Anda di halaman 1dari 22

TUGAS BESAR

DESAIN PENGOLAHAN BIOLOGI


PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR
BUANGAN SECARA BIOLOGI
Diajukan Sebagai Syarat Kelulusan Mata Kuliah Desain Pengolahan Biologi

(KTL- 445)
Disusun Oleh:
Nama :

Yurry Ardiansyah P

NRP

25-2013-072

Dosen :
M.T.

Dr. Ir. Etih Hartati,

Asisten
:
Sabrina, S.T

Annisa Nur

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2016

Activated Sludge

Pengertian :
Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba
tersuspensi yang pertama kali dilakukan di Inggris pada awal abad 19. Sejak itu
proses ini diadopsi seluruh dunia sebagai pengolah air limbah domestik sekunder
secara biologi. Proses ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang
mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa baru.
Udara disalurkan melalui pompa blower (diffused) atau melalui aerasi mekanik. Sel
mikroba membentuk flok yang akan mengendap di tangki penjernihan (Gariel
Bitton, 1994). Menurut Peavy, Howard S. et.al., (1985) Proses pengolahan activated
sludge adalah suatu sistem kontinyu dimana pada sistem pengolahan biologi ini
memanfaatkan mikroorganisme aerob yang ada dalam air limbah domestik dan
diberikan supply oksigen baik dari udara ataupun dengan cara injeksi oksigen murni
dan flok yang terbentuk dari proses ini selanjutnya akan dipisahkan di unit clarifier.
Sebagian dari lumpur hasil pengendapan di clarifier tersebut dikembalikan lagi ke
tangki aerasi dan akan bercampur dengan influent limbah baru.
Mekanisme Proses Lumpur Aktif:
Menurut Sholichin (2012) pengolahan air limbah dengan proses lumpur aktif
konvensional/ standar secara umum terdiri dari bak pengendap awal, bak aerasi dan
bak pengendap akhir, serta bak khlorinasi untuk membunuh bakteri pathogen. Secara
umum proses pengolahannya adalah sebagai berikut. Air limbah yang berasal dari
sumber pencemar ditampung ke dalam bak penampung air limbah. Bak penampung
ini berfungsi sebagai bak pengatur debit air limbah serta dilengkapi dengan saringan
kasar untuk memisahkan kotoran yang besar. Kemudian air limbah didalam bak
penampunhg dipompa ke bak pengendap awal. Di dalam bak aerasi ini air limbah
dihembus dengan udara sehingga mikroorganime yang ada akan menguraikan zat
organik yang ada dalam air limbah. Energi yang didapatkan dari hasil penguraian zat
organik tersebut digunakan oleh mikroorganisme untuk proses pertumbuhannya.
Dengan demikian didalam bak aerasi tersebut akan tumbuh dan berkembang
biomassa dalam jumlah cukup besar. Biomassa atau mikroorganisme inilah yang
akan menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air limbah.
Dari bak aerasi, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Didalam bak ini
lumpur aktif yang massa mikroorganisme diendapkan dan dipompa kembalu ke
bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Air limpasan (over flow) dari
bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi. Didalam bak kontaktor klor ini air
limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh mikroorganisme
patogen.
Air olahan, yakni air yang keluar setelag proses khlorinasi dapat langsung
dibung ke sungai atau saluran umum. Dengan proses ini air limbah dengan
konsentrasi 250 300 mg/lt dapat diturunkan kadar BOD nya menjadi 20-30 mg/lt
berarti efisiensi penyisihan BOD nya sebesar 90-92%. Skema proses pengolahan air
limbah dengan sistem lumpur aktif standar/konvensional dapat dilihat pada gambar
berikut:

Perhitungan yang dibutuhkan:


Variabel perencanan (design variabel) yang umum digunakan dalam
proses

pengolahan

air

limbah

dengan

sistem

lumpur

aktif

(Sholichin,2012 dalam Davis dan Cornweell, 1985; Yerstraete dan van


Yaerenbergh, 1986,) adalah sebagai berikut:
1. Beban BOD (BOD Loading rate atau Volumetry Loading
Rate).
Beban BOD adalah jumlah massa BOD di dalam air limbah yang
masuk (influent) dibagi dengan volume reaktor. Beban BOD dapat
dihitung dengan rumus sebagai berikut: Dimana Q = debit air
limbah yang masuk (m3 /hari) So = Konsentrasi BOD di dalam air
limbah yang masuk (kg/m3 ) V = Volume reaktor (m3 )

2. Mixed liqour suspended solids (MLSS).


Isi di dalam bak aerasi pada proses pengolahan air limbah dengan
sistem lumpur aktif disebut sebagai mixed liqour yang merupakan
campuran antara air limbah dengan biomassa mikroorganisme
serta padatan tersuspensi lainnya. MLSS adalah jumlah total dan
padatan tersuspensi yang berupa material organik dan mineral,
termasuk di dalamnya adalah mikroorganisme. MLSS ditentukan
dengan cara menyaring lumpur campuran dengan kertas saring
(filter), kemudian filter dikeringkan pada temperatur 105 oC, dan
berat padatan dalam contoh ditimbang.
3. Mixed-liqour volatile suspended solids (MLVSS).

Porsi material organik pada MLSS diwakili oleh MLVSS, yang berisi
material organik bukan mikroba, mikroba hidup dan mati, dan
hancuran sel (Nelson dan Lowrence, 1980). MLVSS diukur dengan
memanaskan terus sampel filter yang telah kering pada 600
6500oC, dan nilainya mendekati 65-75% dari MLSS.
4. Food - to - microorganism ratio atau Food - to mass ratio
disingkat F/M Ratio.
Parameter ini menujukkan

jumlah

zat

organik

(BOD)

yang

dihilangkan dibagi dengan jumlah massa mikrorganisme di dalam


bak aerasi atau reaktor. Besamya nilai F/M ratio umumnya
ditunjukkan dalam kilogram BOD per kilogram MLLSS per hari
(Curds dan Hautkes, 1983; Nathanson, 1986). F/M dapat dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

f Q ( SoS )
=
m MLSS x V
Dimana:
Q = Laju air limbah m3/hari
So

= Konsentrasi BOD di dalam air limbah yang masuk

ke bak aerasi (kg/m3)


S = Konsentrasi BOD di dalam efluaent (kg/m3)
MLSS= Mixed liquor suspended solids (kg/m3)
V

= Volume reactor atau bak aerasi (m3)

Rasio F/IvI dapat dikontrol dengan cara mengatur laju sirkulasi


lumpur aktif dari bak pengendapan akhir yang disirkulasi ke bak
aerasi lebih tinggi laju sirkulasi lumpur aktif lebih tinggi pula rasio
F/M-nya. Untuk pengolahan air limbah dengan sistem lumpur aktif
konvensional atau standar, rasio F/M adalah 02 - 0,5 kg BOD 5 per
kg MLSS per hari, tetapi dapat lebih tinggi hingga 1,5 jika
digunakan oksigen murni (Hammer, 1986). Rasio F/M yang rendah
menunjukkan bahwa mikroorganisme dalam tangki aerasi dalam
kondisi lapar, semakin rendah rasio F/M pengolah limbah semakin
efisien.

5. Hidraulic retention fitae (HRT).


Waktu tinggal hidraulik (HRT) adalah

waktu

rata-rata

yang

dibutuhkan oleh larutan influent masuk dalam tangki aerasi untuk

proses lumpur aktif; nilainya berbanding terbalik dengan laju


pengenceran (dilution rate, D) (Sterritt dan Lester, 1988).
HRT = 1/D = V/Q
Dimana:
V = Volume reaktor atau bak aerasi (m3).
Q = Debit air linbah yang ma.uk ke dalam Tangki aerasi (m3/jam)
D = Laju pengenceran (1/jam).
6. Ratio Sirkulasi Lumpur (Hidraulic Recycle Ratio, HRT)
Ratio sirkulasi lumpur adalah perbandingan antara jumlah lumpur
yang disirkulasikan ke bak aerasi dengan jumlah air limbah yang
masuk ke dalam bak aerasi.
Rasio Resirkulasi (R) = Qr/Qo
=

X
XuX

Dimana
Qr
= jumlah lumpur yang disirkulasikan ke bak aerasi (m3/jam)
Qo
= jumlah air limbah yang masuk kedalam bak aerasi
(m3/jam)
Xu
= konsentrasi bahan organik dalam lumpur resirkulasi
(kg/m3)
X
= biomass atau bahan organik yang dinyatakan dalam
MLVSS yang terdapat dalam reaktor (kg/m3) 7
7. Umur lumpur (sludge age) atau sering disebut waktu
tinggal rata-rala cel (mean cell residence time)
Parameter ini menujukkan waktu tinggal rata-rata mikroorganisme
dalam sistem lumpur aktif. Jika HRT memerlukan waktu dalam jam,
maka waktu tinggal sel mikroba dalam bak aerasi dapat dalam
hitungan hari. Pararneter ini berbanding terbalik dengan laju
pertumbuhan mikroba. Umur lumpur dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut (Hanmer, 1986; Curds dan Hawkes, 1983).
Umur Lumpur (hari):

c =

V.X
Qw X w +(QQw ) X e

Dimana:
Qw
= debit lumpur terbuang, (m3/hari)
Q
= debit lumpur, (m3/hari)
Xw
= konsenterasi VSS, (mg/l)
Xe
= debit lumpur terbuang, (mg/l)
8. Kebutuhan Dan Transfer Oksigen

a) digunakan mechanical aerator tipe surface aerator


b) kebutuhan udara untuk aerasi = 62 m3/kg BOD
c) waktu detensi aerator = 2 5 jam

d) Kebutuhan dan transfer oksigen:


C5H7NO2 + 5 O2 5 CO2 + 2 H2O + NH3+ E
(113)
5 (32)
BODL 1 mol sel = 1, 42 X konsentrasi sel
e) Kebutuhan oksigen teoritis
r o=r SU 1,42 r g
Dimana:
= laju asupan atau penggunaan O2, (gr O2/m3.hari)
= laju penggunaan substrata tau total massa BODL,
(gr COD/m3.hari)
1,42 = nilai CODatau BOD jaringan sel, (g COD/g VSS)
rg
= laju pertumbuhan biomassa, (gr VSS/m3.hari)
rO
rsu

9. Resirkulasi (R)
Q
X
R= r =
Qo X r X
Keterangan:

F/M

= rasio makanan & mikroorganisme (/hari)

= waktu detensi hidrolik tangki aerasi


= V / Q (hari)

So

= konsentrasi BOD atau COD influent, (mg/l)

= Konsentrasi Volatile SS (mg/l) atau (g/m3)

= rata-rata waktu tinggal sel berdasarkan vol.tangki (hari)

Vr

= Volume reaktor ( m3 )

= Konsentrasi Volatile SS (mg/l) atau (g/m3)

Qw

= debit lumpur terbuang, mgal/hr(m3/hr)

Xw

= konsentrasi volatile suspended solid dalam lumpur terbuang, mg/l atau

g/m3
Qe

= rata-rata effluen yang terolah, mgal/hr

Xe

= konsentrasi

Grafik Monod

Oxidation Ditch
Pengertian
Parit oksidasi adalah bentuk yang telah dimodifiaksi dari sistem lumpur aktif.
Parit oksidasi merupakan sistem pengolahan mekanis kedua yang bisa
diaplikasikan untuk berbagai macam hidrolik dan muatan organik. Parit
oksidasi terdiri dari saluran berbentuk cincin atau oval yang dilengkapi
dengan peralatan aerasi mekanis. Limbah yang telah tersaring yang masuk ke
dalam parit kemudian diaerasi dan disirkulasi. Parit oksidasi memiliki waktu
detensi yang lama dan mampu melakukan penghilangan sebesar 75% hingga
95% dari jumlah BOD. Parit oksidasi dapat dengan mudah diatur untuk
segala jenis air buangan dan standar efluen. Parit oksidasi memerlukan luas
lahan yang lebih besar namun lebih murah dalam hal konstruksi dan
operasional.
Oxidation Ditch (Parit Oksidasi) adalah bak berbentuk parit yang digunakan
untuk mengolah air limbah dengan memanfaatkan oksigen (kondisi aerob).
Kolam oksidasi ini biasanya digunakan untuk proses pemurnian air limbah
setelah mengalami proses pendahuluan. Fungsi utamanya adalah untuk
penurunan kandungan bakteri yang ada dalam air limbah setelah pengolahan.
Pengolahan pendahuluan, seperti screening dan penyisihan grit, biasanya
mandahului proses oxidation ditch. Proses pengendapan primer sebelum
oxidation ditch terkadang juga dilakukan. Proses penyaringan mungkin
dibutuhkan setelah proses pengolahan dengan clarifier jika efluen yang
dihasilkan harus memenuhi baku mutu tertentu. Aliran limbah yang masuk ke
oxidation ditch diaerasi dan dicampur dengan lumpur aktif yang berasal dari
lumpur yang disisihkan di clarifier (EPA, 2000).

Cara Kerja:
1. Air limbah di-screen dulu dengan coarse screen dan dikominusi dengan
comminutor agar ranting dan sampah menjadi berukuran kecil dan dapat
disisihkan.
2. Setelah itu air limbah dialirkan ke dalam grit chamber untuk menyisihkan
pasirnya.
3. Tahap selanjutnya adalah primary settling tank yang berfungsi mengendapkan
partikel yang lolos dari grit chamber. Efluen settling tank ini selanjutnya
masuk ke paritoksidasi. Pada setiap unitnya, air limbah selalu mengalami
pengenceran (dilusi) otomatis ketika kembali mengalir melewati bagian inlet.
Faktor dilusi ini bisa mencapai nilai 20 s.d 30 sehingga nyaris teraduk
sempurna meskipun bentuk baknya mendukung aliran plug flow, yakni hanya
teraduk pada arah radial saja dengan aliranyang searah (uni directional).
Influennya serta merta bercampur dengan air limbah yang sudah dioksigenasi

dan mengalami fase kekurangan oksigen. Pengulangan ini berlangsung terusmenerus selama pengoperasian parit oksidasi.

1.
2.
3.
4.

Kelebihan:
Biaya rendah karena maintenance sederhana
Effluent stabil
Efisiensi removal BOD/COD tinggi ( 9-95%)
Efisiensi removal BOD / COD tinggi (90 95%)
Operasional sederhana
Pengolahan sludge lebih sederhana karena sludge yang dihasilkan relatif
sedikit &stabil
Maintenance sederhana
Memungkinkan terjadinya proses nitrifikasi & denitrifikasi
waktu retensi hidrolis yang lama dan proses pencampuran yang sempurna
dapat meminimasi akibat dari shock loading
menghasilkan lumpur yang lebih sedikit dibandingkan dengan proses
pengolahan biologi lainnya
penggunaan energinya lebih efisien dibanding pengolahan biologis lainnya.

Kekurangan:
Umumnya digunakan untuk pengolahan limbah skala kecil
Memerlukan area luas ( dimensi saluran besar, kedalaman kecil )
Rotor sebagai penyuplai oksigen harus dibersihkan secara periodik
Masih mengandung zat padat tersuspensi yang tinggi dari adanya algae (100
200 mg/l)
Efisiensi tidak stabil (menurun pada malam hari) karena proses photosyntesa
terhenti.
konsentrasi padatan tersuspensi pada efluen relatif lebih tinggi dibandingkan
proses lumpur aktif lainnya
membutuhkan area yang lebih luas daripada pengolahan dengan lumpur aktif
lain. Hal ini berarti bahwa oxidation ditch kurang cocok diterapkan pada
daerah perkotaan dimana biaya untuk pembelian lahan relatif tinggi.

Removal Ability Oxidation:


Rasio BOD dan BOD removal = 85 % -90%
Rasio removal SS = 80% -90%
Rasio removal Nitrogen = 70%
Rasio sludge generated sekitar 75 % dari BOD atau SS removal

Kriteria Desain Oxidation Ditch:

Letak aerator = pada kedalaman 1,0 1,3 m


Udara dari atmosfer menggunakan tekanan negatif dalam air untuk memutar
screw
Kecepatan rata-rata dalam saluran minimum = 0,3 m/detik untuk menjaga
terjadinya pengendapan dalam aerasi
Dilakukan resirkulasi untuk menjaga konsentrasi MLSS dalam bak aerasi
Konsentrasi lumpur dalam bak aerasi = 3000 6000 mg/L
Rasio F/M = 0,03 0,15 kg BOD / hr / Kg VSS
Perencanaan rotor meliputi: diameter rotor, panjang rotor, jumlah & tenaga
penggerak/motor
Kebutuhan Oksigen = kapasitas Oksigen x beban BOD
Panjang rotor yang diperlukan = kebutuhan O2 dalam bak dibagi dengan
kapasitas oksigenasi rotor

Keterangan:

Design Guidelines for Oxidation Ditch/Extended Aeration System

Kontak Stabilisasi
Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi.
Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai
pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah
berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala
modifikasinya. Salah satu modifikasi yang digunakan adalah dengan kontak
stabilisasi. Kontak stabilisasi adalah modifikasi dari proses lumpur aktif
konvensional.
Pada kontak stabilisasi bekerja menggunakan 2 tangki aerasi yaitu,
Contact tank yang berfungsi untuk mengadsorbsi bahan organik untuk proses
lumpur aktif, pada bak kontak sebelumnya sudah diberi mikroorganisme dan
diinjeksikan udara. Waktu tinggal air limbah pada bak kontak kurang lebih 4
- 6 jam. Pada bak kontak inilah terjadi perombakan air limbah oleh
mikroorganisme, degradasi COD dan BOD pada bak kontak ini dapat
mencapai 90-95%. Yang perlu diperhatikan dalam bak kontak adalah
distribusi udara, distribusi udara harus merata dan tinggi cairan dalam bak
kontak ditentukan (diasumsikan), tinggi cairan ini akan mempengaruhi head
loss pada blower, effisiensi blower kurang lebih 40-50 %, jika tinggi air
limbah pada bak kontak 2 m, maka blower yang dipergunakan mempunyai
head loss 4-5 m. Dengan waktu kontak yang telah ditetapkan maka dimensi

baka dapat dihitung. Air limbah yang tercampur mikroorganisme pada bak
kontak ini selanjutnya dialirkan secara gravitas (atau dipompa) menuju
clarifier.
Tangki aerasi kedua adalah Stabilization tank yang berfungsi untuk
mengoksidasi bahan organik yang telah diadsorbsi, pada bak stabilisasi ini,
mikroorganisme diistirahatkan, waktu tinggal mikroorganisme dalam bak
stabilisasi ini mencapai 3-4 jam, selanjutnya dialirkan secara gravitasi (atau
dipompa) menuju bak kontak dan demikian seterusnya. Pada bak stabilisasi
juga diinjeksikan udara. Dengan waktu tinggal 3-4 jam dapat dirancang
dimensi bak stabilisasi ini.

Dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan


berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak
dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus
berkembang dengan berbagai modifikasinya contohnya kontak-stabilisasi.
Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional yang lain, kontak
stabilisasi mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD
dapat mencapai 85%-95% dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Selain
efisiensi yang lebih tinggi , kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang
lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam), kemudahan
dalam pengoperasian dan perawatan bak kontak yang cukup sederhana. Biaya
yang dikeluarkan untuk merawat dan mengoperasikan sistem kontak
stabilitationpun juga relatif murah, namun dalam pembuatan dan
perancangannya memerlukan dana yang besar.
Kelemahan kolam stabilisasi adalah dalam pengoperasian dan sistem
perancangannya membutuhkan lahan yang luas, sehingga perlu adanya
estimasi dana yang besar untuk menyiapkan lahan yang luas dan berdampak
pada mahalnya biaya investor yang berinvestasi pada proyek pengolahan air
ini. Selain itu dari segi estetika, kolam stabilisasi sering menimbulkan bau
yang diakibatkan proses biodegradasi anaerob.

Sumber: Metcalf
17. Theoretical oxygen requirements

27. Air supplied per m3 of aeration tank

Complete Mix Activated Sludge (CMAS)

Menurut Reynolds/Richards. 1996. dalam Unit Operations and Processes in


Environmental Engineering Second Edition. Boston: PWS Publishing
Company, pada completely mixed reactor, pengadukan yang cukup
dibutuhkan untuk menghasilkan campuran yang sempurna, yang
mengasumsikan bahwa fluida yang akan masuk reaktor seketika tercampur
dengan fluida yang sudah ada dalam reaktor. Konten reaktor sama diseluruh
volume tangki. Jika pengadukan memadai, dan fluida tidak terlalu kental atau
pekat (air limbah), asumsi pencampuran yang sempurna (completely mix)
dapat terjadi. Pada completely mixed reactor, nomor dispersi adalah dari 4
sampai tak terhingga.
Biasanya digunakan tangki aerasi yang berbentuk lingkaran atau persegi
sebagai bak reaktor. Setelah preliminary dan primary treatment, clarified
wastewater flow (Q) memasuki reaktor dan secara cepat menyebar ke seluruh
reaktor. Recycled activated sludge flow (R), langsung dialirkan ke dalam

reaktor disekitar aerator sehingga dengan cepat dapat tercampur diseluruh


reaktor. Sejak recycle sludge flow (R) mengandung active biological solid,
introduksi ke dalam reaktor dilakukan dengan cara menanamkan reaktor
dengan massa mikroba aktif. Metode introduksi R lainnya adalah mencampur
R dengan Q, untuk menanam air limbah yang akan masuk dengan active
biological solid. Q dan R masuk ke dalam reaktor, lalu dengan cepat
menyebar ke seluruh volume reaktor. Introduksi R ke dalam reaktor secara
langsung, membantu meminimalisir pengaruh material yang beracun pada
feed wastewater. Konten dalam reaktor sama diseluruh volume reaktor dan
memiliki karakteristik yang sama dengan effluent reaktor. Dalam reaktor,
active biological solid menyerap materi organik (larut dan tidak terlarut)dan
mengoksidasi material ini untuk menghasilkan produk aerobic dan
mensintesis sel mikroba baru. Completely mixed activated sludge process
ini unik karena konten diseluruh reaktor memiliki karakteristik yang sama
dengan aliran cairan yang keluar reaktor. Sehingga konsentrasi substrat
terlarut dalam reaktor sama dengan yang ada pada aliran yang keluar dan
effluen akhir. Total konsentrasi substrat di reaktor, larut maupun tidak larut,
pada dasarnya memiliki konsentrasi yang sama dengan yang ada pada aliran
menuju final clarifier dan final effluent.
Kelebihan menggunakan completely mixed activated sludge, adalah :
1. Penyetaraan maksimum pada tingkat penyerapan oksigen
2. Meredam maksimum beban yang masuk karena beban secara cepat
terdispersi ke seluruh volume reaktor
3. Netralisasi maksimum produksi karbondioksida selama bio-oksidasi
aerobik
4. Reduksi maksimum toksisitas pada beban beracun karena degan mudah
tercampur ke seluruh volume reaktor
5. Kondisi lingkungannya relative sama untuk active biological mass
6. Fleksibilitasnya lebih besar dibandingkan dengan proses lain
Kekurangan menggunakan completely mixed process, adalah:
1. Volume untuk penghilangan organik yang diberikan untuk organik terlarut
dalam
air limbah harus lebih besar dari pada volume pada proses
konvensional atau kebanyakan proses lainnya.