Anda di halaman 1dari 16

DIRECTIONAL DRILLING

DIRECTIONAL DRILLING PENGEBORAN BERARAH


Pemboran berarah (directional drilling) adalah metode pemboran yang mengarahkan
lubang bor menurut suatu lintasan tertentu ke sebuah titik target yang terletak tidak vertikal di
bawah mulut sumur. Untuk menemukan jebakan hidrokarbon sebenarnya selalu diinginkan
lubang yang vertikal..
directional drilling didefinisikan sebagai praktek mengendalikan arah dan deviasi dari
sumur bor untuk target bawah tanah yang telah ditentukan atau lokasi. Bagian ini
menjelaskan mengapa directional drilling diperlukan, semacam jalur baik yang digunakan,
dan alat-alat dan metode yang digunakan untuk mengebor sumur tersebut.
ALASAN-ALASAN PENGGUNAAN DIRECTIONAL DRILLING
1. Reservoir berada di bawah perkotaan, lalu lintas yang ramai, tempat-tempat bersejarah
ataupun lahan perkebunan (pertanian). Kalau dilakukan pemboran vertikal di perkotaan,
perumahan serta tempat-tempat bersejarah adalah sulit karena harus dilakukan pembongkaran
untuk membuat lokasi pemboran. Karena itu lokasi dibuat pada tempat-tempat yang
memungkinkan kemudian pemboran diarahkan ke Reservoirnya seperti yang terlihat pada
Gambar. 5. Begitu juga untuk daerah pertanian (perkebunan) yang subur , bila Reservoir luas
sering digunakan sistem cluster (berkelompok). Dengan system ini akan menghemat
pemakaian tanah untuk lokasi pemboran.
2. Reservoir hidrokarbon berada di bawah perairan yang dekat dengan daratan
Daripada membuat suatu platform atau pemboran dengan tongkang maka mendirikan menara
di daratan dan pemboran diarahkan ke Reservoirnya yang berada di bawah danau adalah
pertimbangan yang sangat baik dari segi teknis .
3.

Reservoir berada di bawah kubah garam

Bila Reservoir berada di bawah kubah garam, jangan dibuat sumur vertikal menembus kubah
garam tersebut, karena dapat menimbulkan permasalahan selama pemboran maupun pada
saat sedang produksi. Masalah yang akan timbul selama pemboran adalah terjadinya
kehilangan lumpur (lost circulation) akibat dari kubah garam yang memiliki porositas yang
besar sehingga lumpur bor cenderung untuk masuk ke dalam kubah garam tersebut, bila

terjadi lost circulation maka akan menimbulkan kick yang akan berujung pada terjadinya
semburan liar (blow out). Selain itu, selama pemboran kubah garam akan menyebabkan
runtuhnya dinding sumur karena sifat fisik kubah garam yang tidak kompak (massive)
sehingga nantinya akan menyebabkan pipa pemboran terjepit. Kubah garam juga
menyebabkan tersumbatnya lubang perforasi pada casing produksi.
4. Reservoir berada di bawah patahan
Reservoir hidrokarbon yang berada di bawah patahan jangan digunakan vertical drilling yang
menembus patahan. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan pemboran yakni terjadi lost
circulation pada saat menembus patahan tersebut. Walaupun disaat pemboran permasalahan
tersebut dapat diatasi namun kemudian akan timbul permasalahan lagi dimana lubang akan
terpotong oleh patahan.
5. Reservoir berada di bawah laut lepas pantai
Bila semua sumur dibuat vertikal di lepas pantai maka haruslah dibuat platform untuk satu
sumur. Untuk pelaksanaan ini sangat mahal biayanya. Jadi untuk menghemat biaya dibuatlah
satu sumur vertikal dan lainnya dibuat berarah menuju Reservoir yang telah ditentukan untuk
satu platform. Sistem ini disebut offshore cluster system.
OFFSHORE DRILLING
6. Relief well
Bila suatu sumur mengalami blow out dan terbakar, maka dibuat satu atau dua sumur berarah
menuju formasi yang menyebabkan terjadinya blow out tersebut, dimana melalui sumur yang
dibuat tadi dipompakan fluida untuk mematikan sumur yang terbakar. Sumur ini disebut
relief well.
RELIEF WELL
7. Side Wall Tracking
Pada suatu pemboran sumur, terkadang ada barang-barang yang jatuh, pipa terjepit atau putus
yang tidak dapat diangkat ke permukaan. Maka pada umumnya lubang yang sudah dibor
tersebut disemen, kemudian lubang sumur dibelokkan dan diarahkan kembali menuju
Reservoir yang akan ditembus.
Horizontal Directional Drilling

Didalam melakukan pengeboran suatu formasi, selalu diharapkan pengeboran dengan


lubang yang lurus/vertikal, karena pengeboran dengan lubang yang lurus/vertikal selain
dalam operasinya lebih mudah, juga pada umumnya biayanya menjadi lebih murah. Namun
karena kondisi-kondisi tertentu, pengeboran lurus/vertikal tidak bisa dilakukan oleh
karenanya perlu dilakukan pengeboran yang bisa diarahkan sesuai kondisi-kondisi tersebut.
Pengeboran yang dilakukan dengan cara mengarahkan lubang biasa disebut dengan
pengeboran berarah atau pengeboran horisontal (Directional and Horizontal Drilling).
Beberapa faktor-faktor penyebab dilakukannya pengeboran berarah atau horizontal
(Directional and Horizontal Drilling) adalah geografi, geologi dan pertimbangan ekonomi. Di
bawah ini beberapa contoh alasan dilakukannya pengeboran berarah atau horizontal
(Directional and Horizontal Drilling).
Inaccesible Location Drilling
Beberapa reservoir dengan kondisi di permukaan yang tidak memungkinkan untuk
dilakukan pengeboran lurus/vertical akan sangat cocok untuk dilakukan pengeboran berarah
atau horizontal (Directional and Horizontal Drilling). Teknik ini adalah salah satu dari teknik
pengeboran berarah yang paling umum dilakukan untuk mencapai lapisan yang tidak dapat
dicapai dengan cara yang biasa, sebagai contoh reservoir yang terletak di bawah kota, di
bawah lahan pertanian/perkebunan, dll. Gambar dibawah memperlihatkan formasi yang
berada

di

bawah

perkotaan

sehingga

dilakukan

pengeboran

berarah

atau

horizontal (Directional and Horizontal Drilling).


Multiple Well DrillingBila suatu lokasi pengeboran memiliki keterbatasan area pada
permukaan sehingga tidak mungkin dilakukan pengeboran banyak sumur dengan letak yang
berbeda. Hal ini bisa diatasi dengan melakukan pengeboran multiple well. Yakni mengebor
pada satu lokasi dengan banyak sumur yang dibuat, untuk itu dilakukanlah pengeboran
berarah atau horizontal (Directional and Horizontal Drilling).
Multiple well drilling ini sering dilakukan pada pengeboran lepas pantai dari suatu platform
tunggal atau dari suatu tempat yang terpencil. Gambar dibawah memperlihatkan suatu
platform yang melakukan Multiple well drilling.
Salt Dome DrillingPada daerah yang didapati kubah garam (salt dome)yang letaknya
berada di atas reservoir minyak, pengeboran lurus/vertical tidak mungkin dilakukan. Karena
bila pengeboran menembus kubah garam(salt dome) akan mengakibatkan masalah yang

serius terutama akan terjadinya blow out sehingga perlu dilakukan pengeboran berarah atau
horizontal (Directional

and

Horizontal

Drilling) yangakan

mengarah

langsung

ke reservoir minyak. Gambar dibawah memperlihatkan reservoir yang berada di bawah kubah
garam (salt dome).
SIDE TRACKING ATAU STRAIGHTENING
Kadangkala dalam melakukan operasi pengeboran lurus/vertikal terjadi pembelokan yang
sangat parah sehingga menjauh dari target, sehingga perlu untuk meluruskan kembali lubang
sumur tersebut.
Untuk itu dilakukan side tracking dengan melakukan pengeburan berarah. Atau pada kejadian
dimana fish yang tidak dapat diangkat dan terkubur dilubang bor, pengeboran harus
menghindari fish tersebut agar peralatan pengeboran tidak rusak maka dilakukan side
tracking.
Relief Well DrillingPada kejadian sumur yang blow out, salah satu cara untuk
menanggulanginya adalah dengan mengebor atau membuat relief well. Relief well
merupakan sumur yang dibuat di dekat sumur yang blow out dengan tujuan untuk
mengalirkan fluida yang mengakibatkan blow out sehingga dapat dikendalikan. Biasanya
relief well dilakukan dengan pengeboran berarah atau horizontal (Directional and Horizontal
Drilling).
Pemboran berarah dapat dikerjakan dengan peralatan membor konvensional, dimana pipa
bor diputar dari permukaan untuk memutar mata bor di bawah. Kelemahannya, sudut yang
dapat dibentuk sangat terbatas. Pemboran berarah sekarang lebih umum dilakukan dengan
memakai motor berpenggerak lumpur (mud motor) yang akan memutar mata bor dan
dipasang di ujung pipa pemboran.
Seluruh pipa pemboran dari permukaan tidak perlu diputar, pipa pemboran lebih dapat
dilengkungkan sehingga lubang sumur dapat lebih fleksibel untuk diarahkan.

Apa itu Enhanced Oil Recovery ?


Secara definisi, Norman J. Hyne ( 1991 ) dalam Dictionary of Petroleum Exploration,
Drilling & Production mengatakan bahwa EOR adalah metode untuk memperoleh lebih
banyak minyak setelah menurunnya proses produksi primer ( secara alami ) menggunakan
energi alami yang berasal dari reservoir itu sendiri.
Pendapat sedikit berbeda datang dari Larry W.Lake, Profesor dari Departemen
Perminyakan dan Geosistem University of Texas di Austin dalam buku Enhanced Oil
Recovery (1989) menyatakan bahwa EOR adalah perolehan minyak dengan cara
menginjeksikan bahan-bahan yang berasal dari luar reservoir
Di Indonesia, EOR sudah diterapkan oleh Chevron Pacific Indonesia di Lapangan
Minas sejak akhir 2012. Diperkirakan dengan EOR ada tambahan produksi minyak hingga
100 ribu barel per hari (bph) pada 2022.

Selain

itu

Chevron

melakukan

pengembangan minyak di Duri Utara Area 13 atau NDD-13 dengan EOR yang mampu
menambah produksi hingga 17 ribu bph. Menyusul keberhasilan Duri Utara Area 12 yang
telah selesai pada 2009 dan mampu menambah produksi hingga 40 ribu bph dengan EOR
yang sama.

Dengan pendekatan teknologi dan investasi, Chevron bisa

memperpanjang usia Lapangan Duri dan mampu meningkatkan jumlah produksi minyak
yang dihasilkan. Bahkan, Lapangan Duri menjadi salah satu lapangan minyak dengan injeksi
uap terbesar di dunia yang telah mampu menghasilkan dua miliar barel minyak sejak
teknologi itu diterapkan.
Metode-metode dalam EOR
1. Injeksi Tercampur
2. Injeksi Kimia
3. Injeksi Thermal
4. Injeksi Mikroba

1. Injeksi tercampur

Injeksi tercampur didefinisikan sebagai pendesakan suatu fluida terhadap minyak


sehingga hasil campuran ini dapat keluar dari pori-pori dengan mudah sebagai satu fluida .
Yang termasuk ke injeksi tercampur adalah

Vaporizing gas drive

Enriched gas drive

Injeksi dinding fluida yang dapat bercampur dengan minyak

Injeksi dinding alkohol

Injeksi gas CO2 , dan gas-gas lain yang tidak dapat bereaksi

2. Injeksi Kimia
Injeksi kimia adalah metode dengan menambahkan zat-zat kimia ke dalam air injeksi
untuk menaikkan perolehan minyak sehingga akan menaikkan efisiensi penyapuan dan atau
menurunkan saturasi minyak sisa yang tertinggal di dalam reservoir .
Injeksi kimia dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

Injeksi Alkalin

Injeksi Polimer

Injeksi Surfactan

3. Injeksi Thermal
Injeksi thermal adalah salah satu metode EOR dengan cara menginjeksikan energi panas
kedalam reservoir untuk mengurangi viskositas minyak yang tinggi sehingga minyak akan
lebih mudah mengalir .
4. Injeksi Mikroba
Injeksi mikroba adalah metode dengan cara menginjeksikan mikroba ke dalam reservoir
untuk meningkatkan perolehan minyak . Bakteri yang ada dalam reservoir kemungkinan
berasal dari sisa-sisa populasi bakteri yang ada pada saat pembentukan minyak bumi .

FRACTURING PADA TEKNOLOGI MIGAS


Teknik hydraulic fracturing bukanlah teknik pengeboran, namun teknik ini digunakan untuk
menstimulasi sumur-sumur yang sudah di bor agar mampu mengekstraksi lebih banyak
hidrokarbon dari lempeng batuan.
Menyebutkan istilah hydrolic pada namanya memberikan persepsi bahwa teknik ini
melibatkan fluida bertekanan. Ya! Memang menggunakan fluida bertekanan. Lalu seperti apa
proses-prosesnya? Apa dampaknya bagi lingkungan?
Hydraulic fracturing atau mungkin banyak yang menyebutnya dengan istilah lain seperti
hydrofracturing, hydrofracking, fracking atau fraccing adalah teknik stimulasi sumur yang
mana lapisan batuan di bawah diretakkan dengan fluida cair bertekanan tinggi. Proses ini
melibatkan injeksi "larutan peretak bertekanan tinggi dan umumnya menggunakan air yang
mengandung pasir ke dalam sumur untuk membuat patahan/retakan di formasi batuan dalam
yang akan membuat minyak atau gas dapat mengalir lebih bebas melalui retakan tersebut.
SEJARAH
Fracturing metode stimulasi sumur (minyak atau air tanah) yang sudah dikenal sejak tahun
1860-an di Amerika Serikat, sekalipun dengan bahan, metode, dan kegunaan yang berbeda.
Dinamit atau peledakan nitroglycerin telah digunakan untuk meningkatkan produksi minya
dan gas bumi. Pada 25 April 1865, veteran Perang Sipil, Col. Edward A. L. Roberts
menerima hak paten untuk metode yang dikenal sebagai "Exploding Torpedo". Metode ini
telah diaplikasikan di Pennsylvania, New York, Kentucky, and West Virgina menggunakan
liquid, yang akhirnya juga menggunakan nitroglycerin padat.
Stimulasi sumur dengan larutan asam, sebagai pengganti explosive liquid, mulai
diperkenalkan pada tahun 1930-an. Dengan paparan asam, celah pada fracture atau retakan
tidak akan tersumbat/tertutup seluruhnya yang hasil akhirnya adalah peningkatan produksi
gas yang signifikan.
Hubungan antara performa produktifitas sumur dan aplikasi tekanan pertama kali dikaji
Floyd Farris dari Stanolind Oil and Gas Corporation. Kajian yang dilakukan oleh Floyd
adalah dasar dari percobaan pertama hydraluic fracturing, yang dilakukan di lapangan gas

Hugoton, daerah Grant County, barat daya Kansas, oleh Stanolind. Eksperimen ini berakhir
dengan tidak sukses karena kemampuan sumur setelah diberi treatment tetap stagnan.
Metode yang telah dimutakhirkan dicetuskan oleh J.B. Clark dari Stanolind dalam
makalahnya yang diterbitkan pada tahun 1948. Hak paten untuk proses ini diterbitkan pada
tahun 1949 dan secara eksklusif dimiliki oleh Halliburton Oil Well Cementing Company.
Pada tanggal 17 Maret 1949, Halliburton secara perdana melakukan dua hydraulic fracturing
treatment di Stephens County, Oklahoma dan Archer County, Texas. Sejak saat itu, hydraulic
fracturing telah digunakan untuk menstimulasi hampir 1 juta sumur minyak dan gas bumi di
berbagai kondisi geologi.
Di Uni Soviet, hydraulic fracturing pertama kali dilakukan pada 1952. Negara-negara lain
di Eropa dan Afrika Utara yang kemudian menerapkan teknik ini antara lain Norwegia,
Polandia, Republik Ceko, Yugoslavia, Hungaria, Austria, Perancis, Italia, Bulgaria, Rumania,
Turki, Tunisia, dan Aljazair.
Metode hydraulic fracturing diterapkan dalam ekstraksi shale gas sejak tahun 1965 yang
saat itu dikerjakan di lapangan gas Big Sandy, Kentucky dan di barat daya Virginia . Pada
tahun 1976, pemerintah Amerika Serikat memulai proyek Eastern Gas Shale yang melibatkan
banyak proyek demonstrasi hydraulic fracturing oleh pihak pemerintah dan industri migas.
Pada tahun 1997, dengan menerapkan teknik slickwater fracturing di sebelah timur Texas
oleh Union Pacific Resources (sekarang menjadi bagian dari Anadarko Petroleum
Corporation) dan Mitchell Energy (sekarang menjadi bagian Devon Energy) mengaplikasikan
teknik di di Barnett Shale, Texas Utara. Dan, pada akhirnya teknik ini sangat ekonomis ketika
diterapkan di Barnett Shale yang kemudian diterapkan pada banyak sumur shale yang lain.
George P. Mitchell telah menyandang julukan sebagai "father of fracking" karena perannya
dalam ekstraksi sumur Barnett. Sumur horizontal pertama yang digali di Barnett sebenarnya
sudah ada sejak tahun 1991, namun sebelum hydraulic fracturing diterapkan di sumur ini,
produksinya sangat tidak ekonomis. Tahun 2013, hydraulic fracturing secara massal
diterapkan dalam skala yang ekonomis di Amerika, Canada, dan China.
METODE
Secara umum, hydraulic fracturing diterapkan pada sumur-sumur horizontal yang sudah
digali. Artinya, teknik ini bukan teknik pengeboran. Tetapi, lebih ke teknik bagaimana

meretakkan dinding-dinding batuan di dalam sumur yang sudah digali, dan mengekstraksi gas
bumi yang terperangkap dalam lapisan batuan tersebut.
Kita mulai setelah sumur selesai digali secara horizontal. Setelah proses pengeboran sampai
di lempeng-lempeng yang diduga mengandung gas, mata bor akan ditarik keluar dari lubang
sumur. lapisan batuan yang ditembus mata bor
Proses berikutnya adalah memasukkan pipa yang sering disebut casing pipe ke dalam
lubang sumur tersebut dan dilakukan cementing. Cementing dilakukan untuk melindungi
lubang sumur. Gambar di bawah adalah penampakan lubang sumur setelah pipa casing dan
semen dimasukkan.

Lubang sumur yang di comenting

Langkah berikutnya adalah memasukkan perforating tool ke dalam lubang sumur. Apa
itu perforating tool? Perforating tool adalah alat untuk membuat lubang yang menembus (dari
kata dasar perforate) lapisan casing dan semen. Alat tersebut dilengkapi dengan nozzle jet dan
bahan eksplosif untuk membuat retakan.
Hasil proses perforating
setelah proses ini selesai perforating tool ditarik keluar sumur,air bertekanan dan berisi pasir
bahan kimia lain diinjeksikan ke dalam lubang sumur dan meresap ke bawah retakan air dan
bahan pengisia meresap ke retakan
Air akan ditarik keluar dari fraktur, tetapi pasir atau bahan pengisi yang lain akan tetap
tinggal di dalam fraktur. Pasir dan bahan pengisi ini menjaga celah fraktur tetap terbuka
sehingga gas akan bergerak keluar dari fraktur menuju lubang sumur dan keluar ke
permukaan. Air ditarik keluar dan pasir mencegah celah tertutup
bila satu retakan sudah berhasil menarik gas keluar menuju lubang sumur, maka sebuah plug
akan dimasukkan ke dalam sumur untuk menahan keluarnya gas dan proses perforating dan
injection akan diulangi untuk membuat retakan-retakan yang lain.
Breechplug didalam untuk menahan aliran gas dan rekana dibuat kembai seperti poses
pertama Secara garis besar itulah proses dari hydraulic fracturing yang digunakan untuk
mengekstraksi shale gas. Teknik ekstraksi baru yang terbukti sangat ekonomis untuk
mendorong produksi gas alam.
Fracking

sebagai

Ancaman

Keberlangsungan

Air

bagi

Masyarakat

Fracking dianggap berpotensi menyebabkan polusi dan kelangkaan atas air bagi warga sekitar

penambangan. Berbagai kasus dari Negara-negara dan telah diangkat ke berbagai media,
termasuk film, memperlihatkan betapa berbahayanya penggunaan fracking, terhadap
keberlangsungan air warga.
Seperti diketahui, proses fracking memerlukan air dalam jumlah yang besar. Jutaan gallon air
diperlukan untuk dipompakan bersama material lain seperti pasir, dan campuran bahan kimia,
mulai dari garam dan asam sitrat hingga racun dan zat karsinogenik, termasuk benzena,
formaldehida, dan timah. Semua material itu dipompakan dengan tekanan sampai 15.000 pon
per inci persegi melalui sumur yang dibor horizontal ke formasi shale rock mulai dari
kedalaman 1500 meter hingga 10.000 meter di bawah permukaan tanah. Proses ini tentu
berpotensi mengakibatkan daerah sekitar penambangan akan kekurangan air.
Berdasar dari pengalaman di Amerika, Dewan Perlindungan Air Tanah di sana menyatakan
bahwa setiap penambangan menggunakan fracking membutuhkan 2 juta hingga 4 juta galon
air. Bahkan Badan Perlindungan Lingkungan Hidup di Amerika memperkirakan, setiap tahun,
antara 70 milliar hingga 140 milliar galon air telah digunakan untuk kegiatan tersebut. Hal ini
sama dengan menghabiskan air bagi 40 hingga 80 kota dengan populasi sekitar 50,000.
Selain itu, cairan limbah fracking terdiri lebih dari 596 bahan kimia yang dikenali juga tidak
dapat dikenali karena persenyawaan antara bahan kimia tersebut. Limbah tersebut dengan
demikian memerlukan perlakuan khusus tertentu sebelum dibuang atau digunakan kembali.
Sebab jika tidak ditangani terlebih dahulu, maka akan dapat mengakibatkan pencemaran air
permukaan maupun air tanah. Pencemaran air permukaan terjadi akibat adanya kontaminasi
sumber mata air dan mampu membunuh ekosistem yang hidup di sana. Sedangkan apabila
kontaminasi meresap hingga ke air tanah, maka air tanah akan ikut tercemar.

WHAT IS HORIZONTAL DRILLING


Pengeboran horizontal adalah proses kemudi bor Untuk mengikuti jalan horizontal sekitar
90 Dari vertikal yang berorientasi melalui batuan reservoir. Kepentingan Dalam pengeboran
sumur horizontal dapat dikaitkan dengan alasan utama Berikut:
o Peningkatan dalam produksi primer.
o Peningkatan dalam produksi sekunder.
o Peningkatan dalam pemulihan akhir dari hidrokarbon di tempat.
o Penurunan yang signifikan dalam pembuatan sumur di lapangan.
o Peningkatan yang signifikan dalam produksi
Long radius
Mempunyai Build-rate 2 sampai 6 / 100 feet(30m) dan Build Radiusnya 1000ft3000ft. Panjang bagian horizontalnya dapat mencapai 1000ft-5000ft.
Medium Radius:
Mempunyai Build-rate 6 sampai 60 /100 feet(30m) dan jari kelengkungan antara
125 700 feet, dengan panjang horizontal section mencapai 3000 feet (915m)
Short Radius:
Tingkat pembentukan Build-rate antara 1,5 hingga 3 /feet, mempunyai jari jari
kelengkungan antara 20ft-40ft, dengan panjang horizontal section mencapai <800 feet
Ultrashort Radius:
Radius putar yang 1 sampai 2 ft, membangun Angle adalah 45 sampai 60 / ft di
teknik ini, drainholes 100 sampai 200 ft panjang yang dibor menggunakan jet air,
Drainholes dibor melalui panjang 7 sampai 10 kaki. The Drainhole diameter pipa
bervariasi dari 1 sampai 2 inci. tergantung pada sistem pengeboran digunakan.
1. OPEN HOLE : Penyelesaian Open-Hole (lubang terbuka) mudah dilakukan. Tapi
terbatas pada formasi batuan yang kompeten. Selain itu, sulit untuk menstimulir

sumur lubang terbuka (open hole dan mengendalikannya ,baik antara injeksi atau
produksi Sepanjang sumur.
2. Slotted liner completion :Tujuan utama dari Memasukkan slotted liner dalam sumur
horizontal adalah untuk menjaga runtuhnya lubang. Selain itu, liner yang
menyediakan jalur yang sesuai untuk memasukkan berbagai alat seperti Tubing
melingkar di sumur horizontal.
3.Liner With Partial Isolation :Terakhir eksternal Casing Packers (ECP) telah
dipasang di luar slotted liner untuk membagi lubang sumur horizontal ke beberapa
bagian kecil (seperti yang ditunjukkan pada gambar). Metode ini menyediakan isolasi
zona terbatas, yang dapat Digunakan untuk stimulasi atau pengendalian produksi
bersama sepanjang sumur .
4. Cemented and perforated liner :Hal ini dimungkinkan untuk penyemenan dan
melubangi sumur radius menengah dan panjang. Pada saat ini tidak ekonomis
mungkin untuk Semen sumur radius pendek . Semen menggunakan sumur horizontal
memiliki konten Air secara signifikan lebih sedikit daripada yang digunakan pada
sumur vertikal. Hal ini karena dalam kehendak horizontal, karena Gaya gravitasi, air
bebas mensegregasikan dekat bagian atas dari Sumur dan semen lebih berat
mengendap di bagian bawah.
ADVENTAGES OF HORIZONTAL DRILLING
1. Dapat memotong lebih banyak patahan yang diperkirakan mengandung hidrokarbon.
2. Hindari pengeboran ke dalam air di bawah (atau gas di atas) Hidrokarbon atau
perforasi yang berdekatan dengan air atau gas.
3. Meningkatkan drainase sumur di Reservoir dan luas permukaan lateral dari lubang
sumur.
4. Dapat memotong reservoir berlapis pada sudut yang tajam
5. Peningkatan produksi gas batubara (degasification).
6. Meningkatkan injeksi air, gas, uap, bahan kimia, dan polimer ke dalam formasi.

JACK UP RIG
Jack up rig merupakan salah satu offshore rig yang mempunyai kemampuan untuk
berelevasi sesuai dengan kedalaman laut tempat dia malakukan pengeboran. Dengan ketiga
atau ada juga yang empat kaki yang dimiliki maka Jack Up Rig mempunyai tingkat
kestabilan dalam operasi yang tinggi dibandingkan dengan offshore drilling yang lain seperti
drill ship, semisubmersible, barge drilling, dll.
Rig jenis ini yang banyak digunakan pada pengeboran lepas pantai dengan kedalaman operasi
15 250 feet. Rig ini memiliki badan rig atau sering disebut platform. Platform ini berdiri
diatas permukaan air, yang ditopang oleh kaki-kaki (biasanya terdiri dari 3 atau 4 kaki) yang
terbuat dari baja. Saat dioperasikan, kaki-kaki baja tersebut berpijak pada dasar laut. Setelah
itu platform tersebut kemudian diangkat keatas permukaan air. Saat mobilisasi, maka kakikaki baja tersebut kemudian diangkat, sehingga badan rig (platform) tersebut mengapung
diatas permukaan air. Saat terapung, maka plaform dapat mudah dimobilisasi dengan cara
ditarik menggunakan kapal jenis tug boat. Rig jenis ini bisa dipakai untuk melakukan
pengeboran sumur-sumur eksplorasi
Jack Up Main Structure
Jack up memiliki main structure yang penting dalam malakukan operasinya. Main structure
yang terdapat pada Jack Up adalah :
1. Leg : cylindrical atau trussed
2. Spudcan : sepatunya leg yang akan masuk dan menyentuh sea bed sebagai pondasi jack
up.
3. Cantilever : Tempat drilling dioperasikan yang bisa bergerak kearah X and Y
4. Hull : berisi beberapa tanki yang disesuaikan dengan kebutuhan dan compartment untuk
memasang beberpa equiptment dan machinery untuk drilling operation.
5. Accomodation atau living quarter dimana para pekerja akan bekerja dan tempat istirahat
dengan berbagai macam fasilitas.
6. Helli deck
1. LEG

Leg berfungsi untuk mengangkat hull keatas, melawan ombak dan arus, dll. Leg dari jack up
bisa berupa truss ataupun juga dalam bentuk cylindrical.
Cylindrical leg berbentuk difabrikasi dari plat yang di roll menjadi tube yang didlamnya bisa
ada stiffener ataupun tidak. Leg jenis ini lebih cocok untuk shallow water dan membutuhkan
sedikit area hull dan jufa equipment yang lebih sederhana dari trussed leg.
2. TRUSSED LEG
Trussed leg terdiri dari Rack yang didesign cutting untuk membentuk teeth sebagai tempat
bergeraknya roda pengangkat dari motor. Bracing kemudian disambungkan ke chord yang
menempel di rack. Semua material dari Leg ini memiliki kekuatan tensile, yield yang tinggi
yang didapat dari Quenched tempered process.
3. CANTILEVER
Cantilever biasanya terdiri dari 2 longitudinal beam yang disatukan searah transversal untuk
dapat bergerak kearah X dan Y dengan kemampuan yang disesuaikan dengan engineering
design. Pipe rack dibangun didekatnya cantilever untuk memudahkan proses pengeboran.
4. HULL
Hull didesign secara watertight atau kedap air sebagai support untuk housingnya atau
tempatnya berbagai macam machinery dan equipment, system, dan juga personel. Besar
kecilnya hull akan berpengaruh langsung terhadap stability,
operation.

flexibility dalam loading

Design hull yang optimum sesuai dengan service yang dihadapi akan

meningkatkan live operation Jack up.


5. ACCOMODATION
Accomodation terdiri dari banyak ruang dan fungsi. Biasanya terdiri dari 3 tingkat pada sisi P
dn S. Didalamnya accommodation terdapat CC room, radio dan komunikasi room, helilounge, clinic, cabin person, mess room, freeze room, recreation room, change room, laundry,
tempat merokok, mushalla.dll.

WATER FLOODING
1. Pengertian Injeksi Air
Waterflooding merupakan metode perolehan tahap kedua dengan menginjeksikan air ke
dalam reservoir untuk mendapatkan tambahan perolehan minyak yang bergerak dari reservoir
menuju ke sumur produksi setelah reservoir tersebut mendekati batas ekonomis produktif
melalui perolehan tahap pertama.

Penggunaan waterflooding umumnya banyak di gunakan pada lapangan lapangan


marginal atau juga lapangan tua di mana batas produksi minyak yang ada sudah
melewati primary recoverynya sehingga untuk melakukan optimasi produksi di
gunakan beberapa teknik termasuk Waterflooding atau sebagian orang lebih suka
menyebutnya dengan Injeksi air.

Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya.


Analisa ekonomis tergantung pada perkiraan hasil dari proses waterflood itu sendiri.
Perkiraan ini bisa baik atau buruk tergantung pada kebutuhan khusus dari proyek.
Analisa teknik produksi waterflood dilakukan dengan memperkirakan jumlah volume
dan kecepetan fluida.Perkiraan diatas juga berguna untuk penyesuaian atau pemilihan
peralatan serta sistem pemeliharaan ( treatment ) fluida.

Penginjeksian air bertujuan untuk memberikan tambahan energi kedalam reservoir. Pada
proses pendesakan, air akan mendesak minyak mengikuti jalur-jalur arus (stream line) yang
dimulai dari sumur injeksi dan berakhir pada sumur produksi
Sejarah Pemanfaatan Water Flooding

Eksperimen

waterflood

pertama

tercatat

dilakukan

di

lapangan

Bradford,

Pennsylvania pada tahun 1880-an. Dari eksperimen pertama ini, mulai terlihat bahwa
program waterflood akan dapat meningkatkan produksi minyak. Maka pada awal
1890-an, dimulailah penerapan waterflood di lapangan-lapangan minyak di Amerika
Serikat.

Pada 1907, ditemukan metoda baru dalam pengaplikasian waterflood di Lapangan


Bradford, Pennsylvania, yang disebut sebagai metoda lingkar (circular method),
yang juga tercatat sebagai pengaplikasian flooding pattern pertama. Karena adanya

regulasi pemerintah yang melarang penerapan waterflood di masa itu, proyek ini
dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sampai larangan itu dicabut pada 1921.

Mulai tahun 1921, penerapan waterflood mulai meningkat. Pola pattern waterflood
berubah dari circular method menjadiline method. Pada 1928, pola five spot
ditemukan dan diterapkan secara meluas di lapangan-lapangan minyak. Selain tahuntahun tersebut, operasi waterflood juga tercatat dilakukan di Oklahoma pada tahun
1931, di Kansas pada tahun 1935, dan di Texas pada tahun 1936.

Dibandingkan dengan masa sekarang, penerapan waterflood pada masa dahulu boleh
dibilang sangat sedikit. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena pada zaman
dahulu pemahaman tentang waterflood masih sangat sedikit. Selain itu, pada zaman
dahulu produksi minyak cenderung berada diatas kebutuhan pasar.

Signifikansi waterflood mulai terjadi pada akhir 1940-an, ketika sumur-sumur


produksi mulai mencapai batasan ekonomis (economic limit)nya dan memaksa
operator berpikir untuk meningkatkan producable reserves dari sumur-sumur
produksi. Pada 1955, waterflood tercatat memberikan konstribusi produksi lebih dari
750000 BOPD dari total produksi 6600000 BOPD di Amerika Serikat. Dewasa ini,
konstribusi waterflood mencapai lebih dari 50% dari total produksi minyak di
Amerika Serikat.

Mengapa Injeksi Air Banyak di Gunakan?

Mobilitas yang cukup rendah

Air mudah didapatkan

Pengadaan air cukup murah

Berat kolom air dalam sumur injeksi turut memberikan tekanan, sehingga cukup
banyak mengurangi tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan

Mudah tersebar ke daerah reservoir, sehingga efisiensi penyapuannya cukup tinggi

Memiliki efisiensi pendesakan yang sangat baik