Anda di halaman 1dari 19

AKUNTANSI FORENSIK

FOURTH CHAPTER : RED FLAGS

KELAS A

Kelompok 3
1
2
3
4

Dimas Ario Wicaksono


Elisa Dwi Septyanti
Deny Prasetyo
Cila Wuri agustin

12030113130139
12030113130216
12030113130272
12030113140167

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016
CHAPTER EMPAT
RED FLAGS
1

A. PENGANTAR
Red Flags yang dimaksud dalam buku ini mengandung arti atau sinonim dengan
sidik jari penipuan.Ketika penipuan terjadi, ada jejak-jejak kriminal yang tertinggal di
tempat kejadian kejahatan, atau dalam kehidupan fraudster, seperti sidik jari yang mungkin
tertinggal di TKP. Red Flags memiliki berbagai sifat dan mencakup berbagai hal seperti
anomali akuntansi, anomali transaksi, perubahan perilaku atau karakteristik, atau hanya
karakteristik umum yang

terkait dengan deteksi penipuan, terutama skema individu

tertentu atau skema kelompok. Landasan pencegahan fraud yang efektif dan deteksi fraud
telah disajikan dalam Bab 1, 2, dan 3. Bab 1 membahas tentang apa dan bagaimana fraud
itu sendiri. Bab 2 menjelaskan tentang prinsip-prinsip fraud, sedangkan bab 3 menjelaskan
tentang skema yang biasanya digunakan dalam melakukan kecurangan.
Dalam bab sebelumnya kita telah mengenal apa itu fraud tree. Dengan
menggunakan fraud tree, skema penipuan yang disajikan dalam Bab 3 akan sangat penting
untuk mendeteksi dan mencegah penipuan. Tetapi yang perlu digaris bawahi bahwa hal
auditor juga perlu mempelajari, menganalisis, dan menggunakan Red Flags untuk
mencegah dan mendeteksi penipuan.Hal lain yang tidak kalah penting untuk diingat adalah
bahwa Red Flags hanya Red Flags, dan tidak merupakan indikasi penipuan. Akuntan
forensik dan auditor fraud tidak dapat menyimpulkan, mereka harus tetap berpedoman pada
'' fakta, '' dan fokus pada pembuktian penipuan telah terjadi bukan hanya berpedoman pada
checklist Red Flags. Mengidentifikasi Red Flags sangat penting untuk keberhasilan
mendeteksi dan mencegah penipuan. Red Flags secara alami mampu mempermudah desain
metode dan proses deteksi yang efektif. Dan metode deteksi ini secara alami mampu
menjadi desain antifraud yang cukup baik. Selain itu, pengendalian detektif yang baik juga
mampu berfungsi sebagai pencegahan fraud yang baik.

B. STANDAR PROFESIONAL
Literatur

utama

terkait

penipuan

secara

teknis

menggabungkan

konsep

Red Flags. Sebagian besar organisasi profesi akuntansi mengikuti Sarbanes-Oxley Act

(SOX) dengan mengadopsi standar teknis untuk mengakomodasi prinsip SOX, dan mereka
umumnya menggunakan Red Flags sebagai pedoman. Tiga contoh Profesional Standard:

American Institute of certified Public Accountants (AICPA)


The Information Systems Audit and Contrl Association (ISACA)
The Institute of Internal Auditors (IIA)

Ketiga organisasi tersebut memiliki peran kunci dalam fraud auditing.

American Institute of certified Public Accountants (AICPA)


Pernyataan Standar Audit (SAS) No. 99 tentang Pertimbangan Penipuan dalam
Audit Laporan Keuangan, yang mengkodifikasi banyak prinsip SOX , menggabungkan Red
Flags di dalamnya. Kegiatan dalam mengidentifikasi Red Flags diasosiasikan dengan karya
Association Certified of Fraud Examiners (ACFE) dan pendiri Joe Wells pada khususnya.
Wells dan ACFE memiliki kontribusi terhadap perkembangan Red Flags yang terdapat
dalam lampiran SAS No. 99.
Red Flags tersebut menggunakan semua sisi pada triangle fraud dan tiga kategori
utama dari fraud tree. Jadi lampiran SAS No. 99 mengidentifikasi tekanan Red Flags
terkait dengan penipuan laporan keuangan, peluang Red Flags terkait dengan penipuan
penyalahgunaan aset, rasionalisasi red flag untuk skema korupsi, dan lain sebagainya.
Daftar red flag tersebut akan menjadi salah satu patokan nilai untuk semua auditor, bukan
hanya auditor eksternal

The Information Systems Audit and Contrl Association (ISACA)


ISACA memberikan daftar red flag serupa dalam literatur teknis. The
Irregularities and Illegal Acts merupakan panduan untuk Procedures for Information
System Auditing yang aktif mulai 1 November 2003. Sectiion 4.1 menyediakan sebuah
daftar dari Audit Consideration yang didalamnya termasuk Red Flags, yang khususnya
di bagian Application of CAATs

The Institute of Internal Auditors (IIA)

Dalam The IIAs International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing
menyatakan bahwa:
"Auditor internal harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengidentifikasi
indikator penipuan tetapi tidak diharapkan untuk menjadi expert seperti orang yang
memiliki tanggung jawab utama adalah mendeteksi dan menyelidiki penipuan"

Tanggung Jawab profesional


Dari standar teknis ketiga organisasi diatas, jelas bahwa auditor diharapkan dapat
mengidentifikasi indikator kunci dari penipuan dalam proses pelayanan profesional. Karena
fakta ini, auditor perlu dilatih dalam aspek identifikasi dan deteksi penipuan menggunakan
Red Flags. Hal lain yang juga tidak kalah penting bagi auditor adalah menggunakan
berbagai pelatihan, artikel, seminar,pendidikan, dan metode lain untuk mengembangkan
pola pikir yang efektif terkait dengan penipuan dan terutama untuk Red Flags.
Sebuah penelitian tentang Red Flags menemukan bahwa auditor kemungkinan akan
mampu untuk mengenali Red Flags ketika hal tersebut datang dalam kegiatan sehari-hari.
Misalnya, auditor akan dapat mengenali Red Flags ketika auditor melakukan verifikasi trail
audit dan mengambil faktur untuk layanan yang dicetak yang dihasilkan dengan
menggunakan format Excel . Akan tetapi, pada intinya auditor harus memiliki probabilitas
yang tinggi dalam mengenali Red Flags yang harus mereka hadapi satu per satu. Sehingga
auditor tetap berpedoman pada bukti, bukan pada red flags. Hal ini sangat penting untuk
diperhatikan, mengingat hal tersebut merupakan salah satu pertimbangan dalam proses
pengambilan keputusan.

C. RED FLAGS UMUM


Secara umum, beberapa Red Flags itu wajar untuk semua penipuan, atau wajar
untuk suatu kategori penipuan yang utama di dalam fraud tree.
4

1. Penipuan Laporan Keuangan


Penipuan keuangan merupakan suatu kelas penipuan yang utama di dalam fraud
tree. Penipuan ini umumnya dilakukan oleh manajemen senior, untuk organisasi, dan untuk
kepentingan organisasi dan pelaku penipuan (fraudster). Akan tetapi, pada akhirnya,
penipua

n jenis ini tidak menguntungkan organisasi, hanya menguntungkan selama

penipuan itu berlangsung.


Untuk penipuan jenis ini, beberapa Red Flags yang terjadi mungkin berbeda dengan
fraudster yang melakukan penyalahgunaan aset dan korupsi. Umumnya, Red Flags yang
terkait dengan penipuan laporan keuangan meliputi:

Anomali akuntansi
Pertumbuhan yang sangat cepat
Profit yang tidak biasa
Lemahnya pengendalian internal
Sikap agresif dari manajemen eksekutif
Obsesi managemen eksekutif terhadap harga saham
Micromanagement eksekutif management
Dari beberapa Red Flags tersebut, Red Flags yang paling umum dalam kategori ini

adalah gaya managemen atau karakter dari eksekutif kunci. Biasanya, manager senior
memiliki kelemahan, kesulitan untuk mengamati, dalam etika pribadi, tetapi juga
menunjukkan sifat terlalu agresif dalam mengamati. Sebagai contoh, eksekutif dapat secara
terus menerus memproduksi dan menyetujui financial goals yang terlalu optimis. Dia dapat
mendominasi karyawan, berusaha untuk tetap menjaga orang dibawah kendalinya. Dia juga
mungkin akan mencoba untuk mengendalikan atau mempengaruhi auditor internal dan
eksternal di sekitar area atau di daerah-daerah yang jauh dimana penipuan kemungkinan
besar akan ditemukan. Menjadikannya suatu rahasia dan menjaga informasi keuangan
tertentu juga merupakan tanda dari penipuan jenis ini.
2. Penyalahgunaan Aset

Penipuan yang dikategorikan kedalam penyalahgunaan aset biasanya dilakukan oleh


karyawan, terhadap organisasi, dan untuk kepentingan karyawan. Menurut Lux dan Fitriani,
perilaku Red Flags dalam penipuan jenis ini meliputi:
Perubahan sikap
Tidak berani menatap orang
Tingkat kemarahan meningkat
Riwayat kerja yang tidak biasa
Masalah pada karakter
Kemarahan yang konsisten
Kecenderungan untuk menyalahkan orang lain
Perubahan dalam gaya hidup
Untuk seseorang dengan kode etik personal yang tinggi, perubahan perilaku lebih
mungkin terjadi ( seperti: cepat marah, tidak berani menatap mata orang), karena hal ini,
hati nurani mereka akan mulai menganggu mereka.
Red Flags terakhir, perubahan pada gaya hidup, mungkin merupakan sesuatu yang
paling umum pada daftar ini. Dari keterangan fraudster yang tertangkap, skema penipuan
mereka adalah mengambil semakin banyak dari tahun ke tahun pada skema yang tidak
terdeteksi atau bisa saja menambah skema penipuan. Artinya, jika fraudster dapat
mengambil $15.000 pada tahun ini, dia cenderung akan mencuri lebih banyak, mungkin
dalam jumlah dua kali lebih banyak, pada tahun berikutnya. Jika ia berhasil meloloskan
$30.000 pada tahun berikutnya, dia

mungkin akan menggandakannya lagi di tahun

depannya. Arus dari uang yang bebas pajak(hasil penipuan) biasanya dihabiskan, dan
dihabiskan sedemikian rupa sehingga orang-orang di sekitar penipu dapat melihat
peningkatan gaya hidupnya tersebut. Salah satu penipuan terungkap setelah karyawan
membeli mobil, kapal, dan sebuah rumah mahal semua dilakukan pada gaji $30.000 per
tahun. Tetangga sebelah rumahnya, yang juga bekerja untuk perusahaan yang sama, curiga,
karena dia tidak paham bagaimana fraudster mampu mengalami perubahan gaya hidup
yang sangat drastis. Fraudster mengaku bahwa ia mendapatkan uang dari saudaranya. Tidak
sampai bulan depan, ketika auditor internal menemukan penipuan, tetangga nya baru

menyadari bahwa perubahan gaya hidup fraudster terjadi karena dia telah mencuri lebih
dari $1 juta selama lima tahun dari bos mereka.
Red Flags yang lain dapat berkaitan dengan karyawan :

Apakah puas dengan pemberi kerja dan supervisor


Tidak pernah berlibur atau hanya berlibur dalam waktu yang sangat singkat
Memiliki tekanan keuangan atau memiliki masalah hutang
Memiliki masalah psikotik
Secara terus menerus protes tentang bagaimana bos atau perusahaan

memperlakukan mereka.
Adanya karakteristik perilaku yang dihubungkan dengan egosentris atau mereka

yang membutuhkan untuk mengendalikan segala sesuatu


Ditolak transfer, promosi, dan penawaran pekerjaan yang lain.

3. Korupsi
Penipuan yang dikategorikan sebagai korupsi adalah penipuan yang dilakukan
karyawan, terhadap organisasi, untuk kepentingan karyawan. Korupsi terjadi ketika orang
dalam bekerja untuk orang luar dalam hubungan yang sedemikian rupa dan membawa
kerugian untuk organisasi. Dengan mengetahui bagaimana mengidentifikasi hubungan
merupakan sesuatu yang sangat penting untuk pencegahan dan pendeteksian penipuan jenis
ini. Red Flags tidak hanya mencakup Red Flags perilaku secara umum dan perubahan gaya
hidup, akan tetapi juga memperhatikan beberapa hal dibawah ini:

Hubungan antara karyawan kunci dan otoritas vendor


Kerahasiaan antara hubungan pihak ketiga
Kelemahan untuk mengecek ulang pada persetujuan manajemen untuk pihak
ketiga yang ada (dari waktu ke waktu, fraudster mungkin menggunakan

hubungan jika entitas sudah nyaman dengan hal itu)


Anomali dalam pencatatan transaksi
Anomali dalam persetujuan vendor yang akan dipakai.

D. RED FLAGS KHUSUS


Bagian ini menggambarkan beberapa Red Flags dikenal untuk masing-masing
skema penipuan besar. Red Flags ini memfasilitasi pengembangan beberapa metode
detektif berpotensi efektif untuk penipuan tertentu. Auditor harus akrab dengan Red Flags
dan metode identifikasi mungkin untuk menonjolkan pemikiran penipuan mereka.
1. Skema Laporan Keuangan
Kategori ini dipecah menjadi enam penipuan tertentu. Keenam skema yang
dibahas

dalam

terkait

dengan

SAS

99

penipuan

juga.
laporan

Untuk

daftar

keuangan,

rinci
lihat

dan

panjang

lampiran

untuk

Red

Flags

SAS

99.

Red Flags yang berlaku untuk semua jenis skema laporan keuangan, termasuk
(Sebagian besar diambil dari SAS No. 99):

Ancaman terhadap stabilitas keuangan atau profitabilitas dengan ekonomi,

industri, atau kondisi operasional internal


Tekanan berlebihan pada manajemen untuk memenuhi persyaratan keuangan

yang agresif
Bukti bahwa eksekutif atau anggota dewan memiliki ketergantungan

keuangan pribadi pada kinerja entitas


Transaksi sangat kompleks atau hubungan kepada pihak ketiga
Pemantauan pihak eksekutif tidak efektif.
Struktur organisasi Complex atau tidak stabil
Pengendalian internal kurang baik, terutama kekurangan yang signifikan
Marjin kotor mengalami peningkatan luar biasa, terutama bila dibandingkan

dengan rata-rata industri


Kas negatif dari operasi, terutama bila digabungkan dengan meningkatnya

laba dan arus kas positif secara keseluruhan


Keuntungan yang tidak biasa, terutama jika jauh di atas rata-rata industri
Pertumbuhan yang cepat, keuntungan yang di atas Standard & Poor (S & P)

rata-rata
Transaksi yang signifikan dengan pihak-pihak terkait, terutama ketika pihak
yang lain tidak diaudit atau diaudit oleh perusahaan audit yang berbeda
8

Transaksi yang signifikan, tidak biasa, atau sangat kompleks di akhir

tahun fiskal
Volume signifikan dari penjualan ke entitas yang substansi dan pemilik tidak

diketahui
Pertumbuhan pendapatan yang tidak biasa oleh minoritas unit bisnis

Perbedaan pengaturan waktu (Perawatan yang tidak benar pada Penjualan)


Pusat penipuan ini berada pada pesanan penjualan, baik yang ada di awal
atau akan terbalik dalam beberapa minggu atau bulan. Red Flags untuk pusat skema
ini seputar cara perlakuan transaksi yang tidak benar. Misalnya mengenai
penjualan berpotensi tidak sah seperti channel stuffing, Red Flags akan mencatat
transaksi penjualan (yaitu, pelanggaran GAAP). Red Flags pada Channel stuffing
termasuk pengembalian berlebihan barang dagangan, disertai dengan kredit
penjualan, terutama di hari-hari awal periode pelaporan keuangan yang baru.

Pendapatan fiktif
Pendapatan fiktif diciptakan dengan hanya mencatat penjualan yang tidak
pernah terjadi. Red Flags terkait dengan jenis transaksi atau hasil pendapatan fiktif,
antara lain:

Peningkatan aset yang tidak biasa(sisi lain dari entri untuk membuat fiktif

pendapatan)
Pelanggan dengan data yang hilang (terutama alamat fisik dan nomor

telepon)
Tidak ada penjelasan perubahan pada hubungan tertentu atau tren rasio

(misalnya, pendapatan tumbuh tapi piutang tidak)


Kewajiban tersembunyi (Pencatatan Kewajiban yang tidak benar)
Keuntungan dapat meningkat tidak etis oleh kewajiban bergerak dari buku
satu entitas ke yang lain. Kewajiban juga dapat disembunyikan dengan tidak
merekam sah kewajiban. Red Flags terkait dengan jenis-jenis transaksi meliputi:
Berlebihan transfer dari satu entitas ke entitas yang terkait
Transfer biasa atau dijelaskan dari satu entitas ke entitas yang terkait

Mempekerjakan perusahaan audit yang berbeda untuk anak yang berbeda

atau terkait badan usaha


Faktur vendor dan transaksi kewajiban lain yang tidak tercatat dalam

buku
Pengungkapan yang tidak memadai
Pengungkapan yang tidak benar dapat menjadi taktik dari penipu untuk
menyembunyikan penipuan. Red Flags meliputi:
Pengungkapan Catatan yang dikaburkan sehingga sulit untuk menentukan

hakikat sebenarnya dari peristiwa atau transaksi


Penemuan kontinjensi hukum yang dirahasiakan, atau acara penting lainnya
Penemuan penipuan yang dirahasiakan
Penilaian Aset yang tidak benar
Keuntungan dapat meningkat dengan meningkatkan nilai aset. Kenaikan itu
dapat menambahkan nilai pada biaya asli atau dengan mengurangi akun kontra
dengan aset yang dapat disusutkan. Red Flags meliputi:
Peningkatan yang tidak biasa atau tidak dijelaskan dalam nilai buku aset

(persediaan,piutang, aset jangka panjang)


Tren yang tidak biasa dalam rasio atau hubungan aset ke bagian lain dari
Laporan keuangan (misalnya, peningkatan secara konsisten dalam jumlah

hari dalam piutang rasio, perubahan rasio piutang terhadap pendapatan)


Pelanggaran GAAP yaitu mencatat beban sebagai aset
Kecenderungan manajemen menjadi tidak responsif ketika auditor internal
melaporkan aset yang perlu dihapus dari neraca (karena mereka telah diduga

telah pensiun, atau dipindahkan ke badan usaha yang berbeda)


2. Skema Penyalahgunaan Aset
Skema
penyalahgunaan asset merupakan
jenis yang paling umum dari
penipuan.Mereka melibatkan pencurian atau penyalahgunaan aset, biasanya uang tunai.
Secara keseluruhan, total 32 skema penipuan individu yang berbeda yang terkandung dalam
kategori utama ini. Skema atau kelompok skema yang akan dibahas dipilih karena
probabilitas terjadinya (yaitu, mereka terjadi lebih sering daripada yang lain) atau biaya
yang lebih tinggi (skema termasuk 14 skema individu teratas).
Pencurian Kas

10

Pencurian uang tunai hanya dilakukan paling mudah oleh karyawan, terjadi
setelah pencurian dicatat dalam buku catatan. Ini termasuk uang tunai dan cek. Red
Flags meliputi:
Penurunan yang tidak biasa atau tidak dapat dijelaskan dalam tingkat

deposito di bank
Perbedaan yang tidak biasa atau tidak dapat dijelaskan antara rekening atau

laporan kegiatan dan informasi laporan bank


Perubahan gaya hidup dari seorang karyawan
Skema Penagihan ( Billing Schemes)
Skema penagihan adalah jenis yang paling umum dari penyalahgunaan aset,
berdasarkan statistik dari ACFE berbagai Laporan untuk laporan Negara. Oleh
karena itu penting untuk dapat mencegah dan mendeteks,mengenali jenis skema
penipuan. Kategori ini juga berisi sejumlah skema yang berbeda.
Perusahaan Shell.
Dalam skema perusahaan Shell, penipu menetapkan perusahaan fiktif
sebagai sarana untuk mengalihkan cek dari karyawan ke penipu. Biasanya vendor
fiktif adalah nama palsu, dan sering alamat adalah kotak pos. Kadang-kadang
pelakunya

akan

menggunakan

derivasi

dari

nama

sah

vendor

untuk

membingungkan mereka yang mungkin melihat cek atau nama fiktif vendor. Red
Flags meliputi:

Penggunaan kotak pos untuk alamat hanya dari vendor, atau sebagai

pengganti dari alamat fisik


Kurangnya data kontak yang cukup: hilang nomor telepon dan sebagainya
Penggunaan faktur excel yang dihasilkan oleh vendor
Nomor faktur berurutan dari vendor
Alamat yang sesuai dengan alamat karyawan
Vendor yang tagihannya hanya untuk layanan
Skema Pass-Through vendor.

11

Mirip dengan skema perusahaan Shell. Dalam skema vendor pass-through,


penjual benar-benar tidak memberikan produk kepada pembeli, namun harga yang
harus dibayar untuk vendor terlalu tinggi. Penipu mempersiapkan vendor semu
untuk tujuan menipu agar perusahaan membayar lebih untuk layanan atau produk
dari yang akan dibayar untuk mengambil kelebihan untuk dirinya sendiri.Red Flags
termasuk banyak yang sama seperti untuk skema shell perusahaan, ditambah:

Tips dari karyawan bahwa entitas membayar terlalu banyak untuk barang

atau jasa tertentu


Bukti bahwa harga tinggi yang dibayar untuk produk atau jasa tertentu
Keuntungan menurun, meningkatnya beban pokok penjualan
Varians tidak menguntungkan pada laporan kinerja
Penjual Nonaccomplice
Dalam skema ini, vendor adalah peserta yang tidak bersalah. Dalam
beberapa cara, penipu membujuk vendor yang sah untuk mengirim cek, biasanya
untuk pengembalian dana, untuk perusahaan. Penipu penyadapan yang memeriksa
dan menempa suatu dukungan untuk uang tunai untuk keuntungan sendiri. Red
flags meliputi:
Gunakan nomor faktur di luar jangkauan operasi normal
Tingkat yang tidak biasa atau dijelaskan pembelian dari vendor
Pembelian yang tidak biasa atau dijelaskan barang tertentu
Pembelian Pribadi
Dalam pembelian penipuan pribadi, penipu hanya memiliki perusahaan
membayar barang-barang pribadi. Dalam kasus General Accounting Office (GAO)
audit pembelian e-procurement, auditor tidak bisa benar memeriksa catatan karena
kurangnya detail yang cukup dalam catatan mereka. Auditor menghubungi
perusahaan kartu kredit dan memperoleh salinan data mereka dari Database
lembaga keuangan. Mereka kemudian diurutkan data melihat Kode barang
dagangan dan menarik orang-orang yang tidak sesuai dengan yang normal

12

menggunakan. Kode-kode termasuk pedagang seperti pelacuran, klub negara, dan


Rahasia. Ribuan dolar dari biaya yang tidak sah yang terdeteksi dengan cara ini.
Perlu dicatat bahwa biaya yang tidak sah dapat dibuat untuk pedagang normal
(misalnya, penerbangan, hotel, penyewaan mobil di kasus ini), dan mereka mungkin
tidak akan terdeteksi dengan menggunakan prosedur audit tertentu ini.Red Flags
meliputi:
Aktivitas yang tidak biasa atau dijelaskan pada kartu kredit korporasi
Pembelian item yang tidak biasa
Konsisten over-budget karyawan
Pola pembelian tepat di bawah ulasan
Skema penggajian
Skema gaji melibatkan menipu perusahaan untuk membayar upah yang tidak
diperoleh. Cara penipuan tersebut bervariasi, tetapi mereka semua menyebabkan
tidak sah peningkatan gaji atau periode gaji yang tidak sah. skema tertentu termasuk
karyawan hantu, dipalsukan upah, komisi, dan pekerja palsu kompensasi.

Ghost Employee
Skema karyawan hantu dilakukan oleh penipu yang menambahkan orang,
fiktif atau nyata, ke file penggajian. Kemudian penipu berhasil mendapatkan
membayar disetujui untuk hantu dan memotong cek atau memiliki itu dikirimkan
kepada kaki tangan atau POB sendiri. Sebagai contoh, sebuah perusahaan
propertymanagement telah memutuskan untuk memperluas ke negara tetangga. Para
manajer bisnis milik keluarga ditugaskan pengelolaan fasilitas remote yang baru
dibuka untuk bestemployee (karyawan terbaik) mereka, wanita yang telah bekerja
untuk mereka selama beberapa tahun, memiliki kepribadian yang hebat, dan sangat
setia. Dia dikirim ke properti baru sebagai satu-satunya karyawan penuh-waktu
yang dicegat gaji ketika itu datang kembali, memalsukan tanda tangannya, dan
dengan demikian meningkatkannya pendapatan pribadi. Dalam hal ini, hantu itu

13

adalah orang-seorang mantan karyawan yang nyata. penipuan karyawan hantu


lainnya menggunakan orang fiktif. Fakta-fakta di balik bagaimana penipuan ini
dilakukan mengarah pada Red Flags, yang menyebabkan cara yang efektif untuk
mendeteksi penipuan.Red Flags meliputi:

Peningkat Unexplained atau tidak biasa beban upah


Gaji bagi karyawan yang:
Jangan pernah berlibur
Jangan pernah mengambil cuti sakit
Apakah ada pajak yang dipotong
Memiliki tidak ada pemotongan
Tidak memiliki nomor Jaminan Sosial (SSN) atau salah satu yang
tidak valid
Memiliki POB dan tidak ada alamat fisik
Memiliki alamat diduplikasi oleh karyawan lain, atau itu adalah
alamat keluarga atau teman
Tidak memiliki nomor telepon, atau menggandakan nomor telepon,
atau telepon nomor adalah ponsel karya majikan daripada tempat

tinggal
Memiliki duplikat langsung nomor penyimpanan
Memiliki tanggal gaji setelah penghentian karyawan
Skema Komisi
Komisi melibatkan manipulasi penipuan komisi dibayar, baik tingkat atau
penjualan. Red Flags termasuk :

Peningkatan beban komisi yang tidak biasa


Perubahan tingkat komisi dari waktu ke waktu
Tingkat n yang lebih tinggi dari pengembalian atau kredit untuk satu penjual

Skema Upah yang Dipalsukan


Skema ini terdiri dari karyawan sah tercatat pada Data tidak sah penggajian
(jam kerja, jumlah gaji, dll) Red Flags meliputi:
Jumlah uang lembur yang tidak biasa
Perubahan tingkat gaji yang tidak biasa

14

Pembayaran yang tidak jelas atas jam kerja


Check Tampering
Lima check tampering membuat kerugian yang paling mahal dari penipuan.
Dengan demikian, mereka layak perhatian ekstra dalam memahami hal ini dan di
mengembangkan metode deteksi dan pencegahan dan kontrol. Periksa gangguan
dasarnya melibatkan menggunakan cek entitas dalam satu cara atau yang lain untuk
mengambil uang tunai dari organisasi korban.
Dengan munculnya kliring cek elektronik (Lihat 21) aturan, banyak dari Red
Flags (terutama yang berkaitan dengan dukungan) menjadi lebih sulit untuk
mengamati, sebagai cek dipotong oleh sistem perbankan. Oleh karena itu, penting
untuk memilih bank entitas hati-hati. Memilih bank yang memindai kedua bagian
depan dan belakang cek, dan menyediakan pelanggan dengan akses ke kedua
gambar (depan dan belakang) melalui Internet. Red Flags meliputi:
Terlalu banyak cek kosong
Kehilangan cek
Penerima pembayaran dipertanyakan
Menduplikasi atau ceknya keluar dari urutan
Skimming
Penipuan Skimming terjadi sebelum entri pesanan dibuat. Karena itu adalah
penipuan off-the-buku, itu adalah salah satu yang paling sulit dideteksi. salah satu
metodologi untuk mendeteksi skimming adalah untuk melakukan invigilation.
Invigilation adalah penciptaan, lingkungan penipuan bebas murni untuk tujuan
benchmarking total penerimaan yang harus normal. Efek ini murni dapat dibuat oleh
investigasi profil tinggi, di mana semua orang tahu bahwa auditor penipuan yang
datang untuk mencari penipuan. Tambahkan kamera untuk pengawasan dan apa pun
yang akan meningkatkan tingkat perhatian audit penipuan. Tujuannya adalah untuk
menciptakan seperti tingkat tinggi persepsi deteksi bahwa penipu menutup mereka
menggelapkan sementara sehingga auditor penipuan dapat menentukan tingkat yang
normal penjualan.

15

Benchmark yang kemudian dapat dibandingkan dengan penjualan aktual


untuk menentukan apakah, dan kira-kira berapa banyak, skimming berlangsung.
individu skema skimming terkait dengan penjualan (tenaga penjual tercatat,
penjualan bersahaja), piutang (skema write-off, skema memukul-mukul, skema
disembunyikan), dan pengembalian uang. Seperti beberapa skema lainnya,
skimming dapat biasanya tidak akan dilakukan di jangka panjang tanpa penemuan
jika pengendalian internal beroperasi secara efektif. Red Flags meliputi:
Pendapatan lebih rendah dari pendapatan yang diharapkan
Keuntungan aktual yang kurang dari proyeksi
Gross margin secara signifikan kurang dari proyeksi
Lapping
Lapping yang menggelapkan piutang (AR) pembayaran sebelum diposkan.
Lapping lebih sulit untuk menyembunyikan dari menggelapkan uang dalam bisnis
kas karena pelanggan mengharapkan untuk segera dikreditkan dengan pembayaran
di akun. Red Flags meliputi:

Keluhan pelanggan tentang pembayaran yang diposting lama setelah

pengecekan diposkan
Adanya memanipulasikan angka piutang

3. Skema Korupsi
Ada empat subkategori korupsi dalam skema penipuan, enam mikro kategori, dan
total delapan skema individu yang berbeda. skema korupsi selalu melibatkan dua pihak,
bahkan jika salah satu tidak bersedia. skema korupsi yang paling umum adalah konflik
kepentingan, suap, dan pemerasan.
1. Konflik kepentingan

16

Fraud konflik kepentingan melibatkan karyawan dengan hubungan dengan pihak


ketiga dimana karyawan dan / atau pihak ketiga mendapatkan keuntungan finansial. penipu
memiliki pengaruh untuk kepentingan pihak ketiga karena kepentingan pribadi ini di pihak
ketiga. Entitas harus memiliki kebijakan (etika atau penipuan) yang secara khusus melarang
kegiatan semacam ini. Red Flags meliputi:

Sebuah volume besar transaksi dengan vendor tertentu


Penemuan hubungan antara karyawan dan pihak ketiga yang sebelumnya

tidak diketahui
Lemahnya pemisahan tugas dalam menentukan kontrak dan menyetujui

faktur
2. Penyuapan
Penipuan suap melibatkan pembayaran untuk mempengaruhi karyawan untuk
mengirim bisnis untuk vendor membuat pembayaran. Penipuan dalam kelompok ini
termasuk suap, pengaturan tawaran, dan lain-lain. Red Flags meliputi:

Perubahan gaya hidup karyawan


Penemuan hubungan antara karyawan dan vendor
Lemahnya pemisahan tugas dalam menyetujui vendor dan faktur

3. Pemerasan ekonomi
Pada dasarnya, pemerasan ekonomi adalah kebalikan dari penipuan suap. Alih-alih
vendor menawarkan suap, karyawan menuntut pembayaran dari vendor untuk
menguntungkan vendor. Red Flags dan metode deteksi untuk kasus ini sama seperti
penyuapan.
E. MODEL PENDETEKSIAN FRAUD
Auditor sering menemukan transaksi, catatan akuntansi, atau data akuntansi yang
tidak benar, yang merupakan pengecualian dari beberapa jenis. Terutama, penyimpangan
pengecualian untuk kebijakan, prosedur, atau kontrol internal. Sering sekali peristiwa dan
17

transaksi ini merupakan kesalahan kecil dalam pencatatan akuntansi, karena beberapa
kemungkinan alasan termasuk human error. Tapi kadang-kadang mereka adalah bukti dari
Fraud. Auditor keuangan dapat berisiko jika mereka memeriksa transaksi dan menemukan
dugaan bukti penipuan, dan kemudian memilih untuk memperluas sampel, atau
mengabaikan transaksi karena tidak material dari transaksi tunggal. Setidaknya beberapa
ahli akuntansi forensik di akuntan publik merekomendasikan membawa ahli materi
pelajaran (UKM) saat di atas terjadi, daripada mengambil salah satu dari dua pilihan lain.
Mengenali tanda-tanda penipuan (Red Flags) pada awalnya sulit karena sifat jinak
jelas mereka, terutama ketika mempertimbangkan transaksi, dokumen, atau peristiwa
tunggal. Sebagai contoh, auditor internal melakukan review file vendor dan mengambil
faktur dan menemukan POB sebagai alamat dan tidak ada alamat fisik pada faktur. Banyak
vendor ingin cek dan remittance dikembalikan ke POB. Tetapi juga benar bahwa POB dan
tidak ada alamat fisik di faktur adalah Red Flags untuk skema penagihan. Jadi apakah
seharusnya itu diabaikan? Apakah itu memiliki arti? Mungkin tidak, tetapi tidak boleh
diabaikan. Sebuah anomali tunggal atau fakta bisa memegang hubungan antara kejadian
satu dan lainnya dalam menjelaskan Fraud. Sehingga beberapa model untuk
mengumpulkan dan mengklasifikasikan anomali (pengecualian) akan bermanfaat untuk
auditor dan kekhawatiran antifraud.
Tanggapan direkomendasikan dalam situasi seperti ini didasarkan pada konsep yang
serupa dengan materialitas dalam audit keuangan. Ketika auditor keuangan menemukan
salah saji yang tidak material terhadap akun atau kelas rekening, dia tidak mengabaikan
salah saji tersebut. Sebaliknya ia menempatkan salah saji yang menjadi file yang akan
diakumulasikan dengan salah saji lainnya. Tujuan dari akumulasi adalah untuk menentukan
apakah salah saji yang material dalam agregat. Proses yang sama dan tujuan harus berlaku
untuk audit penipuan dan anomali (khususnya Red Flags). Artinya, faktor individu dan
bukti harus dipertimbangkan dalam konteks bagaimana mereka diselaraskan dengan
berkontribusi dalam bukti dan kemungkinan.kumulatif

18

Jika jumlah auditor yang terlibat dalam audit, dapat dibayangkan bahwa setiap dari
mereka diamati satu atau dua Red Flags namun membiarkannya. Alasan mereka akan
cukup valid secara individual. Tapi sejumlah anomali yang lebih besar untuk dibiarkan?
Pertanyaan harus dijawab, karena itu, adalah anomali ini, Red Flags yang signifikan dalam
agregat? Tidak ada cara untuk mengetahui tanpa proses formal dalam audit untuk
mengumpulkan anomali.

19