Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Senyawa Obat
Senyawa obat adalah zat kimia (sintetik/alami) selain
makanan yang bertujuan untuk mempengaruhi fungsi tubuh,
biokimiawi, psikologis dan khususnya untuk diagnosa, pengobatan,
melunakkan, penyembuhan, atau pencegahan penyakit pada
manusia atau hewan.
Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk
diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah
penyakit pada manusia atau hewan.
Menurut PerMenKes 917/MenKes/Per/X/1993, obat (jadi)
adalah senyawa atau padu-paduan yang siap digunakan untuk
mempengaruhi/menyelidiki secara fisiologis dalam rangka
penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Obat merupakan sediaan atau padu-paduan bahan-bahan
yang siap digunakan untuk mempengaruhi/menyelidiki system
fisiologis atau keadaan patologi dalam rangka penetapan
diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen
Kesehatan RI, 2005)
Obat yang diberikan pada pasien akan banyak mengalami
proses sebelum tiba pada tempat tujuannya dalam tubuh , yaitu
tempat kerjanya atau reseptor, obat harus mengalami beberapa
proses. Obat yang masuk kedalam tubuh melalui berbagai cara
pemberian umumnya mengalami absorpsi, distribusi, dan
pengikatan untuk sampai ditempat kerja dan menimbulkan efek.
Kerja suatu obat merupakan hasil dari banyak sekali proses dan

umumnya ini didasari suatu rangkaian reaksi yang dibagi dalam


tiga fase:
1 Fase Farmasetik
Fase ini meliputi proses fabrikasi, pengaturan dosis, formulasi,
bentuk sediaan, pemecahan bentuk sediaan dan terlarutnya obat
aktif. Karena itu fase ini utamanya ditentukan oleh sifat-sifat
galenik obat. Fase ini berperan dalam ketersediaan obat untuk
diabsorpsi ke dalam tubuh (ketersediaan farmasetik).
2 Fase Farmakokinetik
Fase ini meliputi proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan
ekskresi. Fase ini berperan dalam menentukan ketersediaan obat
dalam plasma (ketersediaan hayati) sehingga dapat
menimbulkan efek. Fase ini termasuk bagian proses invasi dan
eliminasi. Yang dimaksud dengan invasi adalah proses-proses
yang berlangsung pada pengambilan suatu bahan obat dalam
organisme, sedangkan eliminasi merupakan proses-proses yang
menyebabkan penurunan konsentrasi obat dalam organisme.
Obat dalam tubuh mengalami fase farmakokinetik, yaitu ADME
(Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Ekskresi).
1) Absorpsi
Absorpsi adalah proses perpindahan obat dari tempat
pemberian/aplikasi menuju ke sirkulasi/peredaran darah yang
selanjutnya mencapai target aksi obat. Hal ini menyangkut
kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan
dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan.
Tapi secara klinik yang paling penting adalah bioavailibilitas.
Istilah ini menyatakan jumlah obat dalam persen yang
mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi
karena obat-obat tertentu tidak semua diabsorpsi dari tempat

pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan


dimetabolisme oleh enzim di dinding usus pada pemberian
per oral atau dimetabolisme dihati pada first pass
metabolism. Obat demikian memiliki bioavailibilitas rendah.

Absorpsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:


a Sifat fisika-kimia obat
b Bentuk sediaan obat
c Dosis obat
d Rute dan cara pemberian
e Waktu kontak dengan permukaan absorpsi
f

Luas permukaan tempat absorpsi

g Nilai PH cairan pada tempat absorpsi


h Integritas membrane
i

Aliran darah pada tempat absorpsi

Jumlah obat yang diabsorpsi dipengaruhi oleh:


a Luas permukaan absorpsi
Semakin luas permukaan absorpsi, maka jumlah obat yang
diabsorpsi semakin banyak dan semakin sempit
permukaan absorpsi maka jumlah obat yang diabsorpsi
semakin sedikit.
b Banyaknya membrane yang dilalui obat
Semakin banyak membrane yang dilalui, maka obat yang
diabsorpsi semakin sedikit. Sebaliknya, jika membrane
yang dilalui sedikit maka obat yang diabsorpsi semakin
banyak.
c Banyaknya obat yang terdegradasi
Semakin banyak obat yang terdegradasi, maka obat yang
diabsorpsi semakin sedikit, begitu pula sebaliknya.
d Jumlah ikatan depot

Banyaknya ikatan depot obat dengan molekul tidak aktif


(albumin, lemak, tulang) berpengaruh pada jumlah obat
yang diabsorpsi, yaitu semakin banyak ikatan depot maka
semakin sedikit jumlah obat yang diabsorpsi, begitu pula
dengan sebaliknya.

Mekanisme absorpsi obat dapat terjadi melalui beberapa cara,


yaitu:
a Difusi pasif
Proses perpindahan molekul obat yang bersifat spontan,
mengikuti gradient konsentrasi, dari konsentrasi tinggi
(hipertonis) ke konsentrasi yang rendah (hipotonis),
berbanding lurus dengan luas permukaan absorpsi,
koefisien distribusi senyawa yang bersangkutan, dan
koefisien difusi serta berbanding terbalik dengan tebal
membrane.
b Transpor aktif
Molekul ditranspor melawan gradient transportasi. Proses
ini memerlukan adanya energi dan dapat dihambat oleh
senyawa analog, secara kompetitif dan secara tak
kompetitif oleh racun metabolisme.
c Difusi terfasilitasi
Molekul hidrofil sulit untuk menembus merman yang
komposisi luarnya adalah lipid, maka berikatan dengan
suatu protein pembawa yang spesifik. Pembawa dan
kompleks pembawa-substrat dapat bergerak bebas dalam
membran, dengan demikian penetrasi zat yang ditransport
melalui membrane sel lipofil kedalam bagian dalam sel
dipermudah.

2) Distribusi

Setelah obat diabsorpsi kedalam aliran darah, untuk mencapai


tepat pada letak dari aksi harus melalui membrane sel yang
kemudian dalam peredaran, kebanyakan obat-obatan
didistribusikan melalui cairan badan. Distribusi merupakan
transfer obat yang reversible antara letak jaringan dan plasma.
Pola distribusi menggambarkan permainan dalam tubuh oleh
beberapa factor yang berhubungan dengan permeabilitas,
kelarutan dalam lipid dan ikatan pada makromolekul. Distribusi
obat dibedakan menjadi dua fase berdasarkan penyebarannya
dalam tubuh. Fase pertama terjadi segera setelah penyerapan
yaitu kedalam organ yang perfusinya sangat baik misalnya
jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya distribusi fase kedua
jauh lebih luas, yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak
sebaik jaringan diatas yang meliputi otot, visera, kulit dan
jaringan lemak. Factor-faktor yang berhubungan dengan
distribusi obat dalam badan adalah:
a) Perfusi darah melalui jaringan
b) Kadar gradient, PH, dan ikatan zat dengan makromolekul
c) Partisi kedalam lemak
d) Transport aktif
e) Sawar
f) Ikatan obat dengan protein plasma

3) Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme adalah proses perubahan
struktur kimia obat didalam tubuh yang dikatalisis oleh enzim.
Pada proses ini molekul obat diubah menjadi bentuk yang lebih
polar atau lebih mudah larut didalam air dan sukar larut didalam
lemak sehingga mudah diekskresi melalui ginjal. Selain intu pada

umumnya obat diubah menjadi bentuk inaktif, sehingga proses


biotransformasi menentukan dalam mengakhiri kerja obat.
4) Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi
dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk
asalnya. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting.
Ekskresi pada ginjal merupakan resultan dari tiga proses yaitu
filtrasi diglomerulus, sekresi aktif di tubulus proximal dan
reabsorpsi pasif di tubulus proximal dan distal. Ekskresi obat
selain pada ginjal juga dapat terjadi melalui air liur, keringat, air
mata, air susu dan rambut.
3 Fase Farmakodinamik
Fase terjadinya interaksi obat-reseptor dalam target aksi obat.
Fase ini berperan dalam menentukan seberapa besar efek obat
dalam tubuh.
2.2. Rute Pemberian Obat
Suatu obat mungkin lebih efektif jika diberikan melalui salah
satu cara pemberian, tetapi tidak atau kurang efektif melalui cara
pemberian yang lain. Perbedaan ini salah satunya dapat
disebabkan oleh adanya perbedaan kecepatan absorpsi dari
berbagai cara pemberian tersebut. Konsekuensinya, efek
farmakologi yang ditimbulkan juga berbeda untuk masing-masing
pemberian. Berikut ini ada beberapa cara pemberian obat
berdasarkan ada tidaknya intervensi saluran pencernaan (melewati
gastrointestinal)
a Enteral
Jalur enteral berarti pemberian obat melalui saluran
gastrointestinal (GI), seperti pemberian obat melalui sublingual,

bukal, rektal, dan oral. Merupakan cara pemberian obat melalui


saluran pencernaan, umumnya obat ditujukan untuk efek secara
sistemik. Contoh pemberian obat secara enteral yaitu:
Per oral (p.o)
Pemberian obat yang rutenya melalui saluran
pencernaan dan pemberian melalui mulut.. Pada pemberian
secara oral, sebelum obat masuk ke peredaran darah dan
didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih dahulu harus
mengalami absorbsi pada saluran cerna. Untuk tujuan terapi
serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral
adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta
umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang
mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada
keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki
onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat
dipakai.
Keuntungannya relatif aman, praktis (dapat dilakukan
sendiri tanpa keahlian dan alat khusus), ekonomis. Kerugian
dari pemberian obat secara peroral adalah efeknya lambat
karena absorpsi tidak teratur, mengiritasi saluran pencernaan
(usus dan lambung), tidak dapat diberikan pada pasien yang
tidak sadar atau tidak dapat menelan seperti pasien yang
sering muntah, diare, tidak kooperatif untuk obat iritatif, rasa
tidak enak sehingga dapat mengurangi kepatuhan, dan obat
yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak
bermanfaat (penisilin G, insulin tidak 100% obat diserap).
Obat dapat mengalami metabolisme lintas pertama dan
absorbsi dapat tergganggu dengan adanya makanan
Pada pemberian per oral, banyak faktor dapat
mempengaruhi bioavaibilitas obat. Karena ada obat-obat yang
tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan

mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan dimetabolisme


oleh enzim di dinding usus dan atau di hati pada lintasan
pertamanya melalui organ-organ tersebut (metabolisme atau
eliminasi lintas pertama). Eliminasi lintas pertama obat dapat
dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral,
sublingual, rektal, atau memberikannya bersama makanan.
Absorbsi obat yang terganggu sehingga obat tidak
diserap hingga 100% dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara
lain:

Jumlah makanan dalam lambung

Kemungkinan obat dirusak oleh reaksi asam lambung atau


enzim gastrointestinal, misalnya insulin yang harus
diberikan secara peroral akan dirusak oleh enzim
proteolitik dari saluran gastrointestinal.

Pada keadaan pasien muntah-muntah sehingga obat tidak


dapat diabsorpsi.

Dikehendaki kerja awal yang cepat.

Ketersediaan hayati yaitu persentase obat yang diabsorpsi


tubuh dari suatu dosis yang diberikan dan tersedia untuk
memberi efek terapeutik.
Tujuan penggunaan obat melalui oral terutama untuk

memperoleh efek sistemik, yaitu obat masuk melalui


pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh setelah terjadi
absorpsi obat dari bermacam-macam permukaan sepanjang
saluran gastrointestinal. Tetapi ada obat yang memberi efek
lokal dalam usus atau lambung karena obat yang tidak larut,
misalnya obat yang digunakan untuk membunuh cacing dan
antasida yang digunakan untuk menetralkan asam lambung.
b

Parenteral

Cara pemberian ini tidak memasukkan obat ke dalam tubuh melalui saluran cerna.
Pemberian obat secara intravaskuler termasuk ke dalam parenteral.
2.3. Model Farmakokinetika
Model farmakokinetik merupakan model matematika yang
menggambarkan hubungan antara dosis dan konsentrasi obat dalam
setiap individu. Parameter dari model menggambarkan faktor-faktor
yang dipercaya penting dalam penentuan observasi dari konsentrasi
atau efek obat. Parameter tersebut antara lain terdiri dari beberapa
parameter antara lain parameter primer yang terdiri dari volume
distribusi (Vd); klirens (Cl); dan kecepatan absorbsi (Ka), parameter
sekunder terdiri dari kecepatan eliminasi (K); dan waktu paruh (T1/2),
serta parameter-parameter turunan. Model farmakokinetik tersebut
mempunyai aplikasi langsung untuk terapi obat berkenaan dengan
menentukan aturan dosis yang sesuai (Aiache, 1993).
Kompartemen adalah suatu kesatuan yang dapat digambarkan
dengan suatu volume tertentu dan suatu konsentrasi. Perilaku obat
dalam sistem biologi dapat digambarkan dengan kompartemen satu
atau kompartemen dua. Kadang-kadang perlu untuk menggunakan
multikompartemen, dimulai dengan determinasi apakah data
eksperimen cocok atau pas untuk model kompartemen satu dan jika
tidak pas coba dapat mencoba model yang memuaskan. Sebenarnya
tubuh manusia adalah model kompartemen multimillion
(multikompartemen), mengingat konsentrasi obat tiap organel
berbeda-beda. (Hakim, L., 2014).
Model kompartemen yang sering digunakan adalah model
kompartemen satu terbuka, model ini menganggap bahwa berbagai
perubahan kadar obat dalam plasma mencerminkan perubahan yang
sebanding dengan kadar obat dalam jaringan. Tetapi model ini tidak
menganggap bahwa konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut

adalah sama dengan berbagai waktu. Di samping itu, obat di dalam


tubuh juga tidak ditentukan secara langsung, tetapi dapat ditentukan
konsentrasi obatnya dengan menggunakan cuplikan cairan tubuh
(Shargel, 1988).
Jika tubuh diasumsikan sebagai satu kompartemen, tidak berarti
bahwa kadar obat sama di dalam setiap jaringan atau organ, namun
asumsi yang berlaku pada model tersebut ialah bahwa perubahan
kadar obat di dalam darah mencerminkan perubahan kadar obat di
jaringan. Lalu eliminasi (metabolisme dan ekskresi) obat dari tubuh
setiap saat sebanding dengan jumlah atau kadar obat yang tersisa di
dalam tubuh pada saat itu (Ritschel, 1992).

2.4. Spektrofotometer UV-Visibel


Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang
terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan
sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan
fotometer adalah alat pengukuran intenditas cahaya yang
ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer digunakan
untuk mengukur energi secara relative jika energi tersebut
ditransmisikan, direflesikan atau diemisikan sebagai fungsi dari
panjang gelombang.
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia
analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel
baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi
antara materi (atom atau molekul) dengan cahaya atau radiasi
elektromagnetik (REM). Peralatan yang digunakan dalam
spektrofotometri disebut spektrofotometer.
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran
energi cahaya oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang
tertentu. Sinar ultraviolet (UV) mempunyai panjang gelombang antara

200-400 nm, dan sinar tampak (visible) mempunyai panjang


gelombang 400-750 nm. Metode pengukuran menggunakan prinsip
spektrofotometri adalah berdasarkan absorbsi cahaya pada panjang
gelombang tertentu melalui suatu larutan yang mengandung
kontaminan yang akan ditentukan konsentrasinya. Proses ini disebut
absorbsi spektrofotometri, dan jika panjang gelombang yang
digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai
kolorimetri, karena memberikan warna. Prinsip kerja dari metode ini
adalah jumlah cahaya yang di absorpsi oleh larutan sebanding
konsentrasi kontaminan dalam larutan.
Spektrofotometer terdiri atas spektrometer dan fotometer.
Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang
gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas
cahaya yang ditranmisikan atau yang diabsorpsi. Spektrofotometer
tersusun atas sumber spektrum yang kontinyu, monokromator, sel
pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk
mengukur pebedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun
pembanding.

Prinsip Kerja dari Spektrofotometer


Prinsip kerja spektrofotometer adalah interaksi antara obat
atau molekul dengan radiasi elektromagnetik (REM) yang energinya
sesuai. Interaksi tersebut dapat membuat molekul suatu obat
menghamburkan REM, menyerap REM atau mengemisikan REM.
Apabila terjadi penyerapan REM sebagai interaksi antara molekul
dengan REM, maka akan penyerapan tersebut akan diemisikan oleh
molekul tersebut. Interaksi tersebut akan meningkatkan energi
potensi elektron (eksitasi) pada tingkat aksitan (ground state).
Namun, posisi molekul yang mengalami eksitasi tersebut tidaklah
stabil. Sehingga dengan cepat molekul tersebut akan kembali ke
ground state dan akan mengemisikannya. Apabila pada molekul

yang sederhana tadi hanya terjadi transisi elektronik pada suatu


macam gugus maka akan terjadi suatu absorbsi yang merupakan
garis spektrum.

Tipe Instrumen Spektrofotometri UV-Vis


1. Double (or dual) beam spektrofotometer dimana
mengandung sumber cahaya UV-Visible, cahaya UV-Visible akan
melewati dua sel dan dektetor (photomultipier) untuk
mengetahui banyaknya cahaya yang melewati sel. Prinsip dari
spektrofotometer adalah absorbansi pada panjang gelombang
tertentu yang diatur oleh pengguna dan membaca pajang
gelombang UV-Vis yang masuk. Double beam memiliki variable
panjang gelombang atau multiwavelength. Spektrofotometer di
kontrol dan memberikan kemampuan fleksibilitas yang baik,
contoh membentuk grafik kalibrasi untuk menentukan
konsentrasi yang tidak diketahui. Kalkulasi dari spetrofotometer
UV-Vis Double beam adalah

Keterangan I0 = cahaya yang ditransmisikan awal


I = Cahya ditransmisikan pada sampel
2. Single beam spektrometer UV-vis memiliki prinsip yang sama
dengan double
beam, tetapi pertama melakukan absropsi terhadap blanko,
kemudian bar sampel yang dideteksi (Rosaleen J. Andreson dkk,
2004). Pada Single beam berdasarkan pada sinar tunggal yang
akan ditentukan jumlahnya pada satu panjang gelombang
(Hobart H. Willlard dkk, 1998).

Komponen Spektrofotometer UV-Vis


Spektrofotometer terdiri dari beberapa instrumentasi, yaitu sebagai
berikut :
1) Sumber cahaya/ radiasi
Dua sumber radiasi yang digunakan dalam spktrofotometer yang
mana diantaranya dapat menyediakan selang panjang
gelombang dari 200 nm - 800 nm. a. Untuk pengukuran di atas
320 nm, sumber radiasi dari bahan tungsten halogen b. Untuk
pengukuran di bawah 320 nm, sumber radiasi dari bahan
deuterium.
2) Monokromator
Digunakan untuk memperoleh sumber sinar yang monokromatis.
Alatnya dapat berupa prisma ataupun grating. Untuk
mengarahkan sinar monokromatis yang diinginkan dari hasil
penguraian ini dapat digunakan celah. Jika celah posisinya tetap,
maka prisma atau gratingnya yang dirotasikan untuk
mendapatkan yang diinginkan.
3) Sel absorbsi.
Pada pengukuran di daerah tampak kurvet kaca atau kurvet kaca
corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV
kita harus menggunakan sel kuarasa karena gelas tidak tembus
daerah cahaya pada daerah ini. Umumnya tebal kurvetnya
adalah 10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar
dapat digunakan. Sel yang digunakan biasanya berbentuk
persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan.
4) Detektor
Peranan detector penerima adalah memberikan respon terhadap
cahaya pada berbagai panjang gelombang. Pada
spektrofotometer, tabung pengganda electron yang digunakan
prinsip kerjanya telah diuraikan. Setiap detector menyerap
tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga tersebut

untuk dapat diukur secara kuantitatif seperti sebagai arus listrik


atau perubahan-perubahan panas. Kebanyakan detector
menghasilkan sinyal listrik yang dapat mengaktifkan meter atau
pencatat. Setiap pencatat harus menghasilkan sinyal yang
secara kuantitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang
mengenainya.
5) Hasil Keluaran
Dalam instrumen manual diperoleh hasil keluaran secara tetap
dari beberapa bentuk yang mana menunjukan transmitansi
secara langsung atau dugunakan sebagai penunjuk nol dalam
sirkuit potensiometri. Potensiometri biasanya dikalibrasi dalam
satuan transmitansi dan dalam satuan absorbansi. Instrumen
modern lebih digunakan karena mempunyai hubungan keluaran
digital pada mikroprosesor yang memberikan nilai absorbansi
secara langsung atau dapat dikalibrasi dalam satuan konsentrasi
setelah larutan standar diukur

Gambar 1. Komponen Alat Spektrofotometer Uv-Vis


Hukum Lambert-Beer

Spektrofotometri UV-Vis mengacu pada hukum Lambert-Beer.


Apabila cahaya monokromatik melalui suatu media (larutan), maka
sebagian cahaya tersebut akan diserap, sebagian dipantulkan dan
sebagian lagi akan dipancarkan. (Watson, 2005. Hal 110)
Jika intensitas cahaya Io pada panjang gelombang tertentu
dilewatkan melalui larutan yang mengandung bahan yang
mengabsorpsi cahaya dapat diukur dengan detektor. Hukum Lambert
Beer digunakan untuk menggambarkan absorpsi cahaya pada
panjang gelombang tertentu yang diberikan oleh absorpsi spesi
dalam larutan :

Keterangan : A adalah absorbansi;


adalah absorptivitas molar (L mol -1 cm -1 );
1 adalah panjang laluan sinar melalui larutan (cm);
c adalah konsentrasi spesi (molal)

Penerapan dalam analisis farmasi: (Watson, 2005. Hal 105-106)


-

Metode yang kuat dan terandalkan untuk kuantifikasi obatobat dalam formulasi yang tidak ada interferensi dari
eksipien.

Penentuan nilai pKa beberapa obat

Penentu koefisien partisi dalam kelarutan obat.

Digunakan untuk menentukan pelepasan obat dari formulasi


seiiring waktu, misalnya dalam uji disolusi.

Dapat digunakan untuk memantau kinetika reaksi penguraian


obat.

Spectrum UV suatu obat sering digunkan sebgai salah satu


dari sejumlah pemeriksaan identitas pada farmakope.

Kelebihan: (Watson, 2005. Hal 106)


-

Metode yang mudah digunakan, murah, dan terandalkan


memberikan presisi yang baik untuk melakukan pengukuran
kuantitatif obat-obat dalam formulasi.

Metode rutin untik menentukan beberapa sifat fisikokimia


obat, yang harus diketahui untuk tujuan formulasi.

Beberapa masalah pada metode dasar dapat dipecahkan


dengan penggunaan spectrum derivative.

Kekurangan: (Watson, 2005. Hal 106)


-

Selektivitasnya sedang. Selektivitas metode ini tergantung


pada kromofor masing-masing obat, misalnya suatu obat
yang diwarnai dengan kromofor yang diperpanjang lebih khas
daripada obat dengan kromofor cincin benzene sederhana.

Tidak mudah diterapkan pada analisis campuran.

Kurva kalibrasi digunakan untuk: (Watson, 2005. Hal 112)


-

Untuk mengurangi atau menghilangkan kesalahan akibat dari


galat alat (noise)

Digunakan senyawa murni pada beberapa konsentrasi

Rentang konsentrasi melingkupi konsentrasi sampel.

Berdasar pada persamaan Regresi Linier

2.5. Parasetamol dan Sifat Fisika Kimianya


Parasetamol merupakan zat hablur atau serbuk hablur putih
tidak berbau, rasa pahit. Kelarutanya adalah larut dalam 70 bagian air,
dalam 7 bagian etanol 95 % P, 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian

gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam alkali


hidroksida. Berat molekulnya adalah 151, 16 dengan nama senyawa N
asetil p aminofenol ( Depkes RI, 1995 ).
Rumus struktur dari parasetamol atau asetaminofen adalah :

Berikut dibawah ini merupakan sifat fisika kimia parasetamol :


Nama senyawa

: 4-hidroksiasetanilida [103-90-2] ,N-Acetyl-p-

aminophenol , Paracetamolum , N-(4-hydroxipheny-1) acetamide. (


Martindal )
Struktur molekul

: C8H9NO2

Berat molekul : 151,16


Sifat organoleptis : Bentuk hablur atau serbuk putih, rasa pahit, dan
tidak berbau
Sifat dalam larutan :
Farmakope III : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95%), dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkali hidroksida
Martindale : Larut dalam 70 bagian air , dalam 20 bagian air
mendidih , Dalam 7 10 bagian alkohol , dalam 9 bagian propilen

glikol , dalam 15 bagian sodium hydroxide 1N, Sangat mudah larut


dalam kloroform , Praktis tak larut dalam eter
Titik leleh
PKa

: titik leburnya 169-172C.

: 9,9

Stabilitas

: Sediaan harus disimpan pada suhu 15-30 C.

Sediaan bentuk larutan atau suspensi tidak boleh dibekukan


(stabilitas penyimpanan). Parasetamol sangat stabil dengan air,
Stabil pada pH > 6, dan tidak stabil pada pH asam atau pada
kondisi alkalin (stabilitas terhadap pelarut).
Dosis :
Farmakope III : 6-12 bulan 50 mg (1xp), 200 mg (1xh)
1-5 tahun 50-100 mg (1xp), 200-400 mg (1xh)
5-10 tahun 100-200 mg (1xp), 400-800 mg (1xh)
10 tahun 250 mg (1xp), 1 g (1xh)
Dewasa 500 mg (1xp), 500mg-2 g (1xh)
Dewasa & anak >12 thn; oral 650 mg atau 1 g tiap 4-6 jam bila
perlu, maksimum 4 g per hari. Anak utk tiap 4-6 jam (maksimum 5
dosis per 24 jam) :
- < 4 bln (2.7 - 5 kg) 40 mg,
- 4-11 bln (5-8 kg) 80 mg,
- 2-3 bln (8-11 kg)120 mg,
- 2-3 thn (11-16 kg)160 mg
Indikasi : Analgetis, antipiretik, parasetamol sebaiknya tidak
diberikan terlalu lama karena kemungkinan menimbulkan nefropati
analgetik
Kontra Indikasi : reaksi hipersensitifitas dan kelainan darah,
Disfungsi ginjal atau hati
Efek samping : Eritem dan Urtikaria, gejala yang lebih berat berupa
demam dan lasi pada mukosa. Penggunaan semua jenis analgesik

dosis besar secar menahun dapat menyebabkan nefropati


analgesic.
Farmakokinetik

: parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna

melalui saluran cerna. Konserntrasi tertinggi dalam plasma dicapai


dalam waktu jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Pada
plasma,25% parasetamol terikat protein plasma dan dimetabolis
oleh enzim mikrosom hati. 80% dikonjugasi dengan asam
glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat.Obat
dapat mengalami hidroksilasi, metabolit dari hasil tersebut dapat
menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit.
Farmakodinamik

: efek analgesiknya menghilangkan atau

mengurangi rasa nyeri sedang dan menurunkan suhu tubuh dengan


mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti
salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah sehingga tidak
digunakan sebagai anti reumatik. efek iritasi, erosi, gangguan
pernafasan dan perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini.
Memiliki keseimbangan asam basa.

DAFTAR PUSTAKA

Aiache, J.M, 1993. Farmasetika 2 Biofarmasi Edisi ke-2. Surabaya:


Penerbit Airlangga University Press.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI
Anonim. 2005. Kebijakan Obat Nasional. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI
Ansel, H. C, 1985, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta.
Hakim, L., 2014. Farmakokinetik. Yogyakarta: Bursa Ilmu.
Ritschel, W.A. dan Kearns, G.L. 1992. Handbook of Basic
Pharmacokinetics-Including Clinical Aplications, 6th ed.,
Washington: AphA.
Shargel, Leon., Yu, Andrew B. C., 2005. Applied Biopharmaceutical and
Pharmacokinetics fifth edition. New York: the McGraw-Hill
companies.
Shargel, Andrew. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan. Edisi Kedua. Penerbit : Airlangga University-Press.
Surabaya.

Watson, David.G . 2005. Analisis Farmasi edisi 2. Jakarta : EGC


Willard, Hobart H. 1998. Instrument Methods of Analysis. USA:
WadsWorth