Anda di halaman 1dari 14

BEDAH PLASTIK

FRAKTUR MANDIBULA

Oleh:
Antonius Jalu Aribowo

G0006005

Pembimbing:
dr. Dewi Haryanti K, SpBP-RE

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Trauma wajah merupakan kasus yang sering terjadi, menimbulkan
masalah pada medis dan kehidupan sosial. Meningkatnya kejadian tersebut

disebabkan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor yang dapat menyebabkan


terjadinya kecelakaan lalu lintas. Trauma tumpul yang cukup keras merupakan
etiologi dari trauma tersebut. Trauma merupakan urutan keempat penyebab
kematian, dapat terjadi pada semua usia terutama 1-37 tahun. Hampir 50% di
Amerika Serikat disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Pasien dengan
kecelakaan lalu lintas yang fatal harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan
dapat mengalami cacat permanen. Penyebab lain adalah trauma langsung
misalnya akibat perkelahian atau kekerasan fisik, terjatuh, olahraga, kecelakaan
industrial, dan luka tembak.1
Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh.
Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu
tulang frontal, temporal, orbitozigomatikus, nasal, maksila, dan mandibula.
Fraktur muka dibagi menjadi beberapa, yaitu fraktur tulang hidung, fraktur tulang
zigoma dan arkus zigoma, fraktur tulang maksila, fraktur tulang orbita dan fraktur
tulang mandibula. Kejadian fraktur mandibula dan maksila terbanyak ketimbang
tulang lainnya, yaitu masing-masing sebesar 29,85%, disusul fraktur zigoma
27,64% dan fraktur nasal 12,66%. Pada fraktur maksila juga dapat muncul
berbagai komplikasi yang cukup berat, dimana apabila tidak ditangani dengan
baik dapat mengakibatkan kecacatan dan kematian.2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Fraktur mandibula adalah rusaknya kontinuitas tulang mandibular yang
dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Fraktur
mandibula dapat terjadi pada bagian korpus, angulus, ramus maupun kondilus.2,3
ANATOMI
Mandibula adalah tulang rahang bawah pada manusia dan berfungsi
sebagai tempat menempelnya gigi geligi rahang bawah. Mandibula berhubungan
dengan basis kranii dengan adanya temporo-mandibular joint dan disangga oleh
otot otot.1,4

Mandibula dipersarafi oleh saraf mandibular, alveolar inferior, pleksus dental


inferior dan nervus mentalis.
Sistem vaskularisasi pada mandibula dilakukan oleh arteri maksilari
interna, arteri alveolar inferior, dan arteri mentalis.
KLASIFIKASI
Menurut R. Dingman dan P.Natvig pada tahun 1969 fraktur pada
mandibula dibagi menjadi beberapa kategori, yakni:4
A. Menurut arah fraktur (horizontal/vertikal)

dan

apakah

lebih

menguntungkan dalam perawatan atau tidak


B. Menurut derajat keparahan fraktur (simpel/tertutup/mengarah ke rongga
mulut atau kulit).
C. Menurut tipe fraktur (Greenstick/kompleks/kominutiva/impaksi/depresi)
D. Menurut ada atau tidaknya gigi dalam rahang (dentulous, partially
dentulous, edentulous)
E. Menurut lokasi (regio simfisis, regio kaninus, regio korpus, angulus,
ramus, prosesus kondilus, prosesus koronoid)

FREKUENSI
Secara umum, paling sering terjadi pada korpus mandibula, angulus dan
kondilus, sedangkan pada ramus dan prosesus koronoideus lebih jarang terjadi.
Berdasarkan penelitian, dapat diurutkan seperti berikut:5
Korpus 29 %
Kondilus 26%

Angulus 25%
Simfisis 17%
Ramus 4%
Proc.Koronoid 1%

ETIOLOGI
Penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas dan sebagian besar
adalah pengendara sepeda motor. Sebab lain yang umum adalah trauma pada
muka akibat kekerasan, olahraga. Berdasarkan penelitian didapatkan data
penyebab tersering fraktur mandibula adalah:2,6
Kecelakaan berkendara 43%
Kekerasan 34%
Kecelakaan kerja 7%
Jatuh 7%
Olahraga 4%
Sebab lain 5%

Fraktur mandibula dapat juga disebabkan oleh adanya kelainan sistemik


yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur patologis seperti pada pasien dengan
osteoporosis imperfekta.

PATOFISIOLOGI
Derajat keparahan fraktur sangat bergantung pada kekuatan trauma.
Karena itu fraktur kominutiva dapat dipastikan terjadi karena adanya kekuatan
energi yang besar yang menyebabkan trauma. Berdasarkan penelitian pada 3002
pasien dengan fraktur mandibula, diketahui bahwa adanya gigi molar 3 bawah
meningkatkan resiko terjadinya fraktur angulus mandibula sampai 2 kali lipat.3,6

MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan fraktur mandibula umumnya datang dengan adanya
deformitas pada muka, baik berupa hidung yang masuk kedalam, mata masuk
kedalam dan sebagainya. Kondisi ini biasa disertai dengan adanya kelainan dari
fungsi organ organ yang terdapat di muka seperti mata terus berair, penglihatan
ganda, kebutaan, anosmia, kesulitan bicara karena adanya fraktur mandibula,
maloklusi sampai kesulitan bernapas karena hilangnya kekuatan untuk menahan
lidah pada tempatnya sehingga lidah menutupi rongga faring.6

GEJALA & TANDA


Tanda tanda patah pada tulang rahang meliputi :2,3,6
1. Dislokasi, berupa perubahan posisi rahang yg menyebabkan maloklusi
atau tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang atas
2. Pergerakan rahang yang abnormal, dapat terlihat bila penderita
menggerakkan rahangnya atau pada saat dilakukan .
3. Rasa sakit pada saat rahang digerakkan

4. Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi


daerah fraktur.
5. Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran dari
ujung tulang yang fraktur bila rahang digerakkan.
6. Laserasi yg terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah sekitar
fraktur.
7.

Diskolorisasi

perubahan

warna

pada

daerah

fraktur

akibat

pembengkakan
8. Disability, terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan pembukaan
mulut.
9. Hipersalivasi dan Halitosis, akibat berkurangnya pergerakan normal
mandibula dapat terjadi stagnasi makanan dan hilangnya efek self
cleansing karena gangguan fungsi pengunyahan.
10. Numbness, kelumpuhan dari bibir bawah, biasanya bila fraktur terjadi
di bawah nervus alveolaris.

DIAGNOSIS
Diagnosis pasien dengan fraktur mandibula dapat dilakukan dengan
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pada pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan pertama tama melakukan
inspeksi menyeluruh untuk melihat adanya deformitas pada muka, memar dan
pembengkakan. Langkah berikut yang dilakukan adalah dengan mencoba

merasakan tulang rahang dengan palpasi pada pasien. Setelah itu lakukan
pemeriksaan gerakan mandibula. Setelah itu dilanjutkan dengan memeriksa
bagian dalam mulut. Pasien dapat diminta untuk menggigit untuk melihat apakah
ada maloklusi atau tidak.

Setelah itu dapat dilakukan pemeriksaan satbilitas

tulang mandibula dengan meletakkan spatel lidah diantara gigi dan lihat apakah
pasien dapat menahan spatel lidah tersebut.
Untuk pemeriksaan penunjang, yang paling penting untuk dilakukan
adalah adalah rontgen panoramik, sebab dengan foto panoramik kita dapat melihat
keseluruhan tulang mandibula dalam satu foto. Namun pemeriksaan ini
memberikan gambaran yang kurang detil untuk melihat temporo-mandibular
joint, regio simfisis dan alevolar.
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah dengan foto rontgen polos.
Dapat dilakukan untuk melihat posisi oblik-lateral, oklusal, posteoanterior dan
periapikal. Foto oblik-lateral dapat membantu mendiagnosa fraktur ramus,
angulus dan korpus posterior. Namun regio kondilus, bikuspid dan simfisis
seringkali tidak jelas. Foto oklusal mandibula dapat memperlihatkan adanya
diskrepansi pada sisi medial dan lateral fraktur korpus mandibula. Posisi
posteroanterior Caldwell dapat memperlihatkan adanya dislokasi medial atau
lateral dari fraktur ramus, angulus, korpus maupun simfisis.
Pemeriksaan CT-scan juga dapat digunakan untuk membantu diagnosa
fraktur mandibula.CT-scan dapat membantu untuk melihat adanya fraktur lain
pada daerah wajah termasuk os.frontal, kompleks naso-ethmoid-orbital, orbital
dan seluruh pilar penopang kraniofasial baik horizontal maupun vertikal. CT-scan
juga ideal untuk melihat adanya fraktur kondilus.1,5

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan

pada

fraktur

mandibula

mengikuti

standar

penatalaksanaan fraktur pada umumnya. Pertama periksalah A(airway),


B(Breathing) dan C(circulation). Bila pada ketiga topik ini tidak ditemukan
kelainan pada pasien, lakukan penanganan terhadap fraktur mandibula pasien.
Bila pada pasien terdapat perdarahan aktif, hentikanlah dulu perdarahannya. Bila
pasien mengeluh nyeri maka dapat diberi analgetik untuk membantu
menghilangkan nyeri. Setelah itu cobalah ketahui mekanisme cedera dan jenis
fraktur pada pasien berdasarkan klasifikasi oleh Dingman dan Natvig.2,4
Bila fraktur pada pasien adalah fraktur tertutup dan tidak disertai adanya
dislokasi atau ada dislokasi kondilus yang minimal, maka dapat ditangani dengan
pemberian analgetik, diet cair dan pengawasan ketat. Pasien dengan fraktur
prosesus koronoid dapat ditangani dengan cara yang sama. Pada pasien ini juga
perlu diberikan latihan mandibula untuk mencegah terjadinya trismus.2,5
Kunci utama untuk penanganan fraktur mandibula adalah reduksi dan
stabilisasi. Pada pasien dengan fraktur stabil cukup dengan melakukan wiring
untuk menyatukan gigi atas dan bawah. Untuk metode ini dapat dilakukan
berbagai tindakan. Yang paling banyak dilakukan adalah dengan menggunakan
wire dengan Ivy loops dan dilakukan MMF (maxillomandibular fixation). 1,2,6

Dapat juga dipasang archbar dan dilakukan IMF (intermaxillary fixation),


dilakukan fiksasi eksternal, dipasang screw, pemasangan Gunning splint juga
banyak dilakukan karena bisa memfiksasi namun pasien tetap dapat menerima
asupan makanan.

Pada fraktur kominutiva maupun fraktur fraktur yang tidak stabil atau
fraktur dengan dislokasi segmen ditangani dengan pembedahan dengan ORIF
(open reduction internal fixation) baik yang rigid maupun non rigid.

KOMPLIKASI
Komplikasi setelah dilakukannya perbaikan pada fraktur mandibula
umumnya jarang terjadi. Komplikasi yang paling umum terjadi pada fraktur
mandibula adalah infeksi atau osteomyelitis, yang nantinya dapat menyebabkan
berbagai kemungkinan komplikasi lainnya.3
Tulang mandibula merupakan daerah yang paling sering mengalami
gangguan penyembuhan fraktur baik itu malunion ataupun non-union. Ada
beberapa faktor risiko yang secara spesifik berhubungan dengan fraktur
mandibula dan berpotensi untuk menimbulkan terjadinya malunion ataupun nonunion. Faktor risiko yang paling besar adalah infeksi, kemudian aposisi yang
kurang baik, kurangnya imobilisasi segmen fraktur, adanya benda asing, tarikan
otot yang tidak menguntungkan pada segmen fraktur. Malunion yang berat pada
mandibula akan mengakibatkan asimetri wajah dan dapat juga disertai gangguan
fungsi. Kelainan-kelainan ini dapat diperbaiki dengan melakukan perencanaan
osteotomi secara tepat untuk merekonstruksi bentuk lengkung mandibula.4,5,6
Faktor faktor lain yang dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya
komplikasi antara lain sepsis oral, adanya gigi pada garis fraktur, penyalahgunaan
alkohol dan penyakit kronis, waktu mendapatkan perawatan yang lama, kurang
patuhnya pasien dan adanya dislokasi segmen fraktur.5,6

KESIMPULAN
Meskipun teknologi bedah memberi hasil yang baik, pencegahan trauma
merupakan langkah yang bijak. Pengendara motor yang berisiko tinggi terjadi
trauma hendaknya lebih memperhatikan keselamatan, terutama dibagian kepala.
Dari suatu penelitian, disimpulkan bahwa ternyata tidak ada perbedaan berarti

pada frekuensi kejadian trauma maksilofacial sebelum dan sesudah era wajib
helm. Hal ini kemungkinan disebabkan karena masih sangat sedikit pengendara
sepeda motor yang mengenakan helm dengan benar.

Daftar Pustaka

1. Madzen MJ, McDanier CA, Haug RH (2008). A Biomechanical


Evaluation of Plating Techniques for Reconstructing Mandibular
Symphisis/Parasymphisis Fracture. J. Oral Maxillofac Surg. 66, pp: 2012 2019
2. Mathog RH, Toma V, Clayman L, et al. Nonunion of the mandible: an
analysis of contributing factors. J Oral Maxillofac Surg. 2000;58:746752.
3. Mathog RH. Nonunion of the mandible. Otolaryngol Clin North Am.
1983;16:533547.
4. Fridrich KL, Pena-Velasco G, Olson RA. Changing trends with
mandibular fractures: a review of 1,067 cases. J Oral Maxillofac Surg.
1992;50:586589.
5. Moreno JC, Fernandez A, Ortiz JA, et al. Complication rates associated
with different treatments for mandibular fractures. J Oral Maxillofac Surg.
2000;58:273280.
6. Wood R. J, Jurkiewicz M.J. Plastic and Reconstructive Surgery. In:
Schwartz S.I, Shires G.T, Spencer F.C, Daly J.M, Fischer J.E, Galloway
A.C. Schwartz Principles of Surgery 7 th ed. United States of
America:McGraw-Hill Companies Inc. 1999