Anda di halaman 1dari 4

http://burhan.blog.uns.ac.id/files/2010/05/sni-03-4804-1998-rongga-udaraagregat.

pdf di akses 13 november 2016 16:11

http://burhan.blog.uns.ac.id/files/2010/05/sni-03-4804-1998-ronggaudara-agregat.pdf diakses 8 november 2016 13:15


METODE PENGUJIAN
BOBOT ISI DAN RONGGA UDARA DALAM AGREGAT
SNI 03-4804-1998

RUANG LINGKUP :
Metode ini mencakup ketentuan peralatan contoh uji, cara uji dan perhitungan berat isi
dalam kondisi padat atau gembur dan rongga udara dalam agregat.
RINGKASAN :
Berat isi agregat adalah agregat persatuan isi ,Rongga udara dalam satuan Volume
agregat adalah ruang diantara butir butir yang tidak diisi oleh partikel yang padat.
Peralatan :
1. Timbangan kapasitas 2 - 20 kg
2. Batang baja diameter 16 mm dan panjang 610 mm
3. Alat penakar kapasitas 2,8 - 100 liter
4. Sekop atau Sendok serta Oven.

http://artcivect.blogspot.co.id/2011/06/sni-03-4904-1998-metodepengujian-bobot.html diakses 8 november 2016 13:17


Bobot Isi (Bulk Density)
Bobot isi adalah perbandingan antara berat suatu benda dengan volume benda
tersebut. Bobot isi ada dua : bobot isi padat dan gembur. Bobot isi agregat pada beton
berguna untuk klasifikasi perhitungan perencanaan campuran beton.
Pengertian Agregat Kasar
Agregat kasar adalah agregat yang ukuran butirannya lebih dari 5 mm (PBI 1971).
Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil atau batu pecah. Kerikil adalah bahan yang
terjadi sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan-batuan dan berbentuk agak bulat serta
permukaannya licin. Sedangkan batu pecah (kricak) adalah bahan yang diperoleh dari batu
yang digiling (dipecah) menjadi pecahan-pecahan berukuran 5-70 mm.

Syarat-Syarat Agregat Kasar Menurut PBI 1971 (NI-2) pasal 3.4 syarat-syarat agregat
kasar (kerikil) adalah :
1. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori. Agregat kasar yang
mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai apabila jumlah butir-butir pipih tersebut
tidak melebihi 20% dari berat agregat seluruhnya.
2. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% yang ditentukan terhadap
berat kering. Apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat kasar harus dicuci.
3. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak beton, seperti zatzat yang reaktif alkali.
4. Kekerasan butir-butir agregat kasar yang diperiksa dengan bejana penguji Rudelof
dengan beton penguji 20 ton harus memenuhi syarat-syarat :
a. Tidak terjadi pembubukan sampai fraksi 9,5-19 mm lebih dari 24% berat.
b. Tidak terjadi pembubukan sampai 19-30 mm lebih dari 22% berat. Kekerasan ini dapat
juga diperiksa dengan mesin pengawas Los Angelos. Dalam hal ini tidak boleh terjadi
kehilangan berat lebih dari 50%.
Sifat penting dari suatu agregat baik agregat kasar maupun agregat halus adalah kekuatan
hancur dan ketahanan terhadap benturan yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta
semen, porositas, dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan
terhadap proses pembekuan di musim dingin dan agresi kimia serta ketahanan terhadap
penyusutan. Dari segi kekuatan, campuran beton yang menggunakan agregat kasar dengan
tekstur permukaan bersudut akan menghasilkan kekuatan yang lebih besar dibandingkan
dengan campuran beton yang menggunakan batu pecah dengan tekstur bundar dan licin
meskipun digunakan proporsi campuran yang sama.
Syarat Agregat Halus Menurut PBI 1971 (NI-2) pasal 33, syarat-syarat agregat halus
(pasir) adalah sebagai berikut :
1. Agregat halus terdiri dari butiran-butiran tajam dan keras, bersifat kekal dalam arti tidak
pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti panas matahari dan hujan.
2. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% terhadap jumlah berat
agregat kering. Apabila kandungan lumpur lebih dari 5%, agregat halus harus dicuci
terlebih dahulu.
3. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan organik terlalu banyak. Hal demikian
dapat dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams Harder dengan menggunakan
larutan NaOH.
Berat jenis agregat

Berat jenis adalah perbandingan berat suatu benda dengan berat air murni pada
volume yang sama pada suhu tertentu
Berat jenis agregat tergantung oleh : jenis batuan, susunan mineral agregat,
struktur butiran dan porositas batuan.
Berat jenis agregat ada 3, yaitu :
(1) berat jenis SSD, yaitu berat jenis agregat
dalam kondisi jenuh kering permukaan,
(2) Berat jenis semu, berat jenis
agregat yang memperhitungkan berat agregat dalam keadaan kering dan
volume agregat dalam keadaan kering,
(3) Berat Jenis Bulk, berat jenis
agregat yang memperhitungkan berat agregat dalam keadaan kering dan
seluruh volume agregat.
Gradasi Agregat
Gradasi agregat adalah distribusi ukuran butiran dari agregat, baik agregat kasar
maupun halus. Agregat yang mempunyai ukuran seragam (sama) akan menghasilkan
volume pori antar butiran menjadi besar. Sebaliknya agregat yang mempunyai ukuran
bervariasi mempunyai volume pori kecil, dimana butiran kecil mengisi pori diantara
butiran besar sehingga pori-porinya menjadi sedikit (kemampatannya tinggi). Pada beton,
dibutuhkan agregat yg mempunyai kemampatan tinggi sehingga volume porinya kecil,
maka dibutuhkan bahan ikat sedikit ( bahan ikat mengisi pori diantara butiran agregat).
http://documentslide.com/documents/tgs-ii-agregat.html
november 2016 13:53

diakses

Syarat Mutu menurut SK SNI S 04 1989 F


a. Agregat Halus (pasir):
1) Butirannya tajam, kuat dan keras
2) Bersifat kekal, tidak pecah atau hancur karena pengaruh cuaca.
3) Sifat kekal, apabila diuji dengan larutan jenuh garam sulfat sebagai berikut :
a) Jika dipakai Natrium Sulfat, bagian yang hancur maksimum 12 %
b) Jika dipakai Magnesium Sulfat, bagian yang hancur maksimum 10 %
4) Agregat halus tidak boleh mengandung Lumpur ( bagian yang dapat melewati
ayakan 0,060 mm) lebih dari 5 %. Apabila lebih dari 5 % maka pasir harus
dicuci.
5) Tidak boleh mengandung zat organik, karena akan mempengaruhi mutu beton.
Bila direndam dalam larutan 3 % NaOH, cairan di atas endapan tidak boleh
lebih gelap dari warna larutan pembanding.
6) Harus mempunyai variasi besar butir (gradasi) yang baik, sehingga rongganya
sedikit. Mempunyai modulus kehalusan antara 1,5-3,8. Apabila diayak dengan
susunan ayakan yang ditentukan, harus masuk salah satu daerah susunan butir
menurut zone 1, 2, 3 atau 4 dan harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a) sisa di atas ayakan 4,8 mm, mak 2 % dari berat
b) sisa di atas ayakan 1,2 mm, mak 10 % dari berat
c) sisa di atas ayakan 0,30 mm, mak 15 % dari berat

7) Tidak boleh mengandung garam


b. Agregat Kasar (Kerikil) :
1) Butirannya tajam, kuat dan keras
2) Bersifat kekal, tidak pecah atau hancur karena pengaruh cuaca.
3) Sifat kekal, apabila diuji dengan larutan jenuh garam sulfat sebagai berikut :
a. Jika dipakai Natrium Sulfat, bagian yang hancur maksimum 12 %
b. Jika dipakai Magnesium Sulfat, bagian yang hancur maksimum 10 %
4) Agregat kasar tidak boleh mengandung Lumpur ( bagian yang dapat melewati ayakan
0,060 mm) lebih dari 1 %. Apabila lebih dari 1 % maka kerikil harus dicuci.
5) Tidak boleh mengandung zat organik dan bahan alkali yang dapat merusak
beton.
6) Harus mempunyai variasi besar butir (gradasi) yang baik, sehingga rongganya
sedikit. Mempunyai modulus kehalusan antara 6 7,10 dan harus memenuhi
syarat sebagai berikut :
a. sisa di atas ayakan 38 mm, harus 0 % dari berat
b. sisa di atas ayakan 4,8 mm, 90 % - 98 % dari berat
c. Selisih antara sisa-sisa komulatif di atas dua ayakan yang
berurutan, mak 60 % dan min 10 % dari berat.
7) Tidak boleh mengandung garam.