Anda di halaman 1dari 34

REFLEKSI KASUS

PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS


EKSASERBASI AKUT

Oleh :
BAIQ HULHIZATIL AMNI
H1A 212 011

Pembimbing
dr. Salim Said Thalib, Sp.P (K)

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
RSU PROVINSI NTB
2016

PENDAHULUAN
Penyakit Paru Obstruktif Kronik merupakan salah satu penyakit penyebab
kematian ke 5 di seluruh dunia, dan menurut WHO, diprediksikan pada tahun 2020
akan menjadi penyebab kematian ketiga di seluruh dunia. Sebagai pengingat
pentingnya masalah PPOK, WHO menetapkan hari PPOK sedunia (COPD day)
diperingati setiap tanggal 18 November.
Data prevalens PPOK pada populasi dewasa saat ini bervariasi pada setiap
negara di seluruh dunia. Tahun 2000, prevalens PPOK di Amerika dan Eropa berkisar
5-9% pada individu usia > 45 tahun. Data penelitian lain menunjukkan prevalens
PPOK bervariasi dari 7,8%-32,1% di beberapa kota Amerika Latin. Prevalens PPOK
di Asia Pasifik rata-rata 6,3%, yang terendah 3,5 % di Hongkong dan Singapura dan
tertinggi 6,7% di Vietnam. Untuk Indonesia, penelitian COPD working group tahun
2002 di 12 negara Asia Pasifik menunjukkan estimasi prevalens PPOK Indonesia
sebesar 5,6%.
Data kunjungan pasien di RS Persahabatan menunjukkan kecenderungan
peningkatan kasus PPOK. Pada tahun 2000 PPOK menduduki peringkat ke 5 dari
jumlah penderita yang berobat jalan dan menduduki peringkat 4 dari penderita yang
dirawat. Kunjungan rawat jalan pasien PPOK di RS Persahabatan Jakarta meningkat
dari 616 pada tahun 2000 menjadi 1735 pada tahun 2007.
Prevalens

PPOK diperkirakan

akan meningkat

sehubungan dengan

peningkatan usia harapan hidup penduduk dunia, pergeseran pola penyakit infeksi
yang menurun sedangkan penyakit degeneratif meningkat serta meningkatnya
kebiasaan merokok dan polusi udara. Merokok merupakan salah satu faktor risiko
terbesar PPOK.

REFLEKSI KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. M

Umur

: 62 tahun

Jenis kelamin

: Laki - laki

Status

: Menikah

Alamat

: Lingsar, Lombok Barat

Suku

: Sasak

Agama

: Islam

Pekerjaan

:-

No RM

: 584897

MRS

: 29 Novermber 2016

Waktu Pemeriksaan

: 7 Desember 2016

II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama :
Sesak nafas
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh sesak nafas sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit,
sesak dirasakan terus menerus dan menganggu aktivitas ringan seperti
ke kamar mandi, makan dan minum, pasien merasa tidurnya
terganggu karena sesaknya. Selain itu pasien mengeluhkan nyeri dada
yang datangnya bersamaan dengan sesak. Pasien memiliki riwayat
batuk lama >1 bulan, disertai dengan dahak yang semakin banyak
tetapi dahaknya sulit untuk keluar. Dahak berwarna putih kekuningan
dan tidak berbau. Pasien memiliki riwayat demam sejak 3 hari
sebelum MRS. Pasien juga mengeluhkan sering demam pada malam
hari disertai dengan keringat. Pasien merasa semakin kurus dan kaki
pasien semakin kecil. Pasien mengaku tidak pernah kontak dengan
pasien dengan batuk lama.
3. Riwayat Penyakit Dahulu :
2

a. Pasien pernah dirawat di RSUD Provinsi NTB 2 minggu sebelum MRS


dengan keluhan yang sama.
b. Riwayat hipertensi (-)
c. Riwayat penyakit jantung (-)
d. Diabetes mellitus (-)
e. Asma (-)
f. Riwayat penyakit ginjal (-)
g. Riwayat sakit kuning (-)
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Riwayat penyakit TB (-)


Riwayat hipertensi (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat diabetes melitus (-)
Riwayat asma (-)
Riwayat penyakit ginjal (-)
Riwayat sakit kuning (-)

5. Riwayat Pengobatan :
a.

Tidak pernah mengkonsumsi obat antihipertensi

b.

pasien tidak pernah mengkonsumsi obat selama 6 bulan.

6. Riwayat Pribadi dan Sosial :


a.

pasien pernah merokok sejak remaja sampai usia 50 tahun, setiap


harinya dapat sampai 10 batang rokok namun mengaku sudah
berhenti.

b.

Pasien mengaku tinggal didekat sawah yang setiap panen padi selalu
membakar bekas padi.

III. PEMERIKSAAN FISIK


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Keadaan umum
: Sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi
: 84 x/menit, reguler, kuat angkat
Pernapasan
: 22 x/menit
Suhu
: 36,3 oC
Berat badan
: 45 kg
Tinggi badan
: 155 cm

Status Lokalis :
1. Kepala :
c. Ekspresi wajah

: normal

d. Bentuk dan ukuran

: normal

e. Rambut

: berwarna hitam dan putih

f. Edema

: (-)

g. Malar rash

: (-)

h. Parese N VII

: (-)

i. Hiperpigmentasi

: (-)

j. Nyeri tekan kepala

: (-)

2. Mata :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

Simetris
Alis normal
Exopthalmus
Retraksi kelopak mata
Lid Lag
Ptosis
Nystagmus
Strabismus
Edema palpebra
Konjungtiva
Sclera
Pupil
Kornea
Lensa
Pergerakan bola mata

: (-/-)
: (-/-)
: (-/-)
: (-/-)
: (-/-)
: (-/-)
: (-/-)
: anemis (-/-), hiperemia (-/-)
: ikterus (-/-), hiperemia (-/-), pterygium (-/-).
: Rp +/+, isokor 3mm/3mm, bentuk dbn
: normal
: keruh (-/-)
: normal ke segala arah

3. Telinga :
a. Bentuk

: normal, simetris

b. Lubang telinga

: normal, sekret (-/-)

c. Nyeri tekan tragus

: (-/-)

d. Pendengaran

: kesan normal

4. Hidung :
a.
b.
c.
d.
e.

Simetris
Deviasi septum
Perdarahan
Sekret
Penciuman

: (-/-)
: (-/-)
: (-/-)
: kesan normal

5. Mulut :
a. Simetris
b. Bibir

: Sianosis (-), stomatitis angularis (-), pursed lips


breathing (-)

c.

Gusi

d. Lidah

: Hiperemis (-), perdarahan (-)


: Glositis (-), atropi papil lidah (-), lidah berselaput
(-), kemerahan di pinggir (-), lidah kotor (-).

e.

Gigi

: Caries (+), gigi tanggal (+)

f.

Mukosa pucat

: (-)

6. Leher :

a. Kaku kuduk (-)


b. Scrofuloderma (-)
c. pembesaran KGB (-)
d. Trakea : ditengah
e. Peningkatan JVP (-)
f. Otot sternocleidomastoideus aktif, hipertrofi (+)
g. Pembesaran nodul thyroid (-)
7. Thorax :
Inspeksi

a. Bentuk dan ukuran dada: Normal, Barrel chest (-)


b. Pergerakan dinding dada: simetris
c. Permukaan dinding dada: scar (-), massa (-), spider naevi (-), ictus cordis
tidak tampak.
d. Penggunaan otot bantu napas: SCM aktif (+), hipertrofi SCM (+), otot
bantu napas abdomen aktif (-).
e. Tulang iga dan sela iga: simetris, pelebaran sela iga kanan dan kiri (+)
f. Fossa supraklavikula dan infraklavikula: simetris; Fossa jugularis: trakea
ditengah
g. Tipe pernapasan torako abdominal dengan frekuensi napas 22 kali/menit,
reguler.
h. Penampilan Pink Puffer (-), Blue Bloater (-)

Palpasi
a. Posisi mediastinum: trakea ditengah, ictus cordis teraba di ICS V di
midklavikula sinistra, thrill (-).
b. Nyeri tekan (-), benjolan (-), krepitasi (-).
c. Pergerakan dinding dada: simetris
d. Vocal fremitus
7

Depan :

Belakang :
N N
N N
N N

Perkusi
S
S
S

S
S
S

1) Batas paru-jantung :
a) Dextra ICS IV di parasternalis linea dekstra
b) Sinistra ICS V di midclavicula linea sinistra
2) Batas paru-hepar :
a) Inspirasi ICS VII
b) Ekspirasi ICS VI
Ekskursi : 1 ICS
Auskultasi
1) Cor : S1 S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)
2) Pulmo :
a) Suara napas
Depan
Belakang
V
V
V
b) Rhonki
Depan

Belakang
+
+
+

c) Wheezing
Depan

V
V
V

+
+
+

Belakang
-

Abdomen :
Inspeksi :
-

Bentuk : distensi (-)

Umbilicus : masuk merata

Otot bantu pernafasan aktif (-)

Permukaan Kulit : sikatrik (-), pucat (-), sianosis (-), caput


meducae (-), petekie (-), purpura (-), ekimosis (-), spider nervi (-), venektasis
(-)

Auskultasi :
-

Bising usus (+) Normal

Metallic sound (-)

Bising aorta (-)

Palpasi :
-

Nyeri tekan (-) diepigastrium

Hepar tidak teraba

Lien tidak teraba

Renal tidak teraba.

Perkusi :
- Timpani pada seluruh lapang abdomen
-

Redup beralih (-)

- Nyeri ketok CVA: -/1. Ekstremitas :


Ekstremitas Atas
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Akral hangat
Deformitas
Edema
Sianosis
Petekie
Clubbing finger
Koilonikia
Sendi
CRT

Ekstremitas Bawah
: -/: -/: -/: -/: -/: -/: -/: dbn
: < 2 detik

a. Akral hangat
b. Deformitas
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

-/Edema
Sianosis
Petekie
Koilonikia
Sendi
Ulkus
Atrophy

: -/:
: -/: -/: -/: -/: dbn
: -/: +/+

RESUME
.
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap dan Kimia Klinik
Parameter
HGB
RBC
HCT
WBC
MCV
MCH
MCHC

29/11/2016
11,8
4,13
35,4
15,11
85,7
28,6
33,3

Normal
13,0 18,0 g/dL
[10^6/uL)
40,0-50,0 [%]
4,0 11,0 [10^3/ L]
82,0 92,0 [fL]
27,0-31,0 [pg]
32,0-37,0 [g/dL]
10

PLT
GDS
Kreatinin
Ureum
SGOT
SGPT
Na
Ka
Cl

251
65
0,5
26
25
28
127
3,5
91

150-400 [10^3/ L]
<160 mg/dl
0,9-1,3 mgl/dl
10-50 mgl/dl
<40 mgl/dl
<41 mgl/dl
135-146 mmol/l
3,4-5,4 mmol/l
95-108 mmol/l

Foto Thorax Tanggal 29 November 2016

11

Interpretasi:
1. Identitas :
a. Nama

: T. M

b. Usia

: 62 tahun

c. Tanggal foto

: 29/11/2016

2. Proyeksi

: AP

3. Kondisi

: simetris

4. Inspirasi

: Cukup

5. Soft tissue

: Normal, tidak terdapat emfisema subkutis dan tidak

ditemukan adanya massa. Kesan pasien kurus.


6. Tulang:
a. Intak, fraktur (-),
b. Deformitas (-), pelebaran sela iga pada bagian thoraks sinistra
dibandingkan dextra
7. Trakea

: ditengah

12

8. Hilus

: tidak tampak pembesaran hilus pulmo dextra et sinistra

9. Sudut costofrenikus : kanan tajam dan kiri tajam


10. Cor

: site terletak ditengah, size normal, shape normal. CTR <50%

11. Hemidiafragma : diagfragma sinistra mendatar


12. Pulmo : gambaran hiperlusen pada kedua lapang paru
13. Kesan : suspek TB pulmo bilateral dengan emfisema pulmonum

1. DIAGNOSIS
2. PLANNING
a. Planning diagnostic
b. Planning terapi
Medikamentosa
Non-medikamentosa
Monitoring : Keadaan umum, tanda vital, dan keluhan.

13

FOLLOW UP PASIEN
Tgl
12/06/15

Subyektif

Obyektif
TD : 120/70

P. Penunjang

Assessment

Planning

Nadi : 84 x
RR : 22 x
Tax : 36,3
K/L: an -/-, ikt -/Tho:
I = simetris
P =simetris
P=
S
S
S
A=

S
S
S

SN :
V
V
V
Rh

V
V
V

10

Wh

13/06/15

TD : 120/80

Nadi : 84 x
RR : 21 x
Tax : 36,5
K/L: an -/-, ikt -/Tho:
I = simetris
P =simetris
P=
S
S
S
A=

S
S
S

SN :
V
V
V
Rh

V
V
V

11

Wh

15/06/15

TD : 120/70

Nadi : 80 x
RR : 22 x
Tax : 36,7
K/L: an -/-, ikt -/Tho:
I = simetris
P =simetris
P=
S
S
S
A=

S
S
S

SN :
V
V

V
V

12

V
Rh

Wh

13

TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)
PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran
udara di saluran napas yang bersifat progressif nonreversibel atau reversibel
parsial. PPOK terdiri dari bronkitis kronik dan emfisema atau gabungan
keduanya.
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit yang dapat
dicegah dan diobati, dengan ciri adanya hambatan aliran udara yang menetap
(persistent) yang biasanya progresif dan disertai peningkatan respon inflamasi
yang kronik pada paru dan saluran pernapasan terhadap gas atau partikel yang
berbahaya (noxious).
Bronkitis kronik
Kelainan saluran napas yang ditandai oleh batuk kronik berdahak minimal
3 bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut - turut, tidak
disebabkan penyakit lainnya.
Emfisema
Suatu kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara
distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli.
FAKTOR RISIKO
1. Kebiasaan merokok merupakan satu - satunya penyebab kausal yang
terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya.
Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan :
a. Riwayat merokok
Perokok aktif
Perokok pasif
Bekas perokok
b. Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian
jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok
dalam tahun :
Ringan : 0-200
Sedang : 200-600

2.
3.
4.
5.

Berat : >600
Riwayat terpajan polusi udara di lingkungan dan tempat kerja
Hipereaktiviti bronkus
Riwayat infeksi saluran napas bawah berulang
Defisiensi antitripsin alfa - 1, umumnya jarang terdapat di Indonesia

PATOGENESIS
Pada bronkitis kronik terdapat pembesaran kelenjar mukosa bronkus,
metaplasia sel goblet, inflamasi, hipertrofi otot polos pernapasan serta distorsi
akibat fibrosis.
Emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal,
disertai kerusakan dinding alveoli. Secara anatomik dibedakan tiga jenis
emfisema:
-

Emfisema sentriasinar, dimulai dari bronkiolus respiratori dan meluas ke


perifer, terutama mengenai bagian atas paru sering akibat kebiasaan

merokok lama
Emfisema panasinar (panlobuler), melibatkan seluruh alveoli secara

merata dan terbanyak pada paru bagian bawah


Emfisema asinar distal (paraseptal), lebih banyak mengenai saluran napas
distal, duktus dan sakus alveoler. Proses terlokalisir di septa atau dekat
pleura

Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat ireversibel dan terjadi karena
perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu : inflamasi, fibrosis, metaplasi
sel goblet dan hipertropi otot polos penyebab utama obstruksi jalan napas.

DIAGNOSIS
Gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, gejala
ringan hingga berat. Pada pemeriksaan fisis tidak ditemukan kelainan jelas dan
tanda inflasi paru
Diagnosis PPOK di tegakkan berdasarkan :
A. Gambaran klinis
1. Anamnesis
- Keluhan
- Riwayat penyakit
- Faktor predisposisi
2. Pemeriksaan fisis
B. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan rutin
2. Pemeriksaan khusus
A. Gambaran Klinis
a. Anamnesis
-

Riwayat merokok atau bekas perokok dengan atau tanpa gejala pernapasan
Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di tempat kerja
Riwayat penyakit emfisema pada keluarga
Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi/anak, mis berat badan lahir
rendah (BBLR), infeksi saluran napas berulang, lingkungan asap rokok

dan polusi udara


Batuk berulang dengan atau tanpa dahak
Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi

b. Pemeriksaan fisis

PPOK dini umumnya tidak ada kelainan


Inspeksi
-

Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)


Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
Penggunaan otot bantu napas
Hipertropi otot bantu napas
Pelebaran sela iga
Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis i leher

dan edema tungkai


Penampilan pink puffer atau blue bloater

Palpasi
-

Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar

Perkusi
-

Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak diafragma


rendah, hepar terdorong ke bawah

Auskultasi
-

suara napas vesikuler normal, atau melemah


terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau pada

ekspirasi paksa
ekspirasi memanjang
bunyi jantung terdengar jauh

Pink puffer
Gambaran yang khas pada emfisema, penderita kurus, kulit kemerahan dan
pernapasan pursed lips breathing
Blue bloater
Gambaran khas pada bronkitis kronik, penderita gemuk sianosis, terdapat
edema tungkai dan ronki basah di basal paru, sianosis sentral dan perifer
Pursed - lips breathing
Adalah sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu dan
ekspirasi yang memanjang. Sikap ini terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk
mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi sebagai mekanisme tubuh untuk
mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi pada gagal napas kronik.

B. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rutin
1.
-

Faal paru
Spirometri (VEP1, VEP1prediksi, KVP, VEP1/KVP
o Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi ( % ) dan atau
VEP1/KVP ( % ). Obstruksi : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80%
VEP1% (VEP1/KVP) < 75 %
o VEP1 merupakan parameter yang paling umum dipakai untuk
menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan penyakit.
o Apabila spirometri tidak tersedia atau tidak mungkin dilakukan,
APE meter walaupun kurang tepat, dapat dipakai sebagai alternatif
dengan memantau variabiliti harian pagi dan sore, tidak lebih dari

20%
Uji bronkodilator
o Dilakukan dengan menggunakan spirometri, bila tidak ada gunakan
APE meter.
o Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, 15 20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP1 atau APE,
perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai awal dan < 200 ml
o Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil

2. Darah rutin
Hb, Ht, leukosit
3. Radiologi
Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru
lain. Pada emfisema terlihat gambaran :
-

Hiperinflasi
Hiperlusen
Ruang retrosternal melebar
Diafragma mendatar
Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop
appearance)

Pada bronkitis kronik :


-

Normal
Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus

Klasifikasi mMRC

Tabel CAT (COPD Assessment Test)


SKOR
Saya tidak pernah batuk

Saya selalu batuk

Tidak ada dahak (riak) sama sekali

Dada saya penuh dengan dahak (riak)

Tidak ada rasa berat (tertekan) di dada

Dada saya terasa berat (tertekan) sekali

Ketika saya jalan naik tangga,


saya tidak sesak

Ketika saya jalan mendaki / naik tangga,


saya sangat sesak

Aktivitas sehari-hari saya di rumah


tidak terbatas

Aktivitas sehari-hari saya di rumah sangat terbatas

Saya tidak khawatir keluar rumah meskipun


saya menderita penyakit paru

Saya sangat khawatir keluar rumah karena


kondisi paru saya

Saya dapat tidur dengan nyenyak


kondisi paru saya

Saya tidak dapat tidur nyenyak karena


kondisi paru saya

Saya sangat bertenaga

Saya tidak punya tenaga sama sekali

Keterangan :
Skor antara 0 - 10 : dampak kecil.
Skor antara 11 - 20 : dampak sedang
Skor antara 21 - 30 : dampak besar.
Skor antara 31 - 40 : dampak sangat besar.

DIAGNOSIS BANDING

Asma
SOPT (Sindroma Obstruksi Pascatuberculososis) Adalah penyakit
obstruksi saluran napas yang ditemukan pada penderita pascatuberculosis

dengan lesi paru yang minimal.


Pneumotoraks
Gagal jantung kronik
Penyakit paru dengan obstruksi saluran napas lain misal : bronkiektasis,
destroyed lung.

Asma dan PPOK adalah penyakit obstruksi saluran napas yang sering
ditemukan di Indonesia, karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan karena
terapi dan prognosisnya berbeda.

KLASIFIKASI
Terdapat ketidak sesuaian antara nilai VEP1 dan gejala penderita, oleh
sebab itu perlu diperhatikan kondisi lain. Gejala sesak napas mungkin tidak bisa
diprediksi dengan VEP1.

PENATALAKSANAAN
A. Penatalaksanaan umum PPOK
Tujuan penatalaksanaan :
- Mengurangi gejala
- Mencegah eksaserbasi berulang
- Memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru
- Meningkatkan kualiti hidup penderita
Penatalaksanaan secara umum PPOK meliputi :
1. Edukasi
Tujuan edukasi pada pasien PPOK :
1. Mengenal perjalanan penyakit dan pengobatan
2. Melaksanakan pengobatan yang maksimal
3. Mencapai aktiviti optimal
4. Meningkatkan kualitas hidup
Secara umum bahan edukasi yang harus diberikan adalah
1. Pengetahuan dasar tentang PPOK

2. Obat - obatan, manfaat dan efek sampingnya


3. Cara pencegahan perburukan penyakit
4. Menghindari pencetus (berhenti merokok)
5. Penyesuaian aktiviti
Agar edukasi dapat diterima dengan mudah dan dapat dilaksanakan
ditentukan skala prioritas bahan edukasi sebagai berikut :
1. Berhenti merokok Disampaikan pertama kali kepada penderita pada
waktu diagnosis PPOK ditegakkan
2. Pengunaan obat - obatan
-

Macam obat dan jenisnya


Cara penggunaannya yang benar ( oral, MDI atau nebuliser )
Waktu penggunaan yang tepat ( rutin dengan selangwaku tertentu atau

kalau perlu saja )


Dosis obat yang tepat dan efek sampingnya

3. Penggunaan oksigen
-

Kapan oksigen harus digunakan


Berapa dosisnya
Mengetahui efek samping kelebihan dosis oksigen

4. Mengenal dan mengatasi efek samping obat atau terapi oksigen


5. Penilaian dini eksaserbasi akut dan pengelolaannya
Tanda eksaserbasi :
-

Batuk atau sesak bertambah


Sputum bertambah
Sputum berubah warna

6. Mendeteksi dan menghindari pencetus eksaserbasi


7. Menyesuaikan kebiasaan hidup dengan keterbatasan aktivitas
2. Obat - obatan
a. Bronkodilator
Diberikan secara tunggal atau kombinasi dari ketiga jenis bronkodilator
dan disesuaikan dengan klasifikasi derajat berat penyakit. Pemilihan bentuk obat
diutamakan inhalasi, nebuliser tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang.
Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat ( slow release ) atau
obat berefek panjang ( longacting ).

Macam - macam bronkodilator :


-

Golongan antikolinergik
Digunakan pada derajat ringan sampai berat, disamping sebagai
bronkodilator juga mengurangi sekresi lendir ( maksimal 4 kali perhari ).
Golongan agonis beta 2
Bentuk inhaler digunakan untuk mengatasi sesak, peningkatan
jumlah penggunaan dapat sebagai monitor timbulnya eksaserbasi. Sebagai
obat pemeliharaan sebaiknya digunakan bentuk tablet yang berefek
panjang. Bentuk nebuliser dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi
akut, tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang. Bentuk injeksi

subkutan atau drip untuk mengatasi eksaserbasi berat.


Kombinasi antikolinergik dan agonis beta 2
Kombinasi kedua golongan obat ini akan memperkuat efek
bronkodilatasi, karena keduanya mempunyai tempat kerja yang berbeda.
Disamping itu penggunaan obat. kombinasi lebih sederhana dan

mempermudah penderita.
Golongan xantin
Dalam bentuk lepas lambat sebagai pengobatan pemeliharaan
jangka panjang, terutama pada derajat sedang dan berat. Bentuk tablet
biasa atau puyer untuk mengatasi sesak ( pelega napas ), bentuk suntikan
bolus atau drip untuk mengatasi eksaserbasi akut. Penggunaan jangka
panjang diperlukan pemeriksaan kadar aminofilin darah.

b. Antiinflamasi
Digunakan bila terjadi eksaserbasi akut dalam bentuk oral atau injeksi
intravena, berfungsi menekan inflamasi yang terjadi, dipilih golongan
metilprednisolon atau prednison. Bentuk inhalasi sebagai terapi jangka panjang
diberikan bila terbukti uji kortikosteroid positif yaitu terdapat perbaikan VEP1
pascabronkodilator meningkat > 20% dan minimal 250 mg.
c. Antibiotika
Hanya diberikan bila terdapat infeksi. Antibiotik yang digunakan :
- Lini I : amoksisilin. makrolid
- Lini II : amoksisilin dan asam klavulanat, sefalosporin, kuinolon, makrolid baru
Perawatan di Rumah Sakit dapat dipilih

- Amoksilin dan klavulanat


- Sefalosporin generasi II & III injeksi
- Kuinolon per oral ditambah dengan yang anti pseudomonas
- Aminoglikose per injeksi
- Kuinolon per injeksi
- Sefalosporin generasi IV per injeksi
d. Antioksidan
Dapat mengurangi eksaserbasi dan memperbaiki kualiti hidup, digunakan
N - asetilsistein. Dapat diberikan pada PPOK dengan eksaserbasi yang sering,
tidak dianjurkan sebagai pemberian yang rutin
e. Mukolitik
Hanya diberikan terutama pada eksaserbasi akut karena akan mempercepat
perbaikan eksaserbasi, terutama pada bronkitis kronik dengan sputum yang
viscous. Mengurangi eksaserbasi pada PPOK bronkitis kronik, tetapi tidak
dianjurkan sebagai pemberian rutin.
f. Antitusif
Diberikan dengan hati hati

3. Nutrisi
Malnutrisi sering terjadi pada PPOK, kemungkinan karena bertambahnya
kebutuhan energi akibat kerja muskulus respirasi yang meningkat karena
hipoksemia kronik dan hiperkapni menyebabkan terjadi hipermetabolisme.
Kondisi malnutrisi akan menambah mortalitas PPOK karena berkolerasi
dengan derajat penurunan fungsi paru dan perubahan analisis gas darah.
Malnutrisi dapat dievaluasi dengan :
- Penurunan berat badan
- Kadar albumin darah
- Antropometri
- Pengukuran kekuatan otot (MVV, tekanan diafragma, kekuatan otot pipi)
- Hasil metabolisme (hiperkapni dan hipoksia)

4. Rehabilitasi PPOK
Latihan fisis bagi penderita PPOK dapat dilakukan di dua tempat :
Di rumah
-

Latihan dinamik
Menggunakan otot secara ritmis, misal : jalan, joging, sepeda

Rumah sakit
-

Program latihan setiap harinya 15-30 menit selama 4-7 hari per minggu.
Tipe latihan diubah setiap hari. Pemeriksaan denyut nadi, lama latihan dan

keluhan subyektif dicatat.


Dua bentuk latihan dinamik yang tampaknya cocok untuk penderita di
rumah adalah ergometri dan walking-jogging. Ergometri lebih baik
daripada walkingjogging. Begitu jenis latihan sudah ditentukan, latihan
dimulai selama 2-3 menit, yang cukup untuk menaikkan denyut nadi
sebesar 40% maksimal. Setelah itu dapat ditingkatkan sampai mencapai
denyut jantung 60%-70% maksimal selama 10 menit. Selanjutnya diikuti
dengan 2-4 menit istirahat. Setelah beberapa minggu latihan ditambah
sampai 20-30 menit/hari selama 5 hari perminggu. Denyut nadi maksimal

adalah 220 - umur dalam tahun.


Apabila petunjuk umum sudah dilaksanakan, risiko untuk penderita dapat
diperkecil. walaupun demikan latihan jasmani secara potensial akan dapat
berakibat kelainan fatal, dalam bentuk aritmia atau iskemi jantung.

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum latihan :


-

Tidak boleh makan 2-3 jam sebelum latihan


Berhenti merokok 2-3 jam sebelum latihan
Apabila selama latihan dijumpai angina, gangguan mental, gangguan

koordinasi atau pusing latihan segera dihentikan


Pakaian longgar dan ringan