Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN STROK HEMORAGIK DI


RUANG MELATI RSD dr. SOEBANDI JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN
disusun guna memenuhi tugas pada Program Profesi Ners (P2N)
Stase Keperawatan Medikal

oleh
Siti Marina Wiastuti, S. Kep
NIM 122311101072

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

LAPORAN PENDAHULUAN STROK HEMORAGIK

A. Anatomi Fisiologi

1) Perkembangan Otak
Otak manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh,
mengkonsumsi 25% oksigen dan menerima 1,5% curah jantung. Bagian
cranial pada tabung saraf membentuk tiga pembesaran (vesikel) yang
berdiferensiasi untuk membentuk otak: otak depan, otak tengah dan
otak belakang.
a) Otak depan (proensefalon), terbagi menjadi dua subdivisi :
telensefalon dan diensefalon. Telensefalon merupakan awal
hemisfer serebral atau serebrum dan basal ganglia serta korpus
striatum (substansi abu-abu) pada serebrum. Diensefalon menjadi
thalamus, hipotalamus dan epitalamu

b) Otak tengah (mesensefalon) terus tumbuh dan pada orang dewasa


disebut otak tengah.
c) Otak belakang (rombensefalon) terbagi menjadi dua subdivisi :
metensefalon dan mielensefalon. Metensefalon berubah menjadi
batang otak (pons) dan serebelum. Mielensefalon menjadi medulla
oblongata.
2) Lapisan Pelindung
Otak terdiri dari rangka tulang bagian luar dan tiga lapisan jaringan
ikat yang disebut meninges. Lapisan meningeal terdiri dari pia meter,
lapisan araknoid dan durameter.
a. Pia meter adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, serta
melekat erat pada otak.
b. Lapisan araknoid terletak di bagian eksternal pia meter dan
mengandung sedikit pembuluh darah. Ruang araknoid
memisahkan lapisan araknoid dari piameter dan mengandung
cairan cerebrospinalis, pembuluh darah serta jaringan
penghubung serta selaput yang mempertahankan posisi araknoid
terhadap piameter di bawahnya.
c. Durameter, lapisan terluar adalah lapisan yang tebal dan terdiri
dari dua lapisan. Lapisan ini biasanya terus bersambungan tetapi
terputus pada beberapa sisi spesifik. Lapisan periosteal luar pada
durameter melekat di permukaan dalam kranium dan berperan
sebagai periosteum dalam pada tulang tengkorak. Lapisan
meningeal dalam pada durameter tertanam sampai ke dalam fisura
otak dan terlipat kembali di arahnya untuk membentuk falks
serebrum, falks serebelum, tentorium serebelum dan sela
diafragma. Ruang subdural memisahkan durameter dari araknoid
pada regia cranial dan medulla spinalis. Ruang epidural adalah
ruang potensial antara perioteal luar dan lapisan meningeal dalam
pada durameter di regia medulla spinalis.
3) Cairan Cerebrospinalis
Cairan serebrospinalis mengelilingi ruang sub araknoid di sekitar otak
dan medulla spinalis. Cairan ini juga mengisi ventrikel dalam otak.
Cairan cerebrospinalis menyerupai plasma darah dan cairan interstisial,
tetapi tidak mengandung protein. Cairan serebrospinalis dihasilkan oleh
plesus koroid dan sekresi oleh sel-sel ependimal yang mengitari
pembuluh darah serebral dan melapisi kanal sentral medulla spinalis.
Fungsi cairan cerebrospinalis adalah sebagai bantalan untuk
pemeriksaan lunak otak dan medulla spinalis, juga berperan sebagai
media pertukaran nutrient dan zat buangan antara darah dan otak serta
medulla spinalis.

4) Serebrum
Serebrum tersusun dari dua hemisfer serebral, yang membentuk bagian
terbesar otak.
a) Koterks serebral terdiri dari 6 lapisan sel dan serabut saraf.
b) Ventrikel I dan II (ventrikel lateral) terletak dalam hemisfer
serebral.
c) Korpus kolosum yang terdiri dari serabut termielinisasi
menyatukan kedua hemisfer.
d) Fisura dan sulkus. Setiap hemisfer dibagi oleh fisura dan sulkus
menjadi 4 lobus (frontal, paritetal, oksipital dan temporal) yang
dinamakan sesuai tempat tulangnya berada.
e) Fisura longitudinal membagi serebrum menjadi hemisfer kiri dan
kanan.
f) Fisura transversal memisahkan hemisfer serebral dari serebelum.
g) Sulkus pusat / fisura Rolando memisahkan lobus frontal dari lobus
parietal.
h) Sulkus lateral / fisura Sylvius memisahkan lobus frontal dan
temporal.
i) Sulkus parieto-oksipital memisahkan lobus parietal dan oksipital.
j) Girus. Permukaan hemisfer serebral memiliki semacam konvolusi
yang disebut girus.
5) Area Fungsional Korteks Serebri
a) Area motorik primer pada korteks
b) Area primer terdapat dalam girus presentral. Disini neuron
mengendalikan kontraksi volunteer otot rangka. Area pramotorik
korteks terletak tepat di sisi anterior girus presentral. Neuron
mengendalikan aktivitas motorik yang terlatih dan berulang seperti
mengetik. Area broca terletak di sisi anterior area premotorik pada
tepi bawahnya.
c) Area sensorik korteks
Terdiri dari area sensorik primer, area visual primer, area auditori
primer. Area olfaktori primer dan area pengecap primer (gustatory).
d) Area asosiasitraktus serebral
Terdiri area asosiasi frontal, area asosiasi somatic, area asosiasi
visual, area wicara Wernicke.
e) Ganglia basal adalah kepulauan substansi abu-abu yang terletak
jauh di dalam substansi putih serebrum.
6) Diensefalon
Terletak di antara serebrum dan otak tengah serta tersembunyi di balik
hemisfer serebral, kecuali pada sisi basal.
a) Talamus

Terdiri dari dua massa oval (lebar 1 cm dan panjang 3 cm)


substansi abu-abu yang sebagian tertutup substansi putih. Masingmasing massa menonjol ke luar untuk membentuk sisi dinding
ventrikel ketiga.
b) Hipotalamus
Terletak di didi inferior thalamus dan membentuk dasar serta
bagian bawah sisi dinding ventrikel ketiga. Hipotalamus berperan
penting dalam pengendalian aktivitas SSO yang melakukan fungsi
vegetatif penting untuk kehidupan, seperti pengaturan frekwensi
jantung, tekanan darah, suhu tubuh, keseimbangan air, selera
makan, saluran pencernaan dan aktivitas seksual. Hipotalamus juga
berperan sebagai pusat otak untuk emosi seperti kesenangan, nyeri,
kegembiraan dan kemarahan. Hipotalamus memproduksi hormon
yang mengatur pelepasan atau inhibisi hormon kelenjar hipofise
sehingga mempengaruhi keseluruhan sistem endokrin.
c) Epitalamus
Membentuk langit-langit tipis ventrikel ketiga. Suatu massa
berukuran kecil, badan pineal yang mungkin memiliki fungsi
endokrin, menjulur dari ujung posterior epitalamus.
7) Sistim Limbik
Terdiri dari sekelompok struktur dalam serebrum dan diensefalon yang
terlibat dalam aktivitas emosional dan terutama aktivitas perilaku tak
sadar. Girus singulum, girus hipokampus dan lobus pitiformis
merupakan bagian sistem limbic dalam korteks serebral.
8) Otak Tengah
Merupakan bagian otak pendek dan terkontriksi yang menghubungkan
pons dan serebelum dengan serebrum dan berfungsi sebagai jalur
penghantar dan pusat refleks. Otak tengah, pons dan medulla oblongata
disebut sebagai batang otak.
9) Pons
Hampir semuanya terdiri dari substansi putih. Pons menghubungkan
medulla yang panjang dengan berbagai bagian otak melalui pedunkulus
serebral. Pusat respirasi terletak dalam pons dan mengatur frekwensi
dan kedalaman pernapasan. Nuclei saraf cranial V, VI dan VII terletak
dalam pons, yang juga menerima informasi dari saraf cranial VIII.
10) Serebelum
Terletak di sisi inferior pons dan merupakan bagian terbesar kedua
otak. Terdiri dari bagian sentral terkontriksi, vermis dan dua massa
lateral, hemisfer serebelar. Serebelum bertanggung jawab untuk
mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan gerakan otot dengan

baik. Bagian ini memastikan bahwa gerakan yang dicetuskan di suatu


tempat di SSP berlangsung dengan halus bukannya mendadak dan
tidak terkordinasi. Serebelum juga berfungsi untuk mempertahankan
postur.
11) Medulla Oblongata
Panjangnya sekitar 2,5 cm dan menjulur dari pons sampai medulla
spinalis dan terus memanjang. Bagian ini berakhir pada area foramen
magnum tengkoral. Pusat medulla adalah nuclei yang berperan dalam
pengendalian fungsi seperti frekwensi jantung, tekanan darah,
pernapasan, batuk, menelan dan muntah. Nuclei yang merupakan asal
saraf cranial IX, X, XI dan XII terletak di dalam medulla.
12) Formasi Retikular
Formasi retukular atau sistem aktivasi reticular adalah jarring-jaring
serabut saraf dan badan sel yang tersebar di keseluruhan bagian
medulla oblongata,pons dan otak tengah. Sistem ini penting untuk
memicu dan mempertahankan kewaspadaan serta kesadaran.
a. Saraf Kranial
12 pasang saraf cranial muncul dari berbagai bagian batang otak.
Beberapa saraf cranial hanya tersusun dari serabut sensorik, tetapi
sebagaian besar tersusun dari serabut sensorik dan serabut motorik.
a) Saraf Olfaktorius ( CN I )
Merupakan saraf sensorik. Saraf ini berasal dari epithelium
olfaktori mukosa nasal. Berkas serabut sensorik mengarah ke
bulbus olfaktori dan menjalar melalui traktus olfaktori sampai ke
ujung lobus temporal (girus olfaktori), tempat persepsi indera
penciuman berada.
b) Saraf Optik ( CN II )
Merupakan saraf sensorik. Impuls dari batang dan kerucut retina
di bawa ke badan sel akson yang membentuk saraf optic. Setiap
saraf optic keluar dari bola mata pada bintik buta dan masuk ke
rongga cranial melaui foramen optic. Seluruh serabut memanjang
saat traktus optic, bersinapsis pada sisi lateral nuclei genikulasi
thalamus dan menonjol ke atas sampai ke area visual lobus
oksipital untuk persepsi indera penglihatan.
c) Saraf Okulomotorius ( CN III )
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf
motorik. Neuron motorik berasal dari otak tengah dan membawa
impuls ke seluruh otot bola mata (kecuali otot oblik superior dan
rektus lateral), ke otot yang membuka kelopak mata dan ke otot
polos tertentu pada mata. Serabut sensorik membawa informasi

d)

e)

f)

g)

h)

indera otot (kesadaran perioperatif) dari otot mata yang


terinervasi ke otak.
Saraf Traklear ( CN IV )
Adalah saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf
motorik dan merupakan saraf terkecil dalam saraf cranial. Neuron
motorik berasal dari langit-langit otak tengah dan membawa
impuls ke otot oblik superior bola mata. Serabut sensorik dari
spindle otot menyampaikan informasi indera otot dari otot oblik
superior ke otak.
Saraf Trigeminal ( CN V )
Saraf cranial terbesar, merupakan saraf gabungan tetapi sebagian
besar terdiri dari saraf sensorik. Bagian ini membentuk saraf
sensorik utama pada wajah dan rongga nasal serta rongga oral.
Neuron motorik berasal dari pons dan menginervasi otot
mastikasi kecuali otot buksinator. Badan sel neuron sensorik
terletak dalam ganglia trigeminal.
Serabut ini bercabang ke arah distal menjadi 3 divisi:
1) Cabang optalmik membawa informasi dari kelopak mata,
bola mata, kelenjar air mata, sisi hidung, rongga nasal dan
kulit dahi serta kepala.
2) Cabang maksilar membawa informasi dari kulit wajah,
rongga oral (gigi atas, gusi dan bibir) dan palatum.
3) Cabang mandibular membawa informasi dari gigi bawah,
gusi, bibir, kulit rahang dan area temporal kulit kepala.
Saraf Abdusen ( CN VI )
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf
motorik. Neuron motorik berasal dari sebuah nucleus pada pons
yang menginervasi otot rektus lateral mata. Serabut sensorik
membawa pesan proprioseptif dari otot rektus lateral ke pons.
Saraf Fasial ( CN VII )
Merupakan saraf gabungan. Meuron motorik terletak dalam
nuclei pons. Neuron ini menginervasi otot ekspresi wajah,
termasuk kelenjar air mata dan kelenjar saliva. Neuron sensorik
membawa informasi dari reseptor pengecap pada dua pertiga
bagian anterior lidah.
Saraf Vestibulokoklearis ( CN VIII )
Hanya terdiri dari saraf sensorik dan memiliki dua divisi.
1) Cabang koklear atau auditori menyampaikan informasi dari
reseptor untuk indera pendengaran dalam organ korti telinga
dalam ke nuclei koklear pada medulla, ke kolikuli inferior, ke
bagian medial nuclei genikulasi pada thalamus dan kemudian
ke area auditori pada lobus temporal.

i)

j)

k)

l)

2) Cabang vestibular membawa informasi yang berkaitan dengan


ekuilibrium dan orientasi kepala terhadap ruang yang diterima
dari reseptor sensorik pada telinga dalam.
Saraf Glosofaringeal ( CN IX )
Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berawal dari medulla
dan menginervasi otot untuk wicara dan menelan serta kelenjar
saliva parotid. Neuron sensorik membawa informasi yang
berkaitan dengan rasa dari sepertiga bagian posterior lidah dan
sensasi umum dari faring dan laring; neuron ini juga membawa
informasi mengenai tekanan darah dari reseptor sensorik dalam
pembuluh darah tertentu.
Saraf Vagus ( CN X )
Merupakan saraf gabungan. Neuron motorik berasal dari dalam
medulla dan menginervasi hampir semua organ toraks dan
abdomen. Neuron sensorik membawa informasi dari faring,
laring, trakea, esophagus, jantung dan visera abdomen ke medulla
dan pons.
Saraf Aksesori Spinal ( CN XI )
Merupakan saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari
serabut motorik. Neuron motorik berasal dari dua area: bagian
cranial berawal dari medulla dan menginervasi otot volunteer
faring dan laring, bagian spinal muncul dari medulla spinalis
serviks
dan
menginervasi
otot
trapezius
dan
sternokleidomastoideus. Neuron sensorik membawa informasi
dari otot yang sama yang terinervasi oleh saraf motorik ; misalnya
otot laring, faring, trapezius dan otot sternokleidomastoid.
Saraf Hipoglosal ( CN XII )
Termasuk saraf gabungan, tetapi sebagian besar terdiri dari saraf
motorik. Neuron motorik berawal dari medulla dan mensuplai
otot lidah. Neuron sensorik membawa informasi dari spindel otot
di lidah.

B. Definisi
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejalagejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan
kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular (Muttaqin,
2008).
Menurut Price & Wilson (2006) pengertian dari stroke adalah setiap
gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau
terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. Dari beberapa
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian stroke adalah gangguan
sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan
pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral
sehingga terjadi penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara
mendadak.
Stroke diklasifikasikan menjadi dua :

1. Stroke Non Hemoragik


Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang
ditandai dengan kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau
hemiparese, nyeri kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia
(kesulitan menelan). Stroke non haemoragik dibagi lagi menjadi dua
yaitu stroke embolik dan stroke trombotik (Wanhari, 2008).
2. Stroke Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya
perdarahan intra serebral atau perdarahan subarakhnoid. Tanda yang
terjadi adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala
fokal berupa hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).
Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah
di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab
stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi
arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat
aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya
menurun (Ria Artiani, 2009).
Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga
menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam
suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib, 2009).
C. Epidemiologi
Stroke merupakan penyebab kecacatan serius menetap nomor 1 di
seluruh dunia. Stroke juga menjadi penyebab utama kematian di seluruh
dunia. Stroke saat ini penyebab utama kedua kematian di dunia Barat,
peringkat setelah penyakit jantung dan sebelum kanker. Insiden stroke
meningkat berkali lipat dari 30 tahun, dan etiologi bervariasi menurut usia
(WHO, 2006). Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh Yayasan
Stroke Indonesia, masalah stroke semakin penting dan mendesak karena
kini jumlah penderita stroke di Indonesia menduduki urutan pertama di Asia
dan stroke iskemik menempati angka kejadian tertinggi dibandingkan stroke
hemoragik (YASTROKI, 2012). Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7 per mil dan yang terdiagnosis tenaga
kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil. Prevalensi Stroke berdasarkan
diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara (10,8), diikuti DI Yogyakarta
(10,3), Bangka Belitung dan DKI Jakarta masing-masing 9,7 per mil.
Prevalensi Stroke berdasarkan terdiagnosis nakes dan gejala tertinggi
terdapat di Sulawesi Selatan (17,9), DI Yogyakarta (16,9), Sulawesi
Tengah (16,6), diikuti Jawa Timur sebesar 16 per mil (Riskesdas, 2013).
Pada studi acak Antihypertensive Treatment of Acute Cerebral
Hemorrhage (ATACH II) menyatakan pengurangan tekanan darah sistolik

yang intensif 140 mmHg selama 24 jam mengurangi proporsi kematian


dan kecacatan 10% dengan nilai modified Rankin scale (mRS) 4-6
dibandingkan pengurangan tekanan darah sistolik 180 mmHg pada pasien
dengan Intracerebral Hemorrhage ICH yang dirawat 3 jam setelah onset
gejala. Kematian akibat serangan stroke terjadi paling banyak pada hari ke 2
sampai hari ke 7 (56,32%) bila kurang dari 24 jam sebesar 29,48% dan
paling sedikit adalah lebih dari 21 hari sebesar 14,2%. Angka kematian
akibat stroke terbanyak pada hari ke 2 sampai hari ke 7 maka usaha untuk
menurunkan angka kematian dan angka kesakitan perlu dilakukan dengan
segera (Gofir, 2011).
D. Etiologi
Menurut Smeltzer & Bare (2002) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu
empat kejadian yaitu:
1. Thrombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau
leher.
2. Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain yang di bawa
ke otak dari bagian tubuh yang lain.
3. Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak
4. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak. Penyebab
perdarahan otak yang paling lazim terjadi
1. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.
2. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah
mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau
elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding arteri menjadi lemah
dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan
3. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.
4. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai
bentuk abnormal, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah
arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena, menyebabkan
mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.
5. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan
penebalan dan degenerasi pembuluh darah.
Akibat dari keempat kejadian diatas maka terjadi penghentian suplai darah
ke otak, yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan,
berpikir, memori, bicara, atau sensasi.
Faktor resiko terjadinya stroke menurut Mansjoer (2000) adalah:
1. Yang tidak dapat diubah: usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga,
riwayat stroke, penyakit jantung koroner, dan fibrilasi atrium.

2. Yang dapat diubah: hipertensi, diabetes mellitus, merokok,


penyalahgunaan alkohol dan obat, kontrasepsi oral, dan hematokrit
meningkat.
E. Klasifikasi
1. Perdarahan intra cerebral
Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi mengakibatkan
darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa atau hematom
yang menekan jaringan otak dan menimbulkan oedema di sekitar otak.
Peningkatan TIK yang terjadi dengan cepat dapat mengakibatkan kematian
yang mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intra cerebral sering
dijumpai di daerah putamen, talamus, sub kortikal, nukleus kaudatus, pon,
dan cerebellum. Hipertensi kronis mengakibatkan perubahan struktur
dinding permbuluh darah berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid.
2. Perdarahan sub arachnoid
Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM. Aneurisma paling
sering didapat pada percabangan pembuluh darah besar di sirkulasi willisi.
AVM dapat dijumpai pada jaringan otak dipermukaan pia meter dan
ventrikel otak, ataupun didalam ventrikel otak dan ruang subarakhnoid.
Pecahnya arteri dan keluarnya darah keruang subarakhnoid mengakibatkan
tarjadinya peningkatan TIK yang mendadak, meregangnya struktur peka
nyeri, sehinga timbul nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk
dan tanda-tanda rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatam TIK yang
mendadak juga mengakibatkan perdarahan subhialoid pada retina dan
penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat mengakibatkan
vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme ini seringkali terjadi 35 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan
dapat menghilang setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga
karena interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan
dilepaskan kedalam cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri di
ruang subarakhnoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak
global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparese,
gangguan hemisensorik, afasia dan lain-lain). Otak dapat berfungsi jika
kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan
didalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak
punya cadangan O2 jadi kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau
sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan
kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh
kurang dari 20 mg% karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa
sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar
glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala disfungsi serebral.

Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi O2 melalui proses


metabolik anaerob,yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak.
F. Tanda dan Gejala
Menurut Smeltzer & Bare (2002) dan Price & Wilson (2006) tanda dan
gejala penyakit stroke adalah kelemahan atau kelumpuhan lengan atau
tungkai atau salah satu sisi tubuh, hilangnya sebagian penglihatan atau
pendengaran, penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu atau kedua
mata, pusing dan pingsan, nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas,
bicara tidak jelas (pelo), sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang
tepat, tidak mampu mengenali bagian dari tubuh, ketidakseimbangan dan
terjatuh dan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.
Kemungkinan kecacatan yang berkaitan dengan stroke
1. Daerah a. serebri media
a. Hemiplegi kontralateral, sering disertai hemianestesi
b. Hemianopsi homonim kontralateral
c. Afasi bila mengenai hemisfer dominan
d. Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan
2. Daerah a. Karotis interna
Serupa dengan bila mengenai a. Serebri media
3. Daerah a. Serebri anterior
a. Hemiplegi (dan hemianestesi) kontralateral terutama di tungkai
b. Incontinentia urinae
c. Afasi atau apraksi tergantung hemisfer mana yang terkena
4. Daerah a. Posterior
a. Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa mengenai daerah
makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh a. Serebri media
c. Nyeri talamik spontan
d. Hemibalisme
e. Aleksi bila mengenai hemisfer dominan
5. Daerah vertebrobasiler
a. Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang otak
b. Hemiplegi alternans atau tetraplegi
c. Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagi, emosi labil)

G. Patofisiologi dan Clinical Pathway


Otak sangat tergantung kepada oksigen, bila terjadi anoksia seperti yang
terjadi pada stroke di otak mengalami perubahan metabolik, kematian sel
dan kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit (non
aktif total). Pembuluh darah yang paling sering terkena ialah arteri serebral
dan arteri karotis Interna.

Adanya gangguan peredaran darah otak dapat menimbulkan jejas atau


cedera pada otak melalui empat mekanisme, yaitu :
1. Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan
sehingga aliran darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat,
selanjutnya akan mengakibatkan perubahan-perubahan iskemik otak.
2. Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke
kejaringan (hemorrhage).
3. Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan
jaringan otak.
4. Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang interstitial
jaringan otak.
Konstriksi lokal sebuah arteri mula-mula menyebabkan sedikit
perubahan pada aliran darah dan baru setelah stenosis cukup hebat dan
melampaui batas kritis terjadi pengurangan darah secara drastis dan
cepat. Oklusi suatu arteri otak akan menimbulkan reduksi suatu area
dimana jaringan otak normal sekitarnya yang masih mempunyai
pendarahan yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalurjalur anastomosis yang ada. Perubahan awal yang terjadi pada korteks
akibat oklusi pembuluh darah adalah gelapnya warna darah vena,
penurunan kecepatan aliran darah dan sedikit dilatasi arteri serta
arteriole. Selanjutnya akan terjadi edema pada daerah ini. Selama
berlangsungnya perisriwa ini, otoregulasi sudah tidak berfungsi
sehingga aliran darah mengikuti secara pasif segala perubahan tekanan
darah arteri.. Berkurangnya aliran darah serebral sampai ambang
tertentu akan memulai serangkaian gangguan fungsi neural dan terjadi
kerusakan jaringan secara permanen.

H. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:


1. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral
Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central jaringan
otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih bisa
diselematkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan
sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa dan
aliran darah yang adekuat dengan mengontrol / memperbaiki disritmia
(irama dan frekuensi) serta tekanan darah.
3. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala
yang berlebihan, pemberian dexamethason.
4. Pengobatan
Penatalaksaan medis (farmakologis) menurut menurut Smeltzer & Bare
(2002) meliputi:
a. Diuretik untuk menurunkan edema serebral yang mencapai tingkat
maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral.
b. Antikoagulan untuk mencegah terjadinya thrombosis atau
embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler.
c. Antitrombosit karena trombosit memainkan peran sangat penting
dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.
5. Penatalaksanaan Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran
darahotak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga
menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit
kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi
umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik
dapat dipertahankan.
B. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit stroke menurut Smeltzer &
Bare (2002) adalah:
1. Hipoksia serebral, diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah
adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen
yang dikirimkan ke jaringan. Pemberian oksigen suplemen dan
mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada tingkat dapat
diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan.
2. Penurunan aliran darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah
jantung, dan integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan
intrvena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki
aliran darah serebral. Hipertensi dan hipotensi ekstrim perlu dihindari
untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi
meluasnya area cedera.

3. Embolisme serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi


atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan
menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya akan menurunkan
aliran darah serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung
tidak konsisten dan penghentian trombus lokal. Selain itu, disritmia
dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.
C. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (Doenges dkk) pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan
pada penyakit stroke adalah:
1. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara
spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/
ruptur.
2. CT-scan: memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan
adanya infark.
3. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada
thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau
serangan iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau
perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada kasus
thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
4. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang
mengalami infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.
5. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.
6. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan
pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang
spesifik.
7. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah
yang berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna
terdapat pada thrombosis serebral.
D. Penatalaksanaan Keperawatan
Dari seluruh dampak masalah di atas, maka diperlukan suatu asuhan
keperawatan yang komprehensif. Dengan demikian pola asuhan keperawatan
yang tepat adalah melalui proses perawatan yang dimulai dari pengkajian
yang diambil adalah merupakan respon klien, baik respon biopsikososial
maupun spiritual, kemudian ditetapkan suatu rencana tindakan perawatan
untuk menuntun tindakan perawatan. Dan untuk menilai keadaan klien,
diperlukan suatu evaluasi yang merujuk pada tujuan rencana perawatan klien
dengan stroke hemoragik.

a. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam
melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan klien tersebut.
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu menentukan
status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan menentukan
status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan dalam
perumusan diagnosa keperawatan (Doenges dkk, 1999).
Adapun pengkajian pada klien dengan stroke (Doenges dkk, 1999)
adalah :
a) Aktivitas/ Istirahat
Gejala: merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan,
kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia), merasa mudah lelah,
susah untuk beristirahat (nyeri/ kejang otot).
Tanda: gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia), dan terjadi
kelemahan umum, gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran.
b) Sirkulasi
Gejala: adanya penyakit jantung, polisitemia, riwayat hipotensi
postural.
Tanda:
hipertensi arterial sehubungan dengan adanya embolisme/
malformasi vaskuler, frekuensi nadi bervariasi, dan disritmia.
c) Integritas Ego
Gejala: perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa
Tanda:
emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan
gembira, kesulitan untuk mengekspresikan diri.
d) Eliminasi
Gejala: perubahan pola berkemih
Tanda: distensi abdomen dan kandung kemih, bising usus negatif,
e) Makanan/ Cairan
Gejala:
nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut,
kehilangan sensasi pada lidah, dan tenggorokan, disfagia, adanya
riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.
Tanda: kesulitan menelan, obesitas.
f) Neurosensori
Gejala:
sakit kepala, kelemahan/ kesemutan, hilangnya rangsang
sensorik kontralateral pada ekstremitas, penglihatan menurun, gangguan
rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda:
status mental/ tingkat kesadaran biasanya terjadi koma pada
tahap awal hemoragis, gangguan fungsi kognitif, pada wajah terjadi
paralisis, afasia, ukuran/ reaksi pupil tidak sama, kekakuan, kejang.

g)

h)

i)

j)
k)

Data Subyektif:
- Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )
- Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub
arachnoid.
- Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti
lumpuh/mati
- Penglihatan berkurang
- Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas
dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama )
- Gangguan rasa pengecapan dan penciuman
Data obyektif:
- Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan ,
gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang) dan
gangguan fungsi kognitif
- Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis
stroke, genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya reflek
tendon dalam ( kontralateral )
- Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral )
- Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan
ekspresif/ kesulitan berkata-kata, reseptif / kesulitan berkata-kata
komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.
- Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran,
stimuli taktil
- Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik
- Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada
sisi ipsi lateral
Kenyamanan / Nyeri
Gejala: sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda
Tanda: tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot
Pernapasan
Gejala: merokok
Tanda:
ketidakmampuan menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas,
timbulnya pernafasan sulit, suara nafas terdengar ronchi.
Keamanan
Tanda:
masalah dengan penglihatan, perubahan sensori persepsi
terhadap orientasi tempat tubuh, tidak mampu mengenal objek,
gangguan berespons terhadap panas dan dingin, kesulitan dalam
menelan, gangguan dalam memutuskan.
Interaksi Sosial
Tanda: masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
Penyuluhan/ Pembelajaran

Gejala:
adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke, pemakaian
kontrasepsi oral, kecanduan alkohol.
b. Diagnosa Keperawatan
Setelah data-data dikelompokkan, kemudian dilanjutkan dengan perumusan
diagnosa. Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi,
memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respons
terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doenges dkk, 1999). Untuk
membuat diagnosis keperawatan yang akurat, perawat harus mampu
melakukan hal berikut yaitu mengumpulkan data yang valid dan berkaitan,
mengelompokkan data, membedakan diagnosis keperawatan dari masalah
kolaboratif, merumuskan diagnosis keperawatan dengan tepat, dan memilih
diagnosis prioritas (Carpenito & Moyet, 2007). Diagnosa keperawatan pada
klien dengan Stroke meliputi :
a) Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan:
1) Interupsi aliran darah
2) Gangguan oklusif, hemoragi
3) Vasospasme serebral
4) Edema serebral
b) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan:
1) Kerusakan neuromuskuler
2) Kelemahan, parestesia
3) Paralisis spastis
4) Kerusakan perseptual/ kognitif
c) Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
1) Kerusakan sirkulasi serebral
2) Kerusakan neuromuskuler
3) Kehilangan tonus otot/ kontrol otot fasial
4) Kelemahan/ kelelahan
d) Perubahan sensori persepsi berhubungan dengan:
1) Perubahan resepsi sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologis
atau defisit)
2) Stress psikologis (penyempitan lapang perseptual yang disebabkan
oleh ansietas)
e) Defisit perawatan diri berhubungan dengan:
1) Kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan,
kehilangan kontrol/ koordinasi otot
2) Kerusakan perseptual/ kognitif
3) Nyeri/ ketidaknyamanan

f)
g)
h)
i)

4) Depresi
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran.
Gangguan harga diri berhubungan dengan:
1) Perubahan biofisik, psikososial, perseptual kognitif
Resiko tinggi kerusakan menelan berhubungan dengan:
1) Kerusakan neuromuskuler/ perceptual
Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan berhubungan
dengan:
1) Kurang pemajanan
2) Keterbatasan kognitif, kesalahan interprestasi informasi, kurang
mengingat
3) Tidak mengenal sumber-sumber informasi

c. Intervensi Keperawatan
N
o
1.

Diagnosa
Keperawatan
Ketidakefektifan
Perfusi jaringan
serebral b.d
aliran darah ke
otak terhambat.

Tujuan
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan selama
3 x 24 jam,
diharapkan suplai
aliran darah keotak
lancar dengan
kriteria hasil:
- Nyeri kepala /
vertigo berkurang
sampai de-ngan
hilang
- Berfungsinya saraf
dengan baik
- Tanda-tanda vital
stabil

Intervensi
Monitoring neurologis
Monitor ukuran, kesimetrisan,
reaksi dan bentuk pupil
Monitor tingkat kesadaran klien
Monitir tanda-tanda vital
Monitor keluhan nyeri kepala,
mual, muntah
Monitor respon klien terhadap
pengobatan
Hindari aktivitas jika TIK
meningkat
Observasi kondisi fisik klien
Terapi oksigen
Bersihkan jalan nafas dari sekret
Pertahankan jalan nafas tetap
efektif
Berikan oksigen sesuai intruksi
Monitor aliran oksigen, kanul
oksigen dan sistem humidifier
Beri penjelasan kepada klien
tentang pentingnya pemberian
oksigen
Observasi tanda-tanda hipoventilasi
Monitor respon klien terhadap
pemberian oksigen
Anjurkan klien untuk tetap

memakai oksigen selama


aktifitas dan tidur
Libatkan keluarga untuk
membantu memahami /
memahamkan informasi dari / ke
klien
Dengarkan setiap ucapan klien
dengan penuh perhatian
Gunakan kata-kata sederhana dan
pendek dalam komunikasi
dengan klien
Dorong klien untuk mengulang
kata-kata
Berikan arahan / perintah yang
sederhana setiap interaksi dengan
klien
Programkan speech-language
teraphy
7. Lakukan speech-language
teraphy setiap interaksi dengan
klien

Setelah dilakukan

tindakan
keperawatan selama
3 x 24 jam,
diharapkan klien

mampu untuk
berkomunikasi lagi

dengan kriteria hasil:


- dapat menjawab
pertanyaan yang

diajukan perawat
- dapat mengerti dan
memahami pesan-
pesan melalui
gambar

- dapat
mengekspresikan

perasaannya
secara verbal
maupun
nonverbal
Defisit perawatan Setelah dilakukan
Kaji kamampuan klien untuk
diri;
tindakan
perawatan diri
mandi,berpakaian keperawatan selama Pantau kebutuhan klien untuk alat, makan,
3x 24 jam,
alat bantu dalam makan, mandi,
diharapkan
berpakaian dan toileting
kebutuhan mandiri Berikan bantuan pada klien hingga
klien terpenuhi,
klien sepenuhnya bisa mandiri
dengan kriteria hasil:
Berikan dukungan pada klien untuk
- Klien dapat makan
menunjukkan aktivitas normal
dengan bantuan
sesuai kemampuannya
orang lain /

Libatkan
keluarga dalam
mandiri
pemenuhan kebutuhan perawatan
- Klien dapat mandi
diri klien
de-ngan bantuan
orang lain
- Klien dapat
memakai pakaian
dengan bantuan
orang lain /
mandiri
-Klien dapat
toileting dengan
bantuan alat
Kerusakan
Setelah dilakukan Ajarkan klien untuk latihan rentang
mobilitas fisik b.d tindakan
gerak aktif pada sisi ekstrimitas
kerusakan
keperawatan selama
yang sehat
neurovas-kuler
3x24 jam,
Ajarkan rentang gerak pasif pada sisi
Kerusakan
komunikasi
verbal b.d
penurunan
sirkulasi ke otak

diharapkan klien
ekstrimitas yang parese / plegi
dapat melakukan
dalam toleransi nyeri
pergerakan fisik
Topang ekstrimitas dengan bantal
dengan kriteria
untuk mencegah atau mangurangi
hasil :
bengkak
- Tidak terjadi
Ajarkan ambulasi sesuai dengan
kontraktur otot
tahapan dan kemampuan klien
dan footdrop
Motivasi klien untuk melakukan
- Pasien berpartisipasi
latihan sendi seperti yang
dalam program
disarankan
latihan
6 Libatkan keluarga untuk
- Pasien mencapai
membantu klien latihan sendi
keseimbangan
saat duduk
- Pasien mampu
menggunakan sisi
tubuh yang tidak
sakit untuk
kompensasi
hilangnya fungsi
pada sisi yang
parese/plegi
Resiko kerusakan Setelah dilakukan
1 Beri penjelasan pada klien tentang:
integritas kulit b.d tindakan perawatan
resiko adanya luka tekan, tanda
immobilisasi fisik selama 3 x 24 jam,
dan gejala luka tekan, tindakan
diharapkan pasien
pencegahan agar tidak terjadi luka
mampu mengetahui
tekan)
dan mengontrol
2 Berikan masase sederhana
resiko dengan
- Ciptakan lingkungan yang
kriteria hasil :
nyaman
- Klien mampu
- Gunakan lotion, minyak atau
menge-nali tanda
bedak untuk pelicin
dan gejala
- Lakukan masase secara teratur
adanya resiko
- Anjurkan klien untuk rileks
luka tekan
selama masase
- Klien mampu
- Jangan masase pada area
berpartisi-pasi
kemerahan utk menghindari
dalam
kerusakan kapiler
pencegahan
- Evaluasi respon klien terhadap
resiko luka tekan
masase
(masase
3 Lakukan alih baring
sederhana, alih
- Ubah posisi klien setiap 30
ba-ring,
menit- 2 jam
manajemen
- Pertahankan tempat tidur
nutrisi,
sedatar mungkin untuk
manajemen
mengurangi kekuatan geseran
tekanan).
- Batasi posisi semi fowler hanya
30 menit
- Observasi area yang tertekan
(telinga, mata kaki, sakrum,

Resiko Aspirasi
berhubungan
dengan penurunan
tingkat kesadaran

Resiko Injuri
berhubungan
dengan penurunan
tingkat kesadaran

skrotum, siku, ischium,


skapula)
4 Berikan manajemen nutrisi
- Kolaborasi dengan ahli gizi
- Monitor intake nutrisi
- Tingkatkan masukan protein
dan karbohidrat untuk
memelihara ke-seimbangan
nitrogen positif
5 Berikan manajemen tekanan
- Monitor kulit adanya
kemerahan dan pecah-pecah
- Beri pelembab pada kulit yang
kering dan pecah-pecah
- Jaga sprei dalam keadaan bersih
dan kering
- Monitor aktivitas dan mobilitas
klien
- Beri bedak atau kamper spritus
pada area yang tertekan
Setelah dilakukan
Aspiration Control Management :
tindakan perawatan
- Monitor tingkat kesadaran,
selama 3 x 24 jam,
reflek batuk dankemampuan
diharapkan tidak
menelan
terjadi aspirasi pada
- Pelihara jalan nafas
pasien dengan
- Lakukan saction bila diperlukan
kriteria hasil :
- Haluskan makanan yang akan
- Dapat
diberikan
bernafas
- Haluskan obat sebelum
dengan
pemberian
mudah,freku
ensi
pernafasan
normal
- Mampu
menelan,me
ngunyah
tanpa terjadi
aspirasi

Setelah dilakukan
tindakan perawatan
selama 3 x 24 jam,
diharapkan tidak
terjadi trauma pada
pasien dengan
kriteria hasil:
- bebas dari cedera
- mampu menjelaskan
factor resiko dari

Risk Control Injury


- menyediakan lingkungan yang
aman bagi pasien
- memberikan informasi mengenai
cara mencegah cedera
- memberikan penerangan yang
cukup
- menganjurkan keluarga untuk
selalu menemani pasien

lingkungan dan
cara untuk
mencegah cedera
- menggunakan
fasilitas kesehatan
yang ada
Pola nafas tidak
Setelah dilakukan
efektif
tindakan perawatan berhubungan
selama 3 x 24 jam, dengan penurunan diharapkan pola
kesadaran
nafas pasien efektif dengan kriteria
hasil :
- Menujukkan jalan
nafas paten ( tidak
merasa tercekik,
irama nafas
normal, frekuensi
nafas
normal,tidak ada
suara nafas
tambahan
- - Tanda-tanda vital
dalam batas
normal

Respiratori Status Management


Pertahankan jalan nafas yang paten
Observasi tanda-tanda hipoventilasi
Berikan terapi O2
Dengarkan adanya kelainan suara
tambahan
Monitor vital sign

d. Evaluasi
Evaluasi adalah respons pasien terhadap terapi dan kemajuan
mengarah pencapaian hasil yang diharapkan. Aktivitas ini berfungsi
sebagai umpan balik dan bagian kontrol proses keperawatan, melalui mana
status pernyataan diagnostik pasien secara individual dinilai untuk
diselesaikan, dilanjutkan, atau memerlukan perbaikan (Doenges dkk,
1999).
Evaluasi asuhan keperawatan sebagai tahap akhir dari proses
keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dan seluruh
tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi ini bersifat sumatif,
yaitu evaluasi yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan
keperawatan yang telah dilakukan dan telah disebut juga evaluasi
pencapaian jangka panjang.
Kriteria hasil dari tindakan keperawatan yang di harapkan pada pasien
stroke adalah mempertahankan tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital
stabil, kekuatan otot bertambah dan dapat beraktivitas secara minimal,
dapat berkomunikasi sesuai dengan kondisinya, mempertahankan fungsi
perseptual, dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri, klien
dapat mengungkapakan penerimaaan atas kondisinya, dan klien dapat
memahami tentang kondisi dan cara pengobatannya.

E. Discharge planning bagi pasien stroke


1. Memastikan keamanan bagi pasien setelah pemulangan
2. Memilih perawatan, bantuan, atau peralatan khusus yang dibutuhkan
3. Merancang untuk pelayanan rehabilitasi lanjut atau tindakan lainnya di
rumah (misal kunjungan rumah oleh tim kesehatan)
4. Penunjukkan health care provider yang akan memonitor status kesehatan
pasien
5. Menentukan pemberi bantuan yang akan bekerja sebagai partner dengan
pasien untuk memberikan perawatan dan bantuan harian di rumah, dan
mengajarkan tindakan yang dibutuhkan.
F. Daftar Pustaka
Asmadi. 2008.Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC
Hidayat, A. A. A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi
Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nanda International 2015. Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi.
Jakarta:EGC
Carpenito, L.J & Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi
10. Jakarta: EGC.
Doenges. M.E; Moorhouse. M.F; Geissler. A.C. (1999). Rencana Asuhan
Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien edisi 3. Jakarta: EGC.
Harnawatiaj.
(2008).
Format
Dokumentasi
Keperawatan
(http://harnawatiaj.wordpress.com//) di akses 9 Oktober 2016.
Mansjoer, A,.Suprohaita, Wardhani WI,.& Setiowulan, (2000). Kapita
Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Potter & Perry. (2006). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan
Praktik Edisi 4 vol 1. Jakarta: EGC
Price, S.A & Wilson. L.M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit Edisi 6 vol 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC
Wanhari,
M.A.
(2008).
Asuhan
Keperawatan
Stroke
(http://askepsolok.blogspot.com/2008/08/stroke.html) di akses di
akses 9 Oktober 2016.
Winarni,S.
(2008).
Karya
Tulis
Ilmiah
Stroke
(http://etd.eprints.ums.ac.id/2926/1/J200050072.pdf, di akses di akses
9 Oktober 2016.