
Nilai 1 : merasakan sebagian ( impaired ) dan hiperaestesia.
Nilai 2 : dapat merasakan secara normal.
NT ( not testable ) : diberikan pada pasien yang tidak dapat merasakan
karena tidak sadarkan diri.
e. Pemeriksaan Motorik : Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan motorik
levelnya. Motorik level adalah batas paling kaudal dari segment medula spinalis yang
fungsi motoriknya normal. Identifikasi kerusakan motorik lebih sulit, karena
menyangkut innervasi dari beberapa otot. Tidak adanya innervasi, berarti pada otot
tersebut terjadi kelemahan atau kelumpuhan. Pemeriksaan kekuatan otot tersebut bisa
menggunakan pemeriksaan dengan Manual Muscle Test (MMT), dengan skala
penilaian sebagai berikut :
Nilai Huruf Skala Definisi : 8,9,10
0 (Zero) : Tidak ditemukan kontraksi dengan palpasi.
1 ( Tr ) Trace : Ada kontraksi tetapi tidak ada gerakan
2 ( P) Poor : Gerakan dengan ROM penuh, tidak dapat melawan gravitasi.
3 (F) Fair : Gerakan penuh melawan gravitasi
4 (G) Good : Gerakan ROM penuh dan dapat melawan tahanan.
23

5 (N) Normal : Gerakan ROM penuh dan dapat melawan tahanan maksimal.
Pada pemeriksaan motorik dengan menggunakan manual muscle testing ini
biasanya dilakukan pada daerah myotom, antara lain : 8,9,10
C 5 : Fleksi siku
C 6 : Ekstensi pergelangan tangan
C 7 : Ekstensi siku
C8 : Fleksi digitorum profundus jari tengah
Th 1 : Abduksi digiti minimi
L 2 : Fleksi hip
L 3 : Ekstensi knee
L 4 : Dorso fleksi ankle
L 5 : Ekstensi ibu jari kaki
S 1 : Plantar fleksi ankle

B. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium :
a. Osteocalsin : Suatu protein tulang yang disekresi oleh osteoblast.
b. B-cross lap : parameter untuk proses rosorpsi (penyerapan tulang) untuk
mengetahui fungsi osteoklas.
c. Elektrolit : kalsium total.
d. Darah lengkap : Hb, HT, Leukosit, trombosit.
24

e. Kimia darah : Gula darah 2 jam pp, gula darah puasa.


2. Foto Polos Vertebra. Merupakan langkah awal untuk mendeteksi kelainankelainan yang melibatkan medula spinalis, kolumna vertebralis dan jaringan di
sekitarnya. Pada trauma servikal digunakan foto AP, lateral, dan odontoid. Pada
cedera torakal dan lumbal, digunakan foto AP dan Lateral. Foto polos posisi anteroposterior dan lateral pada daerah yang diperkirakan mengalami trauma akan
memperlihatkan adanya fraktur dan mungkin disertai dengan dislokasi. Pada trauma
daerah servikal foto dengan posisi mulut terbuka dapat membantu dalam memeriksa
adanya kemungkinan fraktur vertebra C1-C2. 8,9,10
3. CT-scan Vertebra : Dapat melihat struktur tulang, dan kanalis spinalis dalam
potongan aksial. CT-Scan merupakan pilihan utama untuk mendeteksi cedera fraktur
pada tulang belakang. 8,9,10
4. MRI Vertebra : MRI dapat memperlihatkan seluruh struktur internal medula
spinalis dalam sekali pemeriksaan serta untuk melihat jaringan lunak.
5. Pungsi Lumbal : Berguna pada fase akut trauma medula spinalis. Sedikit
peningkatan tekanan likuor serebrospinalis dan adanya blokade pada tindakan
Queckenstedt menggambarkan beratnya derajat edema medula spinalis, tetapi perlu
diingat tindakan pungsi lumbal ini harus dilakukan dengan hati-hati, karena posisi
fleksi tulang belakang dapat memperberat dislokasi yang telah terjadi. Dan antefleksi
pada vertebra servikal harus dihindari bila diperkirakan terjadi trauma pada daerah
vertebra servikalis tersebut. 8,9,10
6. Mielografi : Mielografi dianjurkan pada penderita yang telah sembuh dari
trauma pada daerah lumbal, sebab sering terjadi herniasi diskus intervertebralis. 8,9,10

Diagnosis

25

A. Cedera medulla spinalis


Dalam menegakkan diagnosis pada Cedera medulla spinalis, dilakukan
anamnesis yang lengkap, dimana keluhan dan riwayat adanya trauma atau kelainan
tulang belakang ataupun adanya osteoporosis merupakan resiko terjadinya cedera
medulla spinalis. Selain itu dilakukan pemeriksaan fisik yang lengkap, dan penunjang
yang sesuai untuk menegaggakan diagnosis. Dengan menggunakan panduan
American Spinal Scale Neurologi dapat menegakkan diagnosis, dan dapat
menegakkan diagnose sementara bila hasil pemeriksaan penunjang belum keluar. 8,9,10
Apabila medulla spinalis tiba-tiba mengalami cedera, maka akan ada 3
kelainan yang muncul yaitu : 8,9,10
1. Semua pergerakan volunteer dibawah lesi hilang secara mendadak dan
bersifat permanen, sedangkan reflex fisiologis bisa menghilang atau meningkat.
2. Sensasi sensorik refleks fisiologis bisa menghilang atau meningkat.
3. Terjadi gangguan fungsi otonom.
Cedera medulla spinalis dapat menghasilkan satu atau lebih tanda-tanda klinis
dibawah ini yaitu : 8,9,10
1. Nyeri menjalar
2. Kelumpuhan atau hilangnya pergerakan atau adanya kelemahan
3. Hilangnya sensasi rasa
4. Hilangnya kemampuan peristaltik usus.
5. Spasme otot atau bangkitan refleks yang meningkat
6. Perubahan fungsi seksual.

26

Penatalaksanaan
Prinsip utama penatalaksanaan Trauma Medula Spinalis
1. ABC : pertahankan jalan nafas, beri oksigen bila ada keadaan sesak, beri cairan
infus 2 line untuk mencegah terjadinya syok.
2. Immobilisasi : Tindakan immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat
kejadian/kecelakaan sampai ke unit gawat darurat, yang pertama ialah immobilisasi
dan stabilkan leher dalam posisi normal dengan menggunakan cervical collar. Cegah
agar leher tidak terputar (rotation). Baringkan penderita dalam posisi terlentang
(supine) pada tempat atau alas yang keras. 8,9,10
3. Stabilisasi Medis : Terutama sekali pada penderita tetraparesis atau tetraplegia. 8,9,10
a. Periksa vital signs
b. Pasang NGT
c. Pasang kateter urin
d. Segera normalkan vital signs. Pertahankan tekanan darah yang normal dan
perfusi jaringan yang baik. Berikan oksigen, monitor produksi urin, bila
perlu monitor AGDA (analisa gas darah), dan periksa apa ada neurogenik
shock. Pemberian megadose Methyl Prednisolone, Sodium Succinate dalam
kurun waktu 6 jam setelah kecelakaan dapat memperbaiki kontusio medula
spinalis. 8,9,10
4. Mempertahankan posisi normal vertebra (Spinal Alignment) : Bila terdapat fraktur
servikal dilakukan traksi dengan Cruthfield tong atau GardnerWells tong dengan
beban 2.5 kg perdiskus. Bila terjadi dislokasi traksi diberikan dengan beban yang
lebih ringan, beban ditambah setiap 15 menit sampai terjadi reduksi. 8,9,10
5. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal : Bila terjadi realignment artinya terjadi
dekompresi. Bila realignment dengan cara tertutup ini gagal maka dilakukan open
reduction dan stabilisasi dengan approach anterior atau posterior. 8,9,10
27

6. Rehabilitasi : Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini mungkin. Termasuk dalam


program ini adalah bladder training, bowel training, latihan otot pernafasan,
pencapaian optimal fungsi-fungsi neurologik dan program kursi roda bagi penderita
paraparesis/paraplegia. 8,9,10

A. Medika Mentosa
1. Methylprednisolone merupakan pilihan pengobatan untuk cedera tulang
belakang akut. Jika metilprednisolon diberikan dalam waktu delapan jam dari cedera,
beberapa orang mengalami perbaikan ringan. Tampaknya untuk bekerja dengan
mengurangi kerusakan pada sel-sel saraf dan mengurangi peradangan di dekat lokasi
cedera. Metil prednisolon mengurangi kerusakan membran sel yang berkontribusi
pada kematian neuron, mengurangi infalamasi dan menekan aktifitas sel-sel imun
yang mempunyai kontribusi serupa pada kerusakan neuron dan peningkatan sekunder
asam arakidonat mencegah peroksidasi lemak pada membran sel. Metilprednisolon
merupakan terapi yang paling umum digunakan untuk cedera medula spinalis
traumatika dan direkomendasikan oleh National Institute of Health di Amerika
Serikat. Namun demikian penggunaannya sebagai terapi utama cedera medula spinalis
traumatika masih dikritisi banyak pihak dan belum digunakan sebagai standar terapi.
8,9,10

2. Bila terjadi spastisitas otot, berikan : Diazepam 3x5/ 10 Mg/Hari, Baklopen


3x5 Mg hingga 3x 20 Mg sehari. Spasmolitik otot atau relaksan secara tradisional
digunakan untuk mengobati gangguan muskuloskeletal yang menyakitkan. Efek
samping sedasi dan pusing yang umum terjadi.8,9,10
3. Bila ada rasa nyeri bisa diberikan : Analgetika golongan NSAIDs (anti
inflamasi). Uji klinis menunjukan analgetik ini berguna sebagai pengobatan untuk
nyeri, namun penggunaan jangka panjang harus dihindari karena sering terjadi efek
samping yang merugikan pada fungsi ginjal dan gastrointestinal.
4. Antidepresan trisiklik : digunakan dalam pengobatan nyeri kronik untuk
mengurangi insomnia, dan juga mengurangi sakit kepala.
28

B. Non Medika Mentosa


1. Fisioterapi : Fisioterapi dapat berperan sejak fase awal terjadinya trauma
sampai pada tahap rehabilitasi. Pada penderita SCI kerusakan yang terjadi pada
medulla spinalis bersifat permanen, karena seperti yang kita ketahui bahwa setiap
kerusakan pada sistem saraf maka tidak akan terjadi regenerasi dari sistem saraf
tersebut dengan kata lain sistem tersebut akan tetap rusak walaupun ada regenerasi
akan kecil sekali peluangnya. Berdasarkan hal tersebut maka intervensi yang
diberikan oleh fisioterapi pun bertujuan untuk meningkatkan kemandirian pasien
dengan kemampuan yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Selama tahap awal rehabilitasi, terapis biasanya menekankan pemeliharaan dan
penguatan fungsi otot yang ada, pembangunan kembali keterampilan motorik halus
dan belajar teknik adaptif untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari. 8,9,10
2. Operasi : Pada saat ini laminektomi dekompresi tidak dianjurkan kecuali pada
kasus-kasus tertentu. Indikasi untuk dilakukan operasi : 8,9,10
a. Reduksi terbuka dislokasi dengan atau tanpa disertai fraktur pada daerah
servikal, bilamana traksi dan manipulasi gagal.
b. Adanya fraktur servikal dengan lesi parsial medula spinalis dengan fragmen
tulang tetap menekan permukaan anterior medula spinalis meskipun telah dilakukan
traksi yang adekuat. 8,9,10
c. Trauma servikal dengan lesi parsial medula spinalis, dimana tidak tampak
adanya fragmen tulang dan diduga terdapat penekanan medula spinalis oleh herniasi
diskus intervertebralis. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan mielografi dan
scan tomografi untuk membuktikannya. 8,9,10
d. Fragmen yang menekan lengkung saraf.
e. Adanya benda asing atau fragmen tulang dalam kanalis spinalis.

29

f. Lesi parsial medula spinalis yang berangsur-angsur memburuk setelah pada


mulanya dengan cara konservatif yang maksimal menunjukkan perbaikan, harus
dicurigai hematoma. 8,9,10

Prognosis
Pasien dengan cedera medula spinalis komplet hanya mempunyai harapan
untuk sembuh kurang dari 5%. Jika kelumpuhan total telah terjadi selama 72 jam,
maka peluang untuk sembuh menjadi tidak ada. Jika sebagian fungsi sensorik masih
ada, maka pasien mempunyai kesempatan untuk dapat berjalan kembali sebesar 50%.
Secara umum, 90% penderita cedera medula spinalis dapat sembuh dan mandiri.
Penyebab kematian utama adalah komplikasi disabilitas neurologik yaitu :
pneumonia, emboli paru, septikemia, dan gagal ginjal. 8,9,10

30

BAB III
KESIMPULAN

Cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan pada medulla spinalis akibat
trauma atau non trauma yang akan menimbulkan gangguan pada sistem motorik,
sistem sensorik dan vegetatif. Apabila medula spinalis cedera secara komplit dengan
tiba-tiba, maka tiga fungsi yang terganggu antara lain seluruh gerak, seluruh sensasi
dan seluruh refleks pada bagian tubuh di bawah lesi. Keadaan yang seluruh refleks
hilang baik refleks tendon, refleks autonomik disebut spinal syok.
Pada lesi yang menyebabkan cedera medula spinalis tidak komplit, spinal syok
dapat juga terjadi dalam keadaan yang lebih ringan atau bahkan tidak melalui syok
sama sekali. Selain itu gangguan yang timbul pada cidera medula spinalis sesuai
dengan letak lesinya, dimana pada UMN lesi akan timbul gangguan berupa
spastisitas, hiperefleksia, dan disertai hipertonus, biasanya lesi ini terjadi jika cedera
mengenai C1 hingga L1. Dan pada LMN lesi akan timbul gangguan berupa flaccid,
hiporefleksia, yang disertai hipotonus dan biasanya lesi ini terjadi jika cedera
mengenai L2 sampai kauda ekuina, di samping itu juga masih ada gangguan lain

31

seperti gangguan bladder dan bowel, gangguan fungsi seksual, dan gangguan fungsi
pernapasan.
Pada umumnya pengobatan trauma medula spinalis adalah konservatif dan
simptomatik. Manajemen yang paling utama untuk mempertahankan fungsi medula
spinalis yang masih ada dan memperbaiki kondisi untuk penyembuhan jaringan
medula spinalis yang mengalami trauma tersebut. Fisioterapi dapat berperan sejak
fase awal terjadinya trauma sampai pada tahap rehabilitasi. Pada penderita SCI
kerusakan yang terjadi pada medulla spinalis bersifat permanen, karena seperti yang
kita ketahui bahwa setiap kerusakan pada sistem saraf maka tidak akan terjadi
regenerasi dari sistem saraf tersebut dengan kata lain sistem tersebut akan tetap rusak
walaupun ada regenerasi akan kecil sekali peluangnya. Pada saat ini laminektomi
dekompresi tidak dianjurkan kecuali pada kasus-kasus tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

1. PERDOSI. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal.


Jakarta: Perdosi ; 2006.h.19-22.
2.

Cedera

medulla

Spinalis.

Diunduh

dari

http://www.artikelkedokteran.net/2011/01/cedera-medula-spinalis.html.
3. Evans, Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat;
2003.h. 35-36.
4. Blumenfeld H. Neuroanatomy through Clinical Cases. Inc: Sanauer Assiciates;
2002.h.23-36, 277-283.

32

5. DeGroot J. Chusid JG. Corelative Neuroanatomy. Jakarta: EGC; 1997.h.30-42.


6. Snell RS. Neuroanatomi klinik : pendahuluan dan susunan saraf pusat. Edisi ke-5.
Jakarta : EGC; 2007.h.1-16.
7. ASIA. Spinal cord injury. Diunduh dari : http://sci.rutgers.edu.
8. Sidharta P. Tatalaksana Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Jakarta: Dian Rakyat;
2005.h.115-116.
9. Consortium Member Organizations and Steering Committee Representatives.
Early Acute Management in Adults with Spinal Cord Injury: A Clinical Practice
Guideline for Health-Care Professionals. The Journal Of Spinal Cord Medicine.
Vol. 31. 2006.
10. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Panduan praktis diagnosis dan
tatalaksana penyakit saraf. Jakarta: EGC; 2007.h.19-23.
11. National spinal cord injury statistical centre. Spinal cord injury :
Facts

and

figures

at

glance.

http://www.nscisc.uab.edu/PublicDocuments/fact_figures_docs/Facts%20213.pdf

33