Anda di halaman 1dari 2

11.

4 Motivasi Lain Melakukan Manajemen Laba


Selain untuk kontrak bonus, manajer mungkin terlibat dalam manajemen laba
karena beberapa motivasi berikut :
11.4.1 Untuk Memenuhi Harapan Investor
Harapan investor untuk mendapatkan pendapatan dapat dibentuk dengan berbagai
cara, seperti melakukan pengamatan terhadap pendapatan yang diperoleh tahun lalu.
Bartov, Givoly, dan Hayn (2002) dalam penelitiannya menunjukkan adanya return
saham abnormal yang jauh lebih besar untuk perusahaan yang melampaui estimasi
pendapatannya. Oleh karena itu, manajer memiliki alasan yang kuat untuk memastikan
bahwa harapan terhadap pendapatan tercapai, dan manajemen laba juga dilakukan
karena adanya motivasi untuk memenuhi harapan investor untuk mendapatkan
pendapatan.
11.4.2 Motivasi Kontrak Hutang
Motivasi lain munculnya manajemen laba adalah sebagai sarana untuk
mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran dalam kontrak hutang. Dalam
penelitian Sweeney (1994), dan DeFond dan Jiambalvo (1994), ditemukan penggunaan
manajemen laba untuk menangani kelalaian perusahaan atas kewajiban dalam kontrak
hutang, dan hasilnya menunjukkan terjadi peningkatan pendapatan yang dilaporkan
ketika mengimplementasikan manajemen laba. Manajemen laba menjadi bagian dari
strategi perusahaan untuk bertahan hidup.
Disamping itu, motivasi untuk melakukan manajemen laba juga berasal adanya
implicit contracts. Berbeda dengan kontrak hutang, kontrak ini terjadi karena adanya
hubungan yang berkelanjutan antara stakeholder (karyawan, pemasok, kreditur,
pelanggan) dan berdasar pada transaksi bisnis masa lalu. Bowen, DuCharme, dan
Shores (BDS)(1995) dalam penelitiannya menunjukkan reputasi kontrak implisit dapat
diperkuat dengan laporan laba yang tinggi yang dapat meningkatkan kepercayaan
stakeholder bahwa manajer tidak akan melalaikan kewajiban-kewajiban kontraknya.
Alasan inilah yang memotivasi untuk melakukan manajemen laba lainnya.
11.4.3 Initial Public Offerings (IPO)
Hughes (1986) menunjukkan hasil analisanya bahwa informasi seperti pendapatan
dapat bermanfaat dalam membantu memberi informasi mengenai nilai perusahaan
kepada investor. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Clarkson, Dontoh, Richardson
dan Sefcik (1992) yang menemukan bukti bahwa estimasi pendapatan sebagai tanda
nilai perusahaan. Sehingga hal tersebut dapat mendorong manajer perusahaan untuk
melakukan manajemen laba dengan harapan dapat meningkatkan nilai saham
perusahaan.
11.5 Sisi Baik Manajemen Laba
Manajemen laba dapat menjadi baik. Hal ini didukung oleh konsep block
communication yang dikemukakan oleh Demski dan Sappington (1987) (DS). DS

menunjukkan bahwa adanya komunikasi yang terhalang dapat mengurangi efisiensi


kontrak keagenan karena agen mungkin mengabaikan perolehan informasi dan
menggantikannya dengan mengambil tindakan yang, dari sudut pandang prinsipal
sifatnya sub-optimal. Unblocking informasi dari dalam yang dimiliki oleh manajer
dengan menggunakan accrual discretions yang tinggi untuk memperoleh hasil yang
diinginkan memiliki sedikit kredibilitas karena melibatkan laporan keuangan yang
dipersiapkan sesuai dengan GAAP dan yang tanggung jawab formal dipikul oleh
manajer.
Unsur akrual dapat terjadi berdasarkan kebijakan manajemen (discretionary
accruals) atau non-kebijakan manajemen (non discretionary accruals). Contoh
nondiscretionary accruals yaitu Peningkatan penjualan secara kredit seiring dengan
pertumbuhan perusahaan (tanpa perubahan kebijakan). Sedangkan contoh discretionary
accruals yaitu perubahan biaya kerugian piutang yang disebabkan oleh perubahan
kebijakan akuntansi yang dilakukan oleh manajemen dalam penentuan biaya kerugian
piutang. Dasar akrual ini mempunyai implikasi bahwa laba akuntansi antara lain
ditentukan oleh besaran akrual baik yang discretionary maupun non discretionary.
Manajemen laba untuk tujuan mendapatkan harga saham yang relatif tinggi pada
waktu penerbitan saham dapat dilakukan dengan menggunakan akrual yang menaikkan
laba. Hasil penelitian bahwa terdapat manajemen laba dalam statemen keuangan
perusahaan sebagai go public dengan menggunakan akrual yang menaikkan laba.
Selain itu manajemen laba dapat juga dilakukan dengan tujuan mendapatkan
keuntungan terkait dengan kepemilikan saham manajemen. Dalam program opsi saham
karyawan misalnya, harga pengambilan opsi biasanya ditentukan pada saat penawaran
program. Hal ini mendorong manajemen untuk melakukan manajemen laba sebelum
tanggal hibah opsi yaitu menurunkan laba agar supaya mempengaruhi harga saham dan
dengan demikian manajemen dapat menerima opsi pada waktu harga saham relatif.
Bart, Elliot, dan Finn (1999) melakukan penelitian dengan sampel yang terdiri
dari banyak perusahaan di Amerika Serikat selama tahun 19821992. Mereka
melaporkan bukti bahwa perusahaan yang memiliki pola-pola pendapatan yang
meningkat secara stabil selama lima tahun atau lebih menikmati kelipatan
pendapatan/saham yang lebih tinggi daripada perusahaan dalam tingkat variabilitas
pertumbuhan pendapatan yang sama namun tidak menunjukkan pola peningkatan yang
stabil.
Penelitian lain dilakukan oleh Callen dan Segal (2004) yang meneliti mengenai
respons pasar terhadap akrual. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa kenaikan
harga saham yang diharapkan di masa akan datang akan menurunkan laba saham saat
ini, sangat mirip dengan bagaimana kenaikan tingkat bunga diharapkan menurunkan
harga obligasi saat ini. Setelah mengetahui terjadinya dampak dalam sampel besar
perusahaan selama tahun 19622000, mereka melaporkan bahwa informasi akrual
maupun informasi aliran kas memiliki dampak positif terhadap laba saham saat ini
dengan bukti bahwa dampak akrual adalah yang lebih besar dari keduanya.