Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesi secara umum adalah suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan
pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Namun,
obat-obat anestesi tidak hanya menghilangkan rasa sakit akan tetapi juga menghilangkan
kesadaran. Selain itu, juga dibutuhkan relaksasi otot yang optimal agar operasi dapat berjalan
lancer.
Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai dengan
hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible). Komponen anestesi yang ideal (trias
anestesi) terdiri dari: hipnotik, analgesia dan relaksasi otot. Praktek anestesi umum juga termasuk
mengendalikan pernapasanpemantauan fungsi-fungsi vital tubuh selama prosedur anestesi.
Tahapannya mencakup induksi, maintenance, dan pemulihan.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas Pasien
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Nama: Tn. S
Usia: 45 tahun
Tempat/tanggal lahir: 1 juli 1970
Jenis kelamin: Laki-laki
Status pernikahan: Menikah
Alamat: Cicinde III, RT/RW 04/01 Banyusari, karawang
Agama: Islam
Pekerjaan: tidak bekerja
Nomor Rekam Medis: 605830

2.2 ANAMNESIS
Diperoleh dengan cara autoanamnesa dan alloanamnesa dengan salah satu anggota keluarga
pasien.
Keluhan utama: Penurunan Kesadaran
Keluhan tambahan: muntah-muntah dan pusing
Riwayat Penyakit sekarang: Pasien datang ke IGD dengan keluhan penurunan Kesadaran
akibat kecelakaan motor. Berdasarkan laporan IGD pasien jatuh membentur kepala bagian
depannya tanpa menggunakan pelindung kepala.
Pasien datang dari IGD dengan keluhan penurunan Kesadaran Pasca Trauma capitis akibat
kecelakaan Motor. Pasien mengeluh sakit kepala, pusing, disertai mual-muntah.
Riwayat Penyait Dahulu: Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga: tidak ada
Riwayat Operasi: Operasi pertama Kali
Riwayat Pengobatan: tidak ada

Riwayat Kebiasaan: Merokok 1 bungkus / hari

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


Dilakukan di Ruang Instalasi Bedah Sentral RSUD Karawang, pada tanggal 2 Oktober 2015
1. Keadaan Umum
a. Kesan Sakit: Sakit berat
b. Kesadaran: Sopor, nilai GCS: E2 V2 M4
c. Status Gizi: Cukup
2. Tanda Vital dan Antopometri
PEMERIKSAA
N

NILAI
NORMAL

HASIL PASIEN

Suhu

36,5o - 37,2o C

36,7oC

Nadi

60-100 x/mnt

84x/mnt, reguler, isi cukup, equivalen

Tekanan darah

120/80 mmHg

100/70 mmHg

Nafas

14-18 x/mnt

24x/mnt

Berat badan

60kg

Tinggi badan

165 cm

BMI

18,5-22,9

Normal (BMI: 22,03)*asia pasific

3. Status Generalis
a. Kepala: Tampak deformitas pada bagian frontal akibat kecelakaan, tidak berambut
b. Wajah: simetris, tidak tampak sesak, tampak kesakitan dan pucat, tidak sianosis,
ekspresi wajah simetris, dan tidak tampak facies yang menandai suatu penyakit
seperti facies hipocrates, tidak tampak moonface
c. Mata: Bentuk normal, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat
isokor, reflek cahaya (+/+), edema palpebral (+/+) kornea jernih
d. Hidung: Bentuk normal, deviasi septum (-), sekret (-/-), nafas cuping hidung (-/-)
e. Telinga: Normotia, nyeri ketok mastoid (-), nyeri tekan tragus (-), fistel(-), meatus
akustikus eksterna lapang, secret (-/-), serumen (+/+) sedikit
f. Mulut: labioschiziz (-), palatoschiziz (-), bibir sianosis (-), bibir kering(-), trismus
(-), faring hiperemis (-), uvula ditengah hiperemis (-), arcus faring simetris
3

g. Leher: Trakea teraba ditengah, KGB serta kelenjar tiroid tidak teraba membesar.
h. Paru-paru:
Inspeksi
: bentuk simetris pada saat statis & dinamis, retraksi (-),
Palpasi
: vocal fremitus simetris
Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi
: Suara dasar nafas vesikuler (+/+), rhonki (+/+) wheezing
(-/-)
i. Jantung:
Inspeksi
: pulsasi Ictus cordis tidak tampak
Palpasi
: pulsasi ictus cordis tidak teraba
Perkusi
: Batas jantung tidak dinilai
Auskultasi
: S1 S2 normal regular, murmur (-), gallop (-)
j. Abdomen:
Inspeksi
: datar
Auskultasi
: Bising usus (+) normal
Palpasi
: Supel, nyeri tekan epigastrium (-)
Perkusi
: Timpani
k. Genitalia: Tidak dilakukan

l. Ekstremitas:
Ekstremitas
Oedem
Deformitas
Akral dingin
Akral sianosis
Ikterik
CRT
Tonus

Superior
-/-/-/-/-/< 1 detik
baik

Inferior
-/-/-/-/-/< 1 detik
Baik

4. Status Lokalis

Kepala:
Inspeksi: Tampak fraktur tertutup pada tengkorak bagian frontal e.c trauma. Dan ada beberapa
luka lecet
Palpasi: krepitasi (+), pada bagian trauma tampang cekung ke dalam kemungkinan menekan
Otak

5. Pemeriksaan Penunjang
CT-Scan: Tampak Fraktur Kompresi Tengkorak bagian Frontal Dextra
Pemeriksaan Lab:
Parameter

Hasil

Nilai Rujukan

Satuan

HEMATOLOGI
Hemoglobin

13.6

12,0-16,0

g/dL

Leukosit

14.63

3,8-10,60

Ribu/L

Hematokrit

40.2

35-47

Trombosit

244

150-440

Ribu/L

Eritrosit

4.5

4.5 6.5

Menit

HCV

89

5-11

Menit

MCH

30

26-34

MCHC

34

35-36

RDW-CV

12.1

KIMIA
Glukosa Darah Sewaktu

126

<140

Ureum

21.1

15-50

Creatinin

0.76

0.6 1.1

SGOT

15.9

<37

SGPT

4.3

<40

2.4 Diagnosis Kerja


Diagnosis Kerja: Contussio Cerebri dengan Fraktur compressi tengkorak bagian frontal Dextra
e.c Traumatic
2.5 Kesimpulan
Status fisik pasien : ASA IV
Perencanaan anestesi : Rencana tindakan Operasi oleh DPJP adalah Craniotomy koreksi fraktur
impressio, jenis anestesi yang akan dilakukan adalah Anestesi Umum dengan intubasi ETT

BAB III
LAPORAN ANESTESI
Status anestesi

Rencana teknik anestesi


Status fisik

Diagnosa pre operasi : Contussio Cerebri dengan Fraktur

compressi tengkorak bagian frontal Dextra e.c Traumatic


Jenis operasi : Craniotomy koreksi fraktur impressio
: Craniotomy koreksi fraktur impressio
: ASA IV
6

Pre Operasi:
Cek persetujuan operasi
Pasien puasa 6 jam pre-operatif
Cek dan persiapan obat dan alat anestesi
o Persiapan Alat
Mesin anestesi
Monitor anestesi
Sfigmomanometer digital
Pulse oksimeter/saturasi
Stetoskop
Sungkup muka
Guedel
Laringoscope
Tube non-kinking
Klem Kasa
Peg
Plester
Spuit 10cc

Persiapan Obat
Pre medikasi
: Midazolam, Fentanyl
Induksi
: Propofol, Atracurium (Notrixum)
Maintenance
: O2 : N2O : Isoflurane
Obat emergency : Ephedrine
Infus Asering 20 tpm
Tanda vital : TD : 100/70 mmHg, Nadi : 84x/menit, Nafas: 24x/menit, Suhu: 36,7oC

Intra Operasi
Lama operasi : 1 jam 30 menit (Jam 08.15 - 09.45 WIB)
Lama anestesi : 1 jam 45 menit (Jam 08.00 9.45 WIB)
Jenis anestesi : Anestesi umum
Posisi

: supine

Infus

: Asering pada tangan kiri, Asering pada kaki kanan


7

Premedikasi

:-

Medikasi

: Fentanyl 150 mcg, propofol 160 mg, Atracurium 35 mg, Transamine 100 mg,

Cairan Masuk : 1200 cc Asering

Jam
(waktu)
07.55

Tindakan

08.05

08.10

Tekanan
darah
(mmHg)
110/75

Nadi
(x/menit)

SPO2

96

98

118/80

90

98

non 115/78

85

100

Pasien masuk ke kamar


operasi dan di pindahkan
ke meja operasi
Pemasangan monitoring
tekanan darah, nadi,
saturasi oksigen.
Infus Asering terpasang
pada tangan kiri

Medikasi Fentanyl 100


mcg, Propofol 100 mg,
Atracurium 35 mg
Pemasangan sungkup
muka
Pemberian O2 4 L/menit,
N2O 2,5 L/menit, Isofluran
2 vol%
Bagging dengan frekuensi
12 x/m
Pemasangan

ETT

( %)

kingking

Bagging dengan frekuensi


12x/menit

Tambah IV line pada


pedis dextra
Pasien napas spontan
Operasi dimulai
masuk Transamine 100 mg
Masuk Propofol 60 mg,
fentanyl 50 mcg, Atracurium
10 mg
Operasi selesai
ETT tidak di ekstubasi
Melpaskan selang
corrugated dari ETT
Menyambungkan ETT
dengan Tabung oksigen
dorong, sambil diberi
bantuan nafas
Melepaskan monitoring
tekanan darah, nadi,
saturasi oksigen
Memindahkan pasien ke
Recovery Room

08.15
08.45
09.20
09.45

110/75

86

99

100/75
118/80

90
86

98
99

100/80

80

98

Post Operasi
Keadaan pasien post operatif pada pasien adalah: TD: 102/68 mmHg, Nadi: 88 x/m,
Saturasi O2: 100%, Kesadaran masih dalam tingkat Sopor dan nafas kendali. Kemudian pasien
segera dipindahkan ke ruang ICU. Pukul 10 sampai di ICU pasien disambungkan ke Ventilator
dan dipasang monitor untuk mengevaluasi Tanda Vital.

BAB IV
ANALISIS KASUS
Tn. S 45 tahun datang ke IGD dengan keluhan penurunan Kesadaran akibat Kecelakaan
Motor. Bedasarkan laporan IGD saat mengalami kecelakaan pasien jatuh terbentur pada Kepala
bagian depan. Pasien juga menderita luka-luka lecet di bagian kepala.
9

Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan Kesadaran pasien Somnolent E 2 V2 M4, Tekanan
darah 100/70 mmHg, Nadi 84x/menit, Suhu 36,70C, Nafas 24x/menit. Hasil antopometri
didapatkan nilai BMI 22,03. Pemeriksaan Status generalis didapatkan pada kepala fraktur
tertutup pada bagian frontal akibat kecelakaan, wajah tampak pucat, pada mata didapatkan
edema palpebral. Pada status Lokalis didapatkan tampak fraktur tertutup pada tengkorak bagian
frontal e.c trauma. Dan ada beberapa luka lecet, saat dipalpasi krepitasi (+), pada bagian trauma
tampak cekung ke dalam kemungkinan menekan otak.
Dari pemeriksaan penunjang didapatkan kesan CT-Scan Tampak Fraktur Kompresi
Tengkorak bagian Frontal Dextra. Dari hasil lab darah dalam batas normal. Dari hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang didapatkan diagnosis pasien adalah Contussio Cerebri
dengan Fraktur compressi tengkorak bagian frontal Dextra e.c Traumatic. Didapatkan juga status
anasetesi pasien adalah ASA IV, karena jika tidak diberi tindakan akan mengancam nyawa
pasien. Rencana anestesi yang akan dilakukan adalah Anestesi umum.
Sebelum di induksi pasien diberikan Fentanyl sebanyak 100 mcg. Fentanyl adalah obat
golongan Opioid, diberikan untuk memberikan efek analgetik saat dilakukan pembedahan.
Kemudian pasien diberikan atracurium (Notrixum) sebanyak 35 mg. Atracurium termasuk
muscle relaxan non Depolirazing drugs berfungsi untuk relaksasi otot polos terutama saat
melakukan intubasi agar mempermudah pemasukan ke dalam saluran pernafasan. Kemudian
pasien di induksi dengan Propofol sebanyak 100 mg. Propofol termasuk obat anestesi
intravenous, yang bertujuan untuk mengubah keadaan pasien dari sadar menjadi tidak sadar. Sifat
utama propofol adalah hipnotik. Efek kerja propofol cukup cepat, yaitu dalam 30 detik obat
mulai bekerja. Efek samping yang akan dirasakan pasien adalah tekanan darah menurun karena
propofol dapat menyebabkan relaksasi otot polos pada pembuluh darah.
Setelah di induksi pasien diberikan sungkup muka dengan O2 + N2O agar mendapatkan
oksigenasi awal. Setelah cukup (sekitar 2-3 menit) dilanjutkan pemasangan ETT dengan bantuan
Laringoskop. Untuk mempertahankan pasien agar terus dalam keadaan teranestesi, pasien
diberikan maintenance dengan inhalasi melalui ETT. Penggunaan ETT cocok untuk operasi besar
dan lama. Kelebihan dari penggunaan ETT adalah menjaga patensi jalan nafas oleh sebab
apapun, mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi, dan pencegahan terhadap aspirasi dan

10

regurgitasi. Setelah itu di atur pemberian anestesi secara inhalasi nya dimana pada pasien ini
diberikan O2 4 L/ menit, N2O 2,5 L/menit, dan Isoflurane sebanyak 2 vol%.
Selama operasi, kondisi pasien cukup stabil. Sempat terjadi banyak perdarahan sehingga
perlu diberikan asam Traneksamat sebanyak 100 mg, bertujuan untuk mengurangi hal tersebut.
Kemudian pada pukul 9.20 pasien tampak gelisah sehingga perlu diberikan Propofol 100 mg,
Fentanyl 50 mcg, dan atracurium 10 mg, bertujuan untuk mengurangi kegelisahan pasien dengan
memperdalam tidur pasien.
Pada Pukul 9.45 Operasi selesai. ETT tidak di ekstubasi karena pasien direncanakan
masuk ICU sehingga sesampai di ICU akan memudahkan pemasangan ventilator pada pasien.
Setelah monitor di lepas dari pasien, pasien dengan segera di bawa ke Recovery room. Kemudian
ETT disambungkan ke Tabung Oksigen dan bagging selama perjalanan menuju ICU agar
Oksigenasi tetap tercukupi. Alasan pasien masuk ke ICU dikarenakan pasien tidak sadar, tidak
bernafas spontan, dan keadaan umum pasien tidak membaik sehingga diperlukan perawatan yang
intensif. Sehingga pasien ini dikategorikan prioritas 2 ICU yaitu.
Sesampai di ICU pasien segera di pindahkan ke bed ICU setelah itu ETT yang
tersambung pada tabung oksigen dipindahkan ke Ventilator, monitor TTV dipasang pada pasien,
infus yang terpasang Asering. Setiap jam pasien di evaluasi TTV dan keadaan umumnya.
Pemberian Cairan

Kebutuhan cairan basal (M)


10 kgBB x 4 cc = 40
10 kgBB x 2 cc = 20
40 kgBB x 1 cc = 40
Total 40 + 20 + 40 = 100 cc/jam
Kebutuhan cairan intraoperasi (O)
Craniotomy adalah operasi besar
8 x 60 kgBB = 480 cc/jam
Kebutuhan cairan saat puasa (P)
6 x 83 ml/jam = 498 cc
Sehingga pemberian cairan selama operasi
Jam pertama = M + O + P = 100 + 480 + 249 = 829 cc
Jam kedua = M + O + P = 100 + 480 + 124,5 = 704,5 cc
Sehingga kebutuhan cairan selama operasi untuk 1 jam 30 menit adalah
829 + ( X 704,5) = 1181, 25 cc
11

Cairan yang masuk selama operasi


Pertama cairan Asering sebanyak 500 cc masuk, kemudian setelah habis diganti dengan
Asering 500 cc. Setelah itu pukul 9.30 cairan habis diganti lagi dengan Asering yang

masuk sebanyak +- 200 cc.


Batas Volume Darah yang boleh keluar (Allowed Blood Loss)
20% x (EBV) = 20% x (75 x 60) = 900 cc
Jumlah darah yang keluar
Darah di lapangan operasi = 50 cc
Suction = 180 cc
Kasa sedang = 4 kasa x 10 cc = 40 cc
Total 50 + 180 + 40 = 270 cc

Karena jumlah darah keluar < Allowed Blodd Loss maka pasien tidak diperlukan Transfusi darah

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA
5.1 ANESTESI UMUM
A. Definisi
Anastesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya
kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible).1
B. Keuntungan Anestesi Umum

Membuat pasien lebih tenang


12

Untuk operasi yang lama

Dilakukan pada kasus-kasus yang memiliki alergi terhadap agen anestesia lokal

Dapat dilakukan tanpa memindahkan pasien dari posisi supine (terlentang)

Dapat dilakukan prosedur penanganan (pertolongan) dengan cepat dan mudah pada
waktu-waktu yang tidak terprediksi

C. Kerugian Anestesi Umum

Membutuhkan pemantauan ekstra selama anestesi berlangsung

Membutuhkan mesin-mesin yang lengkap

Dapat menimbulkan komplikasi yang berat, seperti : kematian, infark myokard,


dan stroke

Dapat

menimbulkan

komplikasi

ringan

seperti:

mual,

muntah, sakit

tenggorokkan, sakit kepala. Resiko terjadinya komplikasi pada pasien dengan anestesi
umum adalah kecil, bergantung beratnya kormobit penyakit pasiennya.
D. Komponen Anestesia
Komponen anestesia yang ideal (trias anestesi) terdiri dari:
(1) Hipnotik, Hipnotik didapat dari sedatif, anestesi inhalasi (halotan, enfluran, isofluran,
sevofluran).
(2) Analgesia, Analgesia didapat dari N2O, analgetika narkotik, NSAID tertentu.Sedangkan
relaksasi otot didapatkan dari obat pelemas otot (muscle relaxant).
(3) Relaksasi otot, Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot
sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan.
E. Stadium Anestesia
Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter kedalam 4 stadium yaitu:
a) Stadium I (analgesi) dimuai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran
pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya
rasa sakit). Tindakan pembedahan ringan seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar
dapat dilakukan pada stadium ini.
b) Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran dan refleksi
bulu mata sampai pernapasan kembali teratur pada stadium ini terlihat adanya eksitasi
13

dan gerakan yang tidak menurut kehendak, pasien tertawa, berteriak, menangis,
pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apne dan hiperpnu, tonus otot rangka meningkat,
inkontinensia urin dan alvi dan muntah. Stadium ini harus cepat dilewati karena dapat
menyebabkan kematian.
c) Stadium III (pembedahan) dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan
spontan hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana yaitu:
Plana 1: pernapasan teratur dan spontan, dada dan perut seimbang, terjadi gerakan bola
mata yang tidak menurut kehendak, pupil miosis, refleks cahaya ada, lakrimasi
meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada dan belum tercapai relaksasi otot lurik
yang sempurna.
Plana 2: pernapasan teratur dan spontan, perut dan volume dada tidak menurun, frekuensi
meningkat, bola mata tidak bergerak terfiksasi ditengah, pupil midriasis, refleks cahaya
mulai menurun, relaksasi otot sedang dan refleks laring hilang sehingga dapat dikerjakan
intubasi.
Plana 3: pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis, lakrimasi
tidak ada, pupil midriassis dan sentral, refleks laring dan peritoneum tidak ada, relaksaai
otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin menurun).
Plana 4: pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis total, pupil
sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfingterani dan kelenjar air mata tidak
ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun).
d) Stadium IV (paralisis medulla oblongata) dimulai dengan melemahnya pernapasan perut
dibanding stadium III plana 4. Pada stadium ini tekanan darah tidak dapat diukur, denyut
jantung berhenti dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini
tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan.
F. Persiapan Pre-anestesia :
I. Persiapan mental dan fisik pasien
1. Anamnesis

Identitas pasien, misalnya : nama, umur, alamat dan pekerjaan


Riwayat penyakit yang sedang atau pernah diderita yang mungkin dapat menjadi
penyulit dalam anestesia seperti penyakit alergi, diabetes mellitus, penyakit paru
kronik, penyakit jantung dan hipertensi, penyakit hati dan penyakit ginjal.

14

Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin dapat

menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestesi.


Riwayat operasi dan anestesia yang pernah dialami, berapa kali dan selang

waktunya, serta apakah pasien mengalami komplikasi saat itu.


Kebiasaan buruk sehari-hari yang dapat mempengaruhi jalannya anestesi
misalnya merokok, alkohool, obat-obat penenang atau narkotik.

2. Pemeriksaan fisik

Tinggi dan berat badan untuk mmemperkirakan dosis obat, terapi cairan yang

diperlukan dan jumlah urin selama dan pasca bedah.


Kesadaran umum, kesadaran, tanda-tanda anemia, tekanan darah, frekuensi nadi,

pola dan frekuensi pernafasan.


Pemeriksaan saluran pernafasan; batuk-batuk, sputum, sesak nafas, tanda-tanda
sumbatan jalan nafas, pemakaian gigi palsu, trismus, persendian temporo

mandibula.
Tanda-tanda penyakit jantung dan kardiovaskuler; dispnu atau ortopnu, sianosis,

hipertensi
Abdomen untuk melihat adanya distensi, massa, asites yang dapat membuat
tekanan intra abdominal meningkat sehingga dapat menyebabkan regurgitasi.

3. Pemeriksaan laboratorium

Darah : Hb, leukosit, golongan darah, hematokrit, masa pembekuan, masa

perdarahan, hitung jenis leukosit


Urine : protein, reduksi, sedimen
Foto thoraks
EKG : terutama pada pasien diatas 40 tahun karena ditakutkan adanya iskemia

miokard
Spirometri dan bronkospirometri pada pasien tumor paru
Fungsi hati pada pasien ikterus
Fungsi ginjal pada pasien hipertensi
Analisa gas darah, elektrolit pada ileus obstruktif

II. Klasifikasi status fisik


Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang adalah yang
berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat

15

prakiraan resiko anestesia, karena dampaksamping anestesia tidak dapat dipisahkan dari
dampak samping pembedahan.
Kelas I

: Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II

: Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.Contohnya: pasien batu

ureter dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien appendisitis akut dengan lekositosis
dan febris.
Kelas III

Pasien

dengan

penyakit

sistemik

berat,

sehingga

aktivitas

rutin

terbatas.Contohnya: pasien appendisitis perforasi dengan septisemia, atau pasien ileus


obstrukstif dengan iskemia miokardium.
Kelas IV

: Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan

penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.Contohnya: Pasien dengan syok


atau dekompensasi kordis.
Kelas V

: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya tidak

akan lebih dari 24 jam.Contohnya: pasien tua dengan perdarahan basis kranii dan syok
hemoragik karena ruptur hepatik.
Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat
(E = EMERGENCY), misalnya ASA IE atau IIE
IV. Persiapan pada hari operasi
Secara umum, persiapan pembedahan antara lain :
1. Pengosongan lambung : dengan cara puasa, memasang NGT. Lama puasa pada orang
dewasa kira-kira 6-8 jam, anak-anak 4-6 jam, bayi 2 jam (stop ASI). Pada operasi darurat,
pasien tidak puasa, maka dilakukan pemasangan NGT untuk dekompresi lambung.
2. Pengosongan kandung kemih
3. Informed consent (Surat izin operasi dan anestesi).
4. Pemeriksaan fisik ulang
5. Pelepasan kosmetik, gigi palsu, lensa kontak dan asesori lainnya.
6. Premedikasi secara intramuskular - 1 jam menjelang operasi atau secara intravena jika
diberikan beberapa menit sebelum operasi
16

G. Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anesthesia dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya:

Meredakan kecemasan dan ketakutan, misalnya diazepam


Memperlancar induksi anestesia, misalnya pethidin
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus, misalnya sulfas atropindan hiosin
Meminimalkan jumlah obat anestetik, misalnya pethidin
Mengurangi mual-muntah pasca bedah, misalnya ondansetron
Menciptakan amnesia, misalnya diazepam,midazolam
Mengurangi isi lambung
Mengurangi reflex yang membahayakan, misalnya tracurium, sulfas atropine

Obat-obat premedikasi dapat digolongkan seperti di bawah ini:


1.
2.

Narkotik analgesic, misalnya morfin pethidin


Transqualizer yaitu dari golongan benzodiazepine, misalnya diazepam dan midazolam.

3.
4.
5.
6.
7.

Diazepam dapat dberikan peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi anesthesia
Barbiturat, misal pentobarbital, penobarbital, sekobarbital
Antikolinergik, misal atropine dan hiosin
Antihistamin, misal prometazine
Antasida, misal gelusil
H2 reseptor antagonis misalnya cimetidine dan ranitidine. Ranitidine diberikan 150 mg
1-2 jam sebelum operasi

Waktu dan cara pemberian premedikasi:


Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam1 jam, secara intramuscular minimum
harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat darurat dengan waktu tindakan pembedahan
yang tidak pasti obat-obat dapat diberikan secara intravena. Obat akan sangat efektif sebelum
induksi. Bila pembedahan belum dimulai dalam waktu 1 jam dianjurkan pemberian premedikasi
intramuscular, subkutan tidak dianjurkan. Semua obat premedikasi bila diberikan secara
intravena dapat menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropine dan hiosin. Hal ini dapat
dikurangi dengan pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan:
1. Analgesik narkotik
a. Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
17

2.

3.
4.

5.

b. Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB


c. Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB
Analgesik non narkotik
a. Ponstan
b. Tramol
c. Toradon
Hipnotik
a. Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
Sedatif
a. Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1 mg/kgBB
b. Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis 0,1mg/kgBB
c. Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5 mg/kgBB
d. Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
Anti-emetic
a. Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg),dosis 0,001
mg/kgBB
b. DBP
c. Narfoz, rantin, primperan.

H. Persiapan Induksi Anestesi


Untuk persiapan induksi anestesi sebaiknya kita mempersiapkan STATICS :
S: Scope (stetoskop, laringoskop),

Stetoskop : untuk mendengarkan suara paru dan jantung.


Laringoskop : untuk membuka mulut dan membuat area mulut lebih luas serta
melihat daerah faring dan laring, mengidentifikasi epiglotis, pita suara dan trakea.
Ada dua jenis laringoskop, yaitu:
a. Blade lengkung (Miller, Magill). Biasa digunakan pada laringoskopi dewasa.
b. Blade lurus.

T: Tube (pipa endotraceal, LMA),

Pipa Endotrakeal
Endotracheal tube mengantarkan gas anastetik langsung ke dalam

trakea.

Laringeal mask airway (LMA)


Indikasi pemasangan LMA ialah sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau
intubasi ET. Kontraindikasi pemasangan LMA pada pasien-pasien dengan resiko
aspirasi isi lambung dan pasien-pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi
mekanik jangka waktu lama.
18

A : Air way, perhatikan agar lidah pasien tidak memblockir jalur napas
T : Tape (plaster), Plester untuk memfiksasi pipa trakea setelah tindakan
intubasi supaya tidak terlepas
I : Inducer (stilet/ forceps Magill),
Stilet (mandren) digunakah untuk mengatur kelengkungan pipa endotrakeal sebagai alat
bantu saat insersi pipa. Forseps intubasi (Mc gill) digunakan untuk memanipulasi pipa
endotrakeal nasal atau pipa nasogastrik melalui orofaring.
C : Connection. Connection ialah hubungan antara mesin respirasi/anestesi dengan sungkup
muka, serta penghubung-penghubung yang lain,
S : Suction
Digunakan untuk membersihkan jalan napas dengan cara menyedot lendir, ludah, dan
lain-lainnya.
I. Intubasi
Intubasi Endotrakeal dengan napas spontan2
Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakeal
tube) kedalam trakea via oral atau nasal. Indikasi; operasi lama, sulit mempertahankan
airway (operasi di bagian leher dan kepala)
Prosedur :
1. Sama dengan diatas, hanya ada tambahan obat (pelumpuh otot/suksinil dgn durasi
singkat)
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil
3. Pemeliharaan
Teknik Intubasi :
1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap
2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin fasikulasi (+)
3. Bila fasikulasi (-) ventilasi dengan O2 100% selama kira - kira 1 mnt
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan mendorong kepala
sedikit ekstensi mulut membuka
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan, sedikit demi sedikit,
menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri
19

6. Cari epiglotis tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah bengkok) atau angkat
epiglotis (pada bilah lurus)
7. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea darI luar )
8. Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya merah
9.

Masukan ET melalui rima glottis

10. Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas (alat
resusitasi)

Berikut adalah klasifikasi Mallampati:

Gambar 1. Gradasi Mallampati

Gradasi
1
2
3
4

Pilar faring
+
-

Uvula
+
+
-

Palatum Molle
+
+
+
-

Tabel 1. Gradasi Mallampati

Kesulitan saat melakukan intubasi


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Leher pendek berotot


Mandibula menonjol
Maksila/gigi depan menonjol
Uvula tak terlihat
Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
Gerak vertebra servikal terbatas
20

Komplikasi dari intubasi


1. Selama intubasi
a. Trauma gigi geligi
b. Laserasi bibir, gusi, laring
c. Merangsang saraf simpatis
d. Intubasi bronkus
e. Intubasi esophagus
f. Aspirasi
g. Spasme bronkus
2. Setelah ekstubasi
a. Spasme laring
b. Aspirasi
c. Gangguan fonasi
d. Edema glottis-subglotis
e. Infeksi laring, faring, trakea
Keuntungan menggunakan ETT adalah1:
1. Menjaga Patensi jalan napas
Kelainan anatomi, bedah posisi khusus, pembersihan jalan nafas, dan lain-lainnya
2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
Misalnya saat resusitasi, memungkinkan penggunaan relaksan dengan efisien,
ventilasi jangka panjang
3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

j. Cara memberikan anestesi


Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga
penderita tidur. Tergantung lama operasinya, untuk operasi yang waktunya pendek
mungkin cukup dengan induksi saja. Tetapi untuk operasi yang lama, kedalaman anestesi
perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus menerus dengan dosis tertentu, hal ini
disebut maintenance atau pemeliharaan.
Kedaaan ini dapat diatasi dengan cara mendalamkan anestesi. Pada operasioperasi yang memerlukan relaksasi otot, bila relaksasinya kurang maka ahli bedah akan
mengeluh karena tidak bisa bekerja dengan baik, untuk operasi yang membuka abdomen
21

maka usus akan bergerak dan menyembul keluar, operasi yang memerlukan penarikan
otot juga sukar dilakukan. Keadaan relaksasi bisa terjadi pada anestesi yang dalam,
sehingga bila kurang relaksasi salah satu usaha untuk membuat lebih relaksasi adalah
dengan mendalamkan anestesi, yaitu dengan cara menambah dosis obat.
Pada umumnya keadaan relaksasi dapat tercapai setelah dosis obat anestesi yang
diberikan sedemikian tinggi, sehingga menimbulkan gangguan pada organ vital. Dengan
demikian keadaan ini akan mengancam jiwa penderita, lebih-lebih pada penderita yang
sensitif atau memang sudah ada gangguan pada organ vital sebelumnya. Untuk mengatasi
hal ini maka ada tehnik tertentu agar tercapai trias anestesi pada kedalaman yang ringan,
yaitu penderita dibuat tidur dengan obat hipnotik, analgesinya menggunakan analgetik
kuat, relaksasinya menggunakan pelemas otot (muscle relaxant) tehnik ini disebut
balance anestesi.
Pada balance anestesi karena menggunakan muscle relaxant, maka otot
mengalami relaksasi, jadi tidak bisa berkontraksi atau mengalami kelumpuhan, termasuk
otot respirasi, jadi penderita tidak dapat bernafas. Karena itu harus dilakukan nafas
buatan (dipompa), tanpa dilakukan nafas buatan, penderita akan mengalami kematian,
karena hipoksia. Jadi nafas penderita sepenuhnya tergantung dari pengendalian pelaksana
anestesi, karena itu balance anestesi juga disebut dengan tehnik respirasi kendali atau
control respiration.
Untuk mempermudah respirasi kendali penderita harus dalam keadaan terintubasi.
Dengan menggunakan balance anestesi maka ada beberapa keuntungan antara lain:

Dosis obatnya minimal, sehingga gangguan pada organ vital dapat dikurangi.
Polusi kamar operasi yang ditimbulkan obat anestesi inhalasi dapat dikurangi.
Selesai operasi penderita cepat bangun sehingga mengurangi resiko yang

ditimbulkan oleh penderita yang tidak sadar.


Dengan dapat diaturnya pernafasan maka dengan mudah kita bisa melakukan
hiperventilasi, untuk menurunkan kadar CO2 dalam darah sampai pada titik
tertentu misalnya pada operasi otak. Dengan hiperventilasi kita juga dapat
menurunkan tekanan darah untuk operasi yang memerlukan tehnik hipotensi
kendali.
22

Karena pernafasan bisa dilumpuhkan secara total maka mempermudah tindakan


operasi pada rongga dada (thoracotomy) tanpa terganggu oleh gerakan
pernafasan. Kita juga dapat mengembangkan dan mengempiskan paru dengan
sekehendak kita tergantung keperluan. Dengan demikian berdasar respirasinya,
anestesi umum dibedakan dalam 3 macam yaitu
Respirasi spontan: penderita bernafas sendiri secara spontan.
o
Respirasi kendali: pernafasan penderita sepenuhnya tergantung bantuan
o
o

kita.
Assisted Respirasi: penderita bernafas spontan tetapi masih kita berikan

sedikit bantuan.
k. Induksi intravena
Paling banyak dikerjakan dan digemari. Induksi intravena dikerjakan dengan hati-hati,
perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Obat induksi bolus disuntikan dalam kecepatan
antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah
harsu diawasi dan selalu diberikan oksigen. Dikerjakan pada pasien yang kooperatif.
Jenis-jenis Anastesi Intravena3
1. golongan barbiturat
pentothal/ thiopenthal sodium/ penthio barbital/ thiopenton
Obat ini tersedia dalam bentuk serbuk higroskopis, bersifat basa, berbau belerang,
larut dalam air dan alcohol.
Penggunaannya sebagai obat induksi, suplementasi dari anastesi regional,
antikonvulsan, pengurangan dari peningkatan TIK, proteksi serebral.
Metabolismenya di hepar dan di ekskresi lewat ginjal.
Onset

: 20-30 detik

Durasi

: 20-30 menit

Dosis

Induksi iv : 3-5 mg/Kg BB, anak 5-6 mg/Kg BB, bayi 7-8 mg/kg BB
Suplementasi anastesi : iv 0,5-1 mg/kg BB
Induksi rectal : 25 mg/ kg BB
Antikonvulsan : iv 1-4 mg/kg BB
23

Efek samping obat

Sistem kardiovaskuler
Depresi otot jantung
Vasodilatasi perifer
Turunnya curah jantung
Sistem pernapasan, menyebabkan depresi saluran pernapasan konsentrasi

otak mencapai puncak apnea


Dapat menembus barier plasenta dan sedikit terdapat dalam ASI
Sedikit mengurangi aliran darah ke hepar
Meningkatkan sekresi ADH (efek hilang setelah pemberian dihentikan)
Pemulihan kesadaran pada orang tua lebih lama dibandingkan pada dewasa

muda 2
Menyebabkan mual, muntah, dan salivasi
Menyebabkan trombophlebitis, nekrosis, dan gangren

Kontraindikasi :

Alergi barbiturat
Status ashmatikus
Porphyria
Pericarditis constriktiva
Tidak adanya vena yang digunakan untuk menyuntik
Syok
Anak usia < 4 th (depresi saluran pernapasan)

2. golongan benzodiazepin
Obat ini dapat dipakai sebagai transqualiser, hipnotik, maupun sedative. Selain itu
obat ini mempunyai efek antikonvulsi dan efek amnesia.
Obat-obat pada golongan ini sering digunakan sebagai :

Obat induksi
Hipnotik pada balance anastesi
Untuk tindakan kardioversi
Antikonvulsi
Sebagai sedasi pada anastesi regional, local atau tindakan diagnostic
Mengurangi halusinasi pada pemakaian ketamin
Untuk premedikasi

24

a. Diazepam
Karena tidak larut air, maka obat ini dilarutkan dalam pelarut organic (propilen
glikol dan sodium benzoate). Karena itu obat ini bersifat asam dan menimbulkan
rasa sakit ketika disuntikan, trombhosis, phlebitis apabila disuntikan pada vena
kecil. Obat ini dimetabolisme di hepar dan diekskresikan melalui ginjal.
Obat ini dapat menurunkan tekanan darah arteri. Karena itu, obat ini digunakan
untuk induksi dan supplement pada pasien dengan gangguan jantung berat.
Diazepam biasanya digunakan sebagai obat premedikasi, amnesia, sedative, obat
induksi, relaksan otot rangka, antikonvulsan, pengobatan penarikan alkohol akut
dan serangan panic.
Awitan aksi

: iv < 2 menit, rectal < 10 menit,


oral 15 menit-1 jam

Lama aksi

: iv 15 menit- 1 jam, PO 2-6 jam

Dosis :

Premedikasi : iv/im/po/rectal 2-10 mg


Sedasi : 0,04-0,2 mg/kg BB
Induksi : iv 0,3-0,6 mg/kg
Antikonvulsan : iv 0,05-0,2 mg/kg BB setiap 5-10 menit dosis maksimal 30
mg, PO/rectal 2-10 mg 2-4 kali sehari

Efek samping obat

Menyebabkan bradikardi dan hipotensi


Depresi pernapasan
Mengantuk, ataksia, kebingungan, depresi,
Inkontinensia
Ruam kulit
DVT, phlebitis pada tempat suntikan

b. Midazolam
Obat ini mempunyai efek ansiolitik, sedative, anti konvulsif, dan ante retrogad
amnesia. Durasi kerjanya lebih pendek dan kekuatannya 1,5-3x diazepam.
25

Obat ini menembus plasenta, akan tetapi tidak didapatkan nilai APGAR kurang
dari 7 pada neonatus.
Dosis :

Premedikasi : im 2,5-10 mg, Po 20-40 mg


Sedasi : iv 0,5-5 mg
Induksi : iv 50-350 g/kg
Efek samping obat :

3. propofol

Takikardi, episode vasovagal, komplek ventrikuler premature, hipotensi


Bronkospasme, laringospasme, apnea, hipoventilasi
Euphoria, agitasi, hiperaktivitas
Salvasi, muntah, rasa asam
Ruam, pruritus, hangat atau dingin pada tempat suntikan

Merupakan cairan emulsi isotonic yang berwarna putih. Emulsi ini terdiri dari
gliserol, phospatid dari telur, sodium hidroksida, minyak kedelai dan air. Obat ini
sangat larut dalam lemak sehingga dapat dengan mudah menembus blood brain barier
dan didistribusikan di otak. Propofol dimetabolisme d hepar dan ekskresikan lewat
ginjal. 3
Penggunaanya untuk obat induksi, pemeliharaan anastesi, pengobatan mual muntah
dari kemoterapi
Dosis :

Sedasi : bolus, iv, 5-50 mg


Induksi : iv 2-2,5 mg/kg
Pemeliharaan : bolus iv 25-50 mg, infuse 100-200 g/kg/menit, antiemetic iv
10 mg 4

Pada ibu hamil, propofol dapat menembus plasenta dan menyebabakan depresi janin.
Pada sistem kardiovaskuler, obat ini dapat menurunkan tekanan darah dan sedikit
menurunkan nadi. Obat ini tidak memiliki efek vagolitik, sehingga pemberiannya bisa
menyebabkan asystole. Oleh karena itu, sebelum diberikan propofol seharusnya
pasien diberikan obat-obatan antikolinergik. 2
Pada pasien epilepsi, obat ini dapat menyebabkan kejang.

26

4. Ketamin
Obat ini mempunyai efek trias anastesi sekaligus. Pemberiannya menyebabkan pasien
mengalami katalepsi, analgesic kuat, dan amnesia, akan tetapi efek sedasinya ringan.
Pemberian ketamin dapat menyebakan mimpi buruk.
Dosis

Sedasi dan analgesia : iv 0,5-1 mg/kg BB, im/rectal 2,5-5 mg/kg BB, Po 5-6

mg/kg BB
Induksi : iv 1-2,5 mg/kg BB, im/ rectal 5-10 mg/kg BB

Ketamin meningkatkan aliran darah ke otak, kerana itu pemberian ketamin berbahaya
bagi orang-orang dengan tekanan intracranial yang tinggi.
Pada kardiovaskuler, ketamin meningkatkan tekanan darah, laju jantung dan curah
jantung.
Dosis tinggi menyebabkan depresi napas.
Kontraindikasi:

Hipertensi tak terkontrol


Hipertroid
Eklampsia/ pre eklampsia
Gagal jantung
Unstable angina
Infark miokard
Aneurisma intracranial, thoraks dan abdomen
TIK tinggi
Perdarahan intraserebral
TIO tinggi
Trauma mata terbuka
5. Opioid
Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil) untuk induksi diberikan dalam dosis
tinggi. Opioid tidak mengganggu kardiovaskulet, sehingga banyak digunakan untuk
induks pada pasien jantung.
a. Morfin

27

Penggunaanya untuk premedikasi, analgesic, anastesi, pengobatan nyeri yang


berjaitan dengan iskemia miokard, dan dipsnea yang berkaitan dengan kegagalan
ventrikel kiri dan edema paru.
Dosis:

Analgesic : iv 2,5-15 mg, im 2,5-20 mg, Po 10-30 mg, rectal 10-20 mg

setiap 4 jam
Induksi : iv 1 mg/kg

Awitan aksi

: iv < 1 menit, im 1-5 menit

Lama aksi

: 2-7 jam

Efek samping obat :

Hipotensi, hipertensi, bradikardia, aritmia


Bronkospasme, laringospasme
Penglihatan kabur, sinkop, euphoria, disforia
Retensi urin, spasme ureter
Spasme traktus biliaris, konstipasi, anoreksia, mual, muntah, penundaan

pengosongan lambung
Miosis
b. Petidin
Penggunaannya untuk nyeri sedang sampai berat, sebagai suplemen sedasi
sebelum pembedahan, nyeri pada infark miokardium walaupun tidak seefektif
morfin sulfat, untuk menghilangkan ansietas pada pasien dengan dispnea karena
acute pulmonary edema dan acute left ventricular failure.
Dosis

Oral/ IM,/SK :
Dewasa :
Dosis lazim 50150 mg setiap 3-4 jam jika perlu,
Injeksi intravena lambat : dewasa 1535 mg/jam.
Anak-anak oral/IM/SK : 1.11.8 mg/kg setiap 34 jam jika perlu.
Untuk sebelum pembedahan : dosis dewasa 50 100 mg IM/SK

Petidin dimetabolisme terutama di hati


Kontraindikasi
28

Pasien yang menggunakan trisiklik antidepresan dan MAOi. 14 hari

sebelumnya (menyebabkan koma, depresi pernapasan yang parah,


sianosis, hipotensi, hipereksitabilitas, hipertensi, sakit kepala, kejang)
Hipersensitivitas.
Pasien dengan gagal ginjal lanjut

Efek samping obat

Depresi pernapasan,
Sistem saraf: sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa

mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang,


Pencernaan: mual, muntah, konstipasi,
Kardiovaskular: aritmia, hipotensi postural,
Reproduksi, ekskresi & endokrin: retensi urin, oliguria.
Efek kolinergik: bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor
otot, pergerakan yg tidak terkoordinasi, delirium atau disorintasi,
halusinasi.
Lain-lain: berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit

Peringatan
Hati-hati pada pasien dengan disfungsi hati & ginjal krn akan memperlama kerja
& efek akumulasi opiod, pasien usia lanjut, pada depresi sistem saraf pusat yg
parah, anoreksia, hiperkapnia, depresi pernapasan, aritmia, kejang, cedera kepala,
tumor otak, asma bronchial
c. Fentanil
Digunakan sebagai analgesic dan anastesia
Dosis :

Analgesic : iv/im 25-100 g


Induksi : iv 5-40 g/ kg BB
Suplemen anastesi : iv 2-20 g/kg BB
Anastetik tunggal : iv 50-150 g/ kg BB 4

Awitan aksi

: iv dalam 30 detik, im < 8 menit

Lama aksi

: iv 30-60 menit, im 1-2 jam

Efek samping obat :


29

Bradikardi, hipotensi
Depresi saluran pernapasan, apnea
Pusing, penglihatan kabur, kejang
Mual, muntah, pengosongan lambung terlambat
Miosis

l. Induksi inhalasi
1. N2O
(gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida) berbentuk gas, tak
berwarna, bau manis, tak iritasi, tak terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara.
Pemberian harus disertai O2 minimal 25%. Bersifat anastetik lemah, analgesinya kuat,
sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan. Pada
anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian, tapi dikombinasi dengan salah satu cairan
anastetik lain seperti halotan.
2. Halotan (fluotan)
Sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi, asalkan anestesinya cukup
dalam, stabil dan sebelum tindakan diberikan analgesi semprot lidokain 4% atau 10%
sekitar faring laring. MAC 0,87%.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus simpatis, terjadi
hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi miokard, dan
inhibisi refleks baroreseptor. Merupakan analgesi lemah, anestesi kuat. Halotan
menghambat pelepasan insulin sehingga mininggikan kadar gula darah.
3. Enfluran (etran, aliran)
Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih iritatif
disbanding halotan. Depresi terhadap sirkulasi lebih kuat dibanding halotan, tetapi
lebih jarang menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik
disbanding halotan.
4. Isofluran (foran, aeran)
30

Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intracranial. Peninggian aliran darah
otak dan tekanan intracranial dapat dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi,
sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah otak.
Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga digemari
untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan gangguan
koroner.
5. Desfluran (suprane)
Sangat

mudah

menguap.

Potensinya

rendah

(MAC

6.0%),

bersifat

simpatomimetik menyebabkan takikardi dan hipertensi. Efek depresi napasnya seperti


isofluran dan etran. Merangsang jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk
induksi anestesi.
6. Sevofluran (ultane)
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan isofluran. Baunya tidak
menyengat dan tidak merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi
anestesi inhalasi disamping halotan.
M. Obat Pelumpuh Otot
Fungsi obat pelumpuh otot adalah memudahkan cedera pada tindakan laringoskop dan
intubasi trakea, membuat relaksasi otot selama pembedahan, serta menghilangkan spasme laring
dan refleks jalan nafas.
1. Atrakurium
Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi. Keunggulan obat ini adalah metabolism
terjadi di darah, tidak bergantung fungsi hati dan ginjal. Tidak menyebabkan perubahan
fungsi kardiovaskuler yang bermakna, Dosis intubasi yaitu 0,5-0,6 mg/kgBB/iv, dosis
relaksasi otot yaitu 0,5-0,6 mg/kgBB/iv, dan dosis pemeliharaan 0,1-0,2 mg/kgBB/iv.
2. Suksametonium (succinyl choline)
Indikasi dari suksametonium adakan sebagai pelumpuh otot jangka pendek, dosis untuk
intubasi ialah 1-2 mg/kgBB/iv.
N. Tatalaksana nyeri

31

Metode untuk menghilangkan nyeri biasanya digunakan analgetik golongan opioid untuk
nyeri hebat dan golongan anti inflamasi non steroid (NSAID) untu nyeri sedang atau ringan.
1. Morfin
Dosis anjuran untuk menghilangkan nyeri sedang ialah 0,1-0,2 mg/kgBB dan dapat
diulang tiap 4 jam. Untuk nyeri hebat dapat diberi 1-2 mg intravena dan diulang sesuai
keperluan.
2. Petidin
Dosis petidin intramuskular 1-2 mg/kgBB dapat diulang tiap 3-4 jam. Dosis intravena
0,2-0,5 mg/kgBB. petidin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan
takikardi.
3. Fentanil
Pada fentanil efek depresi napasnya lebih lama dibanding efek analgesianya. Dosis 1-3
g/kgBB efek analgesianya hanya berlangsung 30 menit.
4. Nalokson
Nalokson ialah antagonis murni opioid. Nalokson biasanya digunakan untuk melawan
depresi nafas pada akhir pembedahan dengan dosisi 1-2 g/kgBB intravena dan dapat
diulang tiap 3-5 menit.

O. Rumatan Anestesia (Maintainance)


Rumatan anestesi adalah menjaga tingkat kedalaman anestesi dengan cara mengatur
konsentrasi obat anestesi di dalam tubuh pasien. Jika konsentrasi obat tinggi maka akan
dihasilkan anestesi yang dalam, sebaliknya jika konsentrasi obat rendah, maka akan didapat
anestesi yang dangkal. Anestesi yang ideal adalah anestesi yang adekuat. Untuk itu diperlukan
pemantauan secara ketat terhadap indikator-indikator kedalaman anestesi.
Rumatan intravena dengan menggunakan opioid dosis tinggi fentanil 10- 50 g/ kgBB.
Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan analgesia cukup, sehingga tinggal
memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan intravena dapat juga menggunakan opioid dosis
biasa, tetapi pasien ditidurkan dengan infuse propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama dengan
anestesi total intravena, pelumpuh otot dan ventilator. Untuk mengembangkan paru digunakan
inhalasi dengan udara + O2 atau N2O + O2.

32

Rumatan inhalasi bisanya menggunakan campuran N 2O dan O2 3:1 ditambah halotan 0,52 vol % atau enfluran 2-4 vol% atau isofluran 2-4% atau sevofluran 2-4% tergantung pernapasan
pasien spontan, dibantu atau dikendalikan.
P. Teknik Anestesi

Teknik Anestesi spontan dengan sungkup muka


Indikasi :
o Untuk tindakan yang singkat (0,5-1 jam)
o Keadaan umum pasien cukup baik
o Lambung harus kosong
Urutan tindakan :
1.
2.
3.
4.
5.

Periksa peralatan yang digunakan


Pasang infus
Persiapkan obat-obat
Induksi dapat dilakukan dengan propofol 2-2.5 mg/kgBB
Selesai induksi, sampai pasien tertidur dan reflek bulu mata hilang, sungkup muka

ditempatkan pada muka


6. N2O mulai diberikan 4 L dengan O2 2 L/menit untuk memperdalam anestesi,
bersamaan dengan halotan dibuka sampai 1 % dan sedikit demi sedikit dinaikkan
sampai 3-4 % tergantung reaksi tubuh penderita
7. Kalau stadium anestesi sudah cukup dalam, masukkan pipa orofaring
8. Halotan kemudian dikurangi menjadi 1-1.5 % dan dihentikan beberapa menit sebelum
operasi selesai
9. Selesai operasi N2O dihentikan dan penderita diberi O2 beberapa menit
2. Teknik Anestesi spontan dengan pipa endotrakea
Indikasi :

Operasi lama
Kesulitan mempertahankan jalan nafas bebas pada anestesi dengan sungkuo muka.

Urutan tindakan :
a. Induksi dengan propofol
b. Sungkup muka ditempatkan pada muka dan oksigen 4-6 L/menit, kalau perlu nafasi
dibantu dengan menekan balon nafas secara periodic
c. Sesudah reflex mata menghilang diberikan suksinil kolin intravena 1-1.5 mg/kgBB,
nafas dikendalikan dengan menekan balon nafas yang diisi dengan aliran O2 2L.
d. Sesudah fasikulasi menghilang pasien diintubasi.
33

e. Pipa guedel dimasukan dimulut agar pipa endotrakeal tidak tergigit. Kemudian
difiksasi dengan plester
f. Mata diplester agar tidak terbuka dan kornea tidak kering
g. Pipa endotrakeal dihubungkan dengan konektor pada sirkuit nafas alat anestesi.
N2O dibuka 3-4 L/menit dan O2 2 L/menit kemudian halotan dibuka 1 vol %dan
cepat dinaikkan sampai 2 vol %. Nafas pasien dikendalikan dengan menekan balon
nafas.
h. Halotan dikurangi sampai 0,5-1.5 % untuk pemeliharaan anestesi
i. Nafas dapat dibiarkan spontan kalau usaha nafas cukup kuat
j. Kedalaman anestesi dipertahankan dengan kombinasi N2O dan O2 masing-masing 2
l/menit, serta halotan 1.5-2 vol %
3. Teknik anestesi pipa endotrakeal dan nafas kendali
a. Teknik anestesi dan intubasi sama seperti diatas
b. Setelah pengaruh suksinil kolin mulai habis, diberi obat pelumpuh otot jangka
panjang misalnya alkuronium dosis 0.1-0.2 mg/kgBB
c. Nafas dikendalikan dengan ventilator atau secara manual. Konsentrasi halotan sedikit
demi sedikit dikurangi dan dipertahankan dengan 0.5-1 %.
d. Obat pelumpuh otot dapat diulang lagi dengan 1/3 dosis apabila pasien tampak ada
usaha mulai bernafas sendiri
e. Halotan dapat dihentikan sesudah lapisan fasi kulit terjahit. N2O dihentikan kalau
lapisan kulit mulai dijahit.
f. Ekstubasi dapat dilakukan setelah nafas spontan normal kembali. O2 diberi terus
selama 2-3 menit untuk mencegah hipoksia difusi.
Q. Skor pemulihan pasca anestesi
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang
menggunakan general anestesi, maka perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk
menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di
ruang Recovery room (RR).

34

Gambar 2. Aldrette Score


R. Monitoring Perianestesia
Dalam tindakan anestesi harus dilakukan monitoring terus menerus tentang keadaan pasien.
1. Kardiovaskuler
a. Nadi
Monitoring terhadap nadi merupakan keharusan karena gangguan sirkulasi sering
terjadi selama anestesi.
b. Tekanan darah
c. Banyaknya perdarahan
2. Respirasi
Respirasi dinilai dari jenis nafasnya, apakah ada retraksi interkostal atau
supraklavikula.
3. Suhu tubuh
Tubuh tidak mampu mempertahankan suhu tubuh. Obat anestesi mendepresi pusat
pengatur suhu, sehingga mudah turun naik dengan suhu lingkungan.
4. Monitoring ginjal
Untuk mengetahui keadaan sirkulasi ginjal
5. Monitoring blockade neuromuscular
Untuk mengetahui apakah relaksasi sudah cukup baik atau setelah selesai anestei
apakah tonus otot sudah kembali normal
6. Monitoring sistem saraf
Monitoring dengan memeriksa respon pupil terhadap cahaya, respon terhadap trauma
pembedahan, respon terhadap otot apakah relaksasi cukup atau tidak.

35

5.2 Trauma Capitis

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR, Petunjuk Praktis Anestesiologi: Edisi Kedua.
2009. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI
2. Soenarjo, Jatmiko HD, edt. Anestesiologi. 2010. Semarang : Bagian anestiologi dan
terapi intensif FKUNDIP/RSUP Dr.Kariadi.
3. Soenarto RF, Chandra S, edt. Buku Ajar Anestesiologi 1st edition. 2012. Jakarta :
Departemen Anestesiologi dan Intensive Care FKUI/RSCM.
4. Lunn JN. Catatan Kuliah Anestesi. 2005. Jakarta : EGC.
5. Price, S. A & Wilson. (2006). Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit Vol.
2 Ed. 6. Jakarta: EGC
36

6. Hickey, J.V. (2003). The practise of neurological and neurosurgical nursing.

Philadelphia: Lippincott

37