Anda di halaman 1dari 6

COASTAL MARINE

Oleh :
Anggun Hidayatullah
STTMI
-----------------------------------------------------

erbicara tentang Coastal Marine atau pesisir laut, wilayah pesisir merupakan kawasan
yang dominan terdapat di Indonesia. Selanjutnya, adalah suatu kenyataan bahwa
banyak penduduk Indonesia tinggal di kawasan pesisir dan berhubungan dengan laut.
Kondisi tersebut dapat dilihat dari banyaknya kota-kota besar di Indonesia yang terletak di
kawasan pesisir.
Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan batas ke arah darat
meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifatsifat laut seperti angin laut, pasang surut, perembesan air laut (intrusi) yang dicirikan oleh
vegetasinya yang khas, sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas
terluar daripada daerah paparan benua (continental shelf), dimana ciri-ciri perairan ini masih
dipengaruhi
oleh
proses
alami
yang
terjadi
di
darat
seperti
sedimentasi dan aliran air tawar, maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat
seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Bengen, 2002).
Di daerah pesisir, proses-proses geologi yang terjadi umumnya adalah proses-proses
geologi hasil interaksi dari angin, gelombang, pasang-surut dan arus. Sebagai bencana geologi,
proses-proses geologi itu dapat terekspresikan sebagai tsunami, gelombang karena badai,
banjir, erosi pantai dan sedimentasi. Selain itu, ada satu proses geologi yang umum
terjadi di daerah pesisir yang tidak ada kaitannya dengan berbagai fenomena yang telah
disebutkan di atas, yaitu subsiden.
Beberapa ekosistem yang khas dari wilayah pesisir adalah seperti Estuarin, Delta,
Laguna, Terumbu Karang (Coral Reef), Padang Lamun(Seagrass), Hutan Mangrove, Hutan
Rawa, Dan Bukit Pasir (Sand Dune) tercakup dalam wilayah ini. Luas suatu wilayah pesisir
sangat tergantung pada struktur geologi yang dicirikan oleh topografi dari wilayah yang
membentuk tipetipe wilayah pesisir tersebut. Wilayah pesisir yang berhubungan dengan tepi
benua yang meluas (trailing edge) mempunyai konfigurasi yang landai dan luas. Ke arah darat
dari garis pantai terbentang ekosistem payau yang landai dan ke arah laut terdapat paparan benua
yang luas. Bagi wilayah pesisir yang berhubungan dengan tepi benua patahan atau
tubrukan (collision edge), dataran pesisirnya sempit, curam dan berbukit-bukit, sementara
jangkauan paparan benuanya ke arah laut juga sempit.
Ekosistem-ekosistem ini secara garis besar di bagi menjadi 2. Yaitu ekosistem alamai dan
ekosistem buatan. Ekosistem alami mencakup terumbu karang (coral reefs), hutan mangrove,
padang lamun (sea grass), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi
pescaprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna, delta dan ekosistem pulau kecil. Sedangkan

ekosistem buatan dapat berupa tambak, pemukiman, pelabuhan, kawasan industri, pariwisata dan
sebagainya.

Pembagian Zone Wilayah Pesisir


Setiap zone perairan dipesisir mengalami proses yang bisa mengahasilkan struktur sedimen
yang khas dan berbeda satu sama lainnya.Berdasarkan hal ini zone pesisir dibagi
menjadi backshore, foreshore, shoreface, dan offshore.
1.
Backshore terletak diantara batas bawah gumuk pasir (sand dune) hingga ke garis air pasang
paling tinggi (mean high water line). Jadi Backshoreterdapat di amabang pantai (beach bar).
2.
Foreshore yaitu zone pasang surut,
Backshore dan foreshore merupkan bagian atas dari pesisir pantai. Dikawasan ini terdapat
zone pemecah, zone swash dan arus sepanjang pantai (longshore current). Sehingga kawasan
ini menerima tenaga aliran yang kuat. Sedimen sedimen yang ada diwilayah ini kebanyakan
terdiri dari material pasir.
3.
Shoreface yaitu
zone
yang
berbatasan
dengan
zone
peralihan.
Batas
bawahshoreface bergantung pada rata-rata dasar gelombang maksimal (average maximum
wave base). Di kawasan shoreface sedimennya terdiri dari pasir bersih, dibagian
atas shoreface terdapat arus pesisir pantai. Pada saat cuaca buruk arus ini akan bertambah
kuat dan akan mengkikis bagian atas shoreface dan mengendapkannya semula di bagian
bawah shoreface atau membawanya kearah daratan seperti laguna. Jadi dibagian shoreface
sedimennya makin kasar kearah daratan dan riak simetri berubak menjadi tak simetri dan
gumuk (Clifton, 1967). Bagian bawah shoreface terdiri dari lapisan dan percampuran antara
lumpur dan pasir, tetapi pada saat cuaca buruk bagian bawahnya mengalami tindakan
gelombang dan akibatnya endapan pasir akan percampuran lumpur dan pasir akan terbentuk
di kawasan ini.
4.
Offshore merupakan zone lepas pantaiyang mengarah kelaut.

Gambar Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Strukturnya

selain pembagian pantai berdasarkan struktur sedimennya, wilayah pantai juga bisa di bagi
berdasarkan kedalamannya. Ada setidaknya 5 zona kedalaman yang sering kita kenal, diantarnya
adalah:
1.
Zona Lithoral, adalah wilayah pantai atau pesisir atau shore. Di wilayah ini pada saat air
pasang tergenang air, dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan. Oleh karena itu
wilayah ini sering disebut juga wilayah pasang surut.
2.
Zona Neritic (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman
150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga wilayah ini paling
banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun tumbuhan-tumbuhan, contoh
Jaut Jawa, Laut Natuna, Selat Malaka dan laut-laut disekitar kepulauan Riau.
3.
Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150
hingga 1800 meter. Wilayah ini tidak dapat ditembus sinar matahari, oleh karena itu
kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di zona meritic.
4.
Zona Abysal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman lebih
dari 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan, jenis
hewan yang hidup di wilayah ini sangat terbatas.
5.
Hadal merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman lebih dari 6.000 m. Di bagian ini
biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen
di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

Gambar Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Kedalamannya


Geomorfologi Wilayah Pesisir
Bentuk/morfologi wilayah pesisir, seperti pantai terjal atau landai, ditentukan oleh
kekerasan (resestivity) batuan, pola morfologi dan tahapan proses tektoniknya. Relief/topografi
dasar laut perairan nusantara terdiri dari berbagai tipe mulai dari paparan (shelf) yang dangkal,
palung laut, gunung bawah laut, terumbu karang dan sebagainya. Kondisi oseanografi fisik di
kawasan pesisir dan lautan ditentukan oleh fenomena pasang surut, arus, gelombang, kondisi suhu,
salinitas serta angin. Fenomena-fenomena tersebut memberikan kekhasan karakteristik pada
kawasan pesisir dan lautan. Proses-proses utama yang sering terjadi di wilayah pesisir meliputi:
sirkulasi massa air, percampuran (terutama antara dua massa air yang berbeda), sedimentasi dan
abrasi serta upwelling. Bentukan-bentukan yang umum terdapat diwilayah pesisir adalah sebagai
berikut:

1.

Pesisir Pantai (Beach) yaitu pesisir diantara garis pasang naik dan pasang surut.

2.
3.

4.

5.
6.
7.
8.
9.
10.

Laguna adalah air laut dangkal yang memiliki luas beberapa mil, sering merupakan teluk atau
danau yang terletak diantara pulau penghalang dengan pantai.
Pulau Penghalang (Barrier Island) adalah gosong pasir yang tersembul dipantai yang
dipisahkan dari pantai oleh laguna. Pulau penghalang ini bias tebentuk sebagai spit atau
gumuk pasir yang dibentuk oleh angin atau air.
Delta adalah deposit lumpur, pasir, atau kerikil (endapan alluvium) yang mengendap di muara
suatu sungai. Delta dibagi menjadi tiga berdasarkan bentuknya, yaitu Delta Arcuate
(Berbentuk kipas), Delta Cuspate (Berbentuk gigi tajam), Delta Estuarine (Berbentuk
estuarine).
Goa Laut (Sea Cave) merupakan goa yang terbentuk pada terbing terjal (cliff) atau tanjung
(headland) sebagai akibat erosi dari hantaman gelombang dan arus.
Sea Arch merupakn sea cave yang telah tereosi sangat berat akibat dari hantaman ombak.
Sea Stack merupakan tiang-tiang batu yang terpisah dari daratan yang tersusun dari batuan
yang resisten sehingga masih bertahan dari hantaman gelombang.
Rawa Air Asin (Salt Marsh) merupakan rawa yang terbentuk akibat genangan air laut di
dinggir pantai.
Head Land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok kelaut sebagai akibat erosi
gelombang.
Bar yaitu gosong pasir dan kerikil yang terletak pada dasar laut dipinggir pantai yang terjadi
oleh pengerjaan arus laut dan gelombang. Kadanngkadang terbenam seluruhnya oleh air laut.
Beberapa jenis bar antara lain:

Spit yaitu yang salah satu ujunganya terikat pada daratan, sedangkan yang lainnya tidak.
Bentuknya kebanyakan lurus sejajar dengan pantai, tetepai oleh pengaruh arus yang membelok ke
arah darat atau oleh pengaruh pasang naik yang besar, spit itupun membelok pula ke arah darat
yang disebut Hook atau Recurved Spit (Spit Bengkok).
Baymouth Bar adalah spit yang kedua ujungnya terikat pada daratan yang menyeberang dibagian
muka teluk.
Tombolo adalah spit yang menghubungkan pulau dengan daratan induk atau dengan pulau lain,
contohnya daratan antara Pulau Pananjung dengan daratan induknya Pulau Jawa.

Referensi:
Wahyu Budi Setyawan. Bencana Geologi di Pesisir Indonesia, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI,
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta 14430., Volume 12 no. 2 tahun 2007.
Http://Google.com/