Anda di halaman 1dari 32

I.

A.

PENDAHULUAN

Latar belakang

Kualitas benih baik fisik maupun fisiologis, merupakan resultante dari


perpaduan antara sifat genetik, kondisi lingkungan tempat tumbuh, dan
penanganan pasca panen, termasuk di dalamnya rantai pemasaran,
sebelum benih sampai ke tangan petani pengguna benih dan dipakai untuk
usaha tani.
Sifat genetik suatu tanaman dapat ditingkatkan melalui pemuliaan tanaman
dengan cara merakit sifat-sifat unggul yang dimiliki oleh tanaman. Salah satu
metode pemuliaan tanaman yang dapat dilakukan secara sederhana adalah
melalui persilangan yaitu menggabungkan dua atau lebih sifat unggul yang
dimiliki tetuanya dengan tujuan untuk memperoleh benih hibrida yang
unggul.
Agar dapat melakukan persilangan yang menghasilkan benih hibrida sesuai
dengan target yang diinginkan, diperlukan pengetahuan dan keterampilan
dalam melakukan polinasi atau persarian .

B.

Tujuan

1. Tujuan umum
Peserta diklat mampu melakukan polinasi bila disediakan alat dan bahan
polinasi yang relevan baik secara kuantitas maupun kualitas.
2. Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus dari diklat ini adalah peserta diklat mampu:
a.

Mengenal jenis polinasi/penyerbukan

b.

Mengidentifikasi struktur bunga .

c.

Memilih tanaman induk

d.

Melakukan polinasi
1

III. KEGIATAN PEMBELAJARAN


A.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: PENGENALAN JENIS


PENYERBUKAN
1. Lembar Informasi
a. Pengertian Dan Tujuan Penyerbukan
1) Pengertian Penyerbukan
Pembiakan tanaman secara generatif merupakan pembiakan
tanaman dengan menggunakan biji.
reproduksi sexual tanaman.

Biji merupakan hasil

Reproduksi seksual membutuhkan

keterlibatan dua individu dari jenis kelamin bunga yang berbeda


yaitu tepungsari/polen dan putik yang terdapat pada bunga. Bunga
berfungsi sebagai alat reproduksi seksual pada tumbuhan
berbuah sebagai dasar utama untuk menghasilkan biji jika bunga
itu dilakukan penyerbukan/polinasi
Penyerbukan atau polinasi adalah proses jatuhnya serbuk sari
pada kepala putik. Serbuk sari yang berada pada kepala putik
tersebut kemudian berkecambah dan tumbuh terus menuju ke
bakal buah. Sedangkan pembuahan adalah proses meleburnya
gamet jantan dan gamet betina yang terjadi di dalam bakal buah
sehingga terbentuk zygote dimana zygote ini akan terus tumbuh
menjadi embrio.
2) Tujuan Penyerbukan
Tujuan penyerbukan agar serbuk sari yang menenpel pada putik
dapat berkecambah dan mengalami pembuahan dalam bakal
buah sehingga terbentuk buah dan biji sesuai dengan yang
dikehendaki.

b. Jenis Penyerbukan
Penyerbukan merupakan bagian penting dari proses reproduksi
tumbuhan berbiji. Jika dilihat jenisnya, penyerbukan di alam dapat
dibedakan menjadi:
1) Jenis penyerbukan berdasarkan mekarnya bunga
a. Penyerbukan tertutup (cleistogamie)
b. Penyerbukan terbuka (chasmogamie)

a) Penyerbukan tertutup (cleistogamie)


Penyerbukan tertutup (kleistogami) adalah penyerbukan yang
terjadi di dalam kuncup bunga sebelum bunga mekar atau
masih menutup.
Biasanya penyerbukan tertutup (kleistogami)

terjadi pada

putik yang diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang sama.
Hal ini dapat disebabkan oleh:

Putik dan serbuk sari masak sebelum terjadinya bunga


mekar (anthesis)

Konstruksi bunga menghalangi terjadinya penyerbukan


silang (dari luar), misalnya pada bunga dengan kelopak
besar dan menutup.

Contoh : familia Papilionaceae

b) Penyerbukan terbuka (chasmogamie)

Penyerbukan terbuka

(chasmogamie) adalah penyerbukan

yang terjadi setelah bunga mekar.


Misal : Bunga kelapa (Cocos nucifera L), Jagung (Zea mays L)
Penyerbukan terbuka

(chasmogamie) berbeda dengan

penyerbukan tertutup (kleistogami). Terjadinya penyerbukan


terbuka (chasmogamie) biasanya putik diserbuki oleh serbuk
sari dari bunga yang berbeda. Hal ini dapat terjadi jika putik
dan serbuk sari masak setelah terjadinya anthesis (bunga
mekar).

2) Jenis penyerbukan berdasarkan asal serbuk sari.


a) Penyerbukan sendiri (Autogamie)
Yaitu penyerbukan yang terjadi bila putik
diserbuki oleh serbuk sari berasal dari bunga
yang sama

Gambar 1 : Autogamie

b) Penyerbukan tetangga (Geitonogamie).


Yaitu penyerbukan yang terjadi bila putik
diserbuki oleh serbuk sari yang berasal
dari bunga yang berbeda dalam pohon yg
sama.
Gambar 2 : Geitonogamie

c) Penyerbukan silang (Allogamie).


Yaitu penyerbukan yang terjadi bila putik
diserbuki oleh serbuk sari yang berasal
dari bunga tanaman lain yg sejenis

Gambar 3 : Allogamie

d) Penyerbukan asing (Xenogamie)


Yaitu penyerbukan yang terjadi bila putik
diserbuki oleh serbuk sari dari bunga tanaman
lain yg tidak sejenis.
Gambar 4 : Xenogamie

3) Jenis penyerbukan berdasarkan sifat bunga


a) Dikogami yaitu bila putik dan benang sari masak dalam waktu
yang tidak bersamaan.
Ada dua tipe dikogami
1. Protandri yaitu benang sari lebih dahulu masak daripada
putik
2. Protogini yaitu bila putik lebih dahulu masak dari pada
benang sari
b) Herkogami adalah struktur bunga yang berbentuk sedemikian
rupa

memiliki

kepala

putik

yang

tertutup

selaput

(rostellum).hingga penyerbukan sendiri tidak dapat terjadi.

Misal : Panili
c) Heterostili adalah bunga memiliki tangkai putik (stylus) dan
tangkai sari (filamentum) yg tidak sama panjangnya yaitu
tangkai putik pendek (microstylus), tangkai sari panjang dan
tangkai putik panjang (macrostylus), tangkai sari pendek.
4) Jenis penyerbukan berdasarkan penyebab sampainya serbuk
sari pada putik
a) Anemogami
yaitu penyerbukan yang terjadi antara putik dan benang sari
disebabkan oleh adanya bantuan angin.
Misal : Jagung (Zea mays)

b) Zoidogami yaitu penyerbukan yang terjadi antara putik dan


benang sari disebabkan adanya bantuan oleh hewan.
Misal : Semangka (Citrullus lanatus)

Penyerbukan berdasarkan

bantuan hewan, dilihat jenisnya

terdiri dari :

Entomogami yaitu penyerbukan yang terjadi adanya


bantuan serangga

Ornitogami

yaitu

penyerbukan

yang

terjadi

adanya

bantuan burung

Kiroterogami yaitu penyerbukan yang terjadi adanya


bantuan kelelawar

Malakogami yaitu penyerbukan yang terjadi adanya


bantuan siput.

c) Hidrogami yaitu penyerbukan yang terjadi antara putik dan


benang sari disebabkan oleh adanya bantuan air.
Misal : Hydrilla

d) Antropogami yaitu penyerbukan yang terjadi antara putik dan


benang sari disebabkan adanya bantuan manusia.
Misal : Vanilla

2. Lembar Evaluasi
Jawablah pertanyaan dibawah ini.dengan singkat dan jelas !
1) Apa yang dimaksud dengan penyerbukan dan apa tujuan dari
2)
3)
4)
5)
6)

penyerbukan?
Apa bedanya antara penyerbukan dan pembuahan?
Jelaskan jenis penyerbukan berdasarkan mekarnya bunga!
Jelaskan jenis penyerbukan berdasarkan asalnya serbuk sari!
Jelaskan jenis penyerbukan berdasarkan sifat bunga!
Jelaskan jenis penyerbukan berdasarkan penyebab sampainya

serbuk sari pada putik!


7) Jelaskan jenis penyerbukan berdasarkan bantuan hewan!

B.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: IDENTIFIKASI STRUKTUR BUNGA


1.Lembar Informasi

Pada umumnya tanaman dapat menghasilkan bunga bila telah dewasa


dan cukup mengandung cadangan makanan. Tanaman yang baru
berkecambah dan tanaman yang masih muda belum dapat membentuk
bunga, hal ini disebabkan

tanaman harus melakukan pertumbuhan

vegetatif dahulu yaitu membentuk akar, batang, dan daun hingga


optimal. Fase pertumbuhan tanaman dari biji hingga dewasa ini disebut
sebagai fase vegetatif.
Apabila tanaman telah mencapai tingkat dewasa dan telah mempunyai
persediaan cadangan makanan yang cukup banyak terutama karbohidrat
maka dia akan mengalami perubahan kualitatif menuju ke arah
pembungaan. Pada fase awal tanaman akan mulai membentuk primordia
bunga yaitu bakal bunga yang akan tumbuh menjadi kuncup bunga.
Dengan terbentuknya primordia bunga berarti tanaman mulai mengalami
peralihan pertumbuhan dari fase vegetatif menuju fase generatif. Fase
generatif

meliputi

penyerbukan,

pembentukan

pembentukan

buah,

kuncup
dan

bunga/primordia
pembentukan

biji.

bunga,
Pada

umumnya tanaman yang tumbuh pada habitat aslinya sehingga


memperoleh lingkungan ( tanah dan iklim) yang sangat cocok dengan
kebutuhannya maka tanaman tersebut akan berbunga setiap tahun pada
bulan-bulan yang sama. Namun apabila tanaman tersebut dipindahkan
ke tempat lain dengan kondisi lingkungan yang berbeda maka tanaman
tersebut akan mengalami perubahan masa pembungaannya. Hal ini
menunjukkan

bahwa

lingkungan

ternyata

sangat

mempengaruhi

pembungaan.

a. Peranan Bunga
Bunga merupakan organ generatif dari tanaman berbiji yang
manfaatnya sangat penting baik bagi manusia maupun bagi tanaman
itu sendiri. Secara biologi bunga adalah suatu batang atau cabang

pendek yang berdaun dan telah mengalami perubahan bentuk. Bagi


manusia, bunga dapat berguna sebagai bahan pangan (sayuran),
sebagai bahan baku obat-obatan, bahan baku kosmetika, penghias
dan penyegar kota, dan sebagai bahan upacara adat. Sedangkan
bagi

tanaman

itu

sendiri,

bunga

sangat

bermanfaat

untuk

meneruskan keturunan, karena bunga merupakan alat pembiakan


generatif dimana dari bunga tumbuh menjadi buah yang berbiji, dan
biji tersebut dapat tumbuh menjadi tanaman baru.

b. Bunga Dan Bagian-Bagiannya.


Setiap jenis tanaman menghasilkan bunga yang beraneka ragam
baik warna, bentuk, maupun strukturnya. Sebuah bunga dikatakan
sebagai bunga lengkap bila mempunyai bagian-bagian sebagai
berikut:

Kelopak (calyx)
Kelopak adalah rangkaian daun-daun bunga pertama yang pada
kuncup terletak di bagian paling luar. Kelopak berfungsi untuk
melindungi bagian-bagian bunga yang lain dari gangguan luar
sebelum bunga tersebut mekar.

Tajuk atau mahkota bunga (corolla)


Tajuk atau mahkota adalah rangkaian daun bunga kedua setelah
kelopak. Mahkota ini berfungsi untuk melindungi benang sari dan
putik dari gangguan luar selama bunga tersebut belum mekar.
Mahkota biasanya berwarna indah, cerah, dan menarik sehingaa
dapat menarik perhatian berbagai serangga penyerbuk.

Benang sari (stamen)


Benang sari (stamen) berfungsi sebagai organ kelamin jantan
yang terdiri dari dua bagian yaitu tangkai sari (filamen) dan kepala
sari (anther). Tangkai sari adalah bagian dari benang sari yang

pada umumnya berbentuk silinder dan cukup panjang. Kepala sari


adalah bagian dari benang sari yang terletak pada ujung tangkai
sari. Didalam kepala sari terdapat ruang sari yang didalamnya
akan terbentuk serbuk sari (pollen)

Putik (pistillum)
Putik (pistilum) berfungsi sebagai alat kelamin betina yang terdiri
dari 3 bagian penting yaitu kepala putik (stigma), tangkai putik
(stylus), dan bakal buah (ovarium). Kepala putik terletak di ujung
tangkai putik. Kepala putik yang telah masak akan mengeluarkan
lendir yang mengandung gula, protein, dan zat organik. Tangkai
putik adalah bagian dari putik berbentuk tabung panjang yang
merupakan tiang penghubung antara kepala putik dan bakal buah.
Sedangkan bakal buah adalah bagian terpenting dari putik yang
terletak di bagian paling bawah persis di atas dasar bunga.
Didalam bakal buah terdapat bakal biji, bila bunga telah
mengalami persarian dan pembuahan maka bakal buah akan
tumbuh menjadi buah dan bakal biji akan tumbuh menjadi biji.

10

Gambar 5 : Struktur Bunga


c. Fase Pertumbuhan Bunga.
Fase pertumbuhan bunga pada berbagai jenis tanaman berbedabeda, tetapi secara umum dimulai dari fase pembentukan primordia
bunga, fase kuncup, dan fase dewasa/ matang. Bunga mengalami
persarian dan penyerbukan secara alami pada saat fase dewasa
atau telah matang baik serbuk sarinya maupun kepala putiknya. Oleh
karena itu apabila kita ingin melakukan penyerbukan buatan maka
harus dilakukan pada saat kedua organ kelamin tersebut dalam
keadaan telah matang. Untuk mengetahui kapan kondisi matangnya
serbuk sari maupun kepala putik setiap jenis bunga sebaiknya
dilakukan pengamatan tahapan pertumbuhan bunga.

11

d. Persyaratan bunga siap dikastrasi dan dipolinasi/diserbuki


Bunga siap dikastrasi maupun polinasi bila tanaman mengalami
pembungaan dan bunga yang dihasilkan baik serbuk sari maupun
kepala putiknya dalam keadaan sudah dewasa/matang. Pada
umumnya fase kematangan bunga ditandai dengan banyaknya
serangga yang hadir, sedangkan kriteria serbuk sari yang matang
adalah bila disentuh/ digoyang maka serbuk tersebut berhamburan
seperti tepung, sedangkan kepala putik ditandai dengan keluarnya
lendir yang disebut sebagai nektar berwarna bening mengkilat dan
mengandung protein, gula, dan zat organik. Sedangkan proses
kastrasi sebaiknya dilakukan sebelum serbuk sari dan putik dalam
kondisi dewasa/ matang agar putik masih dalam keadaan segar dan
belum terkontaminasi atau belum terjadi self polination. Ciri-ciri
belum matangnya serbuk sari maupun kepala putik adalah pada
umumnya bunga tersebut belum didatangi serangga penyerbuk,
serbuk sari belum berbentuk seperti tepung, pada kepala putik belum
terbentuk lendir atau nektar.
Pada umumnya fase kematangan bunga ditandai dengan banyaknya
serangga yang hadir, sedangkan kriteria serbuk sari yang matang
adalah bila disentuh/ digoyang maka serbuk tersebut berhamburan
seperti tepung, sedangkan kepala putik ditandai dengan keluarnya
lendir yang disebut sebagai nektar berwarna bening mengkilat dan
mengandung protein, gula, dan zat organik. Sedangkan proses
kastrasi sebaiknya dilakukan sebelum serbuk sari dan putik dalam
kondisi dewasa/ matang agar putik masih dalam keadaan segar dan
belum terkontaminasi atau belum terjadi self polination. Ciri-ciri
belum matangnya serbuk sari maupun kepala putik adalah pada
umumnya bunga tersebut belum didatangi serangga penyerbuk,
serbuk sari belum berbentuk seperti tepung, pada kepala putik belum
terbentuk lendir atau nektar.

12

2.Lembar Kerja
A. JUDUL

Mengidentifikasi Bagian-Bagian Bunga

B. ALAT DAN BAHAN :


1. Aneka bunga tanaman (kembang sepatu, anggrek, cabe, kacang
panjang) yang masih segar
2. Pinset
3. Loupe
4. Kertas dan alat tulis
5. Wadah plastik ukuran 40cm x 30cm x 8cm
C. KESELAMATAN KERJA
1 Gunakan pakaian kerja yang sesuai dengan tempat praktik
Anda!.
2 Hati hati menggunakan kaca loupe

D. LANGKAH KERJA
1. Ambil satu tangkai bunga lalu amati bagian-bagian bunganya
yang diri dari tangkai bunga, dasar bunga, kelopak, mahkota
bunga, benang sari dan putik secara teliti, begitu pula dengan
bunga yang lainnya secara bergantian!
2. Amati bagian-bagian benang sari (tangkai sari dan kepala sari)
dan bagian-bagian putik (kepala putik, tangkai putik, dan bakal
buah) secara teliti!
3. Gunakan kaca pembesar bila bagian-bagian bunga tersebut
terlalu kecil untuk dapat diamati!
4. Hitung berapa jumlah masing-masing bagian-bagian bunga
tersebut dan jelaskan strukturnya apakah terpisah atau saling
berlekatan!

13

5. Gambarkan secara skematis bagian-bagian bunga tersebut dan


lengkapi dengan nama bagian-bagiannya.
6. Diskusikan dengan teman Anda dari hasil pengamatan masingmasing bunga tersebut dan hubungkan bagian-bagian bunga
dengan proses penyerbukan secara alamiah!
3. Lembar Evaluasi
Jawablah pertanyaan dibawah ini.dengan singkat dan jelas !
1) Jelaskan bagaimana peranan bunga!
2) Jelaskan bagian-bagian bunga berdasarkan kelengkapan
strukturnya!
3) Jelaskan fase pertumbuahan bunga!
4) Jelaskan persyaratan bunga siap dikastrasi dan dipolinasi/diserbuki !
5) Jelaskan bagaimana tanda-tanda dari suatu bunga siap untuk di
kastrasi dan dipolinasi!
C.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: PEMILIHAN TANAMAN INDUK


1.Lembar Informasi
Tanaman yang selalu mengalami penyerbukan sendiri seperti kacang
tanah (Arachis hipogeae L) tidak pernah mengalami perubahan sifat. Hal
ini disebabkan tidak adanya faktor luar yang tidak dapat mempengaruhi
masuk ke dalam tubuh tanaman. Dengan demikian sifat-sifat dari
keturunannya juga tidak akan berubah dan akan tetap sama seperti
yang dimiliki

oleh tanaman induknya dalam arti penyerbukan sendiri

tidak akan merubah sifat tanaman menjadi lebih baik


Di alam bebas dapat terjadi penyerbukan silang antara berbagai jenis
tumbuh-tumbuhan yang dilakukan secara spontan oleh angin, serangga,
atau binatang-binatang lainnya. Pada penyerbukan silang yang terjadi
antara dua jenis tanaman, tanaman yang satu sebagai tanaman induk
betina yaitu tanaman yang diserbuki dan menghasilkan buah dan biji

14

sedang yang kedua sebagai tanaman induk jantan yaitu tanaman yang
menghasilkan serbuk sari dan menyerbuki bunga dari induk betina.
Pada penyerbukan di alam bebas itu tidak dapat mengetahui dengan
pasti apakah induk jantan

yang menyerbuki tanaman induk betina

memiliki sifat-sifat baik atau buruk. Hal ini dapat mengakibatkan hasil
yang diperoleh dari penyerbukan di alam tidak menentu dan sering kali
mengecewakan. Maka dari itu kemudian manusia menyelenggarakan
penyerbukan silang dengan sengaja antara dua jenis tanaman tertentu
yang sifat-sifatnya telah diketahui dengan pasti terlebih dahulu dan
tergolong unggul.
Penyerbukan silang antara dua jenis tanaman unggul dan berbeda sifatsifatnya, maka faktor-faktor dari tanaman induk betina akan bergabung
faktor-faktor dari tanaman induk jantan. Dengan jalan demikian kadangkadang dapat diperoleh keturunan yang secara kebetulan mengandung
kombinasi sifat-sifat baru yang lebih baik atau lebih menguntungkan dari
pada yang telah dimiliki oleh tanaman induk betina atau tanaman induk
jantan tersebut. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor dari induk betina
berbeda dengan faktor-faktor dari induk jantan, sehingga keturunan yang
diperoleh dari hasil penyerbukan silang dapat memiliki sifat-sifat baru
yang berbeda dengan sifat-sifat dari kedua tanaman induknya.
Agar dalam persiangan antara dua tanaman induk yang berbeda dapat
diperoleh hasil tanaman sesuai yang diharapkan, maka sebelum
melakukan penyerbukan hendaknya memperhatikan jenis tanaman yang
akan disilangkan, memilih tanaman induk betina dan induk jantannya dan
merawat tanaman induk

a. Jenis Tanaman Sebagai Tanaman Induk

15

Pada pelaksanaan penyerbukan silang buatan diperlukan banyak


tanaman dengan jenis tanaman yang berbeda-beda sifatnya untuk
dijadikan sebagai tanaman induk. Makin banyak jenis tanaman yang
dapat disediakan

dan mempunyai nilai tinggi maka makin baik

hasilnya.
Tiap jenis tanaman yang akan disilangkan perlu dicatat asal usul jenis
tanamannya terlebih dahulu dalam buku silsilah. Masing-masing jenis
tanaman diberi nomer silsilah sendiri yang tersusun urut menurut
tanggal

penerimaannya..

Dengan

demikian

jenis-jenis

yang

mempunyai nama yang sama, tetapi berasal dari berbagai daerah


dapat diketahui dengan benar dan tidak akan tertukar. Dalam buku
silsilah perlu dicatat kemurnian dan kesehatan benih yang diterima,
kecepatan pertumbuhannya, kemampuan berbunga, produksi dan
sifat-sifat lain yang dianggap pening.
Dengan mengadakan penelitian
pembungaan masing-masing

terhadap pertumbuhan

dan

jenis tanaman akan dapat diketahui

jenis-jenis tanaman yang akan memberi hasil yang tinggi atau yang
paling baik bila disilangkan.

b. Pemilihan Tanaman Induk Jantan dan Induk betina


Setiap tanaman yang mengalami penyilangan akan mewariskan
turunannya sifat-sifat genetik dari kedua induknya. Menurut Mendel
nama dari tokoh genetika yang diakui sebagai penemu hukum-hukum
hereditas atau pewaris sifat menurun bahwa sifat menurun dibawah
oleh faktor-faktor penentu (gen) dan ditentukan oleh separuh dari sifat
induk jantan dan separuh induk betina.
Jika dilakukan penyilangan antara jenis mangga bergalur murni yang
sifat buahnya besar tetapi rasanya masam dengan jenis mangga lain
yang bergalur murni yang sifat buahnya kecil namun rasanya manis

16

maka hasil yang akan diperoleh dari persilangannya adalah

jenis

mangga hibrida dengan sifat buah mangga yang besar dan rasanya
manis dengan syarat sifat besar dominan terhadap sifat kecil dan sifat
manis dominan terhadap sifat masam.
Untuk mengetahui

bahwa

suatu tanaman bergalur murni perlu

dilakukan penyerbukan dengan berulang kali dalam beberapa


generasi. Jika dari hasil persilangan diperoleh sifat keturunan yang
sifatnya sama dengan sifat induknya maka tanaman itu bergalur
murni.
Dalam persilangan tanaman tentunya ada dua tetua yang akan
dijadikan sebagai tanaman induk betina dan tanaman induk jantan.
Adapun cara untuk mendapatkan suatu jenis induk betina atau induk
jantan dapat dipilih melalui dengan melakukan penyerbukan silang
buatan.
Untuk mengetahui mana yang tepat untuk dijadikan tanaman induk
betina dan induk jantan bisa dilihat dari hasil turunannya. Turunan
yang memberikan hasil tinggi yang dapat dijadikan sebagai tanaman
induk betina.
Apabila dua jenis tanaman

A dan B

yang hendak dipilih untuk

dijadikan sebagai tanaman induk betina dan tanaman induk jantan


maka dapat dilakukan penyerbukan silang timbal balik .
Jika tanaman A sebagai tanaman induk betina dan jenis tanaman B
sebagai

tanaman

induk

jantan,

maka

cara

menuliskan

persilangannya adalah A X B bahwa A dipakai sebagai tanaman


induk betina

yang akan diserbuki

dengan serbuk sari

dari B

sebagai tanaman induk jantan


Begitu pula sebaliknya jika tanaman B dan tanaman A dilakukan
persilangan dimana tanaman B sebagai tanaman induk betina dan
tanaman A sebagai tanaman induk jantan, maka cara menuliskan
persilangannya adalah B X A bahwa B dipakai sebagai tanaman

17

induk betina

yang akan diserbuki

dengan serbuk sari

dari A

sebagai tanaman induk jantan


Untuk mengetahui mana yang tepat untuk dijadikan tanaman induk
betina dan induk jantan dari dua jenis persilangan AXB dan BXA.,
maka perlu dilakukan pengamatan terhadap turunan dari

hasil

persilangan antara AXB dan BXA..


Andaikat dari hasil persilangan A X B
dengan nilai hasil

dapat memberikan turunan

tinggi dan sebaliknya persilangan B X A

memberikan nilai hasil rendah maka tanaman A dari persilangan A X B


dapat dijadikan sebagai tanaman induk betina dimana

tanaman A

dapat memberikan hasil lebih baik jika dibandingkan tanaman A


sebagai tanaman induk jantan dari persilangan B X A yang kurang
baik memberikan hasil dan B dari persilangan AXB sebagai tanaman
induk jantannya.
c. Perawatan Tanaman Induk
Sejumlah tanaman yang akan digunakan sebagai induk jantan dan
induk betina yang telah diketahui sifat dan keunggulannya harus
dijaga agar tetap sehat dan dapat menghasilkan bunga pada saat
yang tepat secara optimal.
Makin banyak jumlah jenis yang dapat disediakan, maka besar
kemungkinannya akan terdapat tanaman-tanaman yang berbunga
pada waktu yang sama sehingga penyerbukan silang dapat dilakukan
tepat pada waktunya.
Untuk meningkatkan keamanan tanaman terhadap gangguan dari luar
serta untuk memudahkan pemeliharaannya, maka tanaman tanaman
dari golongan berumur pendek (semusim) dapat ditanam dalam pot
dan diletakkan dalam rumah kaca atau screen house.

18

Namun bila jenis-jenis yang akan disilangkan termasuk golongan


tanaman keras berumur panjang dan membentuk bunga yang
letaknya sangat tinggi, maka perlu dibuatkan tangga agar dapat
dilakukan penyerbukan dengan mudah.
2.Lembar Kerja
A. JUDUL
: Memilih Tanaman Anggrek Untuk Induk
B. ALAT DAN BAHAN
1 Tanaman anggrek genus Phalaenopsis
2 Tanaman anggrek genus Dendrobium,
3 Tanaman anggrek genus Cattleya
4 Tanaman anggrek genus Oncidium
5 Tanaman anggrek genus Phaphiopedium
6 Tanaman anggrek genus Vanda.
7 Pinset,
8 Kunci determinasi tanaman anggrek
9 Alat-alat tulis.
C. KESELAMATAN KERJA
1 Gunakan pakaian kerja yang sesuai dengan tempat praktik Anda!
D. LANGKAH KERJA
1 Siapkanlah alat dan bahan yang akan digunakan
2 Pilihlah tanaman anggrek untuk induk sesuai penggolongan
kondisi lingkungan habitat hidupnya dengan benar
3 Pilihlah tanaman anggrek untuk induk sesuai kriteria genus
tanaman anggreknya dengan benar
4 Pilihlah tanaman anggrek untuk induk berdasarkan prediksi
warna bunganya dengan benar
5 Pilihlah tanaman anggrek untuk induk yang memenuhi kriteria
tanaman anggrek dewasa dengan benar
6 Pilihlah tanaman anggrek untuk induk sesuai kriteria kondisi
kesehatan organnya dengan benar
7 Catatlah hasil pengamatan tanaman anggrek untuk induk pada
tabel di bawah ini

19

Pengamatan Tanaman Induk Anggrek


Genus
Anggrek

Deskripsi
Genus
Anggrek

Persyaratan
Lingkungan
Tumbuh

Prediksi
Warna
Bunga

Kedewasaa
n Anggrek

Kriteria
Kesehatan
Tanaman

3. Lembar Evaluasi
1) Jelaskan kelebihan dan kekurangan dari penyerbukan sendiri dan
penyerbukan silang!
2) Mengapa sebelum melakukan penyilangan perlu mencatat silsilah
tanaman yang akan dijadikan sebagai tanaman induk?
3) Jelaskan bagaimana cara memilih tanaman induk jantan dan
induk betina untuk polinasi buatan!
D.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 4: MELAKUKAN POLINASI


1.Lembar Informasi
Polinasi adalah proses pemberian serbuk sari pada kepala putik dengan
tujuan agar serbuk sari tersebut dapat berkecambah dan mengalami
pembuahan dalam bakal buah sehingga terbentuk buah dan biji sesuai
dengan yang dikehendaki.
Polinasi atau penyerbukan dilakukan oleh manusia untuk tujuan
pembentukan buah dan atau pembuatan tanaman jenis baru. Di alam
bebas dapat terjadi penyerbukan silang berbagai jenis tumbuh-tumbuhan
yang dilakukan secara spontan oleh kupu-kupu, lebah, angin, dan

20

serangga lainnya. Terjadinya penyerbukan bebas secara alami tersebut


tidak dapat diketahui dengan pasti apakah yang menjadi induk jantan
maupun betina mempunyai sifat yang baik atau buruk. Sehubungan
dengan

kondisi

tersebut

maka

kemudian

manusia

berusaha

menyelenggarakan penyerbukan silang dengan sengaja antara dua jenis


tanaman tertentu yang sifat-sifatnya telah diketahui dengan pasti dan
tergolong jenis yang unggul.
Dalam perkawinan silang antara dua jenis tanaman unggul yang berbeda
sifat maka factor-faktor dari pohon induk jantan sehingga diharapkan
dapat diperoleh keturunan yang mengandung kombinasi sifat-sifat baru
yang lebih baik dan menguntungkan dibandingkan induknya.
Pada umumnya maksud daripada penyelenggaraan penyerbukan silang
buatan adalah untuk memperoleh jenis tanaman baru yang memiliki sifatsifat sebagai berikut :

Tanaman tumbuh lebih cepat dan kuat

Hasil tanaman dapat dipungut pada waktu yang lebih cepat

Produksi lebih tinggi

Kualitas hasil lebih baik

Tanaman lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit

Tanaman lebih tahan terhadap cekaman iklim.

Disamping itu ada beberapa alasan lain sehingga mengharuskan kita


untuk menyelenggarakan penyerbukan silang buatan, misalnya karena :

Tanaman hanya membentuk bunga betina saja sehingga agar dapat


terjadi pembuahan maka tanaman harus diserbuki oleh serbuk sari
dari tanaman lain.

Bunga dari tanaman yang mempunyai putik dan benangsari yang


waktu kematangannya tidak bareng, misalnya benangsari matang
lebih dulu atau putik matang lebih dulu.

21

Bunga menghasilkan serbuk sari yang tidak normal, tidak subur, atau
hampa sehingga harus diserbuki dengan serbuk sari dari tanaman
lain yang sehat.

Letak

kepala

putik

dan

benangsari

dalam

bunga

tidak

memungkinkan terjadinya proses persarian sehingga harus dibantu


oleh manusia.

Tanaman bersifat inkompatibel sendiri (self incompatible), artinya


serbuk sari tidak cocok untuk membuahi putik sehingga penyerbukan
sendiri akan selalu gagal.

Beberapa

faktor-faktor

penting

yang

harus

diperhatikan

dalam

keberhasilan melakukan polinasi atau penyerbukan antara lain :

Kematangan serbuk sari dan putik

Prosedur kastrasi dan polinasi

Waktu persarian

Kondisi mikroklimat pada saat kastrasi


dan polinasi

Faktor inkompatibilitas

Penyerbukan sering mengalami kegagalan bila dilakukan pada saat


kondisi lingkungan yang tidak mendukung atau dilakukan pada saat
serbuk sari atau kepala putik dalam keadaan belum matang, oleh karena
itu saat penyerbukan yang tepat merupakan factor penting yang harus
diperhatikan agar penyerbukan berhasil dengan baik. Untuk melakukan
penyerbukan harus dipilih waktu yang tepat dan tidak boleh terlambat
dimana pada saat itu putik maupun serbuk sari dalam keadaan segar,
sehat, telah matang, dan cuaca mendukung proses persarian dengan
baik.
Untuk mengetahui waktu penyerbukan yang terbaik maka dapat
dilakukan penyerbukan orientasi. Pada waktu-waktu tertentu misalnya
satu jam sekali dilakukan percobaan penyerbukan setiap hari pada kira-

22

kira 20 50 bunga. Bilamana penyerbukan berjalan baik maka serbuk


sari yang jatuh di atas kepala putik akan berkecambah. Penyerbukan
orientasi yang berhasil baik merupakan dasar yang kuat bagi
penyelenggaraan penyerbukan silang buatan secara besar-besaran.
Agar polinasi dapat dilakukan dengan benar maka ada beberapa
tahapan kegiatan polinasi yang harus dilalui antara lain :
a. Melakukan Kastrasi
1) Pengertian Kastrasi
Kastrasi adalah proses pembuangan benang sari pada bunga
yang akan dijadikan induk betina.
2) Tujuan Kastrasi
Adapun tujuan kastrasi agar putik dari bunga tersebut tidak
terserbuki/

terkontaminasi

oleh

serbuk

sari

yang

tidak

dikehendaki.
3) Peralatan Kastresi
Agar kastrasi pada bunga lengkap (dalam satu bunga terdapat
benang sari dan putik) dapat berjalan dengan baik maka
diperlukan berbagai alat dan bahan yang penggunaannya dapat
dipilih sesuai dengan keadaan bunga yang akan dikastrasi.
Berikut adalah alat yang memungkinkan digunakan untuk
melakukan kastrasi.

Pinset
Pinset yang digunakan sebaiknya dari bahan stainless steel
yang bagian ujungnya tipis dengan lebar sekitar 1 mm. Pinset
jenis ini dapat digunakan untuk mencabut benang sari pada
tanaman kelompok solanaceae yang bunganya kecil seperti
cabe, tomat, dsb. Sebelum digunakan sebaiknya pinset
disiapkan

dulu

dengan

cara

dicek

kebersihan

dan

23

ketajamannya. Bila

pinset berkarat sebaiknya

karatnya

dibersihkan dulu, bila dalam keadaan kotor dicuci dulu, dan


sebelum digunakan dicelup dalam alkohol dulu supaya steril
dan dibiarkan kering.

Gunting kecil
Gunting kecil sebaiknya dari bahan stainless steel yang tajam.
Gunting kecil dapat digunakan untuk memotong benang sari
dari bunga yang agak besar yang bila digunakan pinset agak
sulit. Cara penyiapan gunting sama dengan cara penyiapan
pinset

yaitu dicek dulu kebersihan dan ketajamannya. Bila

kotor dibersihkan dulu, bila berkarat dibersihkan dulu karatnya,


bila tumpul ditajamkan dulu, dan sebelum digunakan dicelup
dalam alkohol dulu.

Kaca pembesar/ loupe


Kaca pembesar digunakan untuk membantu melihat bunga
yang sangat kecil agar tampak jelas bagian-bagian bunganya
sehingga tidak salah mencabut atau memotong benang sari.
Kaca pembesar sebelum digunakan sebaiknya lensanya
dibersihkan dulu dengan kain flanel sehingga lensa menjadi
bening

4) Prosedur Kastrasi
Prosedur kastrasi secara umum dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a.

Bunga yang akan dikastrasi dipilih dari pohon yang akan


dijadikan induk betina.

b.

Bunga yang akan dikastrasi dipilih yang benang sarinya


belum matang.
24

c.

Kastrasi dilakukan 1-2 hari sebelum persarian tergantung


pada sifat bunganya.

d.

Kuncup bunga dipilih yang sehat dan berasal dari pohon


induk yang sehat dan unggul.

e.

Kuncup

bunga/

mahkota

bunga

dibuka

hati-hati

menggunakan pinset steril, bila perlu ujungnya dipotong


sedikit untuk mempermudah pembukaan.
f.

Proses pemotongan/ pembukaan mahkota dilakukan


hati-hati agar tidak merusak putik.

g.

Untuk bunga-bunga tertentu, mahkota bunga boleh


dicabut, namun untuk bunga yang lain mahkota bunga justru
dapat berfungsi untuk melindungi putik dari kontaminasi
serbuk sari lain yang tidak diharapkan.

h.

Setelah mahkota terbuka, benang sari dicabut atau


dipotong satu persatu sampai habis secara hati-hati agar
tidak merusak/melukai putik. Bila bunga terlalu kecil dapat
digunakan loupe agar benang sari dan putik dapat lebih jelas
dilihat.

i.

Semua jenis peralatan yang digunakan harus disterilkan


dulu dengan mencelupkan dalam larutan alkohol dan
dibiarkan kering dulu sebelum digunakan.

j.

Setelah kastrasi selesai dilakukan segera beri identitas


pada tangkai bunga tersebut dengan menggantungkan label
atau benang yang proporsional dengan kondisi bunga..

k. Untuk bunga-bunga tertentu agar tidak ada gangguan


persarian dari serbuk sari yang tidak dikehendaki maka putik
harus dilindungi dengan cara ditutup dengan bahan yang
sesuai.
1) Peralatan polinasi dan cara penyiapannya

25

Agar polinasi dapat dilakukan dengan benar diperlukan alat-alat


yang penggunaannya dapat

dipilih sesuai dengan jenis dan

jumlah bunga yang akan dipolinasi. Berikut adalah alat yang


dapat digunakan untuk polinasi.
a. Pinset atau gunting kecil.
Pinset atau gunting yang digunakan sebaiknya dari bahan
stainless steel. Sebelum digunakan sebaiknya pinset atau
gunting disiapkan dulu dengan cara dicek kebersihannya.
Bila pinset atau gunting berkarat sebaiknya karatnya
dibersihkan dulu, bila dalam keadaan kotor dicuci dulu, dan
sebelum digunakan dicelup dalam alkohol dulu supaya steril
dan dibiarkan kering dulu.
b. Wadah serbuk sari.
Wadah untuk pengumpulan serbuk sari dapat digunakan
petridish, beaker glass kecil, atau selang plastik kecil yang
diberi sumbat kayu, yang penting adalah bahwa wadah untuk
pengumpulan serbuk sari tersebut dalam kondisi bersih dan
volumenya proporsional dengan jumlah serbuk sari yang
akan dikumpulkan
c. Tusuk gigi/ lidi, bulu ayam, pinset, kuas kecil.
Alat-alat ini dapat berfungsi untuk membawa serbuk sari
pada kepala putik. Tusuk gigi atau lidi digunakan untuk
membawa

serbuk

sari

kepada

putik,

misalnya

pada

persarian bunga anggrek atau panili. Tusuk gigi atau lidi juga
harus dibersihkan dulu dengan cara dicelup dalam alkohol
dan dibiarkan kering sebelum digunakan. Sedangkan pada
bunga yang massa serbuk sarinya seperti tepung, dapat
digunakan bulu ayam atau kuas kecil untuk menempelkan
serbuk sari pada kepala putik.

26

d. Kaca pembesar/ loupe.


Loupe berfungsi untuk membantu memperjelas benang sari
dan

putik

yang

akan

kita

sarikan.

Untuk menjamin

kebersihan loupe dilap dengan alkohol dulu sebelum


digunakan.
2) Prosedur polinasi
Prosedur polinasi secara umum dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Serbuk sari dikumpulkan dari bunga yang berasal dari
pohon yang akan digunakan sebagai induk jantan.
b. Serbuk sari dipilih dari bunga yang sehat dan berasal dari
pohon induk yang sehat dan unggul.
c. Serbuk sari dipilih yang menjelang matang.
d. Alat untuk pengumpulan serbuk sari dapat berupa pinset,
gunting kecil,
e. Serbuk sari yang telah dikumpulkan diberi perlakuan sesuai
dengan ketentuan masing-masing komoditas, ada yang
masih harus dikeringkan dulu, ada yang harus disimpan
dulu dalam kondisi ruang yang terkendali suhu dan
kelembabannya.
f. Alat, bahan, dan serbuk sari yang telah disiapkan dibawa
ke lapangan dimana induk betina dan bunga-bunganya
yang telah dikastrasi berada.
g. Bila putik dalam keadaan masih diberi pelindung, maka
pelindungnya dibuka dulu dan kepala putik diamati dengan
loupe untuk memastikan kesehatan dan kesegarannya.
Kemudian serbuk sari ditempelkan pada kepala putik
secukupnya.
b. Memberi Label Atau Identitas

27

Label atau identitas dibuat berdasarkan tujuan dari polinasi, apakah


untuk produksi atau percobaan. Kalau untuk produksi, identitas
cukup berupa penanda saja tanpa ada tulisan keterangan induk
jantan dan betina, sehingga pada tangkai bunga cukup diberi tanda
seperti diikat dengan tali yang lembut dan berwarna kontras untuk
mempermudah identifikasi mana bunga yang telah dikastrasi dan
dipolinasi. Sedangkan bila tujuan polinasi adalah untuk percobaan
maka ada ketentuan dalam pemberian label, yaitu harus dituliskan
tanggal kastrasi/ polinasi dan kode induk jantan dan betinanya.
Penulisan sebaiknya menggunakan pensil agar tahan lama dan label
yang diberi tulisan dari bahan yang tahan air agar tidak mudah
sobek. Label tersebut diikat tali yang lembut pada tangkai bunga
dengan ukuran yang proporsional dengan ukuran bunga dan tangkai
bunganya.

c. Melakukan Cheking Dan Pendataan Hasil Polinasi


Untuk mengetahui suatu polinasi berhasil atau tidak perlu dilakukan
evaluasi melalui cheking dan pendataan hasil polinasi dengan
melihat tanda-tanda dari bunga yang sudah diserbuki.
Tanda-tanda bunga yang berhasil dilakukan polinasi pada umumnya
antara lain mahkota bunga menjadi layu, tangkai bunga tetap segar,
sehat, dan tidak ada tanda-tanda akan rontok, bakal buah yang pada
umumnya terletak di atas atau di bawah dasar bunga tampak mulai
tumbuh dan bertambah besar dan kelihatan segar. Sedangkan
tanda-tanda bunga yang gagal dilakukan polinasi pada umumnya
antara lain adalah mahkota bunga layu, tangkai bunga mengkerut,
layu, dan tampak akan rontok yang akhirnya benar-benar rontok.

28

Lembar Kerja
A. JUDUL

: Penyerbukan silang pada anggrek

B. ALAT DAN BAHAN


1.

Induk jantan Anggrek yang sedang berbunga

2.

Induk betina Anggrek yang sedang berbunga

3.

Label

4.

Pensil

5.

Pinset yang ujungnya runcing

6.

Loupe
C. KESELAMATAN KERJA
1. Gunakan pakaian kerja yang sesuai praktik Anda!.
2. Hati-hati menggunakan loupe

D. LANGKAH KERJA :
1.

Amati

pembungaan

Anggrek

yang

akan

digunakan sebagai induk jantan maupun induk betina


2.

Pilihlah

bunga

yang

masih

kuncup

dari

Anggrek yang digunakan sebagai induk betina


3.

Bukalah mahkota bunga induk betina tersebut


secara hati-hati dan cabutlah mahkotanya satu persatu hingga
bunga tersebut tinggal putiknya saja

4.

Periksalah kepala putik menggunakan loupe,


apakah masih bersih atau sudah terserbuki. Bila sudah terjadi
penyerbukan jangan digunakan lagi, gantilah dengan bunga
yang lain

29

5.

Pilihlah bunga Anggrek yang mekar 3 4 yang


akan digunakan sebagai induk jantan

6.

Amati serbuk sari pada bunga induk jantan


tersebut apakah sudah matang atau belum. Bila belum matang
pilihlah bunga lain yang sudah matang

7.

Ambillah serbuk sari yang sudah matang dari


induk jantan menggunakan ujung pinset/ tusuk gigi

8.

Tempelkan

serbuk sari tersebut pada kepala

putik agar serbuk sari tersebut menempel pada kepala putik


induk betina
9.

Berilah label pada tangkai bunga induk betina


yang telah diserbuki dari serbuk sari induk jantan.

10.

Amati kondisi bunga, bila 3-4 hari bunga


anggrek mulai layu, maka penyerbukannya berhasil.

Lembar Evaluasi
Jawablah pertanyaan dibawah ini.dengan singkat dan jelas !
1)
2)
3)
4)
5)

Jelaskan apa yang dimaksud dengan kastrasi!


Mengapa dalam penyerbukan tanaman perlu dilakukan kastrasi?
Bagaimana cara melakukan kastrasi yang benar?
Jelaskan apa saja yang dicantumkan dalam label kastrasi!
Jelaskan bagaimana tahapan-tahapan dalam melakukan

polinasi/penyerbukan!
6) Apakah perlu dalam melakukan penyerbukan diberi label,
jelaskan!?
7) Jelaskan hal-hal yang perlu dicantumkan dalam label!
8) Bagaimana kreteria dari hasil suatu penyerbukan berhasil?

30

31

DAFTAR PUSTAKA
Darjanto & Siti satifah. 1987. Pengetahuan dasar biologi bunga dan Tehnik
Penyerbukan Silang buatan. Gramedia, Jakarta.
Poespodarsono, S. 1988. Dasar-dasar ilmu Pemuliaan Tanaman. Pusat
antar Universitas Institut Pertanian Bogor bekerja sama dengan Lembaga
Sumberdaya Informasi Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soetarso, Ir. 1979. Ilmu Pemuliaan Tanaman. Yayasan Pembina Fakultas
Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta.
Surjono H. Sutjahjo. 1990. Penuntun Praktikum Pengantar Pemuliaan
Tanaman. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
Sutarni M. Soeryowinoto,. 1974. Merawat Anggrek. Kanisius. Yogyakarta.
Widarto.L 1995. Perbanyakan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.

32