Anda di halaman 1dari 29

PROPOSAL TUGAS AKHIR

TAHUN 2014 DIAJUKAN KEPADA


PERTAMINA EP FIELD RANTAU

ZONA PROSPEK HIDROKARBON PADA SUMUR YES


FORMASI IR BERDASARKAN ANALISA PETROFISIKA
LAPANGAN TITIK CEKUNGAN HARI

Disusun oleh :

Husni Randa
10307018

J U R U S AN T E K N I K G E O LO G I
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
MEDAN
2014

PROPOSAL USULAN TUGAS AKHIR MAHASISWA


DIAJUKAN KEPADA PT. PERTAMINA EP Field RANTAU
1.NAMA PEMOHON

Husni Randa (10307018)


Jurusan Teknik Geologi
Fakultas Teknologi Mineral
Institut Teknologi Medan

2. DIAJUKAN KEPADA

PT. PERTAMINA EP Field Rantau

3. JUDUL ATAU TEMA 1. 1. Bidang yang diminati :


TUGAS AKHIR
2. Petrofisika dan Evaluasi Formasi
3. 2. Judul yang ditawarkan :
ZONA PROSPEK HIDROKARBON PADA
SUMUR YES FORMASI IR
BERDASARKAN ANALISA
PETROFISIKA LAPANGAN TITIK
CEKUNGAN HARI
4. *judul dapat berubah disesuaikan oleh
kesepakatan dan ketentuan dari pembimbing
PT. PERTAMINA EP field Rantau
4. DATA MAHASISWA
PENELITI

5. JANGKA WAKTU
TUGAS AKHIR

Tugas Akhir ini ajukan oleh :


Nama
: Husni Randa
NIM
: 10307018
IPK
: 3,22 ( 4,00 )
Semester : 7 ( Tujuh )
Jurusan
: Teknik Geologi,
Fakultas Teknologi Mineral,
Institut Teknologi Medan.
Jl. Gedung Arca No. 52 Medan
(20217)
Alamat
: Jl. Tambang Gg. Bunga 42B
Sungai Liput Kejuruan Muda
Aceh Tamiang
HP
: 085261123521
E-mail
: randahusni@gmail.com
*CV lengkap dan transkip nilai terlampir
Sesuai dengan program Tugas Akhir dan jadwal
kuliah di Jurusan Teknik Geologi, Fakultas
Teknologi Mineral, Institut Teknologi Medan
selama 3 bulan, maka mahasiswa peserta Tugas
Akhir sangat mengharapkan untuk dapat
memulai kegiatan pada tanggal 4 April 2014
s/d 17 Juli 2014.

HALAMAN PENGESAHAN
PROPOSAL USULAN TUGAS AKHIR
ZONA PROSPEK HIDROKARBON PADA SUMUR YES
FORMASI IR BERDASARKAN ANALISA PETROFISIKA
LAPANGAN TITIK CEKUNGAN HARI
Oleh :
Husni Randa
10307018

Medan, 10 Maret 2014


Mahasiswa Yang Mengajukan Usulan Tugas Akhir

Husni Randa
10307018

PROPOSAL USULAN TUGAS AKHIR DIAJUKAN


MAHASISWA KEPADA PT. PERTAMINA EP Field RANTAU
1. LATAR BELAKANG
Geologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari mengenai bumi, baik
yang ada di permukaan maupun yang berada di bawah permukaan. Dalam
penerapan ilmu tersebut, geologi bisa berperan dalam berbagai hal seperti mencari
sumber daya alam, kebencanaan, airtanah, hingga mitigasi. Tahapan yang paling
dasar dilakukan oleh seorang geologist adalah pemetaan geologi.
Penelitian geologi dan seismik permukaan mampu memberikan dugaan
potensi lubang sumur bawah tanah, akan tetapi sampai saat ini belum ada suatu
solusi nyata selain melakukan penggalian lubang sumur serta mengadakan
serangkaian pengukuran di dalam sumur dan evaluasi data hasil rekaman untuk
memastikan ada tidaknya kandungan hidrokarbon di bawah tanah.
Evaluasi formasi batuan adalah suatu proses analisis ciri dan sifat batuan
di bawah tanah dengan menggunakan hasil pengukuran lubang sumur.
Pengukuran pada lubang sumur ini dapat digolongkan menjadi 4 kategori yaitu
log operasi pemboran , log lumpur (mud logs), MWD dan LWD (logging While
Drilling). Analisis batu inti, Log sumur dengan kabel yang mencakup elektrik,
akustik, radioaktif, elektromagnetik, ultrasonik, medan magnet, NMR (Nuclear
Magnetic Resonance), temperatur dan tekanan, pengambilan sampel batu inti dan
fluida, Uji produksi kandungan lapisan.
Tujuan utama evaluasi formasi adalah identifikasi resevoar, perkiraan
cadangan hidrokarbon di tempat, perkiraan perolehan hidrokarbon. Perkiraan
cadangan hidrokarbon untuk jenis minyak, jumlah barel di tempat adalah :
N = 7.758 . . ( 1 Sw ) . h. A
Dimana :
N

= banyaknya minyak mula-mula ditempat dalam satuan Stb

= porositas efektif dalam %

Sw

= kejenuhan air mula-mula dalam %

= ketebalan interval produktif dalam satuan ft

=Luas pengurasan dalam satuan arce (1 arce = 4072 m2)

Berdasarkan hal tersebut, maka mahasiswa pemohon dalam proposal tugas akhir
ini mengangkat topik : ZONA PROSPEK HIDROKARBON PADA SUMUR
YES FORMASI IR BERDASARKAN ANALISA PETROFISIKA
LAPANGAN TITIK CEKUNGAN HARI
2. DASAR KEGIATAN
Dasar Pelaksanaan Tugas Akhir yang diikuti oleh Mahasiswa Program Studi
Teknik Geologi Institut Teknologi Medan berdasarkan beberapa hal diantaranya
ialah :
a. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
tanggal 8 Juni 1979, Nomor: 0124/U/1979, tentang Jenjang Program
Perguruan Tinggi dan Program Mengajar dalam lingkungan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
b. Kurikulum Wajib Program Strata-1 Jurusan Teknik Geologi Fakultas
Teknologi Mineral Institut Teknologi Medan, agar Mahasiswa dituntut
untuk dapat berpikir kreatif dan inovatif serta mampu mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
c. Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi agar dapat menyiapkan
tenaga terampil dan cakap untuk memangku jabatan yang memerlukan
pendidikan tinggi dan memelihara, memajukan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan.
d. Dengan memperkenalkan beberapa industri sejak dini, diharapkan para
Mahasiswa dapat lebih berpikir ke depan dalam arti cara pandangnya
berbeda, sehingga nantinya saat terjun didalam masyarakat tidak
mengalami banyak hambatan.
3. MAKSUD DAN TUJUAN TUGAS AKHIR
Pelaksanaan serta penyusunan laporan Tugas Akhir yang merupakan salah
satu syarat untuk menyelesaikan studi di Jurusan Teknik Geologi Institut
Teknologi Medan. Maksud dari penelitian ini adalah untuk evaluasi formasi dari
data log sumur untuk mengetahui kerakteristik reservoir sehingga dapat dilakukan
tindakan eksploitasi yang tepat.
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.

Mengetahui korelasi batuan dari sumur IR terhadap sumur RI.


Mengetahui variasi litologi yang terdapat di sumur IR dansumur RI.
Mengetahui susunan litologi atau stratigrafi litologi.
Mengetahui karakteristik reservoir yang meliputi porositas

dan

permeabilitas serta penyebaran untuk mengetahui jumlah cadangan


hidrokarbon.
4. DASAR TEORI TUGAS AKHIR
4.1. Jenis Log dan Aplikasinya
Pada pelaksanaan Tugas Akhir ini untuk analisis data well log secara
kualitatif dan kuantitatif digunakan log caliper, log sinar gamma , log resistivitas,
log neutron, log akustik dan log densitas. Penjelasan dan kegunaan dari jenis log
tersebut adalahh sebagai berikut :
4.1.1. Log Caliper
Log Caliper adalah hasil pengukuran diameter dan bentuk dari lubang bor
disepanjang atau pada interval tertentu dari suatu lubang bor. Log caliper biasanya
ditampilkan pada kolom pertama bersama dengan log ukuran mata pahat dan log
sinar gamma. Skala horizontal log caliper dinyatakan dalam satuan inchi (Rider,
2002). Kegunaan log caliper dalam interpretasi adalah sebagai berikut :
a) Diameter lubang bor lebih besar dari ukuran mata pahat.
Kondisi saat pembacaan log caliper lebih besar dari ukuran mata pahat
sering disebut dengan cave atau wash out. Hal ini biasanya terjadi pada
lapisan serpih, terutama jika secara geologi masih muda dan belum
terkonsolidasi sehingga terjadinya cave atau wash out.
b) Diameter lubang bor lebih kecil dari ukuran mata pahat.
Jika log caliper menunjukan harga yang lebih kecil dari ukuran mata
pahat, maka hal ini menunjukan adanya kerak lumpur (mud cake). Kerak
lumpur ini mengindentifikasikan adanya lapisan permeabel, karena hanya
pada lapisan permeabel saja fluida dari lumpur dapat masuk kedalam suatu
formasi (Rider,2002). Tebal kerak lumpur dapat dihitung dengan persamaan
berikut :

Gambar 2.1. Respon dan interpretasi log caliper (Rider, 2002)

c) Kendali mutu menggunakan log caliper


Kendali mutu menggunakan log caliper dapat dilakukan seperti pada
saat terjadi gerowong (caving) pada lubang bor sangat besar, maka pembacaan
data log tidak menunjukan pembacaan yang sebenarnya dari suatu formasi.
Hal ini disebabkan karena jarak pengukuran dari alat logging relatif pendek,
Sehingga alat akan mengukur parameter fisik dari lumpur. Beberapa alat
logging yang mempunyai jarak pengukuran yang pendek adalah log sinar
gamma, log densitas dan log neutron. Sehingga dalam pengolahan data log,
log caliper digunakan untuk koreksi terhadap lubang bor (Rider, 2002).

4.1.2. Log Resistivitas

Log resistivitas merupakan hasil pengukuran resistivitas batuan pada


sumur bor. Resistivitas batuan merupakan kemampuan suatu batuan untuk
menghambat jalannya arus listrik yang mengalir melalui batuan tersebut.
Resistivitas batuan dinyatakan dalam Ohm-meter (m). Sifat resistivitas
berbanding terbalik dengan konduktivitas batuan (mho/m).
Sebagian besar batuan merupakan isolator, sementara fluida didalam
formasi merupakan konduktor, kecuali hidrokarbon. Sehingga jika suatu batuan
yang berpori terisi air formasi, maka pembacaan nilai resistivitas akan rendah,
Tetapi jika terisi hidrokarbon, pembacaan nilai resistivitasnya akan tinggi (Rider,
2002).
Prinsip kerja dari log resistivitas adalah melakukan pengukuran resistivitas
batuan secara umum dilakukan dengan dua alat, yaitu alat Laterolog dan alat
Induksi. Alat Laterolog mengukur resistivitas batuan, biasanya digunakan jika
fluida pemboran bersifat konduktif seperti water base mud. Sedangkan alat
Induksi mengukur konduktivitas batuan, biasanya digunakan pada fluida
pemboran yang tidak konduktif seperti oil base mud.
Alat Laterolog terdiri dari dua bagian, Deep Laterolog (LLd) dan Shallow
Laterolog (LLs). LLd mempunyai elektroda yang berjarak sedemikian rupa dan
mengalirkan arus dengan frekuensi rendah sebesar 35 Hz untuk masuk sejauh
mungkin ke dalam formasi. LLd ini mengukur nilai resistivitas formasi yang
sebenarnya (zona yang tidak terinvasi oleh fluida pemboran). Sedangkan pada
LLs, arus dengan frekuensi tinggi sebesar 280 Hz dialirkan kedalam formasi dan
mengukur resistivitas pada zona terinvasi (Schlumberger, 1989). Resistivitas yang
terukur dari LLd ini merupakan resistivitas batuan pada jarak 10 ft dari dinding
sumur, sedangkan LLs mengukur resistivitas pada jarak 2ft dari dinding sumur
(Rider, 2002).

Gambar 2.2. Prinsip kerja alat laterolog (Firdaus dan Prabantara, 2005)

Alat induksi terdiri dari transmitter dan receiver. Kumparan pada


transmitter dialiri arus bolak-balik dengan frekuensi 20 kHz sehingga
menimbulkan medan magnet primer. Medan magnet primer ini akan menginduksi
batuan disekitar alat sehingga akan timbul arus eddy pada batuan. Arus eddy pada
batuan akan menimbulkan medan magnet sekunder yang akan menginduksi
kumparan pada receiver.
Sehingga pada kumparan akan mengalir arus sekunder yang sebanding
dengan konduktivitas formasi yang merupakan kemampuan formasi untuk
mengalirkan arus listrik. Selanjutnya, nilai konduktivitas akan dikonversi menjadi
resistivitas. Alat induksi mengukur resistivitas batuan dalam tiga kedalaman yang
berbeda. Deep Induction Log (ILD) mengukur resistivitas formasi pada jarak
horizontal 7,5 ft dari dinding sumur, Medium Induction Log (ILM) mengukur
resistivitas formasi pada jarak horizontal 3,25 ft dari dinding sumur, sedangkan
Shallow Induction Log (ILS) mengukur resistivitas formasi pada jarak horizontal
1,5 ft dari dinding sumur (Schlumberger, 1989).

Log Resistivitas dapat digunakan untuk :


a. Interpretasi kualitatif

Untuk Interpretasi secara kualitatif, log resistivitas digunakan untuk


mengidentifikasi adanya hidrokarbon didalam suatu formasi. Keberadaan
hidrokarbon akan ditunjukan dengan nilai resistivitas yang tinggi.

Gambar 2.3. Identifikasi fluida dengan log resistivitas (Saragih, 2005)

b.

Interpretasi kuantitatif
Untuk interpretasi secara kuantitatif, log resistivitas digunakan untuk

menghitung saturasi air pada suatu formasi. Kejenuhan air pada suatu formasi
menunjukan banyaknya hidrokarbon pada formasi tersebut yang dinyatakan dalam
fraksi atau persen (%).
Pada formasi bersih yaitu formasi yang tidak mengandung serpih,
perhitungan kejenuhan air digunakan persamaan Archie sebagai berikut :

Penentuan resistivitas semu air formasi digunakan rumus berikut ini


dengan mengasumsikan saturasi air 100 % untuk semua formasi, dituliskan
sebagai berikut.

4.1.3. Log Sinar Gamma


Log sinar gamma merupakan suatu hasil pengukuran radioaktivitas yang
dipancarkan oleh suatu batuan. Radioaktivitas ini dihasilkan oleh unsur kimia
yaitu uranium, thorium, dan potasium yang terkandung pada batuan. Log sinar
gamma biasanya ditampilkan pada track pertama bersama log SP, caliper dan
ukuran pahat. Satuan dari sinar gamma yang dihasilkan adalah GAPI (GammaRay American Petroleum Institute).
Prinsip kerja log sinar gamma adalah dengan mengukur radioaktifitas
alami pada batuan dipancarkan oleh uranium, thorium dan potasium. Ketiga unsur
tersebut memancarkan sinar gamma secara bersamaan dengan spektrum antara 0-3
MeV. Alat log sinar gamma terdiri dari detektor yang berupa scintilator crystal
dan sebuah penguat radiasi yang disebut photo multipler. Saat sinar gamma yang
dipancarkan batuan ditangkap oleh detektor, maka akan timbul semacam kilat.
Radiasi dari kilat tersebut akan diperkuat oleh photo multipler selama selang

waktu tertentu. Energi yang terakumulasi selama selang waktu tersebut


merupakan nilai pembacaan log sinar gamma pada satu sampel pengukuran
(Rider, 2002).

Gambar 2.4. Prinsip kerja Gamma Ray Tool (Mastoadji, 2007)

Kegunaan log sinar gamma adalah sebagai berikut :


a). Interpretasi kualitatuf
Untuk interpretasi secara kualitatif, log sinar gamma dapat berfungsi
sebagai indikator adanya serpih. Litologi serpih dicirikan dengan nilai sinar
gamma yang rendah dimiliki litologi berupa batupasir, batugamping dan batuan
beku. Untuk membedakan serpih dengan batuan non-serpih perlu dilihat
pembacaan log yang lain (Rider, 2002).

Gambar 2.5. Respon dan interpretasi log sinar Gamma (Mastoadji, 2007)

b). Interpretasi kuantitatif


Interpretasi secara kuantitatif dari log sinar gamma dapat digunakan untuk
menghitung kandungan serpih pada formasi. Perhitungan kandungan serpih
menurut Rider (2002) pada formasi secara matematis dituliskan sebagai berikut:

2.1.4. Log Densitas


Log densitas merupakan hasil pengukuran densitas total formasi. Densitas
total yang

dimaksud meliputi densitas matriks yang padat dan fluida yang

mengisi pori-pori. Log densitas biasanya digambarkan pada track ketiga bersama
log neutron dan log sonic, dengan satuan gr/cc (Rider, 2002).

Gambar 2.6. Prinsip kerja Density Tool (Mastoadji, 2007).

Alat log densitas dari sumber yang memancarkan sinar gamma (Cessium)
dan dua buah detektor. Detektor pertama disebut Long Spacing Detector (LSD)
Dan yang kedua disebutShort Spacing Detector (SSD). Sinar gamma dengan
energi medium sampai tinggi 0.,2 2 MeV ditembakkan pada formasi, sehingga

bertumbukan dengan elektron-elektron yang ada pada formasi. Tumbukan tersebut


akan menyebabkan sinar gamma kehilangan energinya. Detektor akan menangkap
sinar gamma yang masih mempunyai cukup energi untuk sampai ke detektor.
Banyaknya sinar gamma yang ditangkap oleh detektor akan sebanding dengan
densitas pada formasi (Rider, 2002).
LSD terletak lebih jauh dari sumber radiasi, detektor ini memegang
peranan penting dalam pengukuran densitas batuan, sedangkan SSD yang
letaknya lebih dekat dari sumber digunakan untuk mengkoreksi pembacaan
densitas pada lubang buruk seperti caving atau wash out.
Kegunaan log densitas adalah sebagai berikut:
a. Interpretasi Kualitatif
Kegunaan log densitas secara kualitatif adalah sebagai berikut :

Identifikasi Litologi
Penentuan litologi pada sumur bor biasanya menggunakan log sinar

gamma.

Namun

pada

nilai

sinar

gamma

yang

rendah,

sulit

menginterpretasikannya. Oleh karena itu perlu dilihat nilai densitasnya.

untuk

Identifikasi hidrokarbon
Keberadaan hidrokarbon pada suatu formasi dapat diidentifikasi dengan

adanya separasi antara log densitas dan log neutron. Keberadaan gas dicirikan
dengan besarnya separasi antara log densitas dan log neutron, sedangkan untuk
minyak ditunjukan dengan separasi yang tidak begitu besar (Rider, 2002).
b. Interpretasi Kuantitatif
Kegunaan log densitas dapat digunakan pada suatu formasi berpori dengan
kandungan serpih yang rendah sehingga perhitungan porositas dari data log
densitas dapat digunakan persamaan berikut :

Sedangkan untuk formasi yang serpihan, kehadiran serpih akan


mempengaruhi densitas sebesar jumlah volumenya, sehingga harus dilakukan
koreksi terhadap kandungan serpih dalam formasi. Untuk menghitung besarnya
porositas densitas yang sudah dikoreksi terhadap kandungan serpih dapat
digunakan persamaan berikut (Harsono, 1997):

4.1.5. Log Neutron


Log neutron merupakan hasil pengukuran kandungan Hidrogen pada suatu
formasi. Log neutron biasanya digambarkan pada track ketiga bersama log
densitas dan log sonic, dinyatakn dalam fraksi (tanpa satuan) atau persen (%).

Alat log neutron terdiri dari sumber yang menembakkan partikel-partikel


neutron dan dua buah detektor, detektor dekat (near detector) dan detektor jauh
(far detector). Sumber neutron yaitu Americium-Beryllium (AmBe) memancarkan
partikel-partikel neutron dengan energi tinggi kedalam formasi. Partikel-partikel
neutron akan bertumbukan dengan atom-atom Hidrogen yang terkandung pada
fluida (air dengan rumus kimia yaitu H 2O), minyak dan gas dengan rumus kimia
CXHY, sehingga neutron akan kehilangan energi. Banyaknya neutron yang
ditangkap oleh detektor akan sebanding dengan jumlah atom Hidrogen di dalam
formasi (Rider,2002).

Gambar 2.8. Prinsip kerja Neutron Tool (Firdaus dan Prabantara, 2005)

Didalam suatu formasi, partikel-partikel neutron tidak hanya bertumbukan


dengan atom-atom Hidrogen, tetapi juga dengan atom-atom unsur kimia yang
lain. Tumbukan elastis hanya terjadi dengan atom Hidrogen karena partikel
neutronnya mempunyai massa yang sama dengan massa Hidrogen.
Interpretasi log neutron adalah sebagai berikut:
a. Interpretasi Kualitatif
Interpretasi kualitatif dari log neutron adalah untuk identifikasi adanya
hidrokarbon pada suatu formasi. Hidrokarbon didalam suatu formasi dicirikan

dengan separasi antara log densitas dengan log neutron. Keberadaan gas dicirikan
dengan besarnya separasi antara log densitas dan log neutron, sedangkan untuk
minyak, separasinya tidak begitu besar. Pada zona gas, jumlah Hidrogen tiap
volumenya lebih sedikit dari pada minyak dan air, sehingga pembacaan log
neutron akan rendah (Rider, 2002).

Gambar 2.9. Identifikasi Hidrokarbon menggunakan log densitas dan log neutron

b. Interpretasi Kuantitatif
Secara kuantitatif log neutron digunakan untuk mengetahui porositas dari
suatu batuan yang biasanya dinyatakan dalam persen (%).
4.1.6. Log Akustik
Log akustik merupakan hasil pengukuran waktu rambat gelombang
akustik pada jarak tertentu (interval transit time) di dalam sumur bor. Log akustik
biasanya ditampilkan pada track ke tiga bersama log densitas dan log neutron.
Satuan untuk log akustik adalah s/ft.

Alat log akustik terdiri dari dua buah pemancar (atas dan bawah) yang
memancarkan gelombang akustik ke dalam suatu formasi dan empat buah
penerima gelombang akustik (Rider, 2002).
Interpretasi log akustik adalah sebagai berikut:
a. Interpretasi Kualitatif
Penggunaan log akustik secara kualitatif adalah sebagai berikut :

Identifikasi litologi
Untuk membedakan batupasir dan serpih menggunakan log akustik

sangatlah sulit, karena perbedaan kecepatan pada batu pasir dan serpih tidak
begitu besar. Pada lapisan batugamping nilai kecepatan gelombang akustik akan
lebih tinggi dari batupasir dan serpih, sehingga akan mudah dibedakan secara
kualitatif. Pada batubara, kecepatan gelombang akustik akan menjadi rendah,
sehingga secara kualitatif dapat dibedakan dengan batupasir atau serpih.

Identifikasi adanya gas dalam formasi


Identifikasi keberadaan gas pada suatu formasi dengan menggunakan log

akustik membutuhkan pengukuran interval transit time untuk gelombang Primer


dan Sekunder. Keberadaan gas dapat diidentifikasi dengan adanya separasi antara
interval transit time gelombang Primer dan Sekunder.

Gambar 2.10. Identifikasi keberadaan gas pada suatu formasi


(Firdaus dan Prabantara, 2005)

c. Interpretasi Kuantitatif
Perhitungan porositas dari data log sonic dapat digunakan persamaan
berikut (Issler, 1992 dalam Rider, 2002) :

5. DATA DAN METODOLOGI TUGAS AKHIR


5.1. Data Tugas Akhir
Metodologi penelitian tersusun dari metode penelitian tugas akhir yang
meliputi metode deskriptis dan metode analisis. Metode analisis terdiri dari dua
bagian yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Selanjutnya adalah prosedur
tahapan penelitian yang tersusun dari tahap persiapan, pengumpulan data dan
analisis serta interpretasi data.
5.1.1. Metode Penelitian
Metode penelitian tugas akhir terdiri dari dua metode yaitu metode
deskriptif dan analisis.
5.1.2. Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah metode dari data yang sudah ada dari peneliti
terdahulu. Metode ini dilakukan dengan cara studi literatur melalui buku maupun
internet sebagai acuan untuk mengetahui kondisi daerah penelitian. Metode yang
diterapkan adalah dengan melakukan penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta
dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual dari
suatu daerah penelitian dan menarik kesimpulan dari sejumlah data dan kejadian
berdasarkan teori/dalil yang sudah jelas ketentuannya yang kemudian diyakini
kebenarannya.
Data berupa fakta dapat diketahui dari hasil penelitian terdahulu. Data dari
hasil penelitian terdahulu sangat berguna bagi referensi dalam melakukan
penelitian selanjutnya. Data ini dapat dijadikan sebagai perbandingan antara
peneliti terdahulu dan peneliti selanjutnya.

5.1.3. Metode Analisis


Metode analisis adalah metode yang didapat dari hasil interpretasi data
utama penelitian. Metode analisis ini dilakukan secara kualitatif yaitu didasarkan
pada pembacaan pola masing-masing log untuk mengetahui jenis litologi dan
fluida yang ada pada litologi. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan
melakukan perhitungan matematis dari rumus yang sudah ada maupun hasil
modifikasi dan pengembangannya secara empiris sehingga menghasilkan suatu
analisis yang numeris.
5.2. Tahap Penelitian
Tahapan penelitian terdiri dari tahap persiapan, tahap pengumpulan data,
dan tahap analisis dan interpretasi data. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
5.2.1. Tahap Persiapan
Persiapan yang dilakukan penulis meliputi studi pustaka dan pengumpulan
data. Studi pustaka ini bertujuan agar penulis mendapatkan referensi metodemetode yang digunakan untuk analisis data log. Sedangkan pengumpulan data
dilakukan untuk mendapatkan data yang digunakan untuk analisis serta data
penunjang, seperti laporan. Pengeboran dan laporan geologi sumur.
Studi diarahkan pada identifikasi kondisi geologi regional dan elemenelemen hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, untuk
mengurangi pengulangan pengerjaan dan memperkokoh proses interpretasi
selanjutnya.
5.2.2. Tahap Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data yang diperlukan sesuai dengan
maksud dan tujuan penelitian, baik yang tersimpan pada ruang data perusahaan
maupun yang terdapat pada peneliti sebelumnya. Selanjutnya dibuat database
dalam bentuk spreadsheet untuk mengurutkan dan mengelompokan data dalam
mempermudah akses penggunaan data dan interpretasi.
5.2.3. Tahap Analisis dan Interpretasi Data
a) Penentuan Zonasi
Analisis

kuantitatif

data

log

membutuhkan

parameter-parameter

interpretasi seperti nilai sinar gamma pada serpih, nilai sinar gamma pada formasi

bersih (clean sand), nilai resistivitas pada serpih dan nilai porositas serpih dari log
densitas dan neutron. Setiap formasi mempunyai karakter yang berbeda-beda,
sehingga parameter-parameter interpretasinya juga akan berbeda. Oleh karena itu
perlu dilakukan zonasi dalam penentuan parameter-parameter interpretasi di atas.
b) Kendali Mutu dan Pencocokan Kedalaman
Untuk kendali mutu perlu dilakukan pengecekan di log lapangan (field
print log) meliputi log, parameter pemboran dan kedalamannya perlu disesuaikan
serta harus sesuai dengan log resistivitas yang diasumsikan sebagai referensi
kedalaman. Pencocokan kedalaman dilakukan secara manual untuk mencegah
keraguan dibandingkan apabila dilakukan secara otomatis dengan bantuan
perangkat lunak untuk seluruh kedalaman.
c) Pre-Calculation dan Koreksi Lingkungan
Pre-Calculation
Perhitungan parameter yang akan digunakan dalam koreksi lingkungan
pada tahap pre-calculation adalah:
-

Temperature
Tekanan hidrostatik
Resistivitas dari lumpur, lumpur rembesan, kerak lumpur
Salinitas dari lumpur, lumpur rembesan dan tebal kerak lumpur dari alat

kaliper nukil/porositas.
Koreksi Lingkungan
Tanggapan alat logging sangat dipengaruhi kondisi lubang bor dan lumpur
pemboran. Koreksi lingkungan yang digunakan untuk menyesuaikan hasil logging
dengan koreksi yang meliputi:
-

Koreksi ukuran lubang bor dan berat lumpur terhadadap log sinar gamma
Koreksi ukuran, salinitas, temperature dan tekanan dari lubang bor, tebal
kerak lumpur, berat lumpur pemboran dan stand-off alat dari dinding

lubang sumur terhadap log Neutron


Koreksi resistivitas kerak lumpur dan tebaal kerak lumpur terhadap log

MSFL
Koreksi resistivitas zona terinvasi dan resistivitas lumpur terhadap
Lateralog
Dalam melakukan pre-calculation dan koreksi lingkungan, sumur dibagi

menjadi beberapa zona sesuai dengan logging run. Setiap zona mempunyai sifat
lumpur dan ukuran lubang bor yang berbeda.

d) Pemilihan Parameter
1. Analisi Crossplot
Parameter-parameter interpretasi didapatkan dari beberapa crossplot,
seperti crossplot neutron-densitas, crossplot neutron-sinar gamma dan crossplot
resistivitas-sinar gamma. Crossplot dilakukan karena tidak ada rumus matematis
yang dapat digunakan untuk menurunkan parameter-parameter interpretasi.
Pembuatan crossplot dilakukan pada tiap-tiap zonasi. Crossplot neutrondensitas digunakan untuk menentukan nilai densitas dan neutron dari wet clay dan
dry clay. Wet clay merupakan serpih yang tersaturasi air hingga jenuh, sedangkan
dry clay merupakan matriks serpih tanpa terisi fluida. Crossplot neutron-sinar
gamma digunakan untuk menentukan nilai sinar gamma pada wet clay dan dry
clay.
2. Histogram
Untuk mendapatkan parameter interpretasi selain menggunakan analisis
crossplot, pembuatan histogram juga dapat dilakukan untuk mengetahui sebaran
data, nilai mean, modus, median dan persentase data yang digunakan.
e) Perhitungan Kandungan Serpih (Vsh)
Perhitungan

kandungan

serpih

pada

batupasir

digunakan

untuk

mengetahui banyaknya serpih pada batupasir. Adanya serpih pada batupasir akan
mempengaruhi besarnya porositas, sehingga kandungan serpih digunakan untuk
koreksi porositas. Penentuan nilai sinar gamma pada formasi bersih dan pada
serpih dilakukan dengan crossplot neutron-sinar gamma. Penentuan nilai sinar
gamma pada formasi bersih didapat dari pembacaan sinar gamma pada titik
Quartz. Hal ini disebabkan karena formasi bersih disusun dari mineral-mineral
kuarsa (Quartz). Sedangkan nilai sinar gamma pada serpih didapat dari
pembacaan sinar gamma pada titik dry clay, karena matriks serpih tersusun oleh
mineral-mineral lempung (clay).

f) Perhitungan Porositas Terkoreksi


Porositas terkoreksi merupakan porositas yang sudah dikoreksi dari
kehadiran serpih dan gas pada batupasir. Perhitungan porositas terkoreksi
menggunakan log densitas dan log neutron. Perhitungannya dilakukan dengan dua

tahap, yyang pertama mengkoreksi terhadap kehadiran serpih pada batu pasir dan
yang kedua mengkoreksi terhadap kandungan gas.
g) Identifikasi Jenis dan Kontak Fluida dan Penentuan Rw
Identifikasi jenis dan kontak fluida dapat diketahui dari pembacaan log
resistivitas dan crossover (separasi) dari log densitas dan neutron diperlukan untuk
mengidentifikan tipe dan kontak fluida.
Penentuan resistivitas air (Rw) diperoleh dengan menggunakan rumus
Archie dan metode Picket plot merupakan pengembangan dari rumus Archie.
Pada penetuan Rw pada studi ini digunakan metode Picket plot yang
menjadi metode sederhana dan efektif. Metode ini digunakan dilakukan dengan
melakukan plotting nilai porositas terhadap nilai resistivitas pada lembar log
dengan dua atau tiga siklus.
Garis zona air yang diperoleh dari picket plot adalah dasar hubungan
antara porositas dan resistivitas pada zona air. Dalam pelaksanaannya resistivitas
air (Rw) diperoleh dari perpotongan nilai porositas efektif dengan nilai resistivitas
pada zona air.
Resistivitas air formasi yang digunakan pada perhitungan bukanlah
resistivitas yang sebenarnya, tetapi merupakan resistivitas semu. Hal ini
disebabkan karena tidak adanya data resistivitas air formasi yang diambil tiap
kedalaman. Pada studi ini dilakukan perhitungan nilai resistivitas air pada zona
yang secara kualitatif ait yaitu pada interval 3898-3907 feet MD dengan beberapa
metode yaitu Rasio, SP, Archie dan Simamdoux sebagai pembanding hasil antar
metode.
h) Perhitungan Saturasi Air dan Permeabilitas
1. Perhitungan Saturasi Air
Saturasi air (Sw) dapat diperoleh dari hasil perhitungan nilai porositas, resistivitas
dan volume serpih kedalam berbagai macam variasi rumus Archie. Rumus-rumus
ini telah dikembangkan untuk menjelaskan pengaruh dari lempung atau serpih
sebagai konduktor pada batuan reservoir. Metode-metode ini dapat dilakukan
dengan menambahkan parameter lempung atau serpih kedalam rumus dasar
Archie untuk menghitung konduktivitas lempung.
2. Estimasi Permeabilitas

Permeabilitas adalah sifat dari media porous yang memungkinkan fluida


dapat mengalir melalui media sebagai respon terhadap gradient tekanan. Berg
(1970), memberikan penjelasan tentang sifat dari batuan yang dikendalikan oleh
ukuran, bentuk dan kemenerusan dari butir batuan terhadap hubungan sifat aliran
fluida terhadap sifat batuan reservoir. Secara kualitatif hal tersebut menjadi masuk
akal apabila permeabilitas meningkat pada porositas yang meningkat pada
reservoir.
Tidak ada hubungan yang pasti antara permeabilitas dengan porositas,
rumus hubungan kedua parameter itu umumnya adalah empiris, dijabarkan pada
kondisi dan situasi tertentu. Sehingga pada studi ini untuk mendapatkan nilai
permeabilitas dilakukan dengan analisa regresi untuk memperoleh hubungan
antara porositas dan permeabilitas.
Penentuan kualitas reservoir adalah dengan melakukan cut-off dengan
kriteria yang diperoleh dari volume serpih, porositas dan saturasi air.
5.3. Bahan dan Alat
5.3.1. Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian tugas akhir ini meliputi :
1. Wireline log dalam format digital (*well) dan juga field print dalam bentuk
hard copy
2. Master log
3. Data core
4. Drill Stem Test (DST)
5.3.2. Alat
Alat yang berbentuk perangkat keras terdiri dari:
1. Workstation
2. Printer Laser
Perangkat lunak yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Perangkat lunak Geolog 6 untuk pengolahan data dan visualisasi model.
2. Perangkat lunak Microsoft Excell untuk pengolahan data
3. Perangkat lunak Microsoft Office untuk pembuatan laporan.
5.4. Diagram Alir Tugas Akhir

6. LOKASI TUGAS AKHIR


Lokasi tugas akhir akan disesuaikan dengan kebijakan oleh perusahaan
PT. PERTAMINA EP Field RANTAU
7. WAKTU PELAKSANAAN TUGAS AKHIR

Penelitian Tugas Akhir dilaksanakan selama 3 bulan yakni mulai tanggal 3


April 2014 17 Juli 2014 atau dengan waktu yang ditentukan oleh PT.
PERTAMINA EP Field RANTAU
Jadwal dan Rencana Penelitian
No
.
1
2
3
4
5
6

Activity

Oktober
2013 Maret 2014

Apr-14
1

Mei-14
4

Jun-14
4

Jul-14
4

Study Literatur
Aquisisi Data
Analisis Data
Interpretasi Data
Evaluasi dan
Pembuatan
Laporan
Bimbingan

(*Menyesuaikan kalender PT. PERTAMINA EP Field RANTAU)


8. AKOMODASI DAN DATA PENELITIAN
8.1. Akomodasi
Berdasarkan pertimbangan antara lain jarak yang jauh antara daerah asal
mahasiswa peneliti dengan daerah Tugas Akhir dan juga waktu Tugas Akhir yang
relatif lama, maka kami membutuhkan beberapa fasilitas yang menunjang
kelancaran jalannya Tugas Akhir antara lain akomodasi untuk mahasiswa selama
waktu Tugas Akhir. Pemberian tunjangan itensif selama Tugas Akhir di PT.
PERTAMINA EP Field RANTAU diperlukan oleh mahasiswa untuk membantu
kebutuhan diluar akomodasi dan konsumsi. Ketentuan mengenai pemberangkatan
dan kedatangan mahasiswa peneliti selanjutnya diatur oleh pihak PT.
PERTAMINA EP Field RANTAU

8. Kebutuhan/Perlengkapan TUGAS AKHIR(*)


a)
b)
c)
d)

Data-data yang diteliti, sesuai dengan judul/ tema Tugas Akhir


Peralatan yang terkait dengan Tugas Akhir
Ruang kerja
Personal computer yang menunjang Tugas Akhir

e) Perpustakaan
(*) Catatan : data dan kebutuhan dapat disesuaikan dengan kesepakatan dan
ketentuan PT. PERTAMINA EP Field RANTAU
9. PEMBIMBING TUGAS AKHIR
1. Pembimbing dari PT. PERTAMINA EP Field RANTAU
2. Pembimbing kampus dari Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi
Mineral, Institut Teknologi Medan.

10. PENUTUP
Proposal usulan Tugas Akhir ini kami ajukan dengan tujuan memberi
penjelasan maksud dan tujuan dari Tugas Akhir di PT. PERTAMINA EP Field
RANTAU dan berharap dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengajuan
program Tugas Akhir Mahasiswa. Kesempatan yang diberikan oleh perusahaan
dalam hal ini PT. PERTAMINA EP Field RANTAU kepada kami tentunya akan

dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh mahasiswa peneliti yang hasilnya akan


disusun dalam bentuk laporan hasil Tugas Akhir yang terbaik bagi PT.
PERTAMINA EP Field RANTAU.
Semoga dengan kesempatan ini akan selalu terjalin kerjasama yang baik
dan saling menguntungkan antara lembaga Perguruan Tinggi dalam hal ini Institut
Teknologi Medan dengan pihak PT. PERTAMINA EP Field RANTAU. Kami
mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kesempatan yang telah diberikan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kegiatan ini sehingga dapat berjalan
dengan lancar dan memberikan manfaat bagi semua pihak.
Mahasiswa Pemohon Tugas Akhir

Husni Randa
10307018

DAFTAR PUSTAKA
ARII, 1993, ESS-3 Final Report, ARII, Jakarta
ARII-Pertamina, 1997, Petroleum System of Offshore and Onshore North West
Java Indonesia, ARII-Pertamina, Jakarta
Firdaus, M. Dan Prabantara, A., 2005, Basic of Open Hole Interpretation, Elnusa

Drilling Service Short Course, Yogyakarta.


Harsono, A., 1997, Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log, Edisi ke-8, Schlumberger
Oilfield Services, Jakarta
Koesoemadinata, RP., 1974, Teknik Penyelidikan Geologi Bawah Permukaan,
Penerbit ITB, Bandung
Koesoemadinata, RP., 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi Jilid 1 Edisi Kedua,
Penerbit ITB, Bandung
Magbee, B.D., 1978, Progress Report, Oil and Gas in ES Field, Offshore N.W.
Java Contract Area, ARII, Jakarta
Mastoadji, E., 2007, Basic of Open Hole Interpretation, Chevron Pasific
Indonesia
Course, Semarang
Rider, M., 2002, The Geological Interpretation of Well Logs, Rider French
Consulting, Sutherland, Scotland