Anda di halaman 1dari 8

REGULASI / PENGELOLAAN

ZAKAT DI INDONESIA
Oleh : Herta Hidayat*
Dosen : Irwan Fauzy Ridwan, M. E. Sy**
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tasikmalaya

I.

Abstrak
Zakat merupakan pilar Islam. Ini harus dikelola oleh pemerintah dan diambil dari
kekayaan yang telah mencapai nishab. Rasulullah telah didelegasikan sahabat untuk
mengumpulkan zakat dari orang kaya dan dibagikan kepada orang miskin. Mereka
adalah Mu'adz bin Jabal, Uqbah bin Amir al-Juhany, dan lain-lain. Cerita Islam
membuktikan bahwa zakat adalah instrumen fiskal dan dikelola oleh negara.
Runtuhnya Turki Utsmani telah berubah model pengelolaan zakat. Zakat yang
dikelola oleh orang dan tidak menjadi instrumen fiskal. Seperti telah disebutkan, ada
2 model manajemen zakat, yaitu dikelola oleh negara dengan sistem wajib; dan
dikelola oleh masyarakat dengan sistem sukarela. Indonesia - sebagai sebuah negara mengakomodasi model kedua meskipun Indonesia memiliki mayoritas muslim dan
ada beberapa lembaga yang disumbangkan oleh dana zakat.

II.

Pendahuluan
Pengelolaan zakat oleh amil zakat telah dicontohkan sejak zaman Rasulullah
Shallalahu alaihi wassallam dan para khulafa ar-Rasyidin. Salah satu contohnya

** Herta Hidayat adalah seorang mahasiswa STAI Kota Tasikmalaya yang saat ini
belajar di Bidang Studi Ekonomi Syariah dan sekarang ini sedang duduk di Semester
3.
**** Irwan Fauzy Ridwan, adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kota Tasikmalaya
dalam pelajaran SPE (Sejarah Pemikiran Ekonomi) sekaligus pembimbing dalam pembuatan
Jurnal ini.

adalah ketika Nabi Muhammad Shallalahu alaihi wassallam mengutus Muadz bin
Jabal ke Yaman dan pada saat beliau menjadi Gubernur Yaman, beliau pun memungut
zakat dari rakyat dan disini beliau bertindak sebagai amil zakat. Melihat pentingnya
zakat dan bagaimana Rasulullah Shallalahu alaihi wassallam telah mencontohkan
tata cara mengelolanya, dapat disadari bahwa pengelolaan zakat bukanlah suatu hal
yang mudah dan dapat dilakukan secara individual. Agar maksud dan tujuan zakat,
yakni pemerataan kesejahteraan, dapat terwujud, pengelolaan dan pendistribusian
zakat harus dilakukan secara melembaga dan terstruktur dengan baik. Hal inilah yang
kemudian menjadi dasar berdirinya berbagai Lembaga Pengelola Zakat di berbagai
negara, termasuk di Indonesia.
III.

Pembahasan
1. Transpormasi Kelembagaan Zakat di Indonesia
a. Pra Kemerdekaan
Pengelolaan zakat di Indonesia tidak bias dilepaskan dari proses Islamisasi
yang terjadi pada abad ketujuh masehi. Melalui perantara saudagar, dai dan
sufi dari Jazirah Arab, India dan Persia, Islam mulai menjadi agama yang
dianut oleh masyarakat Indonesia yang sudah berinteraksi dengan mereka.
Bermula dari masyarakat pesisir di wilayah utara Indonesia, Aceh dan terus
menyebar menjadi agama mayoritas di Indonesia. Dengan pendekatan cultural
yang sudah ada yaitu Hindu dan Budha, Islam berkembang di Indonesia.
Sehingga sebagian ajaran Islam ada yang terkontaminasi dengan budaya
tersebut. Hal ini juga mempengaruhi pengamalan ajaran Islam oleh
pemeluknya. Ada istilah kaum Islam abangan dan kaum santri. Kesadaran
masyarakat terhadap zakat tidak sejalan dengan kesadaran terhadap sholat dan
puasa. Zakat hanya dimaknai sebagai zakat fitrah pada bulan Ramadhan dan
dikelola secara individu.
Pada masa penjajahan Belanda, kondisi ini tetap dipertahankan. Melalui
pengaruh C. Snouck Hurgronje dalam Politik Islam, Belanda membatasi
perkembangan Islam karena dianggap membahayakan pemerintahan Belanda.
Masyarakat Indonesia dikenalkan dengan pemahaman bahwa Islam adalah
ibadah ritual yang terpisah dari kehidupan. Pemerintah tidak boleh campur
tangan dalam masalah keagamaan.
Tak terkecuali dengan zakat, Belanda juga membuat kebijakan untuk
memperlemah pelaksanaan zakat. Belajar dari pengalaman tentang masyarakat
Aceh, Belanda menganggap zakat adalah diantara faktor yang menyebabkan
kesulitan menduduki Aceh. Masyarakat Aceh menggunakan sebagian dana
zakat untuk membiayai perang dengan Belanda.
Pemerintah Belanda melalui kebijakannya Bijblad Nomor 1892 tahun
1866 dan Bijblad 6200 tahun 1905 melarang petugas keagamaan, pegawai
pemerintah, termasuk priyayi pribumi ikut serta dalam pengumpulan zakat.
Kebijakan ini dikeluarkan karena khawatir dengan perkembangan Islam dan
upaya untuk memisahkan agama dari urusan kehidupan. Kebijakan ini
mengubah praktek pengelolaan zakat di Indonesia saat itu. Kesadaran

masyarakat untuk berzakat menjadi menurun dan sebagian lagi menyerahkan


zakat mereka ke individu ulama dengan harapan mendapat syafaat dari Allah
Yang Maha Kuasa.
Fenomena ini terus berlangsung sampai abad ke sembilan belas. Merespon
praktek pengamalan zakat yang tradisional ini, Muhammadiyah mempelopori
perubahan pengelolaan zakat dengan membentuk lembaga amil zakat
tersendiri. Lembaga tersebut khusus mengurusi zakat, infak, sedekah dan
wakaf serta menyalurkannya kepada pihak yang berhak, terutama fakir
miskin. Pada masa selanjutnya, pengelolaan zakat mulai menggerakkan
ekonomi dengan membentuk koperasi-koperasi, pendidikan, kesehatan dan
usaha produktif lainnya.
Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah mulai ambil bagian dalam
pengelolaan zakat. Hal itu ditandai dengan dibentuknya MIAI (Majlis Islam
Ala Indonesia). Pada tahun 1943, MIAI membentuk Baitul Maal untuk
mengorganisasikan pengelolaan zakat secara terkoordinasi. Badan ini
dikepalai oleh Ketua MIAI sendiri, Windoamiseno dengan anggota komite
yang berjumlah 5 orang, yaitu Mr. Kasman Singodimedjo, S.M. Kartosuwirjo,
Moh. Safei, K. Taufiqurrachman, dan Anwar Tjokroaminoto. Gerakan secara
massif pun dilakukan. Upaya-upaya itu rupanya tidak sia-sia, sebab dalam
jangka waktu yang singkat, -hanya beberapa bulan saja-, Baitul Mal telah
berhasil didirikan di 35 kabupaten dari 67 kabupaten yang ada di Jawa pada
saat itu. Tetapi kemajuan ini menyebabkan Jepang khawatir akan munculnya
gerakan anti-Jepang. Maka, pada 24 Oktober 1943, Jepang membubarkan
MIAI.

b. Orde Lama dan Orde Baru


Pengelolaan zakat pada masa awal kemerdekaan tidak jauh berbeda
dengan masa menjelang kemerdekaan. Periode ini berada dalam 2 (dua) masa
pemerintahan, atau dikenal dengan orde lama dan orde baru. Pada masa ini,
pengelolaan zakat masih dipegang oleh individu, masjid, lembaga pendidikan
yang tidak memiliki aktifitas utama dalam mengelola zakat. Pemerintah masih
memilih tidak campur tangan dengan masalah agama termasuk zakat. Fase ini
berlangsung antara 1968-1991. Pengaruh pemerintahan Belanda masih
dirasakan. Sikap apatisme terhadap pengamalan Islam masih menjadi
kecurigaan dari pemerintah.
Sebenarnya pemerintah melalui Departemen Agama pernah menerbitkan
Peraturan Menteri Agama No. 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan
Badan/Amil Zakat. Tetapi tanpa alasan yang jelas, PMA ini dicabut sebelum
sempat diimplementasikan.
Setelah tahun 1991, untuk menarik simpati masyarakat untuk keterpilihan
pada periode yang keenam kalinya, pemerintah pada masa itu akhirnya
mau mengeluarkan peraturan perundang-undangan meskipun hanya setingkat

Surat Keputusan Bersama No. 29 dan No. 47 Tahun 1991 tentang Pembinaan
BAZIS yang diterbitkan oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri
setelah melalui Musyawarah Nasional MUI IV tahun 1990.
Tetapi tampaknya, keberpihakan tersebut masih dirasa setengah hati. Hal
ini terlihat dari posisi BAZIS sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat
dan bukan sebagai organisasi pemerintah ataupun semi pemerintah. Fase
formalisme tersebut berlangsung dari tahun 1991 1998.
c. Reformasi
Era reformasi tampaknya juga memberi dampak positif terhadap aktifitas
perzakatan di Indonesia. Pemerintah mulai mengakomodasi pengelolaan
zakat. Pemerintah dibawah B.J Habibie dan DPR mengeluarkan regulasi
setingkat undang-undang, yaitu UU No. 38 Tahun 1999. Dengan lahirnya UU
tersebut, zakat sudah tidak lagi dipandang sebagai masalah intern umat Islam,
tetapi sudah menjadi kegiatan pemerintah bidang ekonomi dan sosial.
Pada pemerintahan selanjutnya, keberpihakan ini dilanjutkan dengan
lahirnya UU No. 17 tahun 2000 tentang Perpajakan dan Keppres No. No.8
Tahun 2001 tentang pembentukan BAZNAS. Pada akhir tahun 2001, melalui
pemerintahan saat itu, dicanangkan Gerakan Sadar Zakat Nasional.
2. Zakat dalam UU No. 23 Tahun 2011
Selama ini pengelolaan zakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 38
Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat dinilai sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga perlu
diganti. Maka dibenntuklan UU No. 23 Tahun 2011. Pengelolaan zakat yang
diatur dalam Undang-Undang ini meliputi kegiatan perencanaan, pengumpulan,
pendistribusian, dan pendayagunaan.
Dalam UU No. 23 Tahun 2011, pengertian zakat terdapat pada Pasal 1
Ayat (1), yang berbunyi: Zakat merupakan harta yang wajib dikeluarkan oleh
seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak
menerimanya sesuai dengan syariat Islam.
Zakat yang dimaksud di sini adalah zakat mal dan zakat fitrah. Adapun
yang termasuk dalam zakat mal meliputi zakat emas, perak, dan logam mulai
lainnya; uang dan surat berharga lainnya; perniagaan; pertanian, perkebunan, dan
perhutanan; peternakan dan perikanan; pertambangan; perindustrian; pendapatan
dan jasa; dan rikaz. (Pasal 4 Ayat (1) dan (2).
Undang-undang ini mempunyai implikasi yang sangat luas bagi lembaga
pengelolaannya. Pengelolaan tersebut secara umum mengoptimalkan pengelolaan
dan pemanfaatannya berdasarkan skala prioritas kebutuhan mustahiq dan dapat
dimanfaatkan untuk usaha-usaha yang produktif.
Untuk mewujudkan optimalisasi pengelolaannya, badan amil zakat
senantiasa dituntut untuk amanah, profesionalisme, transparansi dan akuntabilitas
serta kemandirian sebagai sebuah industri publik menuju masyarakat yang
sejahtera, berdayaguna dan bertaqwa.

Untuk menjamin pengelolaan zakat sebagai amanah agama, dalam


undang-undang ini ditentukan adanya unsur pembinaan dan unsur pengawasan
yang terdiri dari ulama, kaum cendekia, masyarakat, dan pemerintah serta adanya
sanksi hukum terhadap pengelola yang tidak sesuai denga ketentuan.
3. Fatwa MUI tentang Zakat
Ketentuan mengenai zakat di Indonesia selain diatur dalam perundangundangan juga berdasarkan pada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di antara
fatwa-fatwa tersebut meliputi:
a. Fatwa tentang intesifikasi pelaksanaan zakat yang disidangkan pada
tanggal 26 Januari 1982, menetapkan:
1. Penghasilan dari jasa dapat dikenakan zakat apabila samapi nisab
dan haul.
2. Yang berhak menerima zakat hanya delapan ashnaf yang
tersebut dalam Al-Quran pada surat at-Taubah ayat 60. Apabila
salah satu ashnaf tidak ada, bagiannya diberikan kepada ashnaf
yang ada.
3. Untuk kepentingan dan kemaslahatan umat Islam, maka yang
tidak dapat dipungut melalui saluran zakat, dapat diminta atas
nama infaq atau shadaqah.
4. Infaq dan shadaqah yang diatur pungutannya oleh Ulil Amri,
untuk kepentingan tersebut di atas, wajib ditaati oleh umat
Islam menurut kemampuannya.
b. Fatwa tentang mentasharufkan dana zakat untuk kegiatan produktif
dan kemaslahatan umat. Ditetapkan pada tanggal 2 Februari tahun
1982, yang berisi bahwa zakat yang diberikan kepada fakir miskin
dapat bersifat produktif. Dana zakat atas nama Sabilillah boleh
ditasarufkan guna keperluan maslahah'ammah (kepentingan umum).
c. Fatwa tentang pemberian zakat untuk beasiswa. Ditetapkan pada
tanggal 19 Februari 1996, yang ketentuannya terlampir dalam surat
fatwa No. Kep.-120/MU/II/1996. Dalam surat tersebut disebutkan
bahwa memberikan uang zakat untuk keperluan pendidikan,
khususnya dalam bentuk beasiswa, hukumnya adalah SAH, karena
termasuk dalam ashnaf fi sabilillah.
Selain ketiga fatwa di atas, masih ada banyak fatwa MUI lain yang
berkaitan dengan zakat, seperti fatwa tentang zakat penghasilan, tentang
penggunaan dana zakat untuk ishtishmar (investasi), tentang amil zakat, tentang
hukum zakat atas harta haram, serta beberapa fatwa lain yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu.

4. Lembaga Pengelolaan Zakat


Berdasarkan UU No 38 Tahun 1999, bahwa organisasi yang berhak
mengelola zakat terbagi menjadi dua bagian, yakni organisasi yang tumbuh atas
prakarsa masyarakat dan disebut lembaga Amil Zakat (LAZ) serta organisasi yang
dibentuk oleh pemerintah dan disebut dengan Badan Amil Zakat (BAZ). Atau
yang pada Undang-Undang No. 23 tahun 2011 dikenal dengan istilah BAZNAS
(Badan Amil Zakat Nasional).
Kedua bentuk organisasi ini memiliki kesamaan tujuan, yakni bertujuan
mengelola dana zakat dan sumber-sumber dana sosial yang lain secara maksimal
untuk keperluan umat. Misi mulia yang diemban ini jangan sampai berbenturan
dalam pelaksanaan programnya. Masyarakat harus didorong supaya membentuk
lembaga amil sebanyak-banyaknya.
Semakin menjamurnya organisasi pengelola zakat, akan semakin
mempermudah dalam sosialisasi. Disamping itu masyarakat muzakki dapat lebih
leluasa memilih lembaga yang amanah dan profesional. Dengan sendirinya seiring
perjalanan waktu akan muncul dua kemungkinan; pertama, akan terjadi seleksi
alamiah yaitu lembaga amil akan terseleksi dengan sendirinya dan yang terbentuk
karena motivasai yang kurang baik akan berguguran, sebaliknya lembaga yang
dibentuk dengan motif yang benar akan semakin berkembang. Kedua, akan
terjadi kompetisi secara sehat yang semakin saling menguatkan satu dengan yang
lainnya. Antara lembaga amil pada semua tingkatan akan saling menjual
kelebihan dan program ungulan untuk meyakinkan kelompk muzakki. Kondisi ini
akan semakin memperkuat posisi tawar masing-masing lembaga amil.
Lembaga amil zakat dan badan amil zakat dapat dibentuk pada semua
tingkatan, mulai tingkat nasional, sampai lokal. Jika dalam BAZ, hirarki
kepengurusannya memiliki struktur baku sesuai dengan wilayah dalam
ketatanegara. Struktur tertinggi ada di pusat dan terendah di tingkat kecamatan. Di
desa atau kelurahan tidak sampai pada tingkatan BAZ tetapi hanya terbatas pada
unit disahkan oleh presiden, di propinsi oleh gubernur dan seterusnya sampai
tingkat kecamatan.
Pengorganisasian BAZ di semua tingkat memiliki hubungan kerja yang
bersifat koordinatif dengan demikian akan berfungsi sebagai penata keagamaan
yang memiliki fungsional dalam upaya pemecahan masalah-masalah kemanusiaan
yang menyangkut pemerataan rizki yang diberikan oleh Allah kepada hambanya
demi untuk kelangsungan hidup untuk mengabdi kepada-Nya. (Direktorat
Pemberdayaan Zakat, 2006: 59).
Sedangkan untuk LAZ, pembentukanya sangat bervariasi tergantung pada
motivasi para pemrakarsanya, ini bukan berarti untuk mendapat pengesahan
sebagai lembaga amil, tidak ada mekanismenya. Pemerintahan dalam UU tersebut
telah menempatkan mekenisme pembentukan lembaga amil, sehingga tidak
sembarang orang dapat dengan mudah mendirikan lembaga amil. Dan pemerintah
berhak mengawasi dan memonitoring perkembangan organisasi dan keuangannya.
Hasil pengumpulan zakat oleh BAZ dan LAZ selanjutnya didayagunakan
untuk mustahik sesuai dengan ketentuan agama berdasarkan skala prioritas

IV.

V.

kebutuhan mustahik. Sebelum disalurkan tentu saja diperlukan adanya riset dan
penelitian tentang jumlah fakir miskin disuatu wilayah tertentu lengkap dengan
potensi pengembangan sumberdaya manusia. Dari hasil riset inilah disebut skala
prioritas yang akan diberi zakat terlebih dahulu. Hasil penerimaan BAZ dan LAZ
dari jemis infak, sedekah, hibah, wasiat dan kafarat didayagunakan untuk usaha
yang produktif agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pendayagunaan hasil pengumpulan zakat untuk mustahik dilakukan
berdasarkan persyaratan sebagai berikut:
1) Hasil pendataan dan penelitian kebenaran mustahik delapan asnaf
(golongan), yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharim, sabilillah
dan ibnu sabil.
2) Pengutamaan orang-orang yang paling tidak berdaya memenuhi
kebutuhan dasar secara ekonomi dan sangat memerlukan bantuan.
3) Pengutamaan mustahik di wilayahnya masing-masing.
Kritik dan Solusi Untuk Perkembangan Zakat di Indonesia
Zakat merupakan satu rukun yang bercorak sosial-ekonomi dari lima rukun Islam.
Dengan zakat, di samping ikrar tauhid (syahadat) dan shalat, seseorang barulah sah
masuk ke dalam barisan umat Islam dan diakui keislamannya. Zakat, sekalipun
dibahas di dalam pokok bahasan ibadat, karena dipandang bagian yang tidak
terpisahkan dari sholat, sesungguhnya merupakan bagian sistem-ekonomi Islam, dan
oleh karena itu dibahas di dalam buku-buku tentang strategi hukum dan ekonomi
Islam.
Di Indonesia, zakat di atur dalam sebuah perundang-undangan yang sudah
terperinci dengan baik. Namun, meskipun sudah diatur dengan baik, tidak menjamin
tercapainya pengelolaan yang baik, jika pengelolanya tidak memiliki sifat amanah.
Jadi, untuk tercapainya pengelolaan yang maksimal, maka pengelola zakat tersebut
baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat dapat amanah dan
bekerja secara maksimal.
Selama ini sistem dan mekanisme yang masih dibawah otoritas Kementerian
Agama. Sebaiknya zakat harus berada dalam otoritas ekonomi pemerintah, sehingga
perlu menaikan struktur kelembagaan Baznas menjadi lembaga pemerintahan
setingkat menteri seperti menteri keuangan atau lembaga keuangan yang ditunjuk
oleh pemerintah, serta menciptakan pelayanan zakat satu pintu, membentuk lembaga
pengawas, dan menerapkan sanksi bagi muzakki yang tidak membayar zakat.
Sehingga akan menjadikan zakat sebagai instrumen ekonomi, dengan demikian
efektifitasnya akan lebih terasa ketika zakat benar-benar menjadi alat kebijakan
ekonomi.
Kesimpulan
Dari uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa, sejarah tentang regulasi zakat di
Indonesia diwarnai dengan pergulatan yang sangat panjang, serta tarik ulur antara
kepentingan Islamis politik dan kepentingan Islamis kultural dan bahkan kepentingan
kolonial penjajah dalam upaya mengatur undang-undang zakat. Sampai akhirnya
muncul UU Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolaan Zakat di Indonesia.

Regulasi zakat ini perlu diatur oleh Negara, adalah dalam rangka untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat; dan
meningkatkan manfaat zakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan
penanggulangan kemiskinan. Efektifitas dan efesiensi pengelolaan zakat di Indonesia
yang majemuk ini, membutuhkan adanya kepastian hukum dan kejelasan regulasi
yang mengaturnya. Selain itu, regulasi zakat ini dimunculkan dalam upaya penertiban
pengelola zakat (amil) yang berasaskan pada prinsip-prinsip; syariah, amanah,
kemanfaatan, keadilan, kepastian hukum, terintegrasi, dan akuntabilitas. Jika hal
demikian itu tercipta, maka kesadaran masyarakat dalam berzakat akan tinggi dan
zakat dapat digunakan sebagai alternative mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan
penanggulangan kemiskinan.

Daftar Pustaka
Aziz, Muhammad dan Sholikah. Regulasi Zakat di Indonesia, Jurnal 2014
Puji Kurniawan, Legislasi Undang-Undang Zakat dalam Jurnal Al-Risalah, Volume 13, Nomor
1 Mei 2013.
Undang-undang No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat (Baru).
Wajdi, Farid. Kajian Penerapan Zakat. FISIP UI 2008