Anda di halaman 1dari 6

No.

Protokol

: U/ /16

Hari/Tanggal

: Jumat, 4 Maret 2016

Dosen Piket

: Prof Drh Ekowati Handharyani, Msi, PhD, APVet

Anamnesa

: Yam broiler umur 27 hari mengalami pincang dan


kekerdilan. Populasi awal 4000 ekor dan sampai saat
ini kematian 3%. Dimabil 3 ekor ayam dari
peternakan.

Signalement
Nama Hewan

: Anonim

Jenis Hewan

: Ayam

Bangsa

: Broiler

Jenis Kelamin

: Jantan 2 ekor, Betina 1 ekor

Umur

: 27 hari

Warna Bulu

: Putih

Tanggal Nekropsi

: 4 Maret 2016

Peternakan

: AgriPuspita
Hasil Pemeriksaan Nekropsi

Organ
Keadaan Umum Luar
Subkutis

Epikrise
Pincang

Diagnosa PA
Pincang

Otot

Terdapat bintik-bintik merah di

Petechiae

Rongga Tubuh

otot paha (1/3)


Terdapat benjolan berwarna

Furunkel

kuning dan

berisi

eksudat

berwarna kuning (1/3)


Traktus Respiratorius
Kantung udara

Terdapat eksudat fibrin (2/3)

Air saculitis

Koane

Terdapat eksudat bening (1/3)

Peradangan

Paru-paru

Uji apung positif (tenggelam)

Pneumonia

Keluar darah saat dilakukan

kongesti

alveolaris

insisi
Traktus Digestivus
Usus halus

Terdapat eksudat kataral (2/3)

Enteritis kataralis

dan

Usus besar
Traktus Sirkulatorius
Sistem limforetikuler

Terdapat eksudat kataral (2/3)


Tidak ada kelainan

Enteritis kataralis
Tidak ada kelainan

Limpa
Traktus Urogenital

Bengkak (3/3)

Splenitis

Ginjal
Sistem Syaraf Pusat
Sistem lokomosi

Ginjal membengkak (1/3)


Tidak ada kelainan

Nefrosis
Tidak ada kelainan

Persendian

Terdapat

Sinovitis

eksudat

bening,

sidikit kental

Diagnosa

: Reovirus

Diagnosa banding

: CRD kompleks dan IBD


PEMBAHASAN

Pemeriksaan kali ini menggunakan 3 ekor ayam broiler berumur 27 hari


(koreksi kalo salah). Ketiga ayam yang diperiksa memiliki ukuran yang tidak
seragam. Hal ini menunjukan adanya adanya pertumbuhan yang terhambat
sehingga tidak dapat mencapai bobot maksimal atau adanya runting syndrome.
Runting syndrome bisa diakibatkan oleh adanya infeksi reovirus. Selain itu dari
ketiga ayam yang diperiksa, salah satu ayam mengalami kelemahan tungkai
sehingga tidak dapat berjalan dengan normal. Kelemahan tungkai juga merupakan
ciri lain dari adanya infeksi reovirus. Pemeriksaan sendi dengan cara penyayatan
menunjukan ditemukanya cairan sendi yang berwarna keruh pada ayam lain.
Adanya eksudat keruh dari dalam sendi menunjukan sendi mengalami peradangan
atau synovitis (Jahja 2006).
Pemeriksaan subkutis ditemukan adanya bintik merah (petechiae) pada otot
paha. Ditemukan furunkel berisi pus di rongga abdomen. Ditemukan lesio pada
traktus respiratorius. Pada kantung udara ditemukan eksudat fibrin yang
mengindikasikan kantung udara mengalami air saculitis. Pada koane ditemukan
eksudat yang mengindikasikan koane mengalami perdangan. Pemeriksaan paruparu dilakukan dengan cara inpeksi, palpasi, dan insisi. Saat paru-paru diinsisi
keluar darah dan saat diuji apung, paru-paru tenggelam. Hal tersebut
mengindikasikan paru-paru mengalami kongestidan pneumonia alveolaris.

Selanjutnya pemeriksaan dilakukan pada traktus digestivus. Ditemukan eksudat


kataral disepanjang usus halus dan usus besar yang menandakan enteritis kataralis.
Limpa ayam mengalami kebengkakkan yang mengindikasikan splenitis.
Perkembangan organ limfoid yang subobtimal akan menyebabkan terjadina
imunosuprersi. Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan
reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid.
Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit
akan lebih leluasa masuk dalam tubuh ayam dan terjadilah infeksi. Hal tersebut
akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi (Riddel 1987).
Ginjal mengalami pembengkakakan yang mengiindikasikan mengalami nefrosis.
Adapun diferensial diagnosa pada kasus ini adalah CRD kompleks dan IBD.
Chronic respiratory desease (CRD) merupakan penyakit infeksi menular
yang disebabkan oleh Mycoplasma galliseptikum. Mycoplasma gallisepticum
termasuk dalam kelompok bakteri Gram (-). Bakteri ini termasuk dalam genus
Mycoplasma dari famili Mycoplasmataceae. Struktur tubuhnya berbentuk
pleomorfik yang biasanya kokoid (bentuknya mendekati bundar atau oval) (Saif
2008).
Penularan terjadi secara vertical dan horizontal. Secara vertical infeksi
terjadi dari induk kepada anak ayam. Penularan secara horizontal terjadi akibat
kontak langsung dengan ayam yang sakit. Ayam yang sakit akibat tertular
mikoplasma akan menghasilkan mikroba ini dalam cairan lubang hidung, cairan
lendir dari khoane yg dimuntahkan, eksudat mata, dan fesesnya. mikoplasma akan
menulari ayam lain lewat fomit pada benda mati atau mahluk hidup di lingkungan
dalam dan luar kandang. Saluran pernapasan bagian atas dan konjungtiva
merupakan awal dari infeksi.Ayam yang telah sembuh akan bertindak sebagai
pembawa bibit penyakit dan sebagai sumber penularan ke ayam lain yang sehat.
CRD dapat menyerang ayam semua umur. Angka kesakitan tinggi tetapi angka
kematian rendah (Shane 2005).
Ayam yang terInfeksi mycoplasma memperlihatkan gejala gangguan
pernapasan, batuk, ngorok, nasal discharge, dan konjungtivitis. Chronic
respiratory desease menyebabkan kerugian karena menyebabkan kematian
embrio, kematian anak ayam, gangguan pertumbuhan, penurunan mutu karkas dan

penurunan produksi telur. Kerugian secara tidak langsung juga terjadi akibat
meningkatnya kepekaan terhadap infeksi E. coli (collibacilosis), Haemophilus
paragallinarum, IB dan ND (Saif 2008).
Mikoplasma melekat pada epitel mukosa saluran pernafasan atau
konjungtiva melalui mekanisme cytoadherence (pelekatan sitoplasma). Strain
virulen akan memasuki sel, tinggal dan bereplikasi sementara strain yang kurang
virulen hanya melekat. Mycoplasma galliseptikum masuk ke saluran pernapasan
dan menyerang silia dan permukaan mukosa saluran pernapasan, menyebabkan
membran mukosa saluran pernapasan mengalami kerusakan. Kemampuan
mengeluarkan lendir dan efek antimikrobial dari lendir berubah, motilitas silia
menurun, Akibatnya Mycoplasma galliseptikum mudah masuk paru-paru dan
kantung udara. Jenis-jenis mikroba lain disaluran napas bagian atas menjadi
mudah menyerang. Mycoplasma galliseptikum mudah mencapai aliran darah dan
tersebar keseluruh tubuh termasuk persendian, ovarium dan oviduk. Akibatnya
fungsi penghasil telur menjadi terganggu sehingga produksi telur turun, kematian
embrio mmeningkat. Jika terjadi penyakit yang kronis Mycoplasma berkembang
biak di oviduk dan jaringan sekitar ovarium menyebabkan telur yang dihasilkan
mengandung mikoplasma (Saif 2008).
Tanpa komplikasi ayam yang terserang CRD tidak menampakan gejala yang
jelas. Pada ayam yang gejala klinisnya jelas dapat dilihat ingus katar keluar dari
lubang hidung, batuk dan bersuara pada waktu bernapas. Suara ini lebih jelas bila
malam hari. Adakalanya ayam yang terserang menunjukkan gejala muka bengkak
akibat adanya eksudat dalam sinus infra orbitalis (Saif 2008).
Jika dilakukan bedah bangkai dapat ditemukan kelainan pada saluran
pernapasan yaitu rongga dan sinus hidung berlendir. Kantung udara menjadi keruh
atau mengandung lendir. Pada stadium selanjutnya lendir menjadi berwarna
kuning dan berkonsistensi seperti keju. Eksudat seperti ini juga dapat ditemukan
di jantung dan pericardium. Pada ayam yang menderita komplikasi dapat
ditemukan peradangan pada pericardium, capsula hati dan pada kantung udara
(Saif 2008). Ayam yang terinfeksi akan menghasilkan antibody yang akan

terdeteksi dengan pengujian serum plate agglutination test atau dengan tehnik
ELISA.
IBD merupakan penyakit menular aku pada ayam muda (urang dari tiga
minggu), ditandai dengan peradangan bursa fabricius dan bersifat imunosupresif.
Tingkat morbiditas dan mortalitas pada ayam pendiriti IBD tinggi. Maa inkubasi
penyakit antara 2-3 hari. Gejala klinis ayam yang terserang ditandai dengan gejala
depresi, nafsu makan menurun, lemah, gemetar, sesak nafas, bulu berdiri, dan
kotor terutama di bulu daerah perut da dubur, selanjutnya diikuti dengan diare,
feses berwarna putih kapur dan kematian yang terjadi akibat dehidrasi (Bayyar
1991).
Pada otot biasanya ditemukan petechieae atau ekomose pada oto dada, paha,
dan tungkai, kadang otot punggung dan sayap bagian dalam. Bursa fabrisius
tampak membesar. Begitu pula pada limpa, sedikit membesar dan kongesti. Ginjal
juga mengalami pembengkakan. Hati berwarna merah gelap dan bengkak.
Sumsum tulang terlihat kuning atau merah muda. Proventrikulus pada kasus hebat
ditemukan perdarahan mukosa dekat pertautan antara proventrikulus dengan
ventrikulus (Bayyar 1991).

DAFTAR PUSTAKA
Bayyary, Skeeles GRJK, Story JD, Slavik MF. 1991. Determination of Infectious
Bursal.
Jahja J., Lestariningsih C. Lilis, Fitria Nur, Murwijati T., Suryani Tatik. 2006.
Penyakit-Penyakit Penting Pada Ayam. Bandung (ID): Medion.
Riddel, C. 1987. Avian hidtopathology. Inc. Pennsylvaia: American Association of
Avian Pathologist.
Saif Y M. 2008. Disesas of Poultry. Ed ke- 12. Iowa (US). Blackwell Publishing.
Shane SM. 2005. Handbook on poultry diseases. 2nd ed. Singapore: American
Soybean Association (USA)

LAPORAN NEKROPSI ANJING


Rabu, 24 Februari 2016

Disusun oleh:
Kelompok A
PPDH Gelombang I Tahun 2015/2016

Dosen Penanggung Jawab:


Dr Drh Sri Estuningsih, Msi, APVet
Dosen Tentor:
Prof Drh, Ekowati Handharyani Msi, PhD, APVet

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016