Anda di halaman 1dari 4

Republik Sosialis Vietnam adalah sebuah negara partai tunggal.

Sebuah konstitusi baru disahkan


pada April 1992 menggantikan versi 1975. Peran utama terdahulu partai Komunis disertakan
kembali dalam semua organ-organ pemerintah, politik dan masyarakat. Hanya organisasi politik
yang bekerja sama atau didukung oleh Partai Komunis diperbolehkan ikut dalam pemilihan umum.
Ini meliputi Barisan Tanah Air Vietnam (Vietnamese Fatherland Front), partai serikat pedagang dan
pekerja. Meskipun negara tetap secara resmi berjanji kepada sosialisme sebagai doktrinnya, makna
ideologi tersebut telah berkurang secara besar sejak tahun 1990-an. Presiden Vietnam
adalah kepala negara dan secara nominal adalah panglima tertinggi militer Vietnam,
menduduki Dewan Nasional untuk Pertahanan dan Keamanan (Council National Defense and
Security). Perdana Menteri Vietnam adalah kepala pemerintahan, mengepalai kabinet yang terdiri
atas 3 deputi perdana menteri dan kepala 26 menteri-menteri dan perwira-perwira.
Majelis Nasional Vietnam (National Assembly of Vietnam) adalah badan pembuat undang-undang
pemerintah yang memegang hak legislatif, terdiri atas 498 anggota. Majelis ini memiliki posisi yang
lebih tinggi daripada lembaga eksekutif dan judikatif. Seluruh anggota kabinet berasal dari Majelis
Nasional. Mahkamah Agung Rakyat (Supreme People's Court of Vietnam) memiliki kewenangan
hukum tertinggi di Vietnam, juga bertanggung jawab kepada Majelis Nasional. Di bawah Mahkamah
Agung Rakyat adalah Pengadilan Kotamadya Provinsi dan Pengadilan Daerah Vietnam. Pengadilan
Militer Vietnam juga cabang adjudikatif yang kuat dengan kewenangan khusus dalam hal keamanan
nasional. Semua organ-organ pemerintah Vietnam secara besar dikontrol oleh Partai Komunis.
Mayoritas orang-orang yang ditunjuk pemerintah adalah anggota-anggota partai. Sekretaris
Jenderal Partai Komunis mungkin adalah salah satu pemimpin politik terpenting di Vietnam,
mengontrol organisasi nasional partai dan perjanjian-perjanjian negara, juga mengatur undangundang.
Tentara Rakyat Vietnam (TRV) adalah tentara nasional Vietnam, yang diorganisasikan mencontoh
pada organisasi Tentara Pembebasan Rakyat. TRV lebih jauh lagi dibagi menjadi Angkatan Darat
Rakyat Vietnam (termasuk Pasukan Pendukung Strategis dan Pasukan Pertahanan
Perbatasan), Angkatan Laut Rakyat Vietnam, Angkatan Udara Rakyat Vietnam serta Penjaga
Pantai. Dalam sejarahnya, TRV secara aktif dilibatkan dalam pembangunan Vietnam untuk
mengembangkan ekonomi Vietnam. Ini dilakukan dalam upaya untuk mengkoordinasikan
pertahanan nasional dan ekonomi. TRV diterjunkan di bidang seperti industri, pertanian, perhutanan,
perikanan dan telekomunikasi. Saat ini, kekuatan TRV mendekati 500.000 tentara. Pemerintah juga
mengontrol pasukan cadangan sipil dan kepolisian. Peran militer dalam sektor kehidupan rakyat
pelan-pelan dikurangi sejak tahun 1980an.

Vietnam merupakan negara yang menganut paham komunisme. Sistem pemerintahan di negara ini
menggunakan sistem partai tunggal seperti China. Pada awal pengambilalihan kekuatan paska Perang
Vietnam, pemerintah Vietnam menciptakan sebuah ekonomi terencana, seperti yang dilakukan Indonesia di
zaman Orde Baru lewat Rencana Pembangunan Lima Tahun. Namun, hal ini tidak berjalan dengan baik, dan
justru membuat kondisi ekonomi dan politik Vietnam menjadi semakin terpuruk. Disisi lain, Vietnam melihat
bahwa negara-negara yang menganut sistem ekonomi pasar bebas memiliki tingkat kemajuan ekonomi yang
tinggi dan rakyatnya lebih makmur. Sedangkan, Vietnam yang telah berpuluh-puluh tahun
mengimplemantasikan komunisme total (komunisme ortodoks dan konservatif) tidak kunjung memperoleh
kemakmuran. Karena itu tahun 1986, Kongres Partai Komunis ke 6 Vietnam melakukan sebuah kompromi
dengan menerapkan reformasi pada sistem ekonominya menjadi pasar bebas (free market) yang terkenal
dengan sebutan Doi Moi (renovasi) dengan harapan dapat membuat perekonomian Vietnam membaik.
Sejak diimplementasikannya strategi Doi Moi ini, Vietnam kemudian bangkit menjadi salah satu negara
dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia sekaligus menjadi negara dengan kekuatan ekonomi
yang signifikan di Asia.[7] Vietnam menerapkan prinsip-prinsip liberal untuk memudahkannya melebur dalam
sistem perdagangan bebas dunia. (Huminca/PR/dari berbagai sumber)[8] Tetapi secara politik, ideologi
negara tersebut tetap komunis. Sebab kekuasaan pemerintah negara tetap dikontrol oleh partai Komunis
Vietnam sehingga kepemilikan pribadi atas pertanian dan perusahaan, deregulasi serta investasi asing
masih diatur oleh pemerintah. Hal ini menunjukan bahwa secara politis, reformasi di Vietnam belum terjadi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa reformasi sistem ekonomi Vietnam tidak akan berpengaruh pada sistem
politik Vietnam sebab reformasi ekonomi tersebut merupakan sebuah langkah kompromi yang diambil
pemerintah Vietnam untuk menjaga Vietnam tetap exist ditengah arus globalisasi ini. Reformasi ekonomi
(Doi Moi) tersebut sekaligus sebagai bentuk usaha pemerintah Vietnam untuk menyelamatkan ekonomi
negaranya dan memperoleh kemakmuran bagi rakyatnya.

Bentuk negara: Kesatuan ---- [Administrasi pemerintahan dibagi ke dalam 58 propinsi dan 5
munisipal. Ke-58 propinsi Vietnam adalah: An Giang, Bac Giang, Bac Kan, Bac Lieu, Bac Ninh, Ba RiaVung Tau, Ben Tre, Binh Dinh, Binh Duong, Binh Phuoc, Binh Thuan, Ca Mau, Cao Bang, Dak Lak, Dak
Nong, Dien Bien, Dong Nai, Dong Thap, Gia Lai, Ha Giang, Ha Nam, Ha Tinh, Hai Duong, Hau Giang,
Hoa Binh, Hung Yen, Khanh Hoa, Kien Giang, Kon Tum, Lai Chau, Lam Dong, Lang Son, Lao Cai, Long
An, Nam Dinh, Nghe An, Ninh Binh, Ninh Thuan, Phu Tho, Phu Yen, Quang Binh, Quang Nam, Quang
Ngai, Quang Ninh, Quang Tri, Soc Trang, Son La, Tay Ninh, Thai Binh, Thai Nguyen, Thanh Hoa, Thua
Thien-Hue, Tien Giang, Tra Vinh, Tuyen Quang, Vinh Long, Vinh Phuc, dan Yen Bai. Sementara itu, ke5 munisipal Vietnam tersebut adalah: Can Tho, Da Nang, Ha Noi, Hai Phong, dan Ho Chi Minh City.]

Sistem pemerintahan: Parlementer ---- [Hakekatnya, eksekutif Vietnam adalah organ


eksekutif yang dimiliki National Assembly (NA). Organ eksekutif ini terdiri atas Perdana Menteri (PM),
deputi PM, para menteri, serta sejumlah anggota lainnya. Kecuali PM, seluruh organ eksekutif tidak
melulu harus menjadi anggota NA. PM bertanggung jawab kepada NA, dan melapor kepada kepada SC
dan presiden. Peran PM di Vietnam mirip dengan peran-peran PM di negara yang menganut sistem
parlementer umumnya. Di sisi lain, Presiden Vietnam adalah kepala negara serta mewakili rakyat

Vietnam baik secara internal maupun eksternal. Presiden bertugas menjaga konstitusi, panglima
tertinggi angkatan perang, dan ketua dewan pertahanan dan keamanan negara.]
Parlemen: Unikameral (National Assembly) ---- [National Assembly (NA) adalah

representasi tertinggi rakyat Vietnam. Fungsi utamanya ada 3 yaitu: Memproduksi legislasi,
memformulasikan kebijakan luar negeri dan domesti yang vital, serta melaksanakan pengawasan
tertinggi atas seluruh kegiatan negara. NA adalah joint-session. Sehari-hari, NA dijalankan
oleh Standing Committee (SC). Akibatnya, kinerja NA hampir identik dengan apa yang dilakukan oleh
SC ini. Presiden dapat mengusulkan pemberhentian, pengajuan, bagi wakil presiden, PM, ketua
mahkamah agung. Presiden juga dapat memproklamasikan keadaan perang, amnesti, mobilisasi
umum, dan keadaan darurat di suatu wilayah negara. Presiden dipilih oleh NA dari antara anggotanya
sendiri untuk masa tugas 5 tahun.]

Bila

dibandingkan

dengan

beberapa

negara Asia

Tenggara seperti

Malaysia,

Singapore, Thailand, Vietnam dan Laos, Indonesia memiliki peringkat teratas dalam
hal berdemokrasi. Kuatnya desakan masyarkat dalam mempengaruhi pemerintah
dalam mengambil suatu kebijakan dan kontrol pers yang powerfull serta banyaknya
LSM di Indonesia merupakan beberapa indikator tingkat capaian demokrasi terbaik
di Asia Tenggara. Demikian kata Dr. Patric Ziegennhair pada saat menjadi pembicara
dalam

acara

Studium

Generale

dengan

tema

Peran

Civil

Society

Dalam

Demokratisasi di Negara-Negara Asia Tenggara, yang diselenggarakan oleh program


studi Sosiologi Universiatas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), pada Rabu (23/2/2016) di
gedung student lounge kampus 2 UAJY. Patric adalah pengajar pada Frankfrut School
dan seorang peneliti yang sedang melakukan penelitian di kawasan Asia tenggara
terkait peran civil society dalam demokrasi dan pembangunan.

Masih menurut Patric, di negara-negara Asia tenggara seperti Thailand, Vietnam dan
Laos kekuatan civil society masih selalu kalah oleh kekuasan negara, beberapa LSM
yang mencoba beroposisi juga disingkirkan. Sementara itu, kekuatan pers sebagai
pengontrol kebijakan pemerintah semuanya diawasi secara ketat oleh pemerintah
sehingga tidak tercipta iklim kebebasan pers yang dibutuhkan sebagai prasyarat
negara demokratis.

Patric melihat bahwa peran civil society di Indonesia saat ini sudah kuat dan
berpengaruh penting sehingga mampu mempengaruhi kebijakan yang hendak dibuat
pemerintah. Misalnya dalam kasus rencana revisi undang-undang KPK dan rencana

pengeboran yang akan dilakukan oleh PT. Lapindo. Kedua rencana tersebut berhasil
ditunda

akibat

munculnya

kesadaran

masyarakat

bahwa

kebijakan-kebijakan

tersebut dapat merugikan masyarakat. Bentuk perlawanan yang dilakukan oleh


masyarakat saat ini telah menggunakan kekuatan media sosial sehingga hasilnya
bisa lebih efektif dan memiliki jagkauan yang lebih luas.