Anda di halaman 1dari 15

ALIRAN DALAM PIPA

Perpindahan Fluida (cairan atau gas) di dalam sebuah saluran tertutup (biasanya disebut sebuah pipa jika penampangnya bundar atau saluran duct jika bukan) sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya : air pada pipa-pipa di rumah kita dan system distribusi yang mengirimkan air dari sumur kota ke rumah-rumah. Banyak selang dan pipa-pipa menyalurkan fluida hidrolik atau fluida lainnya ke berbagai komponen kendaraan dan mesin. Kualitas udara di dalam gedung-gedung dijaga pada tingkat yang nyaman dengan distribusi udara yang terkondisi melalui suatu

jaringan pipa atau saluran duct yang rumit. Meskipun system-sistem ini berbeda, prinsip-prinsip mekanika fluidanya adalah sama. Tujuan dari bab ini adalah untuk memahami proses-proses dasar yang terlibat di dalam aliran-aliran sperti

itu.

The convervation of mass memiliki prinsip sebagai berikut.

The convervation of mass memiliki prinsip sebagai berikut. Dimana arti dari velocyti untuk incompressible flow in

Dimana arti dari velocyti untuk incompressible flow in a circular pipe dengan radius , maka dapat di artikan sebagai berikut:

pipe dengan radius , maka dapat di artikan sebagai berikut: A. Sifat-sifat umum aliran pipa. Kita

A. Sifat-sifat umum aliran pipa.

Kita akan membahas mekanisme dasar yang menggerakkan aliran. Untuk aliran kanal terbuka, hanya grafitasi yang menjadi gaya penggeraknya, seperti :

air mengalir menuruni sebuah lereng. Untuk aliran pipa, grafitasi mungkin memiliki arti penting (pipa tidak selalu horizontal), teteapi gaya penggerak yang utamanya adalah gradient tekanansepanjang pipa. Jika pipa tidak terisi penuh, tidaklah mungkin untuk menjaga perbedaan tekanan (P1-P2).

B. Aliran Laminar dan Turbulen

Aliran fluida di dalam sebuah pipa mungkin merupakan aliran Laminar atau aliran Turbulen.Osborne Reynolds (1842-1912), Jika air mengalir melalui sebuah pipa berdiameter D dengan kecepatan rata-rata , sifat-sifat berikut ini dapat diamati dengan mnginjeksikan zat pewarna yang mengambang.

1. Untuk “Laju aliran yang cukup kecil” guratan zat pewarna (sebuah garis gurat) akan terlihat berupa garis yang terlihat jelas selama mengalir,

1

dengan hanya sedikit saja menjadi kabur karena difusi molekuler dari zat

pewarna ke air di sekelilingnya.

2. Untuk “Laju aliran sedang” yang lebih besar, guratan zat pewarna berfluktuasi menurut waktu dan ruang, dan olakan putus-putus dengan

perilaku tak beraturan muncul di sepanjang guratan.

3. Untuk “Laju aliran yang cukup besar” guratan zat pewarna dengan

sangat segera menjadi kabur dan menyebar di seluruh pipa dengan pola

yang acak. Ketiga karakteristik ini yang masing-masing disebut aliran Laminar, Transisi, dan Turbulen.

Laminar Flow

disebut aliran Laminar, Transisi, dan Turbulen. Laminar Flow Turbulent Flow Reynolds Number (RE) Perpindahan atau

Turbulent Flow

Laminar, Transisi, dan Turbulen. Laminar Flow Turbulent Flow Reynolds Number (RE) Perpindahan atau transisi dari laminar

Reynolds Number (RE)

Perpindahan atau transisi dari laminar ke aliran turbulen bergantung pada bentuk geometri, kekasaran permukaan, aliran kecepatan, suhu permukaan, dan tipe fluida. Osborne Reynolds merumuskan rasio bilangan Reynolds :

Inertial forces

Vm.D

P.Vm.D

Re =

Re = = =

=

=

Viscous forces

V



Keterangan

:

Vm

: kecepatan aliran (m/s)

D

: diameter (m)

v

: m/s 2 )



2

Bilangan Reynolds kritis (Re or ) adalah bilangan Reynolds ketika aliran laminar sesaat akan menjadi aliran turbulen. Re or bernilai = 2300. Untuk aliran pada pipa non circular, bilangan Reynolds bergantung pada Hydraulic Diameter (Dh).

Dh =

4 Ac

P

Keterangan

:

Ac

: cross-sectional area

p

: perimeter

Berikut ini, rangkuman banyaknya bilangan Re untuk aliran Laminar, Transisi, dan Turbulen :

 

Re < 2300

aliran laminar

2300

Re ≤ 4000

aliran transisi

Re > 4000

aliran turbulen

Daerah Masuk dan Panjang Daerah Masuk

Setiap fluida yang mengalir dalam sebuah pipa harus memasuki pipa

pada suatu lokasi. Daerah aliran di dekat lokasi fluida memasuki pipa disebut sebagai daerah masuk (entrance region). Daerah tersebut sekitar

beberapa kali permulaan dari sebuah pipa yang dihubungkan pada sebuah

tangki atau bagian awal dari saluran duct udara panas yang berasal dari sebuah tangki.

Fluida biasanya memasuki pipa dengan profil kecepatan yang hampir

seragam pada bagian awal. Selagi fluida bergerak melewati pipa, efek viskos menyebabkannya tetap menempel pada dinding pipa (kondisi lapisan batas tanpa slip). Hal ini berlaku baik jika fluidanya adalah udara yang relative inviscial ataupun minyak yang sangat viskos. Jadi, sebuah lapisan batas (boundary layer) dimana efek viskos menjadi penting timbul di sepanjang dinding pipa sedemikian hingga profil kecepatan awal berubah menurut jarak (x) sepanjang pipa, sampai fluidanya mencapai ujung akhir dari panjang daerah masuk, dimana setelah diluar itu profil kecepatannya tidak berubah lagi menurut (x). Bentuk dari profil kecepatan di dalam pipa tergantung pada apakah aliran laminar atau turbulen, sebagaimana pula panjang daerah masuk ( le ). Seperti pada banyak sifat lainnya dari aliran pipa, panjang masuk tidak

3

berdimensi, le/D, berkorelasi cukup baik dengan bilangan Reynolds. Panjang masuk pada umumnya diberikan oleh hubungan :

le

= 0,05 ReD

le

D

= 4,4 (Re) 1/6

Untuk aliran laminar

Untuk aliran turbulen

Untuk aliran-aliran dengan (Re) yang sangat rendah, panjnag masuk

dapat sangat pendek ( le = 0,6 D jika Re = 10 ).

Untuk aliran-aliran dengan (Re) besar daerah masuk tersebut dapat

sepanjang berkali-kali diameter pipa sebelum ujung akhir dari daerah masuk

dicapai ( le = 120 D untuk Re = 2000 ).

Untuk banyak masalah teknis praktis 10 4 < Re < 10 5 sehingga 20 D < le

< 30 D.

2. Inclined Pipe

Relations for inclined pipes can be obtained in a similar manner from a force balance in the direction of flow. The only additional force in this case is the component of the fluid weight in the flow direction, whose magnitude is

the fluid weight in the flow direction, whose magnitude is where u is the angle between

where u is the angle between the horizontal and the flow direction (Fig. 1415). The force balance in Eq. 149 now becomes.

the angle between the horizontal and the flow direction (Fig. 14 – 15). The force balance

4

which results in the differential equation Following the same solution procedure, the velocity profile can

which results in the differential equation

which results in the differential equation Following the same solution procedure, the velocity profile can be

Following the same solution procedure, the velocity profile can be shown to be.

solution procedure, the velocity profile can be shown to be. Vavg =    

Vavg =

 

P- .9.L.sD

2

32.

.L

.

V

=

 

P-

.D

.9.L.s.

4

   

.L

128.

    P- .D .9.L.s.  4     .L 128.  0 ,

0 , maka menggunakan Rumus V avg

    P- .D .9.L.s.  4     .L 128.  0 ,

5

3. Declined Pipe = minus sin (-) = (-) maka, Rumus sama dengan indined pipe hanya saja tanda (-) diganti (+).

sama dengan indined pipe hanya saja tanda (-) diganti (+). ALIRAN LAMINAR DALAM PIPA. yang mana

ALIRAN LAMINAR DALAM PIPA.

hanya saja tanda (-) diganti (+). ALIRAN LAMINAR DALAM PIPA. yang mana bahwa indikasi buat fully

yang mana bahwa indikasi buat fully defeloped flow in a horizontal pipa, the viscos dan pressure balance antara lain mempunyai pembagi dari 2π dari dx dan rearranging.

lain mempunyai pembagi dari 2π dari dx dan rearranging. Du = dr = - du /
lain mempunyai pembagi dari 2π dari dx dan rearranging. Du = dr = - du /
lain mempunyai pembagi dari 2π dari dx dan rearranging. Du = dr = - du /
lain mempunyai pembagi dari 2π dari dx dan rearranging. Du = dr = - du /

Du = dr = - du / dy sejak y = R r Verifikasi untuk force balance element volume dari R dan thicknes dx .

force balance element volume dari R dan thicknes dx . Dimana τ w adalah constanta viscocity

Dimana τw adalah constanta viscocity dan velocity profile conteat dan dp/dx = constant.

viscocity dan velocity profile conteat dan dp/dx = constant. Dalam kondisi = 0 dimana r =

Dalam kondisi

dan velocity profile conteat dan dp/dx = constant. Dalam kondisi = 0 dimana r = 0

= 0 dimana r = 0 dan u = 0 r = R,

dan velocity profile conteat dan dp/dx = constant. Dalam kondisi = 0 dimana r = 0

Force balance:

6

Dari persamaan di atas maka di dapat: Combining the last two equations, the velocity profile

Dari persamaan di atas maka di dapat:

Dari persamaan di atas maka di dapat: Combining the last two equations, the velocity profile is

Combining the last two equations, the velocity profile is re-written as

last two equations, the velocity profile is re-written as The maximum velocity occurs at the centerline,

The maximum velocity occurs at the centerline,

re-written as The maximum velocity occurs at the centerline, PRESSURE DROPS AND HEAD LOSSES Laminar Flow

PRESSURE DROPS AND HEAD LOSSES

occurs at the centerline, PRESSURE DROPS AND HEAD LOSSES Laminar Flow = 1 – P 2

Laminar Flow =

1 – P 2 = 1 P 2 =

8.L.Vm

 
 

2

R

 
 

32.L.V

   

P = P 1 P 2 =

 

2

D

 
 

1.

Pipa Horizontal

 

a.

Pressure drops :

 

L

2

.L.Vm

  L 2  .L.Vm   8.Tw  
 

8.Tw

 

P = f .

D

.

2

D

 

f =

2

.V m

Darcy Weisbach Friction Factors

f = 2 .V m  Darcy – Weisbach Friction Factors b. Head Loss   hL

b.

Head Loss

 

hL =

P

L

.9 f.

2

L Vm

2

.L.Vm

.

D 2

2

D

7

c. Daya Pompa  W pump Loss = = m. V. V.  P 

c. Daya Pompa

W pump Loss =

= m. V. V. P .g.h g.h

L

L

 

L

=

Horisontal pipa.

Keterangan :

V

= debit

Vavg =

2

(P1-P2).R (P-P)D

1

2

P.D 2

8.L

32.

.L = 32 . L

 

V = Vavg . Ac =

=

8.L

128.L

2

(P1-P2).R

.

.R

2

 2 (P1-P2).R  . .R 2
 2 (P1-P2).R  . .R 2
 2 (P1-P2).R  . .R 2

Untuk stedy incompressible one-dimensional flow in term on heads.

4

(P1-P2) D

4 (P1-P2) D 
one-dimensional flow in term on heads. 4 (P1-P2) D  For circular TURBULENT FLOW IN PIPE.

For circular

flow in term on heads. 4 (P1-P2) D  For circular TURBULENT FLOW IN PIPE. Berdasarkan
flow in term on heads. 4 (P1-P2) D  For circular TURBULENT FLOW IN PIPE. Berdasarkan

TURBULENT FLOW IN PIPE.

Berdasarkan observasi yang di lakukan bahwa:

Mean value dan fluctuacting component

8

Jadi

Jadi Then the total shear stress in turbulent flow can be expressed as. Turbulen shear stress:
Jadi Then the total shear stress in turbulent flow can be expressed as. Turbulen shear stress:

Then the total shear stress in turbulent flow can be expressed as.

total shear stress in turbulent flow can be expressed as. Turbulen shear stress: Turbulent shear stress

Turbulen shear stress:

turbulent flow can be expressed as. Turbulen shear stress: Turbulent shear stress is expressed in an

Turbulent shear stress is expressed in an analogous manner as suggested by the French scientist J. Boussinesq in 1877 as

suggested by the French scientist J. Boussinesq in 1877 as Then the total shear stress can

Then the total shear stress can be expressed conveniently as.

the total shear stress can be expressed conveniently as. Jadi tegangan geser turbulen adalah : 

Jadi tegangan geser turbulen adalah :

turb =

as. Jadi tegangan geser turbulen adalah :  turb = TURBULENT VELOCITY PROFILE. Di dalam sublapisan

TURBULENT VELOCITY PROFILE.

Di

dalam sublapisan viskovis profil kecepatan dalam dituliskan dalam bentuk

tak

berdimensi sebagai

=
=

d

dituliskan dalam bentuk tak berdimensi sebagai = d dimana y = R-r adalah jarak yang diukur

dimana y = R-r adalah jarak yang diukur dari dinding, adalah rata-rata

menurut waktu komponen x kecepatan, dan = (t/P ) 1/2 disebut sebagai

kecepatan gesekan (friction velocity). Perhatikan bahwa u bukanlah kecepatan

sesungguhnya dari fluida besaran ini hanyalah semata-mata besaran yang

memiliki dimensi kecepatan.

9

Tiknes of viscous sublayer:

Tiknes of viscous sublayer: Normalized variable: Then the of the wall simply becomes, normalized law of

Normalized variable:

Tiknes of viscous sublayer: Normalized variable: Then the of the wall simply becomes, normalized law of

Then the of the wall simply becomes, normalized law of the wall:

the of the wall simply becomes, normalized law of the wall: The logarithmic law: Oerlap layer:

The logarithmic law:

becomes, normalized law of the wall: The logarithmic law: Oerlap layer: Outer turbulent layer: Di mana

Oerlap layer:

law of the wall: The logarithmic law: Oerlap layer: Outer turbulent layer: Di mana konstanta 2,5

Outer turbulent layer:

The logarithmic law: Oerlap layer: Outer turbulent layer: Di mana konstanta 2,5 dan 5,0 ditentukan melalui

Di mana konstanta 2,5 dan 5,0 ditentukan melalui eksperimen. profil kecepatan hukum pangkat (power-law velocity profile) empiris :

=
=

Dalam persamaan ini, nilai n adalah fungsi dari bilangan Reynolds Profil kecepatan hukum pangkat sepertujuh (n = 7)

The Moody Chart. Untuk aliran laminar, tegangan geser tidak tergantung pada kerapatan, sehingga hanya viskositas, yang menjadi sifat fluida yang penting.

10

Jadi, penurunan tekanan p untuk aliran turbulen lunak, tak mampu mampat

di dalam pipa bundar horizontal berdiameter D dapat ditulis dalam bentuk

fungsional sebagai

p=F(V,D,l,,,)

Di mana V adalah kecepatan rata-rata. l panjang pipa, dan adalah suatu

ukuran kekasaran dinding pipa. Jelas bahwa p harus merupakan sebuah fungsi

dari V, D, dan l. Ketergantungan dari P pada sifat fluida, dan diperkirakan karena ketergantungan dari T terhadap parameter-parameter ini. Persamaan berikut dari Colebrook berlaku untuk seluruh kisaran non laminar dalam diagram Moody

Collerbrook equation:

non laminar dalam diagram Moody Collerbrook equation: TYPE OF FLUID FLOW PROBLEMS. Cirri-cirinya: 1. Determining

TYPE OF FLUID FLOW PROBLEMS. Cirri-cirinya:

1. Determining the pressure drop (or head loss) when the pipe length and

diameter are given for a specified flow rate (or velocity).

2. Determining the flow rate when the pipe length and diameter are given

for a specified pressure drop (or head loss).

3. Determining the pipe diameter when the pipe length and flow rate are

given for a specified pressure drop (or head loss).

pipe diameter when the pipe length and flow rate are given for a specified pressure drop

MINOR LOSSES.

11

Metode

yang

paling

umum

digunakan

untuk

menentukan kerugian--

kerugian head atau penurunan tekanan adalah dengan koefisien kerugian, K L , yang didefinisikan sebagai

K L =

Sehingga minor loss:

h L

p

2

/2

1

p V

2

g

2

V

minor loss: h L  p 2 /2 1 p V 2   g 

Penurunan tekanan melalui sebuah komponen yang mempunyai sebuah koefisien kerugiaa K L = 1 besarnya sama dengan tekanan dinamik, pV 2 /2. Nilai K, yang aktual sangat tergantung pada geometri dari komponen tersebut. Nilai tersebut mungkin juga tergantung pada sifat-sifat fluida. Sehingga

K L =

juga tergantung pada sifat-sifat fluida. Sehingga K L = (geometri, Re) di mana Re = pVD

(geometri, Re)

di mana Re = pVD/µ adalah bilangan Reynolds pipa.

Kerugian minor kadang-kadang dinyatakan dalam panjang ekivalen, l eq . Dalam terminologi ini, kerugian head melalui sebuah koi iponen diberikan dalam panjang ekivalen dari sebuah pipa yang akan menghasilkan kerugian head yang sama dengan komponen tersebut. Artinya,

h L = K L

2

V

2

g

2

f V 2

eq

D g

Artinya, h L = K L 2 V 2 g 2  f  V 2

L equiv = D/f . K L

di mana D dan f berdasarkan pada pipa di mana komponen torsebut terpasang.

Total head loss ( general )

pada pipa di mana komponen torsebut terpasang.  Total head loss ( general )  Total

Total head loss ( D = constan )

12

 Sudden expansion. Dimana: A s m a l l dan A l a r

Sudden expansion.

 Sudden expansion. Dimana: A s m a l l dan A l a r g

Dimana:

A small dan A large selalu the cross-section dengan area pipa dimana kecil dan besarnya pipa. Dengan catatan KL = O, dimana ini bukan area pertukaran ( Asmal = A large). Dan Kl = 1 , dimana pipa di tukarkan dengan reservoir. ( Alarge >> A small)

Dan Kl = 1 , dimana pipa di tukarkan dengan reservoir. ( Alarge >> A small)

Piping Network And Pump Selection.

13

 For a system of two parallel pipes.  Dimana the ratio of the mean
 For a system of two parallel pipes.  Dimana the ratio of the mean

For a system of two parallel pipes.

 For a system of two parallel pipes.  Dimana the ratio of the mean velocities

Dimana the ratio of the mean velocities Dan the flow rate di dua pipa parallel, sebelum kembali.

parallel pipes.  Dimana the ratio of the mean velocities Dan the flow rate di dua

14

ENERGY EQUATION REVISITED. When a piping system involves a pump and/or turbine, the steady-flow energy

ENERGY EQUATION REVISITED. When a piping system involves a pump and/or turbine, the steady-flow energy equation on a unit mass basis can be expressed as

energy equation on a unit mass basis can be expressed as It can also be expressed

It can also be expressed in terms of heads as

expressed as It can also be expressed in terms of heads as where h pump =

where hpump = u_wpump, u /g is the useful pump head delivered to the fluid, hturbine, e = wturbine , e /g is the turbine head extracted from the fluid,, and hL is the total head loss in piping.

e = w turbine , e / g is the turbine head extracted from the fluid,,
e = w turbine , e / g is the turbine head extracted from the fluid,,

15