Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KELOMPOK

FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI POLA MAKANAN

DISUSUN OLEH
1.
2.
3.
4.
5.
6.

EFRI SUSANTI
FRISKA ANDINIE
HENI SANTRI
INDAH PUSPITA SARI
NAZIAH
VETTY SARI SIGIRO

AKADEMI KESEHATAN SAPTA BAKTI BENGKULU


2010/2011

Pengertian lansia

Pengertian lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai


kemasakan

dalam

ukuran

dan

fungsi

dan

juga

telah

menunjukkan

kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai usia


kemunduran yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun.
Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang
menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang
telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah
kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan lansia
Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu
fisik, psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah tersebut dapat berupa emosi
labil, mudah tersinggung, gampang merasa dilecehkan, kecewa, tidak
bahagia, perasaan kehilangan, dan tidak berguna. Lansia dengan problem
tersebut menjadi rentan mengalami gangguan psikiatrik seperti depresi,
ansietas

(kecemasan),

psikosis

(kegilaan)

atau

kecanduan

obat.

Pada

umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian.


Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya
(fisik masih kuat, bekerja dan berpenghasilan) menjadi kemunduran.
1. Faktor fisik
Dengan adanya penurunan kesehatan dan keterbatasan fisik maka
diperlukan

perawatan

sehari-hari

yang

cukup.

Perawatan

tersebut

dimaksudkan agar lansia mampu mandiri atau mendapat bantuan yang


minimal. Perawatan yang diberikan berupa kebersihan perorangan seperti
kebersihan gigi dan mulut, kebersihan kulit dan badan serta rambut. Selain
itu pemberian informasi pelayanan kesehatan yang memadai juga sangat
diperlukan bagi lansia agar dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang
memadai.

Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah


penyesuaian. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan
sebelumnya

(fisik

masih

kuat,

bekerja

dan

berpenghasilan)

menjadi

kemunduran.
Aktif Secara Fisik
Semakin dini kita memulai olahraga dan mempertahankan aktivitas
tersebut secara rutin, semakin besar pula manfaat yang diperoleh pada usia
lanjut nanti. Manfaat olahraga banyak sekali, antara lain pengendalian berat
badan,

memperbaiki

sirkulasi

(peredaran)

darah,

perbaikan

postur,

meningkatkan kelenturan, menambah ketahanan tubuh (imunitas), serta


memperbaiki keseimbangan. Luangkan waktu untuk berolahraga 20-30
menit setiap harinya dan lakukan 3 kali dalam sepekan.
2. Faktor psikologis
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap psikologi
lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para
lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa
faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa
mereka adalah sebagai berikut.
Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi
adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology),
misalnya tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin
rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang
sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda.
Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik,
psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu
keadaan ketergantungan kepada orang lain.

Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang
sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi
psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk
mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus
mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur,
istirahat dan bekerja secara seimbang.

Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual


Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali
berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti : Gangguan jantung,
gangguan metabolisme, misal diabetes millitus, vaginitis, baru selesai
operasi : misalnya prostatektomi, kekurangan gizi, karena pencernaan
kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang, penggunaan obat-obat
tertentu, seperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer.
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :

Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada

lansia
Sikap keluarga

diperkuat oleh tradisi dan budaya.


Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.
Pasangan hidup telah meninggal.
Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan

dan masyarakat yang kurang menunjang serta

jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.


Perubahan Aspek Psikososial
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga

menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara


fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan

adanya

penurunan

kedua

fungsi

tersebut,

lansia

juga

mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan


kepribadian lansia.

Beberapa

perubahan

tersebut

dapat

dibedakan

berdasarkan

tipe

kepribadian lansia sebagai berikut:

Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe


ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai

sangat tua.
Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada
kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada
masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan

otonomi pada dirinya.


Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini
biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak,
tetapi

jika

pasangan

hidup

meninggal

maka

pasangan

yang

ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit

dari kedukaannya.
Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini
setelah

memasuki

lansia

kehidupannya,

banyak

diperhitungkan

secara

tetap

merasa

keinginan
seksama

ekonominya menjadi morat-marit.

yang

sehingga

tidak

puas

kadang-kadang
menyebabkan

dengan
tidak
kondisi

Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia tipe ini
umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu
orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.

Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan


Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun
tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau
jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya,
karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan,
jabatan, peran, kegiatan, status danharga diri. Reaksi setelah orang
memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya seperti
yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental
setelah lansia? Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu
dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada
yang takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua
dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masingmasing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing
individu, baik positif maupun negatif. Dampak positif lebih menenteramkan
diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu kesejahteraan hidup
lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif sebaiknya ada masa persiapan
pensiun

yang

benar-benar

diisi

dengan

kegiatan-kegiatan

untuk

mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja atau tidak
dengan memperoleh gaji penuh.
Persiapan tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan
terarah bagi masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan
assessment untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan
yang jelas dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan
memasuki

masa

lansia

dapat

dilakukan

pelatihan

yang

sifatnya

memantapkan arah minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta,


cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya.
Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat
hasilnya sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping
pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup
menjanjikan

dalam

menghadapi

masa

tua,

sehingga

lansia

tidak

membayangkan bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna,


menganggur, penghasilan berkurang dan sebagainya
Faktor sosial di masyarakat
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak
fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan
kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran
sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering
menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu
mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup,

agar

tidak

merasa

terasing

atau

diasingkan.

Karena

jika

keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan


orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta
merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya
seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya
lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran)
masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak , cucu, cicit,
sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care)
dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak
punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya
pasangan

hidup

namun

tidak

punya

anak

dan

pasangannya

sudah

meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi


telantar
Faktor sosial ekonomi
Penyesuaian diri lansia adalah kemampuan untuk mempertahankan
eksistensinya baik pada perubahan jasmani dan rohani serta mampu
beradaptasi

dengan

lingkungan

disekitarnya,

penyesuaian

diri

juga

nerupakan kemampuan individu untuk beradaptasi, agar dapat diterima


dilingkungan tempat tinggal. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin
mengetahui penyesuaian diri lansia pada subyek dengan status sosial
ekonomi rendah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode
kualitatif, dimana dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan instrument
utamanya. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah,
observasi dan wawancara. Observasi dan wawancara dilakukan selama
sepuluh hari kesemua subyek. Subyek penelitian ini terdiri dari tiga subyek,
yaitu berusia 67-84 tahun, terdiri dari dua orang janda perempuan dan satu
orang duda laki laki. Penelitian yang dilakukan mendapatkan hasil bahwa,
penyesuaian diri lansia pada subyek dengan status ekonomi rendah
menunjukkan pada penyesuaian diri yang kurang baik, hal ini dapat dilihat
sesuai dengan aspek aspek penyesuaian diri diantaranya :
1. Adanya persepsi yang tepat tentang kenyataan atau realita Penyesuaian
diri dari masing masing subyek (LK, STI dan YS) terkait dengan adanya
kenyataan

atau

realitas

kehidupuan,

masing

masing

memiliki

permasalahan yang sama, terutama masalah ekonomi, dimana masing


masing subyek merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
2. Mampu mengatasi stress dan ketakutan dalam diri sendiri Dari masing
masing subyek masih mampu mengatasi stress atau masalah yang dihadapi,
cara cara mereka pun sama dalam mengatasi masalah, untuk memenuhi
kebutuhan mereka selalu berusaha misal dengan cara berhutang, bila ada
masalah bercerita (curhat) ke orang lain.

3. Dapat melihat diri sendiri secara positif Dari ketiga subyek, LK, STI dan Ys
masing masing dapat menilai diri sendiri secara positif, hal ini dapat dilihat
dari bagaimana kemauan mereka yang terus optimis untuk menjalani hidup
walau usia sudah tua.
4.

Mampu

mengekspresikan

emosi

dalam

diri

sendiri

Dalam

mengekspresikan emosi, tergolong baik dan tidak ada masalah namun dalam
mengatasinya berbeda beda, namun rata rata mereka selalu curhat ke
tetangga bila ada masalah.
5. Memiliki hubungan interpersonal yang baik Dapat dilihat disini dari ketiga
subyek memiliki hubungan yang kurang baik, terutama terhadap lingkungan
sekitar, hal ini dapat dilihat dari bagaimana cara mereka bergaul atau
berinterakasi hanya sebatas pada lingkungan tempat tinggal mereka saja.
Kebutuhan nutrisi pada lanjut usia
Kebutuhan gizi klien lanjut usia perlu dipenuhi secara adekuat untuk
kelangsungan proses pergantian sel dalam tubuh, mengatasi proses menua,
dan memperlambat terjadinya usia biologis. Kebutuhan kalori pada klien
lanjut usia berkurangnya kalori dasar akibat kegiatan fisik. Kalori dasar
adalah kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tubuh dalam
kadaan istirahat, misalnya untuk jantung, usus, pernapasan, ginjal, dll.
Kebutuhan kalori klien lanjut usia tidak melebihi 1700-2100 kalori, yang
bersumber dari karbohidrat, lemak, dan protein. Sebaiknya disesuaikan
dengan macam kegiatannya. Kebutuhan protein normal usia lanjut usia
adalah 1 gr / kg BB / hari.

1. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi lanjut usia :

Berkurangnya kemampuan mencerna makanan ( akibat rusaknya gizi /

ompong)
Berkurangnya cita rasa
Berkurangnya koordinasi otot
Keadaan fisik yang kurang baik
Faktor ekonomi dan social
Faktor penyerapan makanan (daya absorsi)

2. Masalah Gizi Pada Lanjt usia :


Gizi Berlebih
Gizi berlebihan pada usia lanjut usia banyak terdapat di negara barat
dan kota besar. Kebiasaan makan pada usia muda menyebabkan berat
badan berlebih, apalagi pada lanjut usia

karena penggunaan kalori

berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan tersebut


sulit diubah walaupun klien telah menyadari untuk mengurangi makan.
Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya
penyakit jantung, diabetes mellitus, penyempitan pembuluh darah, tekanan
darah tinggi.
Gizi Berkurang
Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah social ekonomi dan juga
karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang
dibutuhkan, hal tersebut menyebabkan berat badan berkurang dari normal.
Apabila kondisi ini disertai kekurangan protein, kerusakan sel terjadi yang
tidak dapat diperbaiki. Akibatnya, rambut rontok, daya tahan terhadap
penyakit menurun, atau mudah terkena infeksi pada organ tubuh vital.
3. Faktor Penyebab Malnutrisi pada Lanjut Usia:

Penyebab akut dan kronis


Keterbatasan sumber / penghasilan
Faktor psikologis
Hilangnya gigi

Kesalahan dalam pola makan


Kurangnya energi untuk mempersiapkan makanan
Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi yang tepat

4. PENGKAJIAN STATUS GIZI


Perawat harus melakukan penglajian status gizi secara cermat dan sebaiknya
menggunakan lebih dari satu parameter.
a. Penimbangan Berat Badan
Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali,
waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu.
Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap
kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu
menunjukkan kekurangan berat badan.
Menghitung berat badan ideal pada dewasa :
Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm 100)
Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB
kurang dari 160 cm, digunakan rumus :
Berat badan ideal = TB dalam cm 100
Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih
Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang
b. Kekurangan Kalori Protein
Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang
bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman,
kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk
menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu
nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak

mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi
lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat.
c. Kekurangan Vitamin
Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar
matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi
vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk
olahannya.
Perawat harus melakukan status gizi secara cermat dan sebaiknya
menggunakan

lebih

dari

parameter.

Parameter

pertama

adalah

menggunakan pengukuran antropometrik, yaitu mengukur tinggi badan (TB),


dan berat badan (BB), kemudian menghitung indeks masa tubuh (IMT). IMT
dihitung dengan membagi berat badan (dalam kg) dengan kuadrat TB
(dalam meter persegi). IMT normal untuk perempuan 17-23, sedangkan
untuk laki-laki adalah 18-25.
IMT = (kg BB)/ (TB)2
Pada saat mengukur tinggi badan seorang lanjut usia, perlu diingat
bahwa lanjut usia dapat mengalami pengurangan tinggi badan seiring
dengan pertambahan usia. Pengurangan tersebut dapat disebabkan oleh
beberapa hal, diantaranya :
Komponen cairan tubuh berkurang sehingga diskus invertebralis relatif
kurang mengandung air sehingga menjadi lebih pipi semakin tua semakin
kifosis
Osteoporosis yang sering terjadi pada wanita lanjut usia akan mudah
mengakibatkan hraktur vertebra sehingga tinggi badan berkurang
Penurunan tinggi badan tersebut akan mempengaruhi hasil perhitungan
Indeks Massa Tubuh ( IMT)

Oleh karena itu dianjurkan menggunakan ukuran tinggi lutut (Knee Height) :
TB Pria

: 59,01 + ( 2,08 x TL )

TB Wanita : 75,00 + ( 1,91 x TL ) ( 0,17 x U )


Catatan :
TL : Tinggi Lutut (cm)
U : Umur ( tahun )

Parameter lain adalah melakukan anamnesi makanan yang dilakukan seharihari. Jumlah energi dihitung dalam kilo kalori (yang perlu dibedakan dalam
prosentase dari hidrat arang, lemak, dan protein) ; kandungan protein dalam
garam. Cara menghitungnya tidak terlalu sulit, dapat digunakan ukuran baku
rumah tangga seperti untuk nasi, dapat dipakai ukuran satu gelas belimbing
(150gr) yang setara dengan 260 kilo kalori; sedangkan, 1 butir telur ayam
negeri (50gr) mengandung protein setara dengan 10gr. Konsumsi sayur
mayor berwarna 2 kali sehari (masing-masing gelas belimbing) ditambah
buah segar berwarna 2 kali sehari akan menyediakan serat sebesar 22gr.
5. Kebutuhan Gizi Pada Usia lanjut
Kecukupan energi sehari yang dianjurkan untuk pria yang berusia lebih tua
atau sama dengan 60 tahun dengan berat badan sekitar 62kg adalah 2200
kilo kalori ; sedangkan untuk perempuan adalah 1850 kkal.
Kebutuhan Energi *

Pria

: (13,5 x BB) + 487 kkal

Wanita : (10,5 x BB) +596 kkal


Catatan :
* : Berdasarkan resting energy expenditur (REE), belum termasuk
aktivitas, demam.
Sumber : WHO

A. Contoh Menu Simbang Bagi Lanjut Usia

Jumlah kalori yang baik untuk dikonsumsi untuk usia lanjut adalah 50%
dari hidrat arang yang merupakan hidrat arang kompleks (sayuran,

kacang-kacangan, dan biji-bijian).


Jumlah lemak dalam makanan dibatasi, yaitu 20-30% dari total kalori.
Jumlah protein yang baik dikonsumsi disesuaikan dengan lanjut usia

yaitu 8-10% dari total kalori.


Dianjurkan mengandung tinggi serat (selulosa) yang bersumber pada
buah, sayur, dan macam-macam pati, yang dikonsumsi dalam jumlah

bertahap.
Menggunakan bahan makanan yang tinggi kalsium seperti susu ( Non-

fat),yohurt, dan ikan


Makanan mengandung tinggi zat besi (fe), seperti kacang-kacangan,

hati, daging, bayam, atau sayuran hijau.


Membatasi penggunaan garam.
Pilih makanan yang mudah dikunyah seperti makanan lunak.

B. Syarat menu untuk lanjut usia dengan berat badan yang kurang:

Jika lanjut usia mengalami kekurangan berat badan, makanan yang


diberikan adalah yang mengandung tinggi kalori dan tinggi protein

(TKTP).
Diet TKTP terdiri atas TKTP 1 dan TKTP 2.
TKTP 1 2100 kal, protein 85gr (12-15% total kalori).

TKTP 2 2500 kal, protein 100gr.

C. Bahan makanan yang baik diberikan adalah:

Sumber protein hewani: ayam, telur, hati, susu, keju, dan ikan.
Sumber protein nabati: kacang-kacangan, tahu, tempe, dan oncom.

Cara pemberian makanan dengan berat badan yang rendah adalah makanan
biasa dengan diberi makanan tambahan.
Contoh menu bagi lanjut usia dengan
Berat badan rendah
Komposisi: Kalori 2100, protein 85 gram, karbohidrat 325, dan lemak 40
gram.
Pagi
Sarapan
1 gelas susu (2 sdm susu bubuk full cream) + gula
Roti isi telur (1 butir telur)
1 potong buah (100 gram)
Pukul 10.00
1 gelas sari buah
Kue sus
Siang
10 sdm nasi (200 g)
1 potong besar ikan / daging / ayam (100 g)

1 mangkuk sayur (100 g)


1 potong buah (100 g)
Pukul 16.00
1 gelas bubur kacang hijau (50 gram kacang hijau + santan
secukupnya)
Malam
10 sdm nasi (200 g)
1 potong ikan / daging / ayam (75g)
Sayuran secukupnya
1 potong buah (100 g)
Menjelang tidur
1 gelas susu (2 sdm susu bubuk full cream)
D. MAKANAN ENTERAL
Pasien geriatri sering datang dengan keluhan utama tidak mau makan.
Keluhan ini acapkali berlanjut sampai beberapa hari yang pada gilirannya
akan mengakibatkan gangguan cairan, elektrolit dan penurunan status
nutrisi. Resiko tersedak dan aspirasi tentu mudah terjadi bila pasien dengan
kesadaran menurun diberi makanan langsung peroral. Oleh sebab itu harus
dicari

cara

lain

untuk

mengatasi

masalah

ini

antara

lain

dengan

menggunakan alat bantu naso-gastrik tube (NGT) maupun flocare. Alat bantu
makan NGT maupun flocare dipergunakan untuk memasukkan makanan cair.
Tujuan pemberian makanan cair ini dapat mengganti sepenuhnya makanan
padat / setengah padat.

6. Kebutuhan Cairan Pada Usia Lanjut


A. Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan Pada Lansia:
a). Berat badan (lemak tubuh) cenderung meningkat dengan bertambahnya
usia, sedangkan sel-sel lemak mengandung sedikit air, sehingga komposisi
air dalam tubuh lansia kurang dari manusia dewasa yang lebih muda atau
anak-anak dan bayi.
b). Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia. Terjadi penurunan
kemampuan untuk memekatkan urin, mengakibatkan kehilangan air yang
lebih tinggi.
c). Terdapat penurunan asam lambung, yang dapat mempengaruhi individu
untuk mentoleransi makanan-makanan tertentu. Lansia terutama rentan
terhadap konstipasi karena penurunan pergerakan usus. Masukan cairan
yang

terbatas,

pantangan

diit,

dan

penurunan

aktivitas

fisik

dapat

menunjang perkembangan konstipasi. Penggunaan laksatif yang berlebihan


atau tidak tepat dapat mengarah pada masalah diare.
d). Lansia mempunyai pusat haus yang kurang sensitif dan mungkin
mempunyai masalah dalam mendapatkan cairan ( misalnya gangguan dalam
berjalan ) atau mengungkapkan keinginan untuk minum (misalnya pasien
stroke).
B. Masalah cairan pada lansia
Masalah cairan yang lebih sering dialami lansia adalah kekurangan
cairan tubuh, hal ini berhubungan dengan berbagai perubahan-perubahan
yang dialami lansia, diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada

lansia, penurunan fungsi ginjal untuk memekatkan urin dan penurunan rasa
haus.