Anda di halaman 1dari 12

GAYA KEPEMIMPINAN YANG COCOK DI INDONESIA

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin


kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Menurut Kartasasmita
kepemimpinan sangat penting dan amat menentukan dalam kehidupan setiap bangsa karena
maju mundurnya masyarakat, jatuh bangunnya bangsa, di tentukan oleh pemimpinnya.
Berdasarkan pernyataan tersebut dapat kita simpulkan bahwa untuk membentuk suatu negara
yang maju, kuat, dan sejahtera. Di butuhkan sosok pemimpin yang memiliki gaya
kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di negaranya.

Di negara kita Indonesia. peran seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinannya dinilai
belum menemukan kecocokan atau keselarasan dengan kondisi negara dan masyarakatnya.
Hal ini dapat dilihat dengan seringnya masyarakat Indonesia memberikan respon yang kontra
akan kepemimpinan pemerintah. Sebelum menyatakan gaya kepemimpinan yang seperti apa
yang cocok di gunakan di Indonesia, terlebih dahulu kita harus tau macam - macam gaya
kepemimpinan. Gaya kepemimpinan seorang pemimpin dapat kita klasifikasikan ke dalam
tiga bentuk :

1.
Gaya Otoriter : Gaya kepemimpinan yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan
yang di ambil dari dirinya seecara penuh. segala pembagian Tugas dan Tanggung jawab di
pegang oleh sipemimpin yang otoriter tersebut. Gaya kepemimpinan ini kurang cocok
diterapkan di Indonesia yang mana berdasarkan sejarahnya masyarakat Indonesia adalah
masyarakat yang bersifat demokratis dan suka bermusyawarah. Gaya kepemimpinan seperti
ini lebih cocok diterapkan dalam satuan militer.

2.
Gaya Laissez Faire : Gaya kepemimpinan jenis ini hanya terlibat dalam kuantitas yang
kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian
masalah yang dihadapi. . Gaya kepemimpinan seperti ini kurang tepat apa bila diberlakukan
di Indonesia. karena masyarakat Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang peduli dan
kreatif dalam peyelesaian setiap masalah yang dihadapi mereka.

3.
Gaya Demokratis : Gaya memimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada
para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim
yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi
tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.Gaya kepemimpinan ini bila ditinjau
dari kultur budaya masyarakat Indonesia yang sering bermusyawarah dalam setiap
penyelesaian masalahnya dinilai sesuai dengan negara indonesia. namun bila ditinjau dari sisi
negatifnya gaya kepemimpinan seperti ini di nilai kurang efektif di dalam menyelesaikan
masalah yang sifatnya urgent dan butuh penyelesaian dalam waktu cepat. Sebagai contoh
masalah penanggulangan bencana alam dan perang yang membutuhkan penyelesaian yang
cepat. Kedua contoh kasus ini tidak bisa diselesaikan dengan gaya kepemimpinan yang
demokratis karena kedua masalah tersebut membutuhkan penyelesaian yang cepat dan tepat.
Apabila seorang pemimpin harus bermusyawarah terlebih dahulu untuk mencari solusi dari
permasalahan tersebut maka akan timbul hal hal negatif yang tidak di inginkan sebelumnya.

Berdasarkan tiga gaya kepemimpinan di atas belum ada model atau gaya kepemimpinan yang
cocok dengan kondisi masyarakat yang ada di Indonesia. lalu gaya kepemimpinan yang
seperti apa yang cocok diterapkan pemimpin yang ada di Indonesia?. gaya kepemimpinan
yang cocok diterapkan di Indonesia adalah gaya kepemimpinan yang situasional. Yaitu gaya
kepemimpinan yang mampu mengkolaborasikan gaya gaya kepemimpinan yang telah ada
untuk diterapkan pada waktu dan kondisi yang tepat. Gaya kepemimpinan seperti ini dapat
bersifat otoriter apabila masyarakat membutuhkan sebuah kebijakan yang sifatnya cepat dan
tepat. Dan dalam hal membutuhkan kebijakan yang bersifat penting dan butuh pertimbangan
serta masukan masukan agar kebijakan tersebut dapat sesuai dengan keinginan masyarakat,
pemimpin yang situasional dapat bersikap secara demokratis
MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN
Jumat, 06 November 2015

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN
Disusun guna memenuhi mata kuliah kepemimpinan politik
Dosen pengampu: Ihab habudin

___
_____
___

BAB I
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, perusahaan
sampai dengan pemerintahan sering kita dengar sebutan pemimpin, kepemimpinan serta
kekuasaan. Ketiga kata tersebut memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan
lainnya.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang
kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya
dalam mencapai tujuan.
Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak
memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik
dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin, dapat kami
simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat,
sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Setelah kita mengetahui pengertian dari pemimpin itu sendiri, ada baiknya kita
mengetahui tipe-tipe atau gaya dari kepemimpinan para pemimpin. Sehingga kita dapat
mengetahui teori atau pendekatan yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam memimpin.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja model-model kepemimpinan?
2. Seperti apa gaya kepemimpinan tokoh pemimpin nasional?

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN GAYA KEPEMIMPINAN

Leadership style is the manner and approach of providing direction,implementing plans,


and motivating people.[1]

Gaya kepemimpinan adalah pilihan pendekatan yang dipakai oleh pemimpin untuk
memimpin,dalam arti mempengaruhi dan menggerakkan yang dipimpin untuk bekerja secara
efektif, guna mencapai tujuan organisasi.[2]

B. MACAM-MACAM GAYA KEPEMIMPINAN


Diantaranya Adalah:
1.

Tipe kepemimpinan Otokrasi atau diktatoral


Otokrat berasal dari perkataan autos = sendiri; dan kratos = kekuasaan, kekuatan. Jadi
otokrat berarti: penguasa absolute.[3]
Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan dari pada kekuasaan dan paksaan mutlak
harus di penuhi. Pemimpinanya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada a one-man
show. Dia berambisi sekali untuk merajai situasi. Setiap perintah dan kebijakan di tetapkan
tanpa berkonsultasi dengan bawahannya. Anak buah tidak pernah diberi informasi mendetail
mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Semua pujian dan kritik terhadap
segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi pemimpin sendiri. Pemimpin
otokratis itu senantiasa ingin berkuasa absolut, tunggal, dan merajai keadaan.[4]
Menurut Buchori Alma,tipe Otokrasi berdasarkan kepada kekuasaan dan paksaan
yang harus dipatuhi.[5]
Dalam Kepemimpinan ini,Pemimpin menempatkan dirinya lebih tinggi dari semua
anggota organisasinya,sebagai pihak yang memiliki hak berupa kekuasaan. Sedang orangorang yang dipimpin sebagai pihak yang berada pada posisi yang lebih rendah ,hanya
mempunyai tugas,kewajiban dan tanggung jawab. [6]
Di lingkungan suatu organisasi,tipe ini terlihat pada perilaku pemimpin yang selalu
menetapkan keputusan sendiri,tanpa memberikan kesempatan anggotanya memberikan saransaran atau pendapat. Dengan kata lain anggota organisasi tidak boleh dan tidak diberi
kesempatan untuk menyampaikan kreativitas dan inisiatifnya. Kretivitas,inisiatif, pendapat
dari anggota dianggap sebagai pembangkangan.
Dalam islam, Salah satu contoh kepemimpinan bertipe otoriter adalah kepemimpinan
firaun, yang telah membawa pada kedurhakaan yang tidak akan berampun, karena telah
menyatakan dirinya sebagai tuhan.

Kesewenang-wenangan firaun sebagai pemimpin yang otoriter diberitakan allah swt


dalam surat yunus ayat 83 yang artinya: [7]
sungguh firaun itu berbuat sewenang-wenang dimuka bumi. Dan dia termasuk orang-orang
melanggar batas.
Tidak dibenarkan dalam islam, bilamana dengan kekuasaanya dan kesewenangwenangannya seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat membelakangi allah dan
rasulnya. Kepemimpinan otoriter dapat diterima dan dibenarkan bilamana manifestasinya
berupa pemakaian kekuasaan dan kesewenangan untuk memerintahkan patuh dan taat dalam
melaksanakan petunjuk dan tuntunan.
Selain
itu,
menurut
alvan
alvian
dikutip
dari
bukunya menjadi
pemimpinpolitik dijelaskan bahwa: Gaya otoriter itu menindas, mempengaruhi pengikut
dengan memaksa, meniadakan inisiatif yang lain, dan memaksa semua orang bekerja tanpa
kompromi. Menurut Siagian, seorang pemimpin otoriter akan menunjukan sikap yang
menonjolkan ke-aku-annya antara lain dalam bentuk:[8]
1. Kecenderungan memperlakukan para bawahan sama dengan alat-alat lain dalam organisasi,
seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka.
2. Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengaitkan
pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahan.
3. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan dengan cara
memberitahukan kepada para bawahan tersebut bahwa ia telah mengambil keputusan tertentu
dan para bawahan itu diharapkan dan bahkan dituntut untuk melaksanakannya saja.
2.

Tipe kepemimpinan bebas (laissez faire)


Pada tipe kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak memimpin dia
membiarkan kelompoknya dan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri.
Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan
dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahan sendiri. Dia merupakan pemimpin simbol,
dan biasanya tidak memiliki ketrampilan teknis. Sebab duduknya sebagai direktur atau
pemimpin ketua dewan, komandan, kepala biasanya diperolehnya melalui penyogokan,
suapan atau berkat sistem nepotisme.[9]
Dia tidak mempunyai kewibawaan dan tidak bisa mengotrol anak buahnya. Tidak
mampu melaksanakan koordinasi kerja, dan tidak berdaya sama sekali menciptakan suasana
kerja yang kooperatif. Sehingga organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya menjadi
kacau-balau, morat-marit, dan pada hakikatnya mirip satu firma tanpa kepala.[10]
Ringkasnya, pemimpin laissez faire itu pada hakikatnya bukanlah seorang pemimpin
dalam pengertian sebenarnya. Sebab bawahan dalam situasi kerja sedemikian itu sama sekali

tidak terpimpin, tidak terkontrol, tanpa disiplin, masing-masing orang bekerja semau sendiri
dengan irama dan tempo semau gue.
Tipe kepemimpinan ini adalah kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter. Perilaku
yang dominan dalam kepemimpinan ini adalah perilaku dalam gaya kepemimpinan
kompromi dan perilaku kepemimpinan pembelot. Dalam proses kepemimpinan ini pemimpin
tidak melakukan fungsinya dalam menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya,dengan cara
apapun. [11]
3.

Tipe kepemimpinan demokratis


Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbingan
yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan,
dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerja sama yang
baik. Kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada person atau individu
pemimpin, akan tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga
kelompok.[12]
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu mau mendengarkan
nasihat dan sugesti bawahan. Juga bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan
bidangnya masing-masing mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin
pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokratis juga sering disebut sebagai
kepemimpinan group developer.
Secara ringkas dapat dinyatakan, kepemimpinan demokratis menitikberatkan masalah
aktivitas setiap anggota kelompok juga para pemimpin lainya, yang semaunya terlibat aktif
dalam penetuan sikap, pembuatan rencana-rencana, pembuatan keputusan penerapan disiplin
kerja (yang ditanamkan secara sukarela oleh kelompok-kelompok dalam suasana
demokratis), dan pembajaan (dari asal kata baja) etik kerja.[13].
Kepemimpinan tipe ini selalu dilaksanakan dengan memanfaatkan setiap anggota
organisasi,melalui pemberian kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan.
Pemimpin selalu berusaha mendorong tumbuh dan berkembangnya kegiatan kerja sama antar
anggota organisasinya. [14]
Pemimpin tidak bekerja sendiri. Semua pembantunya sebagai staf pimpinan,mendapat
pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab yang sama pentingnya bagi pencapaian tujuan
organbisasinya. Dengan demikian berarti setiap anggota selain diberi kesempatan untuk aktif
juga ditumbuhkan dan dikembangkan sifat kemampuan kepemimpinannya. Oleh karena itu
setiap orang memperoleh peluang yang sama unntuk mengisi berbagai posisi kepemimpinan
di dalam dalam struktur organisasinya. Kesempatan diberikan pada anggota yang
berpartisipasi dan memiliki kemampuan memimpin antara lain jika ada kekosongan karena
seseorang dipromosikan ,dipindahkan ,pension dsb.

Kepemimpinan demokratis bersifat aktif,dinamis dan terarah. Aktif dalam


menggerakkan dan memotivasi. Dinamis dalam mengembangkan dan memajukan organisasi.
Terarah pada tujuan bersama yang jelas,melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan ynag relevan
secara efektif dan efesien.
Dalam praktiknya pemimpin selalu membagi-bagi tuagas-tugas secara tuntas,sehingga
tidak ada tugas yang tertinggal karena tidak ada yang melaksanakannya. Sebaliknya juag
tidak ada anggota organisasi yang tidak mendapat tugas untuk dikerjakannya. Dengan
demikian setiap anggota organisasi selalu mengetahui secara jelas partisipasi atau sumbangan
kegiatan apa yang dapat diberikannya untuk mencapai tujaun organisasinya. Dengan kata lain
setiap anggota mengetahui secara jelas wewenang dan tanggung jawab yang dilimpahkan
kepadanya. Oeleh karena itu setiap anggota organisasi juga mengetahui dan mampu
melaksanakan tugas-tugas yang menjadi wewenangnya secara efektif dan efesien,sebagai
perwujudan kemampuannya memikul tanggung jawab. [15]
Kepemimpinan demokratis dalam menetapkan keutusankeputusan yang penting
selalu mengikutsertakan anggota organisasinya melalui rapat atau musyawarah. Keputusan
keputusan yang penting selalu mengikutsertakan anggota organisasi melalui rapat atau
musaywarah. Keputusan seperti itu akan dilaksanakan oleh semua anggota organisasi secara
serius.,tanpa merasa dipaksa. Setiap anggota bersedia aktif melaksanakannya,yang dirasakan
sebagai bagian dari tanggung jawabnya,karena ikut menetapkannya. Disamping itu disadari
pul;la bahwa pelaksanaan keputusan-keputusan itu bukanlah untuk kepentingan seseorang
atau beberapa orang tertentu,tetapi untuk kepentinagn bersama.
Dari uraian diatasa dapat disimpulkan bahwa tipe kepemimpinan demokratis selalu
berpihak pada kepentingan anggota,dengan berpegang pada prinsip mewujudkan kebenaran
dan keadilan untuk kepentingan bersama. Konsep seperti itu sejalan dengan ajaran islam
yang sangat mengutamakan perilaku yang mampu membedakan yang haq dan ynang batil.
Siagian mencatat beberapa ciri gaya kepemimpinan demokratis sebagai berikut:[16]

Memiliki pandangan, betapa pun besarnya sumber daya dan dana yang tersedia bagi
organisasi, semuanya itu pada dirinya tidak berarti apa-apa kecuali digunakan dan
dimanfaatkan oleh manusia dalam organisasi demi kepentingan pencapaian tujuan dan
berbagai sasaran organisasi.

Dalam kehidupan organisasional tidak mungkin, tidak perlu, bahkan tidak boleh semua
kegiatan dilakukan sendiri oleh pemimpin dan oleh karena itu selalu mengusahakan adanya
pendelegasian wewnang yang praktis dan realitis tanpa kehilangan kendali organisasional.

Para bawahan dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib sendiri melalui peran sertanya
dalm proses penganbilan keputusan.

4.

Kesungguhan yang nyata dalam memperlakukan para bawahan sebagai makhluk politik,
makhluk ekonomi, makhluk sosial dan sebagai individu dengan karakteristik dan jati diri
yang khas yang mempunyai kebutuhan yang sangat kompleks, mulai dari yang bersifat
kebendaan seperti sandang, pangan, papan, meningkat kepada kebutuhan yang bersifat
keamanan, kebutuhan sosial, dan kebutuhan pengakuan status hingga kepada kebutuhan yang
bersifat spiritual.

Usaha memperoleh pengakuan yang tulus dari para bawahan atas kepemimpinan orang yang
bersangkutan didasarkan kepada pembuktian kemampuan memimpin organisasi dengan
efektif, bukan sekedar karena pemilikan wewenang formal berdasarkan pengangkatannya.
Tipe kepemimpinan paternalistik
Paternalistik adalah sifat yang muncul dari paternalisme, yaitu suatu paham yang
mengagungkan hierarki keluarga. Asumsinya, orang tua harus dihormati dan ditaati oleh
anak-anaknya, dan orang tua punya tanggung jawab untuk membesarkan dan melindungi
anak-anaknya. Dalam masyarakat jawa atau masyarakat Timur, paternalisme sangat lekat,
antara lain dapat dilihat dari penggunaan bahasa yang bertingkat-tingkat. Penggunaan bahasa
jawa, misalnya, disesuaikan dengan usia, derajat, dan kepangkatan seseorang atau
kebangsawanan seseorang. Maka bahasa jawa terbagi dalam kromo inggil (level tinggi),
kromo madya (level menengah), dan ngoko (terendah). Kepada raja, pejabat, atau yang
dituakan, orang awam tak boleh ngoko. Kalau ngoko, ia bukan saja tidak sopan alias ora
ngajeni, tetapi telah melanggar tatanan budaya dan kebahasaan yang ada. Ia bisa di cap ora
tatanan. Ngoko hanya boleh dipakai di antara sesama kerabat dekat yang seusia.[17]
Tipe kepemimpinan ini yaitu tipe kepemimpinan kebapakan,dengan sifat-sifat sebagai
berikut:[18]

1. Dia menganggap bawahannya sebagai manusia yang belum dewasa,atau anak sendiri yang
perlu dikembangkan.
2. Dia bersikap terlalu melindungi (over protective)
3. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya dalam pengambilan keputusan.
4. Hampir tidak pernah memberikan kesempatan untuk berinisiatif,atau mengembangkan
imajinasi dan kreativitasnya.
5. Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
5.

Tipe kepemimpinan Kharismatik


Dalam kamus besar bahasa Indonesia dikemukakan bahwa kharisma berarti bersifat
karisma. sedang perkataan karisma diartikan sebagai keadaan atau bakat yang dihubungkan
dengan kemampuannya yang luar biasa dalam kepemimpinan seseoarang untuk

membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya atau atribut
kepemimpinan didasarkan atas kualitas kepribadian individu.
Sejalan dengan ungkapan dalam kamus besar bahasa Indonesia tersebut,tipe
kepemimpinan ini dapat diartikan sebagai kemampuan menggunakan keistimewaan atau
kelebihan sifat kepribadian dalam mempengaruhi pikiran,perasaan dan tingkah laku orang
lain,sehingga dalam suasana batin mengagumi dan mengagungkan pemimpin. Dengan kata
lain pemimpin dan kepemimpinannya dipandang istimewa karena sifat-sifat kepribadiannya
yang mengagumkan dan berwibawa. Dalam kepribadian itu,pemimpin diterima dan
dipercayai sebagai orang yang dihormati,disegani,dipatuhi secara rela dan ikhlas.
Keistimewaan mendasari perilaku kepeemimpinan kharismatik,sehingga dimata
orang-orang yang dipimpinnya secara pasti pemimpin merupakan seseorang yang memiliki
ahlak yang terpuji. Oleh karena itu perilaku kepemimpinannya cenderung mengaplikasikan
tipe kepemimpinan demokratis atau otoriter. Misalkan seorang presiden memiliki kharisma
bagi rakyatnya,ulama tertentu bagi umatnya,kepala sekolah atau guru di lingkungan
siswanya,pemuka adat ditengah sukunya.
Tipe kepemimpinan ini memiliki kekuatan energi,daya tarik dan pembawaan yang
luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat
besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Dimana pemimpin dalam tipe
ini ia memiliki inspirasi,keberanian dan berkeyakinan teguh pada pendirian diri sendiri.
Toalitas kepribadian pemimpin ini memancarkan daya tarik amat besar.[19]
6.

Tipe kepemimpinan militeristis


Tipe ini sifatnya sok kemiliter-militeran. Hanya gaya luarnya saja yang mencontoh
gaya militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama,tipe ini mirip dengan tipe kepemimpinan
otoriter. Sifat-sifatnya antara lain:[20]
1. Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando terhadap bawahannya.
2. Menghendki kepatuhan mutlak dari bawahan.
3. Sangat menyenangi formalitas,upacara ritual dan tanda kebesaran yang berlebihan.
4. Tidak menghendaki saran,usul,sugesti dan kritikan-kritikan dari bawahan.
5. Komunikasi berlangsung searah.

C.

GAYA KEPEMIMPINAN TOKOH NASIONAL

1. SOEKARNO

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno,
lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya
bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai.[21]
Bung Karno adalah Sang Proklamator, seorang orator ulung yg bisa membangkitkan
semangat nasionalisme Rakyat Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yg sangat
populis, bertempramen meledak-ledak, tidak jarang lembut dan menyukai keindahan.
Gaya kepemimpinan yg diterapkan oleh Ir. Soekarno berorientasi pada moral dan
etika ideologi yang mendasari negara atau partai, sehingga sangat konsisten dan sangat
fanatik, cocok diterapkan pada era tersebut. Sifat kepemimpinan yg jg menonjol dan Ir.
Soekarno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif & inovatif serta
kaya akan ide dan gagasan baru. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, pernah menjadi
panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika
serta pergerakan melepas ketergantungan dari negara-negara barat (Amerika dan Eropa).
Ir. Soekarno adalah pemimpin yang kharismatik, memiliki semangat pantang
menyerah dan rela berkorban demi persatuan dan kesatuan serta kemerdekaan Bangsanya.
Soekarno termasuk sbg tokoh nasionalis dan anti-kolonialisme yg pertama, baik di
dlm negeri maupun untuk lingkup Asia, meliputi negeri-negeri seperti India, Cina, Vietnam,
dan lain-lainnya. Tokoh-tokoh nasionalis anti-kolonialisme seperti inilah pencipta Asia pascakolonial. Dalam perjuangannya, mereka harus memiliki visi kemasyarakatan dan visi tentang
negara merdeka. Ini khususnya ada dalam dasawarsa l920-an dan 1930-an pada masa
kolonialisme kelihatan kokoh secara alamiah dan legal di Dunia
2.

SOEHARTO
Jend. Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto, lahir di Dusun Kemusuk, Desa
Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921 dan meninggal di Jakarta,
27 Januari 2008 pada umur 86 tahun adalah Presiden Indonesia yang kedua (1967-1998). Di
dunia internasional, terutama di Dunia Barat, Soeharto sering dirujuk dengan sebutan populer
The Smiling General (bahasa Indonesia: Sang Jenderal yang Tersenyum) karena raut
mukanya yang selalu tersenyum di muka pers dalam setiap acara resmi kenegaraan.[22]
Dalam bidang politik, sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun,
Soeharto telah banyak memengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan
dari Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham
komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai
provinsi ke-27 juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin(Frente
Revolucinaria De Timor Leste Independente atau partai yang berhaluan sosialis-komunis)
akan berkuasa di sana bila dibiarkan merdeka.

Diawali dengan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966 kepada
Letnan Jenderal Soeharto, maka Era Orde Lama berakhir diganti dengan pemerintahan Era
Orde Baru. Pada awalnya sifat-sifat kepemimpinan yang baik dan menonjol dari Presiden
Soeharto adalah kesederhanaan, keberanian dan kemampuan dalam mengambil inisiatif dan
keputusan, tahan menderita dengan kualitas mental yang sanggup menghadapi bahaya serta
konsisten dengan segala keputusan yang ditetapkan.
Tahun-tahun pemerintahan Suharto diwarnai dengan praktik otoritarian di mana
tentara memiliki peran dominan di dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan
kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik di samping perannya sebagai
alat pertahanan negara. Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan
mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah
partai politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan politik. Sejumlah besar kursi
pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia diberikan kepada militer, dan semua tentara
serta pegawai negeri hanya dapat memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar.
Bila melihat dari penjelasan singkat di atas maka jelas sekali terlihat bahwa mantan
Presiden Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter, dominan, dan sentralistis.
Sebenarnya gaya kepemimpinan otoriter yang dimiliki oleh Almarhum merupakan suatu gaya
kepemimpinan yang tepat pada masa awal terpilihnya Soeharto sebagai Presiden Republik
Indonesia. Hal ini dikarenakan pada masa itu tingkat pergolakan dan situasi yang selalu tidak
menentu dan juga tingkat pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Namun, dirasa pada
awal tahun 1980-an dirasa cara memimpin Soeharto yang bersifat otoriter ini kurang tepat,
karena keadaan yang terjadi di Indonesia sudah banyak berubah. Masyarakat semakin cerdas
dan semakin paham tentang hakikat negara demokratis. Dengan sendirinya model
kepemimpinan Soeharto tertolak oleh kultur atau masyarakat. Untuk tetap mempertahkan
kekuasaannya Soeharto menggunakan cara-cara represif pada semua pihak yang
melawannya.
Pada masa Orde baru, gaya kepemimpinannya adalah Otoriter/militeristik. Seorang
pemimpinan yang otoriter akan menunjukan sikap yang menonjolkan keakuannya, antara
lain dengan ciri-ciri :
Kecendurangan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam
organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan maratabat
mereka.
Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa
mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Jadi dapat disimpulkan bahwasanya terdapat beberapa model atau gaya kepemimpinan,
diantaranya adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tipe kepemimpinan Otokratif


Tipe kepemimpinan bebas (laissez faire)
Tipe kepemimpinan demokratis
Tipe kepemimpinan paternalistik
Tipe kepemimpinan Kharismatik
Tipe kepemimpinan militeristis