Anda di halaman 1dari 13

PROSES DAN SISTEM KERJA GAMETOGENESIS SECARA

FISIOLOGIS DAN ANATOMI PADA MANUSIA

Disusun untuk memenuhi tugas praktikum mata kuliah KKPMT 4

Disusun Oleh :
Mitha Audia Rachma
G41140248 / A

PROGRAM STUDI D-IV REKAM MEDIK


JURUSAN KESEHATAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2016

1. Menggambarkan dan menguraikan proses gametogenesis secara fisiologis dan


anatomi pada manusia
A. Gametogenesis
Proses pembentukan

gamet

atau

sel

kelamin

disebut

gametogenesis, ada dua jenis proses pembelahan sel yaitu mitosis dan
meiosis. Bila ada sel tubuh kita yang rusak maka akan terjadi proses
penggantian dengan sel baru melalui proses pembelahan mitosis,
sedangkan sel kelamin atau gamet sebagai agen utama dalam proses
reproduksi manusia menggunakan proses pembelahan meiosis. Seperti
yang sudah kita ketahui bersama bahwa mitosis menghasilkan sel baru
yang jumlah kromosomnya sama persis dengan sel induk yang bersifat
diploid (2n) yaitu 23 pasang/ 46 kromosom, sedangkan pada meiosis
jumlah kromosom pada sel baru hanya bersifat haploid (n) yaitu 23
kromosom. Gametogenesis ada dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis,
a. Spermatogenesis
Sperma dihasilkan oleh tubulus seminiferus yang memiliki panjang
250 m dalam testes. Sel-sel yang berada di tubulus seminiferus berupa
sel germinal dengan bermacam-macam tahap perkembangan dan sel
Sertoli yang memberikan dukungan penting pada spermatogenesis.
Spermatogenesis adalah proses kompleks sel germinal premordial
spermatogonia (46 kromosom) berproliferasi dan dikonversi menjadi
spermatozoa motil (23 kromosom).
Prosesnya memerlukan waktu 64 hari dengan 3 tahap: mitosis,
meiosis, dan spermiogenesis. Spermatozoa memiliki 4 bagian, yaitu
kepala, akrosom, midpiece, dan ekor. Kepala terdiri dari nukleus yang
terdapat informasi genetik. Akrosom adalah vesikel pada kepala yang

terdapat enzim yang digunakan untuk penetrasi sperma. Akrosom


dibentuk

dengan

agregasi

vesikel

dihasilkan

oleh

retikulum

endoplasmik/ kompleks golgi.


Mobilitas spermatozoa dapat terjadi karena adanya ekor yang
panjang yang tumbuh dari sentriol. Pergerakan ekor terjadi hasil dari
pergerakan mikrotubul yang menggunakan energi (ATP) dari
mitokondria yang berada pada bagian midpiece sperma.
Pada proses spermatogenesis terjadi proses-proses dalam istilah
sebagai berikut :
1) Spermatositogenesis (spermatocytogenesis) adalah tahap awal
dari

spermatogenesis

spermatogonium

menjadi

yaitu

peristiwa

spermatosit

primer

pembelahan
(mitosis),

selanjutnya spermatosit melanjutkan pembelahan secara


meiosis menjadi spermatosit sekunder dan spermatid. Istilah
ini biasa disingkat proses pembelahan sel dari spermatogonium
menjadi spermatid.
2) Spermiogenesis (spermiogensis) adalah peristiwa perubahan
spermatid menjadi sperma yang dewasa.Spermiogenesis terjadi
di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2
hari. Terbagi menjadi tahap :
a) Pembentukan golgi, axonema dan kondensasi DNA,
b) Pembentukan cap akrosom,
c) Pembentukan bagian ekor,
d) Maturasi, reduksi sitoplasma difagosit oleh sel Sertoli.
3) Spermiasi (Spermiation) adalah peristiwa pelepasan sperma
matur dari sel sertoli ke lumen tubulus seminiferus selanjutnya
ke epididimidis. Sperma belum memiliki kemampuan bergerak
sendiri (non-motil). Sperma non motil ini ditranspor dalam

cairan testicular hasil sekresi sel Sertoli dan bergerak menuju


epididimis karena kontraksi otot peritubuler. Sperma baru
mampu bergerak dalam saluran epidimis namun pergerakan
sperma dalam saluran reproduksi pria bukan karena motilitas
sperma sendiri melainkan karena kontraksi peristaltik otot
saluran.
Proses spermatogenesis ini dapat terjadi karena dukungan dari sel
Sertoli. Fungsi penting sel Sertoli selama proses spermatogenesis
antara lain:
1) Sel Sertoli membentuk tight junction sebagai barrier
spermatozoa

dengan

darah

sehingga

dapat

mencegah

pembentukan antibodi yang dapat menyerang sel spermatozoa


(dianggap sebagai zat asing karena haploid, sel tubuh bersifat
diploid).
2) Memberikan makanan.
3) Sel Sertoli berfungsi untuk memfagosit sitoplasma dari
spermatid

yang

berubah

menjadi

spermatozoa

dan

menghancurkan sel germinal yang rusak.


4) Sel Sertoli membentuk lumen cairan tubulus seminiferus
sehingga sperma dapat dilepaskan dari tubulus ke epididimis
untuk disimpan dan diproses lebih lanjut.
5) Sel Sertoli mensekresi androgen-binding protein (ABP). ABP
berfungsi untuk mempertahankan testosteron tetap berada
dalam tubulus seminiferus, karena testosteron berupa lipid
yang mudah keluar dari membran plasma dan meninggalkan
lumen.

6) Menghasilkan hormon inhibin sebagai umpan balik negatif


yang mengontrol sekresi FSH.

Meskipun testosteron merupakan hormon pada pria dan estrogen


merupakan hormon pada wanita, namun ditemukan sejumlah kecil
estrogen yang dihasilkan oleh korteks adrenal. Sejumlah kecil

testosteron dikonversi menjadi estrogen di testes oleh enzim


aromatase, yang terdistribusi dalam saluran reproduksi. Estrogen juga
berada pada jaringan adiposa. Reseptor estrogen diidentifikasi berada
di testes, prostat, tulang, dan bagian lain pada pria.
Penelitian terbaru membuktikan bahwa estrogen berperan penting
dalam spermatogenesis, berkontribusi pada seksualitas normal, dan
homeostasis tulang. Mekanisme kerja estrogen belum banyak
terungkap. Demikian juga pada wanita, terdapat hormon DHEA
(androgen lemah) yang dihasilkan oleh korteks adrenal. Selain itu,
sejumlah

kecil

testosteron

dihasilkan

pada

ovarium

wanita.

Prostaglandin pertama kali diidentifikasi berada di semen. Produksi


dan aktifitasnya tidak hanya terdapat di sistem reproduksi.
Protaglandin berbentuk derivat 20 karbon asam lemak. Mereka
dihasilkan pada semua jaringan dari asam arakhidonat, suatu asam
lemak bagian phospholipid dalam membran plasma. Derivat asam
arakhidonat yang lain yang termasuk kategori prostaglandin antara
lain: prostacyclins, thromboxanes, dan leukotriens.
Prostaglandin didesain membentuk 3 kelompok: PGA, PGE, dan
PGF dengan struktur yang bervariasi pada cincin 5 karbon pada
bagian akhir. Pada sistem reproduksi, prostaglandin berfungsi untuk
meningkatkan trasnsport sperma dengan aktifitasnya pada otot polos
saluran reproduksi pria dan wanita, berperan pada menstruasi, ovulasi,

berkontribusi pada persiapan bagian plasenta ibu, dan berkontribusi


pada saat melahirkan (partus).
b. Oogenesis

Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam


ovarium. Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel-sel telur
yang disebut oogonia (tunggal: oogonium). Pembentukan sel telur
pada manusia dimulai sejak di dalam kandungan, yaitu di dalam ovari
fetus perempuan. Pada akhir bulan ketiga usia fetus, semua oogonia
yang bersifat diploid telah selesai dibentuk dan siap memasuki tahap
pembelahan. Semula oogonia membelah secara mitosis menghasilkan
oosit primer.
Pada perkembangan fetus selanjutnya, semua oosit primer
membelah secara miosis, tetapi hanya sampai fase profase.
Pembelahan miosis tersebut berhenti hingga bayi perempuan
dilahirkan, ovariumnya mampu menghasilkan sekitar 2 juta oosit
primer

mengalami

kematian

setiap

hari

sampai

masa

pubertas. Memasuki masa pubertas, oosit melanjutkan pembelahan


miosis I. hasil pembelahan tersebut berupa dua sel haploid, satu sel
yang besar disebut oosit sekunder dan satu sel berukuran lebih kecil
disebut badan kutub primer.
Pada tahap selanjutnya, oosit sekunder dan badan kutub primer
akan mengalami pembelahan miosis II. Pada saat itu, oosit sekunder
akan membelah menjadi dua sel, yaitu satu sel berukuran normal
disebut ootid dan satu lagi berukuran lebih kecil disebut badan polar
sekunder. Badan kutub tersebut bergabung dengan dua badan kutub

sekunder lainnya yang berasal dari pembelahan badan kutub primer


sehingga diperoleh tiga badan kutub sekunder.
Ootid mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi ovum
matang, sedangkan ketiga badan kutub mengalami degenerasi
(hancur). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada oogenesis
hanya menghasilkan satu ovum.
Proses pembentukan oogenesis dipengaruhi oleh kerja beberapa
hormon, diantaranya:
Pada wanita usia reproduksi terjadi siklus menstruasi oleh aktifnya
aksis hipothalamus -hipofisis - ovarium. Hipothalamus menghasilkan
hormon GnRH (gonadotropin releasing hormone) yang menstimulasi
hipofisis mensekresi hormon FSH (follicle stimulating hormone) dan
LH (lutinuezing hormone). FSH dan LH menyebabkan serangkaian
proses di ovarium sehingga terjadi sekresi hormon estrogen dan
progesteron. LH merangsang korpus luteum untuk menghasilkan
hormon progesteron dan meransang ovulasi. Pada masa pubertas,
progesteron

memacu

tumbuhnya

sifat

kelamin

sekunder.FSH

merangsang ovulasi dan meransang folikel untuk membentuk


estrogen,

memacu

perkembangan

folikel. Hormon

prolaktin

merangsang produksi susu. Mekanisme umpan balik positif dan


negatif aksis hipothalamus hipofisis ovarium.

2. Sistem Kerja Fisiologis pada Proses gametogensis terkait pada manusia


A. Spermatogenesis

Sel sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melewati
sebuah proses kompleks yang disebut dengan spermatogenesis. Secara
simultan proses ini memproduksi sperma matang di dalam tubulus
seminiferus lewat langkah-langkah berikut ini:
1) Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai
14 tahun, sel kelamin jantan primitif yang belum terspesialisasi dan
disebut dengan spermatogonium menjadi diaktifkan oleh sekresi
hormon testosteron.
2) Masing-masing spermatogonium membelah secara mitosis untuk
menghasilkan dua sel anak yang masing-masing berisi 46 kromosom
lengkap.
3) Dua sel anak yang dihasilkan tersebut masing-masing disebut
spermatogonium yang kembali melakukan pembelahan mitosis untuk
menghasilkan sel anak, dan satunya lagi disebut spermatosit primer
yang berukuran lebih besar dan bergerak ke dalam lumen tubulus
seminiferus.
4) Spermatosit primer melakukan meiosis untuk menghasilkan dua
spermatosit sekunder yang berukuran lebih kecil dari spermatosit
primer. Spermatosit sekunder ini masing-masing memiliki 23
kromosom yang terdiri atas 22 kromosom tubuh dan satu kromosom
kelamin (Y atau X).
5) Kedua spermatosit sekunder tersebut melakukan mitosis untuk
menghasilkan empat sel lagi yang disebut spermatid yang tetap
memiliki 23 kromosom.
6) Spermatid kemudian berubah menjadi spermatozoa matang tanpa
mengalami pembelahan dan bersifat haploid (n) 23 kromosom.

Keseluruhan proses spermatogenesis ini menghabiskan waktu sekitar


64 hari.

B. Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pematangan ovum di dalam ovarium. Tidak
seperti spermatogenesis yang dapat menghasilkan jutaan spermatozoa
dalam waktu yang bersamaan, oogenesis hanya mampu menghasilkan
satu ovum matang sekali waktu. Mari kita simak prosesnya lebih lanjut:

1) Oogonium yang merupakan prekursor dari ovum tertutup dalam


folikel di ovarium.
2) Oogonium berubah menjadi oosit primer, yang memiliki 46
kromosom. Oosit primer melakukan meiosis , yang menghasilkan
dua sel anak yang ukurannya tidak sama.
3) Sel anak yang lebih besar adalah oosit sekunder yang bersifat
haploid. Ukurannya dapat mencapai ribuan kali lebih besar dari
yang lain karena berisi lebih banyak sitoplasma dari oosit primer.
4) Sel anak yang lebih kecil disebut badan kutub pertama yang
kemudian membelah lagi.
5) Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba
Fallopi. Apabila oosit sekunder difertilisasi, maka akan mengalami
pembelahan meiosis yang kedua . begitu pula dengan badan polar
pertama membelah menjadi dua badan kutub kedua yang akhirnya
mengalami degenerasi. Namun apabila tidak terjadi fertilisasi,
menstruasi dengan cepat akan terjadi dan siklus oogenesis diulang
kembali.
6) Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit sekunder menjadi
bersifat haploid dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut
dengan ootid. Ketika inti nukleus sperma dan ovum siap melebur
menjadi

satu,

saat

itu

juga

ootid

kemudian

mencapai

perkembangan finalnya menjadi ovum yang matang.


7) Kedua sel haploid (sperma dan ovum) bersatu membentuk sel
zygot yang bersifat dipoid (2n).

C. Fertilisasi
Fertilisasi adalah pembuahan ovum oleh sperma yang pada
umumnya terjadi di tuba fallopi. Supaya berhasil, fertilisasi harus terjadi
sebelum 24 jam setelah terjadinya ovulasi karena dalam jangka waktu
itulah ovum dapat dibuahi, sedangkan sperma dapat bertahan 72 jam di
dalam tubuh wanita. Saat ejakulasi, jutaan sperma memasuki saluran
vagina wanita, apabila coitus dilakukan pada waktu yang sama dengan
ovulasi maka beberapa sperma ini akan berkelana ke arah yang

berlawanan dengan arah gerak ovum, namun hanya satu yang dapat
masuk dan membuahi ovum.
Setelah sperma masuk ovum, kepalanya membangkak cepat untuk
membentuk pronukleus jantan. Kemudian, 23 kromosom pronukleus
jantan dan 23 kromosom pronukleus betina saling bersekutu untuk
membentuk kembali unsur 46 kromosom dalam ovum yang telah
mengalami fertilisasi. Seks anak ditentukan oleh jenis sperma yang
memfertilsasi ovum, apakah mengandung kromosom X atau kromosom Y.
Sedangkan ovum hanya mempunyai kromosom X dan tidak pernah
mempunyai kromosom Y.
Setelah penggabungan pronukleus jantan dan betina waktu
fertilisasi, ovum yang telah mengalami fertilisasi kemudian mengandung
44 kromosom autosom dan dua kromosom X yang menyebabkan
terbentuknya anak perempuan, atau kromosom X dan Y yang
menyebabkan terbentuknya anak pria.
DAFTAR PUSTAKA

http://staff.ui.ac.id/system/files/users/tutinfik/material/ebookbioteknologipdsi stemreproduksi.pdf
http://wanenoor.blogspot.co.id/2012/05/gametogenesis-prosesspermatogenesis. html#.WBAF_OWLTIU